Perjanjian Hati
Original
By
Santhy Agatha
.
.
.
It's not my own story, it's just a remake from novel with the same tittle
Perubahan menyesuaikan cerita dan tokoh
.
.
.
HunHan, KaiSoo, KrisTao, etc
.
.
.
"Janganlah kau menikahi seseorangyang menurutmu kau bisa hidupdengannya. Tetapi nikahilahseseorang yang menurutmu, kau tidakbisa hidup tanpanya."
.
.
.
Perempuan itu sangat cantik, duduk di sana di tengah kebun bunga sambil meminum tehnya dari cangkir yang elegan. Rambutnya disanggul dengan formal ke atas, dan gaunnya tampak sangat indah, berwarna hijau, menyatu dengan alam taman bunga di sekelilingnya. Mama Sehun dan Kyungsoo ini pasti sangat cantik di masa mudanya, karena bahkan di masa tuanyapun gurat gurat kecantikannya masih menyisa di sana.
Mama Sehun mendongak ketika melihat Sehun datang bersama Luhan yang gugup, lalu senyum ramahnya mengembang.
"Silahkan duduk," gumamnya menyilahkan sambil mengedikkan bahu dengan lembut pada kursi di depannya.
Dengan tenang Sehun menarikkan kursi untuk Luhan dan duduk di sebelahnya.
"Mama tidak masuk angin, minum teh sore-sore di luar seperti ini?"
Sang mama tersenyum lembut dan menatap Sehun dengan sayang.
"Mama cukup kuat kalau hanya duduk-duduk di luar Sehun, lagipula mama bosan kalau di dalam terus, pemandangan taman ini di sore hari sangat indah, sayang untuk dilewatkan."
Mama Sehun benar. Pikir Luhan mengiyakan. Pemandangan taman ini tampak luar biasa, dengan dedaunan yang rimbun dan tertata rapi serta bunga-bunga dan rumput hijau yang mengelilingi, ditambah lagi kolam ikan yang cantik dengan gemericik air terjun buatan yang mendamaikan suasana. Luhan dengan senang hati akan rela melewatkan waktunya untuk duduk-duduk di taman ini menikmati keindahan suasananya.
Tak disadarinya mama Sehun mengamati Luhan dengan penuh perhatian. Ketika Luhan tersadar, dia langsung bergumam gugup menyadari ketidaksopanannya karena langsung duduk dan melamun, bukannya memperkenalkan diri.
"Eh, maaf... Saya... Saya Luhan," gumam Luhan sambil mengulurkan tangannya gugup.
Mama Sehun menyambut uluran tangan Luhan, tampak geli melihat kegugupan Luhan,
"Dan perkenalkan aku mamanya Sehun dan Kyungsoo." Dia melirik Sehun penuh arti, "Begitu mendengar tentangmu dari Sehun dan Kyungsoo, aku benar-benar didera rasa ingin tahu."
Luhan melirik Sehun yang sepertinya sudah ada dalam mode berakting karena lelaki itu melirik lembut dan penuh cinta kepadanya.
"Aku tidak pernah merasakan yang seperti ini kepada perempuan manapun, mama. Dia istimewa dan aku harap dia yang terbaik." Sehun bergumam dengan nada yang terdengar begitu tulus dan jujur. Bahkan Luhan yang mengetahui bahwa itu hanyalah kebohongan semata, tersipu-sipu mendengarnya
Mama Sehun menyesap teh-nya lagi, lalu melirik Luhan dan Sehun bergantian, "Kau tidak pernah menceritakan tentang Luhan sebelumnya."
"Aku sedang mengejarnya," jawab Sehun santai, "Sekarang aku sudah memilikinya, dan kupikir sekaranglah saat yang tepat untuk mengklaimnya dan menunjukkannya pada semua orang."
Mama Sehun terkekeh mendengar nada posesif dan kepemilikan di dalam suara Sehun. Dia tersenyum pada Luhan meminta permakluman.
"Maafkan anak lelakiku ini Luhan, dia memang terbiasa arogan dan keras kepala, mungkin kau juga menyadarinya. Aku senang karena dia akhirnya menemukan seseorang yang cocok untuknya, karena aku tahu betapa alerginya dia mengikatkan diri pada seorang perempuan."
Luhan tersenyum kaku, mencoba tampak santai "Saya... Saya senang karena anda menerima saya..."
"Tentu saja aku menerimamu, kau pilihan Sehun, berarti kaulah yang terbaik." sang mama tersenyum dan mengangkat bahunya, "Tentunya Sehun sudah bercerita kalau aku berniat menjodohkannya dengan Kyungsoo... Sebuah pemikiran yang kupikir keputusan terbaik, mengingat aku begitu menyayangi mereka berdua dan menginginkan mereka saling menjaga... Kalau-kalau aku… Sudah tidak ada lagi. Dokter bilang penyakit jantungku sudah parah dan sungguh untung kalau aku bisa hidup lebih dari 1 tahun ke depan."
"Mama." Sehun berseru memprotes perkataan mamanya. Sang mama hanya tersenyum menenangkan.
"Yah... Aku pikir waktu itu Sehun dan Kyungsoo sama-sama belum mempunyai pasangan dan mereka tampak sangat cocok bersama, lagipula aku sudah sangat ingin menimang cucu." Mama Sehun lalu tersenyum dengan mata berbinar, "Kabar kalau Sehun ternyata sudah mempunyai pilihan hati memang tidak kusangka-sangka, tetapi kabar ini menyenangkan, dan menenangkan, aku pikir aku akan dengan senang hati menyiapkan pernikahan kalian."
"Pernikahan?" Sehun dan Luhan sama-sama berseru. Yang satu protes dan yang lain kaget.
"Tentu saja." mama Sehun mengedipkan matanya ke arah Luhan, "Mulai sekarang panggil aku mama, sayang. Karena saat ini aku sudah setengah jalan mempersiapkan pernikahan
besar di akhir tahun," perempuan itu tampak menghitung di dalam kepalanya.
"Akhir tahun tinggal empat bulan lagi," dia lalu tersenyum lembut pada Luhan, "Dulunya pernikahan ini kurencanakan untuk pernikahan Sehun dan Kyungsoo, tetapi aku yakin sekarang akan lebih menyenangkan karena Sehun mempunyai pilihan hatinya sendiri, kuharap kau akan sering kemari Luhan dan membantuku mempersiapkan pernikahan ini."
Mama Sehun berucap manis, dengan senyum yang manis
pula. Tetapi makna yang ada di dalam kata-katanya, tak
terbantahkan.
…..
"Pernikahan?" Luhan berseru memprotes sambil menatap Sehun yang sedang menyetir dengan tajam, "Tadinya aku pikir kita hanya bersandiwara sebagai pasangan kekasih. Lalu setelah Kyungsoo bisa memperkenalkan Kai kepada mamamu, kita akan pura-pura berpisah baik-baik dan mengatakan ada perbedaan prinsip yang menghalangi kita!"
"Kyungsoo belum bisa memperkenalkan Kai sekarang-sekarang ini. Mereka belum lulus kuliah, dan aku meragukan mama akan menerima Kai begitu saja, beliau pasti akan menganggap Kai terlalu muda untuk serius dengan Kai di usianya sekarang ini. Kita harus bertahan Luhan demi mereka. Segera setelah Kai lulus dan mendapatkan pekerjaan yang baik, Kyungsoo bisa membawanya kepada mama. Aku akan mengatur pekerjaan yang baik untuk Kai nanti."
"Tapi mereka berdua baru lulus tiga bulan lagi, itu sangat beresiko mengingat mamamu merencanakan pernikahan empat bulan lagi. Terlalu tipis waktunya, apalagi untuk membatalkan semuanya secara mendadak. Mungkin... Mungkin kita harus jujur saja kepada mamamu. Aku lihat mamamu perempuan yang kuat dan berpikiran luas, dia mungkin mau menunggu sampai Kai lulus dan melihat bukti keseriusannya kepada Kyungsoo."
Sehun memandang lurus ke depan, tampak serius. "Dia memang selalu berusaha tampil kuat Luhan, tetapi dia rapuh. Lagipula kita sudah maju sejauh ini, tak bisa mundur lagi. Kalau kita mengatakan bahwa ini semua hanya pura-pura kepada mama, dia pasti akan kecewa dan itu akan mempengaruhi kondisi tubuhnya. Saat ini dia bahagia, kita biarkan saja. Semoga nanti begitu Kai lulus dan Kyungsoo memperkenalkannya, mama begitu bahagia sehingga dia tidak kecewa ketika kita membatalkan pernikahan itu. Kita berdoa saja semoga semua berjalan seperti semestinya."
"Dan jika tidak?" Jantung Luhan berdegup kencang, memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Sehun menoleh, dan menatap Luhan dengan senyum ironisnya.
"Jika tidak... Maka mungkin kau dan aku akan terjebak dalam sebuah sandiwara pernikahan."
…..
"Luhan." sang ibu mengetuk pintu kamar Luhan, suaranya terdengar cemas, "Ada tamu."
Luhan yang sedang membaca di dalam kamar mengernyit, lalu melirik jam di dinding, sudah jam delapan malam, siapa yang bertamu semalam ini?
Luhan membuka pintu kamarnya dan berhadapan dengan wajah ibunya yang cemas.
"Siapa ibu?"
Suara sang ibu berbisik pelan, "Kris. Dia memaksa bertemu denganmu, ibu bilang mungkin kau sudah tertidur tetapi dia minta ibu membangunkanmu. Kau ingin bertemu dengannya atau tidak?"
Luhan mengernyit, untuk apa Kris datang ke rumah ini malam-malam begini? Saat ini? Bukankah sejak lelaki itu mencampakkannya dua tahun lalu, jangankan datang ke rumah ini, mengirimkan kabar pun lelaki itu tidak pernah.
Perasaan ingin tahu membuat Luhan terdorong mengambil keputusan.
"Aku akan menemuinya ibu."
Sang ibu menahan tangannya, "Kau tidak apa-apa Luhan, ibu tahu kau sudah menjalin hubungan baru dengan Sehun... Tetapi ibu..."
Luhan memang sudah menceritakan bahwa dia menjalin hubungan dengan Sehun, supaya sang ibu tidak kaget nantinya. Ibunya cukup senang meskipun juga mengutarakan kecemasannya karena Luhan menjalin hubungan lagi dengan lelaki kaya. Tetapi Luhan meyakinkan ibunya bahwa hal ini tidak akan menyakiti hatinya lagi, toh dalam hati Luhan menyadari bahwa hubungan ini hanyalah sandiwara yang tidak melibatkan hati sama sekali. Tetapi insting seorang ibu memang luar biasa, ibunya bisa merasakan bahwa Luhan masih menyimpan luka mendalam akibat perbuatan Kris.
"Tidak apa-apa ibu." Luhan tersenyum lembut, "Jangan cemas ya."
Luhan melangkah ke ruang tamu dan menemukan sosok Kris yang duduk termenung di sofa, lelaki itu langsung berdiri begitu melihat Luhan.
"Hai Luhan, aku tadi lewat di dekat-dekat sini dan memutuskan untuk mampir."
"Ada apa Kris?" Luhan memutuskan untuk tidak menanggapi pernyataan basa basi Kris, dia bersedekap dan menatap lelaki itu dengan dingin.
Kris berdiri dengan salah tingkah, "Aku... Aku berpikir, sekian lama aku tidak melihatmu dan kemarin ketika melihatmu, kau sudah berubah, lebih dewasa dan lebih cantik... Dan ternyata... Aku... Aku masih merindukanmu."
Apa maksud Kris dari pernyataannya ini? Luhan mengernyitkan keningnya. Lelaki itu sudah mencampakkannya dan bahkan kemarin sudah mengundangnya ke pesta pernikahannya. Dan sekarang dengan tak tahu malu, Kris berdiri di sini dan mengatakan merindukannya?
Kris menelan ludah, "Aku tahu kau sakit hati dengan perlakukanku dulu, tetapi harap mengerti Luhan, aku terpaksa, aku juga menderita, sama sepertimu. Tekanan dari keluargaku sangat kuat. Keluargaku mempunyai hutang budi yang begitu besar kepada keluarga Tao, aku bagaikan tumbal mereka dan aku tidak bisa melawan... Kalau aku menolak, maka keluargaku akan hancur."
Luhan mengernyit, dan kenapa baru sekarang Kris memilih untuk menjelaskan kepadanya? Kenapa tidak dulu ketika lelaki itu mencampakkannya tanpa kata-kata dan membiarkannya terpuruk dalam kedukaan mendalam karena patah hati? Setidaknya kalau Luhan tahu alasan itu dari dulu, mungkin dia bisa lebih berbesar hati ketika kehilangan Kris.
"Aku ingin menghubungimu dulu itu. Tetapi pengawasan keluargaku sangat ketat... Tao juga... Dia terobsesi padaku dan sangat posesif, dia mengancam akan menghancurkanmu kalau aku sampai berhubungan lagi denganmu... dan dulu mengingat begitu berkuasanya keluarga Tao, merekabisa menghancurkan keluargamu dengan mudah..."
"Dan kenapa sekarang kau tetap menemuiku? Tidakkah ini akan membuat Tao mengamuk kalau dia tahu?"
Kris menggeleng, tersenyum kecut, "Tidak. Sekarang keluargaku dan Tao tidak bisa berbuat apa-apa, Kau... Kau entah bagaimana dengan beruntungnya menjadi kekasih Tuan Sehun, yang beribu kali lebih berkuasa dari kami. Mereka tidak akan berani berbuat macam macam denganmu, karena itulah aku bisa menemuimu dengan leluasa seperti akhir-akhir ini..."
Mata Kris tampak berkaca-kaca, "Aku… Aku sudah menunggu kesempatan ini begitu lama Luhan, dua tahun lamanya... Aku selalu tersiksa, memikirkanmu, memikirkan keadaanmu yang kutinggalkan begitu saja dengan begitu menyakitkan... Waktu itu aku berpikir kalau kau kutinggalkan dengan kejam, kau akan membenciku, dengan begitu kau akan lebih mudah melupakan aku... Aku sadar bahwa aku sudah menyakitimu begitu dalam... Maafkan aku..."
Suara Kris berubah serak, dia menatap Luhan dengan memohon. "Di TK kemarin itu aku sudah ingin mengungkapkan semuanya kepadamu... Tetapi aku berubah pikiran ketika kau bertemu denganku, kau begitu tegar dan kuat dan kau bilang kau tidak memikirkanku lagi... Jadi aku... Aku mengatakan alasan-alasan bodoh kenapa aku menemuimu waktu itu,"
Kris menghela napas panjang, "Tetapi perasaan ini menghantuiku... Aku hanya ingin kau tahu, bahwa tidak pernah sedikitpun terbersit di benakku untuk menyakitimu, mencampakkanmu... Aku sangat mencintaimu... Bahkan... Bahkan sampai sekarang pun aku... Masih..."
Luhan tanpa sadar meringis merasakan kesakitan yang menusuk benaknya. Harusnya Kris tidakusah mengungkapkan semua ini. Dia sudah bisa berjalan tegak sejak keterpurukannya karena ditinggalkan Kris, dia sudah bisa menutup luka hatinya meskipun kadangkala masih terasa pedih. Tetapi apa yang diucapkan Kris hari ini seperti membuka luka lamanya lagi, membuatnya menganga dan berdarah.
"Terima kasih sudah menjelaskan kepadaku." Suara Luhan terdengar serak, "Tetapi bagaimanapun semua sudah terjadi. Kita tidak bisa menoleh ke belakang lagi. Aku sudah melanjutkan hidupku, begitu pun dirimu. Semoga tidak ada lagi kesalahpahaman dan luka masa lalu di antara kita."
Kris mengacak rambutnya dengan frustrasi, "Lelaki itu, Tuan Sehun... Apakah kau benar-benar mencintainya?"
Luhan menghela nafasnya sebelum mengucapkan jawaban semantap mungkin, "Ya, aku benar-benar mencintainya."
Hening.
"Yah." kemudian Kris tersenyum pahit sambil mengangkat bahu, "Apalagi yang kuharapkan, dia lebih segala-galanya dariku, jadi wajar kalau kau semudah itu melupakanku." wajahnya tampak sedih, "Meskipun aku tidak pernah melupakanmu selama ini, Luhan. Dua tahun berlalu, aku memang bertunangan dengan Tao, tetapi hanya tubuhku yang terikat dengannya. Hatiku... Hatiku masih selalu menjadi milikmu."
"Aku tidak mau menerima hatimu," sela Luhan dengan tegas, "Biarkan itu menjadi milik Tao, kalian akan segera menikah, aku harap kau akan berbahagia dengannya."
Kris menggeleng, hendak membantah, tetapi kemudian tampak mengurungkan niatnya.
"Yah... Oke. Tidak ada lagi yang perlu kusampaikan," ditatapnya mata Luhan dalam-dalam, seolah-olah berusaha mencari cinta yang tersembunyi di sana, kemudian dia memalingkan mukanya dengan sedih, "Kalau begitu aku permisi dulu Luhan, selamat tinggal."
"Selamat tinggal Kris."
Kali ini ucapan selamat tinggal itu benar-benar terucap dari hatinya, kepedihannya masih terasa, apalagi mendengarkan pengakuan Kris barusan. Setidaknya kemarahan dan kebenciannya di masa lalu atas perlakukan Kris kepadanya terjawab sudah, lelaki itu punya alasan sendiri meninggalkannya, dan Luhan sudah menerimanya.
…..
"Kau suka nuansa ini Luhan?" mama Sehun tersenyum kepada Luhan sambil menunjukkan foto dekorasi ruang pesta yang begitu mewah, "Aku ingin kesannya elegan dengan nuansa warna emas dan putih."
Luhan melirik foto itu, lalu melirik Sehun di sebelahnya yang memasang muka datar dengan gugup.
"Eh ya... Putih dan emas bagus juga mama," gumamnya lembut.
Saat ini Luhan dan Sehun sedang berkunjung ke rumah Sehun, sang mama bersikeras menunjukkan foto-foto gedung dan desain ruangan yang harus dilihat oleh Sehun dan Luhan dulu sebelum diputuskan mana yang akan dipilih. Dengan terpaksa Luhan datang, karena kata Sehun kalau Luhan terus menerus menghindar, mama Sehun akan curiga.
"Kalian sudah membeli cincin?" mama Sehun menatap Sehun. "Kau bilang kalian akan memilih cincin akhir minggu kemarin."
Sehun menggelengkan kepalanya, "Belum mama, aku sibuk sekali akhir minggu kemarin, ada rapat mendadak di perusahaan, mungkin minggu depan, lagipula acaranya kan masih lama, jadi waktu kami masih panjang."
Mama Sehun menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Tidak bisa begitu," gumamnya keras, "Cincin pernikahan adalah hal yang paling penting yang harus diprioritaskan. Kalian bersikeras menolak dilakukannya pertunangan lebih dulu, mama sudah setuju. Tetapi mama ingin kalian menyiapkan cincin pernikahan itu dulu, selain sebagai bukti keseriusan kalian, mama ingin memastikannya sesuai dengan tema pesta pernikahan ini."
Sehun dan Luhan saling berpandangan, berucap tanpa kata. "Baiklah mama, kami janji minggu depan pasti sudah membawa cincin untuk ditunjukkan kepada mama."
…..
Luhan duduk di Garden Cafe itu, kali ini sendirian, tanpa Sehun. Dia sekarang hampir setiap hari sepulang kerja mampir di sana hanya untuk mencicipi secangkir cokelat panas yang sangat enak itu. Para pelayan bahkan sudah mengenalinya sebagai pelanggan tetap.
"Ini dia cokelat panasmu, Luhan, seperti biasanya," Albert pelayan setengah baya yang selalu tampil trendy dengan kemeja putih dan rompi hitamnya meletakkan pesanan Luhan di mejanya.
Luhan tersenyum kepada Albert, "Terima kasih Albert."
"Kali ini kau tidak bersama Tuan Sehun lagi?" Albert bertanya, karena seringnya Luhan berkunjung ke restaurant ini setiap sore sepulang kerja membuatnya akrab dengan beberapa pelayan di sini, termasuk Albert yang sudah seperti temannya.
Luhan mengernyit menatap Albert, "Aku hanya satu kali datang bersama dia. Kenapa kau menanyakannya?"
Albert tergelak. "Karena Tuan Sehun adalah pelanggan tetap cafe ini, tetapi sebelumnya dia tidak pernah membawa satupun perempuan kemari. Kaulah yang pertama, jadi kupikir kau istimewa."
Luhan mengernyit menerima informasi itu, lalu dia menghela napas panjang. "Aku dan Sehun akan menikah."
"Oh ya?" Albert membelalakkan mata dan tersenyum lebar, "Wow. Kalau begitu aku harus memberimu selamat." lelaki itu mengamati Luhan dengan teliti, "Tetapi kenapa kau tampaknya tidak bahagia, Luhan?"
"Karena aku masih ragu dan takut. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya."
"Para calon pengantin biasanya memang meragu dan ketakutan." Albert mengedikkan bahunya kepada cangkir cokelat Luhan, "Pegang omonganku Nona, jangan pernah ragu ketika harus menjalani pernikahan. Kau lihat ini? Cokelat itu pada dasarnya pahit, tetapi dia diolah sedemikian rupa, dengan gula dan susu, dengan takaran yang pas sehingga bisa menjadi secangkir minuman yang terasa nikmat untukmu. Begitupun pernikahan, semua pernikahan menyimpan resiko kepahitan di dalamnya, tetapi kalau kau bisa mengolahnya dengan baik, pasti kau akan menemukan rasa manis yang nikmat di dalamnya." Albert mengedipkan matanya, lalu melangkah pergi, meninggalkan Luhan yang termenung sendiri sambil menatap cangkir berisi cokelat panas di hadapannya.
…..
"Kau mau yang seperti apa?" Sehun mengedikkan bahunya kepada jajaran cincin-cincin pernikahan yang diletakkan berjejer dalam kotak beludru di atas etalase.
Luhan mengamati cincin-cincin itu, luar biasa mewahnya, tetapi tentunya cincin yang dipersiapkan untuk pengantin Sehun pasti akan luar biasa bukan?
"Cincin ini tidak akan pernah kugunakan," Luhan bergumam lirih kepada Sehun, takut kedengaran petugas took perhiasan itu, "Mungkin kau pilihkan saja yang sesuai seleramu."
Sehun menatap Luhan tajam, lalu mengangkat bahunya.
"Oke. Yang itu."
Luhan melirik pada pilihan Sehun dan membelalak, sepasang cincin itu memang begitu indah di dalam kotak beludru warna hitam itu. Cincin untuk laki-lakinya begitu maskulin tetapi yang mengganggu adalah cincin untuk perempuannya yang dihiasi dengan batu berlian yang begitu besar berkilauan, terasa berlebihan.
"Tidakkah kau bisa memilihkan cincin yang lebih sederhana?" gumam Luhan ketus.
Sehun tertawa, "Aku akan memilihkan yang itu untuk calon isteriku, lagipula kau tadi bilang mau yang sesuai seleraku."
"Aku berubah pikiran," gumam Luhan sambil melirik sinis, "Yang itu saja."
Sehun mengangkat alisnya melihat cincin pilihan Luhan, sepasang cincin dengan uliran sederhana tetapi elegan, hanya cincin polos dengan variasi uliran indah buatan tangan. Tanpa batu berlian apapun.
"Terlalu polos dan sederhana," gumam Sehun tidak suka.
Luhan menatap Sehun tajam, "Pokoknya yang itu."
Sehun terkekeh, geli dengan kekeraskepalaan Luhan.
"Oke… Oke… Baiklah." dia melirik kepada Manager took yang menunggu mereka, "Kami ambil yang itu."
Ketika Manager toko menyiapkan cincin itu, Luhan berbisik pelan kepada Sehun.
"Kau membeli sesuatu yang jelas-jelas tidak akan digunakan… Bisakah nanti kau menjual cincin itu kembali kalau perjanjian sandiwara kita ini gagal?"
Sehun melirik Luhan seolah tersinggung, "Harga cincin itu tak seberapa," gumamnya tenang, "Jangan kau pikirkan, tidak apa-apa."
Ketika mereka menerima kotak cincin itu, ponsel Sehun berbunyi. Lelaki itu mengangkatnya dengan tenang. Lalu setelah menerima penjelasan dari ujung sana, wajahnya memucat, berubah tegang.
"Luhan, kita harus ke rumah sakit segera. Mama tadi sesak napas, lalu pingsan. Sepertinya jantungnya. Kita harus ke rumah sakit sekarang."
…..
Mereka setengah berlari menuju lorong rumah sakit tempat mama Sehun ditangani, dan menemukan Mama Sehun terbaring lemah di ruang ICCU rumah sakit. Masih dalam penanganan dokter. Yang bisa mereka lakukan hanyalah mengintip dari dinding kaca di ruang ICCU.
Kyungsoo yang menyambutnya di sana bersama Kai, perempuan itu menangis sesenggukan, "Sehun Oppa, mama pingsan, tadi kondisinya mengkhawatirkan... Tetapi sekarang kata dokter sudah sadar."
Sehun menatap cemas ke arah ruang ICCU, "Sudah bolehkah kita menengoknya?"
Kyungsoo mengangguk, "Tadi aku sudah menengoknya, tetapi mama belum sepenuhnya sadar... Kata dokter pengunjung boleh masuk, asalkan satu-satu."
Sehun menghela napas panjang, "Aku akan menengok mama dulu," gumamnya sambil melangkah memasuki ruangan ICCU yang tertutup itu.
…..
Lama kemudian, Sehun tidak keluar. Kai masih memeluk Kyungsoo yang terus menerus memandang cemas ke arah pintu itu. Sementara Luhan berdiri dengan bingung, tangannya memeluk tubuhnya sendiri.
Kemudian pintu terbuka dan Sehun melangkah keluar, wajahnya tampak pucat pasi, tetapi matanya menyala penuh tekad. Lelaki itu langsung melangkah lebar-lebar dan berdiri di depan Luhan.
Luhan menatap Sehun bingung. Ada apa?
Tak disangkanya, sedetik kemudian, Sehun berlutut di depannya dengan posisi melamar, mengeluarkan kotak cincin itu dan menunjukkannya kepada Luhan,
"Luhan, maukah kau menikah denganku, segera?"
.
.
.
.
.
.
T.B.C
a/n:
CIYEEEH LUHEEEEN DILAMAAAR, AKU KAPAN HUUUUUN. HALALIN AKUUUUH /plak/
Tuh, luhen dah dilamar, masalahnya, luhen mau ga tuh? /smirk/
Bahahahahaha, see you next week.
Bubay cintakuh
