Untuk kesekian kalinya, Meiru meng-up date lagi fanfic ini
Kyaaa...^o^ Meiru sungguh tidak menyangka akan mendapatkan tanggapan yang begitu banyak dari kalian
Meiru sungguh100x sangat senang plus bahagia ketika membaca review dari kalian
Saking bahagianya sampai-sampai terbayang sampai mimpi, heheheee...^_^
Salah satu saat yang menyenangkan bagi Meiru adalah saat membaca review dari kalian
Oleh karena itu, hamba mohon untuk tetap setia me-review fanfic ini
Hontou ni arigatou *author sok2an berbahasa Jepang, padahal sama sekali tidak bisa*
Selain itu, review dari kalian juga sangat membantu Meiru dalam mengetahui kesalahan-kesalahan yang terdapat pada chapter sebelumnya dan memperbaikinya pada chapter selanjutnya
Meiru juga meminta maaf yang sebesar-besarnya kalau ternyata di chapter ini masih terdapat kesalahan-kesalahan
Hamba sudah berusaha sebaik mungkin agar tidak terdapat kesalahan lagi dalam chapter ini
Sekali lagi Meiru mengucapkan banyak terima kasih untuk para reader dan reviewer yang telah menyisihkan sebagian waktu kalian untuk tetap setia mengikuti kelanjutan dari fanfic ini
Arigatou gozaimasu ^_^
Balasan review untuk chapter 3 :
Ma Simba : Wahh... selamat yaw Simba-san atas account barumu *keprok100x*...Meiru seneng bangetz bisa bikin kamu jadi penasaran, hehehee... trimz atas reviewnya^_^
Sora Hinase : Kalau Meiru jadi Hinata, Meiru juga sangat terkejut dengan perbuatan Sasuke. Malah-malah sampai bisa pingsan. Tebakanmu betul, Sora-san. Btw, trimz atas renviewnya^_^
Hina bee lover : Salam kenal juga, Hina-san. Terima kasih atas pujiannya, Meiru jadi tersungging, hehehee... semoga chapter ini bisa menjawab segala pertanyaanmu. Arigatou atas reviewnya^_^
Elly Yanagi Hime, Ulva-chan, Sanada : terima kasih atas pujiannya dan telah bersedia menanti kelanjutan dari fanfic ini. Meiru juga suka dengan kejahilan Sasuke. Khekhekhe...*dasar author jahat*... Btw, trimz atas reviewnya^_^
Miya Hime Chan : Meiru ga nyangka ternyata di chapter 3 bisa memenuhi keinginanmu tentang adegan romancenya. Meiru seneng banget bisa membuat Hime-chan penasaran akan kelanjutan dari fanfic ini. Semoga di chapter ini bisa menjawab segala pertanyaanmu dan memenuhi sebagian harapanmu dari fanfic ini. Trimz atas reviewnya^_^
Uchihyuu Nagisa : Hihihii, ternyata Nagisa-chan penasaran yaw sama perasaannya Sasu-kun ma Hina-chan ? Ikuti terus saja kelanjutan dari fanfic ini, tanpa Meiru beritahu pun pasti Nagi-chan *author SKSD dengan manggil nama dengan suffix chan* akan mengetahui perasaan Sasu-kun yang sebenarnya. Trimz atas reviewnya^_^
RikurohiYuki03, Reita, Uchiha Flyyn ga login : Salam kenal... kalian reviewer baru yaw untuk fanficku ini. Meiru sangat senang bisa membuat kalian menyukai fanfic ini. Ni sudah Meiru up date. Met membaca n trimz atas reviewnya^_^
Keira Miyako : Meiru seneng bgtz kalau Eira-chan suka sama chapter 3 ini. Nanti low Sasu-kun langsung nyium Hina-chan berarti ciuman diantara mereka berdua tanpa dilandasi rasa cinta donk... Kan tidak bagus kalau begitu. Iya, tebakanmu kamu betul, slamat3x...Trimz atas reviewnya^_^
Dindahatake : Sebenarnya sih belum bisa dikatakan teman kecil, karena pertemuan mereka itu cuma satu kali itu. Penasaran dengan kelanjutan hubungan Sasuhina? Ikuti terus saja jalan ceritanya n trimz atas reviewnya^_^
Shaniechan : Iya, Sasu-kun memang lebih jahil. Sasu-kun kan memang suka mengerjai orang lain. Ni udah Meiru up date. Trimz atas reviewnya^_^
Baiklah tanpa banyak basa-basi lagi
Meiru persembahkan...
SASUHINA
Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
MOONLIGHT IN ONYX
"Kau harus jadi..." Sasuke sedikit memberi jeda waktu dalam pengucapannya.
Sasuke ingin melihat ekspresi Hinata yang sedang terkejut dan penasaran menanti kelanjutan perkataan darinya. Menurut Sasuke itu sungguh menggelikan.
"...pelayanku," lanjut Sasuke.
Setelah mengatakan itu, Sasuke menarik kembali wajahnya yang sebelumnya berada di samping wajah Hinata. Dan kembali berdiri di depan Hinata, dengan tak lupa seringai jahil tetap setia menghiasi wajah tampannya.
"A-apa?" Hinata sungguh dibuat shock dan bingung karena perkataan Sasuke.
"Apa perkataanku tadi masih membuatmu tidak mengerti juga. Baiklah, aku ulangi sekali lagi. Kau harus jadi pe-la-yan-ku," jelas Sasuke dengan memberi penegasan pada kata pelayanku.
Hal itu dilakukan Sasuke agar Hinata mengerti dan tidak bertanya lagi padanya.
"Pelayan?" tanya Hinata yang masih saja tetap bingung.
Tentu saja Hinata bingung, bagaimana tidak ? Sasuke itu kan berasal dari keluarga yang cukup kaya (ralat sangat kaya), kekayaan keluarga Uchiha tentunya tidak akan berkurang banyak ketika memperkerjakan beberapa pelayan. Jadi, seharusnya di rumahnya, Sasuke mempunyai banyak pelayan. Lalu kenapa Hinata harus juga menjadi salah satu pelayannya ?
"Kau harus melayani segala keperluanku selama aku ada di sekolah."
"Te-tetapi kenapa? Kamu kan punya banyak pelayan di rumah, ke-kenapa kamu tidak membawa salah satu dari mereka untuk melayanimu di sekolah?"
"Kau itu bodoh atau memang tidak tahu ? Kalau aku melakukan hal yang telah kau katakan tadi, maka sudah dapat dipastikan kalau aku akan melanggar peraturan di sekolah. Mana ada sekolah yang memperbolehkan membawa pelayan dari rumah ? Dasar aneh!" ejek Sasuke.
"..."
Hinata memalingkan wajahnya dari Sasuke, dia sungguh malu. Untuk sekian kalinya, dia dibuat linglung oleh Sasuke.
Bahkan hal sesederhana itu saja tidak terlintas di pikiran Hinata. Pikiran Hinata kali ini sungguh dapat
dicampur aduk oleh Sasuke. Jadinya Hinata tidak bisa berpikir secara normal.
Tetapi memang benar apa yang telah dikatakan oleh Sasuke. Kalau Sasuke melakukan hal itu (maksudnya membawa pelayan dari rumah) maka dia akan melanggar peraturan yang ada di sekolah.
Dan kalau sampai dia melanggar peraturan sekolah, sudah pasti Sasuke akan mendapatkan hukuman. Jelas-jelas itu dapat merugikannya, dan tentu saja Tuan Muda Uchiha ini tidak akan mau mengalami kerugian. Yah, walaupun kerjaannya selalu menimbulkan kerugian pada orang lain. (*Author hangus* di-chidori sama Sasuke).
"Be-berapa lama ?" suara Hinata memecah keheningan yang tercipta antara mereka berdua.
"Apanya?" tanya Sasuke.
"Berapa lama aku harus menjadi pelayanmu ?"
"Itu tergantung padamu."
"Ter-tergantung padaku?"
"Iya. Kalau kau bisa membuatku senang, maka ini akan segera berakhir. Tapi kalau kau tidak bisa memenuhi keinginanku, aku tidak tahu kapan ini akan segera berakhir?"
"Ma-mana bisa begitu? Itu kan tidak adil untukku. A-aku kan hanya tidak sengaja menggangu tidurmu, masa' selama itu aku harus menebus kesalahanku," protes Hinata dengan wajah yang memelas.
Melihat wajah memelas Hinata, membuat Sasuke sedikit melengkungkan bibirnya. Menurutnya, gadis yang ada di hadapannya ini mempunyai berbagai ekspresi yang bisa membuatnya senang bila berada disampingnya.
"Baiklah kalau begitu, cukup satu minggu saja kau menjadi pelayanku. Namun, bila dalam kurun waktu seminggu itu kau tidak bisa memenuhi segala keinginanku, maka hukumanmu harus ditambah 3 hari lagi," jelas Sasuke.
"Ta-..." sebelum Hinata meneruskan ucapannya, Sasuke sudah memotongnya terlebih dahulu.
"Aku tidak mau menerima protes lagi darimu. Kalau kau tetap protes, maka aku akan menambah lagi waktu hukumanmu," ucap Sasuke dengan sorot mata tajam yang mengarah kepada Hinata.
Sepasang mata onyx itu lagi-lagi memancarkan suatu sinar yang dapat meluluhkan hati Hinata. Hinata tidak mengerti kenapa mata onyx itu selalu dapat membuatnya menuruti segala kemauan Sasuke.
Akhirnya, dengan terpaksa Hinata menerima keputusan yang menurutnya tidak adil itu. Hinata berpikir kalau dia tetap protes maka itu dapat memancing kemarahan dari bungsu Uchiha ini. Bisa-bisa nanti Sasuke akan semakin menambah waktu hukumannya.
Dan itu sama sekali tidak menguntungkannya, tetapi malah merugikannya. Jadi, lebih baik untuk sementara waktu, Hinata menurut saja apa yang diucapkan oleh Tuan Muda Uchiha yang satu ini.
"Nah, sebagai tugas pertamamu. Besok kau harus membuatkan bekal makan siang untukku."
"Be-bekal makan siang?"
"Hn, jangan sampai lupa, ya?" ucap Sasuke seraya tersenyum dan mengacak-acak rambut Hinata.
Senyuman Sasuke itu terlihat menakutkan di mata Hinata. Sungguh senyuman maut dari iblis yang siap mengeluarkan senjatanya untuk menyiksamu.
"Ngomong-ngomong bagaimana lukamu?" ucap Sasuke seraya melihat luka yang ada di kaki Hinata.
"Ti-tidak apa-apa ," jawab Hinata sambil merapikan rambutnya yang tadi diacak-acak oleh Sasuke.
"Tentunya kau tidak membutuhkan bantuanku lagi untuk memapahmu sampai ke kelas, kan ?" ucap Sasuke dengan seringai jahilnya.
"Ti-tidak. Tentu saja aku bisa berjalan sendiri sampai ke kelas."
Hinata tidak mau masuk lagi ke dalam perangkap Sasuke untuk kedua kalinya. Nanti kalau dia menggunakan bantuan lagi dari Sasuke, pastinya hal itu akan dijadikan Sasuke sebagai alasan untuk menambah lagi waktu hukumannya. Sasuke kan paling bisa menggunakan kesempatan dalam kesempitan (maksudnya memanfaatkan kelemahan orang lain untuk menjadi bahan kejahilan selanjutnya).
"Baiklah, kalau begitu aku ke kelas duluan."
Setelah mengatakan hal itu, Sasuke berbalik dan melangkahkan kakinya menuju ke pintu UKS. Namun ketika mencapai pintu UKS, Sasuke menghentikan langkah kakinya. Dan untuk kesekian kalinya, dia menoleh ke arah Hinata.
"Oh ya, satu lagi. Kau harus memasukkan tomat ke dalam bekal makanan besok," ucap Sasuke sambil nyengir ke arah Hinata.
Setelah seringai Sasuke tidak terlihat lagi di mata Hinata, barulah dia bangun dari ranjang UKS. Dengan agak tertatih-tatih, Hinata berjalan keluar dari UKS untuk menuju ke dalam kelas. Karena bel pertanda istirahat telah berakhir baru saja berbunyi.
Tenten khawatir melihat Hinata yang berjalan agak pincang ketika masuk ke dalam kelas. Dia segera menghampiri Hinata dan memapahnya menuju ke bangku Hinata.
"Apa yang terjadi ? Kenapa kakimu bisa terluka begini, Hinata-chan?" tanya Tenten yang khawatir akan keadaan teman barunya ini.
"Aku terjatuh dari anak tangga, jadinya begini dech," jawab Hinata dengan tersenyum.
"Kau ini sudah terluka tetapi tetap saja masih bisa tersenyum. Dasar gadis aneh!"
Hinata tersenyum saja mendengar ejekan dari temannya satu ini. Walaupun bicaranya agak pedas, namun Hinata tahu kalau sebenarnya Tenten khawatir akan keadaannya.
Ketika Hinata melewati bangku Sasuke, dia sedikit mengarahkan ekor matanya untuk melirik Sasuke. Sasuke terlihat begitu tenang membaca buku yang ada di tangannya. Dia tidak menghiraukan akan kedatangan Hinata dan bersikap seolah-olah tidak ada peristiwa yang terjadi di antara mereka berdua.
Hinata mengacungi jempol atas keahlian Sasuke dalam hal menyembunyikan sesuatu. Ekspresi datar yang sekarang tengah diperlihatkan Sasuke padanya, sungguh berbanding terbalik dengan ekspresi jahil dan jahat yang Hinata lihat ketika Sasuke bersamanya.
Tak lama setelah Hinata duduk di bangkunya, Asuma-sensei telah memasuki kelas untuk menjalankan tugasnya memberi ilmu pengetahuan kepada para siswa penghuni kelas 2-1 ini. Dan akhirnya pelajaran dimulai seperti biasanya.
Hinata dapat bernafas lega. Karena sesuatu buruk yang terjadi padanya kemarin, tidak menimpanya sore ini. Bahkan sampai dia pulang sekolah.
Letih, lesu, sakit dan lemas. Itulah hal-hal yang dirasakan Hinata ketika sampai di kediaman Hyuuga, setelah menyelesaikan tugasnya sebagai salah satu siswa di Konoha Gakuen yaitu untuk menuntut ilmu.
Hikari Hyuuga (ibunya Hinata) terkejut ketika mendapati putri sulungnya pulang dengan keadaan yang tidak seperti biasanya. Hinata berjalan memasuki rumah dengan agak pincang. Hikari menanyakan perihal luka yang ada di kaki Hinata. Sambil mendengarkan cerita Hinata, Hikari segera mengambil kotak P3K dan mengganti perban yang membalut luka Hinata.
"Lain kali kau harus lebih memperhatikan jalanmu, Hinata. Agar kau tidak terjatuh untuk kedua kalinya," nasehat Hikari pada putrinya.
"Baik, Okaa-san."
"Nah, sudah selesai. Sekarang kamu mandi dan setelah selesai, kamu pergi ke ruang kerja Otou-san. Ada sesuatu yang ingin Otou-san beritahukan kepadamu dan juga saudara-saudaramu."
"Memangnya ada apa, Okaa-san? Apa Neji-nii dan Hanabi-chan sudah pulang ke rumah?"
"Mereka sudah pulang, sekarang ada di kamar masing-masing. Nanti kamu juga pasti akan mengetahuinya."
Dengan agak penasaran, Hinata meninggalkan ruang tamu dan pergi menuju ke kamarnya.
'Tidak biasanya Otou-san menyuruh kami berkumpul di ruang kerjanya. Kira-kira ada apa, ya?' pikir Hinata.
Hinata bangun lebih pagi dari biasanya. Karena pagi ini dia harus menyiapkan bekal makan siang khusus, siapa lagi kalau bukan untuk Pangeran berperingai buruk macam Sasuke itu. (*Author meminta ampun pada Sasuke karena Sasuke telah siap dengan sharinggan-nya*)
Hinata memang telah terbiasa menyiapkan bekal makan sendiri. Sedangkan bekal makan siang untuk Neji dan Hanabi akan dipersiapkan oleh Hikari. Baginya tidak baik kalau terus-terusan mengandalkan Ibunya untuk menyiapkan segala keperluannya. Nanti dia tidak akan tumbuh menjadi gadis yang mandiri.
Hari ini, Hinata tidak membuat bekal untuknya. Karena Hinata tahu dengan pasti, kalau nanti dia bersama Sasuke, nafsu makannya pasti hilang.
Setelah selesai segala persiapannya, Hinata masuk ke mobil untuk berangkat sekolah bersama kedua ssaudaranya. Selama di dalam mobil, Hinata teringat akan apa yang dikatakan Ayahnya tadi malam.
Flashback ON
"Besok lusa rumah kita akan kedatangan tamu," ucap Hiashi.
"Tamu? Siapa Otou-san?" serobot Hanabi.
"Makanya dengarkan baik-baik kalau Otou-san sedang bicara, jangan dipotong dulu sebelum Otou-san selesai bicara," nasehat Hiashi.
"Gomen, Otou-san," ucap Hanabi.
"Hn. Otou-san lanjutkan. Besok lusa akan ada keluarga teman bisnis Otou-san yang akan makan malam di sini. Jadi, selama mereka di sini Otou-san harap kalian bisa menjaga sikap dan perilaku masing-masing. Karena makan malam ini sangat mempengaruhi bisnis yang sedang Otou-san jalankan bersama keluarga mereka."
"Baik, Otou-san," jawab Hinata, Hanabi dan Neji.
"Terutama kau Hanabi, kau yang paling membuat Otou-san khawatir. Jangan berbuat hal-hal aneh yang dapat merusak suasana makan malam nanti!" ucap Hiashi dengan tegas.
"Baik," jawab Hanabi dengan tersenyum penuh makna.
Sepertinya Hanabi sedang merencanakan sesuatu. Bungsu Hyuuga ini memang terkenal dengan seribu akal untuk dapat memanfaatkan situasi yang ada untuk mencari suatu keuntungan. Kali ini apa ya yang akan direncanakan oleh Hanabi ?
Flashback OFF
Tanpa terasa, mobil yang Hinata tumpangi telah membawanya sampai di depan gerbang Konoha Gakuen. Kemudian Hinata keluar dari mobil itu, dan hendak berpamitan pada kedua saudaranya itu.
"Aku masuk dulu Neji-nii, Hanabi-chan," ucap Hinata.
"Hn. Benar kau tidak apa-apa, Hinata?" tanya Neji sambil mengarahkan pandangannya pada luka yang ada di kaki Hinata.
"Hm, tidak apa-apa, Neji-nii. Nanti juga akan sembuh. Jangan khawatir," jawab Hinata seraya tersenyum kepada saudaranya itu.
"Baiklah, kalau ada apa-apa. Segera hubungi aku."
"Iya, baik. Jaa..."
Hinata tersenyum dan melambaikan tangannya pada Neji dan Hanabi yang ada di dalam mobil. Kemudian, mobil itu melaju pergi meninggalkan Hinata yang ada di depan gerbang Konoha Gakuen.
"Ohayou, Hinata-chan," salam Tenten yang ternyata juga baru tiba di gerbang sekolah.
"Ohayou, Tenten-chan. Tumben ya, kita bisa bareng menuju ke kelas," ucap Hinata dengan tersenyum bahagia.
Hinata sangat senang karena pagi ini dia bersama dengan Tenten pergi menuju ke kelas. Hal itu dapat menambah semangat Hinata hari ini di sekolah. Namun, sepertinya semangat Hinata akan turun lagi ketika mendengar ini.
"Kyaaaaa, Sasuke-kuuuunn..."
Suara sekumpulan cewek itu, telah membuat Hinata ingin segera berjalan pergi menuju ke kelas. Karena kalau dia berlama-lama di situ, maka semangatnya akan segera menurun drastis. Jadi, lebih baik Hinata mengambil langkah seribu saja.
"Tenten-chan, sebaiknya kita harus segera pergi ke kelas. Ayo!" ajak Hinata seraya menarik tangan Tenten.
Tenten agak terkejut ketika tangannya ditarik oleh Hinata. Namun, pada akhirnya dia menurut saja dengan perlakuan Hinata padanya.
Melihat kepergian Hinata dan Tenten yang terlihat terburu-buru, tanpa Sasuke sadari, hal itu telah membuatnya menyunggingkan sedikit senyum di bibirnya. Peristiwa Sasuke yang sedang tersenyum (mungkin lebih tepatnya menyeringai kali, ya?) yang amat langka, telah membuat sekumpulan yang meneriakinya tadi langsung terdiam seketika dengan wajah yang memerah.
Baru setelah sosok Hinata menghilang dari hadapannya, Sasuke menyadari keadaan yang ada di sekitarnya. Para cewek yang tengah terbengong dengan wajah yang memerah, bahkan di antaranya ada yang mimisan. Pemandangan itu begitu menyeramkan di mata Sasuke.
'Dasar! cewek-cewek aneh,' batin Sasuke.
Maka karena itu, Sasuke segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju ke kelasnya. Ya, sebelum para fans girl-nya berubah sikap lagi. Dan kembali mengejar dan mengerubutinya lagi.
Kali ini Sasuke tidak pergi dulu ke suatu tempat, seperti yang biasa dia lakukan sebelum pergi ke kelas. Karena Sasuke tahu, jam telah menunjukkan pukul delapan. Itu artinya dia harus cepat masuk ke dalam kelas, agar dia tidak mendapatkan hukuman karena telah datang terlambat.
"Kyaaa... Sasuke-kun tersenyuuumm," teriak para fans girl Sasuke.
"Dia pasti tersenyum padaku," ucap salah satu fans girl Sasuke.
"Bukan, Sasuke-kun tersenyum karena aku. Jadi, senyumnya itu untukku," celetuk gadis lainnya.
"Enak saja, senyumnya itu untuk aku," bantah lainnya.
"Bukan! Itu untuk aku!"
"Untuk aku!"
"Untuk aku!"
Untuk kesekian kalinya Sasuke menjadi penyebab kegaduhan yang terjadi di Konoha Gakuen ini. (Weleh-weleh, senyum saja kok direbutin. Ini aku beri senyum gratis untuk kalian semua, *Author ditimpuk sandal oleh para fans girl Sasuke*).
Setelah kegaduhan yang terjadi, akhirnya bel berbunyi. Dan dimulailah saat-saat para siswa Konoha Gakuen menerima pelajaran dari sensei mereka masing-masing.
Detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam. Akhirnya hal yang telah dinanti oleh para penghuni Konoha Gakuen tiba juga. Bel pertanda istirahat telah berbunyi. Para siswa Konoha Gakuen menyambut dengan gembira akan berbunyinya bel itu. Namun, lain halnya dengan yang dirasakan oleh Hinata.
Karena dia harus kembali ke saat-saat yang memilukan bersama dengan sang iblis bermata onyx itu. Hinata agak terkejut karena ada sebuah gumpalan kertas kecil yang dilemparkan tepat mengenai wajahnya dan jatuh di atas mejanya. Kemudian Hinata membuka gumpalan kertas tersebut.
Aku tunggu kau di atap sekolah. Cepat !
US
US ? Singkatan nama siapa lagi kalau bukan orang itu, yang seenaknya memerintah Hinata untuk cepat pergi ke atap sekolah. Uchiha Sasuke, ya hanya dua kata itulah yang terpikirkan di otak Hinata saat ini.
Sasuke terlihat meninggalkan bangkunya dan berjalan pergi keluar dari kelas, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Hinata. Sasuke sangat yakin kalau Hinata akan menuruti perintahnya yang tertulis di secarik kertas kecil itu.
"Hinata-chan, bagaimana kalau kita ke kantin sekarang?" ajak Tenten.
"Gomenasai, Tenten-chan. Aku tidak bisa menemanimu pergi ke kantin. Aku sudah ada janji makan siang dengan seseorang. Sekali lagi, aku minta maaf. Mungkin lain kali kita bisa bersama pergi ke kantin," ucap Hinata yang merasa bersalah karena telah menolak ajakan Tenten.
"Jangan terus meminta maaf begitu, kamu kan tidak salah. Ya sudah, aku pergi ke kantin dulu ya. Selamat bersenang-senang," ucap Tenten sambil tersenyum dan meninggalkan Hinata di dalam kelas.
'Apanya yang selamat bersenang-senang. Mungkin lebih tepatnya selamat bersedih-sedih ria,' batin Hinata.
Dengan membawa bekal makan siang yang telah dipersiapkannya tadi, Hinata keluar kelas dan berjalan menuju ke atap sekolah.
Hinata membuka pintu yang ada di atap sekolah, nampaklah seorang pemuda berambut reaven yang sedang duduk di pinggir pagar pembatas. Sasuke sedang memejamkan matanya, sepertinya dia tengah menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Untuk sesaat, Hinata terpukau dengan pemandangan yang ada di depannya itu. Kenapa pemandangan yang ada di depannya sekarang ini dapat menciptakan suatu perasaan aneh yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan, muncul begitu saja di dalam hatinya ?
Hinata tidak tahu, kenapa saat ini dia bisa terpukau dengan pesona yang diciptakan oleh pemuda Uchiha itu. Padahal selama ini pemuda itulah yang selama ini selalu mengusik kedamaian hidupnya.
Bagi Hinata, ketika sepasang mata onyx itu disembunyikan. Sasuke terlihat begitu lemah dan rapuh. Namun, entah kenapa ketika sepasang mata onyx itu mulai terbuka dan menatap dunia, terlihat begitu berbeda dengan tadi. Terlihat kuat dan angkuh.
"Ternyata sudah datang," ucap Sasuke yang telah membuyarkan lamunan Hinata.
Hinata segera menghilangkan perasaan aneh yang baru saja terlintas di dalam hatinya, tentang pemuda Uchiha yang sekarang ini ada di depannya.
"Duduklah," perintah Sasuke sembari menunjukkan tempat kosong yang ada di sampingnya kepada Hinata.
Maksudnya, Sasuke menganjurkan agar Hinata duduk di sampingnya.
Hinata menuruti anjuran, mungkin lebih tepatnya perintah Sasuke agar dia duduk di samping pemuda itu. Kemudian Hinata membuka bekal yang telah dibawanya. Terhidang berbagai makanan di dalam bekal itu, yang dapat dipastikan orang akan tergiur akan pesona makanan itu. Dan ingin segera menyantapnya.
"Si-silahkan," ucap Hinata sambil menyodorkan bekal makan siang itu kepada Sasuke dan menyerahkan gagang sumpitnya.
"Kau coba terlebih dahulu," ucap Sasuke yang kelihatan lebih mirip dengan perintah.
"Ha?" tanya Hinata.
"Kau cicipi makanan itu terlebih dahulu. Kalau kelihataanya enak, baru aku mau mencoba memakannya."
Tcik...tcik... Tuan Muda Uchiha ini memang banyak maunya, ya. Sabarlah Hinata, orang sabar akan disayang Tuhan. (disayang author juga tentunya).
Hinata mengambil salah satu makanan yang ada di bekalnya dan kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Enak. Itulah satu kata yang dapat mewakili semua rasa yang ada di dalam makanan yang telah dimasak oleh Hinata.
"Enak," ucap Hinata yang belepotan mengunyah makanannya.
"Masa' sih?" tanya Sasuke yang tidak percaya.
"Uchiha-kun, cicipi saja sendiri."
"Apa sekarang kau sedang memerintahku."
"Ti-tidak. A-aku kan cuma menganjurkanmu untuk mencicipinya."
Sasuke menyeringai ketika melihat ekspresi Hinata yang takut plus malu itu. Sasuke melihat ada sisa makanan yang tertempel di wajah Hinata. Karena melihat itu, muncul suatu ide jahil baru di pikiran Sasuke.
"Hn, sini aku cicipi."
Setelah mengatakan itu, Sasuke menarik dagu Hinata agar mendekat ke wajahnya. Hinata tidak waspada, sehingga Sasuke dengan mudah dapat menarik Hinata agar mendekat kepadanya.
Setelah wajah Hinata berada persis di depan wajahnya, Sasuke menjilat bekas makanan yang ada di ujung bibir Hinata dan mengunyahnya. (ihh, ternyata Sasu-kun jorok, ya? Suka makan bekas makanan orang lain, *Author lari ngibrit karena mau di-sharinggan sama Sasuke*).
Ternyata Sasuke mencicipi makanannya sekaligus juga mencicipi Hinata. (*Author benar-benar tepar karena habis di-sharinggan dan di-jyuken oleh Sasuhina*).
Tak ayal, perbuatan Sasuke itu membuat jantung Hinata ingin copot dan semburat merah dengan cepat merayap di wajah manisnya.
"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Hinata sambil menutupi mulutnya dengan punggung telapak tangannya.
"Apa? Kamu kan yang menyuruhku untuk mencicipinya," ucap Sasuke dengan tampang tak berdosanya.
"Ta-tapi itu kan termasuk ci-..."
Hinata tidak melanjutkan ucapannya, dia sungguh malu dengan apa yang akan keluar dari mulutnya. Huff, keadaan ini semakin membuat Hinata merasa malu saja.
"Ci- apa? Jangan-jangan kamu menganggap ini sebagai ciuman?" tanya Sasuke dengan pandangan jahilnya yang mengarah pada Hinata.
"..."
Sasuke sangat senang ketika melihat wajah Hinata yang sedang memerah seperti sekarang ini. Wajah Hinata yang memerah terlihat semerah tomat yang disukainya.
Hinata sungguh menyesali segala perbuatannya yang tidak berhati-hati ketika berada di dekat bungsu Uchiha ini. Padahal selama ini Sasuke selalu berbuat jahil padanya, seharusnya kan Hinata dapat mengambil hikmah dari segala peristiwa yang terjadi diantara mereka berdua. Dan selalu waspada ketika bersama dengan Sasuke.
Namun apalah daya Hinata, penyesalan selalu ada di akhir tidak pernah ada di depan. Kalau ada di depan, tentunya orang yang ada di dunia tidak akan pernah menyesal dan mengoreksi segala kesalahan yang pernah diperbuat.
"Jadi, kau belum bisa membedakan mana yang namanya ciuman dan mana yang bukan?" tanya Sasuke dengan tersenyum jahil kepada Hinata.
"..."
Hinata diam saja mendengar pertanyaan dari Sasuke. Ya, memang diakuinya, Hinata tidak pernah mengetahui bahkan merasakan mana yang disebut dengan ciuman. Secara gitu, Hinata kan masih gadis yang polos dan seratus persen suci. Yang tidak pernah terjamah oleh tangan anak laki-laki manapun.
Jangankan dicium, bagi siapa pun cowok yang akan menyentuh barang sehelai rambut Hinata pun, pasti dia akan ditebas sama Neji. Hohoho, Neji kan sangat sayang sama adik-adiknya. Jadi, dia akan berusaha sebisa mungkin untuk melindungi saudara perempuannya dari keisengan anak laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
Dan, sekarang pertanyaannya adalah... Apakah Sasuke termasuk dalam kriteria anak laki-laki yang tidak bertanggung jawab ? Yang dapat menjawabnya, akan mendapatkan ucapan selamat dari author. (Yah, itu mah biasa *Author dilempari secara massal oleh para reader*).
"Diam berarti iya. Hn, akan aku tunjukan mana yang lebih bisa disebut dengan ciuman."
Mendengar apa yang barusan telah diucapkan oleh Sasuke, membuat mata Hinata membulat sempurna. Seluruh tubuhnya terasa membeku dan tidak dapat digerakkan.
Dan tanpa disadari oleh Hinata, ternyata kini tangan Sasuke sudah meraih dagunya dan menarik wajahnya untuk mendekat ke wajah Sasuke.
Sasuke semakin memperpendek jarak diantara bibir mereka berdua. Semakin pendek berarti semakin dekat jarak diantara Sasuke dan Hinata, itu menyebabkan hidung mereka saling bersentuhan.
Dan...
^TBC^
Fiuhh... akhirnya selesai juga chapter yang bagi Meiru cukup panjang ini
Kyaaa... Meiru tidak menyangka Sasu-kun akan berbuat seperti itu pada Hina-chan
Semoga di chapter ini, tidak membuat para reader dan reviewer merasa kecewa
Meiru juga meminta maaf, kalau adegan romance antara Sasuhina tidak terjadi seperti yang kalian inginkan
Apakah kalian merasa bosan membaca chapter panjang yang ada di atas?
Meiru tidak pernah merasa bosan untuk selalu meminta kritik dan saran dari para reader
Oleh karena itu. Mohon reviewnya...
R
E
V
I
E
W
^ Arigatou ^
