Alfabetis

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Cinderella © Walt Disney Pictures

WARNING : saya yakin ini plotless, typo(s), fluff mungkin, OOC, fem!Kuroko

Saya tidak mengambil keuntungan materi sepeser pun dari fanfiksi ini

Happy reading~

.

.

.

.

.

O — Obat

"HATCHI!"

Seijuurou bersin sangat keras, dan Tetsuya tidak peduli.

"HATCHIII!"

Kedua kalinya Seijuurou bersin (dan semakin keras), tetapi Tetsuya hanya melirik.

"HATCHI!"

Ini yang ketiga dan menyebabkan hidung Seijuurou merah, baru Tetsuya menatapnya heran. Untung saja kelas sudah bubar sejak tadi.

"Akashi-kun sakit?"

Pertanyaannya simpel. Tetapi bagi Seijuurou, pertanyaan itu sangat perhatian.

"Ah, tidak," Seijuurou menjawab dan tersenyum.

Tetsuya masih memandang Seijuurou heran, lalu mengeluarkan sebungkus tisu wajah yang terlihat baru dari tasnya. Membuka bungkusnya dan mengambil dua lembar tisu yang ditumpuk menjadi satu. Lalu tangannya bergerak menuju wajah Seijuurou dan menghapus lendir yang mengalir dari hidungnya. Terlihat jorok memang. Tetapi, yah, sepertinya Seijuurou terkena flu.

Seijuurou tersenyum tipis dan memandang Tetsuya lekat.

"Hidung Akashi-kun merah sekali. Terkena flu, ya?"

Tetsuya bertanya, tetapi tangannya masih berkutat dengan hidung Seijuurou.

"Tidak. Aku tidak pernah sakit, Tetsuya."

Mendengar jawaban dari Seijuurou, Tetsuya mengerucutkan bibirnya kesal dan sengaja menekan keras hidung mancung milik sang surai merah. Seijuurou hampir bersin lagi saat Tetsuya menekan keras hidungnya.

Sudah tahu (sepertinya) sedang terkena flu, tetapi masih saja berkata tidak sakit. Dasar orang absolut, ya. Atau ... sebenarnya Seijuurou tsundere?

"Akashi-kun sedang flu, percayalah padaku," Tetsuya berujar dengan sabar, lalu membersihkan wajah Seijuurou yang kusam dengan tisu basah. Ah, Tetsuya baru saja mengambilnya dari tas. "Kuambilkan obat di unit kesehatan sekolah, ya?"

"Ah," Seijuurou diam sejenak, lalu memejamkan matanya dan bersin kembali. Ewh, hidungnya berlendir lagi. "Tidak perlu, terima kasih. Aku sudah punya obat di sini, di kelas ini."

"Benarkah?" tanya Tetsuya dengan kedua manik lazuardi cerah yang berbinar. "Kalau begitu, obatnya diminum dulu, Akashi-kun."

Seijuurou tersenyum lebar, lalu menarik Tetsuya hingga jatuh di atas pangkuannya dan memeluknya erat. Menyandarkan kepala di atas bahu Tetsuya, dan menyesapi aroma vanilla yang membuatnya rileks.

"A-Akashi-kun, l-lepaskan aku," Tetsuya merengek dan berusaha lepas dari pelukan Seijuurou. Ah, jangan lupakan wajahnya yang kini merah padam.

"Tidak mau,"

"K-kenapa? Harusnya Akashi-kun segera minum obat."

Tetsuya kembali merengek, sedangkan Seijuurou memeluknya semakin erat.

"Obatku adalah Tetsuya, kok. Sebentar lagi pasti sembuh,"

"Akashi-kun menyebalkan,"

Mendengar ejekan dari Tetsuya, Seijuurou hanya tertawa pelan dan mencium pipi gembil milik gadis dalam pangkuannya yang merah padam.

"Biar saja."


P — Puding

Tetsuya suka makanan manis dan vanilla. Sedangkan Seijuurou tidak (begitu) menyukai makanan manis.

Jadi, ketika Tetsuya diminta memasak oleh Seijuurou, dia justru membuatkan puding vanilla. Lalu Seijuurou terus-menerus mengeluh mengapa puding dan vanilla.

"Puding ini enak, Akashi-kun. Percayalah padaku,"

"Tapi Tetsuya, aku tidak suka manis. Kupikir kau akan memasak sup tofu."

Yah, kira-kira begitulah. Mungkin sampai kapan pun, Seijuurou lebih mencintai sup tofu daripada makanan manis.

"Akashi-kun belum mencicipinya, tetapi sudah menolak untuk memakannya," ujar Tetsuya gemas dan terus menyodorkan sekotak puding vanilla kepada Seijuurou. Ah, atau lebih tepatnya memaksa Seijuurou, ya? "Kata Kise-san rasanya enak."

"Aku tahu. Masakan Tetsuya selalu enak,"

"Lalu kenapa Akashi-kun tidak mau?" Tetsuya kembali memaksa Seijuurou, dan kali ini dengan menyodorkan satu sendok puding. "Ayolah, paling tidak cicipi satu sendok."

"Astaga, Tetsuya memaksa sekali."

Oh, Seijuurou. Kalau tidak memaksa seperti itu, bukan Tetsuya namanya.

"Akashi-kun, ayolaaah,"

Tetsuya memaksa lagi, tetapi kali ini dengan raut wajah dan nada yang ... melas? Ah, Tetsuya hanya ingin membuat Seijuurou mengalah dan memakan puding vanilla buatannya.

Seijuurou menatap Tetsuya sejenak, lalu terbesit rasa iba di hatinya. Tetapi tetap saja, puding itu manis.

"Akashi-kun,"

Tetsuya memanggil Seijuurou lagi, dan raut wajahnya semakin memelas. Atau mungkin Tetsuya nyaris menangis. (Walau tentu saja pura-pura menangis).

'Astaga...' melihat Tetsuya benar-benar memelas, Seijuurou mulai merasa gemas dan mencubit kedua pipi gembil Tetsuya. Memang siapa sih, yang tidak gemas melihat gadis manis seperti Tetsuya memelas hingga nyaris menangis?

Setelah kedua pipinya dicubit oleh Seijuurou, Tetsuya cemberut dan mengusap pipinya yang merah, "Sakit, Akashi-kun."

Seijuurou tertawa, lalu melahap sesendok puding yang diambilkan oleh Tetsuya.

"Hmm," Seijuurou bergumam dan mengambil satu sendok puding lagi, lalu dilahapnya. "Enak."

Tetsuya tersenyum lebar, "Benar, 'kan?"

"Kupikir Tetsuya membuat puding yang sangat manis, mengingat Tetsuya suka yang manis-manis. Tetapi, puding kali ini rasanya tidak terlalu manis dan sangat enak.

"Yah, walau ketika aku memakan puding ini sembari memandang Tetsuya, rasanya tetap saja manis. Sangat manis."

Seijuurou mengakhiri ucapannya dengan tertawa pelan. Sedangkan senyum lebar yang awalnya terulas di wajah cantik nan manis Tetsuya, tergantikan oleh kerutan kurva bibir ke bawah.

"Dasar tukang gombal."

Mendengar sindiran dari Tetsuya, Seijuurou justru tertawa semakin keras.

'Ah, Tetsuya memang sangat manis.'


Q — Queen

Sejak Tetsuya kecil, dia suka cerita yang bercerita tentang seorang pangeran yang bertemu putrinya, hingga mereka menjadi sepasang raja dan ratu. Contohnya saja Cinderella.

Bahkan, menginjak bangku sekolah pertama, Tetsuya masih menyukainya. Oh, tentu saja Seijuurou mengetahuinya.

"Jadi, Tetsuya menyukai Cinderella?"

"Um, ceritanya bagus dan ... romantis."

Mendengarnya, Seijuurou tertawa renyah. Mungkin bagu Seijuurou rasanya aneh mendengar Tetsuya menjawab seperti itu, mengingat gadis bersurai lazuardi di seberangnya memiliki banyak game bergenre horor di ponselnya.

"Tetsuya sudah pernah menonton live actionnya?"

"Tentu saja."

"Lalu, bagian mana yang paling Tetsuya sukai?"

Mendapat pertanya—yang sebenarnya simpel—dari Seijuurou, Tetsuya justru memilih diam saja tetapi wajahnya tiba-tiba menjadi merah padam. Melihat wajah Tetsuya merah padam, Seijuurou melempar pandangan heran kepada gadis yang duduk di seberangnya. Memangnya, Seijuurou melakukan apa hingga wajah Tetsuya menjadi merah padam? Atau jangan-jangan Tetsuya mendadak demam?

"Um ..." dari gerak tangannya, sepertinya Tetsuya sedang meremas roknya hingga kusut dan menundukkan kepala. Astaga, Tetsuya terlihat menggemaskan sekali. "Saat Ella dibawa ke taman rahasia sang pangeran, um, aku lupa namanya. Lalu Ella diminta duduk di atas kursi ayunan dan sang pangeran mendorongnya."

"Begitu," Seijuurou mengulas seringai dan menatap Tetsuya lekat. "Kenapa Tetsuya menyukai bagian itu?"

"Karena, um ... romantis?"

Jawaban dari Tetsuya membuat Seijuurou kembali tertawa renyah, lalu mengulas seringai yang semakin lebar.

"Kalau Tetsuya diperlakukan seperti itu, mau tidak?"

Sontak, Tetsuya membulatkan kedua bola mata lazuardinya lalu menatap Seijuurou. Ah, jangan lupakan wajah Tetsuya (yang mungkin) semakin merah.

"J-jangan bercanda, Akashi-kun!"

"Untuk apa aku bercanda, Tetsuya? Aku 'kan, memang berniat menjadikanmu putri, ah tidak, ratuku di kemudian hari. Tenang saja, aku berjanji padamu."

"A-Akashi-kun, ini tidak lucu!"

Melihat wajah Tetsuya yang merah hingga nyaris menangis, justru membuat Seijuurou kembali tertawa.

Seijuurou pun bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Tetsuya. Mencium pipi kanan Tetsuya, lalu mengulas senyum lebar.

"Ayo, ratuku. Kuantar pulang."

Tolong, di lain hari ingatkan Tetsuya untuk tidak mengajak Seijuurou ke perpustakaan sekolah saat sudah sepi.


R — Romantis

Sejak awal bertemu, Seijuurou selalu penasaran mengapa rambut Tetsuya selalu pendek. Belum pernah satu kali pun Seijuurou melihat rambut Tetsuya panjang—ah, minimal melebihi bahu, deh.

"Tetsuya,"

Tetsuya merasa dipanggil, tetapi dia tetap memilih memfokuskan atensinya pada buku novel dalam pangkuannya.

"Tetsuya,"

Dipanggil lagi, tetapi Tetsuya belum mau menoleh. Sepertinya Seijuurou harus bersabar, ya.

"Tetsuya, aku tahu kau mendengarku,"

Ini sudah ketiga kalinya Seijuurou memanggil gadis yang duduk di sampingnya dan ... akhirnya Tetsuya menutup novelnya lalu menatap Seijuurou (sedikit) kesal.

"Akashi-kun, saat ini masih pelajaran," dan itulah yang dikatakan Tetsuya sebelum gadis itu menghadap ke depan—memperhatikan penjelasan guru serta beberapa catatan di papan tulis.

Oh, betapa inginnya Seijuurou mencekik Tetsuya. Sungguh, seandainya Seijuurou tidak menyukai (atau mencintai?) Tetsuya, pasti gadis di sampingnya ini sudah dilarikan ke unit kesehatan sekolah. Tapi, yah, Seijuurou memilih untuk bersabar.

"Tetsuya, kutanya," Seijuurou berdeham sejenak, lalu mencubit lengan kanan atas Tetsuya yang menyebabkan pemiliknya mengaduh kesakitan. "Siapa yang dari tadi membaca justru membaca novel dan tidak memperhatikan guru, hm?"

"Tapi 'kan, aku tetap mendengarkan guru saat menjelaskan."

Tetsuya mengeles, Seijuurou menghela napas.

"Tetsuya, aku jadi ingin menggigitmu,"

"Gigit saja kalau berani,"

"Oh, menantang, ya?"

"Tidak."

Satu pertigaan tercetak di dahi Seijuurou. Oke, Seijuurou mulai tidak sabar.

Digesernya kursi kayu yang digunakan Seijuurou semakin mendekati Tetsuya, hingga bahu mereka saling bersentuhan. Seijuurou mengulas seringai lebar, lalu menggerakkan kepalanya mendekati pipi Tetsuya dan digigit.

Tetsuya nyaris saja berteriak saat Seijuurou menggigit pipi kanannya. Tetapi untung tidak jadi karena Tetsuya tahu, pelajaran masih berlangsung dan tidak ingin menimbulkan keributan.

Mengambil tisu dari dalam tas dan mengelap pipinya yang basah, lalu menatap Seijuurou kesal.

"Akashi-kun, kenapa menggigit pipiku?"

"Karena Tetsuya bandel," jawab Seijuurou singkat dan mengelus kepala Tetsuya, seakan di kelas hanya ada mereka berdua. Padahal guru yang berdiri di depan kelas sudah memperhatikan mereka semenjak Seijuurou menggigit pipi Tetsuya. Astaga.

"Maaf mengganggu kemesraan kalian, Akashi-san, Kuroko-san."

Mendengar suara guru yang mengundang nama mereka, sontak Seijuurou menjauhkan diri dari Tetsuya. (Hanya kembali duduk dengan tegap, sih).

"Saya tahu kalian pasangan yang dikenal paling romantis di kelas ini. Tetapi jangan saat pelajaran, ya?"

Seijuurou mengangguk, dan Tetsuya hanya menunduk. Lalu tangan Tetsuya menepuk pelan paha kiri Seijuurou dan meremasnya kuat.

"A-Akashi-kun, memalukan!"

.

.

.

tbc?


H-hai, maaf saya baru muncul lagi. Setelah UN, saya justru semakin sibuk :"""") /padahal aslinya kena wb/. Saya yakin ini semakin berantakan dari biasanya. Maafkan saya, ya :"3

Kalau begitu, ada yang masih berbaik hati ingin memberi saya sepucuk review? 8"D

-kacang metal