Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
La Princesse et Le Cheval © MiracleUsagi
Penulis tidak mengambil keuntungan apapun dari penulisan fanfiksi ini. Penulis hanya meminjam karakter milik Isayama-sensei untuk dinistakan.
Hati-hati dengan misstypes, OOC, dan bahasa yang tidak baku. Fem!Eren. Kingdom!AU. Lime contain!
Jean mengistirahatkan bahunya di bawah pohon oak. Ia baru saja menyelesaikan satu permintaan dari orang. Beberapa kepingan emas ia masukkan ke dalam kantong celananya. Musim panas tidak akan berlama-lama datang. Jean mengusap peluh yang turun. Matanya memicing demi melihat dua orang yang datang menghampirinya.
"Jean! Bonjour!" Connie rupanya. Ia sumringah berjalan di samping Elena.
Jean hanya melambaikan tangan menanggapinya. Connie langsung duduk di sebelah Jean, menghirup udara panas. Elena menjulurkan bungkusan kain pada Jean. Jean mengernyit bingung.
"Makanan dan air. Kasihan ibumu kalau kau mati sekarang karena kelaparan." Elena menyodorkan bungkusan itu ke dalam genggaman Jean.
"Oh, merci."
"Asyik ya, pengantin baru." Connie mengomentari sambil menguap.
"Jangan ngawur tuyul. Nasibmu juga tidak jauh berbeda denganku." Jean mendengus kasar.
Connie merebah ke rerumputan. Matanya memejam kesal. "Seandainya yang menjadi istriku adalah Elena, maka kuda binal ini akan kugilas dengan alat bajak."
"Hati-hati, bisa saja kau malah terpelanting alat bajak saking kecilnya tubuhmu."
"Hei!" Connie bangun dan meninju bahu Jean yang terpingkal. "Dasar kuda beruntung. Asal kau tahu, Elena itu bisa saja jadi putri kampung jika tidak ada siluman kuda yang menikahinya."
Jean mengunyah makanan yang dibawa Elena, malas menanggapi Connie yang bercuap-cuap sebal. Elena tertawa mendengar kalimat Connie. Mata zamrudnya berbinar-binar. Jean sukses salah fokus.
"Omong-omong soal putri, aku dengar dari para pedagang putri mahkota hilang saat acara perjodohannya." Connie mengganti topik.
"Putri mahkota?" Elena bertanya penasaran.
"Iya. Suruhan kerajaan sudah mencarinya dan menyisir sampai ke daerah sini. Namun percuma saja, warga termasuk aku tidak tahu di mana dia. Rakyat tidak pernah tahu wajahnya. Hanya dari isu kami tahu bahwa ia amat cantik."
Elena terdiam mendengarnya. Masuk akal juga karena daerah sini cukup terpencil oleh karena hutan lebat yang mengelilingi. Jean tidak menanggapi, makanannya habis dan sekarang ia meneguk air dari kantung kulit.
Connie tiba-tiba menepuk kedua tangannya, bersemangat. "Kalau diingat-ingat, bukannya kau pernah bertemu dengannya kan, Jean?"
"Hah?"
"Dulu waktu kecil kau sering cerita bahwa kau dan putri mahkota bersahabat!"
Jean menatap risih pandangan Connie yang kelewat ingin tahu. Elena juga sama penasarannya dengan Connie. Lagi-lagi mata bulatnya berpendar cantik. Jean menghembuskan napas kasar.
"Hanya sekali duakali aku bertukar surat dengannya! Lagipula, dia itu setipe dengan anak rumahan. Selalu terkurung di ruangannya. Jadi akupun tidak pernah bertemu langsung dengannya."
Connie yang mendengarnya kecewa. Ia merebahkan diri lagi, merasakan hembusan angin. Elena tetap menatap Jean penasaran, menanti kelanjutan ceritanya.
"Hanya satu kali…" Jean menatap daun oak yang bergoyang karena angin. "Sekali kesempatan aku pernah melihatnya."
Connie kembali serius mendengarkan.
"Waktu itu aku bosan, lalu iseng memanjat pohon maple di dekat tembok istana. Saat aku puas menatap pemandangan dari atas sana, aku melihat ke jendela perpustakaan istana. Di sana ada seorang gadis yang sedang tidur terduduk di samping jendela. Aku segera sadar itu adalah putri mahkota. Itu pertama dan terakhir kali aku melihatnya. Setelah itu ayahku mengajakku pindah ke sini."
Connie manggut-manggut. Nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya terbaring tidur lagi. Elena menatap Jean dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Ia akhirnya membuka mulut.
"Jean, kau pernah tinggal di ibu kota kerajaan?"
Jean mengangguk singkat. "Ayahku dulunya kepala asisten di sana. Aku juga pernah tinggal di wilayah istana." Katanya bangga.
"Kenapa ayahmu pindah ke sini?"
"Entahlah. Dia bilang rindu dengan bau kampung dan ladang gandum."
"Jean…" Elena menatap Jean dengan pandangan berbinar itu lagi. "Ceritakan lagi saat kau melihat gadis itu." Pintanya.
"Yah…." Jean menggaruk tengkuknya. "Sudah kubilang dia sedang tertidur. Rambutnya pendek, gelap. Wajahnya cantik—ya, silahkan bilang pada Connie bahwa isu kecantikan itu bukan bohong—dan yang membuatku cukup kaget, dia tidur sambil memeluk buku yang kuselipkan bersama suratku sehari sebelumnya."
"Tunggu dulu." Potong Elena. "Bagaimana caramu memberinya surat?"
Jean terkekeh. Menaruh telunjuknya pada bilah bibir. "Itu rahasia."
Elena manyun. Pipinya menggembung seperti ikan. "Beritahu aku!"
Jean tertawa. Tangannya mencubit kedua pipi kemerahan itu sampai empunya menjerit kesakitan.
"Aku selipkan di bawah batu di sebelah bale-bale. Awalnya aku hanya iseng mencari sahabat pena, karena tinggal di sana sepi sekali rasanya. Aku tulis surat yang berisi curhatan pribadiku, malah putri itu mengambilnya dan membalasnya."
Pandangan Jean mengawang jauh, ia tersenyum. "Waktu itu rasanya senang sekali, ada yang bersedia menemaniku walau hanya lewat surat. Terlebih lagi dia adalah putri mahkota."
"Itu sebabnya mengapa aku kaget saat gadis barbar yang terluka karena mencumbu batu tiba-tiba mengaku sebagai putri mahkota dengan memakai namanya." Jean menjepit hidung Elena dengan telunjuk dan jari tengahnya.
"Soalnya hanya nama itu yang tiba-tiba terlintas di pikiranku!"
"Iya ikan…"
"Kok ikan?!"
"Pipimu mirip ikan mas yang megap-megap mencari air."
"Kurang ajar!"
=00=
Elena melamun di bingkai jendela. Langit terang benderang karena bulan penuh tanpa awan mendung. Bebintangan berpendar lembut, beberapa menunjukkan rasi yang cantik. Elena memegang keningnya, satu kepingan memori datang masuk ke dalam pikirannya. Aneh. Elena tidak merasa kesakitan. Perlahan kepingan memori itu memvisualkan ruangan besar yang dipenuhi rak-rak tinggi.
Elena berjalan menyusuri lorong-lorong rak. Jemarinya menyentuh buku-buku tebal yang menjadi penghuni pada tiap rak. Pandangannya jatuh pada buku di pelukannya. Entah mengapa ia terus memeluk buku itu sampai ke ujung jendela. Elena duduk di salah satu bangku, mulai membuka dan membaca. Udara hangat masuk lewat jendela, membuat matanya berat. Ia menyandarkan punggungnya, memejam demi merasakan lagi hembusan hangat dari luar.
Tenang sekali. Tanpa sadar bibir kecilnya tersenyum. Rambut cokelatnya bergoyang terkena angin, menggelitik lehernya. Suara berisik daun maple di luar menginterupsi ketenangannya. Perlahan ia membuka mata, mengucek demi mengusir pandangan kabur. Mata hijaunya membola saat bertatapan dengan anak lelaki sebayanya. Elena kembali mencium aroma kayu manis. Sebuah tepukan ringan membuatnya menoleh.
"Kenapa menangis?"
Elena tersentak segera meraba kedua pipinya yang basah. Kebingungan, ia cepat-cepat mengusap air matanya dan kembali menatap Jean.
"Bukan apa-apa. Kenapa tidak tidur?"
"Belum ngantuk." Jawab Jean singkat. "Kau sendiri?"
"Barusan aku seperti melihatmu." Elena cepat-cepat melanjutkan sebelum Jean ber-hah bingung. "Maksudku, kamu dalam wujud anak laki-laki. Entahlah, lupakan saja. Mungkin hanya imajinasi." Elena mengibaskan tangannya. Mengenyahkan segala pikiran dari hal barusan.
"Tidak kusangka orang sepertimu punya ketertarikan pada anak kecil."
"Bukan begitu!"
Jean terpingkal sambil sibuk menghalau tangan Elena yang hendak memukulnya. Elena menyerah, ia kembali menatap bebintangan tapi dengan air muka kesal.
"Putri mahkota kok mau ya berteman dengan kuda nggak sopan ini?" Katanya sebal.
"Mana aku tahu. Anak-anak pasti lebih mementingkan kesenangannya daripada memikirkan pertanyaan sesulit itu." Jean berhenti sebentar. "Makanya, waktu aku meninggalkannya untuk pindah ke sini, aku merasa sangat sedih sekaligus bersalah. Aku tidak berani memberitahunya."
Mata Elena mengerjap-ngerjap. "Dia pasti sedih, tuh…"
"Hm." Jean mendesah. "Mendengar kabar dia hilang juga membuatku sedih."
"Jean, kamu suka pada putri mahkota, ya?" Pertanyaan polos Elena membuat pori-pori pipi Jean menghangat.
"Cuma rasa suka semasa kanak-kanak, sudah lupakan saja."
"Oh? Cinta pertama?" Elena menyeringai usil. "Uh-oh, pipimu merah Jean! Jangan-jangan itu benar—"
Elena berhenti menggoda ketika Jean dan wajah tersipunya mendadak berubah serius. Tangan besar Jean menangkup kedua pipi kenyal Elena. Wajah Jean mendekat hingga pucuk hidung mereka saling bersentuhan.
"Jangan dilanjutkan. Atau kucium sampai mati."
Elena hendak tertawa. Baru kali ini ia mengusili si pria kuda sampai salah tingkah. Sampai mengancam segala.
"Aku tidak mau."
"Baiklah."
Elena kaget ketika bibir Jean menyapu miliknya. Tangan kanan Jean beralih menuju tengkuknya, sedang yang kiri turun menuju pinggangnya. Jean melepas kecupan singkat itu, menjilat sebentar sebelum akhirnya melumat bibir sewarna koral yang menganga tidak siap. Tangan Jean mendorong Elena lebih dalam hingga membuat gadis itu berjinjit untuk menyamai tingginya. Jean makin jauh bertindak dengan melibatkan lidahnya. Menggigit, menghisap, menelusuri rahang atas dan bawahnya. Mengunci pasokan udara yang hendak masuk ke rongga mulut Elena. Elena merasa sesak namun aroma kayu manis memenuhi seluruh mulutnya. Aroma itu membuatnya tidak berdaya, tangannya kehilangan kekuatan untuk mendorong yang lebih tinggi untuk menyingkir. Melihat Elena yang mulai lemas kehabisan napas, Jean melepaskan kunciannya. Ia mencium lembut Elena sebelum menarik bibirnya menjauh.
Ia menatap gadis yang tengah menarik napas panjang-panjang dengan merah menjalar sampai ke telinga. Kontraksi dari paru-paru membuat dada keduanya saling mendorong. Setelah mendapatkan cukup pasokan oksigen Elena mendorong Jean menjauh. Jantungnya berdesir lebih cepat. Syok masih mendominasi ruang pikirnya.
"Apa yang kau lakukan!?" Jeritnya.
Jean masih terdiam membeku. Otaknya juga meneriakkan kalimat yang sama. Apa yang gerangan baru ia lakukan!?
Elena mundur, berbalik, menoleh ke mana saja asal bukan ke wajah Jean yang malah melongo. Diam-diam Elena meraba bibirnya yang merah. Lidahnya mengecap-ngecap. Rasa legit kayu manis masih tersisa di sana.
"A-aku minta maaf!" Jean kembali dari kesadarannya. "su-sumpah itu benar hanya gertakanku, tapi…. Kumohon maafkan aku!"
Elena kembali mundur, terdiam. Ia ingin menjerit tapi jantungnya yang berdetak kencang membuatnya lemas. Ia menggeleng lalu berbalik jalan meninggalkan Jean yang tidak memiliki klu sama sekali.
Jean menggeram, merutuki diri sendiri. Bisa-bisanya kelepasan. Tapi itu salah Elena juga, kenapa degil menantang gertakannya. Tapi salah dia juga kenapa main sosor saja. Jean memukul kepalanya ke tembok rumah.
Bodohbodohbodoh—
Tapi—
Bibir Elena enak juga rasanya.
Detik itu juga, kening Jean benjol karena headbang.
=00=
Connie terpingkal-pingkal sampai jatuh ke tanah. Pemandangan Jean yang keluar rumah dengan kantung mata dan benjol besar di kepala membuat kotak tertawa laki-laki bertubuh kecil itu meledak. Jean mendelik kala tetangga kampretnya itu berteriak-teriak mengumumkan soal Jean yang ketiban sial sampai-sampai ada apel berbuah di keningnya.
"Diam tuyul! Aku sibuk sana urusi saja ladangmu!" Jean mendesis kesal. Kepalanya berdenyut, sakit sekali. Matanya berat dan tubuhnya lelah karena insomnia semalaman. Pokoknya Jean sedang dalam mood yang buruk, jangan coba-coba mengganggu atau kau mau tergilas oleh alat pembajak keluaran terbaru.
"Astaga Jean. Hari ini aku sedang ingin libur! Makanya aku ingin mengajakmu ke bar!" Connie mendengus pada Jean yang tidak menggubrisnya. Sudut matanya melihat Elena dari ambang jendela. Gadis itu sekilas menatap Jean dengan sebal lalu segera berbalik pergi menjauhi jendela. Connie menyeringai. Hidungnya mencium aroma pertengkaran.
"Hei Jean! Yakin tidak ingin ke bar? Aku tahu kau sedang ada masalah dengan Elena."
"Terus?"
"Berbagi ceritalah! Tidak baik menyimpan perkara dalam hati, lho."
"Bodo amat."
Connie tidak menyerah untuk membuat Jean ikut dengannya. Ia berjalan cepat demi menghadang pria itu.
"Aku traktir."
"Kata pendeta Nick, uang dari tuyul itu haram, lho."
"Woi. Jangan panggil tuyul, dong!"
Langkah Jean—yang sudah disengaja dipercepat—kembali dihadang oleh Connie. Pria dengan manik karamel itu mendecak sebal.
"Jangan bilang kau takut mabuk karena segelas rootbeer?"
Gengsi Jean mendadak tersentil. Connie tertawa jahat dalam hati. Gotcha!
"Kau benar-benar tuyul sejati, ya."
=00=
Elena berjalan menyusuri pinggiran sungai. Sesekali diambilnya kerikil dan dilemparnya ke badan sungai untuk melampiaskan emosi. Pikirannya kalut oleh kejadian semalam. Elena menepuk kedua pipinya. Hanya mengingatnya saja jantung Elena kembali berdetum-detum.
Elena ingin marah, tapi tidak tahu siapa yang harus ia marahi. Dirinya atau Jean. Atau kebebalannya? Atau nasibnya?
Begitu curangnya menjadi seorang Jean, pikir Elena. Punya sifat menyebalkan sekaligus perhatian. Kamu tidak bisa menyukainya, pun membencinya. Curang sekali. Punya mata tajam yang tiap kali ditatap dapat membuat kedua pipi merona. Juga bibir tipis dan aroma kayu manisnya.
Elena menjerit kecil kala pikiran absurdnya yang tiba-tiba merasa nagih.
Ia berjalan cepat-cepat. Menendangi semua yang ada di hadapannya. Hingga satu batu sungai medium size yang melambung karena ayunan kakinya dan meluncur jatuh dengan nistanya ke bokong seorang pria yang sedang nungging mengambil air.
Astaganaga.
Elena terdiam kehabisan kata-kata. Sungguh nista sekali pria itu. Elena tidak mengenalnya, bukan warga kampung. Mungkin pengembara. Tapi mana ada pengembara memakai pakaian yang nampak mahal. Elena tersenyum kikuk lalu menyapanya.
"B-bonjour, Monsieur…"
Tidak disangka, pria itu menjatuhkan kantung airnya. Dengan mata berkilat tajam, ia menghampiri Elena dengan langkah lebar-lebar. Elena tersentak saat ibu jari pria itu mengusap wajahnya. Pria itu tersenyum samar, tidak menggubris Elena yang bertanya kebingungan. Mulut Elena terkatup saat pria itu menggandeng tangannya.
"Ayo, kita kembali ke istana sekarang. Mademoiselle."
Elena cuma berharap, ada warga yang iseng ke sungai lalu mendengar jeritan 'kya'-nya yang tiba-tiba diseret pria asing dengan sorot mata mengerikan.
Bersambung….
Glosarium :
Rootbeer : minuman tradisional yang kebanyakan mengandung alkohol dan disajikan di bar—liat di film-film country, rootbeer banyak cameonya—umumnya di Amerika Utara.
A/N
Tidak bisa berkata-kata lagi karena saia nulis chapter ini dengan hati fuwa-fuwa pake efek chira-chira.
Oh ya, kotak review masih terbuka lebar bagi siapapun yang mau kasih kritik dan saran loh... *wink*
Salam, MiracleUsagi.
