Sweet Revenge
By: Hikary_Cresenti
Disclaimer :Bleach punya Tite Kubo
Rated :M
Warning :OOC(s), Bloody,Mistypo(s)
Hope you Enjoyed it
.
.
.
"Pembalasanku akan jauh lebih menyakitkan dari apa yang kalian lakukan padaku! Lihat saja! Jangan harap kalian bisa lolos dari kematian yang saat ini ada di hadapan kalian!" ujar gadis itu seraya menggertakkan giginya.
"Hm… Ah… tempat itu cocok untuk menjadi panggung dan nikmatilah hari-hari kalian menuju neraka… " ujarnya lagi seraya tersenyum lalu pergi.
.
.
.
Sore hari,ruangan Riruka Dokugamine
"Ah, hari ini semuanya beres, loh… surat apa ini?" ujarnya seraya melihat sebuah amplop bewarna putih di mejanya. Ia pun segera membuka amplop itu dan membaca sebuah surat, yang ternyata di ketik computer itu.
Untuk Bu Riruka,
Maaf sebelumnya mungkin surat ini mengganggu ibu. Saya adalah Rheina Mutsuki, murid baru di sekolah ini. Saya malu untuk bicara langsung pada ibu, jadi begini bu, saya punya masalah dalam pelajaran matematika. Jadi kalau ibu ada waktu bisakah ibu datang ke labor kimia lama? Tadi saya sudah meminjam kunci pada penjaga sekolah dan ia mengizinkan.
Sekian surat permohonan saya, maaf jika mengganggu ibu
Rheina Mutsuki
"Hm… murid baru? Ah yang mana ya? Seingatku tidak ada deh? Tapi… ah sudahlah," ujar Riruka.
Lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya dan segera menuju ke laboratorium lama. Laboratorium ini terletak di lantai 2, dan berada di sudut ruangan. Setelah beberapa saat ia sampai di depan ruangan labor kimia itu. Lalu ia pun membuka pintu labor yang tidak terkunci itu. Namun tidak ada siapa-siapa disana.
"Hah, lelucon apa ini," ujar Riruka saat melihat ruangan yang kosong tersebut.
Namun tiba-tiba seseorang memukul kepalanya dari belakang dan membuatnya tidak sadar. Setelah beberapa saat ia mengerjapkan matanya saat merasakan perih di lengannya dan rasa panas seperti terbakar pada lengannya itu.
"Terimakasih sudah mau datang… Bu Riruka Dokugamine," ujar seorang wanita.
Saat menoleh Riruka kaget, melihat seorang wanita dengan rambut ungu yang dikucir satu seraya tersenyum.
"Shihoin Senna? Apa maksudnya ini?Lepaskan saya!" teriak Riruka yang menyadari dirinya diikat di atas tempat yang biasa digunakan untuk penelitian atau lebih tepatnya pembedahan para kimiawan.
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin bicara saja," ujar Senna santai.
"Bicara? Tentang apa? Jangan harap melakukan hal ini akan membuatmu kembali dapat mengikuti lomba," ujar Riruka lagi.
"Tenang saja. Ini bukan masalah lomba," ujar Senna lagi. "Tapi masalah kutukan laboratorium," ujar Senna.
"Ku-kutukan?"ujar Riruka bingung.
"Ya, kutukan laboratorium kimia. Ibu pasti tau kan, dulu di sini pernah terjadi sebuah pembunuhan? Dimana sang korban di mutilasi di tempat ini?" tanya Senna seraya menatap iris mata Riruka yang terlihat mulai ketakutan.
"Dan katanya, sang pembunuh itu tak diketahui dimana ia berada saat ini," ujar Senna lagi.
"Jangan bicara yang aneh-aneh!"bentak Riruka.
"Ada apa bu? Apa ibu merasa takut dengan rumor ini?Bukankah tidak ada yang perlu di takutkan dengan rumor yang tidak jelas ini?" tanya Senna lagi.
"Tentu saja tidak! Aku sibuk!aku harus pulang!" ujar Riruka lagi lalu berusaha melepaskan diri dari ikatan tersebut.
"Lepaskan aku!"jerit Riruka.
"Kalau aku tidak mau?" tanya Senna lagi dengan tatapan menantang.
"K-kau… "
"Ah, matahari terbenam memang indah ya. Mungkin ini terahir kalinya kita bisa menyaksikan matahari tenggelam yang indah ini bersama," ujar Senna lagi masih tersenyum.
"Jangan main-main! - Ukh… "Riruka merintih saat sebuah pisau menembus tubuhnya dan merobek perutnya.
"Sebegitu inginnya cepat pergi ya?" tanya Senna lagi seraya mengeluarkan pisau yang kini telah dibasahi dengan darah seraya menjilatnya.
"Padahal, aku masih ingin bermain," ujar Senna seraya kembali menikamkan pisau tersebut di perut Riruka.
"Uagh!" teriak Riruka
"Sakit ya? Tapi… tidak terlalu sakit kan?"ujar Senna lagi.
"Ku-kumohon… biarkan aku.. Uagh!" kali ini Senna kembali merobek perut Riruka dengan sebuah pisau. Kemudian menuangkan cairan kimia ke perut gurunya itu.
"Di luar dingin, jadi aku membuatkan ramuan untuk menghangatkanmu,"ujar Senna lagi seraya memperlihatkan sebuah cairan bewarna pink.
"ti-tidak… Jangan… UAGH!" Riruka kembali berteriak saat cairan itu mengenai wajahnya.
Teriakan demi teriakan menggema di ruangan tersebut. Para iblis neraka saat itu berkumpul untuk berpesta darah.
"Apa yang ku rasakan jauh lebih sakit,bu," ujar Senna seraya menarik usus Riruka keluar.
"Sangat sakit, apa ibu tau? Cita-citaku adalah mengikuti lomba," ujar Senna lagi.
Senna tau persis kalau sang guru tak akan mungkin menjawab. Tapi, ia tetap bertanya seakan-akan sang guru masih hidup.
Setelah puas membuang keluar seluruh organ tubuh Riruka beserta jantung dan hatinya serta menghancurkannya, ia meraih sebuah pisau dengan ukuran lebih besar yang berada di ruangan kimia tersebut lalu dengan sekali hentakan memutuskan kepala Riruka dengan tubuhnya sehingga darah kembali berserakan di tempat tersebut.
Lalu ia meraih kepala Riruka yang telah terpotong itu dan memasukkannya ke sebuah kantung plastic, kemudian membuka ikatan pada tubuh Riruka dan mendudukkannya di sebuah kursi. Ia tersenyum puas melihat tubuh sang guru yang kini berserakan.
"Sampai jumpa lagi Bu," ujar Senna lalu pergi dari tempat itu setelah menghilangkan bukti-bukti keberadaannya.
.
.
.
"Oh, begitu ya," ujar Senna seraya memahami biologi untuk ulangan besok.
"Udah, elo pasti bisa Sen. Kalkulator aja bisa diemut, kenapa buku biologi nggak? Ya udah gue mau tidur dulu udah jam 10 nih," ujar Ggio melalui telepon itu.
"Eh, iya Gi. Sorry ya, ngeganggu loe dari sore sampai sekarang," ujar Senna lagi.
"Nggak masalah, ya udah met belajar," ujar Ggio lagi.
Lalu Senna memutuskan sambungan telepon tersebut.
.
.
.
Keesokan harinya,
"Serius bener Sen," ujar Tesla melihat Senna yang sudah mondar mandir dengan buku biologi di tangannya itu.
"Ya gimana lagi, hari ini ujian, dan gue takut nggak bisa mengerjakannya," ujar Senna lagi seraya masih sibuk menghafal tentang anatomi tubuh hewan tersebut.
"Jyah… rajin amat Sen, udah kemarin nelpon dari jam 2 siang sampai jam 10 malam, sekarang sibuk menghafal lagi," ujar Ggio lagi.
"Jam 2 sampai jam 10?" ujar Tesla kaget.
"Hehehe iya, habisnya pengetahuanku di bidang biologi kan minim banget, makanya aku tanya sama Ggio. Sorry ya, ngerepotin elo sehari kemarin," ujar Senna lagi.
"Udah nggak masalah, kalau elo gagal biologi kan gue juga yang susah," ujar Ggio lagi.
"Uh loe iklash apa nggak sih," gerutu Senna.
"Udah-udah jangan pada berkelahi deh," ujar Tesla melerai perkelahian sahabatnya itu.
"Tau nggak katanya kutukan itu kembali," ujar seorang murid berambut blond, Inoue Orihime.
"Maksudmu apa?" tanya Momo.
"Kutukan?" ujar Ggio bingung. Lalu dengan insting wartawannya ia segera menghampiri Momo dan Inoue.
"Aduh, tunggu,"ujar Tesla. Lalu Tesla dan Senna segera menyusul Ggio. Ggio memang selalu tetarik dengan hal-hal yang bersifat kutukan.
"Kutukan labor ya?" tanya Ggio.
"eh, Gio. Iya,"ujar Orihime.
"Emang tau dari mana?" tanya Tesla.
"Itu, tadi pagi ditemukan jasad Bu Riruka di labor kimia," ujar Momo lagi.
"Bu Riruka? Ngapain dia kesana?" tanya Ggio bingung.
"Nggak tau juga, saat ini masih heboh loh," ujar Orihime lagi.
"Ayo kita lihat," ujar Ggio.
"Woi, Gio! Aduh tuh anak," ujar Tesla .
"Ayo susul,"ujar Senna lagi.
"Ayo!"
Lalu Tesla dan Senna segera menyusul Ggio ke laboratorium kimia lama.
Saat sampai disana ramai para siswa dan guru yang menonton. Saat melihat hal itu, Tesla, Senna dan Ggio langsung shock.
Di ruang itu, tergeletak mayat seorang wanita bersimbahkan darah. Bukan hanya itu, Kepalanya tidak berada di tempat dan sebuah pisau yang merobek bagian tubuhnya, sehingga memperlihatkan ususnya yang berserakan keluar. Bau anyir darah yang memenuhi ruangan itu.
"Siapa yang melakukannya,"ujar Ggio.
"Aku tidak tau.. "ujar Senna.
"Mengerikan," ujar Tesla lagi.
.
.
.
TBC
Cuplikan chapter depan:
Sekali lagi di temukan mayat seorang wanita namun kali ini kepalanya masih berada di tempat, namun wajahnya hancur karena tersiram raksa. Sedangkan tangan dan kakinya telah hancur atau lebih tepatnya meleleh karena cairan kimia. Apakah kutukan ini akan terus berlanjut?
.
.
.
Hai! Ahirnya ratingnya jadi M *nangis haru*. Gimana bloodynya? Gaje ya? *liat ke atas*. Maaf kalau kesannya gaje. Dan mari kita balas review
Bluegirl02. reini : Wah, sabar mbak. Jangan ngamuk disini. Kan ini hanya cerita, ntar saya bisa-bisa di cekek tite Kubo lagi karena merusak image charanya. Hehe, habisnya kalau Tesla agak nggak cocok, kan Tesla itu cool(Tesla: emang gue kulkas!) Hehe so apstinya. Thanks for Review
Tobiagare Ryuuta: Hehe nih disini di ungkapkan. Wah, kalau saya penggemar bloody*nggak nanya* Oke deh, wah makasih petasannya lumayan untuk jualan (lah?)Thanks for review
Yuzuna Yukitou : Hehehe emang suka! Lop U too! *OOc muncul*. Oke! Ditunggu cerita Onryoo nya!Thanks for Review
Toyama Ichiru :OC? Nggak kog, yang ada OOC hehe. Wah… berarti masih banyak yang harus diperjelas ya? Emang sih, tapi siapa yang lebih cocok? Kan nggak mungkin Unohana? NOO ntar saya di bunuh dengan Mikazuki. Oke, tenang saja udah dipindahkan kog, nggak apa-apa saran sangat di terima. Oke deh, fic Memories in the rain barengan sama ini kog di updatenya. Thanks for review
Riri Seu: Hehe kebetulan saja kog. Wah, penggemar riruka ya? Hue gommen karena ngerusak imagenya *bungkuk-bungkuk* Thanks for review
Oke! Saya ucapkan pada semua readers yang sudah mau membaca mereview, memfave,memfollow dan yang pastinya thank you so much! Oke bersediakah meninggalkan jejak lagi?
