Author: runaway-dobe

A/N: Teman-teman… ini chap 4nya… Ngomong-ngomong makasih banyak ya buat reviewnya…(gives everyone candies) terutama buat saran-saran dan idenya. Saya akan berusaha :D

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Summary: Reuni SMA, satu hal yang tak akan pernah Naruto lupakan seumur hidupnya. Naruto, alumni Konoha Lab School, tidak menyangka bahwa ia akan bertemu kembali dengan mantannya, yang dulu terpaksa berpisah dengan Naruto, karena berbeda universitas. Tapi sayangnya, Naruto sudah mempunyai orang lain.

Naruto, dkk : 27 tahun.

Hinata: 24 tahun.

Warning: Rated M+ for some "reason". Shounen-Ai. Slight OOC. No OC. Don't like don't read.

Enjoy!

vVv

Waiting for Nothing

vVv

If loving you is wrong, then I don't want to be right.

vVv

Hinata membereskan rumah sambil mengumamkan lagu-lagu dengan suaranya yang merdu dan lembut. Diliriknya Naruto yang masih tertidur karena terlalu banyak mengkonsumsi alkohol kemarin. Diletakkannya vacuum cleaner yang sedang ia pegang di karpet coklat muda bermotif garis itu. Hinata menyibakkan night gown navy-nya, dan mulai melangkah, mendekati tempat tidur Naruto, dan duduk di samping tempat tidurnya.

-tep-

"Nghh…" Naruto mengerang karena goncangan pelan yang dibuat oleh Hinata, tapi kemudian, ia kembali tertidur. Dengkuran halus mulai terdengar. Dada Naruto naik turun, seirama dengan tarikan nafasnya.

Hinata suka sekali melihat suaminya tertidur. Suka sekali.

Tangannya yang mungil dan pucat mulai meraba wajah yang memiliki tanda kelahiran berupa tiga garis panjang itu.

Suka.

Mata lavendernya menelusuri tubuh Naruto yang sekarang hanya memakai boxer orange-hitam. Kemudian dirabanya dada Naruto yang bidang. Tangannya menyusuri dada Naruto dan berakhir di pusarnya membentuk satu garis panjang. Pusar yang memiliki tato swirl yang terlihat seperti segel. Hinata ingat sekali penjelasan suaminya; 'Kata teman kerjaku, ini sedang tren Hinata-chan.' Hinata menatap tato itu lama. Ia tak suka orang yang di tato.

Tapi tetap saja, Hinata suka. Suka orang ini.

Matanya berpaling ke plester yang terdapat di leher suaminya, disentuhnya plester itu, membuat Naruto (sekali lagi) mengerang pelan, "Eughh.." kemudian membalikkan tubuhnya.

"Aku tahu, Naruto-kun…" gumam Hinata dengan suara serendah yang ia bisa, "Tahu semuanya."

Dan dia takkan pernah melepaskan apa yang ia sukai.

vVv

Konoha Great Building, 3rd floor. 09.35 a.m.

Naruto memain-mainkan bolpoinnya sambil mencorat-coret lembar kerjanya dengan malas. Kerja di bidang editingitu memang menyebalkan, pikirnya. Ingin rasanya dia pergi ke GOR Konohadan bermain baseball bersama timnya sekarang. Tapi apa daya, Naruto lebih memilih berkutat dengan cerita-cerita tanpa ujung daripada kehilangan pekerjaannya.

Ironis memang. Naruto pernah bilang kalau membaca itu hal yang membosankan, kan? Tapi nyatanya, ia editor kedua terbaik setelah seorang seniornya disini.

Naruto menghembuskan nafas panjang, lelah. 'Kurasa aku butuh sedikit penyegaran.' Pikirnya.

Di bukanya laptop apple putihnya, kemudian mengklik iconGuitar Hero yang merupakan satu-satunya game di laptop Naruto yang banyak memakan memori disana. Tapi tak apalah, toh memang Naruto suka game itu.

Tapi sebelum sempat mengklik iconitu, seseorang memanggilnya.

vVv

Sehari sebelumnya. Kono's Coffee and Tea Pot. 16.15 p.m.

Sasuke tercenung, memain-mainkan sendok yang ada di cangkir hot cappuccino-nya. Di acuhkannya cheese fondue yang dipesan oleh Kakashi.

Sasuke benci makanan berlemak.

Tak lama, lelaki berumur dua puluh delapan tahun itu datang sambil melap tangannya dengan sapu tangan, lalu menyibak rambut silver yang turun menutupi matanya, "Sori, lama ya?" tanyanya.

Tak ada jawaban.

"Sasuke?"

Sasuke tersentak, sadar dari lamunannya, "…Hn. Ngapain sih tadi di WC? Betelur? Lama banget." Jawabnya sinis dan menusuk. Tapi Kakashi sudah terbiasa.

"Ya… Ya… Terserah kau sajalah." Balasnya kemudian mengambil tempat duduk di hadapan Sasuke dan menyeruput iced lemon tea-nya. Tangannya meraih garpu yang terletak di meja itu, menusuk sebuah roti, lalu mencelupkannya ke lelehan keju panas, "Bagaimana pekerjaanmu?" tanyanya kemudian memasukkan potongan roti berlapis keju itu ke mulutnya.

"Begitulah… tinggal sedikit lagi. Aku tak bisa menyerahkannya padamu hari ini. Mungkin besok?" jawab Sasuke sambil meneguk hot cappuccino-nya yang sebenarnya sudah agak dingin. Matanya kemudian menerawang ke luar jendela kafe itu.

Di luar hujan.

"Hm…" Kakashi meletakkan garpu, lalu mengelus dagunya, berpikir, "Bagaimana ya? Tapi mungkin besok aku tidak bisa mengambilnya. Aku ada urusan." Jelasnya. Sasuke tidak merespons sedikit pun.

Kakashi kembali mengambil garpunya lalu memakan cheese fondue itu lagi, "Kau sedang ada masalah ya?" tanyanya tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari mangkuk berisi lelehan keju itu. Memang enak rasanya makan sesuatu yang panas di hari hujan seperti ini.

Sasuke diam. Pikirannya entah kemana.

"Sasuke?"

"Eh… ah… apa tadi katamu?" Tanya Sasuke setelah sadar dari lamunannya. Kakashi menatapnya heran. Tak lama, tatapan itu berubah menjadi tatapan orang yang mengerti.

"Kau sedang ada masalah?"

"…Tidak."

"Ceritakan saja."

"…Kubilang tak ada."

"Ceritakan."

Sasuke mendengus, "Baiklah. Aku sedang ada masalah." Kakashi menaikkan sebelah alisnya, seolah meminta Sasuke untuk meneruskan perkataannya secara tak langsung.

"Apa?" Tanya Sasuke waswas. Matanya menatap Kakashi curiga.

Kakashi hanya tersenyum simpul, dan melanjutkan kegiatan makannya, "Lalu…?"

"Itu bukan urusanmu." Balas Sasuke dingin kemudian menatap ke luar jendela lagi.

"…pasti masalah cinta kan." Tegas Kakashi santai.

-touche-

"…Apa?" Sasuke menatap Kakashi. Apakah ia semudah itu ditebak pikirannya?

Kakashi tersenyum penuh kemenangan, "Ceritakan. Atau kau mau aku cari tahu sendiri?"

"Cih." Sasuke mendengus sebal kemudian kembali meminum semi-hot cappuccino-nya seteguk untuk menenangkan pikirannya, "Orang yang kusukai…"

"Sudah bersama orang lain…" lanjut Kakashi masih tetap santai lalu menguyah roti berlapis keju itu entah sudah yang keberapa potong.

Mata Sasuke membulat sekejap karena omongan simple tapi menusuk hatinya itu, tak lama Sasuke memicingkan matanya ke arah Kakashi, menunjukkan kadar ketersinggungan yang pekat, "Apa katamu?"

"Siapa dia?" Tanya Kakashi lebih lanjut, tanpa menggubris pertanyaan Sasuke. Membuat ia kesal tentunya.

Tapi, Sasuke tetap menjawab, "…Sebut saja dia…" ia terdiam sebentar, melihat hujan turun semakin deras di luar, membasahi bunga di sepanjang pinggiran kafe itu. Lalu ia berkata dengan suara yang hampir tak terdengar, "…Bunga Matahari."

vVv

Esok harinya, Konoha Great Buliding, 3rd floor. 09.51 a.m.

-knock knock-

Naruto yang baru saja mau mengklik icon game favoritnya itu menghela nafas panjang, "Masuk…" perintahnya malas, "Ada apa, Shika?"

Pria berambut nanas itu menguap lebar, kemudian menjawab, "Bos ingin meminta tolong padamu."

Naruto menaikkan kedua alisnya, penasaran, "Memangnya Jiraiya-sama mau minta tolong apa?"

"Entahlah." Shika angkat bahu kemudian menguap lagi untuk yang kesekian kalinya, "Katanya kau harus menggantikan tugas Kakashi hari ini."

Mata Naruto membulat, "EHHH?? Kenapa harus aku??" tanyanya protes.

"Mendokusei…" hanya itu yang keluar dari mulut temannya yang pemalas.

Naruto memutar bola matanya, "Jangan setengah-setengah kalau bicara, Nara."

"Ya, ya. Kata Jiraiya-sama, hanya kau yang dipercayakan oleh Kakashi untuk menggantikan pekerjaannya sementara… lagipula penulis yang kau tangani juga baru saja di pasarkan karyanya kan? Jadi kau sedang… yah… bisa dibilang semi-bebas lah. Hoammm." Pemuda Nara itu menguap lagi, "Ini. Data penulis yang harus kau urus."

Naruto tadinya mau menyanggah perkataan Shikamaru, tapi, ya sudahlah. Di telusurinya data yang terketik pada selembar kertas itu.

"Namanya aneh…" gumam Naruto pada dirinya sendiri, "Lagipula, Hidden Leaf Apartment? Euhh… Jauhnya…"

vVv

Parking Lot, Hidden Leaf Apartment. 13.41 p.m.

-beep beep-

Naruto lagi-lagi mendesah panjang setelah mengunci Peugeot-nya. Di liriknya lagi alamat penulis itu, "Aduh… Dilantai atas lagi…" keluh Naruto, "Lagipula… dia ada di rumah gak ya?" tanyanya sambil merapikan celana jeans biru pudarnya. Kemudian ia melangkah menuju lift.

…Tanpa terasa, beberapa saat kemudian, Naruto sudah ada di depan pintu apartment penulis itu.

-ting tong-

Tak dibuka.

-ting tong-

-ting tong-

-kriet-

"Ya?" Seorang pemuda berambut hitam pekat, sama pekatnya dengan warna bola matanya, kulitnya pucat. Rokok mengatung di bibirnya yang tipis. Pemuda itu membelalak kaget, "…Naruto?"

Naruto juga tak kalah kagetnya, "Sa…?"

-

"SAI?? Ternyata kau…"

"Sedang apa kau? Ayo masuk." Perintahnya kemudian mempersilahkan tamunya itu masuk, tapi lekas-lekas ditolak oleh Naruto.

"Ah. Tidak… Tidak… Disini saja. Kau sudah menyelesaikan tulisanmu kan?"

Sai menaikkan sebelah alisnya kemudian tersenyum misterius, "Apa maksudmu? menyelesaikan tulisan?"

Naruto mengangguk semangat, "Ya, ya, tulisanmu! Mana??" tagihnya sambil mengulurkan kedua tangannya pada Sai.

Sai hanya menetap tangan Naruto dengan tatapan heran, "Aku ini Pelukis, Naruto. Bukan penulis…" ralatnya segera, sebelum Naruto berasumsi terlalu jauh.

"…eh?"

Hening sesaat sampai Sai angkat bicara, "Mungkin kau salah alamat."

Naruto kembali merogoh saku sweater peach-nya lalu mengeluarkan secarik kertas yang berisi alamat tadi, "Tapi disini dibilang…"

Matanya kemudian membesar seketika.

Sai mengintip kertas itu, "Lantai 1 Naruto, kamar 117. Ini kamar 717." Jelas Sai sambil geleng-geleng kepala mengingat tingkah temannya yang tak pernah berubah dari SMA. Masih saja ceroboh.

Mulut Naruto menganga sesaat kemudian segera mengatupkannya kembali, "Euh! Yah…" Dilihatnya seorang penumpang yang mau menekan tombol menutup pintu di lift, "Ah! Aku mau turun deh sekarang! Makasih ya Sai… salam buat Ino!" serunya sambil menyeringai lebar kemudian mulai berlari mengejar lift yang pintunya hampir tertutup, "Tunggu! Saya mau naiiikkk…" serunya pada wanita tua yang hampir menempelkan jarinya pada tombol lift itu.

Sai lagi-lagi hanya melemparkan senyum misteriusnya, kemudian geleng-geleng kepala lagi, "Dasar." Tanganya menyentuh gagang pintu silver itu kemudian menutupnya.

-brak-

vVv

TBC…

A/N: Huaaaaa… saya paling ga bisa bikin Sasuke depresi. Helepppp… Arhhh. TT Ngomong-ngomong pada tau lagunya D'Masiv yang baru ga? Yang 'Diantara Kalian'? Saya kalo denger lagu itu jadi inget Sasuke mulu. Hahaii…

Review ya, saran kritik atau komentar sangat saya terima, dgn senang hati… xD