Oke…

Day-chan kembali dengan fic ini XD.

Maaf sekali karena apdetnya (sangat) telat.

Sampe mana ya dulu? *lupa ama ceritanya* #dor

Becanda! ^^

Warning : Typo(s), Semi-canon, OOC

Disclaimer : Aoyama Gosho poenya.


.

.

.

Day-chan Dragneel presents

.

.

Takdir Bisa Dirubah

.

Chapter 4 : Complicated!

.

.

.

Happy reading~


(Third Person's POV)

"Sa-saguru…" Shiho berusaha untuk melepaskan pelukan Saguru yang makin mengencang. Sedangkan Saguru seperti tidak mempunyai telinga saja—dia tidak menghiraukan Shiho yang sudah hampir kehabisan napas.

"Sagu-ru… Aku… napas…," ucap Shiho berusaha mengucapkan kalimatnya.

Saguru yang baru saja sadar apa yang telah dilakukannya pada Shiho langsung melepaskan pelukannya dan melihat Shiho dengan khawatir.

"Ma-maafkan aku, Shiho. Kau tidak apa-apa, kan?" ucap Saguru tanpa menyembunyikan rasa khawatirnya.

"Hn," sahut Shiho dingin. Dia melepaskan kontak tubuh dengan Saguru secara kasar dan paksa.

Keheningan menyelimuti mereka berdua. Ada rasa kecanggungan yang membumbui pertemuan mereka ini. Shiho, yang tentu saja merasa canggung dan malu karena Saguru telah melihatnya menangis—Shiho selalu memasang pokerface. Pemuda yang pernah melihatnya menangis hanyalah Shinichi—saat menjadi Conan dulu. Setelah itu tidak ada lagi.

Dan Saguru. Dia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Sebenarnya pemuda detektif itu tidak ada alasan apa-apa untuk datang ke rumah ini. Dia hanya melihat Shinichi keluar dengan pipi babak belur dan akhirnya rasa penasaran pun timbul. Dan kata-kata pengakuan secara tiba-tiba itu pun meluncur dengan mudahnya di mulut Saguru.

Merasa tidak mempunyai kepentingan apa-apa, Saguru pun akhirnya berdiri. Dengan sedikit deheman canggung, Saguru menganjurkan Shiho untuk tetap beristirahat dan jangan pikirkan apapun. Shiho hanya memasang muka datar—meskipun di pipinya masih ada bekas air mata yang sudah mengering.

"Kau dengar tidak, sih?" tanya Saguru sedikit kesal karena sepertinya nasehatnya diabaikan oleh Shiho. Shiho hanya memandang Saguru datar.

"Aku tidak dengar. Apalagi suara ketukan pintu kamarku sebelum kau membukanya," jawab Shiho dengan dingin. Aura hitamnya mulai kembali sedikit demi sedikit—kesal karena dari tadi yang masuk kamarnya selalu tidak mengetuk pintunya terlebih dahulu.

Mendengar jawaban sindiran yang sarkartis itu, Saguru hanya tertawa kecil. "Yang penting aku sudah dapat ijin dari Hakase, kan?" ucap Saguru. Shiho sedikit mendelik kesal.

"Ya sudahlah, aku minta maaf tidak mengetuk pintu kamarmu," ucap Saguru mengalah. Kemudian dia melihat jam tangan silvernya, "oh sial, aku akan terlambat jika di sini terus," ucapnya, "aku pulang dulu ya, Shiho. Jaga dirimu baik-baik."

Shiho yang melihat Saguru membuka pintu kamarnya dan akan segera meninggalkannya, tiba-tiba mulutnya bertanya tanpa dipikir terlebih dahulu, "Ke mana?"

Saguru langsung membeku di tempat. Tidak biasanya gadis itu perhatian—sedikit perhatian. Dengan seringaian khasnya Saguru menjawab, "Hoo, asistenku yang cantik sedang mengkhawatirkanku," Shiho hanya mendengus kesal.

"Bo-bodoh," Shiho memutar bola matanya, "kalau kau mengurusi kasus aku juga harus ikut, aku kan bekerja padamu," lanjut Shiho melipat kedua tangannya. Saguru hanya tersenyum.

"Bukan kasus, tenang saja," jawab Saguru.

Dengan begitu, Shiho pun kembali berbaring dan menyelimuti semua tubuhnya dengan selimut yang tebal itu. Saguru hanya tetap memasang senyumnya. Senyuman yang berganti mode sedih.

"Aku harap kau peka," ucap Saguru pelan. Kemudian dia keluar dari kamar Shiho.

'Ya, ayah. Aku akan segera ke sana.' Ketik Saguru di layar handphone touchscreen-nya. Setelah terkirim, Saguru menghela napas. Kuharap tidak akan ada perubahan, harap Saguru dalam hati dan tersenyum sedikit sedih.

Kembali ke Shiho. Shiho tidak tuli. Dia dengar ucapan terakhir pemuda pirang itu sebelum dia keluar kamarnya. Shiho pun kembali menarik selimutnya dari wajah yang sedari tadi dia tutupi itu. Beberapa saat kemudian dia menghela napas.

Shiho juga peka. Shiho tahu apa yang baru saja dilakukan Saguru. Memeluknya, ucapan pengakuannya dan ucapan terakhirnya. Dia sudah merasa hal ini mulai dari pertama dia direkrut sebagai asistennya.

Bayangkan saja. Siapa detektif yang mau-maunya mencari informasi tentang seseorang—yang akhirnya hanya akan menjadi asistennya? Yang ada itu orang yang datang kepada detektif dan memberikan curriculum vitae mereka yang ingin menjadi asisten.

"Kau begitu terkenal di luar negeri—di Inggris sebagai ilmuwan jenius, kau tahu?"

Shiho tertawa sinis mengingat ucapan Saguru di awal pertemuan mereka. Terkenal? Yang benar saja! Dari mana dia bisa terkenal? Organisasi hitam menjaganya ketat. Dan bahkan dia tidak pernah ke Inggris. Saguru tahu kan kalau Shiho ini mantan Organisasi itu? Lantas mengapa dia mengatakan alasan yang tidak jelas itu untuk menarik Shiho menjadi asistennya? Detektif muda itu ternyata bisa bodoh juga kalau masalah merayu seorang gadis.

Jadi sekarang, apa yang harus Shiho lakukan?

"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu apa masalah kalian. Kalau kau memang sudah tersakiti olehnya … kenapa kau tidak … denganku saja?"

"… Aku hanya … Aku hanya merasa kesal ketika Hakuba itu dekat denganmu. Tapi aku tidak mengerti diriku sendiri yang merasa kesal ini,"

"Aku harap kau peka,"

"ARGHH!" ucap Shiho frustasi. Dia mengacak-acak rambut pirangnya itu dengan kesal.

Dia menatap langit-langit kamarnya dengan kosong. Beberapa saat kemudian mulutnya berbingkai senyum kesedihan.

"Kakak … This is such a complicated problem," ucap Shiho pelan, "… Wish you were here …"

.

.

.

~ Shinichi Shiho ~

.

.

.

"Shiho-chan … kau datang pagi sekali," sapa seorang gadis berbando yang tiba-tiba merangkul leher Shiho yang sedang duduk sendirian di kelas. Shiho hanya membalasnya dengan senyuman kecil.

"Kemarin kau kenapa tidak masuk?" tanya Sonoko penasaran.

"Sakit," ucap Shiho datar.

"Ah! Seharusnya aku menjengukmu! Handphone-mu sengaja kau matikan, kan?" ucap Sonoko menggembungkan pipinya, pura-pura kesal.

"Gomen gomen. Aku selalu mematikan HP kalau sedang tidak enak badan—tidak ingin diganggu," ucap Shiho mengatupkan kedua tangannya—meminta maaf. Sonoko hanya menghela napas.

Sesaat kemudian HP Sonoko berdering lembut di saku jasnya. Dengan segera Sonoko pun mengangkatnya dan mengangkatnya. Shiho pun bisa menebak kalau yang menelponnya itu Makoto—terlihat dari perubahan mimik wajah Sonoko yang kelewat ceria itu. Memberi pandangan permisi sebentar pada Shiho, Sonoko pun keluar kelas.

Shiho pun sendiri lagi. Dia tidak tertarik untuk jalan-jalan di sekitar sekolahnya ini—membosankan. Sepertinya pun dia juga datang terlalu pagi—belum begitu banyak anak yang datang ke sekolah.

"Kenapa sih kau harus menyeretku ke sekolah sepagi ini?"

"Ini bagus tahu! Daripada berangkat siang terus!"

"Hah … Tapi kan tidak harus sepagi ini. Lihat di kelas ini tidak ada—"

Ucapan pemuda itu berhenti seketika. Dua sejoli itu melihat Shiho yang sedang menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong—datar.

"—Shiho?" ucap pemuda itu tidak percaya akan kehadirannya.

Detektif sombong yang sedang menggandeng tangan kekasihnya itu refleks melepaskannya dengan sepihak. Setelah lepas pun dia kaget karena gerak refleksnya itu. Dan jangan ditanya reaksi kekasihnya. Mata lavender itu terbelalak kaget atas gerakan kekasihnya.

"Shi-shinichi?" tanya Ran dengan kaget. Sedangkan Shinichi hanya bertingkah kaku.

"A-aa … Ma-maaf aku tidak sengaja," jawab Shinichi sekenanya. Mata biru itu pun melihat ke gadis blondie lagi—tidak menghiraukan tatapan-meminta-penjelasan dari Ran.

Dengan pelan Shinichi mendekati Shiho—dan tentu saja Ran mengekor di belakangnya. Shiho sepertinya masih asyik dengan lamunannya, jadi dia tidak mengetahui kehadiran Shinichi dan Ran di situ. Shinichi duduk di depan bangku Shiho dan menepuk pundaknya pelan.

Tersenyum tipis, Shinichi pun menyapa. "Ohayou! Jarang-jarang kau datang pagi begini," ucap Shinichi dengan cengiran yang khas darinya.

Ditepuk pundaknya dan disapa, Shiho pun langsung tersentak kaget dan menoleh ke direksi arah orang yang menyapanya. Setelah tahu siapa, Shiho kembali memutar bola mata dan kepalanya ke arah lain.

"Hn," ucap Shiho singkat, padat dan tidak jelas sama sekali.

"Kau masih marah denganku? Aku pikir kemarin tidak," tanya Shinichi memposisikan kedua tangannya menyentuh kedua pipi Shiho dan menolehkannya lurus dengan Shinichi. Shiho hanya berusaha keras mempertahankan tatapan datarnya.

Melihat pemandangan seperti itu, Ran pun refleks juga untuk menarik tangan Shinichi dari pipi Shiho. "Apa yang kau lakukan, Ran?" tanya Shinichi agak sedikit marah.

"Shinichi …" ucap Ran sarat dengan emosi kecemburuan. Ditatapnya mata aquamarine Shiho dengan sedikit melecehkan.

"Maaf, Shiho-san. Bolehkah aku mengetahui apa masalah di antara kalian? Sampai-sampai Shinichi sebegitu perhatiannya padamu," ucap Ran sangat penasaran.

Shinichi pun marah dan bangkit berdiri. "Ran! Semua orang punya privasi!" ucap Shinichi marah.

"Pokoknya aku harus tahu! Karena ini baru pertama kalinya aku melihatmu sebegitu perhatiannya pada gadis!" ucap Ran, "… selain aku," lanjut Ran pelan.

"Tidak bolehkah aku bersahabat dekat dengan Shiho?"

"Sahabat macam apa yang beraninya menyentuh kedua pipinya dan menatapnya dengan penuh perhatian dan suara yang lembut?"

"DIA TIDAK PROTES KAN!" bentak Shinichi tidak sengaja. Dia sudah muak dengan perdebatannya dengan Ran.

Dibentak seperti itu, Ran pun terbeliak kaget. Begitu juga dengan gadis yang menjadi sumber masalah mereka—Shiho. Yang membuat Shiho kaget bukanlah bentakan Shinichi yang tiba-tiba, tapi kalimat yang dia katakan.

Tidak protes? Jelas saja! Jauh di dalam hatinya dia senang bisa berdekatan dengan detektif sombong itu. Meskipun wajah luarnya tidak mengekspresikan apa yang ada di dalam hatinya. Itulah mengapa Shiho tidak protes ataupun apa.

"Shi-shinichi …" ucap Ran dengan air mata yang mulai berlinang. Seumur-umur dia tidak pernah melihat Shinichi yang seperti ini. Shinichi yang membela gadis selain dia dengan ngotot.

Shinichi hanya menghela napas. Dia tampak menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan frustasi. Jujur memang dia tidak pernah bersikap selembut dan seperhatian ini kepada gadis lain selain Ran. Tapi mengapa dia bersikap seperti ini dengan Shiho?

"Oi, siapa yang bilang kalau tidak ada yang protes kalau kau memperlakukan Shiho seperti itu?" tanya seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka bertiga di depan pintu kelas.

"Ha-hakuba!" ucap Shinichi kaget.

Dengan tenang Saguru berjalan mendekati gadis pirang itu dan merangkulnya. Shiho pun tidak protes—tapi dia juga biasa saja.

"Walaupun Shiho tidak protes, tetap saja aku, sabagai kekasihnya akan protes."

.

.

.

~ To Be Continued ~


Ara ara… akhirnya jadi juga =,=

Hmm, seperti biasa, Saguru selalu memaksakan kehendaknya XD Shiho belum bilang yes lho untuk Saguru! Ih Saguru mah *toel-toel Saguru*

Ayo kita lihat reviewnya~

.

shinshisagu : namanya juga cinta segitiga XD. Sepertinya ini ngaret banget ya? XD makasih udah review.

.

Eternal Prodigy : makasih ^^ makasih juga udah review XD.

.

Misyel : Aih, nggak papa XD nggak usah bersalah gitu XD oh begitukah? Tapi ini murni ide saya loh ^^. Iya emang Shinichi nggak peka buanget di sini XD makasih udah review.

.

Nee chan : Iya itu pantas buat detektif yang tidak peka seperti dia *manggut manggut*. Hmmm di chapter ini kayaknya Shiho belum menjawab, masih galau dia XD makasih udah review.

.

renee : Aww, makasih ^^ fic ini perasaan nggak ada bagus-bagusnya deh XD. Ran di sini egois banget? Wah, mungkin iya deh XD jangan dikeluarin dari naskah fic, ntar nggak ada serunya dong XD. Wah, tanya istilah ya. Hmm oke. Typo adalah kesalahan dalam menulis. OOC adalah Out Of Character, misalnya Shiho yang tipenya dingin, jadi ceria (bukan tipenya banget). Semi Canon adalah cerita yang plotnya sama dengan anime aslinya, tapi ada sedikit perbedaan, contohnya ya fic ku ini, di aslinya kan Conan belum balik ke Shin, tapi di sini aku udah balikin ke Shin. AU adalah cerita yang plotnya sama sekali berbeda dengan anime aslinya, contoh Naruto kan ninja, tapi di sebuah fic AU Naruto menjadi seorang pelajar. Makasih udah review.

.

Enji86 : Enji-san, aku harus berterima kasih dobel padamu :D karena Enji-san mengingatkanku betapa tidak jelasnya alasan Saguru mendekati Shiho XD. Ceritanya ini sudah kubanting setir seperti ini, dan alasan Saguru mendekati Shiho akan kutulis di chapter depan atau depannya lagi(?). Apakah masih ada yang janggal? Dan ohya, anggap saja Saguru yang mengetuk pintu rumah itu aku skip XD #author gak niat. Makasih udah review.

.

KidMoonLight : Iya ini dia XD. Makasih udah review.

.

sh-summers : eh? Kenapa kau pundung di pojokan? XD makasih udah review.

.

Natsu D. Zero : *ngikut Shiho, Saguru ama Shinichi nggebukin Natsu D. Zero* #eh XD makasih udah review.

.

uchiha niwa : Maaf ya apdetnya kelamaan XD. Makasih udah review.

.

Aisha Haibara (Guest) : Lha ini keluar *dengan tampang innocent* #dor plak plak plak XD makasih udah review.

.

myst29 : ahihi, aku juga suka cerita-ceritamu kok XD. Makasih udah fave ^^/ dan review.

.

Nana : Ini lanjutannya. Makasih udah review.

.

Nadia shakira : Hmm, aku juga nggak tahu ini tamatnya sampai kapan. Yang jelas ya mungkin agak panjangan XD. Makasih udah review.

.

Mitsurika-chan : Karena mereka sudah beberapa lama menjadi sahabat XD. Makasih udah review.

.

.

Okee. Aku mau pengakuan sebentar XD.

Aku hampir kena writer's block nih buat fic ini! TTATT aku minta maap karena chapter ini pendek sekali (hanya 1500 kata).

Minna-chan, ada yang punya ide untuk melanjutkan fic ini seperti apa?

Seperti, jika Shiho menerima Saguru lalu bagaimana kelanjutannya?

Help me minna TTATT

Sumbangkan sedikit komentar dari minna-chan sekalian ya!

V

V

V

V

V

V