Disclaimer :

Naruto hanya milik Masashi Kishimoto.

Warning : OOC-ness (kemungkinan), typos, banyak narasi, minor romance.

A/N : Terima kasih reviewnya

reply review :- Jilans : Akan kuusahakan cerita ini tetap on going. Untuk masalah pairing, masih sedikit kupikirkan hehehe. Soalnya tokoh utamanya juga seorang OC, takutnya nanti jadi kelihatan ga bagus kalo aku kasih pairing secara buru-buru trus sembarangan (?) begitulah. makasih sudah mampir

Selamat Membaca!

ooOoo

Desingan angin yang diakibatkan oleh kecepatan lari hampir membuat telingaku berdenging nyeri. Aku berusaha keras untuk mengabaikan sensasi ini dan terus mengayunkan kaki di setiap dahan pohon sambil merapalkan sugesti penenang untuk diriku sendiri. Gerbang utama Konoha akan kucapai dalam beberapa ratus meter lagi asal aku bisa bertahan.

Namun, lima orang yang bertopeng ANBU di belakang sana seolah tidak ingin melepasku begitu saja. Aku merasakan puluhan shuriken yang dilemparkan ke arahku sehingga membuatku terpaksa bermanuver sedemikian rupa untuk menghindar agar senjata itu tidak berhasil menancapkan mata-mata pisaunya di tubuhku. Setelah bersalto dengan ringan di udara, aku merasakan kakiku kembali menginjak dahan pohon. Kulanjutkan ayunan kakiku sambil menahan sumpah serapah yang sudah memuncak di dada.

Serangan lain masih berlanjut. Aku kembali dihujani oleh shuriken. Kali ini aku segera merogoh kantung di pinggangku dan mengeluarkan senjata serupa dari sana. Suara dentangan besi terdengar sangat nyaring di hutan yang sepi ini. Tak menunggu hingga tiga detik, aku kembali merogohkan tanganku guna mengambil kunai yang dilapisi segel peledak. Setelah melemparkan beberapa buah kunai itu, percikan api yang disertai dengan suara ledakan keras kembali menjadi pemandangan lain yang mampu mengejutkan hewan-hewan penghuni hutan.

Aku mengangguk pada diriku sendiri, merasa sedikit puas. Lima orang mengesalkan yang tengah mengejarku di belakang sana tampaknya sedikit terganggu dengan asap yang dihasilkan oleh kunai peledak tadi. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk semakin memperlebar jarakku dengan mereka. Enak saja mereka ingin menghabisiku dengan mudah, aku takkan membiarkannya. Tidak setelah segala hal merepotkan yang telah kulakukan selama tiga tahun terakhir ini.

Kalau kalian bingung dengan apa yang terjadi, maka aku akan menjelaskannya dengan singkat. Tiga tahun sudah berlalu sejak aku memutuskan untuk melakukan pertemuan rutin dengan Naruto. Jika saat itu tubuh Akira masih berusia empat belas, kini tubuh ini sudah berusia tujuh belas yang artinya Sasuke juga tidak lagi berumur delapan. Bocah lelaki yang masih suka menenggelamkan diri pada hal-hal sedih itu telah bertransformasi menjadi remaja sebelas tahun yang digandrungi banyak perempuan seusianya.

Oke, mungkin kenyataan itu memang sudah melekat pada dirinya sejak ia kanak-kanak, tapi sungguh beberapa kejadian akhir-akhir ini mau tidak mau membuat kesabaranku menipis. Maksudku, ayolah siapa juga yang tidak kesal jika rumahmu diintai secara berkelanjutan oleh sekumpulan bocah SD yang ingin berpacaran dengan bocah SD yang lain? Bahkan, aku juga sempat memergoki beberapa anak cewek yang tengah mengendap-endap masuk ke rumahku dan bertengkar di sana perihal Sasuke-kun yang ternyata tinggal bersama seorang perempuan.

Aku tidak perlu memarahi ataupun mengusir mereka kala itu. Sebab mereka sudah kabur lebih dulu begitu melihatku memergoki mereka. Sedikit aneh, ya? Tapi kurasa tidak juga. Aku telah memasang ekspresi khas Uchiha yang selama beberapa tahun terakhir kuketahui cukup ampuh untuk mengusir orang-orang yang mengganggu.

Sejak insiden itu, aku sedikit meningkatkan rasa hormatku pada Sasuke. Rasanya sedikit mengesankan bahwa dia belum melayangkan pukulan pada para penggemarnya yang sangat menyebalkan. Kesimpulannya, aku memberikan nilai delapan dari sepuluh untuk masalah kesabaran menghadapi fangirls fanatik.

Uh, sampai mana tadi?

Tiga tahun berlalu?

Baik, jadi tiga tahun sudah berlalu. Selama itu aku juga telah melakukan banyak hal. Mulai dari berhasil menguasai ninjutsu medis hingga mampu menguasai beberapa fuinjutsu karena jutsu segel itu memang sangat rumit dan aku tidak bisa menguasainya begitu saja hanya dalam kurun waktu dua ataupun tiga tahun dengan cara otodidak. Bahkan saat ini aku masih terus mempelajarinya lebih dalam lagi agar kemampuanku lebih meyakinkan.

Dalam kurun waktu tiga tahun pula, aku telah berhasil menjadi seorang Jōnin sekaligus ANBU. Posisi sebagai pasukan ninja pembantaian itu kudapatkan dengan tidak terduga karena sang instruktur sendirilah yang menawarkannya padaku. Kalian tahu siapa instruktur yang kumaksud?

Jika kalian memikirkan sosok pria tua dengan sebelah tangannya yang diliputi perban maka akan kuberikan kalian nilai seratus.

Danzo merekrutku tepat setelah aku lulus ujian Jōnin. Tapi, mengingat bahwa aku teramat muak dengan orang tua itu, aku pun menolaknya dan meminta Sandaime untuk merekrutku sebagai bawahannya alih-alih berada di tangan Danzo. Sejak saat itu, Danzo menjadi berambisi padaku dan terus mencoba untuk menarikku ke dalam Root. Selama itu pula ia gagal. Sementara aku? Well, jiwa sarjanaku sedikit membantuku untuk menyusun beberapa rencana dan memanipulasi beberapa pihak. Hasilnya aku mampu menghindari Danzo dan berhasil mengumpulkan berkas rahasianya mengenai Orochimaru serta Itachi.

Ketika memikirkannya, aku selalu ingin memuji diriku sendiri. Kesenangan inilah yang membuat kewaspadaanku berkurang sehingga membuatku terperangkap dalam acara kejar-kejaran semacam ini. Singkatnya, kemarin aku diberi misi gabungan antara ANBU dan ANBU-Ne. Sandaime memerintahkanku beserta dua rekanku yang lain sebagai perwakilan ANBU sedangkan tiga orang lain dari Ne. Misi yang kami terima adalah membantai nukenin Iwagakure yang telah menjual informasi Konoha kepada pihak tak bertanggung jawab.

Kelalaianku berdasar pada pemikiran bahwa misi ini berada di bawah pengawasan Hokage sehingga membuatku tidak menaruh sedikitpun kecurigaan pada anggota Ne ini. Akibatnya, aku tidak melihat maksud terselubung bawahan Danzo. Selepas menyelesaikan misi dan tengah beristirahat, mereka mulai bergerak untuk memerangkapku. Dua rekan ANBU-ku yang lain telah diberi obat bius yang teramat kuat sementara mereka memanggil dua orang lainnya guna membunuhku.

Ya, si orang tua sialan itu memutuskan untuk mengeksekusiku setelah gagal menarikku ke dalam kelompok mereka.

Jadi, di sinilah aku sekarang.

Masih dengan ayunan kaki yang cukup stabil, dahan pohon yang kutapaki retak secara tiba-tiba. Aku melebarkan mata dan memfokuskan chakra di kedua kaki agar tulang kakiku tidak patah ataupun nyeri begitu mendarat dari ketinggian lima meter. Sebuah jutsu peluru air meleset seinchi saja dari telingaku. Aku mencoba untuk tetap tenang dan kembali mengeluarkan kunai peledak. Sayangnya, trik yang sama takkan ampuh jika digunakan kedua kalinya pada mereka yang tergolong ahli.

Aku mencoba memutar ide, terpikir untuk membuat bunshin guna menyuruhnya membuat jebakan di depan sana. Tapi, keadaan yang mendesak tidak mendukungku melakukan rencana tersebut.

Dua dari lima orang tadi telah mendahuluiku. Mereka mendarat tepat tiga meter di depanku dengan kunai di masing-masing tangan mereka. Kilat bening di mata kunai itu memberi kesimpulan bahwa senjata tersebut telah diracuni.

Aku berdecak pelan dan berhenti berlari. Selang waktunya tak sampai lima detik hingga aku merasakan keberadaan tiga sosok lain di belakang sana.

Betapa menyenangkannya kondisi ini.

Kalian menangkap sarkasme itu 'kan?

"Fu, lakukan!" teriak salah seorang pria yang menghadangku.

Pria berambut kejinggaan pun mengangguk. Ia mengulurkan tangannya dan membentuk segel berbentuk segitiga menggunakan ibu jari serta jari telunjuknya. Aku mengenali segel itu sebagai segel tangan khusus dari jurus spesial klan Yamanaka yang mampu mengambil alih kontrol diri seseorang. Terkena jurus itu sama saja dengan mendeklarasikan diri bahwa aku kalah yang pastinya takkan kubiarkan.

Mengaktifkan sharingan di kedua mataku, aku pun mulai melihat aliran chakra mereka. Sosok di samping Yamanaka Fu adalah seorang Aburame. Aku melihat chakranya yang terdiri dari kumpulan serangga kecil yang mampu mengeluarkan racun. Kemampuan khusus semacam itu hanya dimiliki beberapa orang Aburame. Efek dari jutsu yang dimiliki orang itu juga tentunya takkan baik untukku.

Duh, tidakkah kehadiran dua orang ini terlalu over kill? Sebegitu besarkah keinginan Danzo untuk menghabisiku?

Sudah melihat pergerakan mereka melalui sharingan, aku melompat ke samping guna menghindari jutsu spesial Yamanaka. Di belakangku, seseorang menyerang menggunakan tantō yang kemudian kuhalangi dengan mudah menggunakan pedang yang kumiliki. Aku melayangkan siku guna menotok leher orang itu, membuatnya sedikit tersungkur ke depan. Bersamaan dengan gerakan tersebut, seseorang menghantamkan tangannya ke atas tanah dan merapalkan jutsu tanah sehingga menyebabkan tanah di bawah kakiku retak dan ambruk.

Aku melemparkan beberapa buah shuriken ke batang pohon di sampingku dan kemudian menarik benang kawat yang meliputi shuriken tersebut guna membantuku agar tidak ikut terjatuh ke dalam lubang besar yang baru saja dihasilkan oleh jutsu tanah itu. Kakiku menapaki batang pohon, aku menarik napas dalam dan merapalkan nama jutsu api sebelum melemparkan jutsu itu kepada lima orang di bawah sana.

Kepulan asap memenuhi udara begitu serangan apiku dilawan menggunakan air. Aku langsung bermanuver menghindari shuriken yang hendak melayang ke arahku. Kakiku mendarat di tanah sementara mataku menatap lurus ke arah sang pria dengan jutsu elemen air.

Ketika sosok itu mematung dan tenggelam dalam genjutsu buatanku, aku meladeni serangan lain yang dilemparkan oleh seorang ahli kenjutsu. Gerakan cepatnya bukan apa-apa jika dilihat melalui sharingan. Aku melontarkan diri ke udara seraya merogohkan tangan ke dalam kantung guna mengambil sebuah gulungan segel senjata. Kepulan asap kecil tercipta di udara begitu aku membuka gulungan itu. Dari sana muncul sebuah pedang yang lain yang tentunya langsung kutangkap. Dengan kedua tangan memegang pedang, aku memutar ganggang pedang sehingga membuat pedang itu menghadap ke belakang, sebuah kenjutsu yang kukembangkan sendiri setelah merenung dan mencari inspirasi dari berbagai anime yang dulu kutonton. Alhasil aku menemukan role model dalam bidang seni pedang ini.

Kalian tahu siapa role model yang kumaksud?

Levi Ackerman.

Oh, silakan tertawa. Tidak masalah. Tapi aku yakin kalian takkan mampu menyanggah bahwa dia sangatlah keren dan patut dijadikan panutan yang bahkan untuk seorang ninja sepertiku. Ketika berhasil menguasai tekniknya melalui ingatanku akan semua gaya bertarungnya, mau tak mau aku bersyukur karena telah menonton berbagai jenis genre martial arts meski aku seorang perempuan. Tidak ada yang menyangka bukan bahwa hobi sampahku bisa berguna semacam ini?

Kembali pada keadaan genting yang tengah kualami. Aku melihat gerakan sang ahli kenjutsu yang mulai melancarkan serangannya padaku. Kusilangkan kedua tanganku ke depan dengan mudah, membuat pedangku terbentur dengan pedang miliknya. Memanfaatkan kontrol chakraku yang lebih unggul darinya, aku menekankan lenganku lebih kuat dan menyentak mundur orang itu menggunakan lututku. Ketika ia melayang di udara selama seperkian detik, aku langsung mengayunkan kakiku ke sisi tubuhnya, menendangnya kuat ke tanah.

Mataku memindai keadaan di bawah sana, melihat sang pengguna elemen air yang telah pulih dari genjutsu. Tanpa basa basi, ia langsung memasang segel tangan, mengeluarkan sebuah naga air dari dalam sana yang dipadukan dengan naga tanah sang pengguna elemen tanah. Hewan super besar itu merangsak menabrak pohon guna mengenaiku.

Aku bermanuver di udara dan mendarat di bawah pohon yang masih utuh. Masih memegang dua buah pedang di tanganku, aku berkonsentrasi dan mengirimkan chakra di kedua pedangku. Bilah perak tersebut pun berubah menjadi warna kejinggaan hanya dalam beberapa saat. Kobaran api meliputi pedangku dan aku melompat ke leher sang naga buatan sebelum kemudian mencolok kedua mata cokelatnya menggunakan pedang. Naga tersebut meronta. Di sisi yang berlawanan, aku melihat sekumpulan serangga yang membentuk tubuh raksasa. Aku mengumpulkan chakra yang cukup besar dan menyabetkan pedangku kepada dua makhluk raksasa itu hanya dalam beberapa gerakan eksekusi.

Napasku mulai tersendat. Tapi, aku berusaha keras untuk tetap fokus. Charka tiga orang ini sudah menurun drastis setelah mengeluarkan jutsu besar seperti tadi.

Mereka kurang paham dengan kata efesiensi.

Aku harus segera menyelesaikannya.

Menyarungkan pedang di pinggangku dan mengembalikan pedang yang lain ke dalam gulungan segel, aku menciptakan dua buah bunshin untuk meladeni tiga orang yang sudah melemah sementara aku menghadapi Yamanaka dan Aburame yang kebetulan memiliki persediaan chakra lebih banyak dibandingkan yang lainnya.

Mereka sudah mengerti dengan kecepatanku sehingga memutuskan untuk tidak menggunakan jutsu spesial Yamanaka. Jadi, alih-alih merapalkan jutsu khusus itu, Yamanaka menyerangku dengan tantōnya. Sayangnya, ia kelihatan lambat di sharinganku sehingga membuatku mampu membalas serangannya dengan mudah. Di sisi yang lain, sang Aburame mengeluarkan serangga ampuhnya. Aku membalasnya dengan teknik api.

Setelah menghadapi mereka dengan gerakan monoton selama beberapa saat, akhirnya aku melihat chakra mereka yang melemah. Sudut bibirku sedikit berkedut membentuk seringaian, hasil latihan serta gen Uchiha yang kumiliki tampaknya cukup menguntungkan.

Kini, aku melancarkan strategi terakhir, sebuah eksekusi bersih yang akan melumpuhkan mereka namun tidak membunuh.

Kakiku menendang keduanya ketika aku melayang di udara. Tepat setelah keduanya ambruk, aku menghantamkan tanganku ke atas tanah. Melalui sudut mataku, aku melihat dua buah bunshinku menghilang menjadi kepulan asap. Namun, tiga orang yang meladeninya sudah terlalu kelelahan dan ambruk di tanah. Tanah yang kuhantam dengan tangan kananku kini telah diliputi oleh tinta hitam yang membentuk sebuah pola segel super besar. Segel itu memancarkan warna keunguan yang kemudian memerangkap mereka semua dan menahan pergerakan mereka.

Beberapa detik selanjutnya kuhabiskan untuk memastikan bahwa segelku ampuh.

Seringaian ringan di wajahku seolah tak mampu kutahan. Rasanya sangat memuaskan. Ingin rasanya bergumam congkak dan mengutarakan pada mereka agar tidak main-main dengan Uchiha.

Tapi, kelakuan tersebut hanya dilakukan oleh Sasuke ataupun Madara. Jadi, aku mengurungkannya.

Alih-alih meladeni keinginan gelapku, aku berbalik dan hendak beranjak pergi. Namun, penyakit cerobohku seakan kembali menerorku. Aku tampak melupakan sesuatu dan sadar bahwa aku telah terlambat begitu merasakan sebuah tangan mencengkram pergelangan kakiku.

Ketika menoleh melalui bahu, aku melihat sang Aburame tengah mencengkram kakiku dengan tangan keunguannya--tangan yang dipenuhi oleh serangga beracun yang berukuran super kecil. Matanya menatapku dengan tidak fokus. Tak selang beberapa lama, cengramanannya melemah dan ia pingsan.

Rasa sakit menyerang kaki kananku. Aku meringis dan menggertakan gigi menahan rasa sakit tersebut. Kuangkat celana panjang hitam yang menutupi kaki, menemukan noda keunguan yang mulai menyebar ke atas betis dan akan semakin meluas jika tetap dibiarkan seperti itu.

Menahan persebaran racun tersebut adalah hal yang mustahil karena racun itu berasal dari serangga yang telah dimasukan sang Aburame ke dalam kulit kakiku. Aku memaksakan diri untuk berjalan, namun sialnya kakiku menjadi pincang. Jarak gerbang Konoha dengan hutan ini sekitar tiga ratus meter. Aku akan sampai di sana hanya dalam beberapa menit saja jika mampu berlari. Sayangnya, kondisiku tidak mendukung rencana tersebut. Persebaran racun ini sangat cepat. Aku bisa saja sudah mati ketika sampai di sana.

Jauh di dalam diriku terdapat suara tawa yang mengganggu. Suara itu menyerukan aku yang sebenarnya pantas mati karena memang tidak seharusnya berada di sini.

Oh, batin yang depresi memang mengesalkan, ya?

Aku masih berusaha untuk menyeret kakiku untuk berjalan. Napasku mulai tersendat-sendat tak karuan. Peluh seolah membuat rambutku lepek. Aku merasa terbakar dari dalam, terutama kaki kananku.

Rasanya terbakar. Panas. Panas. Panas. Panas. Panas.

Aku ingin mati saja.

Tapi aku tidak ingin mati dulu. Meskipun melupakan rasa ketika sekarat, aku yakin rasanya pasti lebih menyakitkan dari ini.

Kubuka topeng ANBU ke atas kepala.Pandangan mataku mulai melebur dan berkunang-kunang. Aku mengerling ke samping, melihat menggunakan sharingan dan mengetahui bahwa racun itu sudah menyebar hampir mencapai paha. Langkah kakiku seolah terasa semakin berat. Konoha masih seratus meter di depan sana. Aku berjalan mendekati pohon terdekat, menyangga tubuhku agar tidak roboh dengan berpegangan pada batang pohon. Kusenderkan punggungku di batang pohon itu. Aku merogohkan tangan ke kantung yang kupakai di pinggangku,mengeluarkan beberapa rangkaian petasan di sana.

Tertawa kering, aku sangat ingin berterimakasih pada Naruto yang sering mengajakku menjahili orang lain. Petasan ini akan sangat membantuku sekarang. Setidaknya, suara nyaring dan warnanya yang mencolok ketika diledakan akan cukup menarik perhatian sang penjaga gerbang dari jauh.

Semoga saja.

Jadi, dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku meniup sumbu petasan tersebut, membuatnya mengeluarkan percikan api sebelum kemudian melemparkannya sekuat tenaga ke udara.

Mataku semakin memburam ketika percikan cahaya itu meliputi langit malam. Telingaku seolah terasa kebas dan tak mampu mendengar ledakan keras petasan ketika punggungku meluruh ke bawah bersamaan dengan aku yang tumbang. Ketika kepalaku menghantam tanah kering, aku sempat mengerling ke atas, mendapati percikan api yang tampak indah.

Beberapa detik sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya, aku sempat berpikir bahwa kehilangan nyawa di bawah kembang api sepertinya tidak buruk-buruk amat. Setidaknya aku memiliki akhir hidup yang cukup epic.

ooOoo

Begitu terbangun dengan menatap langit-langit ruangan berwarna putih, aku tahu bahwa nyawkau masih terselamatkan. Hembusan napas lega secara tidak sadar keluar dari mulutku. Ketika mencoba menggerakan kaki, aku tak lagi merasakan rasa sakit yang penuh derita itu lagi. Kutarik selimut putih yang menutupi bagian bawah tubuhku. Alih-alih kulit berwarna keunguan, aku mendapati kulit putih pucat bak orang mati.

Baik, deskripsi kulit itu memang berlebihan. Tapi aku memang selalu mendeskripsikan kulit pucatku seperti itu. Terima kasih untuk gen keluargaku.

Mengalihkan pandangan dari sana, aku menoleh ke samping dan mendapati seorang anak lelaki berambut hitam dengan ekspresi tak acuh tengah duduk di sebuah kursi tidak jauh dari tempat tidur pasien. Tangannya sibuk memainkan sebuah rubik empat kali empat, tengah mengacaknya dan dengan cepat dan kembali menyusunnya seperti sedia kala seolah permainan itu sama sekali tidak menantangnya.

Tanpa mengerlingkan matanya sedikit pun ke arahku, Sasuke berujar, "Kukira kau mati."

Aku mengulum senyum.

"Sayang sekali, harapanmu belum terkabul."

"Hn."

Oh, tipikal.

Aku pun berusaha untuk duduk dan hendak menjangkau gelas air mineral yang terdapat cukup jauh dari jangkauanku. Namun, belum sempat mencapai gelas itu, aku melihat Sasuke berdiri, meletakan rubik di samping gelas, dan mengulurkan gelas itu padaku. Tingkahnya yang tidak biasa ini membuatku sedikit menaikan sebelah alis, namun ia sama sekali tidak menggubrisnya.

Aku menghabiskan air mineral itu dan mengembalikan gelas tersebut pada Sasuke yang ia terima dengan wajah merengut.

Hey, dia sendiri yang memutuskan untuk membantuku 'kan?

Mataku mengerling ke samping, manatap jam dinding yang menunjukan pukul sembilan. Dari cahaya matahari yang menelusup melalui celah jendela, aku mengasumsikan bahwa aku telah pingsan semalam penuh. Sungguh sebuah rekor yang cukup menakjubkan. Rasanya sudah cukup lama sejak aku bisa tidur nyenyak.

"Kau tidak berangkat ke Akademi?" tanyaku padanya.

"Aku sudah menguasai hampir semua pelajaran," ungkapnya percaya diri. "Masuk secara rutin bukan lagi keharusan untukku."

Sedikit menyipitkan mata, aku berujar, "Apakah kau mengkhawatirkanku?"

Mata oniksnya sedikit melebar, ia memalingkan wajah.

"Tentu saja tidak," balasnya ketus. "Aku hanya penasaran kenapa seorang ANBU sepertimu bisa sekarat."

Aku tergelak ringan.

"Nah, perlu kau tahu saja, ANBU bukanlah seorang kami dan aku memang bisa mati."

Ekspresi wajahnya tiba-tiba menggelap.

"Aku akan memanggil perawat," ujarnya datar.

Setelahnya, sosok yang memakai baju biru dongker itu menghilang dari ruangan. Aku menyenderkan tubuh pada kepala ranjang setelah menempatkan sebuah bantal di sana. Mataku menatap rubik yang barusan dimainkan oleh Sasuke. Ketika melihatnya, mau tak mau aku kembali tersenyum tipis. Anak itu memang cukup sulit dipahami. Aku sangat ingat bagaimana dia menatapku dan berkomentar sinis mengenai mainan tidak berguna yang membuang-buang waktu. Tapi, lihatlah dia sekarang.

Pintu putih itu terbuka beberapa saat kemudian. Seorang kunoichi berpakaian khas rumah sakit mendekatiku dengan sebuah buku kecil di tangannya. Ia memeriksaku sekilas dan menanyakan beberapa hal seperti 'apakah kau pusing' sebelum menuliskan sesuatu di buku kecilnya. Setelah memastikan kondisiku, ia pun mengatakan bahwa aku sudah dibolehkan untuk pulang. Beliau mengutarakan padaku untuk hati-hati dalam menjalankan misi agar tidak lagi tergeletak pingsan di depan rumah sakit. Komentarnya berhasil membuatku mengerutkan alis, tapi aku tidak sempat bertanya lebih lanjut karena ia yang sudah lebih dahulu keluar ruangan.

Sebentar, bukannya aku pingsan di hutan? Seharusnya orang yang tengah kebagian jatah menjaga gerbanglah yang membawaku ke rumah sakit. Jadi, kenapa mereka mengatakan bahwa aku pingsan di depan rumah sakit? Tidakkah seharusnya si penjaga gerbang membawaku langsung ke dalam rumah sakit alih-alih meninggalkanku begitu saja? Lagi pula, di mana etika mereka?

"Siapa yang memberitahumu aku masuk rumah sakit?" ujarku pada Sasuke sambil beranjak dari tempat tidur.

Menyandarkan diri di dinding samping pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada, ia menjawab, "Seorang Chūnin yang memakai bandana," ungkapnya pendek. Ia kemudian melanjutkan. "Hokage ingin menemuimu."

Jawabannya kurang memuaskanku, tapi aku mengangguk. Aku menyambar pakaian yang terlipat di sebuah nakas dan segera menghilang di balik pintu kamar mandi. Setelah membersihkan diri secara singkat dan mengeringkan tubuh, aku pun memakai tank top hitam dan celana sepanjang hitam di atas ninja gear yang kupakai. Untuk menutupi pakaian yang sedikit terbuka ini, aku juga menggunakan jas panjang berwarna pastel yang tampak seperti jas musim dingin. Aku menutup semua kancing jas tersebut dan keluar dari kamar mandi. Pakaian ini sudah lama kujadikan sebagai seragam Jōnin. Orang-orang selalu menanyakan apakah aku tidak kepanasan memakai ini semua tapi aku tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya mengapa aku tidak kepanasan.

Sebab, mana mungkin mereka percaya bahwa aku pernah hidup di iklim tropis dan terbiasa berpakaian tertutup meski matahari sedang sangat terik?

Well, takkan ada yang percaya kecuali seorang Yamanaka memutuskan untuk mengintip isi kepalaku. Namun, melihat isi kepalaku hanya karena alasan konyol jelas takkan kubiarkan begitu saja.

Aku kembali meletakan pakaian rumah sakit ke atas nakas dan memasukan pakaian ANBU ke sebuah gulungan segel penyimpanan. Selama melakukan ini, aku bisa melihat tatapan Sasuke yang terpatri padaku, tapi aku tidak peduli. Menjelaskan keefisienan sebuah segel penyimpanan akan terlalu lama untuk saat ini. Jadi, setelah menyelesaikan semuanya aku pun berbalik padanya dan hendak mengajaknya beranjak dari sana. Sebelum kemudian pintu rumah sakit terjeblak dengan tiba-tiba dan memperlihatkan seorang cowok berambut pirang dengan pakaian serba jingga.

Naruto mengabaikan gerutuan kesal Sasuke dan mendaratkan pandangannya padaku.

"Akira-nee aku mendengarmu masuk rumah sakit!"

Ekspresi khawatirnya yang tampak sangat kentara berhasil membuatku tersenyum geli. Aku mengacak rambutnya pelan dan mengedikkan bahu.

"Kau sedikit terlambat, Naruto. Aku sudah akan pergi."

"Akira baik-baik saja, Idiot," ujar Sasuke. "Turunkan volume suaramu. Teriakan itu akan membuat pasien di rumah sakit ini menolak untuk sembuh."

Menoleh ke belakang. Naruto menatap Sasuke bingung. "Huh, apakah mereka alergi dengan nada tinggi?"

Sebelum keduanya sempat berargumen tidak penting lebih jauh lagi, aku langsung menimpali. "Kenapa kau di sini? Bukankah seharusnya kau sedang di Akademi?"

Cengiran khas itu terpasang di wajahnya. Ia mengangkat goggle yang dipakainya dengan bergaya, kemudian berujar, "Uzumaki Naruto selalu bisa mengatasi masalah. Aku berhasil kabur dari Iruka-sensei!"

"Dia akan kemari hanya dalam beberapa detik."

"Ah, bagaimana bisa kau menebaknya seperti itu?" tanya Naruto skeptis.

Di belakang sana, Sasuke tersenyum miring.

"Seorang kunoichi seperti dia tentu saja bisa melakukannya."

Oh, apakah aku baru saja mendapatkan pujian dari Uchiha Sasuke?

Tapi, sebenarnya aku juga tidak hebat-hebat amat. Pengetahuanku akan keberadaan orang lain dikarenakan aku yang mampu menangkap inisial chakra mereka dalam jangkauan seratus meter. Itu pun jika aku berkonsentrasi, sebuah kemampuan dasar ini memang cukup banyak dimiliki para ninja. Jadi kemampuan semacam ini sebenarnya tidak hebat-hebat amat.

"Sebaiknya kau segera kabur kalau tidak ingin tertangkap, Naruto," ungkapku ringan. "Iruka-san sudah berjarak sepuluh langkah dari sini."

Melebarkan mata tidak percaya, Naruto segera menyambar pergelangan tangan Sasuke dan menariknya mendekati jendela. Anak berambut pirang itu jelas-jelas mengabaikan teriakan protes temannya dan justru mendorong Sasuke ke luar jendela. Ia bergumam mengenai 'teman yang harus menanggung penderitaan bersama-sama' tepat ketika pintu kamar rumah sakit kembali terbuka. Geraman kesal Iruka ketika melihat Naruto yang hendak kabur membuatku tertawa pendek. Sedangkan di depan sana, Naruto tak membuang-buang waktu untuk meloncat dari jendela dan bergabung dengan Sasuke.

Masih mencoba memperingati Naruto, Iruka melongokan kepalanya dan menghembuskan napas dalam begitu mendapati Naruto yang memeletkan lidahnya untuk mengejek sang guru. Dua anak itu berlarian di atas atap rumah sakit dan menghilang dari pandangan setelah berbelok di sebuah atap yang lain.

"Pekerjaanmu tampak berat, Iruka-san," komentarku begitu melihat ekspresi lelahnya.

Iruka seolah baru menyadari keberadaanku. Ia berbalik dan tergelak ringan guna membalas komentarku.

"Anak-anak sekarang memang semakin sulit ditangani," gumamnya menjelaskan. Ia melihatku sesaat dan seolah teringat sesuatu. "Apakah kau benar-benar sudah baikan, Akira-chan?"

Aku mengangguk mengiakan. Percakapan kami tidak berlangsung lama karena aku sendiri langsung pamit pergi untuk menemui Hokage. Iruka menyampaikan beberapa ucapan terima kasih padaku karena selama beberapa tahun terakhir mau meluangkan waktu untuk mengurus Naruto dan mengajarinya beberapa teknik ninja meski anak itu bisa dibilang cukup sulit ditangani. Ia juga berpesan padaku untuk hati-hati dalam menjalankan misi. Aku menanggapi ucapannya dengan anggukan dan senyuman sebelum benar-benar beranjak pergi.

Permintaan Hokage untuk menemuiku pasti dikarenakan oleh beberapa alasan. Alasan pertama, mengenai penyerangan yang menimpaku tadi malam. Alasan kedua, mengenai berkas-berkas rahasia Danzo yang telah kuberikan pada Hokage beberapa hari lalu.

Aku sebenarnya tidak menyalahkan Sandaime atas semua insiden ini. Lagi pula, mencurigai teman seperjuangan bukanlah hal yang umum, jadi aku memakluminya yang sama sekali tidak waspada terhadap Danzo. Berposisi sebagai pemimpin desa pastinya hal yang berat, aku tidak bisa menyalahkannya begitu saja. Aku sendiri menjadi merasa tidak enak padanya karena harus menguak kebusukan temanya sendiri. Terlebih, kebusukan ini nanti juga akan menyangkut ulah mantan muridnya.

Lima menit kemudian aku sudah sampai di Hokage Tower dan tengah berdiri di depan kantor tersebut. Sang lelaki sepuh itu mengizinkanku masuk dan segera memintaku menjelaskan insiden tadi malam tanpa basa basi.

Jadi, detik setelah permintaan itu keluar dari mulutnya, aku pun menjelaskannya dengan cukup rinci. Aku menceritakan segala hal yang kuingat perihal insiden tadi malam. Mulai dari misi yang sukses, rekan yang diberi obat bius, hingga dua bala batuan yang ikut mengejarku bersama tiga anggota Ne yang lainnya.

Kerutan di dahi sang Hokage mendalam. Ia menyesap rokoknya dan mengeluarkan kepulan asap itu pelan-pelan sambil mendengarkan penjelasanku. Detik setelah aku selesai melapor, ia pun mengajukan pernyataan tambahan.

"Hyou dan Yūgao melapor padaku bahwa mereka menemukan lima orang anggota Ne yang tersegel tidak sadarkan diri ketika mereka berdua dalam perjalanan kembali ke desa. Jadi, kau benar-benar menangani mereka seorang diri?"

Aku menganggukan kepala singkat.

"Kemampuanmu memang luar biasa, Akira. Aku sudah menjadikanmu sebagai salah satu orang kepercayaanku," ungkapnya pelan sambil masih menyesap pipa rokoknya. "Tapi, setelah insiden ini terjadi, aku ingin kau berhenti menjalankan kewajibanmu sebagai ANBU."

Pernyataan itu berhasil membungkamku secara penuh. Aku mengerjap, menatap sang Sandaime dengan bingung. Sebelum aku sempat melontarkan pertanyaan, suara seraknya sudah terlebih dahulu memberiku jawaban.

"Danzo secara terang-terangan telah mengincarmu. Ia bahkan dengan ringannya mengutus lima orang sekaligus untuk melumpuhkanmu, meskipun mereka tidak berhasil. Aku tidak bisa membiarkan ini begitu saja. Selain itu, aku sudah membaca berkas-berkas yang kau berikan padaku dua minggu lalu." Matanya menutup pelan, seolah sedang berpikir. Ketika kembali terbuka, ia berujar, "Bagaimana caramu mendapatkannya? Penjagaan di markas Root tidaklah mudah untuk ditembus begitu saja."

Dengan tenang, aku menjawab, "Danzo sudah berulang kali memanggil saya ke sana guna membujuk saya bergabung dengannya, Hokage-sama. Dengan memanfaatkan kesempatan itu, saya menghafalkan tiap sudut markas dan menandai pola penjagaannya. Setelah mengetahui formasi penjagaan dan segel yang melindungi tempat itu, barulah saya bergerak.

Mereka yang menjaga markas tidak merasakan adanya penyusup karena mereka terperangka dalam genjutsu. Sebelum menyusup ke sana, saya juga telah menyiapkan sebuah ramuan khusus yang membuat mereka berhalusinasi. Obat halusinasi yang dikombinasikan dengan genjutsu berhasil memanipulasi ingatan mereka, membuat mereka melupakan apa yang sebenarnya terjadi detik itu."

Sudut bibir Sandaime melengkung membentuk senyuman.

"Very well, Akira," komentarnya. Ia kembali menyesap pipa rokoknya. "Aku akan segera menangani Danzo dan memastikan untuk menghapus keberadaan organisasi bawah tanah ini. Mereka tidak lagi bisa dipercaya setelah kejadian ini. Namun, ada yang ingin kutanyakan. Apa yang membuatmu menyimpulkan bahwa Orochimaru akan menyerang Konoha tahun depan tepat ketika Ujian Chūnin berlangsung?"

Oh, here we go.

Aku mengambil napas dalam dan berujar, "Terdapat dua alasan. Pertama, Orochimaru sudah bekerja sama dengan Danzo selama beberapa dekade--hampir sejak ia yang pergi dari desa. Alasan ini berdasarkan pada berkas catatan hasil penelitian Orochimaru yang secara jelas ditujukan untuk Danzo. Di sana tertera tanggal penelitian dan status penelitian sel shodaime. Dari beberapa penelitian yang gagal hingga yang berhasil. Anda sendiri tahu bahwa salah satu rekan ANBU saya merupakan objek penelitian Orochimaru yang berhasil.

Kemudian, pada berkas yang lain juga terdapatan laporan penelitian dengan objek berupa Danzo sendiri. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari proyek Sel Shodaime. Proyek ini dilaksanakan kurang lebih lima tahun lalu bertepatan dengan tragedi pembunuhan Klan Uchiha. Dia memanfaatkan jasad-jasad kerabat saya, tepatnya aset berharga mereka yakni sharingan untuk kemudian ditransplasikan kepadanya. Saya yakin mata kanannya yang tertutup perban itu memiliki sharingan.

Proyek transplasi ini akan merujuk pada alasan kedua mengenai mengapa Orochimaru hendak menyerang Konoha tahun depan. Alasan kedua adalah karena ia mengincar Uchiha Sasuke. Orochimaru tampak sangat terobsesi dengan kekuatan klan kami. Ia mengincar Sasuke dengan alasan bahwa Sasuke merupakan Uchiha Heir yang membuatnya berkemungkinan memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan Uchiha lain yang masih hidup, misalnya saya sendiri ataupun Obito-san.

Menurut agenda kegiatan di Konoha, tahun depan adalah tahun kelulusan para ninja angkatan Sasuke sekaligus tahun diadakannya Ujian Chūnin di mana para penyusup memiliki kesempatan besar untuk menyamar."

Penjelasanku tampak menambah beban pikiran sang Hokage, tapi aku tidak peduli. Semua jerih payahmu harus membuahkan hasil. Pikiranku kebetulan sedang lurus sehingga membuatku tidak ingin mati sia-sia nantinya.

Setelah terdiam sekitar tiga menit, sosok sepuh itu mengangguk mengerti. Ia mengomentari mengenai dirinya yang akan mengorek informasi Orochimaru dari Danzo dan akan menindaklanjuti Danzo jika menemukan kejanggalan yang lebih buruk.

Selanjutnya, aku melihat Sandaime membuka berkas selanjutnya, melihatnya sekilas dan kembali mendaratkan pandangan padaku. Mata itu berkilat penuh rasa bersalah, kemudian ia meletakan pipa rokoknya.

"Tidakkah kau terkejut?"

Rasanya ingin menjawab, 'tentu saja tidak. Aku sudah lelah terkejut dan menangis dan menangis dan menangis lagi meratapi insiden yang hanya mampu kutatap melalui layar laptopku dulu' tapi tentunya aku tidak berkata demikian.

Pertama, zaman ini masih cukup kuno dan belum ada satu pun orang yang menciptakan laptop. Kedua, untuk apa aku curhat kepada seorang Hokage mengenai kehidupanku di masa lalu yang bahkan sama sekali tidak ada hubungannya dengannya?

"Berita kudeta itu sudah lama simpang siur, Hokage-sama," ungkapku yang dengan aneh merasakan kepahitan meski ingatan Akira ini sedikit buram. "Sebagai anggota klan yang telah menjadi ninja secara resmi, orang tua saya secara tidak sadar pernah membicarakannya. Mungkin, saya tidak terlibat secara langsung. Tapi, saya cukup tahu. Keselamatan saya malam itu hanyalah karena faktor beruntung."

"Apakah kau tidak membenci Konoha yang telah memberi perintah itu?"

Senyum lemahku pasti terlihat nyata. Sebab, Sandaime mengerutkan keningnya.

Di sisi lain aku benar-benar ingin mendengus dan berujar, 'aku tidak benci Konoha tapi aku membenci para orang tua bodoh yang dengan seenaknya main ambil keputusan tanpa memikirkan orang lain! kenapa nenek dan kakek itu mau-mau saja diperalat oleh si sialan Danzo, heh, Kakek Hiruzen?'

Tapi, Uchiha Akira tidaklah begitu. Jadi aku menutup bantinku rapat-rapat dan berujar dengan diksi yang lebih halus.

"Konoha bukan satu-satunya pihak yang bersalah. Saya tidak bisa menilainya begitu saja," gumamku pelan. "Selain itu, segalanya telah berlalu. Namun, saya mengkhawatirkan sosok yang telah menanggung beban berat itu, Hokage-sama. Tidakkah Anda berpikir yang demikian?"

Suasana suram seolah meliputi ruangan ini secara tiba-tiba. Hanya dalam beberapa detik, sang Hokage tampak lebih tua sepuluh tahun dari usia aslinya yang memang sudah renta. Ia menatap berkas itu lurus-lurus, seperti sedang memandang foto sosok yang berada di dalam berkas itu. Hembusan napasnya seolah memiliki beban yang berat. Ia mengalihkan pandangannya dari berkas itu dan mendaratkan matanya padaku.

"Uchiha Itachi adalah seorang shinobi yang hebat. Ia sendiri yang mengajukan permintaan agar semua kebenaran ini disembunyikan sehingga tidak menimbulkan keributan yang lain," ungkap dang Hokage rendah. Matanya berkilat bersalah. "Maaf, Akira. Tidak ada yang bisa kulakukan."

Kalau ada yang bisa kau lakukan, aku takkan berdiri di sini dan membahas semua ini denganmu, Kakek Sandaime.

"Sebagai kerabat jauhnya, saya hanya ingin meminta izin untuk diberi kelonggaran membantu dia," ungkapku pendek. "Saya ingin mencarinya. Setidaknya mencoba melacak untuk kemudian berbicara dengannya."

"Apakah semua ini karena Sasuke?"

Mungkin."Saya menginginkan yang terbaik untuk mereka berdua. Meskipun garis keluarga kami tidak terlalu dekat, saya tetaplah... Uchiha."

Ketika mengatakannya aku benar-benar menahan keinginan untuk menampar diri sendiri.

Sebab, astaga, apakah aktingku sudah meyakinkan?

Aku sama sekali tidak peduli dengan Uchiha atau apa pun. Oke, silakan sebut aku egois dan tak berperasaan. Tapi, sungguh aku tidak peduli denga klan spesial atau apalah. Yang kuinginkan saat ini hanyalah memberikan akhir yang lebih layak bagi mereka yang memiliki karakter baik.

Uchiha Itachi dan--ehm--adiknya tentu saja termasuk dalam daftar karakter baik. Lagi pula, hampir semua tokoh di dunia ini berkarakter baik. Mereka yang jahat hanyalah melenceng dan butuh pencerahan. Ketika selesai menonton acara ini dulu, aku bahkan bingung ingin menyalahkan siapa. Sebab, semua penjahat punya alasan yang cukup logis untuk berbuat kejahatan. Mereka sangat manusia dan tujuan dari kejahatan mereka entah mengapa memang pantas disebut baik.

Kontradiksi ini membuatku pusing. Itulah mengapa aku memutuskan untuk menyalahkan dan membenci Danzo saja yang tidak memiliki kisah balik hang cukup menyentuh. Hell, jangankan menyentuh. Aku bahkan sama sekali tidak bersimpati padanya karena setelah dipikir-pikir, dia hanyalah pribadi egois yang ingin menang sendiri. Dalih 'Demi Konoha' itu hampir membuatku ingin memacahkan monitor ketika menontonnya.

Uhm, tidak seekstrim itu sih. Tapi, kalian menangkap analogi hiperbolaku itu 'kan?

"Sekarang ini dia telah bergabung dalam sebuah organisasi misterius yang tampak cukup berbahaya," ungkap Sandaime. "Akhir-akhir ini Itachi jarang mengirimkan laporan padaku."

Aku mengangguk, menahan keinginan untuk mengatakan bahwa aku sudah tahu cukup banyak mengenai organisasi yang dimaksudnya.

Sandaime membolehkanku keluar setelah mengatakan padaku untuk menemui Yūgao dan Hyou guna memberi mereka kunci segel para anggota Ne. Tak butuh waktu lama bagiku untuk melesat ke markas ANBU dan menemukan seorang perempuan berambut ungu tengah duduk di sebuah bangku panjang sendirian. Dengan topeng yang di atas kepalanya, ia tampak baru saja hadir di sana dan hendak memulai misi namun menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu.

Fokusnya tertuju pada wadah stirofoam yang berisi seplastik ramen. Kebiasaannya seperti ini mau tak mau mengingatkanku pada aku yang dulu. Sebagai Felonya, aku sangat sering terburu-buru berangkat kuliah karena kesiangan. Alhasil, tiap ada jam kuliah pagi aku terpaksa sarapan di dalam mobil atau bahkan kendaraan umum. Kebiasaan itu sebaiknya jangan ditiru. Pokoknya jangan.

Keadaan markas ANBU yang sepi membuatku berasumsi bahwa anggota lainnya sudah pergi menjalankan misi atau bahkan belum berangkat. Aku berbicara sekilas pada Yūgao, bercakap-cakap mengenai kapan sang wanita berambut ungu kembali ke desa dan mengenai keadaanku yang sudah membaik. Setelah menghabiskan beberapa waktu di sana, aku pun melesat pergi. Sebelumnya, aku sudah memberi Yūgao kunci segel yang kusimpan di sebuah gulungan.

Kalau tidak salah, Sandaime juga mengatakan bahwa dia baru akan memberitahukan misi Jōninku beberapa hari lagi. Jadi, hari ini aku punya waktu senggang. Ada cukup banyak agenda yang ingin kulakukan. Mulai dari kembali mempelajari Fuinjutsu hingga mencoba resep masakan yang mungkin bisa mengingatkanku dengan makanan yang biasa kumakan di masa lalu?

Namun, sebelum aku selesai mengurutkan daftar kegiatan yang ingin kulakulan sekarang ini, aku melihat seorang dengan sebelah mata yang terutup melambaikan tangannya padaku. Aku menyipitkan mata ketika mendengar suaranya yang tengah memanggilku dengan cukup nyaring.

Di sampingnya, duduklah seorang perempuan manis berambut kecoklatan. Ia ikut melambaikan tangan padaku sambil melontarkan senyum.

"Sepupu! Kemarilah! Kakashi akan mentraktir kita semua!" seru orang itu.

Mataku mendarat pada sosok yang baru saja menepuk belakang kepala Obito, membuatnya mengerang sakit. Ketika matanya mendarat padaku, sang pemilik rambut silver mengangkat telapak tangannya--sebuah sapaan biasa dari seorang Hatake Kakashi.

Hembusan angin menyapu rambut silvernya yang secara ajaib tetap berdiri tegak itu. Aku menahan keinginan untuk tidak menyeringai dan berlari ke arah mereka.

Stay cool. Stay cool.

Tapi Kakashi keliahatan sangat...

Uhh.

Aku ingin mengacak-acak rambut silvernya itu. Kenapa dia keliahatan makin oke saja dari hari ke hari?! Keadaan ini sangat tidak adil.

Sambil mengontrol diri agar sindrom idolaismeku tidak mengambil alih, aku menghampiri mereka dengan tenang. Rin adalah yang pertama menanyakan keadaanku ketika aku sampai di depan mereka.

"Hanya terkena sedikit racun," ungkapku pendek.

"Obito sangat khawatir dan langsung menemuimu ke rumah sakit begitu pulang dari misi. Tapi, dia tidak menemukanmu di sana," ungkap Rin. "Oh, dia juga menunggumu di Hokage Tower. Tapi, karena terlalu lama, dia kelaparan dan langsung menyabotase Kakashi begitu tahu dia baru saja mendapatkan bayaran misi panjangnya di luar desa."

"Seorang teman harus saling berbagi suka dan duka," ujar sang Uchiha membela diri. "Aku sudah menemaninya berpenampilan seperti ini! Jadi, sebagai gantinya dia harus rutin mentraktirku tiap kali mendapatkan bayaran misi."

Di seberang meja, Kakashi bergumam, "Aku tidak pernah menyuruhmu untuk ikut-ikutan menutup sebelah matamu, Obito. Kau yang memutuskannya sendiri. Padahal, kedua matamu tidak ada yang bermasalah."

"Kau sendiri sudah mendapat transplasi mata sejak beberapa tahun lalu."

"Nah, kondisiku tetap berbeda darimu."

Pertengkaran kecil mereka masih berlanjut, membuat Rin berdeham keras untuk menengahinya. Dua orang itu langsung terdiam dan secara serentak meminta maaf pada sang ninja medis. Aku menahan keinginan untuk tertawa. Dua lelaki itu adalah orang dewasa. Namun, jika sudah berhadapan dengan Rin tiba-tiba saja keduanya jadi terlihat seperti remaja seumuran Sasuke dan Naruto.

Sementara Rin mempersilakanku untuk duduk di samping Kakashi, Obito kembali memulai argumen mengenai kewajiban Kakashi untuk mentraktir.

Mantan anggota ANBU itu menghela napas lelah menanggapi teman yang pernah merangkap sebagai rekan satu timnya. Ia tiba-tiba saja menanyakan makanan apa yang ingin kupesan dan segera memesankannya begitu aku berkata bahwa aku hanya ingin onigiri dan tempura goreng.

Ketika kembali berargumen dengan Obito, ia pun berujar, "Traktiranku hanya untuk Akira yang baru saja keluar dari rumah sakit. Sebaiknya kau belajar untuk menjadi suami yang baik bagi Rin nanti dan berhenti menyabotaseku."

Sementara Rin merona malu, Obito mengerang protes akan ketidakadilan yang ia rasakan. Aku hanya tertawa ringan menanggapinya. Sepertinya memiliki hidup yang seperti ini tidak buruk-buruk amat. Dengan keadaan ini pun aku kembali mengingatkan diri sendiri bahwa aku akan memastikan mereka yang baik akan mendapatkan ending yang pantas.

Tragedi memang bukan sebuah pilihan. Tapi, dengan kondisiku yang sekarang, aku akan membuat tragedi sebagai pilihan. Sedangkan pilihanku adalah untuk menghindari atau bahkan mengubah dampak buruk dari tragedi itu. ]

TBC