~It's All Because Of You!~
Kuroko no Basket
Pair: AoKaga
Genre : Romance, Hurt / Comfort
Warning:
BL,Yaoi
Disclameir:
Kuroko no Basket milik Tadatoshi Fujimaki-sensei. Saya hanya meminjam tokoh dan alurnya saja.
Summary:
Kagami berulangtahun tanggal 2 Agustus. Semua merayakan dan mengucapkan selamat kepadanya,termasuk Kiseki no Sedai. Namun,ada satu orang yang tak memberikannya ucapan yang membuatnya senang,melainkan rasa kecewa. Apa kalian tahu siapa dia ...?
For Kagami and Aomine Birthday! 2 August and 31 August
#AokagaFF
[Semua ini saya buat langsung terlintas di otak saya. Ini karya saya sendiri, jika ada kesamaan cerita atau yang lain, itu hanya kebetulan belaka]
Chapter 4 ...
23 Agustus ...
Sudah seminggu semenjak peristiwa 'ciuman' itu,sudah seminggu pula Kagami tak melihat satu pun batang hidung dari anggota Kiseki no Sedai. Kagami pun fokus ke pekerjaannya menjadi seorang pemilik cafe dan chef biasa. Musim panas membuat cafenya harus lebih banyak menyediakan minuman dingin daripada minuman hangat. Apalagi dengan datangnya muda-mudi yang entah itu berpasangan maupun itu sendirian atau berkelompok.
Oh,ya. Sudah lama dia tak melihat Kuroko semenjak dia mengunjungi rumahnya. Apa terjadi sesuatu padanya ...?
"Doumo,Kagami-kun."
"Huaa!" Baru saja dipikirkan sudah muncul orangnya. Kagami menghela napas panjang. "Kuroko ... Datang tak diundang,pulang tak diantar."
"Memangnya seluruh tamumu ini datang diundang,Kagami-kun?" Kuroko menatapnya datar dan duduk di meja dekat kasir. "Boleh aku makan siang disini ...?" tanyanya. Kagami tersenyum. "Siapa bilang tak boleh?"
"Ja,satu cup vanila shake ukuran besar."
"Itu saja?" Kuroko mengangguk.
"Itu makan siangmu?!" Kagami berteriak. Kuroko tetap memandangnya datar. "Ini biasa,Kagami-kun. Karena tadi pagi aku sudah diberi beberapa kue oleh muridku... Hari ini kami membuat pesta minum teh."
"Oh ... Begitu. Tunggu sebentar,pesananmu akan siap."
"Kagami-kun,layani aku sebagaimana kau melayani pelanggan lain. Aku disini adalah 'pelanggan'mu bukan, 'teman'mu." Penekanan kata oleh Kuroko membuatnya sakit hati. "Baik,baik,Tuan~"
"Ngomong-ngomong,Kagami-kun. Aku ingin memberitahumu sesuatu."
Kagami menoleh ke arah Kuroko. "Kenapa,Kuroko ...?"
"Pertama,aku ingin bilang bahwa aku sudah lelah menghadapi kekerasan kepala dari Aomine-kun." Kuroko mengeluarkan sesuatu dan meletakannya di atas meja kasir,tepatnya di depan Kagami.
"M-M-M-Majalah apa ini?! M-Mai-chan? Nani sore!? O-Op-Op!" Kuroko langsung menutup mulut Kagami begitu melihat majalah tersebut. "Puah! Kuroko! Kau membaca majalah ini?!"
"Ya,hanya sekilas."
"Siapa yang memberimu ini?!"
"Aomine-kun." Kagami langsung mengutuk Aomine karena telah menghancurkan kepolosan dari Kuroko. Lihat saja nanti,Aominee!
"Kenapa Aomine memberikan ini padamu dan kenapa kau menerimanya?!"
"Dia tak memberi, tapi melemparkannya kepadaku. Ceritanya panjang,Kagami-kun. Itulah yang ingin kuberitahu padamu."
"Beritahu ... ?"
"Benar,Kagami-kun. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu. Tapi,pada tanggal 31 Agustus nanti,ya? Karena itulah, saat itu, datanglah ke rumah sakit Midorima milik keluarga Midorima-kun,ya?"
~Because Of You!~
"Apa ... ?! Masuk rumah sakit lagi?!" Kuroko terkejut ketika mendengar percakapan telpon antara Midorima dan Kise. "Benar,kau sedang bersama Kuroko, 'kan-nanodayo?"
"Iya,aku sedang jalan-jalan dengan Kurokocchi-ssu. B-Baiklah,kami segera kesana-ssu!" Kise menutup telponnya. "Ada apa,Kise-kun?" tanya Kuroko yang berjalan di samping Kise. Kise berdecik kesal. "Ano,Kurokocchi. Aominecchi masuk rumah sakit lagi-ssu."
Mata Kuroko membulat dengan sempurna. "Dasar Ahominecchi! Padahal dia tahu sendiri kalau lukanya belum sembuh! Ayo,Kurokocchi!" Kise langsung mengajak Kuroko untuk segera mengunjungi rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, disana sudah ada Midorima, Murasakibara serta Akashi sedang menunggu di depan pintu unit gawat darurat. "Minnacchi semuanya ke sini-ssu!?" teriak Kise kaget.
"Aku ada keperluan di daerah Tokyo dan mendengar Daiki masuk rumah sakit dari Shintaro. Itu saja." Akashi masih dengan posisi melipat tangannya. Murasakibara masih asyik mengunyah snacknya. "Aku ... kraus-kruas ... menemani Muro-chin kraus kraus ... ke Tokyo untuk bertemu Kaga-chin..."
"Bagaimana dengan keadaan Aomine-kun,Akashi-kun?" tanya Kuroko sama sekali tidak melihat batang hidung dari pria bersurai seperti lumut yang berprofesi sebagai dokter disana. "Tenang saja,Tetsuya. Yang kudengar, dia terlibat bentrok dengan sekumpulan baku tembak antar yakuza di daerah sekitar Ikebukuro."
"Baku tembak-ssu!? Bukannya itu berbahaya-ssu!?" Kise ikutan panik. "Tidak kok-nyam-nyam ... Mine-chin hanya kelelahan-nyam~"
"Darimana kau tahu,Murasakibara-kun?"
"Dia yang pertama kali tiba disini,Tetsuya." Akashi menjawab pertanyaan Kuroko yang harusnya dijawab Murasakibara yang malah dia melanjutkan memakan snack yang sudah penuh di mulutnya.
Krekk... Pintu Unit Gawat Darurat itu terbuka lebar memunculkan sahabat mereka,Midorima Shintaro dengan jas dokternya. Dia terkejut melihat pelangi di depan mata mereka. "Semuanya sudah datang-nanodayo? Cepat sekali ..."
"Bagaimana keadaan Aominecchi,Midorimacchi?" tanya Kise membuka suara duluan. Midorima menghela napas. "Dia ceroboh-nanodayo. Luka tembakan sebelumnya terbuka-nanodayo. Dia hanya menderita patah di kaki,mungkin harus menjalani perawatan-nanodayo."
"Hanya,ya,Mido-chin? Mido-chin sadis juga ..." Midorima melirik Murasakibara. "Jadi,kau ingin Aomine mati-nanodayo!?"
"Sudah,sudah ... Yang penting kita tahu kalau luka Aomine-kun tak terlalu parah..." Kuroko menghela napas lega. Sahabatnya itu selalu saja membuat masalah.
"Apa kita harus diam saja?"
Semuanya melirik Akashi. Akashi terdiam ketika seluruh sahabatnya melirik ke arahnya. "Apa maksudmu,Akashi-kun ...?"
Akashi menggaruk pelan kepalanya yang tak gatal. "Serahkan saja Daiki kepada Bakagami. Mungkin dia tak akan ceroboh seperti ini."
Semuanya terdiam. Sang pangeran absolute mendukung gay?
"Memang kata-kata Akashicchi benar juga-ssu. Kita serahkan saja Aominecchi kepada Kagamicchi-ssu!"
"Kuserahkan padamu,Kuroko." Midorima menaikan kacamatanya. "K-Kenapa ... aku?" Lagi-lagi, Kuroko diberikan peran berada di tengah-tengah cahaya tersebut.
"Karena kau bayangan dari mereka berdua,Tetsuya."
Glek ...
Kuroko menggelengkan kepalanya kuat. Tidak,tidak! Bukan waktu yang tepat menceritakan tentang Aomine sekarang. Jika dia menceritakannya sekarang, suasananya akan kacau. Dia harus menunggu sampai waktunya tiba.
Kuroko akhirnya memutuskan ...
Dia akan menceritakan semuanya pada tanggal 31 Agustus!
~Because Of You!~
Waktunya tiba ...
31 Agustus ...
Kagami melangkahkan kakinya menuju rumah sakit Midorima. Jujur saja,dia tak suka dengan rumah sakit. Bau obat-obatannya dan banyak sekali orang sakit. Kenapa Kuroko akan menceritakannya di rumah sakit? Kenapa Kuroko akan menceritakannya pada saat ulangtahun Aomine? Kenapa harus Kuroko yang menceritakannya? Kenapa tidak Aomine saja yang menceritakannya...? Bukankah ... yang salah disini adalah Aomine?
Kagami ragu. Apa dia akan bertemu dengan Aomine atau Kuroko? Bahkan Kagami sudah menyiapkan hadiah untuk Aomine. Untuk antisipasi, Kagami membawa hadiah tersebut.
Kring,kring~ Ponsel pintar Kagami berdering menunjukan sebuah e-mail masuk. Dari Kuroko.
"Kagami-kun, datang ke kamar nomor 109 di lantai 1."
Kagami mengerutkan dahi. Seenaknya saja dia menyuruhnya untuk datang, kenapa tak diantarin atau di tunggu di depan gerbang saja? Dasar Kuroko ... !
Kagami melihat antrian di lift sangatlah padat dan memutuskan untuk menaiki tangga darurat. Bunyi langkah kakinya membuatnya sedikit merinding karena hanya dialah yang melewati tangga tersebut. Udara di dalam rumah sakit cukup dingin membuat kulitnya harus mengatur suhu tubuh Kagami agar tetap stabil setelah berjalan lama di luar yang panasnya begitu menyengat ini.
Kagami berhenti di depan pintu kamar bernomor 109 ini. Kagami tersentak kaget begitu melihat papan nama pasien yang ada di dalamnya.
Aomine Daiki.
Bruk! Tanpa mengetuk pintu, Kagami langsung mendorong pintu itu dengan kuat membuat sang penghuni di dalamnya terkejut melihat kedatangan hewan buas ini. Di dalamnya ada Aomine yang sedang berbaring di tempat tidur rumah sakit dan Midorima dengan jas dokternya sedang menaikan kacamatanya ketika melihat Kagami.
"Kau akan membuat pasien di sini serangan jantung,Bakagami!" Midorima sedikit berteriak. Kagami kesal. Padahal dia bertemu dengan Midorima waktu itu...
"Kenapa kau tidak memberitahu padaku kalau Aomine masuk rumah sakit,Midorima!?"
Midorima menghela napas. "Untuk apa aku memberitahumu-nanodayo?"
"Setidaknya kau harus beritahu padaku!"
"Dengan alasan apa?" Kagami terdiam. Oh,ya? Mengapa dia harus khawatir dengan Aomine? Bukannya mereka mantan musuh di SMA? Bukannya Kagami hanyalah orang biasa saja? Bahkan Kagami belum mendapat gelar salah satu dari 'Kiseki no Sedai' walaupun dia berhasil mengalahkan seluruh tim yang berisikan anggota Kiseki no Sedai.
Siapa dia bagi Aomine?
Siapa Aomine bagi dirinya?
"Jawab pertanyaanku-nanodayo!"
"Itu bukan urusanmu! Memangnya kenapa kalau aku mengkhawatirkan dia?!"
Bruk! Sebuah majalah b**ep melayang diantara wajah Midorima dan Kagami membuat semburat kecil muncul di wajah Midorima dan Kagami hampir mimisan dengan apa yang ada di cover majalah tersebut.
"Ahomineee!" Teriak Kagami dan Midorima hampir bersamaan menatap tajam si pelempar dengan wajah tanpa dosa yang hanya tersenyum lebar.
"Kalian berisik sekali! Midorima,justru suaramu yang bisa membuat orang serangan jantung mati!" Akhirnya Aomine bersuara. Perempatan siku muncul di sudut kening Midorima. "Kau menyalahkanku dan membela Bakagami?! Jangan harap kau akan berada di sini di bawah pengawasanku-nanodayo! Sudah dua kali kau membuatku kerepotan-nanodayo!"
"Dua ... kali?" Kagami sedikit terkejut. "Kau masuk rumah sakit dua kali?!" tanya Kagami ke Aomine. "Dalam bulan Agustus ini-nanodayo."
"Aho!" Kagami melempar majalah b**ep dari Kuroko ke wajah Aomine. "Huo,majalah waktu itu! Arigatou na,Kagami!"
"Kau sudah kurang ajar karena telah menodai Kuroko!" Kagami berteriak membuat Midorima mengerutkan dahi. "Menodai Kuroko ...?"
"Dia memberikan majalah itu kepada Kuroko dan Kuroko membacanya masih dengan ekspresi datar! Coba kau bayangkan,hah?!"
"Yah,kalau dia membacanya dengan ekspresi datar, kan tak apa-apa."
"Bukan begitu! Kau sudah menodai kepolosannya!" Midorima menepuk bahu Kagami. "Tenanglah,Kagami. Sebentar,kutelpon dulu Akashi."
"TIDAKKK!"
~Because Of You!~
"Sudah selesai ributnya?" ujar Kagami terdiam yang sedang duduk di samping Aomine. Walau tampaknya sehat-sehat saja, kakinya masih dibalut perban yang menunjukan kaki kirinya lebih besar daripada kaki kanannya.
"Kau baik-baik saja?"
"Tentu saja baik! Hanya patah kaki kok,ha haa..." Aomine tertawa garing membuat Kagami tersenyum tipis. "Syukurlah kau baik-baik saja ..."
"Darimana kau tahu kalau aku masuk rumah sakit ...?" tanya Aomine dengan nada ragu tampak jelas dari mulutnya. "Aku ... diberitahu Kuroko. Dia bilang akan menceritakan semuanya ketika tanggal 31 Agustus, di kamar ini. Dan yang didalam adalah Ahomine." Kagami berdecik sebal.
"Tetsu,ya? Dia sudah pergi tadi. Mungkin kau telat."
"Tidak! Dia sendiri yang mengirim e-mailnya!"
Tiba-tiba hening. Aomine tahu itu berarti Kuroko memintanya untuk menjelaskannya semua kepada Kagami. Tentang kesalahannya dan juga tentang ketidakhadirannya di pesta ulangtahun Kagami.
"Maafkan aku,Bakagami."
Kagami mendongakan kepalanya sedikit ke atas, menatap Aomine.
"Jika saja aku tak ceroboh waktu itu, aku pasti sudah bertemu denganmu saat hari ulangtahunmu. Maafkan aku ..."
"Jadi, pertama kali kau masuk rumah sakit itu ... tanggal 2?" Aomine menggeleng. "Ingat kasus pembunuhan pejabat tinggi Tokyo itu? Polisi yang terluka parah itu adalah aku. Maafkan aku... Jika saja aku segera menangkap pelakunya ..."
Kagami menepuk kepala Aomine. "Sudahlah,Aho. Jangan dibahas masalah itu lagi. Jika karena itu, aku tak keberatan kok."
"Tidak! Aku juga minta maaf karena tidak memberimu kabar sama sekali! Aku ... takut kau khawatir padaku ..." Aomine memelankan suaranya di akhir kalimat.
"Baka!" Kagami sedikit berteriak dan itu membuat Aomine sedikit terkejut.
"Kalau kau tidak memberiku kabar,itu malah membuat semakin khawatir! Baka,baka!" Kagami sedikit berteriak membuat Aomine tersentak melihat Kagami. Dia tersenyum tipis.
"Maafkan aku karena membuatmu khawatir ..." Aomine memegang pipi Kagami membuat wajah Kagami memerah melihatnya. "U-Urusee!"
"Ngomong-ngomong, mana hadiah ulangtahunku?"
Krik,krik ...
"Setelah yang kau perbuat denganku,kau masih meminta hadiahhh!?" Kagami sedikit berteriak. "Urusee yo,Kagami! Aku kan hanya meminta hadiah ulangtahunku! Yang lainnya sedang sibuk sampai-sampai melupakanku ..." Aomine memelankan suaranya.
"Tuh, 'kan? Begitulah yang kurasakan waktu itu,Aho!" Aomine tersenyum tipis. "Oh,begini ya rasanya ... Warui naa~ Jadi, apa yang harus kulakukan untuk meminta maaf ...?"
Kagami terdiam. Bingung mau menjawab apa,lebih tepatnya. Dari pertanyaan yang dilontarkan Aomine, sepertinya Kagami bisa meminta apa saja kepada Aomine.
"A-Aku―" Belum sempat Kagami melanjutkan pembicaraannya, Aomine sudah membungkam mulut Kagami dengan ciuman sekilasnya. "Cukup?" tanyanya di sela-sela ciuman. Wajah mereka masih berdekatan dan Aomine bisa merasakan deru napas dari Kagami.
"L-Lagi ..." ucap Kagami pelan. Aomine tersenyum lebar. "Yosh, aku menyukai uke yang penurut~" Aomine mencium bibir Kagami lagi. Lebih lama daripada sebelumnya dan ciumannya semakin ganas. Lidah si pemuda tan itu memainkan lidah dari si pemuda kulit putih. Tak membiarkan Kagami menghirup napas kembali.
"Ukh ..." Kagami mendesah pelan. Semburat merah sudah semakin jelas di wajahnya. Aomine menghentikan ciumannya dan menghirup napas dalam-dalam. Paduan video *****-nya tidaklah membuatnya mahir dalam hal ini.
Aomine mengelus kepala Kagami yang kini berada di depan dadanya. Dia sama sekali tak bergerak. "Kagami ... D-Daijoubu?" tanya Aomine ragu.
"Ahomine!" Kagami semakin memeluk Aomine. "I-Ittai naa!" Aomine masih merasakan sakit di lengannya. "P-Pelan-pelan,Kagami ... Lukaku masih belum sembuh!"
"Kau yang duluan! Aho!" Kagami berteriak dan membenamkan kepalanya di dada Aomine. Aomine tersenyum tipis dan membalas pelukan Kagami.
Kagami sedikit terkejut ketika Aomine membalas pelukannya. Hangat ... Dia sangat senang. Perasaan ini sudah lebih dari cukup untuk membalas rasa kecewanya beberapa minggu yang lalu. Dia sangatlah senang.
"Kagami,mau lagi?" tanya Aomine membuat Kagami blushing. "T-Tidak! Kau sendiri yang bilang kau belum sembuh ... N-Nanti saja setelah sembuh ..." Kagami menundukan kepala untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Yosh,setelah sembuh,kita menikah!"
"E-Eh!?" Kagami terkejut dan menatap Aomine tajam. "K-Kau bercanda, 'kan? P-Pacaran saja belum!"
"Oh,jadi kau ingin pacaran dulu ...?" tanya Aomine sambil mengelus kepala Kagami. "I-Iya. P-Pelan saja dulu ..."
"Haah ... Sayang sekali ... Padahal aku sudah membeli cincin untuk kita berdua ... Sebagai hadiah ulangtahunmu ..." Aomine memberikan Kagami sebuah kotak. Kotak yang berisi cincin yang bertuliskan nama mereka berdua ...
"Aomine Daiki & Aomine Kagami"
Kagami terdiam melihat cincin itu. Terlalu senang,perasaannya terbalaskan ...
"P-Padahal,aku hanya bisa memberimu ini ..." Kagami membelikan sebuah tas yang berisi beberapa majalah tet,tot,dan tit. Aomine tersenyum melihat hadiah pemberian Kagami.
"Tak apa-apa,Kagami. Karena aku akan mendapat hadiah besar setelah ini ... " Aomine menggelitik perut Kagami. "H-Hadiah besar ... ?" Aomine tersenyum.
"Kau akan tahu suatu hari nanti ..."
~END~
Akhirnya selesai juga.
Dari chapter 1-4,sebenarnya satu paket. Sudah selesai semua. Tapi,sengaja dipisah chapternya biar lebih mudah bacanya,tapi taktahu juga sih ...
Sengaja dibuat gantung ficnya, gomen na. Karena ini dibuat terburu-buru
Jika sudah lewat tanggal 31, eventnya telat dan aku memiliki beberapa tugas untuk beberapa hari kedepan, karena itulah sengaja kucepatkan.
Tak apa-apa, 'kan?
RnR please~~
Ivychan9
