A Naruto Fanfiction..
DEATH GAME
RATE: T
GENRE: Adventure, crime, action, friendship
DISCLAIMER: Naruto is belongs to Kishimoto Masashi-sensei
New Police Story is belongs to Jackie Chan and JCE Movies Limited
WARNING: AU, maybe typos, romance, maybe angst, mengandung adegan sedikit GORE, masih ada kesempatan untuk "back"
Insert Song: "Hikari to Kage no Rakuen" by Kagamine Rin & Len (Vocaloid)
Summary: Konoha Thief merayakan kemenangan mereka. Sebuah game misterius beredar di pasaran. Game pembantaian para polisi. Sebuah game dengan nama 'Death Game'.
Author's Note: Kisah ini terinspirasi dari film "New Police Story" (Jackie Chan) dengan alur dan cerita sedikit berbeda dari aslinya.
Dan sebelum membaca periksa "Warning" pada setiap chapter, karena tiap chapter akan berbeda-beda temanya.
Bwt yg udah review..
Kazuma B'tomat: Kalo langsung dibunuh, gak akan seru kan? Gak bisa menyiksanya dulu kan? Hehehe... Mkch udah review.
vio-chan: Mkch udah review dan emang angst banget. Aku baru nyadar sih.. Kali ini juga masih angst.
velice votra: Mkch udah review. Aku juga suka sm yg sadis2. Endingnya dibuat beda dg New Police Story, karena aku juga gak suka endingnya.
Renny-chan: Namanya Konoga Thief. Gpp kok, nyantai aja lagi. Kamu suka Sasori ya? Mkch udah review.
- Level 4: Pause -
"BLAAR..DUAAAAR..!"
Terdengar suara dentuman ledakan dari sebuah gedung tua di pinggiran kota, lebih tepatya di wilayah Kumo. Pihak kepolisian segera bergerak menuju tempat itu. Mengamankan lokasi dan menolong korban, jika ada. Para mobil polisi berdatangan beserta ambulance dan tim medis. Pemadam kebakaran segera menyemburkan air pada gedung itu yang masih terbakar. Sedangkan para polisi membantu menemukan keberadaan korban. Mereka menemukan Nagato tergeletak tak berdaya, terpental cukup jauh dari reruntuhan gedung. Keadaannya tidak bisa dibilang baik. Dia pingsan dan tangan kirinya terluka akibat efek ledakan. Nagato segera mendapat pertolongan dari dokter. Lukanya diberi obat dan diperban dengan rapi.
Setelah api padam, para polisi bergegas menuju reruntuhan. Mencari korban yang lainnya. Mereka menemukan rekan-rekan Nagato. Ketujuh rekan Nagato yang ada di atas gerobak telah terpencar kemana-mana. Tubuh mereka tertimpa reruntuhan gedung. Nyawa mereka tak sempat untuk diselamatkan. Mereka adalah Sasori, Deidara, Hidan, Kakuzu, Zetsu, Kisame, dan Yahiko.
Di atas ambulance Nagato terbaring lemah di atas tempat tidur pasien. Seorang perawat berambut hitam sebahu terus menungguinya samai tersadar. Tapi Nagato masih belum sadarkan diri. Tiba-tiba perlahan kedua kelopak mata Nagato terbuka. Kepalanya berdenyut. Dipeganginya kepalanya dengan kedua tangannya tapi lengan kirinya terasa sakit. Diperhatikannya lengan kirinya yang terbalut perban. Lalu diedarkannya kedua matanya pada sekelilingnya. Terasa asing dan berbeda.
"Kau sudah sadar?" tanya perawat itu ramah.
Nagato hanya mengangguk.
"Ini makanlah dulu untuk memulihkan tenagamu."
Perawat itu menyodorkan semangkuk bubur yang terlihat enak pada Nagato, tapi Nagato menggeleng pelan. Dia beranjak turun dari ranjang pasien. Perawat itu membantunya turun dan berjalan keluar dari mobil ambulance.
"Dimana?" tanya Nagato sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.
"Apa maksudmu?" tanya perawat itu tak mengerti.
"Dimana teman-temanku?"
Pandangan perawat itu terlihat sendu. Ditundukannya kepalanya. Nagato mengerti maksud sang perawat walau tak ada kata yang diucapkannya. Diapun berlari mencari atasannya yang mungkin telah datang.
"Nagato? Kenapa kau berkeliaran di sini? Lebih baik kalau kau di ambulance saja. Kau kan terluka," tutur seorang polisi muda berambut keperakan.
"Kakashi, dimana Yahiko? Dimana teman-temanku?" tanya Nagato dengan nafas memburu.
"Tenangkan dirimu. Kita duduk dulu."
Kakashi mengajak Nagato menuju mobil ambulance yang tadi ditinggalkan Nagato. Kakashi mendudukkan Nagato di belakang mobil ambulance. Ditatapnya Nagato lekat. Ekspresinya datar.
"Nagato, maaf kami tdak berhasil menyelamatkan mereka. Mereka tewas akibat bangunan yang roboh," jelas Kakashi.
Nagato menundukkan kepalanya.
"Nagato?"
"Aku tak apa. Tolong tinggalkan aku sendiri. AKu ingin menenangkan pikiran," pinta Nagato.
Kakashi tersenyum lemah dan beranjak menjauh dari mobil ambulance itu. Menuruti apa kata Nagato padanya.
Nagato duduk termenung di belakang mobil ambulance yang terbuka. Kepalanya menunduk ke tanah, terus menatap tanah seolah ada hal menari di sana. Dia menulikan kedua telinganya dari semua ucapan rekan-rekan kepolisian yang menanyakan keadaannya atau sekedar menyapa dan memberi dukungan. Dia tidak mau mendengar semua itu. Dia tidak mau. Rasa lelah dan juga rasa bersalah membuatnya tak berdaya.
Seorang wanita muda berambut biru pendek berlari dari kejauhan. Kedua mata biru azure-nya yang indah diedarkan ke sekelilingnya. Mencari seseorang yang dicintainya. Wajah sendu menghiasi paras cantik wanita itu. Diapun menangkap sosok orang yang dicarinya. Dia adalah Nagato. Diapun segera berlari menghampiri inspektor itu.
"Nagato..," panggil wanita itu lembut.
Nagato mengangkat kepalanya menghadap ke arah wanita itu.
"Konan?" gumamnya lirih.
"Nagato..!" teriak Konan seraya memeluk Nagato erat.
Kedua mata biru azure Konan terlihat mendung. Perlahan-lahan keluarlah air mata yang sedari tadi dibendungnya, membasahi kedua pipinya. Nagato menutup kedua matanya sembari membalas pelukan Konan.
"Gomen nasai Konan..gomen ne," ucap Nagato lirih dengan penuh penyesalan.
"Ada apa Nagato? Dimana Yahiko? Apa dia sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Konan beruntun.
"Gomen.."
Tidak mungkin..pikir Konan.
Diapun menyiapkan hati untuk kemungkinan terburuk mengenai adik laki-laki satu-satunya itu, Yahiko. Nagato melepas pelukannya pada Konan.
"Yahiko kenapa? Apakah dia..?"
Tak ada jawaban dari Nagato. Dia hanya memalingkan wajahnya pada tujuh kantung mayat hitam yang diletakkan tak begitu jauh dari tempatnya berada. Konan melihat lurus ke arah dimana Nagato melihat. Kedua matanya terbelalak. Reflek dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Tidak mungkin.. Yahiko.. Jadi dia..?"
Konan tak melanjutkan ucapannya. Tak sanggup lagi dia menahan rasa sedih yang mendera batinnya. Air matanya mengalir lebih deras dari sebelumnya. Tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke depan. Dengan sigap Nagato menangkap tubuh kekasihnya itu agar tidak terjatuh.
"Maafkan aku Konan, aku tidak bisa menepati janjiku padamu. Aku tidak bisa menyelamatkan Yahiko. Gomen, hounto ni gomen nasai," ucap Nagato.
Nagato mendekap Konan dalam pelukannya. Tak ada kata-kata yang terucap dari bibir mereka. Hanya terdengar tangisan lirih yang menderu.
.
.
.
Sinar mentari bersinar dengan teriknya, pertanda kini mentari telah ada di puncak kepala. Tapi panasnya cuaca tak mampu untuk menghentikan orang-orang yang berdatangan ke tempat pemakaman itu. Mereka berpakaian serba hitam sambil membawa setangkai bunga lily putih di tangan mereka. Mereka adalah para polisi dan kerabat dari ketujuh polisi yang tewas saat menjalankan misi. Ketujuh orang itu adalah anggota tim ANBU. Dan hari ini mereka akan dimakamkan bersama dengan cara terhormat ala kepolisian.
Tujuh peti mati berderet rapi di depan orang-orang. Foto ketujuh polisi itu masing-masing diletakkan di depan peti-peti itu.
Dari kerumunan orang-orang itu terlihat seorang pria berambut merah, berdiri sambil terus menatap ke arah sebuah peti mati di hadapannya. Lebih tepatnya menatap foto seorang polisi bernama Yahiko. Dalam tatapan matanya tersirat luka di hatinya. Walau luka itu tak nampak, tapi terasa sakit tak tertahankan. Di sampingnya seorang wanita berambut biru pendek berdiri dengan kedua tangan membawa setangkai lily putih. Dia menggigit bibirnya bagian bawah. Menahan luka batinnya.
"Saatnya memberikan penghormatan terakhir," ujar seorang pria tua berambut putih panjang.
Dia adalah Jiraiya, Kepala Kepolisian Konoha.
Jiraiya berjalan ke depan dengan membawa setangkai bunga lily putih. Diapun berhenti dan meletakkan lily putih itu di depan foto-foto ketujuh polisi itu. Tak lama kemudian orang-orang mengikuti apa yang dilakukannya. Satu per satu mereka maju ke depan dan meletakkan bunga yang mereka bawa sebagai tanda penghormatan terakhir.
"Nagato, giliran kita," ujar wanita berambut biru kepada pria beerambut merah.
"Ya, aku tahu Konan," jawab Nagato seraya mengikuti Konan dari belakang.
Konan maju ke depan sambil memeluk bunga lily putih yang dibawanya. Dia berheti cukup lama di depan. Menatap foto Yahiko.
"Yahiko, aku menyayangimu..selalu. Sayonara..," ucap Konan pelan seraya meletakkan bunga lily itu bersama dengan bunga lainnya.
Konan beranjak dari tempatnya. Nagato meletakkan bunga lilynya.
"Gomen ne Yahiko. Maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku. Ini semua salahku. Gomen.. Aku akan menebus perbuatanku. Percayalah padaku, Yahiko," kata Nagato lirih.
Diapun berbalik dan berjalan kembali ke arah Konan berada.
Setelah semua orang selesai, akhirnya tiba saatnya untuk menurunkan peti mati dan menguburkannya. Inilah saat yang paling mengharukan bagi mereka, menatap kepergian orang yang mereka sayangi untuk selamanya. Perlahan peti mati diturunkan. Para petugas pemakaman bersiap mengubur peti-peti itu dengan tanah. Suasana duka kembali menyelimuti orang-orang yang datang.
Dari kejauhan terlihat enam remaja dengan pakaian serba hitam dan kacamata hitam berdiri dengan angkuhnya. Mereka melihat pemakaman itu dari jauh. Enggan untuk mendekat ke sana. Senyuman sinis menghiasi wajah cantik dan tampan mereka.
"Ini hanyalah awal. Kalau kalian menghalangi jalan kami, dengan senang hati kami akan membunuh kalian," ujar seorang pemuda berambut hitam kebiruan.
"Bukan dengan senang hati, Blue. Tapi kita memang harus membunuh mereka karena mereka target kita," sahut pemuda berambut pirang cerah.
"Mengharukan sekali ya?" ujar gadis berambut pink.
"Kau benar Pink. Terlalu menyedihkan untuk dilihat," kata gadis berambut indigo pura-pura bersedih.
Pemuda berambut hitam kebiruan melihat jam tangan hitam di pergelangan kirinya.
"Hn. Kita pergi," perintah Blue pada kelima temannya.
Keenam remaja itupun meninggalkan tempat pemakaman itu masih dengan senyuman menghiasi wajah mereka.
.
.
.
Seorang gadis berparas cantik nan imut berjalan dengan anggunnya memasuki sebuah gedung megah dengan lima pilar pada bagian depanya. Gaun merah yang dipakainya berhias bunga mawar hitam, nampak cantik dipakainya. Sebuah selendang hitam diselempangkan pada kedua lengannya. Sepasang sarung tangan hitam sesiku dipakainya di kedua lengannya. Dia memakai sepasang sepatu merah. Rambut pirang panjangnya berkilau. Menambah daya tarik yang dimilikinya. Senyumannya menawan hati tiap pria yang melihatnya. Sempurna.
Tiba-tiba seorang petugas memakai jas hitam menghentikan langkahnya.
"Maaf Nona, kalau Anda mau lewat harus menunjukkan tanda pengenal lebih dahulu," ujar petugas itu sopan dan menatap mata biru aquamarine gadis itu.
"Maaf aku lupa," kata gadis itu lembut sambil mencari tanda pengenalnya di dalam tas kecil hitam yang dibawanya.
Tak lama kemudian gadis itu menunjukkan tanda pengenalnya pada petugas itu.
"Kazenami Runa," kata petugas itu membaca nama yang tertera pada tanda pengenal itu.
Diperhatikannya foto pada tanda pengenal itu dan juga wajah Runa.
"Ini Nona, silahkan masuk."
Petugas itu membukakan pintu kaca bagian dalam. Tak lupa dikembalikannya tanda pengenal Runa tadi.
"Arigato.."
Gadis bernama Runa tadi masuk ke dalam ruangan luas yang dipenuhi para wanita dan pria berpakaian pesta. Mereka adalah para undangan pesta yang diadakan pemilik gedung terbesar di prefektur Kiri. Gedung itu bernama Kiri Diamond Museum, sebuah museum berlian dari seluruh penjuru dunia. Dan hari ini adalah tepat lima tahun semenjak gedung itu didirikan.
Runa berjalan dan bergabung dengan para undangan yang hadir. Diapun menuju meja persegi panjang bertaplak putih tempat makanan dan minuman tersedia. Diambilnya sebuah jus jeruk lalu diminumnya sedikit.
"Aku sudah masuk," ucapnya lirih pada microphone kecil yang berbentuk seperti cincin perak pada jari telunjuk tangan kanannya.
"Bagus. Tepat jam tujuh lebih sepuluh kita mulai beraksi," ucap seorang gadis terdengar dari mini wireless yang dipakai di telinga kirinya.
Seorang pria berjas hitam dan bercelana panjang hitam berjalan menuju tempat seorang petugas penjaga pintu. Ditepuknya bahu petugas itu pelan.
"Ada apa?" tanya petugas itu.
"Sebaiknya kau beristirahat. Saatnya pergantian shift," jawab pria berambut hitam long spiky itu.
"Tepat sekali. Aku juga sudah mulai lelah. Tapi..kenapa sepertinya aku belum mengenalmu ya?"
"Ah, itu karena aku pegawai baru."
"Oh..ya sudahlah. Aku pergi dulu ya."
Petugas itupun berjalan meninggalkan tempatnya berjaga. Sekarang tempat itu digantian seorang pria berkulit putih dengan mata merahnya. Pada name tag yang disematkan di jas bagian kirinya tertulis "Uchisa Hasuke".
Selang dua menit kemudian muncul seorang pemuda berambut merah bata dengan setelan jas putihnya lengkap. Pemuda itu berjalan santai menuju pintu masuk bagian dalam. Tapi seperti biasa, petugas penjaganya akan meminta menunjukkan tanda pengenal. Pemuda itu mengeluarkan selembar tanda pengenal berwarna putih dari saku jas putihnya. Hasuke tersenyum kecil.
Akhirnya.
"Kusaba Araga. Silahkan masuk," ucap Hasuke mempersilahkan pemuda itu.
"Baik."
Araga bergabung dengan para undangan. Diapun berjalan sambil mengedarkan pandangan pada sekelilingnya. Nampak hiasan-hiasan pesta mewarnai ruangan itu. Lalu Araga berjalan lagi mendekati bagian tengah dimana gunung buatan yang terbuat dari gelas-gelas yang disusun rapi sampai menjulang tinggi. Diapun berhenti ketika melihat seorang gadis berambut pirang panjang. Gadis itu adalah Runa. Pemuda itu tersenyum sambil berjalan menuju tempat Runa berada.
"Apa kabar, nona cantik?" sapa Araga ramah.
"Kabar baik, Araga-san," balas Runa dengan senyuman ramah.
"Sepertinya pesta hari ini meriah sekali ya?"
"Ya, seperti yang kau lihat. Dan akan menjadi lebih meriah lagi dalam waktu kurang dari lima menit."
"Kau benar. Ini akan menjadi sangat menarik."
"Kalian berdua jangan main-main.. Persiapan sudah selesai. Satu menit lagi akan dimulai."
Terdengar suara seorang gadis berasal dari mini wireless yang dipakai Runa dan Araga.
"Kami tahu," jawab Runa dan Araga bersamaan.
Seorang pria berambut coklat dengan poni menutupi sebelah mata kirinya berdiri di tengah pesta. Dia mengenakan setelan lengkap berwarna biru muda. Tangan kanan putihnya memegang sebuah gelas.
"Tiiing.."
Dipukulnya gelas tadi menggunakan sebuah sendok. Para undangan langsung memperhatikannya dengan seksama.
"Ladies and gentlemen, good evening. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kehadiran Anda memenuhi undangan pesta yang saya adakan."
Pria itu menghentikan ucapannya sejenak,"Saya, Utakata, selaku pemilik Kiri Diamond Museum akan mempersembahkan sebuah mahakarya luar biasa. Sebuah berlian yang tiada tandingannya. 'Black Diamond'!" ujar Utakata bersamaan dengan diturunkanya sebuah berlian indah dan besar berwarna hitam.
Black diamond yang indah itu muncul dari bawah lantai. Berlian itu diletakkan di atas sebuah wadah bening dengan ukiran-ukiran rumit di sekelilingnya. Lalu diletakkan di dalam sebuah kotak kaca yang telah dipasang sensor gerak. Jika ada yang mencoba membuka kotak itu secara paksa maka alarm akan langsung berbunyi.
56..
57..
Runa berjalan mendekat ke arah black diamond berada. Diapun mengeluarkan sebuah alat dari dari dalam tasnya. Alat itu berwarna hitam dan besarnya hanya sebesar jari kelingking orang dewasa. Ditekannya tombol merah kecil berbentuk lingkaran yang ada pada alat itu. Sekilas muncul sinar kecil yang melewati bagian bawah kotak kaca itu. Runa tersenyum licik.
Dengan begini sensor gerak telah mati.
58..
59..
60..
"PETZ!"
Sudah dimulai.
Tiba-tiba lampu di ruangan itu padam. Membuat panik para undangan pesta, termasuk Utakata sendiri. Tiga puluh detik kemudian lampu ruangan kembali menyala. Tak ada yang berubah dari ruangan itu, kecuali satu hal. Black diamond sudah tak ada di tempatnya lagi. Berlian itu telah lenyap tak berbekas. Utakata menatap kotak kaca black diamond tak percaya.
"Black diamond-ku..hilang..," gumamnya lirih.
Sementara itu di tempat tangga darurat terlihat seorang gadis berambut pirang panjang tengah bersama dua orang pemuda. Satu pemuda berambut merah bata, dan satunya pemuda berambut hitam kebiruan. Gadis itu ternyata adalah Runa. Dan dua pemuda itu adalah Araga dan Hasuke. Runa melepas gaun pestanya dan berganti pakaian yang telah dipersiapkan sebelumnya. Pakaian ala harajuku style. Dilepasnya rambut palsunya dan dilepasnya pula soft lens yang dipakainya. Araga dan Hasuke juga melakukan hal yang sama. Kini sosok Runa, Hasuke, dan Araga telah tidak ada lagi. Yang ada adalah Yellow, Blue, dan Red.
"Akhirnya, aku terlepas dari gaun pesta menyebalkan itu," keluh Yellow.
"Hn, menurutku kau cantik memakainya," sahut Blue.
"Yang benar saja. Aku laki-laki!"
(Note: Kazenami = Namikaze, nami - kaze dibalik; Runa = Naru, Na - ru dibalik)
"Hari ini Pink yang memimpin game karena dia yang lebih tahu tempat ini dibanding kita," ujar Red sambil membereskan kostum penyamaran mereka tadi.
(Note: Kusaba = Sabaku, saba - ku dibalik; Araga = Gaara, ga - a - ra dibalik)
"Hn, berlian sangat identik dengan wanita."
(Note: Uchisa = Uchiha, Hasuke = Sasuke, uchi - ha - sa - suke dibalik)
"DUAAAARR..!"
Satu bom meledak. Dari asal suaranya, bom itu berasal dari lantai atas gedung. Dari atapnya. Gedung itu bergetar. Orang-orang segera berlarian keluar gedung untuk menyelamatkan diri. Sedangkan para petugas dan karyawan yang berjaga segera berlari menuju atap dan mengamanan gedung. Sebagian dari mereka segera menuju tempat Utakata berada. Melindunginya.
"Cepat hubungi polisi!" perintah Utakata pada anak buahnya.
Polisipun segera dihubungi.
"DOR! DOR!"
Terdengar suara tembakan dari arah lift. Layar monitor pada ruang pengawas menunjukkan seorang gadis berambut indigo menembak dua penjaga yang ada di sana. Gadis itu melihat ke arah kamera pengawas sambil menunjukkan seringaiannya. Gadis bertopeng ungu itu segera masuk ke dalam lift. Rupanya di dalam lift juga terdapat kamera pengawasnya.
"Sudah kurekam, sekarang pergilah," perintah seorang pemuda melalui mini wireless.
Indigo keluar dari dalam lift dan segera berlari menuju ruang pameran permata. Kebetulan letaknya berada di lantai yang sama.
Di saat yang sama seorang gadis berambut dan bertopeng merah muda turun dari atas atap yang kacanya telah pecah. Dia meluncur turun ke bawah dengan mudahnya. Lalu mendarat dengan kedua kakinya. Tiba-tiba muncul beberapa penjaga dari dua arah yang berlawanan. Dengan sigap gadis itu meraih dua handgun yang masing-masing berada di kedua pahanya. Merentangkan kedua tangannya.
"DOOR..DOOR..DZING..! DORR..."
Dia mulai menembaki mereka. Dia berputar, menghindar dengan bersalto dan kemudian menembak mereka lagi. Gerakannya cepat dan penuh tenaga. Para petugas itu langsung tewas di tangan gadis cantik itu.
"DORR..!"
"Meskipun aku lebih suka menghabisi polisi, tapi yang ini juga lumayan," ujar gadis itu senang.
"Pink? Kau di sana?" tanya Yellow di sambungan wireless.
"Ya, ada apa?"
"Black diamond telah kudapatkan. Selanjutnya apa?"
"Bagus. Sekarang berpencar ke lantai lima sampai tujuh. Ambil permata sebanyak kalian bisa."
"Okey!"
"Green, ini saatnya," perinah Pink pada Green.
Green mengotak-atik komputer yang ada di hadapannya. Lalu diapun menekan tombol enter satu kali.
.
.
.
Suara dentingan piano terdengar..
"..Kyozou no rakuen no hate no
Fukai fukai daichi no soko de
Tada hitori inori no uta o
Utai tsuzuru sadame
Yukiba o nakushita kako kara
Meguri tsuzukeru koe o tsunagi
Kuri kaesu rekishi no fuchi de
Sadame ni mi o sasagu.."
"Lagu apa ini?" tanya seorang petugas pada rekannya.
Rekannya menggeleng.
"Apa yang terjadi? Kenapa jadi begini?"
"Pasti ada yang salah!"
"Kamera pengawas juga bermasalah."
Para petugas di bagian kamera pengawas dan kontrol kebingungan. Entah bagaimana tiba-tiba sambungan wireless para petugas tak berfungsi. Yang terdengar adalah sebuah lagu merdu. Sebuah lagu berjudul..
"Hikari to Kage no Rakuen," ucap Pink seraya menarik pelatuk handgunnya ke arah seorang petugas.
"DORR!"
"Lagu yang indah," puji Blue yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
Pink menoleh ke arahnya lalu tersenyum. Para petugas yang lainnya berdatangan, termasuk para polisi. Blue dan Pink menyeringai. Merekapun menyambut kedatangan mereka dengan handgun mereka.
"DOOR!"
"..Nani mo shirazu tada uta dake
Tsumuide ikite kita..
Hare no uta o ame no uta o
Yasashii requiem o..," ucap Pink menyanyikan lirik lagu Hikari to Kage no Rakuen.
Seorang polisi menodongkan revolvernya pada Pink. Pink tersenyum. Dia berbalik dengan cepat seperti gerakan pada permainan basket. Lalu mengarahkan handgunnya para petugas di belakangnya.
"DOR!"
Satu peluru bersarang di kepala polisi itu. Pink mengedarkan pandangannya ke segala arah. Lalu mulai menembak beruntun pada beberapa polisi yang datang. Dengan sigap diapun menghindari serangan para polisi itu.
"..Rakuen eto tsuzuku michi no saki ni
Sashi nobe rareta
Atatakai te sae todokazu ni..," ucap Blue melajutkan lirik lagu yang iucapkan Pink.
"DOR! DZIING.. DOR!"
Blue mangarahkan handgunnya pada polisi yang berlari ke arahnya. Menyeringai lalu menempaknya. Blue dan Pink melawan mereka sambil terus bernyanyi. Saling bekerja sama dengan sangat baik. Mengalahkan musuh mereka yang datang.
Towa ni utai tsuzuke nasai..
.
.
.
"Gawat? Apa yang terjadi?" tanya seorang petugas penjaga ruang monitor.
"Entahlah, sepertinya semua gambarnya menghilang. Tak menunjukan apa-apa."
Mereka mencoba mengutak-atik komputer di ruangan itu. Tapi tak ada perubahan. Komputer tak lagi bisa mereka kendalikan.
"Hahaha..tentu saja kalian tidak akan bisa mengendalikan kamera-kamera itu. Karena semuanya telah berada di bawah kendaliku," ujar seorang pemuda di dalam sebuah mini van hitam yang terparkir di sudut gang tak jauh dari museum itu.
Di hadapannya terdapat sekitar sepuluh layar komputer dengan tiga buah keyboard. Layar monitornya menunjukkan setiap sudut tempat di gedung itu, tempat-tempat terjadinya perkelahian antara Konoha Thief dengan polisi. Seringaian licik mewarnai wajahnya.
"Green, dimana targetnya?" tanya Red tiba-tiba.
"Lantai lima, dekat ruang sebelah kiri paling ujung," ucapnya datar.
Inilah yang namanya Death Game. Seru dan menegangkan.
"Ledakan tadi hanyalah awal untukku mengendalikan semua kamera di sana," ujarnya pelan. "Ha..ha..ha.."
Konoha Thief terus melawan para petugas dan juga para polisi itu. Mereka bernyanyi sambil membunuh. Selah mereka sedang bahagia dan menikmati saat-saat pembunuhan yang mereka lakukan.
.
.
.
[KIRI DIAMOND MUSEUM : 07.45 PM]
Indigo berjalan melewati deretan lemari kaca dimana banyak berlian dipajang. Dengan gerakan cepat, diambilnya satu persatu berlian itu. Dimasukkannya ke dalam tas ransel hitam yang dibawanya.
"..Horobu sekai no yugami no soko de
Inori no uta o kanaderu sadame
Wasu rareshi kako ni nemuru yasashii koe ni..
Zetsubou sae mo hohoemi ni kae
Namida no soko ni shizunde iku.."
Indigo mendendangkan lagu "Hikari to Kage no Rakuen" dengan suaranya yang merdu. Kedua tangannya masih sibuk mengambil berlian yang ada di lantai tujuh gedung itu. Tak lupa diapun menempak petugas yang datang menghalanginya. Seringaian kecil menghiasi wajah cantiknya. Diapun berjalan menuju pintu keluar. Tapi tiba-tiba muncul seorang polisi yang berhasil menangkap pergelangan kiri Indigo.
"DOOR..!"
Polisi itu tertembak tepat di kepalanya. Diapun jatuh ke lantai dengan darah mengalir dari kepalanya. Indigo melihat siapa yang telah menembak polisi itu.
"..Zetsubou no rakuen no hate ni
Nakushita koe o sagashi motome
Michi naki michi o tada tooku
Samayoi yuku sadame.."
Tiba-tiba Yellow muncul dan menyanyikan lanjutan lirik lagu yang dinyanyikan Indigo. Yellow tersenyum pada Indigo. Kedua mata mereka bertemu. Yellow melompat ke arah seorang polisi yang datang dan mengarahkan handgunnya pada Indigo. Ditendangnya pelipis polisi itu dengan kaki kanannya. Dengan cepat Yellow menembaknya.
Para petugas berdatangan. Yellow dan Indigo berlari menuju ruangan lainnya tempat berlian dipajang. Merekapun mengisi ulang handgun mereka. Tak lupa mengambil berlian yang ada di sana. Tiba-tiba seorang polisi masuk ke ruangan itu. Yellow melawannya. Dengan bantuan Indigo, Yellow berhasil menjatuhkan pria lebih besar darinya itu.
.
.
.
Beberapa polisi dan petugas mengejar Red. Red berlari dengan cepat sambil terus menghindari serangan peluru dari mereka. Red melompat ke atas palang pembatas. Red melompat dari ujung palang pembatas lantai lima menuju lantai empat yang ada di seberang. Diapun mendarat dengan bertumpu pada lutut kanannya. Diarahannya handgunnya pada polisi yang ada di samping kanan dan kirinya.
"DOOR..DOOR..! DOORR.."
Red berputar seraya berdiri dari tempanya berjongkok. Menyeringai. Diapun mulai bernyanyi sambil mengarahkan handgunnya pada lawan-lawannya. Gerakannya cepat. Satu per satu lawannya dapat ditumbangkan. Mereka terjatuh ke lantai yang penuh cipratan darah mereka dimana-mana.
"..Toza sareta rekishi no kage ni
Ubawa reshi hi o omoi nagara
Kokoro no oku hibiku koe wa kutsuu ni mi modaeru.."
Musik di wireless para petugas masih terus menyanyikan lagu itu. Lagu yang menjadi saksi terjadinya perampokan dan pembantaian para petugas beserta polisi yang datang. Red berjalan menyusuri lorong yang sepi. Ditembakinya kamera pengawas yang bisa ditemuinya. Kamera-kamera itu berada di sudut langit-langit. Seringaian lebar menghiasi paras tampannya.
"Red, jangan ditembaki. Kamera itu sudah kukuasai sekarang. Jadi kau tidak perlu khawatir," kata Green memberi penjelasan.
"Aku tahu."
Tiba-tiba seorang polisi keluar dari sebuah ruangan bertuliskan 'Camera and Control Room'. Tak segan-segan pemuda berkulit putih susu itu langsung menembaknya tepat di jantungnya. Darah menyembur dari dada sebelah kirinya. Menetesi lantai yang dingin. Red kembali berjalan dan masuk ke dalam ruangan asal polisi tadi keluar. Dua orang petugas menatapnya dengan tajam.
"DOR..! DZIING.. DOOR..!"
Dua petugas itu tewas seketika. Red hanya menyeringai.
"Darah mereka berbau manis sekali..hahahaha..."
.
.
.
"Kita sudah mendapatkan yang kita inginkan. Berkumpul di atap!" perintah Blue pada kelima temannya.
"Baik, aku dan Indigo akan segera ke sana," jawab Yellow penuh semangat.
"Ya, aku segera ke sana," kata Red datar.
Blue berjalan bersama dengan Pink di sampingnya, mereka menuju atap gedung. Sementara itu Yellow berjalan dengan Indigo bergegas menuju atap. Red meninggalkan kekacuan yang dibuatnya. Diapun berlari menuju lift terdekat. Segera menekan tombol untuk menuju lantai teratas, roof access. Mereka segera berkumpul di atap gedung.
Blue dan Pink menunggu ketiga temannya di pinggir pembatas gedung. Mereka telah memasang peralatan yang biasa mereka gunakan saat meluncur. Pengaitnya dipasang dan talinya dikaitkan dengan benar.
"Maaf kami terlambat," ucap Indigo lemah lembut.
"Tidak apa-apa," sahut Pink dengan senyumannya.
Yellow dan Indigo berjalan menuju tembok pembatas gedung. Disusul Red di belakang mereka. Mereka bertiga langsung memasang peralatannya dengan cekatan dan terampil. Mereka berlima duduk di tembok pembatas.
"Are you ready?" taya Green melalui mini wireless.
"ONE!" teriak Indigo.
"TWO!" teriak Red.
"THREE!" teriak Yellow.
"Meluncur..!" teriak Blue.
Kelima remaja itu melompat turun dan meluncur seperti biasanya. Terbang bebas bersama angin. Merasakan hawa dinginnya malam yang menerpa kulit. Tak lama kemudian mereka sampai di tanah. Melepas ikatan tali dan bergegas menuju mobil van di ujung gang kecil. Sekali lagi Konoha Thief berhasil merampok.
.
.
.
[A Few Days Later..]
Beberapa pemuda tampan berpakaian keren berjalan memasuki sebuah warnet dengan santainya. Di warnet itu terlihat banyak pengunjung yang rata-rata para gamers tengah duduk di depan komputer mereka masing-masing. Kedua mata mereka menatap layar komputer yang menampilkan berbagai macam game. Mulai dari game Ragnarok, Final Fantasy, car race, fighting, advance, dan lainnya yang bersistem online. Ya, game online.
"Wah! Game ini hebat!" seru seorang gamer yang kebetulan tempatnya ada di tengah ruangan.
"Ada apa?" tanya pemuda di sampingnya.
"Aku mendaat email, saat kuakses ternyata membawaku ke sebuah game."
"Lalu?" sahut pemuda yang lainnya.
"Game online baru! Permainannya seru! Terasa nyata."
"Benarkah?"
Keadaan warnet makin ramai dan merekapun mencoba game baru itu.
Sementara itu di tempat lain..
"Death Game," gumam seorang gadis bermata ungu di depan laptopnya.
"Hm..? Kenapa?" tanya gadis berambut coklat pendek di sampingnya.
"Ah tidak. Ada game online baru."
"Oh.."
Sebuah game online 3D baru telah muncul. Namanya "Death Game". Game yang merupakan game petualangan yang mengajak pemainnya untuk berpetualang sebagai seorang pencuri ulung. Pemain harus mencari dan mengambil setiap berlian yang disimpan di suatu tempat. Tapi untuk mengambilnya harus melewati para polisi yang menjaganya. Pemain harus merencanakan jebakan yang terpasang tersembunyi dan menjebak para polisi itu. Kalau tidak, tinggal memilih senjata yang tersedia mulai dari handgun, revolver, sniper, panah, pedang, pisau, kapak, dan lainnya untuk membunuh para polisi itu.
Death Game, sebuah game pembantaian para polisi yang diambil berdasarkan kenyataan. Pembantaian yang dilakukan oleh Konoha Thief.
"HAHAHAHAHA.."
Terdengar tawa sinis dari sebuah mansion megah.
"Kelihatannya kau senang sekali Sasuke," ujar Naruto sambil merangkul temannya itu.
"Death Game yang kau buat, hebat sekali Shika," puji Sasuke.
"Tentu saja. Death Game adalah raja dari segala game. Sampai saat ini saja sudah ribuan bahkan puluhan ribu orang dari seluruh dunia yang memainkannya," sahut Shikamaru bangga.
"Kau memang hebat, Shikamaru," puji Sakura.
"Iya, Shikamaru pintar sekali..," tambah Hinata.
"Arigato."
"Lalu kapan kita akan beraksi lagi? Apa tidak ada target yang lebih bagus dari Inspektor yang waktu itu?" tanya Gaara bosan.
"Saat ini..sedang kuselidiki," jawab Shikamaru seraya mengutak-atik komputernya.
"Tidak apa-apa kalau tidak ada target baru. Tidak lama lagi kita akan beraksi kembali," timpal Sasuke.
"Di gedung
"Sepertinya akan menyenangkan. Tanganku sudah gatal untuk membunuh mereka," ujar Gaara.
"HA HA HA HA HA.."
Mereka berenam tertawa bersama. Merayakan kemenangan mereka dan juga atas tersebarnya game online mereka, "DEATH GAME".
.
.
.
[Konan's House : 08.00 PM]
Di sebuah dapur yang kecil, terlihat perabotannya ditata dengan sangat rapi. Lemari putih tempat menyimpan piring dan gelas-gelas dipasang di dekat komor gas. Lalu beberapa peralatan memasak lainnya berjajar di rak-rak khusus. Tampak asri dipandang mata. Seorang wanita berjalan menghampiri lemari es. Dia adalah Konan, pemilik rumah ini. Konan mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari es di dapurnya, sebuah minuman cola. Diapun berjalan kembali ke arah meja makan persegi empat yang berada di area dapur itu pula. Di atas meja itu terdapat beberapa makanan lezat buatannya. Seorang pria duduk sebuah kursi di depan meja itu. Raut wajahnya terlihat murung. Tak berselera makan. Konan menatapnya lalu tersenyum.
"Nagato, ayo kita makan. Nanti makanannya terburu dingin," ujar Konan lembut.
Nagato melihatnya sekilas lalu mengambil sebuah daging panggang yang ada di piring. Meletakkannya di piringnya.
"Itada kimasu," ucap Nagao lirih.
Diapun mulai memakannya. Beberapa detik kemudian dia terdiam. Kembali merenung. Konan terus menatapnya heran. Suasana menjadi hening.
Aku tahu Nagato, kau pasti teringat soal Yahiko lagi. Aku tahu karena di meja inilah kita bertiga biasa makan bersama. Dia selalu duduk di kursi sebelah kananku, kata Konan dalam hati.
Konan melirik ke arah kursi kosong di sebelah kanannya. Kursi itu adalah kursi tempat Yahiko biasa duduk. Terbayang olehnya sosok Yahiko yang tengah duduk di kursi itu sambil makan malam seperti biasanya. Sosok Yahiko itu melihat ke arah Konan lalu tersenyum lembut. Tiba-tiba Konan teringat saat-saat indah bersama Yahko dan Nagato. Mereka bertiga terbiasa makan bersama di meja kecil ini. Bersenda gurai dan saling bercerita, terasa membahagiakan. Seolah waktu berhenti dan akan seperti itu untuk selamanya.
Masih teringat jelas di benaknya saat mereka bertiga makan malam bersama. Seolah hal itu baru terjadi kemarin. Dan mungkin saat itulah untuk terakhir kalinya Konan dan Nagato makan bersama dengan Yahiko. Di ruangan ini, di tempat ini. Yahiko memakan masakan kakaknya dengan lahap sampai akhirnya tersedak.
"Makanya kalau makan hati-hati..dasar kau ini," ucap Konan seraya menuangkan air putih pada gelas kosong Yahiko.
Disodorkannya gelas itu pada Yahiko. Dengan cepat Yahiko meminumnya.
"Hah.." Yahiko menghela nafas lega.
"Kalau makan pelan-pelan saja, makanannya tidak akan lari," tutur Nagato ramah.
Yahiko mengangguk.
Kini semua itu hanyalah tinggal kenangan. Yahiko telah tiada.
"Kalau misalnya kau merindukan seseorang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Nagato tiba-tiba.
Konan sedikit tersentak.
"Menemui orang itu adalah obatnya," jawab Konan singkat.
"Bagaimana kalau tidak bisa bertemu?"
Konan terdiam, dia mulai mengerti kemana arah pembicaraan Nagato.
"Maka seiring berjalannya waktu hal itu akan menjadi kenangan. Akan tersimpan dalam hati kita, dan takkan terlupa sampai kapanpun juga."
Perlahan butiran air mata bening jatuh membasahi kedua pipi Nagato. Dia menundukkan kepalanya. Rasa lapar yang mendera perutnya, diabaikannya. Rasa itu tidaklah penting. Rasa itu tak sebanding dengan luka yang ada di hatinya. Luka tak terlihat tapi begitu menyakitkan, seolah tersayat dan ditaburi garam di atasnya.
"Kita berdua sama-sama kehilangan. Akupun juga sedih sepertimu, tapi aku tidak sepertimu."
Konan menghentikan ucapannya sejenak,"Kalau Yahiko ada di sini, aku yakin dia tidak akan suka melihatmu seperti ini. Tidak akan suka melihat kita bersedih. Dia akan tersenyum sambil berkata, 'tetaplah hidup neechan, tetaplah tegar Nagato-nii. Lanjutkan hidupmu dengan senyuman, semuanya akan baik-baik saja.'"
Suara Konan bergetar. Satu air mata menetes dari mata kiri Konan. Air mata itu mengalir membentuk sungai kecil. Konan menggigit bibir bawahnya. Menahan kepedihan yang dirasakannya. Diusapnya pipinya yang basah dengan punggung tangan kirinya.
"Semua ini salahku Konan," gumam Nagato.
"Ini semua bukan salahmu. Ini semua memang sudah menjadi takdir," timpal Konan.
"Kalau saja..saat itu aku bisa melindunginya. Kalau saja..saat itu aku tidak membawanya ke tempat itu. Mungkin saat ini Yahiko.."
"Yahiko sudah meninggal, Nagato!" potong Konan cepat. "Sebagai kakak kandungnya, akupun merasa kehilangan. Tapi aku berusaha tegar. Aku tahu hanya bersedih takkan menyelesaikan masalah. Aku tahu hanya dengan menangis takkan membuatnya kembali hidup."
"Tapi ini semua salahku!" teriak Nagato seraya beranjak dari kursinya.
"Itu bukan salahmu! Itu salah mereka!" teriak Konan tak kalah kerasnya dari Nagato sembari berdiri dari kursinya.
"Akulah yang membuat Yahiko terbunuh!"
"Tapi bukan kau yang membunuhnya, merekalah pelakunya! Jika ada yang harus disalahkan, bukan kau orangnya, tapi Konoha Thief itu!"
"Tapi akulah penyebabnya!"
"CUKUP!" bentak Konan.
Nagato terentak. Nagato terdiam. Konan terdiam.
"Cukup kau ucapkan semua itu. Kau tidak bersalah. Semua orang tahu itu. Yahiko telah tiada, tidak ada yang bisa kita lakukan lagi. Balas dendampun percuma, karena hanya akan meninggalkan luka lebih dalam. Balas dendam hanya menyebarkan kebencian. Nagato, kumohon padamu..jangan bersedih lagi. Aku tidak tega melihatmu seperti ini," pinta Konan dengan lembut.
Perlahan Konan meraih kedua tangan Nagato. Menggenggamya erat. Tangisan Nagao pecah. Konan mendekap Nagato dalam pelukannya. Mereka kembali menangis bersama.
Kami-sama..cobaan apa lagi yang Kau berikan padaku? Tanya Nagato dalam hati.
.
.
.
Seorang pemuda berjalan di trotoar. Rambut hitam terurai panjang sampai di bawah bahu dengan dikuncir sedikit di belakang, sedikit berantakan. Pakaiannya serba hitam ala harajuku style kebanyakan. Tapi wajahnya tampak malas dan seperti orang mengantuk. Sesekali dia medengus dan menghela nafas berat.
"Mendokusei..," gumamnya kesal.
Pemuda itu terus berjalan dengan santainya melewati berbagai macam toko di samping kanan dan kirinya. Diraihnya ponsel hijau di saku celananya. Memencet-pencet pada keypadnya, mencari suatu nomor. Lalu menekan tombol dial yang berwarna hijau.
"Piip..piip...piiiiiip..."
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.."
"Sial!" umpatnya kesal.
Diapun kembali berjalan.
"BRUAK!"
Pemuda itu menabrak seorang gadis berambut pirang dikuncir empat, dua pada bagian atas dan dua lagi pada bagian bawah. Gadis itu jatuh ke lantai. Sementara yang menabraknya tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri.
"Hei kau! Kalau jalan hati-hati!" teriak gadis itu kesal.
"Sumimasen Nona, kau tak apa kan?" tanya pemuda itu mencoba ramah seraya mengulurkan tangannya pada gadis itu.
Gadis itu menerima uluran tangan Shikamaru. Diapun berdiri dari tempatnya jatuh. Shikamaru melihat gadis itu dengan seksama, mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kedua matanya tak teralihkan kala menatap paras cantik gadis itu. Si Tuan Mendokusei terpesona pada gadis berkulit putih itu.
Kulit putihnya.. Kedua bola mata hitamnya.. Rambut pirangnya.. Tubuhnya yang langsing.. Sempurna..
"Kau baik-baik saja?" tanya gadis itu sedikit lebih ramah.
"Ah, tidak apa-apa. Kau sendiri? Apa ada yang terluka?" tanya pemuda itu balik.
"Aku tidak apa-apa."
Gadis itu beranjak pergi tapi pemuda itu mendahuluinya. Menghadangnya dengan lengan kanannya yang direntangkan.
"Sumimasen, kalau tida keberatan..bolehkah aku tahu siapa namamu?"
Gadis itu mengangguk.
"Namaku Nara Shikamaru," ucap pemuda itu seraya mengulurkan tangannya ke arah gadis itu.
"Namaku Temari," ucap gadis itu seraya membalas uluran tangan Shikamaru.
"Kau mau kemana? Mungkin aku bisa mengantarmu."
"Tidak perlu, tempat tujuanku dekat dari sini. Jalan kaki juga sudah cukup."
Gadis yang mandiri dan dewasa. Aku suka itu.
"Oh.."
Gadis itu berjalan cepat meninggalkan Shikamaru sendirian. Sedangkan Shikamaru hanya diam di tempatnya berdiri.
"Kurasa, dia gadis idamanku."
Shikamaru melangkahkan kaki jenjangnya untuk menuju tempat teman-temannya berada. Tapi tiba-tiba kedua mata Shikamaru menangkap secarik kertas tebal. Diapun memungut kertas itu. Di atasnya terlihat sebuah foto seorang gadis bermabut pirang.
TBC
Hi all. Apa kabar?
Maaf ya Death Game lama gak berlanjut. Tapi sekarang udah lanjut.
Kali ini masih ber-angst-ria. Hahaha.. Dan Konoha Thief telah beraksi kembali.
Makasih buat yang udah baca fic ini.
Review please..
