DIVERGENT
Summary :
"Divergent" menceritakan tentang manusia dewasa yang dibagi menjadi lima jenis menurut karakteristik mereka masing-masing. Kelima jenis kategori tersebut adalah Candor (jujur), Erudite (genius), Amity (suka damai), Dauntless (pemberani) dan Abnegation (penolong tanpa pamrih).
Sedangkan untuk kategori "Divergent" adalah kategori yang tidak termasuk ke dalam kelima jenis kategori karakteristik tersebut karena memiliki berbagai macam kepribadian yang menonjol dalam dirinya.
Seorang Pemuda bernama Youngjae harus menghadapi tes penentuan nasibnya. Youngjae merasa gugup dan penasaran sekaligus ingin mengetahui berada di golongan manakah dia berada. Namun di saat menjalani tes, Youngjae merasa ada yang tidak beres dan kemudian hasilnya dia tidak termasuk ke dalam 5 golongan yang ada. Lalu seorang wanita yang menguji dirinya dan menyuruh Youngjae untuk menjaga rahasia identitas dirinya sebagai seorang Divergent.
Cast : Yoo Youngjae (B.A.P)
Jung Daehyun (B.A.P)
Others Cast : Bang Yongguk(B.A.P), Kim Himchan(B.A.P), Byun Baekhyun(EXO), Park Chanyeol(EXO), Im Jaebum(GOT7), Oh Sehun(EXO), Song Jieun(SECRET), Jackson(GOT7), Naeun(APINK), Hoseok(BTS), Suho(EXO). Cast akan bertambah^^.
Cameo : Kim Myungsoo(INFINITE)
(DAEJAE,BAP,YAOI,BL,FANFICS)
- aku Remake nih novel karya V R, karena aku sangat menyukainya, sangat sangat suka^^. Jadi deh ingin ajja nge-remake nih novel dengan judul yang sana 'DIVERGENT', Daejae ver lagi. Banyak kok author lain yang Remake nih FF, jadi mungkin sangat sama dengan milik mereka(?), di ffn ini juga ada tapi bahasanya, bahasa Inggris^^.
Tidak ada maksud untuk Plagiat oke!
Oke semoga kalian menyukainya~~~-
-Jika ada kesamaan jalannya cerita, mungkin itu hanyalah kebetulan semata(?)-
Typo mungkin bertebaran…..
You Happy, I'm Happy too(?)
.
Daejae
.
Happy Reading….
Divergent #4
Aku tiba di kompleks perumahanku lima menit lebih awal dari biasanya, menurut jam tanganku—satu-satunya perhiasan yang boleh dipakai seorang Abnegation, hanya karena fungsi praktisnya. Jamku bertali abu-abu dan memiliki tutup kaca. Jika melihatnya dengan sudut yang tepat, aku hampir bisa melihat pantulan bayanganku sendiri di sana.
Rumah-rumah di kompleks ini memiliki ukuran dan bentuk yang sama. Rumah kami terbuat dari semen abu-abu dengan beberapa jendela murahan berbentuk segiempat tak beraturan. Pekarangan kami ditumbuhi alang-alang dan kotak pos terbuat dari besi yang kusam. Untuk beberapa orang, pemandangan ini terlihat suram, tapi untukku, kesederhanaannya sungguh membuat nyaman.
Alasan atas semua kesederhanaan ini bukanlah penghinaan atas keunikan, seperti yang terkadang diartikan oleh faksi lainnya. Semuanya—rumah, pakaian, tatanan rambut kami—untuk membantu kami melupakan diri kami sendiri, serta melindungi kami dari rasa sombong, serakah, dan iri yang merupakan bentuk dari egoisme. Kalau kami hanya memiliki sedikit, menginginkan sedikit, dan kami semua sama, kami takkan iri pada siapa pun.
Aku mencoba mencintai cara ini.
Aku duduk di undakan depan rumah dan menunggu Yongguk hyung pulang. Aku tak menunggu lama. Semenit kemudian, aku melihat beberapa anak berjubah abu-abu menyusuri kompleks. Terdengar suara tawa. Di sekolah, kami mencoba untuk tidak menarik perhatian orang pada kami, tapi begitu di rumah, permainan dan lelucon dimulai. Kecenderungan alamiku akan sarkasme masih belum dihargai. Sarkasme selalu mengorbankan perasaan orang lain. Mungkin kaum Abnegation berpikir lebih baik aku menekan sikap itu. Mungkin aku tak perlu meninggalkan keluargaku. Mungkin kalau aku berjuang untuk menerapkan nilai Abnegation, sikapku akan terasa lebih nyata.
"Youngjae!" ujar Yongguk. "Apa yang terjadi? Gwaenchanha?"
"Aku baik-baik saja." Yongguk bersama Himchan dan kakaknya Myungsoo. Himchan menatapku aneh, seakan aku orang yang berbeda dengan yang ia kenal tadi pagi. Aku mengangkat bahu. "Saat tesnya selesai, aku tidak enak badan. Mungkin karena cairan yang mereka berikan. Tapi sekarang, aku sudah baikan."
Aku mencoba tersenyum mantap. Sepertinya aku berhasil memperdaya Himchan hyung dan Myungsoo hyung yang sudah tak lagi mencemaskan kondisi kejiwaanku. Namun, Yongguk hyung memicingkan mata dan menatapku. Ia selalu melakukannya saat ia mencurigai seseorang sedang berbohong.
"Kalian berdua hari ini naik bus?" tanyaku. Aku tak peduli bagaimana Himchan dan Myungsoo hyung pulang dari sekolah, tapi aku harus mengganti topik.
"Ayah kami harus pulang malam," ujar Himchan, "dan ayah bilang harus merenung sebentar sebelum Upacara besok."
Hatiku melompat saat Upacara itu disebut.
"Kalian boleh mampir nanti kalau kalian mau," ujar Yongguk sopan.
"Gomawo." Himchan tersenyum pada Yongguk.
Myungsoo menaikkan alisnya ke arahku. Kami berdua sering saling pandang setahun ini saat Himchan dan Yongguk hyung saling tebar pesona dengan cara yang sementara ini hanya diketahui oleh kaum Abnegation. Mata Yongguk mengikuti langkah Himchan. Aku sampai harus meraih lengannya untuk mengalihkan pandangannya. Aku mengajaknya masuk ke rumah dan menutup pintu.
Ia berbalik menatapku. Alisnya yang hitam dan lurus saling bertaut dan membuat dahinya berkerut. Saat ia bekernyit seperti itu, ia lebih mirip eomma daripada appa. Dalam sekejap, aku bisa membayangkannya menjalani hidup seperti appa: tetap tinggal di Abnegation, belajar berdagang, menikahi Himchan hyung, dan memiliki keluarga. Pasti akan indah.
Aku mungkin tak bisa ikut menyaksikannya.
"Apa kau mau memberitahukan yang sebenarnya sekarang?" tanyanya lembut.
"Sejujurnya," kataku, "aku tak boleh membahasnya. Dan kau tak seharusnya bertanya."
"Semua peraturan pernah kau langgar, dan yang ini malah tak bisa kau langgar? Tidak bahkan untuk sesuatu sepenting ini?" Alisnya saling mengait dan ia menggigit ujung bibirnya. Walau kata-katanya terdengar menuduh, kedengarannya seperti ia menyelidikuku untuk sebuah informasi—sepertinya ia benar-benar menginginkan jawabanku.
Aku memicingkan mata. "Apa kau juga mau berbagi? Apa yang terjadi saat tes-mu, hyung?"
Kami saling bertatapan. Aku mendengar klakson kereta. Sangat samar sampai mudah dibawa angin yang berembus di lorong aula. Tapi, aku tahu saat mendengarnya. Kedengarannya seperti Dauntless memanggilku datang.
"Jangan bilang ayah ibu apa yang terjadi, oke?" kataku.
Matanya tetap menatapku beberapa detik, lalu ia mengangguk.
Aku ingin naik ke kamar dan berbaring. Ujian tadi, perjalananku pulang barusan, dan pertemuanku dengan pria factionless tadi, membuatku lelah. Tapi,hyungku menyiapkan sarapan pagi ini, eomma menyiapkan makan siang kami, dan appa menyiapkan makan malam kemarin. Jadi, malam ini giliranku memasak. Aku menarik napas panjang dan berjalan menuju dapur untuk memasak.
Semenit kemudian, Yongguk hyung mendatangiku. Aku menggertakkan gigi. Ia membantu menyiapkan semuanya. Yang membuatku terganggu adalah sikap baiknya yang alami. Sikap tak mementingkan diri sendiri yang sudah ia bawa sejak lahir.
Aku dan Yongguk hyung bekerja sama tanpa bicara. Aku memasak kacang di atas kompor. Ia menghangatkan empat potong ayam beku. Sebagian besar yang kami makan adalah makanan beku atau kalengan karena peternakan letaknya jauh. Eomma pernah bilang, dulu orang-orang tak mau membeli produk yang melalui proses genetis buatan karena mereka pikir itu tidak alami. Sekarang, kami tak punya pilihan.
Saat ayah ibu pulang, makan malam dan meja sudah siap semua. Appa menjatuhkan tasnya di pintu dan mencium kepalaku. Orang lain memandang appa sebagai orang berpendirian keras—terlalu keras, malah—tapi appa juga penyayang. Aku mencoba untuk hanya melihat sisi baiknya. Aku mencoba.
"Bagaimana tesnya?" tanyanya. Aku menuangkan kacang ke mangkuk saji.
"Baik," kataku. Aku tak bisa menjadi seorang Candor. Aku terlalu gampang berbohong.
"Kudengar ada semacam masalah dengan salah satu tesnya," ujar eomma. Seperti appa, eomma bekerja di pemerintahan. Bedanya, eomma mengatur proyek pengembangan kota. Eomma merekrut para sukarelawan untuk menjalankan tes kecakapan. Namun, sering kali juga, eomma mengatur para pekerja untuk membantu kaum factionless dengan bantuan makanan, tempat tinggal, dan kesempatan kerja.
"benarkah?" tanya appa. Masalah tes kecakapan jarang terjadi.
"Aku tidak terlalu mengerti, tapi temanku, Sunny bilang ada sesuatu yang salah dengan salah satu tesnya, jadi hasil tesnya harus diberikan secara lisan." Eomma meletakkan satu serbet di samping setiap piring di meja. "Sepertinya murid itu sakit dan disuruh pulang lebih awal." eomma mengangkat bahu. "Aku harap mereka semua baik-baik saja. Apa kalian mendengar sesuatu tentang itu?"
"Tidak," ujar Yongguk. Ia tersenyum pada eomma.
Hyung ku juga tak bisa menjadi seorang Candor.
Kami duduk mengitari meja. Kami selalu mengoper makanan ke kanan dan tak ada yang makan sampai semua makanan disajikan. Appa mengulurkan tangan ke arah eomma dan hyungku, dan mereka mengulurkan tangan pada appa dan aku. Appa pun bersyukur pada Tuhan atas makanan, pekerjaan, teman-teman, dan keluarga. Tidak semua keluarga Abnegation religius, tapi appa selalu bilang kami harus mencoba tidak melihat perbedaan karena itu hanya akan memecah belah kami. Aku tidak tahu harus berkata apa.
"Jadi," kata ibu pada ayah. "Katakan padaku."
Eomma meraih tangan appa dan mengusapkan ibu jarinya di atas tonjolan tulang tangan appa dengan gerakan melingkar. Aku menatap mereka saling berpegangan tangan. Orangtuaku saling mencintai, tapi mereka jarang menunjukkan kasih sayang seperti ini di depan kami. Mereka mengajari kami kalau kontak fisik itu begitu kuat, jadi aku sudah terbiasa tidak nyaman dengan kontak fisik sejak aku masih kecil.
"Katakan padaku apa yang mengganggumu," tambahnya.
Aku menatap piringku. Indra peka ibuku terkadang mengejutkanku, tapi sekarang rasanya seperti meledekku. Kenapa aku terlalu memikirkan diriku sendiri sampai aku tidak memperhatikan sosok ayah yang kuyu dan muram?
"Aku mengalami hari yang sulit di kantor," ujarnya. "Ya, sebenarnya,Yunholah yang tadi mengalami hari yang sulit. Aku tidak seharusnya mengakuinya sebagai hariku."
Yunho adalah rekan kerja ayah. Mereka berdua adalah pemimpin politik. Kota ini dipimpin oleh dewan yang terdiri dari lima puluh orang. Seluruh anggota dewan tersusun dari wakil-wakil Abnegation; faksi kamilah yang dianggap tidak korup karena komitmen kami untuk tidak mementingkan diri sendiri. Pemimpin kami dipilih oleh rekan-rekannya karena karakter yang tidak tercela, kegigihan moral, dan watak kepemimpinan. Perwakilan dari faksi lainnya bisa berbicara di dalam sebuah pertemuan tentang masalah tertentu, tapi keputusan sepenuhnya berada di tangan dewan. Dan, saat dewan membuat keputusan bersama, Yunho adalah orang yang cukup berpengaruh.
Sistem ini sudah lama dianut sejak awal zaman kedamaian akbar, saat faksi-faksi terbentuk. Kurasa sistem ini tetap dijalankan karena kami takut apa yang mungkin terjadi jika tidak dijalankan: perang.
"Apakah ini karena laporan Kwon Yuri?" ujar eomma. Kwon Yuri adalah satu-satunya wakil Erudite yang terpilih berdasarkan nilai IQ-nya. Appa sering mengeluh tentang wanita itu.
Aku mendongak. "Laporan?"
Yongguk memberiku tatapan peringatan. Kami tidak seharusnya berbicara di meja makan, kecuali apabila orangtua kami menanyai kami langsung. Telinga yang suka mendengar adalah berkah, begitu kata ayahku. Mereka memberikan kami kesempatan semacam itu setelah makan malam, di ruang keluarga.
"Ya," ujar ayah dengan mata menyipit. "Laporan yang arogan, mementingkan diri sendiri—" ia berhenti sebentar dan berdehem. "Maaf. Tapi, ia mengeluarkan laporan yang menyerang karakter Yunho."
Aku menaikkan alis.
"Laporannya bilang apa?" tanyaku.
"Youngjae," ujar Yongguk tenang.
Aku menundukkan kepala. Aku memainkan garpu tanpa henti sampai merah di pipiku menghilang. Aku tidak suka ditegur. Apalagi oleh hyungku.
"Laporannya bilang," kata appa,"kalau kekerasan dan kekejaman Yunho terhadap anak laki-lakinyalah yang menjadi penyebab utama anaknya memilih Dauntless daripada Abnegation."
Beberapa orang yang lahir di kaum Abnegation memutuskan untuk meninggalkan faksinya. Jika ada yang melakukannya, tentu kami terus mengingatnya. Dua tahun lalu, anak laki-laki Yunho, Daehyun, meninggalkan faksi kami untuk pindah ke Dauntless. Hati Yunho hancur sejak itu. Daehyun anak tunggalnya—dan satu-satunya keluarga yang ia punya karena istrinya meninggal saat melahirkan anak kedua mereka. Bayi itu menyusul ibunya beberapa menit kemudian.
Aku tak pernah bertemu Daehyun. Ia jarang mendatangi acara komunitas dan tak pernah ikut datang bersama ayahnya ke rumah kami untuk makan malam. Appa dulu sering menganggapnya aneh, tapi sekarang itu bukan masalah.
"Kejam? Yunho?" eomma menggelengkan kepala. "Kasihan pria malang itu. Ia tak perlu diingatkan atas kehilangannya itu."
"Atas pengkhianatan putranya, maksudmu?" tanya appa dingin. "Di titik ini aku takkan terkejut. Orang Erudite itu telah menyerang kita dengan laporan semacam itu beberapa bulan ini. Dan ini bukanlah yang terakhir. Akan ada lagi. Aku jamin itu."
Aku tak seharusnya bicara lagi, tapi aku tak bisa menahan diri. Aku keceplosan, "Kenapa mereka melakukan ini?"
"Kenapa kau tak menggunakan kesempatan ini untuk mendengarkan appamu, Youngie?" ujar eomma lembut. Kalimat itu diucapkan seperti sebuah saran, bukannya perintah. Aku menatap ke seberang meja ke arah Yongguk hyung yang juga menatapku tidak setuju.
Aku menatap kacang-kacangku. Aku tidak yakin aku bisa hidup di kehidupan yang penuh peraturan seperti ini lebih lama lagi. Aku tidak cukup baik untuk itu.
"Kau tahu alasannya," ujar appa. "Karena kita memiliki apa yang mereka mau. Menghargai ilmu pengetahuan di atas segalanya akan berakhir dengan keinginan untuk kekuasaan. Dan, itulah yang mendorong seseorang ke dalam tempat kosong dan gelap. Kita seharusnya bersyukur karena kita memahaminya lebih baik."
Aku mengangguk. Aku tahu, aku takkan memilih Erudite, walau hasil tesku mengatakan kalau aku bisa memilihnya. Aku anak namja kesayangan appa.
Ayah dan ibu membersihkan meja setelah makan malam. Mereka bahkan tak membiarkan Yongguk membantu karena kami seharusnya menyendiri di kamar daripada di ruang keluarga, sehingga kami bisa memikirkan tentang hasil tes tadi.
Keluargaku mungkin bisa membantuku memilih, jika aku mau bicara tentang hasilnya. Tapi, aku tidak bisa. Peringatan Jieun terbayang-bayang di ingatanku tiap kali keinginanku untuk menutup mulut goyah.
Aku dan Yongguk hyung menaiki tangga dan begitu kami sampai di atas, saat kami memisahkan diri menuju kamar kami masing-masing, ia menghentikanku dengan satu sentuhan di pundak.
"Youngjae," ujarnya sambil menatap mataku tajam. "Kita harus memikirkan keluarga kita." Ada penekanan di nada bicaranya. "Tapi, kita juga harus memikirkan diri kita sendiri."
Untuk sejenak, aku menatapnya. Aku tak pernah melihatnya memikirkan diri sendiri. Tak pernah mendengarnya memaksakan sesuatu selain sikap tidak mementingkan diri sendiri.
Aku begitu terkejut dengan komentarnya sampai aku hanya mengatakan apa yang seharusnya kukatakan: "Tes itu tak perlu mengubah pilihan kita."
Ia sedikit tersenyum. "Tapi memang begitu, kan?"
Ia meremas bahuku dan berjalan menuju kamarnya. Aku menemaninya menuju kamar dan melihat tempat tidur yang belum rapi dan setumpuk buku di meja. Ia menutup pintu. Kuharap aku bisa memberitahunya kalau kita sedang menghadapi masalah yang sama. Kuharap aku bisa mengatakan sesuatu padanya tepat seperti apa yang kuinginkan, bukannya seperti apa yang seharusnya aku katakan. Tapi, mengakui kalau aku butuh bantuan terlalu besar untuk ditanggung, jadi aku berbalik.
Aku masuk ke kamar. Saat aku menutup pintunya, aku sadar, pilihannya mungkin sederhana. Akan butuh rasa tidak mementingkan diri sendiri yang begitu besar untuk memilih Abnegation, atau rasa keberanian yang besar untuk memilih Dauntless. Mungkin memilih salah satu dari dua hal itu akan membuktikan tempat mana seharusnya aku berada. Besok, kedua sifat itu akan bertarung di dalam diriku. Dan, hanya satu yang bisa menang.[]
.
.
.
.
.
.
TBC
Yeyyyy tebar kebaikan dibulan Ramadhan~~~ ^^SAM Up lagi nih chapter baru yang Divergent doang~. Baru tiga hari yang lalukan SAM Upnya^^ hehehe, sekarang Up lagi~.
Ohh iyah Reader-nim tercinta^^, panggil saya SAM yah mulai sekarang, SAM itu inisial nama asli aku :D, biar kita dekeet gimanaaaaaa gitu XD yah yah yahhhh~ Please~~ hahaha…
Makasih sama yang udah Read dan suka sama nih FF^^, dan makasih juga sama yang udah Favorite and Follow, apalagi yang nyempetin untuk Review^^, kamsahamnida *bow*
Oke deh A-yo kita bales Review~~
Guest : Sooya :
Gk tau mau comment apa ,pokok nya suka sama ff nya ,tetap semangat ,next athornim
:
Hahaha mau comment "lanjutt" doang juga SAM udah bahagia^^, yeyy makasih udah suka sama nih FF^^, makasih udah nyemangatin juga n_n, iyah ini udah di next^^. Makasih udah Review^^;*.
yongchuxx :
suka ini. pokoknya harus lanjut
:
Yeyy makasih udah suka sama nih FF^^. Iyah udah pasti akan selalu dilanjut~. Makasih udah Review^^;*.
yjae :
gak tau harus ngereview apa, tapi yg aku tau lanjuttt authornim. Hehehe
:
Hahaha gak papa^^ SAM udah bahagia kalau Cuma baca Review yang "lanjutt" doang juga^^. Hahaha iyah ini udah lanjuttt. Makasih udah Review^^;*.
Senang Anda menikmatinya^^
© SAM or Daejae24 2018
See You Next Time^^ pai pai~~
