Double Jealous (Michaela side)
"Ayo kita mundur."
"Lepaskan! Aku... Aku akan menyelamatkan Yuu-chan sekarang juga!" Aku menepis tangan Ferid yang sempat menyentuh pundakku. Juga menolak perintahnya untuk mundur.
"Aku tahu perasaanmu. Tapi sekarang, itu adalah hal yang mustahil. Lihatlah." Aku menoleh ke tempat Yuu-chan dan teman-temannya berada. Disana gadis berambut ungu itu memeluk Yuu-chan yang kini pingsan. "Manusia-manusia menjijikan itu sedang mengitari Yuu. Kita tidak mungkin bisa menyelamatkannya dengan selamat sekarang."
"Sial! Sialan! Manusia bangsat!" umpatku penuh amarah melihat situasi di depanku.
Aku marah karena berbagai hal.
Pertama. Karena Yuu-chan yang telah dimanfaatkan oleh manusia hingga sekarang keadaannya tidak bisa dibilang baik.
Kedua. Karena manusia-manusia tidak tahu diri itu kini malah bersimpati setelah apa yang mereka lakukan kepada Yuu-chan.
Ketiga. Karena aku merasa tidak berguna. Tidak berhasil menyelamatkan Yuu-chan.
"Bagaimana?"
"Diam kau!" teriakku pada Ferid yang menggangguku yang sedang marah karena empat hal.
Yang keempat adalah karena gadis ungu itu kini memeluk Yuu-chan.
Sialan.
Disclaimer: Owari no Seraph © Kagami Takaya
Warning: Spoiler (maybe), OOC sesuai kebutuhan, Semi-canon, Divergence, CrackPair.
Kumpulan Drabble fanfiksi Owari no Seraph
Double H
Emotion (Michaela side)
"Penyembuhan racun iblis telah selesai." Begitu aku mendengar suara tersebut, aku membuka kedua kelopak mataku.
Dinding kaca di depanku terbuka ketika aku sudah sepenuhnya sadar. Uap yang tersimpan di dalamnya bersamaku menguar keluar. Aku bangkit dan menyebar pandanganku ke ruangan ini. Sepertinya tinggal aku saja yang tertinggal di ruang penyembuhan racun iblis ini. Itu juga karena aku yang memiliki luka paling parah.
Aku mengusap-usap mataku dengan tangan ketika sadar bahwa ada sesuatu yang basah berada di wajahku.
Air mata.
Kalau diingat-ingat lagi, aku belum pernah lagi menangis. Sejak menjadi vampir, aku seperti telah kehilangan emosiku untuk menangis. Kemarin juga aku sudah marah dan cemburu. Sudah lama rasanya aku tak merasakan hal-hal seperti itu.
Juga perasaan menyebalkan ini. Perasaan yang hampir sama ketika aku pertama kali melihat gadis ungu itu. Hampir sama seperti perasaanku kepada Yuu-chan sebagai keluarga. Seperti, aku ingin dia menjadi salah satu bagian keluargaku.
Tapi, setelah apa yang dia perbuat kepada Yuu-chan?
Reason (Michaela side)
Tapi, mengapa aku melindunginya saat dia akan diserang Yuu-chan?
"Yah, mereka lumayan kuat walaupun mereka hanya manusia." Lacus bergumam tentang manusia sambil memakai pakaiannya. "Bagaimana dengan lukamu, Mika? Kau yang memiliki luka yang paling parah, 'kan?"
Aku tak menjawabnya. Masih sibuk memikirkan soal mengapa aku bisa refleks melindungi manusia selain Yuu-chan. Walaupun awalnya aku ingin gadis ungu itu menjadi sekutuku, tetapi tetap saja dia manusia busuk.
"Mengabaikanku lagi?"
Seperti kata Lacus. Aku termasuk dalam jajaran vampir yang memiliki luka yang cukup parah. Sebenarnya tidak akan separah itu jika aku tidak berusaha melindungi gadis ungu itu. Maka dari itu aku tak menjawab pertanyaannya karena kuyakin nanti dia akan bertanya juga mengapa aku bisa mendapat luka separah ini. Bisa saja aku berbohong, tapi bohong itu tidak baik.
"Tapi, aku makin penasaran monster apa itu," sahut Rene yang bergabung dalam pembicaraan. Aku tidak ingin bergabung dalam pembicaraan mereka.
Aku masih memikirkan banyak hal. Terutama soal alasan mengapa aku bersikeras melindungi gadis ungu itu. Memang alasan utamanya adalah karena aku tidak ingin Yuu-chan membunuh manusia. Tetapi, apa benar karena itu?
Bukan karena aku yang memang ingin melindungi gadis manis yang busuk itu?
I am Vampire (Michaela side)
"Oh? Apa itu berarti misi kita kali ini gagal?"
"Entahlah. Yang memimpin misi kali ini adalah Ferid-sama, Tetapi aku tidak tahu pasti apa yang ia pikirkan soal ini. Jadi, aku tidak tahu pasti soal hasil misi ini."
Pembicaraan semakin menjurus soal Seraph of The End. Tidak ingin terlalu terlibat dengan pembicaraan ini, aku memutuskan melangkah keluar dari ruang ganti itu setelah selesai berpakaian. Meninggalkan Rene dan Lacus asyik membahas topik mereka. Atau mungkin, setelah ini mereka akan bercumbu karena kutinggal berdua. Dasar vampir menjijikan.
"Tapi, kau mungkin mengetahui sesuatu, 'kan?" Namun Lacus membuat langkahku terhenti tepat di depan pintu. "Kau mengenal yang berwujud seperti monster itu, 'kan? Karena itu, kau menjadi favorit Krul-sama."
Aku masih menunggunya melanjutkan perkataannya.
"Hyakuya Michaela. Siapa kau sebenarnya?" tanya Lacus kepadaku.
"Kami takkan tahu kalau kau tak menjawab." Sepertinya Rene juga ikut mendesakku.
Sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain menjawabnya. Bukankah dari penampilanku sudah pasti siapa aku ini?
"Aku? Siapa aku sebenarnya?"
Pertanyaan Yuu-chan yang keheranan dengan penampilan vampirku terekam kembali dalam ingatanku.
"Kalian harusnya tahu hanya dengan melihat, 'kan?" Dengan senyum sayu yang terarah ke mereka berdua aku melanjutkan, "Aku adalah seorang vampir kotor."
Save You (Third side)
Malam itu cukup dingin. Namun itu hanya bagi manusia. Tidak bagi para vampir yang mempunyai kekebalan terhadap suhu yang lebih baik daripada manusia. Karena itulah, pemuda vampir berparas tampan ini berani keluar, bertahan di sebuah atap bangunan.
Entah atas tujuan apa ia ingin berada di luar malam itu.
Sekalipun ia sendirian, namun ia merasa tidak sendirian. Bulan yang memantulkan cahaya dari matahari menemaninya. Suasana malam itu pun seperti musik di telinganya. Ia juga memikirkan berbagai macam hal yang telah terjadi beberapa hari ini.
Soal saudaranya, Hyakuya Yuuchirou, yang dimanfaatkan oleh manusia. Hal yang membuat ia semakin membenci manusia karenanya.
Soal dirinya sebagai vampir. Namun jika ia tidak menerima pemberian dari Krul itu, ia tidak akan hidup hingga sekarang ini.
Juga soal gadis manis yang sempat ia lindungi bernama Hiragi Shinoa. Masih saja ia meragukan soal apa yang menjadi alasannya melindungi gadis itu.
Berbagai hal yang menerpa dirinya telah membuat perasaan emosionalnya tumbuh kembali meliputi dirinya. Entah karena apa yang terjadi setelah pertempuran itu atau memang hanyalah karena dirinya yang masih remaja.
'Yuu-chan...'
Namun tujuan utamanya masihlah sama.
'Aku pasti akan menyelamatkanmu!'
Continue?
A/N: Dengan begini hutangku lunas. Selanjutnya bakal kugantung karena mau ngejar baca OnS versi manganya juga. Kalau nunggu animenya, fanfik ini bakal delay sampe setengah tahun pun bisa. :') Jadi nanti bakal kuusahakan untuk bisa sesuai antara anime dan manganya.
Seperti janjiku juga, aku update fanfik ini pagi-pagi. hohoho. Gak nyangka bisa juga aku lanjutin fanfik pagi-pagi. *matanya udah berkantung* Dan karena sebelumnya udah dominan Shinoa, chapter kali ini dominan Mika. hohoho~ Selain itu, karena ini semi-canon, jadi aku juga gak mau jauh-jauh dari canon-nya. Aku masih kasih kalian kenyataan soal Shinoa yang nge-hint YuuNoa. Juga Mika yang coretamitamitjangansampejadianimeshoaicoret ngarep Yuu. Jadi, walaupun Divergence, aku berusaha biar gak terlalu keluar jalur aslinya. Semoga gak membuat aku nge-maso karena tetap gak bakal mengubah MikaNoa jadi official kayak MikaYuu. *mojok*
Makasih yang udah mau baca. Makasih yang udah mau review. Semoga sudah kubalas semua. Kalau di chapter 3 ada review, mungkin bakal kugabung di chapter 5 aja. :')) *gak sanggup ngetik banyak-banyak lagi* Maafkan juga kalau semisal ada yang kurang berkenan selama membaca fanfik ini. Semua hal yang kalian rasakan bisa dicerocosin di kotak review sebagai pelampiasan. *sebenenya dia maso apa gimana sih*
Tunggu chapter selanjutnya dan jangan lupa tinggalkan review! :)
