Pairing : Haruno Sakura x Naruto Uzumaki
Rate : T atau M ?
Genre : Friendship, romance, humor, hurt/comfort
Disclaimer : Naruto © milik Masashi Kishimoto *kalau punya aku beuuuuuuh (?)
WARNING : 00C, alur gaje cerita buatanku, lebay (mungkin), author masih pemula (maklumi), untuk yang sengaja maupun yang tidak sengaja membaca fanfic abal-abal ini tolong komen ya *0* (plak).
Don't Like (T0T) Don't Read (0)
.
.
.
Chapter : 5
I care
.
.
.
Sakura kembali menarik napas dalam-dalam saat beberapa menit lalu ia melewati gerbang itu, gerbang yang menghubungkannya dengan pesta itu berada. Emerald-nya berbinar saat melihat apa yang tengah mengelilinginya, pemandangan yang bahkan Sakura impikan untuk berada didalamnya, sebuah pesta. Dengan gaun yang indah bak seorang putri.
Kaki jenjang Sakura terus melangkah seakan mencari tujuannya saat ini, yaitu mencari Naruto. Sejak tadi dia belum melihat siBlonde itu, mau menelpon tapi Sakura tidak tahu nomor teleponnya. "Merepotkan saja," gumam Sakura.
Sakura kembali melangkahkan kakinya, masuk lebih dalam kepesta itu. mata Emeraldnya mencari sosok Naruto, tapi masih belum juga terlihat. Sekilas Sakura melihat seseorang yang familiar baginya. Sakura menajamkan pengelihatannya, dan alangkah terkejutnya saat ia mengetahui siapa orang itu. Memakai Tuxedo putih, berbeda dengan para pria disekelilingnya, ditambah lagi warna rambutnya yang begitu mencolok, merah bata.
Bibir Sakura bergetar saat ingin menyebutkan nama pria itu, "Ga-Gaara?" ujarnya seraya menutup mulutnya.
Air mata sudah tidak dapat dibendungnya, sungguh sudah lama sekali Ia tidak melihat sosok pria bertato 'Ai' itu. ingin sekali Ia memeluknya, memberikan kecupan, dan mengatakan bahwa Sakura sangat merindukannya. Tapi siapa dirinya, mengetahui kenyataan bahwa ia hanya sekedar teman bagi Gaara, bahkan mungkin itu dulu. Sekarang, entah Gaara menganggapnya apa, mungkin pengganggu, orang tidak tahu diri, atau lainnya.
Sementara itu.
"Gaara, kau melihat apa?" Tanya seorang perempuan berkuncir empat pada Gaara.
Tatapan Gaara tetap tidak berubah, "Tidak, tidak ada apa-apa." Jawabnya seraya pergi dari tempat itu.
Temari mengertukan alisnya melihat sifat adiknya itu, karena penasaran Temari segera melihat kearah yang tadi dilihat oleh Gaara. Mata wanita itu membulat saat melihat seseorang diseberang sana, berdiri dengan tatapan yang sulit diartikan, Dress-nya tertiup angin malam, rambut Softpink-nya yang mencolok sangat familiar bagi Temari.
"Di-dia kan, Sakura?" gumam Temari tidak percaya.
Saat itu pun sosok Sakura pergi dari tempatnya berdiri. Ingin sekali Temari menemui sosok yang sudah dianggapnya sebagai adik itu. tidak dapat dipungkiri dia sudah sangat merindukan Sakura, lalu bagaimana dengan Gaara, apakah adik kandungnya itu juga merindukan Sakura?.
Langkah Sakura sedikit gontai dan lemas, entah apa yang terjadi padanya saat ini, sepertinya karena tadi dia melihat Gaara, mata Emeraldnya tidak lagi bercahaya, wajahnya sendu dan menunduk. Beberapa menit Ia berjalan tanpa tujuan, akhirnya dia berhenti tepat disebuah danau –tempat dimana Hinata hampir terjatuh.
Bayangan pantulan air menghiasi wajahnya, Sakura menatap bulan diatas sana, menggantikan cahaya sang matahari dimalam gelap ini, tapi tak ada bintang mendampinginya. Terasa begitu…
"Hampa," ujar Sakura masih dengan posisi yang sama.
"Tidak se-hampa kehidupanku tanpamu, Sakura." Ujar seseorang dibelakang Sakura.
Sakura tersadar dari lamunannya, dan dengan segera ia menoleh kebelakang. Betapa terkejutnya ia saat melihat sosok itu. mata Zade menatapnya sendu, rambut merahnya bergerak seirama dengan hembusan angin malam.
Sakura masih belum mengatakan apa-apa sebagai ekspresinya melihat pemuda dihadapannya kini. Bibirnya kembali bergetar, memori dan kenangan tentang pemuda itu tiba-tiba terlintas dipikirannya. Alhasil air matanya tak bisa dibendung untuk yang kesekian kalinya.
Melihat Sakura yang menangis dan itu karena dirinya, Gaara segera memeluk Sakura. Menutup mata Zadenya untuk melepaskan kerinduannya pada gadis itu. "Maaf," bisik Gaara tepat ditelinga Sakura.
Sakura menggigit bibir bawahnya lalu tangannya memukul dada Gaara berulang kali diringi isakan tangisan dan kata-kata "Kau jahat!". Gaara bergeming dan tetap memeluk Sakura erat, tidak peduli dengan rontaan dari gadis itu. beberapa saat Sakura meronta akhirnya Ia menyerah dan kembali terdiam dipelukan pemuda bertato 'Ai' tersebut. Jujur saja, Sakura merasa nyaman dengan pelukkan ini, pelukkan kasih sayang.
"Maafkan aku, Sakura." gumam Gaara mengecup puncak kepala Sakura.
Sakura berhenti terisak, "Kenapa Gaara, kenapa dulu kau seperti itu padaku?" tanya Sakura.
Gaara melonggarkan pelukkannnya dan menatap Sakura, menatap Emerald itu dalam-dalam, sejauh yang ia bisa. Gaara tahu, dan dia sadar jika mata itu menyiratkan sebuah kekecewaan terhadap dirinya. Ingin sekali Ia menghapus tatapan itu, ya, harus.
Cup. Dengan lembut Gaara mengecup kelopak mata Sakura tepat saat Sakura menutup matanya. Gadis itu pun tak keberatan dengan perlakuan Gaara.
"Aku sangat merindukanmu, Sakura." ujar Gaara menatap Sakura.
Sakura kembali terisak, "Aku juga merindukamu."
.
~Skip time~
.
"Jadi ini yang disebut pertemuan Kage ya?" gumam Sakura yang kini tengah berjalan dengan Gaara.
"Begitulah,"
Ya, beberapa saat setelah mereka melepaskan rasa rindu dan saling berbagi cerita setelahnya. Mereka memutuskan kembali kepesta. Disetiap langkahnya mata Sakura tak lepas untuk sekedar melirik sosok Gaara, sosok yang kini sudah menjadi pemuda yang tumbuh dewasa dengan paras diatas rata-rata.
Pasti banyak wanita yang menyukainya, sebagai seorang pria. Andai saja kejadian dimasa lalu yang membuatnya berpisah dengan Gaara tidak terjadi, mungkin saja Sakura sudah sangat jatuh hati pada pemuda ini, tapi bukankah saat ini juga memang begitu?.
Sakura menghentikan langkahnya saat melihat sosok yang familiar muncul dibalik pintu besar itu, pintu yang menghubungkan pintu utama memasuki gedung Clan Namikaze. Sosok pemuda Blonde berjalan gontai dengan tangan kanan memegang samping kepalanya.
"Naruto?" gumam Sakura heran melihat keadaan Naruto, wajahnya agak pucat, walaupun kasat mata tapi Sakura tahu itu.
Emerald Sakura masih memperhatikan kemana arah Naruto berjalan, ternyata disana terdapat beberapa pemuda yang seusia dengannya sedang berbincang satu sama lain. Mungkin mereka adalah teman Naruto, mata Sakura melirik sosok wanita yang sedang menghampiri Naruto bersandar disalah satu tempat duduk disebelahnya. Paras wajah dan gelagat wanita itu membuat Sakura kaget, warna rambut Indigo, mata Lavender-nya, cara bicara pemalu itu, semuanya mirip dengan…
"Hinata?" ujar Sakura tak percaya.
Gaara yang sedari tadi memperhatikan MC yang sedang membuka acara kini mengalihkan pandangannya karena Sakura berbicara sesuatu.
"Ada apa, Sakura?" tanya Gaara.
Sakura menoleh, "Akh? bukan apa-apa," jawab Sakura. "Hanya saja~" Sambungnya.
Gaara mengerutkan alis saat Sakura menggantung kalimatnya seperti itu, penasaran. Akhirnya Gaara mengedarkan pandangannya kearah sorot mata Sakura, ternyata ada didepan sana. Empat pemuda yang seumuran dan salah satunya adalah pemuda yang dulu pernah berjabat tangan dengannya, lalu satu orang wanita dengan paras wajah yang, sepertinya Gaara pernah melihatnya.
Sekali lagi pemuda 'Ai' itu mengertukan alis, "Bukankah wanita itu adalah tunangan Namikaze-san?" tanya Gaara pada Sakura.
Sakura menoleh dengan ekspresi bingung, "Apa maksudmu?"
Telunjuk Gaara mengarah kearah dimana Hinata berada, "Wanita itu," Gaara menoleh pada Sakura "Adalah tunangan Namikaze Naruto-san."
Deg.
Tiba-tiba Sakura merasa aneh pada dirinya, sesak. Beberapa detik Ia menahan napas hanya untuk mencerna perkataan Gaara. Naruto dan Hinata, ternyata mereka sudah…
"Bertunangan?" gumam Sakura lirih.
#
Sakura Pov
Ada apa denganku? kenapa terasa sesak didada. Kenapa setelah tahu bahwa Naruto sudah bertunangan perasaanku jadi aneh?. mataku kembali melihat kearah dimana Naruto berada, disana terlihat Hinata yang begitu mencemaskan keadaan Naruto, mungkin itu adalah hal yang wajar mengingat status mereka sebagai tunangan.
Tapi kenapa?
Ada apa dengan perasaan ini?
Atau jangan-jangan aku sedang…
"Cemburu?" ujar Gaara tiba-tiba.
Aku langsung menoleh saat mendengar pertanyaan Gaara, atau mungkin menurutku lebih tepat sebagai sebuah pernyataan. Emeraldku menatap Gaara bingung, meskipun aku sendiri tahu kalau mungkin kini aku sedang err~ cemburu. Gaara hanya menatapku sambil tersenyum simpul, aku semakin bingung dibuatnya. Lalu dengan tiba-tiba tangannya menggenggam tanganku, alhasil wajahku memerah bak kepiting rebus. Genggaman tangannya begitu hangat dan~nyaman.
"Apa kau cemburu karena mereka adalah sepasang kekasih?" tanya Gaara masih menatapku.
Tampaknya kini otakku sedang berada dilevel terendah, sangat lamban merespon perkataan Gaara, atau memang kata-kata Gaara yang aku tidak mengerti? entahlah.
"Kita juga bisa seperti mereka, kalau kau mau." Sambungnya.
Aku terlonjak kaget, kenapa tiba-tiba saja dia berbicara seperti itu? apakah saat ini dia sedang menyatakan perasaannya? Atau hanya bercanda. sorot mata Zade-nya begitu lurus menatapku dan membuatku terperangkap didalamnya, sejak kapan Gaara memiliki tatapan seperti itu? sungguh membuat hatiku luluh. Beberapa detik aku pasti terus berkutat dengan pertanyaan serupa didalam batin ini jika saja Gaara tidak menyadarkanku.
"Sakura?"
Aku menggelengkan kepalaku perlahan, "Ma-maaf Gaara,"
"Maaf? apa kau menolakku?"
Bodoh! kau bodoh Sakura, kenapa kau tidak sadar jika Gaara sedang memberimu pertanyaan yang bahkan harus kau berikan jawabannya dengan tepat, bukan dengan pikiran kosong seperti ini, dan kini Gaara berpikir jika kau tidak peduli dengan perasaannya. Sungguh, jika kau mengikuti tes IQ disebuah sekolah dasar dijamin kau-lah yang memiliki level paling rendah untuk saat ini.
Aku segera mengibaskan lenganku beberapa kali untuk menepis maksud dari jawabanku tadi, sungguh aku tidak sadar jika aku berbicara seperti itu. "Bu-bukan Gaara, ano itu, aku~" Akh kini aku benar-benar seperti Hinata.
Gaara memalingkan wajahnya dariku, oh ayolah! apakah sekarang dia marah padaku? tapi pikiranku langsung berubah saat melihat raut wajah Gaara selanjutnya, dia mengerutkan alis saat melihat kearah lain, sepertinya tempat dimana Naruto berada. Belum sampai beberapa detik tangan kekarnya menarik tanganku dan membawaku menuju tempat dimana Naruto berada, apa maksudnya ini?.
"Konbanwa, Uzumaki-san," sapa Gaara saat berada dihadapan Naruto.
Aku melirik kearah Naruto, dan tubuhku serasa gemetar saat melihat tatapannya, begitu dingin dan menusuk. Akupun segera memalingkan wajah gugup, tak sadar sedari tadi Hinata menatapku bingung, mungkin karena kehadiranku disini. Karena terlalu sibuk dengan pikiran, aku sampai lupa menyapa Hinata.
"Sa-Sakura? kenapa ada disini?" tanya Hinata bingung.
Akupun segera menoleh ke-arahnya, "Umm, itu~" Haruskah aku beritahu yang sebenarnya tentang kehadiranku kesini karena sebuah perintah dari majikanku itu –Naruto, yang entah kini sedang mengeluarkan ekspresi seperti apa, aku tidak berani utnuk melihatnya. Tunggu dulu, memangnya untuk apa aku takut dan gugup jika Naruto menatapku seperti itu? dia bahkan tidak tahu siapa Pemuda yang berada disampingku kini –Gaara.
"Sakura," panggil Naruto dengan suara –agak parau?
Aku menoleh kearah Naruto, ternyata kini dia sedang menutup mulut dan wajahnya yang terlihat begitu pucat. Apa dia sakit? akupun segera menghampirinya dan menatap wajah Tan-nya.
"Kau sakit, Naruto?" Tanyaku khawatir.
Tiba-tiba Naruto mencengkram pergelangan tanganku erat, sementara wajahnya terlihat sedang menahan sakit. Aku semakin panik dibuatnya, dengan segera aku melihat sekitar. Hinata yang sedari tadi bertanya apakah Naruto baik-baik saja, Sasuke yang juga memanggil Naruto khawatir dan pemuda berkulit pucat yang entah siapa itu terlihat sedang menghampiri para Bodyguard, lalu Gaara?. Saat Emerald-ku melihat kearahnya, Iapun sedang melihat kearahku dengan –tatapan apa itu?.
Dia begitu heran melihatku bersama Naruto, seakan menanyakan 'Apa hubunganmu dengannya?'.
Jangan-jangan Gaara berpikir kalau aku dan Naruto, "Gaara aku~"
BRUK!
Apa ini? berat sekali. Mataku terbelalak saat apa yang menimpa kedua pahaku kini, yaitu Naruto. Dia pingsan dengan napas yang memburu, keringat mengalir deras dipelupuk wajah, dan mencengkram kuat dadanya.
"NARUTO-KUN?"
"NARUTO!"
"Naruto!"
Sakura Pov End
#
.
.
.
.
.Tap.
Langkah kaki mungil itu membuat lantai kayu yang sudah ratusan tahun itu mendecit berkali-kali. Suara gaduh sangat terdengar dan menggema diruangan serba tertutup itu.
BRAK. Tangan kecilnya membuka pintu dengan kasar, rambut Blondenya terlihat lepek begitu basah dengan keringat, napasnya terengah-engah, mata Bluesapphire itu membulat sempurna saat melihat apa yang terjadi dihadapannya kini.
"KAA-SAAAAN!" Teriaknya seraya berlari kearah wanita paruh baya yang kini sudah tak berdaya, dengan darah berceceran dimana-mana.
"KAA-SAAN KENAPA?" tanya bocah Blonde itu terisak.
Tak lama tangan wanita itu terulur meraih pipi Chubby anaknya, begitu pelan dan lemas. Senyuman tetap ia berikan untuk anak satu-satunya itu, meski rasa sakit yang amat sangat disekujur tubuhnya semakin menjadi-jadi.
"Naruto~" Gumamnya dengan suara bergetar.
Anak bernama Naruto itu menatap lirih Ibunya, bola mata yang dulunya sama cerahnya dengan miliknya, kini redup dan hilang begitu saja. Walaupun masih ada senyuman, tapi itu tidak sehangat dulu.
"Dengarkan Kaa-san, ini untuk masa depanmu." Ujar wanita itu masih mengelus pipi anak tersayangnya.
"Hiks, apa itu Kaa-san?" tanya Naruto polos.
Wanita itu meringis sedikit karena darah yang terus mengalir diperutnya, namun sekuat tenaga Ia tahan. "Naruto, selama Kaa-san tidak ada disampingmu, kau harus patuh pada Tou-sanmu, itu yang pertama, apa kau mengerti?"
"Kenapa Kaa-san bilang begitu, memangnya Kaa-san mau kemana?" tanya Naruto kecil bingung.
Wanita itu tersenyum pahit, "Kaa-san tidak bisa menjawabnya sekarang, dan yang kedua, setelah kau besar nanti kau akan menjadi pengganti ayahmu, kau harus menerimanya demi Kaa-san." Ujarnya, "Dan yang terakhir, uhuk!" Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan darah.
"Kaa-saan~" Naruto semakin terisak melihat keadaan ibunya.
"Yang terakhir, kau, harus mendapatkan pendamping hidupmu yang setia, menerimamu apa adanya, sungguh Naruto, itulah yang ingin Kaa-san saksikan, melihatmu bahagia." Tangannya yang semula membelai pipi Naruto, kini jatuh seiring matanya yang tertutup.
"KAA-SAAAN!"
.
.
"KAA-SAN!"
Sakura terlonjak kaget saat mendengar teriakan Naruto, "Naruto, kau sudah sadar?" tanya Sakura khawatir.
Didepan sana, Naruto terduduk dari tidurnya. Mata sebiru langit itu mengedarkan pandangannya. Bau obat yang sangat Ia benci kini begitu menyengat indra penciumannya, kasur yang kini ia tempati juga hanya seukuran tubuhnya berselimutkan kain putih, juga ruangan yang didominasi cat putih. Tak perlu ditebak ia pun tahu kini sedang berada dimana. Rumah sakit.
Naruto menolehkan wajahnya kesamping, mendapati Sakura yang juga sedang menatapnya.
"Kenapa kita ada disini?" tanya Naruto sinis.
Sakura memutar bola matanya, siBlonde ini sedang bercanda atau memang amnesia?. Jelas-jelas dipesta tadi Ia pingsan dan membuat hampir seluruh undangan kaget dibuatnya, termasuk Sakura.
"Tadi kau pingsan, karena panik kami langsung memanggil ambulan." jelas Sakura datar, mata Emeraldnya memperhatikan Naruto Intens. "Sebenarnya kau kenapa? saat kau pingsan kau terus menggumamkan kata 'Kaa-san'. " tanya Sakura penasaran.
Wajah Tan itu berubah sendu, mengingat kembali apa yang Ia mipikan barusan, bagaikan berNostalgia dengan hal terburuk dalam hidupnya. Tangan kekarnya mengepal erat, mencengkram selimut putih itu, matanya terlihat berkilat penuh amarah.
Sakura menyadari perubahan mimik Naruto, semakin bingung dengan jalan pikiran Pemuda itu. Dan sepertinya Sakura tidak berani menanyakan hal itu untuk yang kedua kalinya, karena aura Naruto sangat berbeda. Aura penuh dendam.
Sakura sangat risih dengan hal itu, Ia benci melihat seseorang meluapkan ataupun menahan emosinya dengan tujuan balas 'Dendam', Ia sangat benci melihatnya. Bukankah tidak ada yang bisa diselesaikan hanya dengan menyimpan rasa dendam?.
"Ahahaha, daripada berdiam terus, lebih baik kita cari hiburan ya, bagaimana menonton tv saja." ujar Sakura mencairkan suasana, tidak enak juga berada satu ruangan dengan orang yang kini tengah memiliki aura membunuh, yang dimaksud adalah sipemuda Blonde itu.
Tangan porselen Sakura segera mengambil remot yang berada disamping meja, "Baiklah, kita menonton saja." ulang Sakura seraya melirik Naruto. Tidak ada perubahan, roman wajahnya masih menusuk dengan pandangan lurus kedepan. Sakura berpikir mungkin ini ada kaitannya dengan pertemuan Kage tadi, meskipun Ia tak tahu apa detailnya.
Jemarinya langsung menekan tombol Power, dan menampakkan gambar ditelevisi yang berada diruangan itu. nomor demi nomor ia tekan untuk mencari saluran yang bagus dan menghibur tentunya. Dan ketemu, sebuah saluran yang memutar acara dikonoha malam ini…
'Ck, kenapa harus tayangan ini sih?.' umpat Sakura dalam batinnya. Jemarinya hendak menekan tombol lain dengan maksud pindah ke tayangan lain. Tapi sebuah tangan kekar menahannya. Segera saja Sakura menoleh dan benar, Naruto kini tengah menatap tayangan itu dengan tatapan yang masih sama, tajam dan menusuk.
"Hokage-sama telah mengikat perjanjian dengan Suna setelah selesai melaksanakan pelelangan dari berbagai Negara,"
Sakura mengerutkan dahi lebarnya, Ia heran mengapa pertemuan Kage itu malah memiliki acara seperti ini? bukankah itu hanya sekedar pesta? pelelangan apa yang dimaksud dan perjanjian apa yang telah disepakati dengan Suna?. Hei kenapa juga dia harus pusing memikirkan hal ini, jelas-jelas hal itu bukan urusannya. Melainkan urusan…
"Cih, seenaknya saja mengambil keputusan tanpa ada aku disana, bajingan licik!" umpat Naruto, tangannya mencengkram tangan Sakura kuat. Sang empu meringis kesakitan akibat ulah Naruto.
"Ittai, Naruto." ringis Sakura mencoba melepaskan tangannya.
Merasa dipanggil, Naruto menolehkan wajahnya. "Apa kau pikir aku tak pantas untuk membasmi mereka semua, Sakura?" tanya Naruto, bukannya melepaskan cengkraman itu, Ia malah memperkuatnya.
Sakura semakin meringis, disisi lain ia juga bingung dengan pertanyaan yang Naruto lontarkan, "Apa maksudmu, membasmi?" tanya Sakura seraya memberontak untuk melepaskan tangannya dari cengkraman yang kuat itu.
"Mereka termasuk ayahku, telah membunuh Ibuku hanya demi persyaratan perdamaian dengan Suna!" intonasi Naruto meninggi dan terdengar seperti sebuah bentakkan.
Saat itu pun Sakura melepaskan tangannya dan beranjak berdiri, mundur beberapa langkah utnuk menjaga jarak dengan Naruto, satu hal yang Sakura ketahui. 'Jangan dekat-dekat dengan siBlonde saat psikopatnya kambuh'.
"Hiks, kenapa? kenapa?." isak Naruto mencengkram rambutnya.
Sakura tersentak, dilihatnya pemuda itu menangis, menteskan air mata yang begitu memilukan. Sebesar itukah penderitaan Naruto terhadap keluarganya?. Bahu yang biasanya kokoh itu kini telihat lemah, sikap kasarnya lenyap digantikan dengan sebuah kerapuhan. Gadis merah muda itu teringat akan masa lalunya tentang Gaara, sama memilukkannya dengan ini. namun beruntung Sakura masih memiliki Ibu yang selalu berada disampingnya, menemaninya dalam semua duka. Tapi bagaimana dengan Naruto?.
"Aku benci mereka," racau Naruto. "Aku benci,"
"AKU BENCI KALIAN SEMUAA!" teriak Naruto seraya menyambar pisau yang sedari tadi bertengger disisi tempat tidurnya.
Sakura terperanjat melihat aksi Naruto, mata Emeraldnya membulat saat siBlonde mengarahkan pisau itu kepertunya. Reflek Sakura berlari dan merebut pisau yang setajam katana dari tangan Naruto. tidak mau kalah Naruto kembali menariknya dan…
PLAK!
Merah, pipi Naruto memerah saat tangan porselen itu melayangkan sebuah tamparan yang begitu keras dipipinya. Sakura terengah-engah dengan degup jantung yang memburu, begitu memicu agrenalin meskipun kini bukan tempatnya. Dengan kasar Sakura melemparkan pisau itu kesudut ruangan. Tangannya jatuh dengan lunglai kesamping pinggangnya, wajahnya tertunduk. Ia merasakan air matanya telah meleleh dan mengalir.
Sakura pernah mengalami hal ini sebelumnya, ya, dengan Ibunya sendiri. Karena krisis ekonomi saat sepeninggal ayahnya, Ibunya nekat untuk bunuh diri, dan yang Sakura lakukan sama halnya pada Naruto.
"Kau tidak mengerti apa yang aku rasakan!" bentak Naruto.
GREP
Kaget, Naruto sangat kaget dengan apa yang Sakura lakukan. Gadis itu memeluknya, penuh kehangatan dengan segala kesedihannya.
"Kau,"
Sakura semakin mengeratkan pelukannya dan menangis dalam diam, "Aku mohon, jangan berpikir semua akan selesai dengan bunuh diri." ujar Sakura lirih. "Aku tahu, aku tidak sepenuhnya mengerti tentang apa yang kau rasakan, tapi kumohon jangan bertindak bodoh, kau pikir Ibumu akan senang melihatmu seperti ini?." gumam Sakura diiringi isakan tangis.
"…"
"Dan mungkin saja dia sedang menangisimu, Naruto." ujar Sakura melonggarkan pelukkannya.
"…"
"Jika kau begini, sama saja kau kalah dalam hidup."
"…"
"Lakukanlah yang terbaik untuk Ibumu, Naruto." sambung Sakura hendak melepaskan pelukkannya, namun tertahan.
Kini Naruto yang memeluknya dengan lembut, menenggelamkan wajahnya ditengkuk Sakura. Sang empu kaget dibuatnya, tak menyangka Naruto akan membalas pelukkannya walaupun kini dengan sepihak.
"Apa, apa yang harus aku lakukan, Sakura? apa?." Gumam Naruto kembali larut dalam tangisannya.
Kini perasaan Naruto luluh begitu saja hanya karena gadis yang tengah dipelukknya, begitu nyaman dan hangat. Tidak pernah Ia mersakan senyaman ini, terakhir kali Ia dipeluk Ibunya tak lebih dari umur lima tahun silam. Sudah sangat lama.
"Satu jam lagi kita akan menyaksikan disahkannya proyek tunggal antara Konoha dan Suna, tunggu dan saksikanlah."
Suara MC ditelevisi itu masih setia meliput acara pertemuan kage disana.
"Proyek tunggal itu apa, Naruto?" tanya Sakura melepaskan pelukkan Naruto.
Naruto menundukkan kepalanya, "Proyek itu adalah proyek utama yang didirikan Nenekku saat Ia masih menjabat sebagai Hokage, proyek yang mendunia dimasa itu namun gagal karena pihak Suna membatalkan penanaman saham mereka. Karenanya proyek itu jatuh karena pada dasarnya yang memiliki saham terbesar yaitu Suna, tapi mereka malah membatalkannya." jelas Naruto.
"Disaat ayahku menggantikan posisi Nenek sebagai Hokage, dia kembali mendirikan proyek itu dan mencoba bekerjasama dengan Suna, hal yang membanggakan terjadi karena penerus Suna menyetujuinya, tapi mereka meminta syarat untuk kembali bekerjasama dengan Konoha." sambung Naruto menggertakkan giginya.
Sakura mendengarkan cerita Naruto dengan baik, entah kenapa Ia mulai tertarik dengan konflik ini, antara negara kelahirannya Suna dengan negara yang Ia tinggali kini, Konoha.
"Ayahku kaget dengan sisi permasalahan yang selama ini disembunyikan para tetua Konoha darinya, yaitu peperangan juga konflik turun temurun antara Konoha dengan Suna, sejak jaman Edo hingga masa kini. Kami berpikir Suna sengaja melakukan persyaratan itu karena ingin membalas dendam pada kekalahan mereka saat itu." ujar Naruto menatap lurus kedepan, mengingat kembali apa yang telah diceritakan ayahnya tentang hal ini.
"Membalas dendam atas dasar apa?" tanya Sakura bingung.
"Konoha telah membunuh putera mahkota Suna, disaat peperangan Konoha menilai kelemahan Suna adalah putera mahkota mereka, saat kabar tentang berita duka itu Suna memiliki sumpah dan janji akan membalas dedam pada kami Konoha, nyawa dibayar dengan nyawa." Jawab Naruto datar. "Apa kau tahu siapa yang mereka incar?." tanya Naruto pada Sakura.
"Putera mahkota Konoha," tebak Sakura.
"Ya, dan itu adalah aku." Naruto menolehkan wajahnya pada Sakura.
Mata Sakura terbelalak, tak menyangka ternyata incaran mereka adalah Naruo. "La-lalu?"
Naruto kembali menunduk, menatap tangannya yang berbalut kemeja putih. "Orang tuaku tidak rela jika aku-lah perkobanan demi kedamaian Konoha, tapi jika kami menolak, Konoha akan hancur." kini Naruto menangis dalam diam, air matanya terlihat berkilau saat cahaya lampu menerpanya, terlihat serasi dengan wajah tampannya.
Sakura mencelos dalam hati, mengapa ada pemuda yang memiliki penderitaan seperti itu.
"Tidak rela dengan keputusan itu, Ibuku nekat mengorbankan nyawanya untuk menggantikanku. Berbagai alasan Ia pakai untuk melindungiku, dia bilang Ia pun sama dengan kedudukan putera mahkota ditambah lagi dia adalah seorang istri dari penguasa Konoha, status itulah yang membuat Suna merasa puas dengan balas dendam mereka, mereka bilang bagaikan mengincar emas tapi malah mendapat berlian." Naruto meninju kasur dibawahnya dengan emosi yang meluap.
Sakura merasa masih ada yang mengganjal hatinya, "Lalu, pelelangan apa yang Konoha lakukan dengan negara-negara lain?."
Naruto mencengkram dadanya, serasa kosong. Karena beberapa tahun kebelakang Ia masih memakainya.
"Kalung," ujar Naruto lirih.
Sakura menyerngitkan alisnya, "Kalung?"
"Ya, kalung berlian biru yang diberikan Nenekku yang menjadi pelelangan terbesar tahun ini." jawab Naruto seraya menghempaskan dirinya berbaring diatas kasur itu, Ia sangat lelah mengingat masa lalunya yang berbelit-belit.
"Pemberian dari Nenekmu?"
"Kau tahu? dengan satu potongan batu berlian biru itu kau bisa membeli dua gunung sekaligus."
What the? Woou hebat sekali. Itulah yang Sakura pikirkan tentang kalung yang dibicarakan Naruto saat ini. hanya dengan satu potong bisa membeli dua gunung sekaligus? Apalagi jika memilkinya secara utuh. Bisa kaya dia jika memiliki kalung itu, hey apa yang dia pikirkan?.
"Ck, aku sudah banyak bicara padamu." decak Naruto seraya mematikan layar televisi itu. "Sekarang, tinggalkan aku sendiri." perintahnya pada Sakura.
Sakura mengernyitkan alis, saat melihat perubahan sikap Naruto kembali seperti semula, acuh. "Apa aku bisa percaya padamu? untuk tidak melakukan percobaan bunuh diri lagi." Ujarnya hati-hati.
Naruto mendengus kasar, "Kubilang tinggalkan aku sendiri, dan pulanglah." ulang Naruto. "Biarkan sopirku mengantarmu sampai keKediamanku, hari sudah larut." Sambunganya seraya berbaring memunggungi Sakura.
Sakura menatap Naruto dengan ekspresi yang sulit diartikan, dia berpikir Pemuda itu masih memiliki rasa peduli, walau hanya sedikit. "Baiklah, aku permisi." Ujarnya seraya melangkah menuju pintu.
Jemari lentiknya yang memutar kenop pintu berhenti seketika, wajahnya Ia tolehkan untuk kembali menatap Naruto –yang masih memunggunginya. "Oyasuminasai." gumam Sakura pelan.
BLAM. Keheningan mulai menjalari setiap sudut kamar ini, Naruto –yang tengah memjamkan mata namun masih terjaga, mencengkram kuat dadanya yang dibalut kemeja putih itu. "Aku tidak boleh melibatkan siapapun." Gumamnya
.
.
.
.
07.10 AM –Konoha Gakuen
.Tuk. Ketukan berkali-kali oleh jemari Sakura pada meja-nya membuat suara yang sedikit menganggu, meski kini didalam kelasnya sedang berisik karena sang guru tidak hadir karena sakit. Hal itu menyebabkan para siswa lalu lalang dan melakukan hal tak berguna, menurut Sakura.
Emerald-nya menatap kosong hamparan rumah diseberang sana dari jendela sekolah, sebuah gedung tertinggi didepan sana menyita konsentrasinya saat ini. Gedung itu adalah rumah sakit terbesar diKonoha. Dan bukan karena kemegahan rumah sakit itu yang membuat Sakura memperhatikannya, namun sosok dari kemarin malam yang selalu Ia pikirkan.
Sosok Pemuda yang sudah beberapa hari ini menjadi mejikannya –Uzumaki Naruto. Sang anak tunggal sekaligus calon pewaris satu-satunya keluarga bangsawan diKonoha. Yang kemarin malam menumpahkan segala keluh kesah disertai tekanan batin luar biasa, menangis pilu dihadapan Sakura.
Sakura yakin Naruto tidak pernah melakukan itu didepan siapapun, bukannya percaya diri atau apalah itu, tapi Sakura merasa Naruto menangis untuk pertama kalinya dihadapan orang selain orang tuanya.
"Haah," Ia menghela seraya menyenderkan punggung-nya keKursi.
Entah kenapa Sakura ingin sekali membantu meringankan beban Naruto, Ia tahu Pemuda itu begitu tertekan dengan segala kewajibannya seorang diri. Namun apa daya jika kedudukannya hanya sebagai seorang pelayan? perbedaan jauh itu membuatnya tak pantas untuk mencampuri urusan Naruto. Namun, apa mungkin diam lebih baik dibanding bertindak?.
"O-ohayou, Sakura" Sapa seseorang –yang kinitengah berdiri disamping meja Sakura.
Sakura menoleh kesumber suara, dan alangkah kagetnya saat orang yang menayapanya itu adalah Hinata. Kejadian tadi malam dipesta Kage itu-pun kembali Sakura ingat.
"Bukankah wanita itu adalah tunangan Namikaze-san?"
Akh, kata-kata Gaara sukses membuat Sakura mencengkram tangannya, Ia terganggu dengan perasaannya kini. Tapi Ia menahan itu semua dan mencoba tersenyum dan membalas sapaan Hinata.
"Ohayou, Hinata."
Hinata terlihat sedang memainkan jemarinya, Lavender itu bergerak kesana kemari seperti mengingat apa yang ingin Ia tanyakan. "Umm, ano, Sakura." Ujarnya gugup –tangannya masih memainkan jemari nan lentik itu. "Aku ingin membicarakan sesuatu."
Sakura mengernyitkan alis, Ia menduga Hinata akan membahas tentang Naruto. Sepertinya gadis Indigo itu menyadari hubungan Sakura dengan Naruto –maksudnya kedekatannya yang sekedar pelayan. "Duduklah dulu, Hinata." ujar Sakura seraya mengambil salah satu kursi dan menggeser kesamping meja-nya.
Hinata menurutinya dan mendudukan kepala. Sakura masih diam dan memperhatikan Hinata yang terdiam.
"Kau," ujar Hinata mencoba menoleh pada Sakura. "Pasti sudah tahu status-ku dengan Naruto -kun kan, Sakura?"
Bingo! Sakura merutuki dirinya dalam hati, rasanya Ia enggan untuk bicara lebih dari ini tentang hubungan Naruto dengan Hinata maupun dirinya. Berkeringat karena lari seratus putaran dilapangan lebih baik baginya, dibandingkan mandi keringat dingin seperti sekarang.
Sakura mengangguk ragu, "I-iya, memangnya ada apa, Hinata?"
Hinata kembali menunduk, jemarinya meremas rok bergaris itu. "Aku," Ujarnya tertahan.
Sakura menelan ludah saat Hinata kembali menahan kata-katanya. Ia takut melukai perasaan gadi baik ini.
"Ingin membatalkan pertunanganku dengan Naruto-kun." ujar Hinata susah payah diiringi dengan teriakkan Sakura –membuat seluruh kelas hening seketika.
Sakura menutup mulutnya yang lancang ini, sedangkan Hinata melihat Sakura bingung, seburuk itukah keinginannya untuk memutuskan pertunangan dengan Naruto?. Sakura berdiri membungkuk beberapa kali meminta maaf pada seisi kelas lalu kembali duduk.
"Gomen ne, Hinata." ucap Sakura. "Aku hanya kaget mendengar penuturanmu."
Hinata mengangguk lalu kembali mencengkram rok-nya. "Bagaimana menurutmu, Sakura?"
Sakura memiringkan kepalanya dan menunjuk dirinya sendiri. 'Menurutku? kenapa dia tanya kepadaku?' batin Sakura bingung.
"Apa aku salah melakukan ini? sungguh, aku sangat bingung." ujar Hinata menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sakura yang melihat itu menjadi sangat bingung harus berbuat apa. "Umm, memangnya kenapa kau memutuskan untuk membatalkan pertunanganmu?" tanya Sakura.
Bukannya lancang atau apa, Hinata adalah teman-nya dan mungkin akan menjadi sahabat yang baik, karena itu Sakura menginginkan keterbukaan masalah Hinata pada dirinya. Tidak hanya agar lebih jelas, melainkan agar Sakura sendiri bisa memberikan solusi yang membantu.
"Naruto-kun, dia terlalu banyak menanggung beban dipundaknya." lirih Hinata. "Aku hanya tidak mau menambah beban itu, karena Naruto-kun tidak mencintaiku." Sambungnya menutup wajah –isak tangis pun terdengar.
Iba, Sakura melihat gadis itu menangis. Ia tahu Hinata peduli pada perasaan dan kedudukan Naruto saat ini, tapi apa harus dengan mengorbankan cinta-nya? Hinata pasti tersiksa, bingung harus melakukan apa.
"Dia menerima pertunangan ini karena keterpaksaan, aku tidak mau seperti itu." ujar Hinata seraya menghapus air mata-nya. "Untuk itulah, aku akan mundur dan membiarkan Naruto-kun memilih jalan hidupnya sendiri." Sambungnya mencoba tersenyum.
Perih, Sakura tahu hati gadis Indigo itu sedang menahan perih. Sungguh jika Sakura ada diposisi Hinata, mungkin Ia tidak akan setegar ini. "Aku akan mendukungmu, jika memang itu yang terbaik, Hinata." ujar Sakura tulus.
Hinata mengangguk, Ia telah membulatkan tekadnya untuk melepas cinta sejatinya itu. 'Sayonara ne, Naruto-kun.'
.
~Skip time~
.
13.20 AM –Konoha Gakuen
Wuushhh. Semilir angin nan lembut ini telah menyamarkan terik matahari yang begitu menyengat. Kulit putih porselen itu begitu tenang saat diterpa halus benda tak berwujud itu, rambut Indigo-nya bersibak dengan tatapan mata yang kosong kedepan sana. Jemarinya menggenggam lembut pagar pembatas itu.
Hinata, gadis itu memilih untuk pergi keatap sekolah disbanding pulang saat bel berbunyi beberapa menit lalu. Ia sangat ingin sendiri, menenangkan kekacauan batinnya yang entah sampai kapan berhenti, padahal beberapa jam lalu ia sudah bertekad untuk menghentikan semuanya.
Kening berponi-nya, Ia tempelkan pada pembatas dinding, lalu menutup mata dan berharap jika semua ini hanyalah mimpi. Dengan tidak membenarkan perasaannya dan menganggap Naruto hanyalah pangeran khayalan yang tak akan pernah Ia miliki.
"Kau lagi." Ujar suara dibelakang Hinata.
Sontak Hinata menolehkan kepala dan melihat sosok Pemuda berdiri dengan tegapnya disana. Dengan gaya yang Cool, Ia menghampiri Hinata.
"Setidaknya jika kita bertemu lagi, tatapanmu jangan kosong begitu." Ujarnya sebal.
Hinata tahu Pemuda ini, rambut cokelat dan garis segitiga dipipinya. "Ka-kau kan, yang me-nolongku ke-kemarin malam?" tanya Hinata ragu.
Pemuda itu mengangguk lalu melihat kebelakang Hinata, "Kini kau tidak mencoba bunuh diri lagi kan?"
Hinata menautkan alisnya, "Ma-maksdumu?" mana mungkin Ia bunuh diri.
Pemuda itu menopang dagu, "Kemarin malam kau mencoba menenggelamkan diri didanau itu kan?" Tanya-nya memastikan.
Hinata membulatkan matanya, lalu menggeleng cepat. "Bu-bukan, kau sa-salah paham." Jelasnya. "Saat itu, a-aku sedang ti-tidak sadar saja." sambung Hinata menunduk.
Pemuda itu maju dan mensejajarkan diri disamping Hinata, tatapannya lurus kedepan sana. "Jangan diulangi lagi." Ujarnya –atau lebih tepat sebagai perintah?
Hinata menengok, melihat sisi wajah Pemuda itu. Paras wajahnya sangat dewasa bagi Hinata, rambutnya sama bentuknya seperti milik Naruto –durian, namun yang ini berwarna cokelat. Dan garis segitiga dipipi menambah kesan manis. Entah kenapa Pemuda ini memiliki banyak kesamaan rupa dengan Naruto, hingga membuat wajah Hinata merah dengan sendirinya.
"A-ano, ke-kenapa kau ada di-disini?" tanya Hinata seraya kembali membalikkan badan.
"Aku pindah ke-sekolah ini, memangnya salah?" Jawab dan tanya Pemuda itu.
Hinata menggeleng cepat, "Ti-tidak, hanya sa-saja kebetulan sekali ki-kita bertemu dipesta itu."
"Hyuga Hinata, tunangan Naruto kan?" tanya Pemuda itu.
Hinata terlonjak, bagaimana Pemuda ini tahu? bukankah berita tentang pertunangannya hanya diketahui oleh para kandidat terpenting disetiap Clan. Akh, jangan-jangan.
"Aku Inuzuka Kiba, dari Clan Inuzuka." ucap Pemuda itu –Kiba, pada Hinata.
BLUSH. Tatapan datar Kiba telah membuat Hinata terhuyung kebelakang, namun dengan sigap kakinya menahan berat badannya agar tidak jatuh. Kenapa dari kemarin Pemuda ini selalu saja ingin membuat Hinata pingsan?.
"Yoroshiku," ujar Hinata sopan. "Ta-tapi aku bukan lagi tunangannya Naruto-kun, sa-sampai akhirnya tiba." lanjut Hinata tersenyum ramah –mencoba menutupi sakit dihatinya.
Alis Kiba berkerut, "Bukan tunangannya lagi? kenapa?"
"A-apakah aku harus me-menceritakannya padamu?" tanya Hinata hati-hati.
Kiba tersentak, bagaimana mungkin dengan lancangnya Ia bertanya hal pribadi seperti itu. "Maaf, aku tidak bermaksud." Sesalnya.
Hinata menggeleng, Ia tahu Kiba tidak bermaksud lancang seperti itu. "A-ano, kalau boleh tahu, kau pi-pindahan dari mana?" tanya Hinata.
Kiba menggaruk kepalanya. "Spesial School Entrepreneurs, atau kami sering menyebutnya…"
"SSE-Konoha Internasional." sambung Hinata dengan tatapan tidak percaya.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Kiba kaget.
Hinata tersenyum ramah, "Dulu aku juga bersekolah disana, bersama Naruto-kun."
Kiba memang tahu tentang Naruto disekolah, karena Pemuda Blonde itu satu kelas dengannya, tapi tidak untuk Hinata. Banyak wanita popular dengan ketenaran Clan-nya masing-masing, bukankah begitu juga dengan Hyuga? namun belum pernah sekalipun Ia melihat Hinata disana.
"Aku ja-jarang keluar kelas, ma-makanya sedikit yang me-mengenalku." ujar Hinata saat mengerti jalan pikiran Kiba.
Kiba menggaruk pipinya yang tak gatal, "Hehe, maaf ya."
Hinata memainkan kedua telunjuknya, lalu melirik Kiba, "A-ano, kenapa kau pi-pindah sekolah?"
"Aku bosan disana, setiap hari hanya membahas perusahaan dan strategi, waktu istirahat hanya sebentar, tidak ada pelajaran olahraga, makan dikantin harus beretika, segalanya penuh kekangan." cerocos Kiba. "Aku kan ingin bersekolah layaknya anak biasa." Lanjutnya kesal.
Hinata tertegun dengan segala curahan hati Pemuda ini, jujur Ia juga sependapat dengan Kiba. Segala kekangan disekolah itu membuatnya jengah, meskipun Hinata adalah tipikal gadis yang baik, namun keinginannya bersekolah seperti anak pada umumnya juga besar. Untuk itulah Ia meminta keluarganya agar bersekolah ditempat seperti sekolahnya kini –Konoha Gakuen.
Sekolah biasa namun memiliki pandangan liar biasa seanterio Konoha. Memiliki siswa unggulan disetiap kelas, selalu meraih peringkat satu sebagai sekolah ter-Genius diJepang. Dengan proses belajar yang tidak main-main, dan tentunya berdampak biasa pada siswa unggulan.
"Tapi jangan berpikir aku masuk sini dengan jalur beasiswa, otakku ini terbatas lho." ujar Kiba cengengesan. "Selain itu, kerjaanku hanya bermain dengan anjing lalu makan, setelahnya tidur dengan pulas." Sambungnya semangat.
Hinata terkikik geli mendengar penuturan Kiba, Pemuda ini begitu polos sehingga mengatakan kegiatannya selama belajar. Sedangkan Kiba hanya terdiam saat melihat Hinata memegang perutnya lalu tersenyum menahan tawa, pipi Chubby-nya begitu menggemaskan, satu yang dipikirkan kiba saat ini,
'Manis.' batin Kiba –dengan rona merah tentunya.
Saling melengkapi, itulah hal yang belum mereka sadari satu sama lain. Awal pertemuan mereka juga akan menjadi awal merajut kasih dan sayang, yang entah kapan akan terungkap.
"Kalau begitu, ceritakan aku tentang sekolah ini dong."
.
.
.
.
.Tap.
Gadis bersurai merah muda ini terus melangkah menyusuri keramaian kota, seragam –yang tak asing bagi setiap mata yang melihatnya, masih ia kenakan dengan rapi. Ditangannya menenteng satu kantung plastik putih dengan tulisan 'KonohaMart'. Beberapa saat lalu ia tengah mengunjungi toko itu untuk membeli beberapa bahan makanan untuk sang tuan muda, dengan isi beberapa Cup ramen yang cukup besar.
"Ck, masih sakit tapi tetap memaksa memakan benda ini." decak Sakura kesal, tekanan dikata 'Benda' membuktikan bahwa Ia sangat benci makanan praktis atau instan. Meskipun Ia bukan dokter, tapi Ia tahu jika keseringan makan yang berbau instan tidaklah baik untuk tubuh. Apalagi dalam keadaan sakit.
Namun Sakura terpaksa membelinya, bagaimana tidak? jika sang tuan muda memintanya dengan sebuah ancaman. Mengirimkan pesan padanya lewat ponsel dan meminta segera mengantarkannya, Sakura merasa sudah seperti kedai keliling saja.
.Drrt.
Sakura segera mengambil ponselnya, ada satu panggilan dan dengan jelas tertera nama 'Konan-san' alisnya menyerngit saat merasa ada yang aneh, tidak biasanya rekan satu kerjanya itu menelpon.
Tak mau pikir panjang, Sakura segera menekan tombol hijau lalu berujar, "Moshi-moshi?"
"Sakura-san, kau-kah itu?" tanya Konan diseberang sana –dengan deru napas memburu.
Sakura mengangguk, "Iya, ada apa Konan-san?"
"Itu, apakah kau bersama dengan Naruto-sama?" tanya Konan dengan nada khawatir.
Sakura mengernyitkan alisnya, "Naruto? tidak, aku baru ingin menjenguknya dirumah sakit." jawab Sakura. "Memangnya ada apa?"
"Naruto-sama tidak ada disana, baru saja pihak rumah sakit memberitahukannya pada-ku." ujar Konan panik.
Emerald Sakura membulat sempurna, hampir saja Ia menjatuhkan ponselnya tak kala mendengar penuturan Konan berikutnya.
"Sakura-san, aku minta kau mencarinya dirumah sakit untuk memastikan, jika ada sesuatu hubungilah aku." ujar Konan. "Aku dan pelayan lainnya akan mencari ditempat lain." Sambungnya seraya memutuskan hubungan.
Sakura menggertakan giginya, setelah menyimpan ponsel itu didalam saku rok, Ia kembali melangkahkan kaki dengan terburu-buru. "Apa lagi yang akan dilakukan sibodoh itu?" Gerammnya.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
Review 'Character'
Naruto : "Awalnya sih oke, aku jadi makin keren dan terkesan dingin, tapi akhirnya itu yg membuat hati ini sakiiiiiiit." *bersiap terjun bebas
Sakura : "Jangan Naruto!" *dramatis
Naruto : "Sakura-chan masih peduli padaku?" *tidak percaya
Sakura : "Maksudnya jangan berhenti bunuh diri." *gubrak
Naruto : *sweetdropt
Sasuke : "Ck, peranku sedikit disini, lebih baik pindah kecerita lain saja." *ngilang
Sakura : "Sasuke-kuuuun." *patah hati
Kiba : "HAHAHAHA!" *kaya orang gila
Naruto : "Kenapa kau ini?" *jijik
Kiba : "Aku akan dipasangkan dengan Hinata." *Pd gila
Naruto : "Ck, kuakui peranmu disini penting, sepertinya aku akan sangat tidak peduli dengan Hinata." *menepuk bahu Kiba
Kiba : "Cih, sikap bijakmu itu membuatku mual." *cari mati
Naruto : "Apa kau bilang?" *melotot ampe mau keluar tuh matanya
Sakura : "Bisakah kalian diam!" *ngamuk lagi monsternya
Minato : "Tadaaa." *muncul kaya orgil, tapi iiikh tetep jja ganteng
Naruto : "Ayah? kenapa kemari?" *gax percaya
Sakura : *ngiler?
Kiba : *nutup mata?
Minato : "Ayah hanya ingin menyampaikan pesan dari author aneh itu." *dalem bgt
NaruSakuKiba : "Apa?" *barengan
Minato : "Berhubung dia sedang mabuk teks, karena semalaman suntuk mengerjakan berbagai ceritanya sampai tuntas, dia memberikan ini pada ayah." *nyodorin amplop
NaruSaku : "Ini honor kamiiiii." *berbinar-binar
Kiba : "Wah, aku dapet juga." *kebagian
Minato : "Baiklah, selamat atas honor pertama kalian." *ngilang
NaruSaku : "Akhirnya, setelah terpublishnya chapter lima, kita dapat honor juga." *ngebuka amplop
Kiba : "Uwaaau, silau bangeeuut." *baayyy
Author : "Maaf untuk seluruh tokoh pinjaman-ku yang setia, honor pertama kalian aku ngutang dulu ya? lagi boke nih gara-gara Sakura ngancurin tempat syuting ini mulu, aku jadi rugi banyak. Dan dampaknya malah ke-honor kalian, jika kesal, lampiaskan saja pada Sakura, dia adalah wakilku yang selalu bersedia kapanpun aku butuhkan. Sekian dan terimakasih."
Naruto : *mangap ajiiiib
Kiba : *lemes gilaaaaa
Sakura : "Baka! kuso! penghianat! bilang saja hari ini tidak mau datang karena tidak mau bayar. Sungguh, bukan aku yang membuat honor kalian terhenti." *pupyeyes
Naruto : "Sakura-chaaaan, kau harus tanggung jawab." *menyeringai
Kiba : "Ya, benaaaar." *tatapan lapar?
Sakura : "A-a-apa yang ingin kalian lakukan?" *mau kabur
NaruKiba : "Apapun." *ngiler
Sakura : "Sasukeeeee-kuuuuuuun, tolong akuuuuuu." *lari pontang panting
Sasuke : "Dan ini akan menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya Sakura dikeroyok, selesai." *Eh orang gila nongol
.
.
.
.
A/N : "Aaaakh yang diatas pada lebay semua *Dikroyok. Anoo minna-chan, chibi mau meminta saran nih, untuk rated story ini chibi mau ubah menjadi 'M' seutuhnya, soalnya diatas chibi masih menulis 'T atau M' abisnya masih bingung. Dan kini saatnya chibi menanyakan pada Minna-chan, boleh atau tidak? pas atau tidak? cocok atau tidak? jika rated story ini sepenuhnya 'M'?
Sosialisasi tentang story lainnya yang akan chibi ubah rated-nya akan diumumkan, dan juga akan mengambil usul dari readers sekalian ^^. Baiklah, chibi tunggu jawabannya."
Dewa Mata Nochi Hodo ^^
