Chapter 4

Ino's POV

"Apa yang aku ucapkan tadi? Kenapa aku malah membuat mereka tambah dekat? Aku bodoh sekali," hatiku sakit melihat mereka berdua bersama. Aku cemburu melihat mereka sangat cocok berdiri bersebelahan.

Pandanganku makin lama makin buram terhalang oleh air mataku. Aku menangis makin kencang. Hatiku serasa dicubit bila mengingat kejadian tadi. Sai, apa kamu ngga bisa menyukai aku dan menganggap bahwa Sakura hanya sekedar teman biasa? Aku ingin menjadi Sakura. Orang yang disukai Sai.

"Ino?" panggil seseorang di depanku. Aku menghapus air mataku dan mencari tahu siapa yang memanggil namaku.

"Shikamaru?" aku mengira-ngira siapa yang mempunyai rambut bermodel nanas. Karena hal pertama yang aku lihat adalah rambut nanasnya.

"Ya, ini aku. Kenapa kamu menangis Ino?" tanya Shikamaru sambil duduk bersila di depan Ino.

"Aku, hiks… ngga apa-apa, hiks… kok," ucapku sambil berusaha meredakan seenggukanku.

"Sudah. Kalau kamu mau nangis, nangis aja," ucap Shikamaru sambil memeluku. Tubuh Shikamaru hangat dan wangi, wangi rempah-rempah. Tidah seperti Sai yang wanginya seperti bedak bayi.

Aku menangis makin keras. Entah karena pelukan Shikamaru yang nyaman atau karena aku mengingat Sai lagi. Aku terus menangis entah untuk berapa lama. Begitu aku sadar matahari sudah hampir tenggelam.

Normal's POV

"Mmmh…" Ino merasakan hembusan nafas diubun-ubun kepalaku. "Shika?" Ino tidak sadar kalau Ino tertidur dipelukan Shikamaru. Karena gerak reflek Ino saat bangun tadi –walau hanya gerakan kecil- membuat Shikamaru terbangun.

"Kamu sudah bangun Ino?" tanya Shikamaru. Tangan kirinya mengucek-ucek matanya sementara tangan kanannya masih memeluk tubuh Ino.

"Shika…" panggil Ino kepada Shikamaru. Mukannya sedikit memerah.

"Iya?" tanya Shikamaru kepada Ino yang masih berada di dekapannya.

"Tolong lepaskan pelukanmu," pinta Ino yang mukanya tambah memerah.

"Ah iya. Maaf," kata Shikamaru sambil melepaskan pelukannya. Di mukanya muncul semburat warna merah.

"Terima kasih atas perhatianmu. Maaf sudah berlaku cengeng dihadapanmu. Dan, mmm, terima kasih karena pelukanmu," mata Ino tidak berani memandang Shikamaru, jadi dia hanya memandang ke lantai dibawahnya.

"Ah tidak perlu sungkan begitu. Aku siap mendenger ceritamu atau hanya sekedar menjadi tempat kamu menangis," walaupun Ino tidak melihat bagaimana mata Shikamaru saat mengatakan hal itu, tapi Ino tau Shikamaru berbicara jujur kepadanya.

"Oh ya, tadi temanmu yang bernama Tenten menelpon ke hp kamu. Karena dia menelpon berkali-kali jadi aku mengangkatnya. Dan dia menitip salam kepadamu. Katanya dia akan menginap di rumahmu," ucap Shikamaru sambil menyerahkan hp Ino.

"Ah, terima kasih Shikamaru," kata Ino sambil mengambil hp-nya dari tangan Shikamaru.

"Kalau aku boleh tau, wallpaper di hpmu itu bersama siapa?" tanya Shikamaru. Saat melihat wajah Ino sedikit meredup Shikamaru menambahkan, "Ah, tidak usah dijawab kalau kamu ngga mau jawab."

Ino memaksakan seulas senyum lalu berkata, "Tidak apa-apa kok. Dia teman dekatku sejak kecil."

"Hanya teman dekat? Aku kira kalian pacaran. Kalian terlihat sangat romantis. Ah aku terlalu ikut campur ya?" kata Shikamaru sambil tertawa.

Ino melirik foto itu sekilas. Foto saat Sai dan Ino pergi ke rumah keluarga jauh Sai di Suna. "Ah masa sih? Aku tidak merasa seperti itu kok," kilah Ino. "Aku pulang dulu ya. Sudah sore. Aku takut dicari oleh keluarga dan Tenten," pamit Ino sambil membuka pintu.

"Ino! Tunggu!" panggil Shikamaru saat Ino sedang menuruni tangga.

"Ada apa Shikamaru?" tanya Ino heran dengan Shikamaru yang cuek jadi sedikit cerewet ini.

"Aku mau mengantarmu pulang. Ngga baik anak perempuan seperti kamu pulang sesore ini sendirian," tawar Shikamaru kepada Ino.

"Ah tidak usah. Nanti aku tambah merepotkan Shikamaru," tolak Ino halus.

"Ngga apa-apa. Aku senang kok mengantarmu pulang," sambil berkata begitu Shikamaru menggandeng tangan Ino.

Deg!

Muka Ino seketika berubah seperti tomat. Malah lebih merah dari tomat.

Setelah mereka mengambil tas masing di kelasnya, mereka berjalan beriringan menuju rumah Ino. Tangan Shikamaru masih menggandeng tangan Ino seperti enggan untuk melepasnya. Selama perjalanan menuju rumah Ino, keheningan melanda keduanya. Mereka berdua terlalu malu untuk memulai pembicaraan.

"Mmmm, Shikamaru terima kasih ya udah nganterin aku sampe rumah," Ino baru berani membuka pembicaraan ketika mereka sudah di depan rumah Ino.

"Iya sama-sama. Yang penting kamu selamat sampe rumah," ucapan Shikamaru dengan mudah membuat muka Ino memerah lagi.

"Baiklah. Shika, kamu mau mampir dulu ke rumah ku? Untuk minum mungkin?" tanya Ino.

"Aku rasa tidak usah. Ini sudah terlalu sore," kata Shikamaru setelah melihat jam miliknya.

"Oke. Sampai jumpa besok ya Shikamaru," ucap Ino.

"Ya. Dan jangan menangis lagi ya? Aku ngga suka ngeliat kamu nangis kayak tadi," ucap Shikamaru sambil mengusap-usap rambut Ino. "Bye." Kata Shikamaru sambil berlalu. Ino hanya bisa diam sambil melihat punggung Shikamaru menjauh.


"INOOOOOO!!!!!!!!! KAMU DARIMANA AJASIH?!" teriak Tenten begitu melihat Ino masuk ke dalam rumah.

"Hush Tenten. Kamu berisik banget tau ga sih. Ngga usah pake teriak kenapa," ucap Ino sambil menaruh sepatunya di rak sepatu.

"Ino, kenapa matamu bengkak? Kamu habis menangis ya? Ayo cerita ke aku Ino," kata Tenten sambil mengikuti Ino yang sedang menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai 2.

"Aku baik-baik saja kok Ten. tenang lah," jawab Ino -sok- santai begitu mereka sampai di kamar Ino.

"Ngga mungkin baik-baik aja. mata kamu bengkak dan kamu tadi bolos pelajaran terakhir. Dan lagipula kenapa tadi yang menjawab telefonku si pemalas Shikamaru. itu pasti ada apa-apanya!" kata Tenten sambil duduk di kasur Ino sementara Ino sedang mempersiapkan alat-alat mandinya.

"Apa kamu nangis gara-gara Sai?" tambah Tenten lagi. Ino tidak menggubris pertanyaan Tenten dan malah masuk ke dalam kamar mandinya.

"Inooooooooooooo!!! Jangan diam saja dan jawab pertanyaanku! Aku ngga mau tau nanti kamu harus cerita ke aku! ngga boleh ngga!" kata Tenten sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi Ino.

Sementara itu di dalam kamar mandi Ino melanjutkan menangis.


pampam!!!!!!! kembali lagi dengan chikichikibum disini! maaf baru updete setelah sekian lama. maklum author sibuk-bilang aja males-.

oke, jangan lupa Review yaaaaaaaa! ngga mau tau harus review! dan maaf kalo ceritanya jadi aneh dan ngga jelas. keritik yang membangun diterima kok hehe

SALAM!