Title : Kim Family

Rated : M (for this chapter)

Cast/Pairing : BTS member/NamGi (Namjoon X Yoongi)

Disclaimer : Semua cast buka milik kami (maunya sih milik kami ._.) Tapi cerita gaje ini milik kami.

Warning : Boys love, Mature content

DON'T LIKE DON'T READ

Tak lama kemudian Yoongi mulai sadar dengan posisinya. Segera saja dia menjauh dari Namjoon dan berdeham sebentar, berusaha mengurangi rasa canggung yang tiba-tiba saja menghampiri mereka. Yoongi merasakan pipinya memanas dengan perlakuannya yang reflek itu.

Dasar bodoh, batin Yoongi mengutuk dirinya sendiri. Sedangkan Namjoon hanya duduk tenang seakan tidak terjadi apa-apa. Pelayan datang membawakan pesanan milik Namjoon.

15 menit mereka habiskan dalam keheningan, fokus terhadap makanan masing-masing. Dentingan antara sendok dan garpu terhadap piringlah yang menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Yoongi masih merasa malu dan canggung dengan apa yang dilakukannya tadi, tidak berani menatap Namjoon.

Setelah mereka selesai dengan acara makan mereka, Namjoon memutuskan untuk kembali ke kantor mengambil berkas penting lalu menuju apartemen sederhana milik Yoongi untuk menyusun barang-barang yang hendak dibawa oleh Yoongi nanti. Tentu saja langsung disetujui oleh Yoongi dengan semangat yang mengebu-ngebu.

-oOoOoOoOoOoO-

Dan disinilah mereka, berada didepan gedung apartemen sederhana milik Yoongi. Namjoon meneliti bangunan lama itu dengan teliti.

"Ya ya apartemenku memang tidak mewah seperti milikmu." Ujar Yoongi saat melihat Namjoon meneliti bangunan itu.

"Apa yang kau katakan? Aku melihat-lihat bukan untuk mengatakan kalau apartemenmu sederhana atau apapun lah seperti yang kau pikirkan. Aku sedang melihat-lihat struktur bangunan dari apartemen ini. Ku rasa apartemen ini dibangun dari bahan yang kuat. Kalau ku lihat, bangunan ini sudah cukup lama tapi masih kokoh." Jelas Namjoon agar Yoongi tidak salah paham.

"Benarkah?" Tanya Yoongi memastikan.

"Hmm apa aku pernah bohong? Perusahaan appa ku juga ada yang bergerak di bidang pembangunan Yoongi." Tambah Namjoon. Namjoon memegang dan juga mengetuk kecil dinding apartemen milik Yoongi.

Voila!

Dia takjub, bangunan ini benar-benar dibangun dengan perencanaan yang bagus.

Setelah selesai dengan acara mengagumi apartemen tersebut, Namjoon mengedarkan fokusnya ke isi apartemen Yoongi. Kembali ia takjub, walaupun apartemen ini terbilang lebih kecil dibandingkan apartemennya tapi ini dikategorikan sangat bersih dan rapi dibandingkan apartemen miliknya.

"Apartemenmu rapi dan bersih, kau suka membersihkannya?" Tanya Namjoon.

"Ya, menurutmu siapa yang akan membersihkannya?" Tanya Yoongi balik.

"Santai saja istriku, aku hanya bertanya." mendengar Namjoon memanggilnya dengan kata istri ku membuat Yoongi memerah kembali, rasanya satu hari ini ia sudah bosan merasakan pipinya yang bersemu.

"Kau duduk lah dulu, apakah kau mau minum sesuatu?" Tawar Yoongi.

"Sesuatu? Ah aku hanya ingin makan." Balas Namjoon. Dahi Yoongi menyerit heran, pasalnya baru beberapa menit yang lalu mereka menyelesaikan makan siang mereka.

"Kau yakin? Bukannya kita baru saja makan siang?" Tanya Yoongi memastikan.

"Aku yakin, aku ingin memakanmu Yoongi, memakanmu hingga kau tak bisa berjalan sampai berhari-hari." Balasnya dengan nada sing a song yang membuat Yoongi merinding dan juga mual-mual seketika.

"Dasar pria cabul! Sudahlah sampai mati pun kau tak akan selesai jika aku membalasnya, sebaiknya aku menyiapkan pakaianku." Yoongi melangkahkan kakinya ke kamarnya. Langkahnya terhenti saat ia sadar Namjoon mengekorinya.

"Kenapa kau mengikuti ku?" Tanya Yoongi.

"Aku hanya mau melihat kamarmu dan mencuri beberapa underwear mu mungkin." Saat ini Yoongi melihat wajah Namjoon seperti om om pedofil yang punya ketertarikan seksual dengan barang-barang tertentu.

Menyeramkan, pikirnya. Yoongi pun melanjutkan acara packingnya. Melihat itu Namjoon mengernyit aneh, tidak biasanya sekretaris kesayangannya ini tidak membalas ucapannya yang berbau mesum itu.

"Tumben kau tidak membalas ucapanku? Dan tidak melarangku untuk mengikutimu."

"Untuk apa? Aku marah pun kau tak akan menyudahinya, ku larang pun kau tetap akan mengikuti ku." Jelas Yoongi yang sibuk dengan acara packingnya. Ruangan itu hening karena Yoongi sibuk mengemasi barangnya dan Namjoon yang asik melihat Yoongi dari atas tempat tidurnya.

15 menit berlalu dan Yoongi telah selesai mengemasi barangnya, ia bingung kenapa sedari tadi rasanya hening sekali, tidak biasanya atasannya itu membiarkan Yoongi hidup tanpa celotehan mesumnya.

Penasaran, Yoongi berbalik dan melihat kearah tempat tidurnya. Mau tak mau Yoongi tersenyum melihat atasannya tersebut yang tengah tidur di ranjangnya. Wajah atasannya terlihat lebih tampan apabila tidak sedang menyeringai atau sedang menggodanya, polos, seperti wajah anak-anak.

Kakinya melangkah mendekati sang atasannya, ia mengelus surai bergaya Mohawk tersebut kemudian melepas jas kerja Namjoon dengan perlahan, takut akan mengganggu tidur sang atasan.

Setelahnya, ia memilih untuk membersihkan diri. Sejujurnya ia tak tahu, kenapa satu hari ini ia begitu gerah padahal kalau ia pikir ia selalu berada di ruangan yang memakai AC.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk menutupi pinggang sampai lututnya. Ia merutuki kebodohannya yang lupa membawa pakaian ganti, apalagi ada Namjoon, atasannya yang kadar mesumnya tak sealim wajahnya.

Untungnya sang atasan sedang tertidur, dengan mengendap-endap ia keluar dari kamar mandi sekalian untuk memastikan bahwa sang atasannya masih tertidur. Aman, atasannya sedang berkelana di dunia mimpi.

Sesegara mungkin ia mengganti pakaiannya, saat akan memakai bajunya-ia telah memakai celana nike pendek- entah kenapa ia ingin melihat wajah Namjoon, ia pun berbalik. Mata Yoongi membelalak sempurna.

"AAAAAAAAAAAAAAA BASTARD!" Teriak Yoongi saat melihat Namjoon tengah duduk bersila di atas kasurnya sambil bersedekap dan jangan lupakan seringaiannya yang sangat dikutuk oleh Yoongi. Dengan segera Yoongi melempar pakaiannya bertubi-tubi kearah Namjoon yang tentunya membuat Namjoon kesusahan.

"Hey nona, tolong jangan beringas, aku hanya melihat tubuh telanjangmu, bukan memperkosamu." Jelas Namjoon. Serangan Yoongi berhenti namun digantikan wajah Yoongi yang semakin menghoror.

"Apa katamu? Tubuh telanjangku?" Tanya Yoongi horror.

"Ya, tubuh telanjangmu dan juga pastinya adegan saat dimana kau melepaskan handukmu dengan sensual." Namjoon menjelaskannya dengan santai masih lengkap dengan seringai menyebalkannya.

Yoongi makin kalap dan segera menerjang Namjoon. Persetan dengan ranjangnya yang akan jebol, saat ini ia harus membalas perlakuan cabul Namjoon.

"Hey, tenanglah." Kini Namjoon terlentang dengan Yoongi duduk di perutnya sambil menjambak kuat rambut Mohawk Namjoon.

"Yoongi, aww ini astagah Yoongi rambutku, aww sakit aissh."

" Biarkan saja, mati kau bocah cabul." Serang Yoongi brutal. Tak tahan dengan jambakan Yoongi, Namjoon segera memegang kedua lengan Yoongi untuk menghentikan serangannya. Serangan Yoongi terhenti, ia gugup setelah menyadari bagaimana posisi mereka berdua.

"Yoongi, kau tahu bagaimana posisi kita saat ini?" Tanya Namjoon dengan suara husky miliknya. Alih-alih menjawab, Yoongi justru semakin pucat, ia tahu kemana arah pembicaraan ini.

"Dan kau juga pernah ku peringatkan bukan? Tentang kejadian-kejadian yang mungkin tidak sengaja aku lakukan." Yoongi menelan ludahnya dengan pahit. Tuhan, tolong aku, aku masih ingin perjaka, batinnya meraung.

"Dan juga saat ini kau hanya memakai celana pendek sebagai perlindungan atas dirimu." Dengan jahil Namjoon mengelus punggung telanjang Yoongi. Yoongi bergetar dibuatnya.

BLAM

Sedetik kemudian, Yoongi telah berada dibawah kungkungan Namjoon. Mata mereka saling bertatapan. Yoongi dengan fokus gugupnya sementara Namjoon dengan fokus tajamnya, mampu membuat Yoongi lemas tak berdaya.

Saat ini posisi mereka berdua seperti singa jantan yang sedang menangkap seekor rusa. Wajah Namjoon mendekat, Yoongi terkesiap. Yoongi menutup matanya saat wajah Namjoon menjadi sangat dekat. Ia pasrah kalau bibirnya akan ditawan kembali oleh makhluk tampan berstatus atasannya.

Lama Yoongi menunggu, bibirnya tak kunjung juga bertemu dengan bibir tebal atasannya. Yang ada malah suara *yang ia yakini dari atasannya* seperti menahan tawa.

Saat Yoongi membuka matanya, tawa Namjoon tak tertahan. Ia tertawa terbahak-bahak dan membuat Yoongi merasa malu juga kesal. Setelah puas dengan tertawanya, Namjoon mengusap setetes air mata yang berada di pelupuk matanya.

Sebenarnya ia ingin menggoda Yoongi lebih lanjut, namun ia urungkan saat Yoongi menatapnya dengan tatapan sendu.

"Kau mempermainkanku." Ujar Yoongi dengan suara seraknya. Ia tidak tahu tapi entah mengapa seperti ada yang menohok hatinya.

"Kau menyebalkan Namjoon." Lanjut Yoongi yang kemudian beranjak turun dari ranjangnya. Tepat sebelum kakinya menginjak lantai, tangannya ditarik keras oleh Namjoon yang berakibat badannya menimpah badan Namjoon.

"Maaf, aku tidak bermaksud mengerjaimu." Yoongi hanya diam. Namjoon mulai frustasi. Diamnya Yoongi lebih mengerikan dibandingkan umpatan Yoongi.

"Tidak apa-apa." Ujar Yoongi pelan.

"Aku tak bermaksud untuk mempermainkanmu." Jelas Namjoon.

"Bolehkah aku memelukmu?" Tanya Yoongi kepada Namjoon.

"Oh? O-oke, silahkan." Yoongi memeluk Namjoon erat, sesekali air mata Yoongi membasahi kemeja milik Namjoon. Namjoon hanya bisa mengusap punggung telanjang Yoongi. Siang itu mereka habiskan dalam keheningan dan diakhiri dengan berkelana di dunia mimpi mereka dengan posisi Namjoon yang mendekap Yoongi.

-oOoOoOoOoOoO-

Namjoon sedikit kesusahan membuka matanya, matanya terasa sedikit perih. Keadaan kamar Yoongi mulai gelap karena malam telah datang. Yoongi sudah tidak berada dikamarnya. Mata Namjoon mencari-cari jam yang berada di kamar itu. Jam 8, batin Namjoon.

Perlahan ia beranjak duduk di kasur milik Yoongi, mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan sehabis bangun tidur. Kakinya melangkah keluar dari kamar milik Yoongi.

Baru saja ia melangkah keluar, aroma makanan menyapa indra penciumannya. Bau itu berasal dari dapur. Namjoon berjalan mendekati Yoongi yang tampak sibuk dengan masakannya itu. Namjoon memeluk Yoongi dari belakang, membuat Yoongi sedikit tersentak.

Yoongi menolehkan kepalanya sebentar, tidak berkata apa-apa dan melanjutkan acara memasaknya, membiarkan Namjoon pada posisinya. Sebenarnya Namjoon sedikit bingung kenapa Yoongi menjadi diam seperti ini. Apa karena kejadian tadi? Namjoon menumpukan dagunya pada bahu milik Yoongi.

"Sedang memasak apa?" Namjoon bertanya masih dengan posisi yang sama.

"Memasak sup." Jawab Yoongi dengan singkat. Namjoon meruntuki dirinya, demi apapun dia lebih suka Yoongi yang berteriak, mengumpat, daripada diam seperti ini. Namjoon masih saja sibuk dengan pemikirannya sampai Yoongi membuka suara.

"Sup nya belum matang, mandilah dulu lalu makan." Ucap Yoongi yang masih saja fokus mengaduk sup yang sedang dimasaknya. Namjoon mengangguk mengerti. Sebelum pergi dari tempatnya, Namjoon mengecup ringan pipi Yoongi.

Setelah Namjoon pergi, adukkan Yoongi pada supnya terhenti. Dirinya berpikir, Namjoon dan dirinya seperti sepasang pasangan suami istri muda yang bahagia. Pipinya merona dan senyum kecil tercipta di wajah manisnya.

Tetapi perlahan senyumnya pudar, menjadi tatapan sendu. Tidak tidak, dia tidak boleh membawa perasaannya dalam hal ini, atasannya itu memang suka menggodanya, tentu saja dengan yang lain juga seperti apa yang didengarnya dari Hoseok.

Hoseok pernah mengatakan padanya ternyata kekasihnya itu sepupu dari Namjoon sehingga kekasih Hoseok mengenal Namjoon dengan baik. Dulunya Namjoon bersekolah di New Zealand, tentu saja merubah gaya hidupnya. Salah satunya bergonta-ganti pasangan, itu menjadi kekhawatiran Yoongi sekarang. Yoongi takut jika perasaannya terbawa oleh arus permainan Namjoon.

Tanpa terasa air mata Yoongi mengalir pelan menghiasi pipinya. Segera saja diseka oleh Yoongi sebelum Namjoon melihatnya. Dirinya kembali mengaduk sup yang sudah matang, mematikan kompornya lalu dengan perlahan mengangkat wadah yang berisi sup menuju meja tempat biasa ia makan.

Namjoon yang sudah selesai dengan acara mandinya memandang Yoongi dari jauh. Namjoon tahu bahwa Yoongi sedang menangis. Walaupun ia hanya melihat dari belakang, namun Namjoon tahu Yoongi tengah menyeka air matanya.

Lidahnya kelu ,ingin bertanya mengapa Yoongi menangis, tapi niatnya ia urungkan. Mungkin saat ini Yoongi sedang butuh ketenangan.

Saat Yoongi menuju meja makan, Namjoon segera memasang tampang tidak tahu dengan apa yang baru saja dia lihat. Ia menuju ke meja makan saat Yoongi menawari untuk bergabung. Namjoon dan Yoongi makan dalam keadaan hening.

Jujur saja ini sangat menyiksa Namjoon, keheningan ini bukan seperti keheningan saat makan, tapi keheningan yang disertai suasana canggung, setidaknya itu yang Namjoon rasakan.

"Nanti setelah makan, kita ke apartemenku." Ucap Namjoon yang berusaha mencairkan suasana. Yoongi menatapnya dengan pandangan bertanya.

"Aku harus menyiapkan barang-barangku juga." Ujar Namjoon menjelaskan. Yoongi mengangguk mengerti lalu melanjutkan acara makannya. Usaha Namjoon gagal mencairkan suasana. Mungkin Namjoon harus sedikit bersabar untuk menanyakan hal ini.

-oOoOoOoOoOoO-

Mereka telah sampai di apartemen milik Namjoon. Selama perjalanan, Yoongi hanya terdiam, terlihat melamun. Sesekali Namjoon melirik Yoongi, membuat Namjoon meringis dalam hati dengan keadaan Yoongi.

Namjoon memarkirkan mobilnya lalu keluar diikuti oleh Yoongi menuju ke tempat tinggal Namjoon. Namjoon membuka pintu apartemen miliknya, mempersilahkan Yoongi untuk masuk. Yoongi yang dipersilahkan masuk, melangkahkan kakinya ke apartemen yang tak asing lagi baginya.

Ia mendudukkan dirinya di sofa empuk milik Namjoon. Namjoon hanya melihatinya. Tahu bahwa Namjoon sedang memperhatikannya, Yoongi buka suara.

"Kenapa?"

"Kenapa kau duduk disitu?"

"Apa tidak boleh?"

"Boleh saja, tapi saat ini kau harus membantuku mengemaskan barang-barangku." Paksa Namjoon kemudian menarik tangan Yoongi. Yoongi pun hanya bisa pasrah ditarik menuju kamar Namjoon.

Namjoon mengeluarkan tasnya, sedangkan Yoongi menatapnya bingung.

"Apa saja yang ingin dibawa?" Tanya Yoongi.

"Pakaian, berkas penting, laptop." Jawab Namjoon. Yoongi mengangguk mengerti lalu membuka lemari pakaian milik Namjoon, memilihkan pakaian yang cocok untuk Namjoon saat berada di Daegu nanti.

Sedangkan Namjoon dengan santainya duduk diatas kasurnya, menatap Yoongi yang sedang merapikan barang bawaan Namjoon. Sungguh istri idaman, batin Namjoon.

Yoongi sedikit merona ketika menyiapkan pakaian dalam milik Namjoon sedangkan Namjoon terkekeh pelan melihat Yoongi yang merona.

Setelah selesai dengan pakaian, Yoongi beralih menyiapkan perlengkapan kerja milik Namjoon. Yoongi mengumpulkan berkas-berkas milik Namjoon dan juga laptop lalu memasukkannya kedalam tas.

"Yoongi.." Panggil Namjoon pelan membuat Yoongi menoleh kepadanya.

"Kemarilah~" Sambung Namjoon memerintah Yoongi untuk mendekatinya. Yoongi merasa ragu, tetapi ketika melihat tatapan Namjoon, dia tidak bisa menolak. Dengan berat hati Yoongi melangkahkan kakinya mendekati Namjoon.

Setelah Yoongi dekat dengan Namjoon, Namjoon segera mengaitkan tangannya pada pinggang milik Yoongi dan menarik Yoongi duduk di pangkuannya. Tentu saja Yoongi merasa terkejut, sekarang ia sibuk menenangkan detak jantungnya.

"Kau kenapa?" Namjoon berbisik dari belakang Yoongi tepat ditelinga pemuda manis itu, membuat Yoongi merasa kegelian karena napas milik Namjoon menerpa telinganya. Yoongi membalikkan badan menjadi menghadap Namjoon, masih berada didalam pangkuat Namjoon.

"Aku? Memangnya ada apa denganku?" Tanya Yoongi pura-pura tidak tahu dengan maksud Namjoon.

"Jangan berbohong Yoongi." Desak Namjoon.

"Kenapa aku harus berbohong?" Elak Yoongi.

"Aku melihatmu menangis saat kau memasak sup tadi." Pancing Namjoon. Sedikit terkejut dengan pernyataan Namjoon tapi sebelumnya ia yakin Namjoon tahu bahwa ia menangis.

"Kau pasti salah lihat, buat apa aku menangis?" Lagi-lagi Yoongi mengelak.

"Cerita saja padaku Yoongi, aku akan siap mendengarkan masalahmu." Tawar Namjoon pada akhirnya. Yoongi terkekeh kecil.

"Kau ini, ada-ada saja, mengapa memaksaku untuk menceritakan hal yang aku saja tidak tahu, sudahlah, aku masih harus membereskan barang-barangmu." Yoongi turun dari pangkuan Namjoon dan melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi yang berada pada kamar Namjoon.

Tatapan Yoongi berubah menjadi sendu dikala badannya membelakangi Namjoon. Apa yang harus ku ceritakan padamu, jika kau adalah objek dari semua ini, kau bodoh Yoongi, sesalnya dalam hati. Dengan langkah yang lemas dan juga mata yang berkaca-kaca ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil peralatan mandi Namjoon.

Sementara Namjoon hanya bisa menghela napas frustasi. Yoongi yang menangis tidak masuk ke dalam daftar hal-hal yang ingin dia lihat.

Susana di ruangan tersebut sangat canggung, padahal saat pertama kali mereka bertemu secara face to face tidaklah seperti ini. Namjoon yang mencoba mencari topik untuk memecahkan keheningan dan Yoongi yang hanya diam saja.

"Apa kau tidak ingin mengganti bajumu Yoongi? Ini sudah memasuki waktu untuk tidur." Tanya Namjoon yang melihat ke arah jam weker di kamarnya. Sementara Yoongi hanya diam saja dengan tatapan yang kosong.

Melihat itu otomatis Namjooon khawatir, ia menggerakkan tangannya di depan Yoongi, namun Yoongi masih tetap tidak sadar. Apakah di apartemen ini ada hantu? Kalaupun ada, mengapa hantu tersebut tidak sadar diri? Mencari tubuh yang terlalu menawan, batin Namjoon yang mulai melantur.

"Yoongi? Hey? Manis? Nyonya Kim?" Namjoon masih mencoba menyadarkan Yoongi, namun tetap nihil. Ide bejat mampir seiring angin dingin yang tiba-tiba numpang eksis, Namjoon mengecup bibir Yoongi dengan cepat.

GOTCHA

Berhasil. Yoonginya ternyata tidak kemasukan hantu yang tidak sadar diri-menurut Namjoon-.

"Apa yang kau lakukan?" Sentak Yoongi. Sementara pelaku percabulan-menurut Yoongi, namun menurut Namjoon, ia adalah pahlawan atas pencegahan Yoongi kerasukan hantu- hanya menatapnya dengan tatapan polos yang menurut Yoongi mengesalkan.

"Aku hanya menyadarkanmu, kau terlihat melamun, aku telah memanggilmu berulang kali, namun kau tetap tak mendengarkannya, jadi kuputuskan saja menggunakan cara yang menurutku sangat ampuh." Namjoon berucap dengan kalem. Yoongi hanya mendesah pasrah.

"Sudahlah, apa yang ingin kau katakan?"

"Sekarang sudah waktunya untuk tidur Yoongi, apa kau ingin tetap menggunakan pakaianmu itu? Kau bisa menggantinya dengan piyama." Namjoon mengingatkannya. Yoongi pun tersadar dan kemudian beranjak dari ranjang Namjoon.

"Kau mau kemana?" Tanya Namjoon.

"HUH? Ya jelas aku mau mengganti bajuku." Jawab Yoongi.

"Terus kenapa kau beranjak?"

"Aku mau mengganti bajuku di kamar mandi."

"Kenapa harus di kamar mandi?" Yoongi mulai horror sendiri.

"Apa maksudmu?"

"Kenapa kau harus repot-repot ke kamar mandi? Lagian kita kan sama-sama pria?" Ceh, seringai Namjoon dapat tertangkap dengan jelas oleh fokus Yoongi.

"APA? Huh, tidak ada jaminan kalau aku akan tetap selamat, sekalipun dari matamu yang sangat liar itu." Ketus Yoongi dan membanting pintu kamar mandi Namjoon, sedangkan Namjoon terkekeh, bersyukur Yoongi telah kembali ke sikap awalnya.

-oOoOoOoOoOoO-

Setelah selesai mengganti pakaiannya, Yoongi keluar dari kamar mandinya dan lagi-lagi harus mengeluarkan tatapan horornya. Bagaimana tidak? Saat ini atasannya sedang tidak memakai baju dan hanya memakai celana pendek saja.

"Kenapa kau tidak memakai bajumu?" Tanya Yoongi.

"Bukannya aku sudah pernah bilang, kalau aku tidak bisa tidur jika memakai atasan?" Jawab Namjoon. Yoongi bergegas melangkahkan kakinya ke luar kamar Namjoon, gerakannya terhenti saat Namjoon menarik lengannya.

"Kau mau kemana lagi?"

"Aku mau tidur di luar saja!"

"Kenapa? Hmm jangan-jangan kau berpikiran bahwa aku akan menelanjangimu kemudian memperkosamu saat tidur heh?" Tebakan Namjoon membuat Yoongi memerah.

"T-Tidak, kata siapa?" Elak Yoongi.

"Kkk sudahlah kau tak usah mengelak, ayo, kita berbagi ranjang saja, kurasa ranjangku sangat cukup menampung kita berdua." Ajak Namjoon.

"Tidak mau!" Keukeh Yoongi, Namjoon hanya menatapnya jengah.

"Aku jamin kau masih tetap perawan saat bangun esok pagi, itu janji ku." Bujuk Namjoon meyakinkan Yoongi. Yoongi benar-benar malu saat mendengar kata-kata frontal Namjoon, apa katanya? Perawan? Aku bahkan masih memiliki jakun, sialan!, raung inner Yoongi. Namjoon dan Yoongi balik ke ranjang Namjoon.

"Tapi, Yoongi.." Ujar Namjoon ragu.

"Apa lagi?" Balas Yoongi.

"Bisakah aku memelukmu?"

"APAAAA?" Teriak Yoongi.

"Ssstt, kau mau kita ditegur oleh tetangga kita? Lagian aku hanya memelukmu, kau bisa memakai selimut ini seorang diri jika kau mau, ayolah, please.." Pinta Namjoon dengan tatapan mengibanya yang membuat Yoongi terkekeh kecil, tetangga kita? Ini seperti mereka telah berkeluarga.

"Baiklah, tapi hanya memeluk ya?"

"Aku janji." Yoongi pun mulai membungkus dirinya dengan selimut dan Namjoon dengan senang hati melingkarkan tangannya ke badan Yoongi. Ia mengubah posisi Yoongi menjadi berhadapan dengannya.

"Ini sangat dekat, menjauhlah sedikit." Pinta Yoongi yang tentu saja ditolak oleh Namjoon. Namjoon masih setia dalam posisinya.

"Kau sangat cantik, jangan menangis lagi, kau bisa menceritakan masalahmu kepadaku, selamat tidur." Ujar Namjoon kemudian mengecup kening Yoongi. Namjoon telah memejamkan matanya pertanda ia telah tidur, sementara Yoongi hanya menatap Namjoon dengan sendu. Ia pun turut memejamkan matanya agar esok ia tidak bangun terlambat.

-oOoOoOoOoOoO-

Dewi siang mulai menampakkan keanggunannya di tahtanya, memberikan semangat pada setiap makhluk ciptaan Tuhan. Sinar emasnya menyelimuti setiap sudut jangkauannya, termasuk seorang pria yang mungil yang sedang asik bergelut di selimutnya.

Ia merasa terusik saat cahaya matahari tiba-tiba menyapanya. Ia terpaksa membuka matanya dan siap untuk mengumpat pengganggu tidur indahnya.

"Pagi princess, nyenyak dengan tidur mu?" Itu dia, tersangka utama pengganggu tidur Yoongi.

"HUH? Kau menyebalkan!" Keluhnya sebal.

"Hey, kenapa kau marah? Bukannya hari ini kita akan pergi ke Daegu? Apa kita harus membatalkannya?" Mata Yoongi terbuka kembali saat mendengar kata Daegu, ia lupa kalau hari ini ia dan Namjoon akan mengunjungi keluarganya.

"Jam berapa kita akan berangkat?" Ia pun bangkit dan bertanya dengan mata yang berbinar-binar.

"Jam delapan pagi." Ujar Namjoon dengan seringai khasnya.

"Baik baik, aku akan bersiap-siap." Ia langsung mengambil handuknya, Namjoon hanya melihatnya dengan tersenyum.

20 menit berlalu dan Yoongi telah selesai dengan mandinya.

"Aih, senangnya aku." Ujarnya riang. Saking senangnya, ia mengulangi hal saat ia berganti baju di kamarnya. Yah, Yoongi lagi-lagi memakai bajunya di hadapan Namjoon. Namjoon? Jangan Tanya lagi, untuk saat ini, ia berpegang teguh pada prinsip, Tuhan tidak suka dengan orang yang sering mubazir.

Ia masih setia menikmati semua pergerakan Yoongi, termasuk saat Yoongi tiba-tiba menjatuhkan ponselnya saat matanya melihat jarum yang berada di jam weker milik Namjoon. Ini dia, batin Namjoon, seringai Namjoon semakin mantap terpancar.

Yoongi yang melihat jarum pendek berada di angka 10 dan jarum panjang berada di angka 12 langsung terduduk di ranjang Namjoon, matanya berkaca-kaca menatap lantai kamar Namjoon.

"Hey princess, kau kenapa?" Namjoon menghampiri Yoongi dengan cemas. Ia berjongkok di hadapan Yoongi kemudian ia menggenggam erat tangan Yoongi, satu tangannya lagi menangkup pipi Yoongi. Ia tak menyangka kalau Yoongi justru menangis bukan mencak-mencak seperti bayangan Namjoon.

"Kita tak jadi pergi ke Daegu bukan? Ini salahku, aku terlalu banyak tidur." Nada bicaranya seperti sedang menahan tangis. Namjoon pun mendudukkan dirinya disamping Yoongi.

"Aku rindu orang tua ku." Ujar Yoongi menangis di pelukan Namjoon, kemeja Namjoon basah akibat air mata Yoongi.

"Hey, tenanglah." Ujar Namjoon.

"Bagaimana mungkin aku bisa tenang? Aku sudah membatalkan keberangkatan kita dan aku telah menyusahkanmu." Ujar Yoongi sesenggukan.

"Siapa yang bilang kau menyusahkanku Yoongi." Ujar Namjoon, ia memaksa Yoongi untuk melihatnya. Namjoon segera mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan kemudian ia memberikan dua buah tiket kepada Yoongi.

"Kau membeli tiket lagi?" Ujar Yoongi tak percaya.

"Bukan, siapa yang bilang aku membeli tiket baru lagi? Coba kau lihat jam yang ada di tiket tersebut." Santai Namjoon. Yoongi segera melihat jam yang tertera. Di tiket tersebut keberangkatan KTX yang akan mereka gunakan adalah pukul 11:00 KST, itu artinya, mereka tidak terlambat.

Segera saja Yoongi memeluk Namjoon dan tanpa sadar ia mengecup pipi Namjoon. Namjoon dan Yoongi sama-sama terdiam, Namjoon tidak menyangka bahwa Yoongi akan menciumnya dan Yoongi yang tidak menyangka ia akan mencium pipi Namjoon.

"M-Maaf, aku tidak sengaja." Yoongi menunduk malu dan pipi yang memerah. Namjoon yang tersadar segera menggoda Yoongi.

"Kenapa?" Tanya Namjoon.

"Apa yang kenapa?" Balas Yoongi heran.

"Kenapa kau hanya menciumku di pipi? Bibirku lebih membutuhkan bibirmu." Jelas Namjoon.

BRUK

Namjoon tersungkur setelah dipukul Yoongi menggunakan guling yang tepat berada disamping Yoongi. Yoongi segera meninggalkan Namjoon dan melanjutkan kegiatan menghias dirinya. Badannya saja yang kecil, tapi tenaganya seperti badak, raung Namjoon dalam hati.

-oOoOoOoOoOoO-

Waktu menunjukkan pukul 11:00 KST. Namjoon dan Yoongi tengah berada di KTX yang Namjoon pesan. Sebenarnya Yoongi ingin protes, kenapa Namjoon memesan KTX kelas V.V.I.P namun ia urungkan mengingat dari tadi Namjoon masih memegangi kepalanya akibat Yoongi pukul dengan kekuatan yang tidak bisa diremehkan.

"Apa masih sakit?" Tanya Yoongi khawatir, Namjoon hanya mendelik padanya. Namjoon itu orangnya rasional, walau ia mencintai seseorang tapi kalau ia dibuat sakit dalam artian bukan patah hati ia tetap akan bertindak sewajarnya, kalau sakit yah ia akan bilang sakit bukan menutup-nutupinya.

"Kau sudah tahu tapi masih bertanya." Tegas Namjoon.

"Aku minta maaf." Sesal Yoongi, sejujurnya Yoongi merasa bersalah dan merasa tidak enak.

"Sudahlah, kau minta maaf pun tak akan menghilangkan rasa sakitnya, sebaiknya kau diam saja." Ujar Namjoon dengan nada yang sedikit membentak Yoongi. Pergerakan tangan Yoongi terhenti kala ia akan mengelus kening atasannya.

Ada rasa sakit saat Namjoon membentaknya, selama ini Yoongi tidak pernah dibentak, sekalipun oleh kedua orang tuanya.

"Aku tahu kau marah kepadaku tapi bisakah kau tidak membentakku? Bahkan keluargaku tidak pernah membentakku." Ujar Yoongi dengan nada paraunya. Yoongi bukan orang yang cengeng, ia hanya tidak pernah dibentak, itu saja, terlebih lagi yang baru saja membentaknya adalah orang yang telah membuatnya jatuh cinta, mungkin.

Namjoon hanya menghela napasnya, saat ini kepalanya sangat sakit tapi ia tak menyangka akan membentak Yoongi. Ia memandangi Yoongi yang menatap pemandangan melalui jendela kereta.

Ia menarik bahu Yoongi dan merengkuh pria mungil yang baru saja ia bentak. Meletakkan kepala Yoongi ke bahunya dan mengelus lembut surai pemuda mungil itu, sesekali mengecup lembut surai blonde milik Yoongi.

"Sorry baby, aku tidak bermaksud untuk membentakmu Yoongi, hanya saja kepalaku sangat sakit tadi." Pernyataan Namjoon tidak ditanggapi oleh Yoongi.

"Baiklah, sebaiknya kau tidur, aku tahu kau pasti sangat lelah." Lagi-lagi Namjoon tidak ditanggapi oleh bawahannya, ia melirik kepada sosok yang berada di dekapannya. Sejurus kemudian ia tersenyum, malaikatnya ini sedang tertidur. Hobi sekali ia tidur, batin Namjoon.

Perjalanan dari Seoul ke Daegu memakan waktu dua jam jika menggunakan KTX. Kereta mereka telah sampai di stasiun yang ada di Daegu. Namjoon mencoba membangunkan Yoongi namun nihil, bergerak saja pun tidak.

Membangunkan Yoongi ternyata pekerjaan kedua terberat yang pernah ia hadapi, terberat pertama adalah menjadikan Yoongi menjadi miliknya tentu saja. Ia pun segera menggendong Yoongi ala pengantin.

Ringan sekali badannya, pikir Namjoon. Ia pun keluar dan segera disambut oleh anak buahnya *yang sebelumnya telah ia perintahkan* juga tatapan beragam ekspresi dari manusia yang ada disana namun Namjoon tidak mengambil pusing akan hal itu.

Setelah Namjoon meletakkan Yoongi ke kursi yang berada di sebelah kursi kemudi, ia pun beranjak masuk dan mengemudikan mobil tersebut meninggalkan stasiun itu. Namun, Namjoon melambatkan kecepatan mobil tersebut karena ia tidak tahu dimana rumah orang tua Yoongi

"Yoongi, bangun dulu, aku tak tahu kau tinggal di distrik mana." Tepuk Namjoon pada pipi Yoongi, sementara Yoongi hanya menggerutu dan tetap melanjutkan tidurnya. Namjoon lagi-lagi takjub dibuatnya, setelah takjub melihat hobi tidur Yoongi dan merasakan tenaga badak Yoongi.

Sebenarnya Namjoon tidak tega membangunkannya namun ia harus membangunkan Yoongi atau mereka akan tersesat.

"Princess, bangunlah, kau mau bangun atau kupastikan kau tak akan bisa berjalan untuk beberapa hari." Bisik Namjoon yang ia yakin akan membangunkan Yoongi. Dan benar saja, secara tiba-tiba Yoongi membelakkan matanya dan mendeath glare Namjoon.

"Apa lagi?" Tanya Yoongi kesal akibat tidurnya diganggu juga karena bisikan bejat Namjoon.

"Aku tidak tahu kau tinggal di distrik mana, jadi daripada kita harus membuang buang waktu dengan mengelilingi Daegu lebih baik aku mengganggu tidurmu sebentar, maaf."

"Hhh, ahjussi mesum kita ke distrik Namsandong blok KF, rumah orang tua ku berwarna coklat mengkilat." Ujar Yoongi memberikan informasi Namjoon dan Namjoon melajukan mobilnya ke alamat yang telah diberitahu oleh Yoongi.

"Apa kau tahu dimana distrik rumahku?" Tanya Yoongi ragu.

"Kau meragukanku?" Tanya balik Namjoon yang sedang menyupir mobil mereka.

"Mungkin." Jawab Yoongi dan Namjoon mencubit pipi Yoongi gemas sementara Yoongi hanya meringis kesakitan.

"Sebelum ke Seoul aku pernah menetap selama beberapa bulan di Daegu." Ujar Namjoon. Yoongi pun hanya mengangguk mendengarkan pernyataan Namjoon. Sepanjang perjalanan diisi dengan pertanyaan Namjoon mengenai daerah yang mereka lewati, sesekali Namjoon menggoda Yoongi dengan kemesumannya, seperti rencana tidur bersama, mandi bersama dan lain-lain yang mampu membuat Yoongi naik pitam dan juga malu.

BMW Z4 berwarna hitam memasuki halaman rumah Yoongi. Namjoon terpukau melihat rumah orang tua Yoongi. Rumahnya tidak sebesar rumah orang tua Namjoon namun tidak kalah elegan dengan rumah orang tua Namjoon.

Rumah tersebut terbuat dari kayu jati yang dilapisi dengan cat berwarna coklat mengkilat sehingga tidak merubah warna dari kayu itu. Rumah tersebut dirancang dengan menggunakan gaya rumah tradisional Korea namun rumah tersebut memiliki dua lantai. Perpaduan klasik dan modern. Rumah tersebut dikelilingi oleh taman bunga dari berbagai jenis.

"Kau menyukai bunga?" Tanya Namjoon.

"Apa?" Alih-alih menjawab, Namjoon mengalihkan pandangannya pada sekeliling halaman rumah tersebut, seolah tahu apa yang Namjoon maksud, Yoongi tersenyum kecil.

"Itu bukan aku yang menanamnya, ibuku, dia sangat suka dengan hal-hal berbau dengan bercocok tanam, ayo masuk." Ajak Yoongi tanpa sadar menarik tangan Namjoon.

"UMMAAA…" Teriak Yoongi dari depan pintu. Anak ini ternyata juga suka berteriak eoh? Batin Namjoon. Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat, sosok tersebut menampakkan raut ekspresi wajah yang terkejut.

"Yoongi? Itu kau nak?" Tanya sosok yang memanggil Yoongi.

"Huuhmm~" Kemudian Yoongi dan sosok yang dipanggil umma oleh Yoongi tersebut saling berpelukan, Namjoon lagi-lagi tersenyum, sepertinya hal-hal yang berhubungan dengan Yoongi mampu membuatnya tersenyum dan juga takjub. Setelah selesai dengan acara pelukan tersebut, nyonya Min menangkup pipi anaknya.

"Aigoo, umma rindu sekali padamu nak, sudah berapa lama kau tak kesini hmm?"

"Hmm mungkin sekitar lima bulan umma, ah aku rindu sekali pada umma." Lagi-lagi Yoongi memeluk manja sang umma.

"Kau ini sudah besar pun masih manja juga, kkk."

"Ugh umma." Yoongi malu, pasalnya ummanya mengatakan hal seperti itu di depan Namjoon.

"Yoongi, kau membawa seseorang tapi tidak mempersilahkan ia masuk terlebih dahulu ataupun memperkenalkannya pada umma, kau ini tidak baik seperti itu nak." Nasehat sang umma.

"Ah~ aku lupa umma, habisnya aku rindu sekali pada umma, ini Namjoon umma." Yoongi akhirnya memperkenalkan Namjoon, Namjoon segera membungkukkan badannya pertanda ia memberikan salam hormat pada ibu Yoongi.

"Namjoon? Kim Namjoon bukan?" Tebak nyonya Min.

"Ye ahjumma." Balas Namjoon ramah.

"Umma darimana umma tahu?" Tanya Yoongi heran.

"E-eh? Ah sebaiknya kau persilahkan temanmu itu untuk masuk Yoongi, tidak sopan rasanya membiarkan tamu untuk berdiri didepan pintu." Ujar ibunya, Yoongi yang mendengar jawaban ibunya agak sedikit penasaran mengapa ibunya bukan menjawab pertanyaannya, ia ingin protes namun ia urungkan, ia belum mempersilahkan Namjoon untuk masuk.

"Ayo masuk, duduklah dulu." Tawar Yoongi.

"Umma ke dapur dulu yah sayang, umma akan mempersiapkan makan siang untuk kita."

"Umma, Appa dimana?" Tanya Yoongi yang kebingungan.

"Ia sedang di kebunnya, biasalah mengurusi kebun jatinya itu." Nyonya Min pun pergi ke dapur untuk melanjutkan kembali acara masaknya. Di ruangan itu hanya ada Namjoon dan Yoongi yang duduk di sofa panjang. Namjoon sibuk melihati Yoongi.

"Apa? Tak usah lihat-lihat seperti itu, kau mau matamu ku tusuk?" Ujar Yoongi sadis.

"Hmm~ bagaimana kalau aku yang menusukmu?" Balas Namjoon yang malah membuat Yoongi meringis, hey seharusnya yang meringis itu Namjoon, kenapa jadi dirinya.

"AAAAAA!" Ujar Yoongi kemudian bangkit dan berpindah tempat, menjauhi Namjoon, pria cabul yang selalu memanfaatkan keadaan, menurut Yoongi. Mendengar teriakan Yoongi, sang umma tergesa-gesa menghampiri mereka.

"Yoongi, ada apa?" Cemas ibunya.

"Hooh? A-ani umma, tidak ada apa-apa." Balas Yoongi.

"Kau ini, kenapa senang sekali membuat umma khawatir?" ibunya menggeleng melihat kebiasaan Yoongi. Sementara Yoongi hanya terkekeh canggung dan Namjoon hanya menyeringai.

"Yoongi!" Seru ibunya.

"A-ada apa umma?" Gugup Yoongi.

"Kenapa kau tidak memberi minum pada kekasihmu hah? Namjoonie, maafkan Yoongi yah." Ujar ibunya.

"Nde ahjumma." Balas Namjoon dengan kesopanan diatas rata-rata.

"Apa? Umma bilang dia siapa?" Ujar Yoongi sambil menunjuk tak sopan kearah Namjoon.

"Pacarmu, nak." Balas ibunya dengan nada yang tak berdosa.

"UMMAAAAA, DIA BUKAN KEKASIHKU, UMMA" Jerit Yoongi malu. Namjoon hanya bisa mengusap telinganya, berharap ia tidak tuli nanti.

"Kalaupun bukan kekasih, kau tidak perlu berteriak Yoongi, hah sudahlah, kau tawari Namjoonie minum, kau tidak lihat dia begitu lelah?" Ibunya melangkahkan kakinya untuk kembali ke dapur, namun langkahnya terhenti kemudian menatap Yoongi, Yoongi yang ditatap dengan pandangan seperti itu menatap ibunya horror.

"Atau mungkin Namjoonie adalah calon kekasihmu?" Setelah mengatakan itu, ibunya melangkahkan kakinya cepat kembali ke dapur.

"HUAAAAAA UMMAAAAA" Jerit Yoongi lagi, Namjoon kembali mengusap telinganya.

"Apa berteriak adalah hobimu juga?" Tanya Namjoon setelah selesai megusap telinganya.

"Apa? Ini semua karena kau!" Tunjuk Yoongi kearah Namjoon, Namjoon yang disodori dengan telunjuk Yoongi kemudian memasukkan jari Yoongi ke dalam mulutnya. Yoongi kemudian menarik kembali telunjuknya dan mengibas-ngibaskan ke udara.

"HIII, dasar cabul."

"Kau yang memberikannya kepadaku Yoongi, lalu aku bisa apa? Ingat, Tuhan tidak suka pada manusia yang suka membuang-buang nikmat-Nya." Alibi Namjoon keluar, Yoongi hanya mendecih kasar.

"Lagian kau ini, aku hanya menggodamu, bukan menidurimu." Ujar Namjoon dengan wajah malaikatnya.

"Kau mau minum apa?" Yoongi mengalihkan topik pembicaraan mereka, karena ia merasa tidak kuat lagi menghadapi kemesuman Namjoon.

"Apapun yang kau buat, aku akan meminumnya."

"Baiklah, kau tunggu disitu aku akan mengambilkan racun untukmu."

"Boleh, tapi aku meminumnya dari mulutmu, bagaimana?"

"Mati saja kau." Sehabis mengatakan itu, Yoongi beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman. Setelah di dapur, Yoongi menuju kulkas untuk mengambil beberapa buah hasil dari cocok tanam yang ibunya lakukan.

"Umma, apa umma butuh bantuanku?" Tawar Yoongi kala melihat ibunya yang sibuk memasak.

"Tidak Yoongi, kau buatkan saja minum pada kekasihmu itu." Yoongi hanya menghela nafasnya.

"Umma~ sudah berapa kali ku katakan bahwa dia bukan kekasihku." Rengek Yoongi.

"Tapi umma rasa kau merasa nyaman bersamanya, apa kali ini umma salah, kau tidak menyukainya?" Tanya ummanya, sedangkan Yoongi melanjutkan acara mengupas buah dan hanya mengangkat bahunya. Aku merasa nyaman bersamanya, namun, dia tak akan pernah menjadi milikku, batin Yoongi sendu.

Setelah selesai mengupas buah tersebut, Yoongi mencucinya dan memotong buah tersebut. Sebagian ia blender sebagian ia gunakan sebagai garnish. Setelah selesai dengan membuat minuman tersebut, Yoongi mengambil makanan dan juga salad buah dari kulkas. Kemudian ia meletakkan semuanya pada nampan. Gerakannya terhenti kala ibunya menginterupsinya.

"Kau yakin tak suka padanya?" Tanya ibunya sekali lagi. Yoongi hanya tersenyum dan membawa tampan tersebut dengan tatapan yang sendu meninggalkan ibunya dengan senyuman kecil, sebuah senyuman penuh makna.

-oOoOoOoOoOoO-

"Appa!" Seru Yoongi saat melihat tuan Min telah berada di ruangan tersebut, mengobrol akrab dengan Namjoon. Tuan Min hanya tersenyum melihat anak kesayangannya. Setelah meletakkan makanan dan minuman, Yoongi kemudian menyalam appanya.

"Appa, kenapa tak bilang kalau appa telah pulang?" Rajuk Yoongi.

"Haahaha, seharusnya appa yang berbicara seperti itu nak, kau kenapa bisa pulang, seharusnya kau pulang pada natal mendatang bukan?" Tanya appanya.

"Oh, atasanku memberikan aku ijin cuti appa."

"Atasanmu? Bukankah Namjoon adalah atasanmu?"

"Bagaimana appa bisa tahu kalau dia itu atasanku?" Sehari Namjoon sudah disodori telunjuk Yoongi sebanyak tiga kali, kalau saja sosok di depannya ini bukan sosok yang ia hormati, maka jari Yoongi akan ia kulum saat itu juga.

"Ah~ i-itu tadi Namjoon telah memperkenalkan dirinya." Jawab tuan Min.

"Terus, mengapa appa begitu akrab dengannya? Tak biasanya?" Tanya Yoongi dengan mata yang menatap curiga pada appanya.

"Ah kau ini.. memangnya tidak boleh? Lagian dia itu kan atasanmu Yoongi, sudahlah appa ingin membersihkan diri dulu, rasanya lengket sekali." Tuan Min berlalu meninggalkan Yoongi dan Namjoon.

"Hey pria cabul, katakan apa yang kau berikan kepada ayah dan ibuku sehingga mereka begitu welcome kepadamu." Tuduh Yoongi.

"Apa yang aku berikan?" Tanya Namjoon balik.

"Ayo, katakan!" Desak Yoongi.

"Hhh, Yoongi, berhentilah berburuk sangka kepadaku, kau senang sekali berburuk sangka kepadaku." Ujar Namjoon.

"Aku tak berburuk sangka kepadamu, hanya saja kau mencurigakan Namjoon." Elak Yoongi.

"Terserahmu saja lah, aku lelah, aku ingin beristirahat, tunjukkan dimana kamarmu."

"Jangan tidur dulu, kau harus makan siang."

"Kkkk~ kau mengkhawatirkanku? Baiklah baiklah, aku tak akan membuat istriku khawatir lagi." Goda Namjoon.

"Kau ini, kapan berhentinya sih untuk menggangguku." Sebal Yoongi.

"Saat kau telah menjadi istriku, maka kau tak akan merasa itu adalah sebuah gangguan." Balas Namjoon. Yoongi menghela nafas jengah, sudah biasa baginya mendapat jawaban seperti ini, ia ingin senang, senang sekali tapi di lain sisi, ada perasaan yang mengharuskan dia sedih.

"Hmm kau yang membuat jus ini?" Tanya Namjoon.

"Ya, kenapa?" Balas Yoongi sedikit khawatir, khawatir kalau jus yang ia buat tidak enak bagi Namjoon.

"Apa saja yang kau masukkan?"

"Tidak ada, hanya mangga yang aku jus, potongan mangga, nata de coco dan sedikit sirup, apa itu tidak enak bagimu?"

"Hah? Kau bercanda? Apapun yang kau buat aku sangat menyukainya Yoongi, kau memang istri idamanku, kkkk." Yoongi hanya memerah, tak mampu untuk menjawab godaan Namjoon.

Namjoon hanya terkekeh gemas melihat Yoongi yang memerah, ia mendekatkan kepalanya, ingin mencium bibir tipis milik Yoongi, namun harus ia urungkan dikala nyonya Min datang disaat tidak tepat.

"Ups! Kkk~ maaf telah menganggu, makan siang telah siap untuk dinikmati, mari." Ajak nyonya Min. Demi apapun, dipergoki oleh ibumu saat akan melakukan hal seperti itu bukanlah hal yang bagus.

-oOoOoOoOoOoO-

Saat ini telah menunjukkan pukul 17:00, Yoongi telah bersiap dengan pakaian khas dirinya, santai dan simple namun tetap modis. Namjoon? Jangan Tanya, ia sedang tidur akibat kelelahan. Yoongi menatap kembali cermin yang berada di depannya. Pergerakannya terhenti kala matanya melihat Namjoon yang telah bangun melalui cermin.

"Kau sudah bangun? Mandilah ini sudah sore."

"Huahmm, kau mau kemana?"

"Umma menyuruhku untuk mengajakmu ke festival Yangnyeongsi." Ujar Yoongi sembari memberikan handuk kepada atasannya.

"Festival apa itu?" Tanya Namjoon sambil mengambil handuk pemberian Yoongi.

"Itu adalah sebuah festival dimana kau bisa melihat semua klinik yang ada di jalan Yakjeon sampai Geolmok menjajakan obat-obatan mereka dan obat-obatan itu adalah obat tradisional asli buatan mereka, festival ini hanya ada di Daegu dan hanya ada di bulan Oktober loh, cha, kau cepat mandi, kau bau sekali." Yoongi menutup hidungnya.

"Yoongi, tapi kurasa aku tak bisa bergerak, tolong tarik aku." Ujar Namjoon sambil menjulurkan kedua tangannya. Yoongi yang tahu bahwa ini hanya akal-akalan Namjoon hanya mendecih dan kemudian menarik tangan Namjoon.

"HUAAAAA!" Bukannya malah menarik Namjoon, Yoongi malah ditarik oleh Namjoon. Posisi Yoongi berada di atas Namjoon.

Suara detak jantung mereka bersautan satu sama lain dengan cepat. Yoongi terhipnotis, lagi-lagi ia harus merelakan bibirnya menjadi tahanan bibir Namjoon. Lidah mereka bergulat, saling berbagi saliva, saling mengeksplotasi mulut satu sama lain, walau Yoongi harus kecolongan dan juga sesekali ia mendesah.

Ciuman panas di sore hari itu terhenti kala usaha Yoongi menepuk dada Namjoon berhasil. Mereka manusia dan butuh oksigen. Yoongi terlihat sangat seksi di mata Namjoon. Bibir yang memerah dan muka yang berkeringat dan jangan lupakan ekspresinya yang tersengal-sengal.

Setelah merasa Yoongi telah mendapatkan pasokan oksigen yang cukup, Namjoon mengecup kembali bibir tipis itu, hanya mengecup dan diakhiri dengan menjilat bibir Yoongi.

"Kau sangat seksi Yoongi, kalau kau tahu itu." Namjoon mengelus pipi Yoongi kemudian beranjak meninggalkan Yoongi yang memerah akibat perlakuannya. Sialan dia, aku jadi berkeringat lagi, umpat Yoongi.

-oOoOoOoOoOoO-

Kini mereka telah sampai di jalan Yakjeon, Namjoon terlihat sedikit takjub dengan apa yang dia lihat sekarang. Sepanjang sisi jalan itu dipenuhi oleh penjual obat dari berbagai klinik. Yoongi tersenyum kecil melihat reaksi Namjoon.

"Apa ada sesuatu yang ingin kau beli?" Yoongi membuka suara, menyadarkan Namjoon dari rasa takjubnya.

"Untuk saat ini belum, ayo jalan-jalan saja dahulu. Kau ingin membeli sesuatu?" Namjoon bertanya kembali kepada Yoongi. Yoongi sedikit menghembuskan napas hangatnya kepada kedua tangannya, tanda bahwa dirinya kedinginan.

Namjoon melepaskan jaket yang sedang dipakainya lalu meletakkannya diatas kepala Yoongi. Yoongi tampak terkejut lalu menatap Namjoon.

"Pakailah, kau kedinginan kan?" Yoongi mengambil jaket itu dari kepalanya lalu menatap Namjoon lagi.

"Sudah pakai saja, apa perlu kupakaikan hm?" Namjoon kembali menggoda Yoongi yang membuat Yoongi merona. Yoongi segera memakai jaket milik Namjoon. Hangat, dan juga aroma khas Namjoon, batin Yoongi.

Namjoon menggenggam tangan Yoongi, membagi kehangatan tubuhnya kepada Yoongi begitu juga sebaliknya. Yoongi merasa nyaman berada didekat Namjoon meskipun Namjoon suka jahil menggodanya, tetapi itulah yang membuat dirinya lebih terjatuh kedalam pesona Namjoon.

Namjoon melangkah menuju sebuah stand obat dari sekian banyaknya stand yang ada disana, entah mengapa Namjoon memilih stand yang satu itu.

"Permisi, apakah disini ada menjual minuman penghangat tubuh?" Namjoon bertanya kepada penjaga stand itu. Tangannya masih menggenggam tangan milik Yoongi.

"Ah tunggu sebentar, apa kalian pasangan baru?" Penjaga stand itu bertanya, tentu saja Yoongi akan menjawab 'bukan' tetapi Namjoon lebih cepat dari Yoongi.

"Tentu saja." Ujar Namjoon. Yoongi menghela napas, pasrah saja dengan apa yang Namjoon bilang. Penjaga stand itu kembali dengan sebotol minuman gingseng dan menatap Namjoon dengan penuh arti. Namjoon tidak begitu sadar dengan tatapan dari penjaga stand itu.

Setelah membayar, Namjoon memasukkan minuman itu kedalam saku jaket miliknya yang sedang dipakai oleh Yoongi lalu melanjutkan perjalan mereka.

-oOoOoOoOoOoO-

Tanpa terasa jam telah menunjukkan pukul 10 malam dan mereka belum selesai dengan acara jalan-jalan mereka. Pada akhirnya Yoongi dan Namjoon memutuskan untuk makan dikedai-kedai kecil yang ada disana.

"Sepertinya sudah terlalu malam untuk pulang kerumah." Ucap Namjoon sambil melihat jam tangannya. Yoongi menggigit bibirnya gelisah, betul apa yang dikatakan Namjoon, Yoongi tidak pernah pulang semalam ini jika dirumah.

"Kita menginap di hotel saja." Ucap Namjoon final, membuat Yoongi membelakkan matanya menatap Namjoon.

"Tenang saja, kita hanya akan tidur." Ujar Namjoon menenangkan Yoongi. Yoongi tampak ragu tetapi akhirnya juga menyetujuinya. Yoongi mengambil ponselnya, menelepon ummanya mengatakan mereka akan menginap di hotel.

"Ayo habiskan makananmu, kita istirahat sehabis ini." Ujar Namjoon yang dijawab anggukan oleh Yoongi. Mereka makan dalam keadaan diam, menikmati makanan masing-masing.

-oOoOoOoOoOoO- -

Kini mereka berada didalam mobil milik Namjoon yang akan menuju sebuah hotel yang berada disekitar wilayah itu. Yoongi teringat dengan minuman gingseng yang Namjoon beli tadi, Yoongi mengeluarkan minuman botol itu dari saku jaket Namjoon yang sedang dipakainya.

"Apa kau ingin minum ini?" Yoongi bertanya kepada Namjoon yang masih terfokus kepada jalanan didepannya.

"Aku membelinya untukmu, kau kedinginan bukan?" Yoongi menatap botol itu ragu, apa Namjoon memang seperhatian ini kepada semua orang?

"Minumlah." Ujar Namjoon. Jujur saja Yoongi memang kedinginan, angin musim dingin sudah mulai berhembus. Yoongi membuka botol itu, meminum setengah dari isi botol itu lalu memberikannya kepada Namjoon.

"Kau juga pasti kedinginan, minumlah." Ucap Yoongi yang membuat Namjoon meliriknya sebentar, lalu mengambil alih botol itu dan meminum semua isi dari botol itu.

Badan mereka berdua memang terasa menghangat setelah meminum ramuan gingseng itu. Tak lama kemudia mereka menemukan hotel dan melakukan check in ke Deluxe Room.

Mereka melangkah masuk kedalam kamar mereka. Yoongi sedikit kesal kenapa ranjangnya cuma satu dan juga berukuran king size yang artinya dirinya harus tidur bersama Namjoon.

Yoongi membuka jaket milik Namjoon yang sedang dikenakannya. Minuman gingseng tadi cukup ampuh membuatnya merasa sedikit gerah. Namjoon berjalan menuju kamar mandi yang ada dikamar itu, memutuskan menyegarkan dirinya sejenak.

Yoongi merebahkan badannya yang lemas itu ke ranjang, menatap langit-langit kamar hotel. Entah kenapa dirinya sedikit berdebar-debar dan juga.. bergairah. Yoongi mengambil bantalan yang ada lalu menutupi wajahnya. Baru kali ini Yoongi rasanya tidak ingin terlelap.

10 menit kemudian, Namjoon keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe dan celana pendek yang tersedia didalam lemari kamar mandi itu. Yoongi masih belum menyadari keberadaan Namjoon karena posisinya sedang membelakangi Namjoon.

Namjoon melingkarkan kedua lengannya ke pinggang milik Yoongi dari belakang, membuat Yoongi sedikit tersentak. Namjoon mengenduskan hidungnya pada tengkuk Yoongi, membuatnya kegelian. Dengan segera Yoongi membalikkan badannya menghadap Namjoon.

Posisi mereka sangatlah dekat, tetapi Yoongi tidak protes. Matanya menatap dalam kepada manik mata milik Namjoon. Keduanya terbawa suasana, Namjoon mendekatkan wajahnya sedangkan Yoongi memejamkan matanya.

Bibir Namjoon mendarat dengan lembut di bibir tipis milik Yoongi. Awalnya hanya kecupan-kecupan ringan, tetapi lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi panas dengan dimulainya lumatan-lumatan dari Namjoon.

Tanpa sadar kedua tangan Yoongi juga sudah melingkar dileher milik Namjoon, ikut meramaikan ciuman panas mereka. Rengkuhan lengan Namjoon pada pinggang Yoongi juga semakin mengerat, membuat jarak keduanya semakin dekat.

Namjoon menggigit pelan bibir milik Yoongi yang otomatis membuat Yoongi membuka akses untuk lidah Namjoon menjelajahi isi mulutnya. Benda tak bertulang milik Namjoon itu membelai seluruh isi goa hangat milik Yoongi, membuat Yoongi mendesah pelan.

Lidah Namjoon mulai mengajak lidah milik Yoongi untuk beradu yang tentu saja didominasi oleh Namjoon. Setelah beberapa menit, mereka melepaskan tautan ciuman panas itu, menciptakan benang saliva antara mereka berdua.

Napas Yoongi terengah-engah dengan mulut sedikit terbuka. Namjoon merubah posisinya menjadi menindih Yoongi, menatap Yoongi dari atas lalu mengecup pelan bibir yang agak terbuka itu. Yoongi tahu apa yang akan terjadi setelah ini, dirinya ingin menjadi milik Namjoon, tetapi keraguan masih terpancar dari manik matanya.

Namjoon mengecup dahi Yoongi lalu kembali menatap Yoongi, mengisyaratkan semuanya akan baik-baik saja, dia yakin itu. Kepala Namjoon turun sampai sejajar dengan leher milik Yoongi, mengecup pelan area leher Yoongi, membuat Yoongi tidak kuasa menahan desahan halus dari bibirnya.

Tangan Namjoon beralih membuka baju milik Yoongi, membuat Yoongi merona malu dan membuang muka kearah lain asalkan tidak menatap Namjoon. Dalam waktu singkat, Yoongi sudah half naked. Namjoon menarik pelan dagu Yoongi, menyuruh Yoongi untuk melihatnya.

"Tatap aku.." Ujar Namjoon. Yoongi menurutinya, menatap Namjoon dalam dan membuat perasaan Yoongi menghangat. Yoongi menarik tengkuk Namjoon perlahan, memulai ciuman ringan terdahap bibir tebal milik Namjoon.

Tangan Namjoon mulai menjelajahi dada milik Yoongi, menekan sesekali memainkan kedua tonjolan yang berada didada Yoongi. Yoongi membiarkan desahannya meluncur bebas.

"Namjoon.. hh.." Yoongi memanggil Namjoon dengan napas yang tersenggal ketika Namjoon mulai mengecup, mengulum, dan menghisap kedua nipplenya bergantian. Namjoon menjadi lebih bersemangat dan bergairah ketika mendengar Yoongi memanggil namanya.

Namjoon beralih mendominasi tubuh bagian bawah milik Yoongi. Tangannya dengan bebas menjelajahi lutut Yoongi sampai akhirnya mendarat kepada paha dalam Yoongi. Yoongi tersentak, belum terbiasa dengan sentuhan Namjoon.

Namjoon tersenyum kecil, lalu mengecup bibir Yoongi seakan menenangkannya. Tangannya mengelus pelan paha Yoongi, mengagumi betapa indahnya makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini.

Sebelah tangannya menanggalkan celana milik Yoongi, dibantu dengan Yoongi yang mengangkat sedikit pinggulnya sampai celana itu lolos dari kedua kakinya.

Yoongi yang merasa malu langsung saja mengambil bantalan lalu menutup wajahnya. Namjoon langsung saja mengambil bantalan itu lalu melemparkannya.

"Biarkan aku melihatmu, Min Yoongi.." Bisik Namjoon pelan pada telinga Yoongi, membuat Yoongi merinding. Yoongi mengangguk tanda setuju dengan Namjoon.

Namjoon tersenyum kecil lalu menatap Yoongi dari atas sampai bawah. Tangannya memulai pekerjaannya, menggenggam lalu memijat pelan milik Yoongi, memberikan Yoongi sengatan kenikmatan yang baru pertama kali Yoongi rasakan.

"Ahh.. hh nnh.." Yoongi mati-matian menahan desahannya, dia malu. Segera saja Namjoon menyodorkan kedua jarinya, menyuruh Yoongi untuk mengulumnya yang dengan senang hati disambut oleh Yoongi. Sebelah tangan Namjoon masih saja bekerja pada milik Yoongi.

"Jangan malu Yoongi, say my name." Perintah Namjoon dengan suara husky yang membuat Yoongi semakin panas. Pijatan Namjoom pada milik Yoongi terhenti yang langsung saja mendapatkan tatapan protesdari Yoongi.

Namjoon hanya membalasnya dengan senyuman. Namjoon melihat Yoongi yang menampilkan muka cemberut dan napas yang tersengal-sengal, melihatnya kembali tanpa menyentuh Yoongi, menikmati kembali maha karya milik Tuhan yang satu ini.

Yoongi yang sadar ditatap seperti itu oleh Namjoon kembali merona.

"Matamu tuan Kim." Sela Yoongi.

"Hanya menikmati malaikat yang dikirimkan Tuhan untukku." Ujar Namjoon. Cabul, masih saja dia menggodaku, batin Yoongi.

Namjoon kemudian kembali menidih Yoongi saat Yoongi akan bangkit dari rebahannya. Namjoon memagut rakus bibir Yoongi yang telah membengkak akibat ulahnya. Namun gerakannya terhenti kala Yoongi menolaknya.

Ia pun menatap Yoongi yang malah menatapnya balik dengan wajah cemberut. "Hey cantik, kau kenapa?" Tanya Namjoon bingung sambil memegang rahang Yoongi. Jangan bilang Yoongi kehilanggan moodnya untuk ini.

"Kau menyebalkan Namjoon, aku membencimu." Ujar Yoongi dengan bibirnya yang ia majukan.

"Kenapa sayang?" Bujuk Namjoon lagi.

"Kau masih memakai pakaian yang lengkap Namjoon, kau curang!" Kesal Yoongi mengalihkan tatapannya ke arah lain. Namjoon lagi-lagi tersenyum. Ia bangun dari acara menimpa Yoongi kemudian mundur beberapa langkah dan Yoongi melihatnya dengan aneh.

"Kau marah karena aku masih berpakaian lengkap baby? Come on and get what you want." Namjoon merentangkan tangannya, menyuruh Yoongi untuk menanggalkan semua kain yang melekat pada tubuhnya.

Yoongi menghampiri Namjoon lalu membuka bathrobe yang digunakan Namjoon. Yoongi menatap bagian atas Namjoon yang sudah terekspose, mengagumi tubuh yang terbentuk dengan begitu indahnya.

Matanya beralih kebawah, melihat gundukan milik Namjoon. Yoongi menjadi merona, malu dengan dirinya sendiri. Kenapa aku menjadi cabul begini, batinnya. Tangan Namjoon menggenggam tangan Yoongi, lalu mengarahkannya kepada miliknya yang masih terbungkus oleh celana.

"Kau merasakan itu? Dia begitu panas, keras, sangat menginginkanmu." Ujar Namjoon penuh damba kepada Yoongi yang berhasil membuat pipi Yoongi memerah sampai pada telinganya.

"Bukalah." Perintah Namjoon yang lagi-lagi dipatuhi oleh Yoongi. Dengan satu gerakan, celana pendek itu telah lolos dari kedua kaki Namjoon. Mata Yoongi menatap lekat pada milik Namjoon, takjub sekaligus takut.

Milik Namjoon tidak bisa dikatakan kecil, Yoongi sedikit ragu apa barang yang besar begitu bisa masuk kedalamnya. Ia pun mensejajarkan tingginya dengan milik Namjoon, ia mendongakkan wajahnya dengan mata sendu, memohon dalam diam agar Namjoon mengizinkannya untuk menyapa "tamunya".

Namjoon terkekeh melihat Yoongi yang meminta izin, padahal biasanya Yoongi tidak pernah meminta izin jika ingin melakukan sesuatu. Namjoon menyambar bibir Yoongi cepat kemudian menatap Yoongi dan mengangguk.

Yoongi menatapnya berbinar, menggenggam milik Namjoon. Sang bintang porno milik Namjoon seorang sedang memulai debutnya. Memijat amatir milik Namjoon dengan perlahan.

Namjoon menikmati setiap gerakan yang tangan Yoongi lakukan. Amatir kelas A+ . Yoongi mengerjakan mulut kecilnya. Mengulum lembut milik Namjoon, walau pada awalnya ia tersedak namun ia menikmati apa yang ia lakukan kini.

Namjoon menghentikan paksa apa yang Yoongi lakukan, menyebabkan Yoongi menatapnya dengan kesal dan juga mata yang berkaca-kaca. Namjoon memeluk tubuh telanjang milik Yoongi, megelus lembut punggung sang uke untuk menenangkannya.

"Jangan menangis Yoongi, aku ingin mengeluarkan spermaku di dalam tubuhmu sayang, feel me inside you." Namjoon melahap kembali bibir Yoongi, tangannya turun ke bagian belakang dari arah selatan milik Yoongi. Mengelusnya dengan lembut, jari telunjuknya ia gunakan untuk membelai belahan dari dua bongkahan kenyal milik Yoongi.

"Ahhnnnhhn.." Yoongi mendesah dalam ciuman panas mereka. Saat mereka sedang berciuman, Namjoon menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang empuk dari hotel tersebut. Namjoon melepaskan pagutannya.

"Berdirilah diatas ranjang ini Yoongi." Ujar Namjoon menepuk tempat disebelah kirinya. Awalnya Yoongi menatapnya bingung, namun tetap ia melaksanakan perintah sang dominan.

Setelahnya Namjoon menarik paksa kaki kiri Yoongi agar berada di sebelah kanan,menyebabkan Yoongi jatuh dengan kaki tertekuk. Kedua bongkah pantatnya mendarat di leher Namjoon. Melihat bagaimana posisi dia saat ini, membuat Yoongi memerah.

PLAK

"Sshhhh ahhh" Yoongi mendesis nikmat atas pukulan pada kedua bongkahannya, rasanya ia ada bakat menjadi bintang porno kelas BDSM bagi Namjoon, hanya untuk Namjoon ia akan menjadi binal seperti bintang porno dengan jam terbang yang tinggi.

"Angkat pantatmu Yoongi, berjongkoklah di atas wajahku." Perintah Namjoon mutlak. Dengan sisa tenaganya, ia berjongkok dan tentunya dengan bantuan Namjoon. Namjoon menjilat seksi pangkal paha Yoongi.

"Ahhhhn ahhh" Yoongi mendesah pasrah atas lidah nakal Namjoon. Puas dengan menjilat pahanya, lidah Namjoon menjamah belahan pantat Yoongi, mondar-mandir di belahan tersebut bak siswa yang cemas dengan hasil ujiannya.

Namjoon membuka belahan tersebut dan dengan cepat menyambar lubang berwarna pink merona itu sesekali menghisapnya.

"Nammhhjoohnn ahhh" Yoongi merasa lututnya akan lepas, tangannya meremas rambut mohawk milik Namjoon. Sebenarnya ia akan jatuh jika tangan Namjoon tidak memegang kedua bongkahannya.

Setelah ia merasa cukup, ia membawa Yoongi ke pinggiran ranjang. Setengah badan Yoongi berada di ranjang, setengah lagi menjuntai sexy. Namjoon mengangkat paha Yoongi, mengemut kaki Yoongi, yang membuat Yoongi semakin panas.

Jari panjang Namjoon ia arahkan ke menggigit bibirnya gelisah. Namjoon mulai menekan satu jarinya memasuki Yoongi yang langsung saja membuat Yoongi menyerit.

"Sakit?" Namjoon bertanya sambil menatap ekspresi yang Yoongi keluarkan. Yoongi menggeleng pelan.

"Hanya.. sedikit aneh.." Yoongi berujar pelan. Namjoon mulai memasukkan jari kedua menyebabkan Yoongi mendesah pelan. Sensasi aneh itu semakin menyerang Yoongi.

Yoongi memberikan tatapan bahwa ia baik-baik saja. Namjoon mengangguk mengerti lalu memasukkan jari ketiga. Kali ini Yoongi merasa perih, tangannya reflek meremas lengan milik Namjoon, membuat Namjoon menghentikan pergerakannya.

Yoongi menarik napas pelan, menyiapkan dirinya. Yoongi menatap Namjoon lalu mengangguk pelan, tanda jari Namjoon sudah boleh bergerak.

Namjoon mulai menggerakan jarinya, merenggangkan opening milik Yoongi. Desahan-desahan kecil Yoongi mulai terdengar, tanda dirinya sudah mulai terbiasa dan sudah siap. Yoongi menatap Namjoon, dirinya bangkit sebentar lalu menarik pelan tengkuk Namjoon, mengecup pelan bibir tebal itu.

"Aku.. sudah siap.." Bisik Yoongi kepada Namjoon yang disambut senyuman oleh Namjoon. Namjoon mengeluarkan ketiga jarinya, membuat Yoongi sedikit tersentak. Namjoon beranjak sebentar, matanya menyelusuri isi kamar tersebut.

Ya, Namjoon mencari lube. Yoongi terlihat kebingungan dengan apa yang Namjoon cari.

"Kau mencari apa?" Yoongi akhirnya bertanya kepada Namjoon.

"Lube, agar licin dan tidak begitu menyakitkan." Ujar Namjoon. Yoongi terlihat berpikir sebentar, lalu menarik Namjoon mendekat.

"Aku akan melicinkan milikmu." Ujar Yoongi lalu mendekat pada milik Namjoon. Sebelum Namjoon membalas perkataannya, bibir Yoongi telah sempurna mendarat pada milik Namjoon yang menegang maksimal.

Yoongi berusaha mengulum dan menghisap milik Namjoon, ia ingin Namjoon merasakan kenikmatan yang sebelumnya telah diberikan Namjoon untuknya dan juga untuk melicinkan milik Namjoon.

"Yoongi.." Namjoon memanggil Yoongi dengan suara husky miliknya, membuat Yoongi semakin semangat untuk mengoral milik Namjoon. Precum telah mengalir dari milik Namjoon, terasa aneh untuk Yoongi.

Namjoon segera saja menghentikan Yoongi sehingga tercipta benang saliva antar bibir Yoongi dan milik Namjoon, membuat Yoongi terlihat semakin sexy. Namjoon kembali merebahkan Yoongi lalu mengecup seluruh bagian wajah Yoongi, menenangkannya. Yoongi mengangguk tanda persetujuan.

"Kau boleh menggigit atau mencakarku, lakukan apapun yang bisa melampiaskan rasa sakitmu." Ujar Namjoon.

Awalnya Yoongi menolak, tidak mungkin ia menyakiti Namjoon. Tetapi pada akhirnya karena bujukan Namjoon, Yoongi menyetujuinya. Namjoon kembali membuka paha milik Yoongi, menyiapkan miliknya didepan opening Yoongi.

Yoongi memejamkan matanya dengan erat. Dan disaat itulah rasa sakit yang hebat menderanya. Namjoon mendesakkan miliknya dalam satu hentakan.

Yoongi menggigit bibirnya kuat, sampai bibirnya sedikit berdarah akibat menahan tangisnya. Tangannya juga mencengkram erat bahu Namjoon sampai terlihat memerah. Namjoon segera meraup bibir milik Yoongi agar Yoongi berhenti menggigitnya.

Erang tangis Yoongi terdengar disela-sela ciumannya dengan Namjoon sedangkan dibawah sana Namjoon masih saja mendesak miliknya agar masuk sempurna. Tangisan Yoongi semakin jelas, air matanya mengalir dari mata sipitnya.

Namjoon masih saja berusaha menenangkannya. Setelah semuanya telah masuk, Namjoon menghentikan pergerakannya, menatap Yoongi yang masih saja terisak. Namjoon menghapus air mata yang menghiasi pipi Yoongi.

"Maafkan aku.." Ucap Namjoon pelan tetapi masih bisa didengar oleh Yoongi karena suasana kamar yang hening. Yoongi masih setia dengan isakannya. Demi apapun, ini sangat sakit, batin Yoongi.

Namjoon mengelus pelan surai Yoongi sampai Yoongi merasa tenang. Isakan Yoongi perlahan mulai mereda, digantikan dengan deru napas Yoongi. Yoongi berusaha mengatur kembali napasnya.

Beberapa saat kemudian, Yoongi memeluk erat leher milik Namjoon, membenamkan wajahnya kedalam ceruk leher milik Namjoon.

"Bergeraklah.." Ujar Yoongi pelan. Sebenarnya Namjoon agak ragu, tetapi Yoongi lah yang paling mengerti keadaan tubuhnya sendiri saat ini.

Namjoon bergerak pelan, erangan kesakitan Yoongi terdengar tetapi Yoongi mencegah untuk berhenti. Namjoon mulai bergerak lebih cepat saat Yoongi mulai memejamkan matanya dengan bibir yang sedikit terbuka, tanda Yoongi mulai menikmatinya.

Bibirnya menjelajahi leher milik Yoongi, berusaha untuk memberi Yoongi kenikmatan yang berlebih. Tangannya juga ikut bekerja pada milik Yoongi, memijat dan mengocoknya. Tusukan Namjoon semakin cepat saat Namjoon menemukan titik nikmat Yoongi.

Tangan Namjoon yang menganggur ia gunakan untuk memilin putting merah Yoongi. Tiga titik milik Yoongi diserang Namjoon, Yoongi mendesah menggila seirama dengan tusukan Namjoon pada lubangnya.

"Ahhnnn Namjoonnhh akuu akann keluarhhhhh ahhh" nafasnya tersengal sengal akibat genjotan Namjoon. Pada akhirnya Yoongi mencapai puncak pertamanya.

Yoongi tak henti memanggil nama Namjoon, begitu juga Namjoon, memanggil nama Yoongi penuh damba. Erangan Yoongi dan Namjoon terdengar hampir bersamaan, pada akhirnya mereka mencapai puncak kenikmatan bersama.

Benih Namjoon tumpah didalam Yoongi, membuat Yoongi merasa penuh dan juga hangat. Namjoon ambruk disebelah Yoongi dengan napas tersenggal dan mata terpejam, Yoongi juga dalam keadaan yang sama dengan Namjoon.

Namjoon membuka mata, menatap Yoongi yang berada disampingnya. Namjoon mendekap Yoongi yang masih sibuk mengatur napasnya. Yoongi menatap Namjoon yang langsung saja disambut kecupan lembut oleh Namjoon.

"Tidurlah.." Ujar Namjoon sambil mengelus surai Yoongi. Yoongi mengangguk, jujur dirinya lelah sekali. Yoongi merapatkan dan menyamankan posisinya didalam dekapan Namjoon lalu memejamkan matanya, segera menuju kealam mimpi.

"Saranghae.." Ucap Namjoon pelan yang masih bisa didengar samar-sama oleh Yoongi sebelum sepenuhnya masuk kedalam alam mimpinya.

-oOoOoOoOoOoO-

Namjoon membuka matanya ketika merasakan sengatan dari sang mentari melalui sela-sela jendela kamar yang mereka tempati sekarang. Dengan tidak rela Namjoon membuka matanya, menatap langit-langit kamar itu.

Namjoon baru teringat jika mereka menginap di hotel, dan juga melakukan sesuatu, membuat Namjoon tersenyum bahagia. Akhirnya Yoongi menjadi miliknya.

Namjoon mengarahkan pandangannya kepada Yoongi yang tidur dengan membelakanginya. Padahal seingatnya Yoongi sangat suka memeluk saat tidur, tetapi kenapa sekarang Yoongi membelakanginya?

Ia melihat kearah Yoongi yang membelakanginya, bahunya bergetar, samar-samar ia mendengar isak tangis Yoongi. Namjooon panik seketika, ia menyentuh bahu telanjang Yoongi namun tangannya malah ditolak oleh Yoongi.

Namjoon bingung, kesalahan apa yang ia lakukan, seingatnya ia tidak melakukan kesalahan apapun, kecuali menggagahi Yoongi, mungkin.

Mendengar tangis Yoongi yang semakin menjadi, Namjoon menarik paksa bangun Yoongi dan kemudian memposisikan Yoongi dalam pangkuannya. Tangan Yoongi dipegang paksa oleh Namjoon, air mata lolos dengan deras dari pelupuk mata Yoongi.

Namjoon meringis, hatinya pilu melihat Yoonginya. Namjoon memeluk Yoongi erat, membenamkan kepala Yoongi pada dada bidangnya. Setelah ia merasa tangis Yoongi mereda, ia mencoba membujuk Yoongi.

"Yoongi-ah.." Namjoon memanggil Yoongi lalu menatap Yoongi. Namjoon kembali dikejutkan dengan keadaan Yoongi. Yoongi menangis lagi, matanya tampak bengkak, bibirnya dihiasi luka gigitan bekas semalam. Ia menangkup pipi Yoongi dengan kedua tangannya. Isakan kecil dari Yoongi masih saja terdengar.

"Kenapa sayang?" Namjoon bertanya sembari menghapus air mata yang menghiasi pipi putih masih saja diam, tidak berkata apa-apa.

"Ayolah Yoongi.. Jika kau tidak mengatakannya aku tidak akan tahu." Bujuk Namjoon tetapi gagal. Yoongi masih saja belum mengeluarkan suaranya. Namjoon menghela napas berat.

"Kenapa?" Tanya Yoongi membuka suara. Suaranya terdengar serak. Namjoon menatapnya bingung, sebenarnya ada apa dengan Yoongi, pikirnya.

"Kenapa kau lakukan ini semua.. Kenapa kau menjeratku, menenggelamkanku begitu dalam pada pesonamu. Kenapa?" Namjoon terlihat semakin bingung.

"Aku belum siap untuk sakit hati.. Kenapa kau lakukan itu padaku? Kenapa kau bermain denganku?"

"Apa maksudmu Yoongi, aku tidak main-main." Ujar Namjoon dengan tegas.

"Jangan berbohong, kau bermain-main denganku kan? Membalaskan dendammu, mempermalukanku." Ucap Yoongi sambil menahan tangisnya agar tidak pecah.

Perasaanya campur aduk, dia sudah mencintai Kim Namjoon. Namjoon yang sudah mulai mengerti arah pembicaraan Yoongi pun mengecup pelan bibir Yoongi.

"Tatap aku Yoongi." Awalnya Yoongi enggan menatap Namjoon. Tetapi pada akhirnya fokus Yoongi adalah manik mata milik Namjoon.

"Aku tidak bermain-main. Sudah berapa kali kukatakan aku tidak ada waktu dengan yang namanya balas dendam. Aku serius Min Yoongi. Aku mencintaimu." Ucap Namjoon membuat Yoongi membulatkan matanya tak percaya.

TBC

Hola~~ Setelah seminggu lebih tidak bertemu, kami kembali membawakan Kim Family chapter 4, chapter terpanjang dalam sejarah kami membuat FF (?)
Maafkan update yang lama ini karena ekspetasi berbeda sangat dengan realita jadinya panjang begini :" Alurnya bongkar pasang, apalagi khusus untuk NC nya. Niatnya NC diadakan pada saat malam pertama setelah mereka menikah, tapi "badai" datang saat melihat foto Namjoon yang sedang topless dan foto Yoongi di TRB HK yang ah syudahlah ga usah dilanjut dannnn maafkan jika alur kecepatan atau terlalu bertele-tele karena kami suka yang panjang dan cepat *eh bercanda ih
Sebenarnya FF ini mau diupdate 2 hari yang lalu tapi yak arena FFn lagi bermasalah jadinya baru bisa hari ini T.T
Terima kasih kepada reader, reviewer, dan favoriter (?) yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca karya-karya kami, kritik dan saran selalu kami tampung untuk lebih baik kedepannya ok sampai jumpa di chapter selanjutnya~ /poppo reader satu persatu/

Last, mind to review?