Chapter 4

Pair : Kristao/Taoris

Rated : T

Warning : BOYS LOVE, ABAL, TYPO

Author Note : Maaf chapter 3 kemarin mengecewakan Taoris shipper disini. Fic ini hanya tulisan bodoh author ingusan. Jadi maaf jika banyak kekurangan disana-sini. Dan alasan kenapa di chapter 3 masih belum ada Taoris moment, itu karena author bodoh ini berniat menjadikannya Long Chapter. Tapi... baru chapter 3 udah banyak yang gak suka... sekali lagi Maaf.

Yang jelas fic ini Kris-Tao

.

.

.

Angin malam mendeteksi kalimat dusta dari ucapan barusan.

Love Sick chapter 4

Sayap lembut menari-nari bersama awan putih. Bergulung membelah bumi. Masih terlalu suci dari belaian surya. Mereka menyebutnya pagi hari. Seberkas cahaya menerobos tebing dari ufuk timur. Menyambut sapaan burung pipit dipucuk pohon apel. Mengulas senyum penghangat nyawa.

Bibir mungil itu bergerak-gerak menyanyikan lagu yang dipelajarinya dipanti dulu. Yang berjalan disampingnya hanya terkekeh gemas, sesekali mengoreksi lirik yang sahabatnya itu nyanyikan "bukan apel Tao, tapi Maple!" ucap namja berkulit seputih awan di atas sana.

"Ani! Aku lebih suka apel Hun!" mengerucut lucu. Menunjukkan sisi polosnya.

"Ya ya ya.. Tapi Tao sejak dulu kau selalu mengubah lirik lagu. Kau ingat waktu masih dipanti, saat itu lomba menyanyi dan karena tidak bisa bahasa inggris kau mengubah lagu 'twinkle-twinkle litle star' menjadi 'pudel-pudel litle dog' Ahahahaha semuanya terkejut dan kau menyanyi dengan sangat lucu. Khekhekhe..."

"benarkah? Tapi tetap saja bukan aku yang menang huh! Menyebalkan!" kaki jenjang Tao menendang kaleng soda yang tepat dibawahnya.

"tapi.. menurutku kau yang terbaik Tao-ie" merangkul pundak namja bersurai hitam disampingnya. "haha..Gomawo Sehunnie" memperlebar langkah keduanya menuju halte diujung jalan.

-o0o-

"Tao? Namanya Huang Zi Tao?" mata indah Luhan itu membulat sempurna.

"Ne.. memang kenapa Luhan-ssi?" giliran namja berpipi penuh yang berucap. "Xiumin hyung...Sepertinya aku mengenalnya.." lirih Luhan, hati kecilnya bersorak senang.

"Annyeong Xiumin hyung!" dengan senyum lebar namja bermata panda itu membuka pintu kaca toko. "Oh? Tao!" heboh Luhan.

"uh? Kau mengenalku? Err... tapi siapa?" lirih Tao tapi telinga Xiumin dan Luhan masih tajam untuk itu. "Kau lupa aku? Aku Xi luhan! Aku Luhan Tao, saat itu kita bertemu di bukit belakang sekolah.." harap Luhan, tao masih mengingatnya.

"Bukit belakang sekolah? Oh! Kau Luhan hyung?" merekapun berpelukan, mengabaikan sosok Xiumin yang tersenyum melihat momen itu.

-o0o-

Langit tersenyum riang disana. Mengabaikan sengatan panas sang cahaya bumi. Menghembuskan angin ringan melewati hutan beton. Menerbangkan daun kering yang kehilangan nyawanya. Mengelitik pohon-pohon tua dipinggir jalan. Menyapu pandang pada setiap manusia yang melawan arus angin.

Disana. Di depan sebuah toko, berdiri sosok jangkung bersurai pirang dengan boneka panda mungil di tangan kirinya. Menunggu lampu itu hijau tidak akan sebosan biasanya. Dengan sosok bersurai hitam pekat tergambar pada wajah panda ini.

Kaki panjang itu membelah jalan. Senyum khas seorang Wu, masih enggan pudar.

Tunggu? Mana mobil mewahnya?

Oh.. seorang Kris Wu, mengatur semuanya dengan sangat teliti. Meninggalkan mobil berharga selangit itu dirumah adalah salah satu dalam rencananya.

-o0o-

"L-lay ge..?" mata panda yang tadinya berbinar lucu kini mengerjap lesu.

"Iya Tao-ie. Kris dan Lay berpacaran. Ehm.. Kau mau bertemu Lay? Lama tinggal dipanti tidak membuatmu melupakan wajah ?"

"t-tentu saja tidak! Aku masih ingat jelas wajah Lay gege.. Aku yakin sekarang lesung pipinya masih ada, iyakan?" meyembunyikan sakit dihatinya adalah bukan hal baru bagi Huang Zi Tao.

"jadi kapan kau akan mengunjunginya? Aku mau mengantarmu Tao.." ucap lembut seorang Luhan.

"secepatnya ge.. tapi aku masih ingin mengumpulkan uang untuk membeli sesuatu untuk Lay gege.."

"kabari kau Tao, jika kau mau bertemu Lay, aku yang akan mengantarmu oke? Aku pulang Tao, Xiumin hyung gomawo jussnya"

-o0o-

"Hai Luhan hyung!"

"Oh? Aishhh! Kau! Kenapa mengikutiku lagi? Pergi sana! Aku malas melihatmu!" buku enslikopedia tebal di ayunkan pada sosok namja tinggi berkulit super putih yang dengan seenak jidatnya mengalungkan tangan panjangnya dipundak Luhan.

"Yak! Argh! appo..mianhee Luhan hyung. Bukankah kita contoh untuk anak-anak itu? Seharusnya bersikap seperti seorang sahabat. Apa jadinya bila guru pembimbingnya setiap hari bertengkar? Mereka pasti juga ikut menirunya". Sejak kapan anak ini belajar kata-kata itu?

"Hah.. terserahmu! Tapi maaf aku kurang suka dengan orang yang seenaknya pada seniornya sendiri!" berlalu pergi menuju bangunan tingkat dua dihadapannya.

"Oke hyung! Arraseo! Kekeke-" terkekeh gemas melihat tingkah seniornya yang mirip anak tk.

-o0o-

Toko mungil diseberang jalan utama Seoul itu makin hari makin menunjukan perkembangan yang berarti. Semakin didengar diseluruh penjuru kota. Mereka yang gila akan seni lukis pasti tidak akan ragu menapakkan kakinya pada bangunan klasik itu.

Untain pujian terayun dari mulut-mulut pengunjung itu. Bagaimana tidak? Lukisan disini selain beragam juga sangat indah dan aneh? Ya, aneh karena lukisan yang sebagian besar karya seseorang berinisial 'LY' ini mengambil tema kehidupan. Kehidupan yang tak pernah terfikirkan lebih tepatnya. Sebagai contoh adalah lukisan seekor kupu-kupu hinggap diatas pisau yang berkilat tajam. Apa maksudnya? Hanya 'LY' yang tau, juga Tuhan.

"Tao.. kau dipanggil Bos. Tinggalkannya saja itu, nanti biar aku yang lanjutkan"

"Tidak usah hyung.. setelah urusanku dengan bos selesai, biar kau yang lanjutkan ge"

-o0o-

Tap..

"Bos memanggilku?" membungkuk hormat pada sosok atasannya.

"duduklah.." Kris masih belum mengalihkan perhatiannya dari ponsel hitam milikknya.

"?"

"duduklah tao.." sedikit menaikkan nada suaranya, setelah melihat reaksi biungung Tao, dari sudut matanya.

"i-iya Bos" gugup? Tentu saja.

Hening.. mendadak senyap, hanya bunyi jarum jam yang terdengar lambat.

"kau.. masih ingat akukan?" mata yang terbiasa berkilat tajam, kini bersinar redup. Menyiratkan luka menganga jauh didalam sana.

"..." mendongak, manik hitamnya mencoba mencari sesuatu di iris coklat Kris Wu.

"anak berambut pirang dikelasmu dulu.. lalu memilih tempat duduk tepat didepan bangkumu".

Masih belum menunjukkan reaksi yang berarti, Kris menelan lagi pil pahit kekecewaan itu lagi.
Manik hitam itu membulat, bibir mungil menggumam lirih

"Kau.. anak baru itu?"

"Kau mengingatku? Ah! Tao kemana kau selama ini? Sejak hari pertama aku masuk kelas itu, kau tidak pernah masuk kelas lagi!"

Mencair sudah bongkahan pertanyaan yang tersimpan rapi dalam sudut gelap hati Kris Wu.

-o0o-

Sehancur apapun tubuhmu. Langit biru masih memandangmu. Sehitam apapun masa lalumu. Angin sore masih membelaimu. Sehina apapun diri ini. Cahaya terang masih menghangatkanmu dari ufuk timur.

Membiarkan mulut itu menghujat hingga berbusa dan berhenti karena lelah adalah yang terbaik.

Mata karamel itu terpejam erat. Tidak ada yang lebih baik saat ini. Membiarkan angin sore menghujam kulit pucatnya. Mengabaikan sapaan hangat burung kecil di atas sana.

Memikirkan kondisi tubuhnya yang kian menjadi. Mencari seribu jalan agar terlepas dari jeratan penyakit terkutuk ini.

Sekalipun orang-orang yang disayangnya mendukung, menyemangati, menghibur dan memberikan sejuta kebaikan padanya, tapi.. tetap saja potongan puzzle yang hilang dari dirinya masih belum ditemukan.

Sesak yang dideritanya lebih dari bertahun-tahun. Setiap waktu bertarung melawan sakit hati dan jiwanya.

Dialah Lay. Menyalahkan waktu yang membawanya kedalam lembah kesakitan. Andai dulu.. dia lahir sehat dan teak berpenyakit seperti ini, mungkin hari-harinya akan sangat cerah tak lagi berawan hitam.

"Buka matamu.. dan lihat sesuatu diujung awan itu.." suara berat namun terdengar lembut itu menyadarkan Lay yang nyaris tertidur terbuai langit sore.

"Dokter Kim? Ada apa?" ucapnya pada sosok tegap disampingnya. Berbalut jas putih khas seorang dokter.

"panggil aku Suho hyung saja.. Lay"

Dan hingga matahari menyembunyikan diri, mereka masih terlarut dalam pembicaraan yang tak jauh tentang kehidupan masing-masing.

-o0o-

Hitam. Tidak ada lagi sinar bintang dengan bulan diatas sana. Perlahan. Ratusan tetes air jatuh menerpa kulit bumi yang haus. Semakin jarum jam bergerak semakin deras tetesan air itu turun. Sayang.. kehadirannya tidak tepat. Sekalipun bumi haus akan air hujan, tapi Tao hari ini tidak membawa payung. Haruskah dia menunggu hujan reda atau menerobos hujan.

"Ck! Sial! Kenapa hujannya tidak berhenti?" 15 menit lebih berdiri mematung didepan minimarket dengan sekantong belanjaan di genggamannya.

"TAO!" pekik seseorang yang berlari menerobos hujan.

"Sehun?" segera tangannya meraih sapu tangan disaku jaketnya lalu membantu Sehun-seseorang tadi- membersihkan air hujan di baju dan rambutnya.

"kau datang kesini? Sudah kubilang langsung pulang saja Hun! Lihat rambutmu basah!" cercah Tao, lebih mirip seorang wanitakan?

"kau mirip ibu panti Tao" kekeh Sehun.

"Ish! Aku namja tulen Hun!"

"appo Tao! Hehe mianhee... ayo pulang" mengamit lengan namja bersurai hitam itu.

"pulang? Kau tidak lihat aku membawa barang sebanyak ini? Bagaimana bisa berlari?" maki Tao.

"huh? Apa ini?"

"tentu saja kebutuhan kita sehari-hari di rumah.." bibir peach itu menggerutu lucu.

"Oh? Wah kau perhatian sekali Tao?" Sehun tersenyum lebar.

"ck! Berhenti menggodaku Hun!"

"ahaha.. ini biar aku yang bawa, kita lari bersama dalam hitungan ke 3 oke? Satu!" menggenggam tangan Tao erat.

"eh? Ta-ta-pi"

"dua! Tiga!"

Berlari membelah jalanan Seoul. Mengabaikan titik air hujan yang makin menjadi-jadi. Mengabaikan tubuh yang basah kuyup karena hujan.

Tidak ada yang tau. Seseorang memperhatikan mereka sejak tadi,lebih tepatnya memperhatikan Tao hingga Sehun datang. Berdiam diri dalam mobil mewah ini. Meremas bungkusan coklat berisi boneka panda yang tadi pagi di belinya. Bergumam lirih hampir menyamai suara gemericik air hujan diluar. "Tao.."

-o0o-

"Tao.. kau membeli ramen instan sebanyak ini?" tanya Sehun masih sibuk mengacak-acak isi tas belanja Tao.

"Aishh Hunie! Jangan dikeluarkan semua! Rapikan lagi!" heboh Tao.

"Ck! Iya-iya mommy Panda!" gerutu Sehun, mengabaikan tatapan aneh Tao.

"Apa? Apa tadi kau bilang? Mo-Mommy apa?"

"ahahaha"

"Jangan lari kau! Sehun kubilang berhenti!"

Dan hari itu berakhir seperti biasa yang Sehun dan Tao lakukan bertengkar dan kemudian slaing memaafkan dan berpelukan. Manis sekali bukan?

TBC

Maaf jika tidak ada feel sama sekali. Maaf jika makin mengecewakan. dan Maaf tidak bias membalas review.

Terima kasih sudah membaca, ditunggu koreksi dan sarannya.

*bow

tianelly