Disclaimer : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Title : Another Case
Rating : T – M (Mostly 'M')
Genres : Horror, Supernatural, Romance, Mystery, Drama, Friendship, etc
Pairing : Naruto X Fem. Sasuke (Satsuki)
Summary : Naruto merupakan seorang murid pindahan yang baru saja pindah ke kota Konoha. Tidak ada yang tahu jika dia mempunyai Six Sense. Pertemuannya dengan Satsuki (Female Sasuke), membuat kehidupan nya di Konoha semakin menarik. Petualangan dan berbagai kejadian aneh di antara keduanya sering terjadi dan bagaiman mereka menanggapinya ?. OOC / Fem. Sasuke / NotYaoi / Fluffy / HorrorScene / AU / GoreContent / Maybe Lemon / and others
.
.
~CHAPTER 4 : Paman~
.
.
Disinilah mereka berdua sekarang berada. Di sebuah kamar yang tidak lain adalah kamar Satsuki. Sebenarnya Naruto ingin menjelaskan kepada Satsuki di rumahnya saja, tapi saat Satsuki ingin pergi lagi dia dilarang oleh ayahnya. Katanya besok sekolah dan jika ada yang ingin dibicarakan sebaiknya di rumahnya saja. Naruto pun pasrah, dia sebenarnya juga ingin menjelaskan besok-besok saja... tapi saat melihat raut wajah Satsuki yang mendelik kepadanya akhirnya Naruto menyerah juga
Untuk kesekian kalinya Naruto menghela nafas, di pandanginya cangkir teh yang masih menyembulkan uapnya yang berada di di pandanginya Satsuki yang kali ini memasang wajah ketakutan sambil memeluk gulingnya di kasur, ya... Naruto memang sudah menceritakan semuanya. Tentang kemampuannya dan kejadian saat itu, tapi dia menyembunyikan cerita tentang sosok-sosok yang pernah dilihatnya, karena tak ingin membuat Satsuki lebih ketakutan lagi. "Apa aku sudah boleh pulang ? kau sudah kuceritakan semuanya kan ?"
Tidak mendapat jawaban dari lawan bicaranya Naruto pun menghela nafas lagi, dia sudah tahu akan begini jadinya, tapi sungguh dia tidak percaya jika Satsuki akan menanggapinya seserius ini."Semuanya terserah kau mau percaya atau tidak...". Satsuki tetap terdiam dan Akhirnya Naruto memutuskan untuk mengangkat pinggulnya dan mulai berjalan ke arah pintu kamar sebelum di hentikan oleh Satsuki
"Tunggu...". Naruto pun menghentikan tangannya yang sudah bersiap untuk memutar kenop dan menoleh untuk melihat Satsuki yang kini sudah bangkit dan berjalan ke arahnya
Satsuki berdiri di depan Naruto dengan kepala tertunduk. "Jika memang semua yang kau katakan itu benar... a-apa aku akan baik-baik saja, maksudku bukannya aku takut... tapi-"
Satsuki kaget saat tiba-tiba dia merasakan puncak kepalanya ditepuk lembut oleh tangan seseorang, saat mendongakan kepalanya dia tertegun melihat Naruto yang tersenyum teduh ke arahnya. Seketika jantungnya menggila saat melihat senyuman Naruto
Melepas tangannya, Naruto lalu memandang Satsuki. "Kau tenang saja... kau akan baik-baik saja. Tak akan kubiarkan dari mereka menyentuhmu seujung jaripun... dan lagipula...". Naruto berhenti sejenak, dia memalingkan pandangannya dengan wajah sedikit memerah
"...lagipula, orang tuamu sudah menyuruhku untuk menjagamu bukan"
Walau muka Satsuki masih memerah, dia kini tersenyum lembut kepada pemuda pirang dihadapannya dan tidak disadari oleh pria di depannya itu
.
Naruto tengah terbaring di atas kasurnya, dia terlihat memandang langit-langit dengan tatapan yang jauh, lebih tepatnya dia sedang memikirkan sesuatu, sesuatu yang akhir-akhir ini sangat mengganggunya. Memutuskan untuk bangun dari rebahannya, Naruto keluar dari kamar dan menuju ke arah dapur
Dia mengambil satu botol air dingin dari kulkas dan langsung meminumnya hingga seperempatnya. Setelah minum Naruto terlihat pergi keruang tengah atau ruang keluarga dan dia terlihat tengah mencari sesuatu di rak buku yang berada di pojok ruangan
"Ini dia...". Naruto pun terlihat mengambil satu buah buku yang sampulnya sudah agak tua dan membawanya untuk segera di baca di sofa
Bait demi bait Naruto baca dengan tenang, sesekali dahinya berkerut menandakan ada sesuatu hal yang membuatnya berpikir sedikit berlebih
30 menit kemudian Naruto pun tampak menutup buku itu dan menaruhnya di meja di depannya. Kepalanya tampak ia sandarkan ke senderan sofa di belakangnya, dia kemudian melihat langit-langit dengan berpikir
'Tou-san... apa yang tertulis di buku ini, itu semuanya benar. Sungguh seandainya itu benar, maka eksistensi 'mereka' bisa menjadi ancaman bagi kita... apa yang harus aku lakukan Tou-san'
Pikirannya kemudian beralih kepada Satsuki, Naruto merasa ada yang cukup janggal di sekitar Satsuki. Dia memang belum pernah melawan atau bertemu langsung dengan sosok hantu yang berbahaya, namun dia sendiri merasa jika sosok yang sering dilihatnya kala bersama Satsuki adalah sosok yang cukup berbahaya atau mungkin bisa mencelakakan Satsuki nantinya
Dia pun ingat perkataannya kepada Satsuki beberapa waktu yang lalu. Ada dan selalu melindunginya di manapun Satsuki membutuhkannya. Dan Naruto bukanlah seseorang yang suka berkata tanpa mempertanggung jawabkannya
Ya, dia merasa melindungi Satsuki kini menjadi prioritasnya. Entah kenapa dia ingin sekali melindungi nya dan membuatnya tetap tersenyum
Dan perlahan kelopak mata dengan iris shappire itu tertutup, membawanya ke alam mimpi dengan seulas senyum kecil di bibir tipisnya
.
~Another Case~
"A stranded house is a suitable place for their existance to live"
.
.
"Ohayou Satsuki-chan"
"Ohayou"
Satsuki menduduki tempat duduknya yang berada di belakang tempat duduk Sakura. Dia meletakan tas nya di atas meja dan mengambil sebuah handphone dari dalamnya. Dia terlihat sibuk mengetik sesuatu
"Nee Satsuki-chan, kau tak biasanya berangkat sendirian. Biasanya kau bersama Naruto". Ucap Sakura dari belakang Satsuki. Satsuki kemudian menutup handphone flip-flap nya dan menghadap Sakura
"Uhmm aku tak tahu. Dia hanya sms kalau dia ijin tak masuk sekolah hari ini"
"Ehhh, berani sekali dia. Padahal dia murid baru"
Satsuki hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Sakura. Di dalam hatinya dia juga bertanya-tanya kenapa si pirang itu bisa ijin untuk tak masuk sekolah. Apa dia punya urusan diluar yang sangat penting. Dan itu membuat Satsuki saking penasaran
Suasana kelas yang awalnya sunyi tiba-tiba sedikit gaduh karena gadis-gadis berteriak gaje dan berisik. Satsuki menghela nafas lelah karena tahu penyebab para siswi perempuan ribut. Yaitu kedatangan pria tertampan di sekolah mereka dan juga bintang tim basket yang Satsuki manageri
"Ohayou Gaara-kun.."
"Kyaa Gaara-kun semakin tampan"
"Aww aku basah"
"Kau benar. Kita sangat beruntung sekelas dengan dia ya.."
Itulah beberapa bisikan siswi-siwsi sekelas saat Sabaku Gaara memasuki kelas Satsuki dkk.
Satsuki hanya mendengus melihat itu. Dia tak habis pikir dengan para fansgirl itu, bukannya dia membenci Gaara tapi dia hanya sebal saja dengan kelakuan para siswi dikelasnya. Berisik dan mengganggu
Gaara melihat sekeliling kelas dari depan. Untuk beberapa saat direksinya terus menelusuri seluruh kelas. Dia tidak mempedulikan para fansgirl nya yang dari tadi mencoba berbicara dengannya
Direksinya terhenti ke arah pojok kanan dari deretan meja-meja di kelas, tersenyum kecil dia kemudian berjalan ke sana
Gaara memandang Satsuki dengan pandangan datar khasnya, bisa ia lihat jika Satsuki mengernyitkan dahinya bingung saat Gaara berjalan ke arahnya. Tapi Satsuki tak terlalu memperhatikannya, dia lebih memilih memainkan handphonnya
Blukk !
Satsuki sedikit terperanjat saat mendengar sesuatu yang cukup keras dari arah belakangnya. Dia kemudian menolehkan kepalanya dan mendapati Gaara duduk di belakangnya. Bisa dilihat Gaara sendiri bersikap santai-santai saja saat Satsuki memandangnya
"Gaara-kun kenapa kau duduk disitu, bukannya itu tempat duduk milik Namikaze"
Gaara menolehkan kepalanya ke arah segerombolan siswi yang berdiri disampingnya. Dengan memasang pose cool dia menjawab
"Siapa bilang tempat ini milik Namikaze. Ini milik sekolah bukan milik pribadi"
Entah kenapa Satsuki merasa dirinya terganggu dengan ucapan Gaara. Di dalam hatinya dia kesal mendengar ucapan Gaara yang terlihat menjelekan Naruto. Walau tidak menjelek-jelekan secara langsung tapi dia kesal dengan itu
"Namikaze bisa cari tempat lain bukan. Aku mau duduk disini"
Para fansgirl Gaara hanya mengangguk-angguk saja. Berbeda dengan Satsuki, Satsuki mungkin hanya sedikit mengenal Gaara. Meski Satsuki manager tim basket sekolah tapi dia tidak terlalu dekat dengan Gaara. Satsuki hanya tahu jika Gaara itu orang yang terkenal di sekolahnya dan memiliki banyak fans perempuan
"Satsuki-chan, kau mau kemana ?"
Sakura heran saat melihat Satsuki berdiri dan berjalan ke luar kelas
"Aku hanya keluar kelas sebentar. Cari angin..."
"Uhm baiklah. Kembalilah sebelum bel berbunyi, ok"
"Um"
Satsuki sedikit melirik kebelakang, dia kaget saat Gaara memandanginya dengan sorot mata yang tajam dan terkesan aneh menurutnya. Tapi dia berusaha menghiraukannya dengan terus berjalan
.
Naruto baru saja sampai di tempat yang ia tuju. Dia memandangi plank nama di samping gerbang dengan seksama. Sekali lagi memastikan jika tempat yang ia datangi adalah tempat yang benar
"Ara, Naruto-kun?". Saat hendak memencet bel rumah didepannya, kegiatan Naruto terhenti oleh sebuah panggilan disampingnya. "Ternyata benara ya! Kau sudah besar rupanya. Kenapa tak bilang kalau kau mau datang !?"
Naruto hanya tertawa canggung. Wanita di depannya memang masih periang dan berisik, sama seperti dulu. "Umm. Maaf kalau datang tanpa memberi tahu dulu Shizune-san". Balas Naruto dengan senyuman yang terkesan dipaksakan
"Hmm. Tak apa lah, ayo masuk. Kau pasti lelah kan datang dari jauh". Naruto mengangguk dan berjalan mengikuti Shizune dibelakangnya. Sudah lama dirinya tidak datang ketempat ini, dulu sesekali dirinya berkunjung bersama dengan ayah dan ibunya
"Duduklah dulu, akan kubuatkan minuman". Ucap Shizune sebelum melenggang ke dapur. Naruto hanya mengangguk dan duduk di kursi ruang tamu. Pandangannya bergerak menelusuri ruang tamu rumah ini, tidak banyak yang berubah. Masih sama seperti terakhir kali dirinya berkunjung ke rumah ini
"Oh ya, bukannya sekarang sedang jam sekolah ? apa tak apa kalau kau datang kesini ?". tanya Shizune kepada Naruto setelah meletakan segelas teh di meja depan mereka
"A..aa. Aku ijin hari ini". Ucap naruto sedikit bohong, tak enak jika dirinya bilang bolos sekolah
"Begitu ya. Apa Karin-chan dan Jii-san sehat ?"
"Aku belum mengunjungi mereka lagi Shizune-san. Tapi kupikir mereka berdua sehat, lagian ada Karin bersama dengan Jiji". Shizune mengangguk, kurang lebih dirinya juga tahu jika Naruto sudah memutuskan untuk tinggal sendiri
"Ano, Shizune-san. Apa Yamato-san ada dirumah. Aku mungkin ada beberapa hal yang ingin ku bicarakan dengannya". Ucap Naruto
"Dia sedang kerja sekarang, sebentar lagi mungkin pulang. Memang ada apa Naruto-kun?"
"Begitu ya. Uumm... bukan hal yang penting juga sih haha". Shizune menaikan alisnya, hal ini membuatnya sedikit penasaran. Saat hendak menanyakan lebih lanjut kepada Naruto, telefon rumahnya berbunyi. Dengan segera, Shizune pun pergi untuk menjawab panggilan yang terus berbunyi
"Gomen Naruto-kun, barusan aku dapat telfon dari tetangga sebelah. Mereka bilang untuk minta tolong menjemput anak mereka dari sekolah. Kutinggal sebentar tak apa kan ?". Naruto tersenyum dan mengangguk
"Tak apa Shizune-san". Shizune pun tersenyum, ada sedikit rasa tidak enak meninggalkan Naruto sendirian, apalagi sudah jauh-jauh datang ke rumahnya. "Aku tinggal sebentar ya. Kalau kau mau makan sesuatu, cari saja dikulkas"
Dan dengan itu Shizune pun meninggalkan rumah, meninggalkan Naruto sendirian
Matahari terlihat sudah mulai meninggalkan langit siang. Naruto sebenarnya masih bergulat didalam pikirannya tentang keputusannya hari ini. Alasan sebenarnya menemui Yamato adalah untuk mendiskusikan tentang Satsuki
Oh ya, Yamato adalah adik angkat dari ayahnya. Yang Naruto tahu Ayahnya, Minato, dari kecil tinggal di panti asuhan. Saat memutuskan untuk meninggalkan panti asuhan dan hidup mandiri, Yamato pun ikut bersama Minato. Bisa dibilang mereka adalah kakak-adik yang sangat dekat, dulu saat ayahnya masih hidup sering ayahnya bercerita tentang manis-kecut kehidupannya bersama Yamato. Kalau mengingat itu sekarang Naruto jadi tertawa sendiri, ayahnya sering bercerita konyol kepadanya waktu dulu
Dan satu hal yang Naruto tahu tentang adik angkat ayahnya itu. Yamato juga bisa melihat 'mereka'. Begitulah, naruto ingin tahu tentang keahlian / kelebihan yang Naruto miliki dengan mungkin bertukar pikiran dengan Yamato
Karena merasa sedikit bosan, Naruto memutuskan untuk berkeliling rumah ini. Rumah Yamato dan Shizune bertipe tradisional. Masih banyak ruang kamar yang menggunakan tatami sebagai alasnya. Sekat-sekat antar kamar pun belum menggunakan tembok beton seperti kebanyakan rumah sekarang. Tentu hal ini jika dilihat dari mata Naruto sedikit kental dengan nuansa energi, baik itu positif dan negatif, semuanya bercampur di rumah ini
"Ssss..."
Menolehkan kepalanya ke arah samping kanannya, Naruto sedikit terperanjat. Dirinya sekarang sedang berjalan di koridor samping rumah saat dirinya melihat satu sosok di samping kanannya
"Ck, kau mengagetkanku saja... Jangan menatapku seperti itu". Naruto merasa risih. Bukan, bukan sosok di samping kanannya yang membuatnya merasa risih, tapi sosok disebelahnya. Ada dua perwujudan disitu
Sosok kedua itu terus menatapnya, bukan... melototinya
"Ke-ke-ssshh-..."
Sosok itu semakin mendekat. Naruto terpaku
Sungguh, entah kenapa kakinya tidak bisa diangkat untuk meninggalkan tempat itu. Seperti ada suatu kekuatan yang memaksa kakinya untuk membeku, berat sekali untuk digerakkan
Wajahnya tertutupi oleh rambut panjangnya. Kulitnya tampak membiru, terlihat dengan jelas urat nadinya disana. Bau bangkai tiba-tiba menusuk tajam ke penciuman Naruto
"Ug-...". sungguh ingin muntah rasanya saat mencium bau itu
"Maauu... ppa... kkk... nsni..". terdengar tak jelas di telinga Naruto saat sosok di depannya sekarang mendesis. Dirinya terlalu shock untuk menangkap setiap suara yang masuk ditelinganya
Naruto hanya mematung. Saat tangan pucat itu mendekat sekan ingin meraih dirinya. Rasanya sangat dingin. Tanpa sadar dirinya membeku, menggigil tak karuan
"Kekeke..."
Semakin dekat...
Naruto hanya bisa pasrah. Saat tangan itu menyentuh pipinya, menyalurkan sejuat emosi negatif disana. Pandangan Naruto kosong, hanya ada kesepian, ketakutan, dan kehampaan dihatinya. Semua rasa bahagia seakan hilang dari dalam dirinya
"Ma-". Lidahnya kelu. Untuk berbicara pun susah sekali, seperti ada yang menutup erat mulutnya
"Ap-"
Rambut lebat itu tersingkap. Kepala tanpa nyawa itu mendongak. Mata putih itu menatapnya dengan tajam, tepat kearah hatinya
Mulut sosok itu menyunggingkan senyuman lebar disana. Sangat lebar, bahkan sampai terlihat semuanya yang ada di dalam mulut itu. Hancur dan busuk, bagaikan mulut yang baru saja diremas hancur
"Naa...rruu...tt-"
.
"Naruto. Oi, Naruto! Are you alright ? minum ini cepat"
Nafas naruto memburu dengan cepat, kebutuhan oksigen sekan tak pernah cukup untuk membuat paru-parunya berisi sekarang. Pelunya menetes dengan deras. Sungguh tadi itu menyeramkan sekali
"Kau tak apa Naruto ? Minumlah lagi dan tenangkan dirimu. Semuanya baik-baik saja oke"
Naruto menolehkan kepalanya kearah suara yang berbicara kepadanya. "Y-Yamato-san, aku-"
"Sstt... kau bisa bicara nanti, sekarang tenangkan dirimu dulu". Naruto mengangguk, berusaha sebisa mungkin tenang. Yamato tersenyum, dirinya beranjak pergi meninggalkan ruang tamu sebentar. Meninggalkan Naruto yang masih berusaha menenangkan dirinya
Tak lama kemudian Yamato pun kembali, masih dengan pakaian kerjanya. Ditangan nya tampak Yamato membawa beberapa buku yang kemudian diletakkan di meja. Mendudukan dirinya dan tersenyum saat melihat Naruto sudah lebih rileks
"Kau sudah besar ya". Yamato tersenyum teduh, pemuda di depannya sangat mirip dengan kakaknya. Kakaknya yang sudah lama meninggal
Naruto melihat jam di tangannya. Pukul 06.13. Sudah mau malam rupanya. Meletakan gelas yang masih berisi setengah itu di depannya, Naruto pun menatap Yamato. Sudah lama dirinya tak berjumpa pamannya itu. Hanya sebuah senyum tulus yang bisa ditunjukannya sekarang saat menatap Yamato
"Apa yang terjadi padaku barusan, Yamato-san ?". ucap Naruto, entah kenapa mimpi barusan terasa sangat nyata baginya
Yamato memejamkan matanya. Dirinya tahu, Naruto mempunyai juga kelebihan untuk melihat hantu. Sama seperti dirinya dan kakak angkatnya. "Saat aku pulang, aku melihatmu tidur di sofa. Dan saat hendak membangunkanmu aku melihat sesuatu Naruto..."
"Sesuatu... ?". Naruto bingung dengan kata-kata Yamato
Yamato tampak memejamkan matanya sebelum kemudian membukanya kembali. "Apa kau sedang diikuti oleh sesosok hantu ?". tanya Yamato, Naruto terdiam... setahunya tidak ada yang mengikutinya secara spesifik
"Tidak Yamato-san. Kurasa tidak ada"
"Begitu ya"
Naruto terdiam. Yamato kemudian tampak menunjukan buku-buku yang tadi dibawanya dari kamarnya kepada Naruto. Melihat buku-buku bersampul aneh didepannya membuat Naruto tertarik. "Apa ini Yamato-san ?"
Mengambil salah satu buku bersampul merah darah, Yamato pun berucap. "Dulu... Nii-san sangat suka membaca buku-buku ini. Ini semua adalah favoritnya. Dirinya memberikan ini kepadaku ketika menikahi Kushina-nee"
"Aku tahu tujuanmu datang kesini Naruto..."
Naruto terdiam, menunggu Yamato menyelesaikan kata-katanya. "Tapi maaf Naruto, aku tak bisa membantumu banyak". Yamato memandang sedih Naruto, kurang lebih dirinya memang tahu alasan kenapa Naruto repot-repot menemuinya tapi ada alasan lain dirinya tidak mau kembali berurusan dengan mereka
"Ambilah buku-buku itu. Kurasa Nii-san juga akan senang". Naruto mengangguk pelan mendengar kata-kata Yamato
"Tak apa-apa Yamato-san. Tapi ada alasan lain kenapa aku datang menemui anda". Yamato sedikit terkejut saat mendapati Naruto tiba-tiba menjadi serius
"Sebenarnya..."
.
.
~To be Continued...~
.
.
A/N :
Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca. Maaf ya kalau ceritanya nggak bagus, sebenarnya ide-ide yang datang dan kemampuan saya sudah menurun. Apalagi udah lama nggak nulis juga. 誠に申し訳ございません.
—II—
