What If

Uchiha Sasuke x Haruno Sakura

Naruto ⓒ Masashi Kishimoto

Inspired by My forged Wedding Party

WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai kenyataan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

Chapter 3

First Time At A Supermarket

Story begin..

Tepat pukul lima belas kaki-kakiku sudah menjajaki pintu masuk Ichiraku's Bar dengan tanda gemerincing lonceng sama yang kudengar kemarin. Kugerakkan kepala ke kanan ke kiri, menormalkan otot-ototku yang terasa menegang.

Aku mendesah sembari menapak langkah. Tuan Bee mengulas senyum terbaiknya dari balik konter bar. Hari ini pengunjung hampir memadati seluruh meja yang ada-hanya tersisa satu putaran meja yang biasanya digunakan Sasuke-san dan teman-temannya. Kuhempaskan bobot tubuh di kursi depan konter.

"Hari yang melelahkan, Tuan Bee?" Aku tersenyum saat tuan manajer menyodorkan buku menu. Ia mengangguk singkat menyahut pertanyaanku. "Emm... aku ingin Melya dan Ichiraku's Original Cookies? Apa itu?"

Tuan Bee memamerkan senyum andalannya. Mengelap beberapa gelas yang kurasa baru keluar dari mesin pencuci piring. "Kue terlezat yang hanya kaujumpai di bar ini," jawabnya antusias. "Baiklah. Hanya itu saja?"

Kuanggukkan kepala dengan sesungging senyum. Tuan Bee menghilang di balik sebuah pintu setelah menyatukan jari telunjuk dan jempolnya mengisyarat kata OK. Aku kembali larut untuk sekedar mengamati vas bunga di salah satu sudut dekat konter.

Jantungku masih belum berdetak normal. Tepatnya masih takut akan apa yang membuat paman memanggilku datang. Bahkan aku dengan repot-repot menyusun beberapa hipotesis, seperti ayah dan ibuku mengetahui kebohonganku, atau juga serangan jantung mendadak ayah. Tidak. Tidak. Kugelengkan kepala kuat-kuat.

Iris emeraldku mengitari seluruh sudut bar. Ada beberapa buah speaker yang tengah mendendangkan lagu-lagu ballad, sebuah grand piano di sudut ruangan, juga ekspresi-ekspresi pelanggan menyibukkan mataku beberapa saat. Bau harum Melya menguar menusuk-nusuk hidungku, juga bau biskuit hangat. Aku tersenyum, berterimakasih pada tuan manajer yang baru saja menyodorkan kedua pesananku.

"Teuchi berpesan dia akan datang lima menit lagi," ujar tuan Bee. Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Kusesap Melyaku selagi hangat, menatap tuan manajer yang sedetik setelah mengucapkan kata-kata tadi langsung mengurus bill meja nomor empat.

Kurilekskan tubuh sejenak. Mengatupkan kelopak, mengagungkan cairan kental Melya yang terasa begitu pas di tenggorokanku. Kurasa aku harus mencuri resep Melya dengan takaran seenak ini. Atau mungkin memboikot tuan Bee agar tak memberikan Melya pada siapapun. Oh sial ini kopi yang benar-benar kufavoritkan.

Tepat lima menit aku mendengar tawa paman membuncah diikuti bunyi lonceng. Entah ia tertawa sendiri atau dengan siapa yang jelas degub jantungku semakin lama semakin bertambah saja kecepatannya. Aku mendesah meminimalisir ketakutan yang mengendap.

Pandanganku mengitar, sudah ada dua meja kosong lagi. Aku mengambil Melya juga sepiring biskuitku ke meja nomor tiga. Mendesah pelan, kuhempas bobot tubuhku. Oh sungguh aku tak menyukai perasaan gundah seperti ini.

Bisa kulihat paman dengan ponsel tertempel di telinganya menyapa singkat tuan Bee, mengitarkan pandang lalu aku berinisiatif mengangkat tangan memberikan sinyal. Ia mengantongi ponselnya tepat setelah duduk tak jauh di sampingku. Jantung bodohku kembali bertalu, bahkan kurasa iramanya jauh lebih cepat di banding sebelumnya.

"Ah. Maafkan keterlambatan pamanmu yang sudah mulai tua ini Sakura," paman Teuchi memutar seratus delapan puluh derajat ekspresinya begitu saja. Wajah menggelikan dengan mata yang sengaja dibelalakkan-mungkin ia ingin terlihat seperti kucing lucu yang meminta makan-tapi justru aku merasa ingin muntah sekarang juga. Mataku memutar jengah sebelum mengangguk mengiyakan. Jika sudah seperti ini aku hanya bisa menuruti ucapan pamanku saja. Kau tentu tak ingin aku tertular ketidakwarasan pria akhir kepala tiga di sampingku, 'kan?

Kuambil satu buah biskuit putih yang dihiasi chocochips dan permen cokelat warna warni, menandaskannya dalam sekali gigit. "Ya ya ya. Menikahlah paman, kau semakin mengerikan jika tak segera menikah," cibirku menjulurkan lidah. Paman hanya memutar matanya jengah. Aku tahu pertanyaan ini terlalu sensitif untuknya.

Aku mendesah sekali lagi. Setidaknya sikap santai paman mampu membuatku tidak setegang tadi-meski nyatanya aku belum juga mampu meredakan detak jantungku.

"Oh ayolah. Aku tahu kau sudah menikah," paman membenarkan letak topi cowboy usangnya, memberikan tatapan paling menyedihkan yang ia miliki. Tawaku meledak begitu saja. Aku bahkan lupa jika otakku sudah berhenti memproduksi kemungkinan terburuk. Paman mendengus meremas telinga kanannya.

Aku mencoba menormalkan tawaku selagi meminta maaf. "Jadi apa yang membuatmu memanggilku datang paman?" berdehem pelan menetralisir tawa, kusesap Melya yang tinggal setengah cangkir.

Tuan Bee meletakkan secangkir kopi hitam di hadapan paman, sedikit mengerling ke arahku sebelum berlalu. Paman melipat kaki kanannya ke atas kaki kiri. Menghirup aroma kopi hitam pekat, meminumnya sedikit. "Kau tahu Ichiraku's Bar semakin ramai. Tak sedikit pengunjung yang mengeluh dengan pelayanan Manajer Bee."

"Menurutmu apa yang bisa dibanggakan oleh pelayan hampir kepala lima? Belum lagi dengan waktu istirahat. Manajer Bee juga mengeluh kurang istirahat," paman menilik konter bar seraya menghela napas. Kuikuti arah pandang paman seksama. Ya. Bisa kulihat tuan Bee mencoba terlelap dalam posisi berdiri menyender rak gelas. "Aku merasa kasihan padanya."

Kali ini aku mengangguk seraya menghela napas lega. Oh syukurlah bukan pernikahan pura-puraku yang akan dibahas. "Lalu?" Kurasa aku tertarik dengan topik yang paman lontarkan.

Paman menyenderkan kepalanya di bantalan kursi. Menatapku dari ekor mata, kudengar ia lagi-lagi menghela napas. "Aku tahu ini tidak sopan mengingat kau adalah putri sulung keluarga Haruno yang terhormat, tapi bisakah kau membantuku kali ini?"

"Jika kau tidak amnesia, kau juga bagian dari Haruno, paman Teuchi," aku memutar mata jengah. Sungguh aku benar-benar tidak suka dipandang sebagai nona muda keluarga tersohor. "Jadi kau menginginkanku bekerja di sini?"

.

.

.

.

Sasuke-san mengirim pesan singkat pukul lima sore, tepat setelah aku selesai berdiskusi tentang shift kerjaku di bar ini. Ya, aku menerima tawaran paman. Lagi pula bekerja menjadi pelayan bar tidak buruk juga, 'kan? Aku tersenyum membalas pesannya beberapa saat kemudian.

Seperti biasa ia akan mampir ke bar paman untuk mengisi perut. Tapi kurasa malam ini aku harus mencegahnya makan di luar. Hei, menjadi istri yang baik harus memasak untuk suaminya bukan? Dan-Oh Tuhan-apa yang kupikirkan tentang suami istri?

Sasuke-san berkata akan tiba tepat pukul lima lebih tiga puluh menit. Yang berarti masih ada waktu kurang lebih setengah jam untuk melihat cara kerja tuan Bee sekaligus kursus singkat cara menggunakan mesin kopi mewah fasilitas bar yang akan akrab denganku.

Pada pukul lima lebih dua puluh delapan menit aku mencuci wajah di wastafel. Menambahkan sedikit cream wajah juga polesan lipgloss, membenarkan tatanan rambutku yang mulai berantakan. Bersenandung pelan, senyum tak pernah lekang dari bibirku.

Paman berkata jujur tentang rekomendasi-dadakan-Sasuke- pagi ini. Dan ini membuatku cukup gila, dengan reaksi senyuman berlebihan yang terus terpatri di wajahku. Ide yang membuatku dipanggil bekerja tak lain adalah usulan Sasuke. Aku harus berterimakasih padanya sekali lagi.

Saat kaki jenjangku menapak langkah sekitar sepuluh menit kemudian pria yang sedari tadi mendominasi isi kepalaku sudah tergelak di meja nomor enam. Bersama Shikamaru, Gaara, Sasori, Naruto dan pamanku tentu saja. Aku menghela nafas seraya tersenyum.

Ia memberiku sinyal untuk ikut bergabung bersama mereka. Caranya tersenyum padaku benar-benar menawan. Bukan senyum lebar seperti yang biasa Naruto pamerkan, hanya senyum kecil cenderung tipis. Tapi kurasa itulah letak pesona suami pura-puraku.

Aku mengambil duduk tepat di sebelahnya dengan gerutuan kecil Gaara-san. Mereka berbincang mengenai kejuaraan baseball dan aku tak mengerti. Yang bisa kulakukan hanya mengangguk menggeleng kadang terkekeh mendengar lelucon paling konyol tentang pemain baseball juga celana bau yang mereka kenakan.

Sasuke-san melingkarkan lengannya di bahuku saat mereka sibuk berebut kacang kulit. Aku mendongak meneliti ekspresi wajahnya namun lagi-lagi ia masih seperti sebuah buku kosong bagiku. Ia bahkan hanya tertawa ringan saat Sasori-san dan Shikamaru-san mendapat hasil tangkapan minim. Tak seperti Naruto yang bahkan menari girang meraup semua kacang yang ia dapat.

Aku benar-benar melarangnya membeli gratin atau sup tomat. Awalnya ia mendecih tak suka, namun sedetik kemudian ekspresinya berubah saat aku berkata aku akan memasak untuknya. Karena itu tepat pukul tujuh kami berpamit pulang. Kurasa ia sudah tak bisa menahan lapar.

Kami berjalan tenang di bawah langit berbintang Tokyo. Memasukkan kedua tangan di saku celana, bisa kulihat surai blondenya menari tertiup angin. Kueratkan sendiri hoodie merah yang membungkus tubuh rampingku.

"Kau tidak keberatan menemaniku ke supermarket, 'kan?" aku menengadah menatapnya. Iris emeraldku beradu dengan manik hitam indahnya beberapa saat. Ia mengangguk lalu kembali fokus ke jalan. Benar-benar pria irit kata. Aku terkikik geli dalam hati. Sepertinya julukan itu sangat cocok untuknya.

.

.

.

.

Sasuke-san bersikukuh mengekor di belakangku dengan troli yang ia dorong. Sebenarnya aku sudah terbiasa membawa troliku sendiri tapi entahlah, ia bahkan tak mengijinkanku membawanya. Aku mendengus kesal tapi apa boleh buat. Kurasa ia juga benar-benar tak akan mengijinkanku mengambil alih.

Aku sudah memperkirakan bagaimana reaksi gadis-gadis muda atau para bibi-bibi menatap pria setampan Sasuke-san memasuki supermarket. Dan dugaanku tak meleset. Mereka bahkan dengan senang hati mengomentari penampilan Sasuke-san. Melirik otot-otot kekar yang bahkan tak bisa ia sembunyikan dari balik kaos hitamnya. Kupamerkan sedikit seringai sombong.

Aku mengambil dua buah kaleng susu kental manis dan menaruhnya di atas troli. Mengecek kembali jumlah belanjaanku dengan dahi mengerut. Seingatku aku sudah memasukkan brokoli, lalu ke mana mereka pergi?

Aku menengadah membalas tatapan penuh selidik Sasuke-san. "Kita kembali ke rak fresh food," ucapku tenang membantunya memutar troli. Ia mengangguk lagi, aku memakluminya.

Dahiku kembali mengernyit menatap brokoli-brokoli pilihanku tergeletak begitu saja di stand sawi. Aku tak cukup yakin dengan alibi lupa-menaruhnya-di-troli jadi aku mendesah. Memasukkan kembali brokoli ke dalam troli, kakiku melangkah mendahuluinya. Menatap petunjuk arah yang terletak di atas kepalaku. Menunjuk arah rak pasta gigi berada.

"Kurasa aku perlu membeli stok pasta gigi dan mouth wash." Aku memalingkan wajah ke arah Sasuke-san yang kuperkirakan berjarak seratus meter dariku. Ia nampak berjengit memunggungiku. Mataku memicing guna melihat apa yang baru saja ia kerjakan. Namun nihil. Tubuh proporsionalnya menghalangi jarak pandangku.

Menyelipkan surai pink di belakang telinga, kuputuskan kembali mendekat ke arahnya. Dahiku mengerut saat Sasuke-san sengaja melebarkan kedua tangannya berpegangan pada sisi-sisi rak. "Apa yang kausembunyikan?" aku menatap bergantian troli, Sasuke-san, kembali ke troli lalu ke Sasuke-san lagi.

Brokoliku sudah tidak ada di tempat terakhir aku menggeletakkannya. Aku mendengus. Jadi dialah yang mengembalikan brokoli-brokoliku ke sembarang tempat?

Seringai tipis mencuat dari bibirku, kulipat kedua tangan di dada. "Kembalikan brokoliku ke tempat semula, Tuan Uchiha Sasuke." Tawaku hampir saja meledak mendengar ucapanku sendiri. Tak biasanya aku berbicara dengan nada rendah beraura dingin seperti ini.

"Tidak mau," Sasuke-san ikut menyidekapkan tangan. "Aku tidak suka brokoli. Lupakan. Jangan pernah membeli sayuran hijau jelek itu."

Kuputar mata jengah saat Sasuke-san memberiku tatapan mematikan. Bibirnya mengerucut lucu. Tak lupa mendecih pelan memiringkan kepalanya. Oh ini gila.

Tanganku tergerak mencapai pinggang, berkacak melebarkan mata sipitku. "Jangan seperti anak kecil Uchiha! Brokoli baik untuk kesehatanmu!"

"Cih. Aku tetap tidak mau," sunggutnya tak mau kalah. Lagi-lagi aku memutar mata. Oh bisakah pria di hadapanku meruntuhkan egonya sedikit saja?

Sasuke-san mendorong troliku menjauh. Menapak langkah-langkah panjang tak memperdulikan gerutuanku. Aku menggeram frustrasi. Masa bodoh dengan sifat egoisnya, aku mengambil kembali brokoliku. Pria yang merepotkan. "Hei Uchiha! Kembali kau!"

"Suka atau tidak, akan kubuat kau memakannya!" suaraku naik beberapa oktaf. Cukup menggelitik telinganya kurasa. Tapi pria itu justru berjalan tenang seolah tak terjadi apa-apa. Oh demi Hinata dan koleksi novel gore-nya, Sasuke benar-benar menyebalkan!

"Kau tahu, kau harus mulai diet seimbang jika tak mau perutmu membuncit!" Kususul ia setengah berlari. Oh astaga, apa dia seorang atlet sehingga aku tak mampu mengimbangi langkahnya?

.

.

###

.

.

Pukul delapan lebih tiga puluh dua menit gratin yang kubuat sudah masak. Segera aku mencuci tangan lalu bergegas menemui Sasuke-san. Senyum mengembang di wajahku membayangkan skenario apa yang akan terjadi jika ia tahu aku mencampurkan brokoli ke dalam gratin.

Kuambil dua piring penuh gratin, menapak langkah menuju sofa. Sasuke-san masih setia dengan kacamata baca dan sebuah buku tebal di hadapannya. Sesekali dahinya mengerut, mungkin merapal istilah-istilah sulit yang ia jumpai. Aku berdehem pelan meletakkan makanan di atas meja.

Merasa terusik ia mengalihkan atensinya. Segaris senyum tercipta di bibirku. "Maaf membuatmu menunggu. Makanlah, kau pasti sudah lapar."

"Aa," ia mengangguk pelan menutup bukunya. Saat ia hendak melepas kacamata, tanganku tergerak menahan lengannya. Sasuke-san memiringkan kepala tak mengerti.

"Jangan dilepas. Kau terlihat menggemaskan dengan kacamata itu." Aku tidak berbohong mengatakannya. Kekehan kecil lolos manakala bibirnya berkedut hendak tersenyum. Bayangkan betapa seksi dan tampannya pria di hadapanku sekarang ini.

Sasuke-san memalingkan wajah menyambar sepiring gratin. "Sebaiknya kita harus memakannya sebelum dingin."

Bibirku kembali membentuk sesungging senyum. Mengangguk singkat, aku menghempas bobot tubuh di sampingnya. Mengambil piring, menyuap sesendok penuh sembari menatap ekspresi Sasuke-san.

Aku suka caranya memberikan apresiasi terhadap masakanku. Seperti ia sangat menikmati suapan demi suapan gratin itu. Sesekali matanya memejam, menggumam pelan merapalkan sesuatu. Aku tak mendengar apa yang ia katakan tapi selengkung senyum kembali menyapa bibirku.

Kurasa ada peraturan tak tertulis tentang adab makan yang ia taati. Sasuke-san tak pernah membuka mulutnya untuk berbicara. Ini sama dengan peraturan keluarga Haruno di ruang makan, jadi aku bersyukur tak perlu merasa riskan.

Tepat saat aku menandaskan suapan terakhir, suara melengking mengganggu kenyamanan kami. Sasuke-san dan aku menoleh bersamaan ke arah pintu masuk. Dahiku mengerut bingung. Suara itu makin menjadi-dan aku baru sadar ia meneriaki nama 'Master Sasuke' berkali-kali. Tunggu... Master... Sasuke?

Seorang pria bersurai perak dengan jas hitam juga sarung tangan putih menyelinap masuk begitu saja. Kepalaku berputar mencari keberadaan Sasuke-san. Memberi tatapan 'siapa pria itu?' tapi ia hanya menatap lurus tanpa berniat menjawab.

"Akhirnya saya menemukan anda, Master Sasuke," tangan kanan pria itu tergerak menyentuh dada kirinya, membungkuk sopan pada Sasuke-san. Tunggu. Apa aku melewatkan sesuatu?

"Siapa kau?"

To Be Continued...

Terimakasih :

dianarndraha, Hanna Hoshiko, RanCherry, Rinda Kuchiki, vion17, DaunIlalangKuning, dina haruno, , Roof