Hiks, akhirnya anime Ansatsu sudah berakhir, tetapi kecintaan author terhadap AsaKaru takkan berakhir #maafauthorlagilebay
Ya sudah langsung ajah dibaca, daripada author nanti dicipokin pembaca tengah malam begini.
.
.
Ini cerita boyxboy, yang ga suka jangan baca, resiko ditanggung sendiri.
BEWARE…cerita chapter empat ini ada pijatan plus…plus… #uknowwhatimean
Disclaimer: Sayang oh sayang, Asano Gakushuu beserta Karma dan juga karakter Assassination Classroom lainnya bukan milik author. Meski author yakin Karma itu milik Asano #ups
Summary: Asano benci banget sama si Karma yang sudah ngalahin dia berulang-ulang, sampai ada "kecelakaan" yang ngebikin Asano malu gegara Karma, kebawak-bawak mimpi pula, dan hal itu merubah perasaan Asano ke Karma.
.
.
.
Di sudut ruangan kelas End yang sudah sepi dan kosong, terlihat sekelebat bayangan yang bukan hantu sedang duduk di pojokan dengan napas memburu. Suasana yang gelap membuat penampakan bayangan itu semakin menyeramkan para pembaca. #maaf ini tiba-tiba kok horor *author garuk kepala
"Nurufufufu…"
Oh, rupanya itu Koro-sensei yang sedang membaca majalah edisi spesial "ehem-ehem" super M-scene yang baru saja dia dapatkan sebagai hadiah dari para fujoshi kelas 3E.
"Sensei, betul-betul kejam, ya…"
Rupanya Koro-sensei tidak sendirian, Ritsu juga masih terinstal di pojokan kelas tak habis pikir melihat kelakuan mesam mesem sensei-nya yang sedang membaca majalah "super mesum". Air liur Koro-sensei tak henti-hentinya mengalir dan bertambah seiring dia membalikkan lembar demi lembar halaman majalah itu dari awal sampai akhir. Wajahnya tiba-tiba meledak kemerahan saat sampai ke halaman terakhir yang menampakkan adegan "not suitable for underage".
"Melihat majalah seperti ini memang mengasyikkan, apalagi kalau gratis, nurufufufu…"
"Sensei, betul-betul kejam ya…," kembali Ritsu mengulang ucapannya. "Rela mengorbankan harga diri ace kelas 3E demi satu majalah Mai-chan".
"Nurufufufu, ini bukan sembarang majalah, Ritsu-san," Koro-sensei langsung pamer majalah mesumnya tepat ke depan layar si cewek 2D. "Harganya lebih dari sebulan gaji sensei! Dan uang sensei tinggal 5 yen jadi sensei tak berdaya!" Koro-sensei pura-pura nangis sambil menutup mukanya pake tentakel, berharap sang murid terperdaya.
Oh, jadi rupanya begini kejadiannya: Para fujoshi kelas 3E sengaja mengiming-imingi sensei mereka yang super mesum dengan majalah "21 tahun ke atas" kalau kalau Koro-sensei berhasil menjebak Karma agar dia mendapatkan hukuman "rahasia" dan "super sadis" dari sang ketua Osis.
Awalnya Koro-sensei menolak, tapi kemesumannya lebih kuat daripada imannya. Meski awalnya mau sok suci ternyata Koro-sensei kalah setelah ditunjukin halaman pertama majalah gravure yang dibawa Nakamura.
"Nurufufufu, Ritsu-san…"
"Iya, sensei?"
"Terima kasih sudah melancarkan ideku dengan menge-hack hape Karma dan memasukkan foto "nista" tersebut ke hapenya."
Mendengar ucapan sang sensei, Ritsu tertawa kecil sambil mengedipkan mata.
"Tak usah berterima kasih, sensei. Aku kan wakil ketua fujoshi kelas 3E."
.
.
.
Datanglah hari Senin yang cerah dibuktikan dengan sinar matahari yang bersinar terang dan Hamtaro yang keluar untuk mencari biji bunga matahari. Tetapi, tidak bagi seorang pria muda berambut merah yang sekarang sedang berdiri di depan pintu ruangan osis gedung utama SMP Kunugigaoka.
Hari ini adalah hari di mana Karma "terpaksa" menerima hukuman akibat kedapatan foto "nista" yang Karma tak tahu pasti bagaimana bisa ada di hapenya. Masak iya seorang Karma yang level tsunderenya overdosis menyimpan foto semacam itu di hape, ditambah lagi foto tersebut tersimpan di folder "haram".
Pikiran Karma langsung mules mengira-ngira hukuman apa yang akan diberikan si br*ngsek Asano itu kepadanya. Karma tak pernah menyangka akan menghadapi suatu hal yang lebih berat daripada soal matematika dalam hidupnya. Sambil menghela napas, Karma memutar pegangan pintu ruangan osis sedari mempersiapkan mental #persiapan mental kalau Asano meminang sepertinya #plak
Tetapi sebelum dia sempat membuka pintu, pintunya malah sudah menjeblak terbuka dan tampaklah Ren Sakakibara yang sama-sama kaget melihat Karma nampang di depannya. Selama 2 detik mereka diam berhadap-hadapan sebelum Karma inisiatif bicara duluan.
"Aku ke sini mau ketemu ketua kalian, kaitannya dengan foto hasil penggeledahan minggu kemarin," celetuk Karma datar.
Entah mengapa Ren diam saja, tiba-tiba kedua tangannya diletakkan di bahu kanan kiri Karma. Mendadak si Mohawk pasang tampang cengeng sambil memandang Karma, matanya berlinang dan hatinya berteriak.
Ucapkan selamat tinggal pada keperawananmu, Karma…
Sambil menghela napas, Ren meninggalkan Karma yang mukanya terbengang-bengong melihat kelakuan anak buah Asano itu.
"Huh, ketua dan anak buah sama-sama tidak jelas kelakuannya…"
Karma pun akhirnya menginjakkan kaki ke ruangan Osis dan terlihat Asano sedang duduk di balik meja, satu tangan menopang wajah dan tersenyum sinis melihat kedatangan "target hukumannya" alias Karma.
"Oh, ace 3E sudah datang untuk menerima hukuman rupanya…"
Karma dengan pedenya melangkah mendekati Asano setelah menutup pintu dan berdiri di depannya, wajahnya dipaksakan untuk terlihat malas, meski hatinya parno nggak karuan.
Tuhan, please jangan biarkan dia ngapa-ngapain aku! Aku masih underage! #Karma kalau kau ngomong gitu author jadi ikut berdosa, loh…
"Mana murid yang lain?"
"Maksudmu?"
"Yang menerima hukuman bukan aku saja, kan, pastinya?"
"Ohhh, mereka sudah menyelesaikan hukuman daritadi. Salah sendiri kelasmu ada di atas gunung, jadi lama kan sampai ke sini," dengan lihainya Asano menjawab pertanyaan Karma.
"Aku tak percaya…"
"Memangnya aku peduli? Atau…," tiba-tiba Asano berdiri dan membawa wajahnya tepat di depan wajah Karma, hidung mereka nyaris bersentuhan. #untung Asano sudah bertapa pengendalian diri hari Minggu kemarin kalau tidak dia sudah menerjang Karma dengan napsu membabi buta
"Kau takut berduaan saja denganku, eh?"
"Ap…apa? Bodoh, mana mungkin!" Karma memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan semburat pink yang nyaris bisa dilihat Asano.
Asano tertawa kecil dan duduk kembali di kursinya. Hatinya kegirangan sukses menggoda Karma, "Jangan khawatir Karma, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu, kok."
Awas saja kamu ngapa-ngapain aku, aku tendang anumu nanti
Suara hati Karma dongkol setelah digoda sang ketua Osis. #cieh belum apa-apa sudah berpikir ke anu-nya Asano #ditonjok Karma
"Lalu, apa hukumannya, ranking 2?"
Berusaha cuek dengan balasan jadul dari Karma, Asano mengulurkan lembaran kertas kosong ke tangan Karma.
"Hukumannya mudah, sekarang kamu tulis apa yang aku perintahkan."
"Hanya itu?" Karma nyaris terjungkal tidak percaya.
"Oh, kamu mau lebih?" kata Asano berucap sexy.
"Ti..tidak!"
"Sekarang kamu duduk di sana dan tulis 100 kali di kertas ini: "Aku bukan homo".
"Apa?! Kenapa aku harus nulis begituan?!"
"Habisnya kau simpan foto kita berdua ciuman, bukan? Aku curiga kau homo."
Kalau yang dihadapannya bukan anak ketua dewan, ide Karma untuk menendang anunya Asano bakal kesampaian.
Sabar…sabar…Karma…lakukan hukuman ini dan 15 menit lagi kau bisa bebas
Karma membalikkan tubuhnya dan berjalan duduk di sofa, sambil membanting kertas yang diberikan Asano ke atas meja dia pun mulai menulis kesetanan.
.
.
.
Sementara itu di kelas 3E…
"Aku khawatir nasib Karma gimana. Menurutmu hukuman apa yang akan diberikan Asano, Isogai?"
Rupanya anak-anak kelas End belum pada pulang seusai pelajaran berakhir, sekarang mereka malah nongkrong di dalam kelas membicarakan nasib Karma yang tak jelas.
"Entahlah, hanya Tuhan *dan author* yang tahu, Mae. Menurutmu gimana, Nagisa?"
"Aku juga tak tahulah…, aku kan bukan peramal."
"Kupikir kau tahu, kau kan dekat dengan Karma jadi bisa telepati berdua."
"Jangan ngawur Isogai, aku masih manusia. Bukan alien"
"Nurufufufufufufu….," itu bukan tawa Koro-sensei melainkan Nakamura, ketua PFE (Perserikatan Fujoshi End class) paling mesum yang pernah ada.
"Kita bisa menebak apa yang sudah dilakukan Asano ke ace 3E kita tercinta saat dia muncul nanti, nurufufufufu." Kok tawa Nakamura mirip Koro-sensei, ya? Soalnya level kemesuman cewek satu ini sudah hampir setara Koro-sensei, jadinya tertular.
"Kok bisa?" Tanya Maehara bingung.
"Yah, lihat saja nanti kalau Karma muncul dan berjalan timpang," kedip Nakamura sambil melambai pergi yang dibalas muka bingung Maehara dan "entah mengapa" muka merah Isogai.
"Eh, eh, Isogai, memang kenapa kalau Karma berjalan timpang?"
"Bo..bodoh! Kau yang sering melakukan "itu" ke aku, bisa-bisanya tanya!"
"Hah, memang aku lakukan apa? Apa hubungannya dengan Karma?"
"Berisik..! Aku pulang!" Isogai yang malu langsung angkat tas dan pulang ngambek karena sobatnya terlalu idiot.
"Hey…hey…Nagisa…kau ta.."
"Diamlah Maehara".
.
.
.
Balik ke ruangan osis…
Akhirnya Karma sudah sampai ke nomer 99, dirinya tersenyum puas saat hampir menyelesaikan kalimat homo-homoan yang keseratus.
Kalau begini, aku dapat menyelesaikannya tepat 15 menit, yes!
Karma yang asyik menatap lembaran kertas di meja tak menyadari Asano sudah tidak duduk di kursinya dan terlihat berjalan diam-diam mendekati Karma dari belakang, laluuu….
KLIK…
"Ap…Apaa…yang kau lakukan br*ngsek!"
Tangan Karma mendadak diborgol Asano, Karma yang terlalu fokus menulis tidak sadar bahwa Asano sembunyi-sembunyi berjalan mendekati Karma dari belakang sambil membawa borgol berantai panjang yang dia beli dari satpam depan sekolah. Dann….Asano pun sukses memborgol tangan kanan mangsanya ke sofa.
"Kau gila! Lepaskan sekarang!" Karma berkutat berusaha menarik borgol tersebut lepas dengan tangan kirinya.
"Ogah, ah. Kau sudah susah payah aku tangkap, masa aku lepas? Paling nggak aku mau mencicipimu sedikit, Karma-kun", timpal Asano mesum sambil membasahi bibirnya dan menatap bibir merah Karma yang sangat aduhai.
"Ma..Mauu..maumu apa, heh?!"
"Aku mau memakanmu Kar-ma-kun".
Asano secara liar menjambak rambut belakang Karma alhasil lehernya yang putih bersih seperti susu terekspos siap disantap. Melihat hal itu Asano makin bernapsu, sia-sialah sudah tapa pengendalian dirinya kemarin Minggu.
"Ugh!" Karma tak berdaya menahan sakit jambakan Asano. Dia berusaha menonjok muka Asano dengan tangan kirinya yang masih bebas. Sayang, Asano dengan lihainya mengelak dari tonjokan Karma dan malah berhasil mencengkeram tangan kirinya.
"Kau memang nakal, Karma-kun. Itulah sebabnya aku harus menghukummu…"
Dengan senyuman menyeringai Asano mengeluarkan borgol berantai panjang yang lain dari sakunya dan memborgol tangan kiri Karma yang kali ini dia borgolkan sendiri ke tangan kanannya. # jangan tanya author gimana nyimpannya, anggap saja kantong ajaib Doraemon
"Dengan begini, kau tak akan bisa lari dariku walau ada gempa sekalipun, Karma-kun", Asano mendesis sexy di telinga Karma yang membuat muka si rambut merah sebelas dua belas sama buah tomat.
"Aku moohonn Asano, jangan aniaya aku, aku masih ingin jadi jejaka!"
"Aku tak peduli".
"Rasaku nggak enak!"
"Aku suka kok sama stroberi, itu rasamu, kan, Karma?"
Karma kehabisan akal untuk menghindari si ketua Osis yang siap melakukan perbuatan nista terhadap tubuhnya.
"Rasaku memang susu stroberi, tapi aku sudah kadaluwarsa, nanti kamu bisa sakit perut kalau memaka…ummmm!"
Tak peduli ucapan Karma, Asano pun langsung nyipok bibir lembut Karma dan melumatnya dengan cekatan seperti sudah berpengalaman, satu tangannya memegangi dagu untuk menahan Karma agar dia tidak mengelak. Tubuh Karma mendadak lunglai tak berdaya merasakan bibirnya dilumat cowok durjana itu, matanya terbelalak karena syok. Asano melumat bibir Karma tak henti, dia berniat mau mencicipi kelembutan daging merah itu sampai puas sebelum maju ke level berikutnya. #kayak maen game aja wow
Lumat…jilat..lumat…dan jilat…Karma hanya bisa pasrah bibirnya dikonsumsi Asano, dengan kedua tangan terborgol dan mata yang tertutup, dia takut kalau kalau dia mulai menikmati semuanya ini. Asano menggigit bibir bawah Karma untuk mendapatkan akses masuk ke dalam mulutnya.
"Ugh!" Karma merintih sakit karena bibirnya berdarah telah digigit, otomatis dia membuka mulutnya sambil mengerang.
Asano tersenyum tipis melihat erangan "imut-imut" tersebut dan langsung menginvasi mulut Karma dari kanan ke kiri dan dari pojok atas ke pojok bawah. Lidah mereka berdua saling beradu dengan panasnya sampai-sampai mulut Karma mengeluarkan saliva yang menetes dari sudut bibir hasil kemenangan dominasi mulut Asano.
"Asa…Asanoo…hentikan…aku tak bisa bernapas…"
Dengan sedikit rasa prihatin, Asano menghentikan ciumannya agar mereka berdua bisa mengambil napas sementara.
Asano tiba-tiba mengusap rambut merah Karma dan tersenyum sayang. Si empunya rambut tak berani memandangnya, wajahnya merah padam mengalahkan warna rambutnya sendiri.
"Kau memang imut, Karma…lihatlah dirimu, berantakan sekali."
"Sa…salah, siapa?! Sudah cukup! Lepaskan aku!"
"Ck…ck…ck…, tidak, aku belum lanjut ke level dua, Karma-kun. Kau tahu kan kalau aku sangat suka…" Asano mendekatkan wajahnya ke Karma, dia diam sebentar memperhatikan wajah sang lawan bicara sebelum berbisik, "Permainan…"
"Ap..apa?!"
"Di game ini ada 2 opsi, Karma-kun. Dan kau yang harus memilih."
"Opsi pertama: kau mau aku mulai dari atas ke bawah atauu….", jari telunjuk Asano mulai meraba bibir Karma yang sudah membengkak akibat ciuman "panas" barusan, kemudian turun sampai ke bagian yang paling "berbahaya".
"Opsi kedua: kau mau aku mulai dari bawah ke atas?"
Lebih baik Karma menghadapi 5 pilihan soal Matematika, ketimbang menjawab pertanyaan otome game-nya Asano yang menentukan kecepatan hilangnya keperjakaan Karma.
"Aku mau kau mati saja."
"Itu tidak ada di pilihan, Karma-kun…"
"Jadi sudah game over, kan? Ijinkan aku pergi!"
"Baru aku mau restart…"
Asano dengan sengaja mencium Karma lagi, tetapi kali ini tangannya mulai turun dan meraba-raba dada Karma. Saat jarinya menggesek tonjolan yang tertutup kain seragam, si iblis merah mengeluarkan erangan manis.
"Ugh! Hentikan…"
Mendengar erangan Karma, Asano menghentikan ciumannya dan malah menggunakan kedua tangan untuk mencubiti bagian sensitif tersebut. Tak puas, si penyuka sepak bola mengoyak kain yang menutupi tonjolan itu. Kali ini, dia menggunakan lidahnya untuk menjilati dua benjolan kecil berwarna pink milik Karma.
"Aku penasaran, apakah ini bisa mengeluarkan susu stroberi jika kuhisap, hmm?"
Asano mulai tak waras, ingin rasanya Karma menimpuk cowok itu dengan batu bata. Tetapi tubuhnya sedang tak sejalan dengan pikirannya. Otaknya ingin membunuh remaja yang saat ini sedang melakukan jilatan melingkar dan menghisap bagian sensitif miliknya, tapi tubuhnya justru menikmati semua hal yang dilakukan Asano, bahkan menginginkan lebih.
"Ah…ah…ahh…," rintihan Karma yang terdengar di telinga Asano membuat kejantanannya menegang. Tetapi Asano tidak ingin segera menuntaskan permainan ini, ia ingin menikmati Karma lebih lagi. Membuatnya malu dan meneriakkan namanya. Benci dan cinta jadi satu di hati Asano, dia membenci Karma yang sudah mengalahkan dirinya berulang-ulang, di satu sisi dia begitu mencintai rival yang merebut ciuman pertamanya. Dan erangan Karma persis seperti yang selama ini ia impikan, begitu menggiurkan.
"Karma-kun, kalau kau mengerang seperti itu nanti ada yang dengar, lo…, kau tak mau kan kita dilihat dalam posisi ini?"
Karma sudah tak peduli lagi dengan perlakuan semena-mena musuh besarnya itu, tubuhnya lunglai tak berdaya dengan tindakan Asano. Tetapi dia masih punya rasa malu, jangan sampai ada orang lain apalagi fujoshi seluruh sekolah melihat mereka dalam keadaan begini. Bukan foto lagi yang akan tersebar, bisa-bisa AsaKaru bokep akan beredar luas dengan 2 versi: bajakan dan original #plak
Sialan kau, Asano…
Karma menggigit lidahnya sampai berdarah agar tak mengeluarkan suara. Asano puas melihat hal tersebut, sepertinya Karma sudah pasrah di-yaoi olehnya.
"Ah, ah, Asano, yaoi aku lagi…" #Karma mulai lebay, author tak sanggup lagi
"Aku tak suka diperintah, Karma-kun bahkan oleh ayahku. Tapi karena kau begitu manis, aku bersedia."
"Lepaskan aku dulu, Asano…tanganku sakit."
"Nanti kau kabur…"
"Aku sudah rela kok dibeginikan dan dibegitukan olehmu."
"Bahkan jika kau kusundul seperti bola sepak?"
"Tergantung kau sundul apaku…"
Asano menyeringai mendengar celotehan cerewet Karma, dia pun melepaskan borgol yang mengikat tangan "calon pacarnya" tersebut. Borgolan Asano meninggalkan bekas merah di tangan Karma, melihat hal tersebut Asano merasa bersalah. Dia tak bermaksud melukai kulit putih nan mulus Karma.
"Maafkan aku, Karma, aku tak bermaksud melukai kulit mulusmu," kata Asano menghela napas yang membuat Karma justru curiga, kenapa mendadak sang durjana berakting seperti Arjuna dan rupanya kecurigaan Karma benar. "Tapii…sebagai gantinya, aku akan memberikan bekas-bekas yang lain…dan yang ini caranya lebih nikmat".
Kejahilan Asano memang tak pernah berakhir, dia mulai cepat menciumi dan menghisap leher putih Karma yang mulus, meninggalkan bekas merah yang Karma tahu tidak akan hilang hanya dalam waktu sehari saja.
"Ugh…," Karma mengerang nikmat. Tak berhenti sampai disitu, tangan Asano turun ke bawah dan meremas pantat empuk Karma sembari bibir dan lidahnya terus menjilat, mengisap, dan bermain dari atas, kemudian turun ke bawah.
"Ah…ah…," korban remasannya tak kuasa menahan rintihan kenikmatan.
Remas dan remas, namun rupanya meremas pantat Karma tak membuat Asano puas. Dia ingin meremas kejantanan Karma, sudah lama dia membayangkan bagaimana rasanya memegang bagian paling sensitif si setan merah tersebut, kemudian lanjuttt ke adegan puncak yang paling ekstrim.
"Karma-kun?"
"Ap…apa, heh?" Karma berkata sesak.
"Boleh aku anu-anu anumu?"
"Hah? Ngomong yang jelas dong, Asano…"
"Kau akan takut kalau aku bilang terus terang."
"Apalagi yang harus kutakutkan, Asano? Kau sudah apa-apakan aku."
"Aku ingin meremas anumu dan ingin memasukimu, Karma-kun. Aku ingin merasakan bagian dalammu, singkatnya aku ingin kita melakukan s-e-x"
"WHAT?!"
Permintaan Asano membuat Karma syok sampai-sampai cowok itu terjungkal dari sofa. Karma masih remaja, belasan tahun alias underage. Dia saja hanya boleh nonton film rating "Bimbingan Orang tua" di rumah. Yang benar saja, Karma belum siap. Beda dengan Asano yang tampang remaja, tapi pikiran tak sesuai umurnya.
"Aku…aku…aku belum siap, Asano-kun."
"Kenapa, Karma-kun? Aku ingin memilikimu seutuhnya."
"Aku takutt…"
"Kau bilang tadi tak takut apapun…"
"GLEK!"
Seperti menelan ludah sendiri, Karma-pun akhirnya pasrah.
"Ba…baiklah, Asano-kun. Asal kau janji tak akan menyakitiku…" #sampai di sini author tak tahan lagi, author pengen gantikan Asano #please, lupakan kekhilafan author
Asano yang tersenyum mendengar jawaban Karma, tak berkata apa-apa lagi. Dia perlahan melepaskan ikat pinggang Karma yang saat ini doi sedang menutup mata. Terlalu malu melihat keadaan dirinya. Asano menggunakan mulutnya untuk membuka resleting Karma. Karma merasakan celananya mulai diturunkan dan sekarang dia hanya pakai boxer lophe-lophe warna pink.
"Boxermu, lucu Karma-kun. Aku tak menyangka kau suka motif beginian."
"Diam, kau bodoh," balas Karma dengan muka tomat, agak sakit hati mendengar ejekan "calon kekasih". "Memang kau pakai boxer lebih bagus dariku?"
Asano dengan cekatan membuka resletingnya dan melepas celananya. Terlihat dia memakai boxer warna biru tua dengan desain elegan dan merek Armani terpampang nyata.
Karma langsung malu melihat boxer Asano, tetapi bukan karena desainnya lebih oke daripada milik Karma. Melainkan ada tonjolan gedhe di tengah-tengah boxer Asano yang Karma tahu itu apa dan datang darimana.
Sial, sepertinya besar…
Asano tahu Karma sedang melihat ke arah mana dan dia menyeringai.
"Jangan khawatir, Karma. Kau juga punya, tuch, di boxermu."
Tangan Asano meremas kejantanan Karma yang mengeras akibat "penganiayaan" tadi.
"Ugh…ah…Asano, apa yang kau lakukan…ah!"
Karma merasakan boxernya diturunkan sampai ke lutut, lalu turun terus sampai dia sudah tidak merasakan sehelai kain pun di area bawah. Kejantanan Karma terlihat jelas, hal ini membuat cowok yang lebih tinggi sedikit darinya tersebut menyipitkan mata bernapsu. Tetapi ia tidak melakukan apa-apa dan hanya memandangi Karma. Tiba-tiba tangannya mengelus pipi Karma dengan lembutnya.
"Kau memang tampan, Karma. Kau sangat menggoda."
Masih ingat nggak wajah malu Karma pas dipasang apron pink sama Koro-sensei? Sekarang wajahnya memerah lebih dari itu. Tanpa apron, tanpa toel-toel sang gurita, hanya perkataan sederhana dari sang ketua osis SMP Kunugigaoka yang membuat Karma rela beranak dalam kubur.
Karma menutup wajahnya dengan kedua lengan, dia tak mau Asano melihat keadaannya saat ini.
"Jangan menutup wajahmu, Karma. Aku ingin melihatmu."
"Kau sudah melihatku, Asano. Betul-betul MELIHATKU. Kurang apa lagi?"
Asano tersenyum puas, sedangkan Karma masih menutup wajahnya. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang basah di bagian "anu"nya itu.
"Apa yang kau..ah!"
Asano memberikan Karma blow job, pertama-tama menjilati bagian ujung kejantanan Karma, turun ke bawah, lalu mulai menghisapnya perlahan. Jilat-hisap-jilat-hisap-jilat-hisap.
"Agh…agh…jangan…!"
Sungguh tidak mau berhenti, Asano menelan milik Karma bulat-bulat, lalu mengeluarkan dan memasukkannya ke dalam mulut. Keluar-masuk-keluar-masuk-keluar-masuk.
"Asano, hentikan…aku akan…agh!"
"Kau benar ingin aku berhenti, hmmm?"
Karma nyaris menyemburkan cairan lengket ke dalam mulut Asano, tetapi mendadak cowok peringkat dua tersebut berhenti.
"Aku belum mau kau keluar sekarang, Karma-kun…"
"Asano…ka..kau...," Karma tersengal-sengal, matanya menatap langit-langit kehabisan napas. Pikirannya mulai kosong.
Tanpa disadari Karma, Asano memasukkan jari-jarinya ke dalam mulut Karma.
"Hisap…"
Seperti anjing penurut, Karma yang sudah tidak berpikir apa-apa menurut saja dan menghisap jari jemari Asano. Tak ada ide baginya mengapa cowok 3A tersebut menyuruhnya melakukan hal tersebut. #sepertinya Karma terlalu innocent dan author terlalu mesum
Jari Asano terasa hangat dan basah karena hisapan cowok penyedot susu stroberi tersebut, lalu dibukanya kaki Karma lebar-lebar, siap menyerang, saat ini hanya dengan jari.
"Asano…kamu mau apa?"
"Sttt…tahan saja sebentar."
Asano mulai memasukkan digit pertama ke dalam "lubang" pantat Karma yang menghasilkan teriakan fantastis topan level F5.
"AHH…Sa..sakit….hentikan…!"
Karma merasakan ada sesuatu yang mencoba masuk paksa di area bawah tubuhnya. Jari jemari Asano berusaha untuk menginvasi seluruh bagian tubuh Karma tersebut. Dimasukkannya digit kedua dan mulai merenggangkan lubang elastis merah mudah tersebut.
"AH…AH…Asa…Asano…."
Asano yang kehabisan sabar mulai memasukkan digit terakhir, jarinya seperti memiliki otak sendiri harus bagaimana dan melakukan apa. Tiba-tiba jarinya menyentuh sesuatu yang membuat Karma langsung lemas luar biasa, penglihatannya mendadak pening.
"AGHHHHH….!"
Spot manis yang ditemukan Asano langsung dia sentuh berulang-ulang dengan gerakan keluar masuk. Asano pun menghentikan gerakannya tersebut dan mengeluarkan jarinya.
"A…Asano?"
Kenikmatan yang dirasakan Karma telah direnggut paksa, dia ingin lebih dari Asano. Seperti sinyal WiFi, Asano menangkap pikiran Karma. Dia pun membuka boxernya dan memperlihatkan "tongkat" panjang miliknya yang sudah mengeras dari tadi.
"Kau mau aku, apa, hmmm?"
Karma merengut mendengar godaan Asano, harga dirinya tidak mau mengalah dengan mantan top student itu. Tetapi tubuhnya berpikiran lain.
"Cepat…lakukan saja…bodoh…"
"Lakukan apa?"
"Kau-tahu-apa!"
"Maaf Karma-kun aku ini lebih bodoh darimu. Aku si "peringkat dua", ingat? Jadi aku tak bisa menangkap maksudmu."
Seperti senjata makan tuan, ejekan Karma yang selama ini dia lontarkan akhirnya Asano gunakan untuk menyerang balik.
"Kau akan menyesal…"
"Oh, pasti…jadi?" seringai Asano sadis.
"Cepat masukkan anu-mu ke dalam lubang pantatku sebelum kau kubunuh dan kukubur di bukit belakang sekolah!"
Ingin rasanya Karma menonjok wajah Asano yang menyeringai semakin lebar. Dia tak berani memandang wajah cowok itu saking malunya.
"Kau masih bisa mengancamku dalam keadaan kita seperti ini, Karma-kun?"
Selesai berbicara, Asano membuka lebar-lebar kaki Karma dan memposisikan kejantanannya yang menegang di depan "liang" berkedut pasangannya itu.
"Sekarang kau akan resmi jadi milikku, Karma-kun…"
Sakit luar biasa dirasakan Karma saat Asano mendorong miliknya masuk ke dalam tubuhnya lewat lubang pantat. Karma tak kuasa menahan air mata, padahal ngomong-ngomong dia bukan cowok cengeng. Dia cowok paling manly yang pernah ada. #psstt…sebelum "digituin" sama Asano, sich, iya #plak
"AHHHH….AHHHHHHHHH, STOPPP!"
Sakitnya melebihi saat Asano memasukkan jarinya tadi, air mata sampai keluar dari samping mata Karma. Namun, Asano tidak mau berhenti, dia mendorong miliknya seluruhnya sampai masuk total ke dalam lubang pantat Karma.
Karma mulai terisak-isak, dia sudah tak peduli lagi akan diejek Asano setelah ini karena kelakuan cengengnya yang "out of character". Asano tiba-tiba berhenti tepat saat dirinya sudah menyatu dengan tubuh Karma.
"Apa kau merasakan diriku di dalammu, Karma? Kau begitu hangat…"
"A…Asano…"
Asano mencium kening Karma dengan sayang, lalu turun untuk menjilat air mata Karma yang meleleh keluar, dan menciumnya lagi kali ini di bibir. Jika awal tadi dia melakukan ciuman panas yang kasar, kali ini dia mencium "kekasih" nya tersebut dengan lembut. #tambahan dari author: dan penuh cinta tentunya
Asano mulai bergerak keluar masuk dari tubuh Karma sambil tetap terus mencium kekasihnya #iyaaa sekarang sudah "resmi", hoiiiiii #author pengumuman pakai toa
Keluar-masuk-keluar-masuk-keluar-masuk-keluar-masuk
Gerakan Asano lambat dan konsisten, mendadak dia melepaskan ciuman hangatnya dan memegang kedua lutut Karma untuk dibuka lebih lebar. Kali ini gerakannya semakin cepat dan kuat. keluar-masuk-keluar-masuk-keluar-masuk.
"AGH…AH! AH! AH! ASANOO…AH!"
Sekarang tubuh Karma dialiri setruman nikmat yang berasal dari Asano, tubuhnya tak lagi merasakan rasa sakit. Justru dia begitu terbuai setiap kali Asano bergerak, dirinya seakan-akan mengikuti irama yang dilakukan pasangannya itu.
Asano sekali lagi mengenai spot manis milik Karma berulang-ulang, gerakannya makin cepat, kuat, dan keras. Diapun mulai menutup mata merasakan tubuh Karma yang menegang di sekitar kejantanannya.
"Karmaaa….."
"Ugh, ah…ah…ah…Asano, aku akan…AHHH!"
Karma yang titik manisnya terkena "pukulan" berulang-ulang oleh Asano sudah tidak lagi kuasa menahan orgasm. Kejantanannya menyemburkan cairan putih kental dan lengket. Cairan susu milik Karma mengenai muka Asano.
"Aku tidak menyangka engkau keluar tanpa aku sentuh, Karma-kun…"
Asano menjilat cairan kental yang keluar dari tubuh Karma di bibirnya. Semburat merah langsung muncul di pipi Karma, dia tak berani menatap cowok yang saat ini kelihatan super sekseh itu di depannya.
Asano pun hampir mencapai klimaks, gerakannya semakin liar. Di detik-detik terakhir dia tak pernah menyangka akan mengucapkan sesuatu kepada cowok yang dia benci selama ini sambil tersenyum.
"Aku mencintaimu, Akabane Karma…," Asano pun menyemburkan cairan miliknya di dalam tubuh Karma dan dia menjatuhi tubuh cowok itu karena kelelahan.
Rasa manis yang menusuk hati Karma setelah Asano melontarkan perkataan tersebut tepat di telinganya membuat mata Karma terbelalak. Entah harus membalas apa, tetapi seperti ada yang mengendalikan mulutnya menggunakan remote control, Karma pun memeluk tubuh lemas yang menimpa dirinya.
"Aku juga mencintaimu, peringkat dua…"
.
.
.
.
Note: Hanya 3 kata yang mau author ucapkan untuk menyudahi chapter kali ini "Author mesum banget", sekian.
Eh, ga cuma itu, sich! Author mau menyampaikan terima kasih yang sudah merepiu chapter-chapter sebelumnya. Ditunggu repiunya lagi, biar author makin semangat nulis dan update. Psstt, belum berakhir loh! Masih ada chapter satu lagi, ditunggu ya…
Salam banting,
Chenchuuu
.
Ps: Yang punya tumblr, bisa follow me and I'll follback, niatnya tambah teman buat ber "AsaKaru" ria atau ber-OTPEH lainnya XDD, nama tumblr ane sama tuch: chenchuuu
