Cinta 4 Hati

by

d-She ryuusei Hakuryuu


Pairing(s):

Main:

Ichi x Fem!Hitsu

Slight:

Sudah mulai nampak di chapter ini XD

.

Genre(s):

Romance/ Drama/ Hurt/Comfort

.

Warning(s): AU (Alternate Universe), OOC (Out of Character), Gender bended, Miss type and typo bertebaran di mana-mana, GaJe, Alur kecepetan dan terlalu maksa, deskripsi kurang, dan masih banyak lagi. Juga, tidak menerima flames untuk pairing dan pengubahan gender, tapi kalau mengenai EYD dan sejenisnya saiia terima dengan senang hati.

.

Disclaimer(s):

BLEACH © Tite Kubo

Cinta 2 Hati © Benni Setiawan/Wanna Be Pictures

Cinta 4 Hati © d-She ryuusei Hakuryuu

.

Enjoy, please~!


CHAPTER #4

A HEART HAS BEEN HURT


"K-Kurosaki-senpai...?" Satu nama itu meluncur mulus keluar dari mulut Matsumoto. Jari telunjuknya menunjuk ke arah dua orang yang tengah berdiri beberapa meter dari mereka berdua.

"Hah?" Toushiro mengikuti arah telunjuk Matsumoto, menajamkan penglihatannya. "Kuro...saki?"

Toushiro mendekat, ingin tahu apa yang dilakukan pasangan itu.

Ichigo tampak sedang mencibir, pandangannya berpaling dari gadis bermata violet itu, sementara gadis itu terus saja mengoceh. Ichigo menoleh dan melihat Toushiro berdiri satu setengah meter di depannya, memandang dirinya tanpa berbicara apa-apa, di sampingnya berdiri Matsumoto.

"Toushiro!" seru Ichigo. Toushiro membuang muka, dan melangkah menjauh. Namun, tangan Ichigo berhasil meraih lengan kanan gadis itu, memaksanya untuk kembali berbalik menatapnya. "Toushiro, aku bisa jelaskan semuanya."

Sebelumnya, Ichigo sudah bersiap-siap untuk menerima tamparan, pukulan, tendangan, atau segala macam umpatan yang akan dikeluarkan Toushiro terhadapnya. Ia tahu dengan pasti bahwa gadis itu sedang marah.

Namun, perkiraannya meleset. Bukan segala bentuk kekerasan atau cacian yang didapatnya. Hanya sebuah senyuman pahit dan mata emerald yang sarat akan luka dan kekecewaan yang menyambutnya. Tak ada caci maki untuknya, karena bibir mungil itu hanya berbisik lirih, "Kurasa, tak ada yang perlu dijelaskan, Kurosaki-senpai."

Hati Ichigo berdenyut sakit saat melihat senyuman pahit Toushiro. Ia bahkan jauh lebih suka jika Toushiro menamparnya keras-keras daripada harus melihat senyuman menyakitkan itu.

Pegangannya pada lengan Toushiro perlahan melonggar. Membuat gadis yang ia tahu dengan pasti hatinya tengah terluka itu kembali memandangnya kecewa, sambil berkata, "Saya permisi dulu, Senpai. Maaf sudah mengganggu. Semoga harimu menyenangkan."

Lagi-lagi, Toushiro membuang muka dan melangkah menjauh. Ichigo berusaha mengejarnya, tapi langkahnya terhenti oleh sepasang lengan kecil yang melingkari lengannya. Gadis yang tadi berdiri di sampingnya kini menatapnya heran. "Siapa dia, Ichigo?"

Matsumoto masih bergeming di tempatnya—sama sekali tidak bermaksud untuk mengejar Toushiro, karena ia tahu 'taichou'-nya itu sedang butuh waktu untuk sendiri, menenangkan dirinya. Tiba-tiba, wajahnya terangkat dan menatap benci kepada dua sosok di depannya—yang telah berani melukai hati sahabat terbaiknya.

Matsumoto melangkah mendekati sepasang muda-mudi di hadapannya. Matanya terpancang pada pemuda yang masih menatap nanar ke arah di mana Toushiro pergi tadi. Sebisa mungkin, ia menenangkan dirinya sendiri agar tidak mengamuk di tempat umum seperti ini. Dihentikannya langkah kakinya tepat di depan sang senpai yang masih terpekur atas kepergian Toushiro.

"Aku benar-benar tidak menyangka. Senpai, satu-satunya orang yang aku kira tak'kan mungkin melukai taichou, kini dengan teganya telah menghianati taichou seperti ini," ujarnya lirih, kepalanya menunduk. Takut, kalau-kalau ia menatap wajah Ichigo ia akan menampar wajah orang yang paling dicintai sahabatnya itu. "Di saat taichou tengah sabar menunggumu di cafe dekat sekolah itu selama hampir satu jam, Senpai justru jalan dengan gadis lain di tempat ini. Tega sekali!"

"Rangiku-san, aku punya penjelasan untuk semua ini." Ichigo menatap gadis di depannya sendu.

"Aku harap juga begitu, Kurosaki-senpai," balas Matsumoto. "Apa kau tahu, betapa khawatirnya taichou saat kau yang dinantinya selama satu jam tak kunjung-kunjung datang?"

"Rangiku-san, aku..."

Belum sempat Ichigo menyelesaikan perkataannya, Matsumoto memotongnya geram, "Dan, apa yang kau lakukan pada ponselmu?"

Ichigo tak mampu menyembunyikan raut terkejut dari wajahnya. "Ponselku?" Tangannya bergerak untuk merogoh ponsel dari saku celananya. Ditatapnya kaget layar ponsel miliknya. "Mati...?"

"Entah sudah berapa belas kali taichou mencoba untuk menghubungimu pagi tadi." Matsumoto menatap tajam Ichigo. "Tapi, ponselmu selalu saja tidak aktif."

Ichigo masih menatap layar ponselnya yang mati itu tak percaya.

"Mematikan ponsel, mangkir dari kencan, dan berjalan dengan perempuan lain. Benar-benar khas orang selingkuh, kan, Senpai?" Pandangan Matsumoto terhadap senpai di hadapannya itu kian menajam.

"A-aku benar-benar tak tahu kalau ponselku low-batt." Tanpa sadar, cengkeraman Ichigo pada ponsel dengan paduan warna orange dan hitam itu menguat. "Dan, demi Tuhan! Aku tidak selingkuh, Rangiku-san!"

"Oh ya?" tanya Matsumoto sangsi. Mata gadis itu kini teralih ke arah perempuan yang masih bergelayut di lengan besar Ichigo.

"Dia ini..."

"Aku tak butuh penjelasanmu, Kurosaki-senpai." Penjelasan Ichigo dipotong cepat oleh Matsumoto. "Yang lebih membutuhkannya adalah taichou."

"Tapi, dia tak mau mendengarkanku," sahut Ichigo frustasi.

"Memangnya reaksi apa yang kau harapkan dari seorang gadis yang melihat pacarnya tengah asyik berduaan dengan perempuan lain di depan kedua matanya?" tanya Matsumoto sarkastik.

"Ichigo..." Gadis di samping Ichigo merengek memanggil namanya manja, tidak suka karena kehadirannya seolah tidak dianggap sejak tadi.

"Astaga... Kumohon. Diamlah sebentar, Rukia." Ichigo melepaskan lengan kecil yang sedari tadi mengganggunya, lalu ia memijat-mijat pangkal hidungnya lelah.

Gadis bernama Rukia itu hanya mengerucutkan bibirnya kesal, tapi menurut juga.

"Dia... tersenyum seperti itu." Ichigo menatap Matsumoto miris. "Bahkan rasanya jauh lebih sakit dibanding menerima pukulannya."

"Memangnya kenapa?" tanya Matsumoto balik. "Senpai berharap taichou akan memukul atau menamparmu setelah apa yang telah Senpai lakukan hari ini?"

Ichigo terdiam.

"Pukulan atau tamparan tak akan bisa menyelesaikan masalah, Senpai. Yang ada justru membuatnya semakin bertambah rumit. Dan taichou tahu itu. Oleh karena itu taichou tidak memukul atau menamparmu." Matsumoto menatap Ichigo serius. "Taichou memang tomboi, dia juga galak dan mudah naik darah. Tapi, bagaimanapun juga dia adalah gadis biasa, Senpai. Dia juga punya perasaan."

Rukia makin bingung dengan arah pembicaraan dua orang di depannya, sementara Ichigo mulai meremas dan menjambak-jambak rambut orange-nya—merutuki kebodohannya sendiri.

"Dibalik sifatnya yang galak dan temperamen itu, taichou memiliki jiwa yang rapuh, Senpai. Dulu, dia adalah gadis yang manis sebelum ayah dan ibunya meninggal dunia. Tapi, kematian kedua orangtuanya di usianya yang masih belia itu sedikit banyak mempengaruhi kepribadiannya, hingga ia menjadi sosok yang seperti sekarang ini."

"Tapi, aku tak tahu harus berbuat apa untuk meyakinkannya!" Ichigo mengerang frustasi.

Matsumoto menatap simpati pemuda di depannya, ia yakin senpai-nya yang satu itu memang benar-benar mencintai sahabatnya.

"Kau bisa membantuku, kan, Rangiku-san?" tanya Ichigo setengah berharap. "Kumohon..."

"Walaupun aku tak tahu apa yang terjadi sebenarnya, akan kucoba untuk mempercayaimu. Aku akan berusaha membantu semampuku, Senpai." Matsumoto mengangguk pelan. Ia memang adalah orang yang paling mendukung hubungan Toushiro dengan senpai-nya yang satu itu. "Aku juga akan meminta bantuan. Momo-chan."

Senyum sumringah tersungging di wajah tampan pemuda itu. Hingga tiba-tiba...

Brukk.

Sosok di samping Ichigo mendadak ambruk dan tubuhnya hampir mencium permukaan trotoar yang keras apabila Ichigo tak cepat-cepat menahannya.

"Rukia!" seru Ichigo panik.

Gadis bernama Rukia itu kini terkulai lemas dengan muka yang amat pucat, cairan merah pekat kental merembes keluar dari hidungnya, sedikit menodai baju terusan yang dipakainya.

"Ya ampun!" Matsumoto yang berada tepat dihadapan Ichigo pun ikut panik, dirogohnya segera ponsel dari dalam saku rok pendeknya. Dengan cepat, dihubunginya pihak rumah sakit terdekat untuk segera mengirimkan ambulance. Setelah selesai, ia ikut berjongkok di samping Rukia yang kini terbaring lemas di pelukan Ichigo. "Dia kenapa, sih, Senpai?"

"Aku juga tidak tahu." Ichigo menggoncang-goncangkan pelan bahu gadis itu, berharap dengan itu bisa mengembalikan kesadarannya.

Samar-samar, terdengar bunyi sirene ambulance mendekat. Benar saja. Tak lama setelah itu, ambulance datang dan dengan segera memboyong Rukia ke rumah sakit—dan tentu saja Ichigo ikut serta di dalamnya. Meninggalkan Rangiku dengan dahi berkerut heran.

'Apa-apaan, sih, gadis itu?'


Suara pintu depan yang dibuka serta ditutup dengan kasar terdengar hingga ke telinga Hinamori yang tengah bersantai di dalam kamarnya di lantai dua. Tanpa merasa perlu melihat siapa dalang daripada suara berisik itu, Hinamori sudah tahu pasti bahwa pelakunya adalah Toushiro, adik sepupunya.

"Astaga... ada apa lagi, sih?" gerutunya pelan. "Katanya mau kencan dengan Kurosaki-kun? Kenapa pulangnya marah-marah begitu?"

Tak lama berselang, kembali terdengar suara pintu yang dibanting tak kalah karas dari yang tadi. Kali ini suaranya berasal dari kamar di sebelah kamar Hinamori, kamar Toushiro tepatnya.

Hinamori hanya bisa menghela napasnya lelah, kemudian kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terinterupsi dengan kedatangan Toushiro yang seperti angin ribut.


Air mata Toushiro mengalir deras. Rasa sakit, pedih, kecewa, kesal, marah, maupun cemburu berkobar menjadi satu di dalam hatinya yang bergemuruh. Setelah membanting pintu kamarnya keras-keras, dilemparkannya topi yang tadi dikenakannya. Ia meraih bantal yang tergeletak di atas tempat tidurnya, lalu membantingnya ke lantai dan menginjaknya kuat-kuat. Mungkin itu satu-satunya cara untuk melampiaskan semua amarahnya.

Pandangannya kini teralih pada cermin besar di kamarnya yang kini tengah menampilkan siluet tubuh mungilnya. Bayangan gadis tomboy yang sedang terluka perasaannya itu pun—dalam penglihatan Toushiro—perlahan berganti menjadi gambaran seorang pemuda orange-head yang tengah berjalan dengan seorang gadis bermata violet yang bergelayut manja di lengannya yang kokoh.

Hati Toushiro semakin tersayat melihat kilasan kejadian yang melukainya tadi. Kedua tangannya mengepal kuat, rahangnya mulai mengeras. Matanya berkilat dengan paduan emosi marah, kecewa, dan sakit hati bercampur menjadi satu.

"Argh!" Kepalan tangan Toushiro tepat meninju bagian tengah kaca besar itu. Hingga memecahkannya di bagian tengah dan sekitarnya. Pecahan-pecahan kaca berserakan di lantai kamar Toushiro. Mungkin ada juga yang menempel di tangan kanan Toushiro.

Tak ada denyut sakit dari kepalan tangannya yang kini terluka dan mengeluarkan cukup banyak darah, karena sudah ada satu bagian dari tubuhnya yang sejak tadi telah berdenyut perih. Semua luka dan rasa sakitnya bermuara pada satu titik. Hatinya.

"Kurosaki brengsek!" teriaknya. Tubuhnya merosot jatuh ke lantai kamarnya, ia memukul-mukulkan bantalnya ke lantai.

"Sialan!" Baru kali ini air mata membuncah keluar dari mata emerald gadis itu. Bulir air mata mengalir perlahan, menyusuri pipinya. Membuat pancaran keindahan sepasang iris emerald cemerlangnya tertutup awan kelabu. Kian lama, air mata itu makin mengucur deras, menganak sungai di kedua belah pipinya.

Gadis mungil itu menengadahkan wajah manisnya, berharap dengan begitu ia bisa menghentikan air matanya yang terus saja mengalir tanpa ada habisnya.

Tak pernah disangkanya, orang yang kini begitu dicintainya adalah orang pertama yang membuatnya menangis setelah kematian ayah dan ibunya. Karena selama hampir sebelas tahun itu, ia tak pernah sekali pun menitikkan air mata sesedih apa pun perasaannya.

Toushiro merasa lebih baik setelah mengeluarkan unek-uneknya. Sambil memeluk bantal yang tadi diinjaknya, ia bersandar pada dinding kamarnya, menatap kosong langit-langit. Sesekali ia menyeka air matanya yang masih saja tak mau berhenti mengalir.

Beberapa menit kemudian, Toushiro mulai merangkak ke arah tempat tidur. Dihempaskannya tubuh mungilnya, menenggelamkan wajahnya yang sembab karena air mata ke dalam bantal yang selama ini selalu setia menemani tidurnya. Tak dipedulikannya luka yang menghiasi tangan kanannya, meski masih sedikit mengeluarkan cairan kental berwarna merah pekat dengan bau anyir yang membuat mual.

Ikatan rambutnya ia lepaskan asal-asalan, hingga membuat rambut putihnya kusut di beberapa bagian.

Toushiro mungkin memang bukan tipe perempuan yang melankolis, yang bisa galau hanya karena kehilangan pacarnya. Bukan pula jenis perempuan yang bisa tidak makan berminggu-minggu hanya karena kekasihnya meninggalkan dirinya demi bersanding dengan perempuan lain. Juga bukan perempuan yang akan setiap malam menangisi pengkhianatan sang pacar.

Tapi, tetap saja, Toushiro itu seorang perempuan, ingat?

Setomboi apapun dirinya. Sekeras apapun suaranya ketika ia berteriak. Sekasar apa pun umpatan yang dikeluarkannya ketika ia kesal. Secepat apa pun ia naik darah. Sekuat apa pun tamparan, pukulan, dan tendangan yang dilayangkannya saat ia marah. Toushiro tetaplah seorang perempuan, yang jauh di dalam sudut hatinya terdapat sekeping benda yang rapuh dan mudah pecah bernama perasaan. Dan perempuan mempunyai sifat alami, yakni melankolis.

Dan saat inilah, semua usaha yang dibangun Toushiro untuk menekan—bahkan terkesan menutup-nutupi—sisi kemelankolisannya pun runtuh seketika. Ichigo adalah satu-satunya pemuda yang dicintainya, satu-satunya pemuda yang telah mampu mencairkan hatinya yang beku.

Ya, ia mencintai Ichigo. Pemuda dengan warna rambut yang senada dengan jeruk dan bentuk yang menyerupai durian. Pemuda dengan mata bernuansa musim gugur yang kerap kali menawan Toushiro ke dalam pesonanya. Senpai sekaligus kekasih yang telah menghianatinya.


"Shiro-chan!" Sebuah seruan lantang terdengar dari arah dapur di kediaman keluarga Hitsugaya. "Makan malam!"

"..." Hening. Tak ada sahutan dari Toushiro yang masih mengurung diri di kamar sejak siang tadi.

Hinamori yang sedang menata makan malam di meja makan—lengkap dengan celemek yang menempel di tubuhnya, menaikkan satu alisnya heran. "Shiro-chan!" panggilnya sekali lagi.

Namun, masih belum ada respon dari lantai atas.

Akhirnya, ia memutuskan untuk menengok keadaan sang adik sepupu yang memang sejak kepulangannya yang berisik tadi siang belum lagi ditemuinya. Perlahan, ia menaiki tangga menuju kamar Toushiro, dan mengetuk pintunya pelan. "Shiro-chan? Kau ada di dalam, kan?" tanyanya. "Turunlah sebentar! Waktunya makan malam."

Masih belum ada sahutan dari balik pintu kayu itu, tapi Hinamori yakin kalau adik sepupunya ada di dalam sana. Ia mencoba untuk memutar kenop pintu di depannya.

Terbuka! Tampaknya Toushiro lupa menguncinya setelah membanting pintu malang itu keras-keras siang tadi.

"Shiro-chan...," katanya agak keras. "Aku masuk, ya."

Pandangannya kini mencoba menelusuri ruangan yang gelap tanpa secercah penerangan pun itu. Menyadari matanya tak bisa menangkap bayangan apa pun di dalam sana—karena terlalu gelap, tangan kanannya bergerak menelusuri dinding di dekat pintu, mencari sakelar lampu.

Cklik.

Cahaya lampu menyebar ke seluruh ruang kamar yang tak terlalu luas itu, membuat semua isi di dalamnya terekspos dengan jelas, termasuk sosok seorang gadis yang tengah terbaring lunglai di atas ranjangnya dengan posisi tengkurap. Di tangan kanannya tampak aliran darah yang sudah mengering. Mata emerald-nya yang sembab dan membengkak menatap kosong dinding di hadapannya. Kedua belah bibir mungilnya kering kerontang. Rambut putih panjangnya tergerai acak-acakan.

"Astaga!" Mata hazel Hinamori membulat melihat pemandangan mengenaskan di depannya. "Shiro-chan!"

Isi kamar yang berantakan, pecahan-pecahan kaca tersebar di sebagian lantai kamar. Kamar yang biasanya selalu terlihat rapi itu pun menjelma bagai kapal yang hancur setelah diterjang angin ribut.

Dengan cepat, dihampirinya Toushiro yang masih tampak tidak peduli dengan kedatangannya. Disingkirkannya helaian rambut putih Toushiro yang tergerai menutupi sebagian wajahnya. Mengusap pelan bekas air mata yang mengering di pipi gadis mungil itu. Dan pandangannya kini tertuju pada tangan kanan Toushiro yang terluka.

Tak mau buang-buang waktu, ia segera melesat kembali menuruni tangga untuk mengambil kotak obat yang di letakkannya di atas kulkas di dekat meja makan. Dan tak sampai dua menit, Hinamori sudah duduk bersimpuh di samping ranjang Toushiro. Beruntung, hanya ada satu-dua pecahan kaca di tangan Toushiro. Dan setelah mengambilnya dari sana, Hinamori membersihkan luka Toushiro dengan alkohol, memberinya obat merah, lalu membalutnya dengan perban.

Di tengah aktivitasnya membalut luka Toushiro, samar-samar Hinamori mendengar bisikan lirih Toushiro. "Air..." Suaranya serak, mungkin karena terlalu lama menangis.

"Sebentar, ya, Shiro-chan." Hinamori mengusap sayang kepala Toushiro. Dengan kotak obat di tangan kirinya, ia berdiri dan mulai melangkah keluar dari kamar gadis itu. "Aku ke bawah dulu. Aku kuambilkan kau air dan makan malammu."

Setelah kepergian Hinamori, Toushiro kembali membenamkan wajahnya ke dalam bantal, sudah ingin menangis lagi. Tapi, tak ada air mata yang keluar. Air matanya sudah terlalu kering, sudah terlalu banyak air mata yang dititikkannya hanya demi satu nama. Kurosaki Ichigo.


"Hari ini taichou tidak masuk," jawab Matsumoto ketika Ichigo datang ke kelasnya keesokan harinya untuk menanyakan keberadaan Toushiro. "Sakit, kata Momo-chan."

Gurat penyesalan kembali menghiasi wajah tampan Ichigo. Dia benar-benar merindukan gadis mungil yang telah menjadi separuh bagian dari hatinya itu.

"Ne~ Senpai... pulang sekolah nanti, bisa ikut aku ke kampus Momo-chan?" sambung Matsumoto. "Dia mau bicara bertiga tentang masalah Senpai dan taichou siang nanti. Bisa, kan?"

"Tentu," jawab Ichigo pasti. "Kita bertemu di tempat parkir pulang sekolah nanti. Kau bawa kendaraan sendiri?"

Matsumoto menggeleng, dia memang jarang membawa kendaraan sendiri ke sekolah. Toh, apartemennya tak terlalu jauh dari sekolah.

"Baiklah. Kita ke kampus Hinamori-san dengan motorku," ujar Ichigo sebelum akhirnya pamit untuk kembali ke kelasnya.


"Hari ini sepi, ya, Bro," kata Renji di tengah-tengah aktivitasnya memakan pesanannya di kantin Karakura High School saat waktunya istirahat makan siang.

Ichigo yang duduk di depannya hanya mengangguk tanpa semangat. Separuh nyawanya hilang bersama ketidakhadiran Toushiro di sekolah hari ini.

Dan, didukung dengan penampilan Ichigo yang terlihat sangat kusut hari ini. Dasi seragam sekolah yang biasanya selalu bertengger manis melingkari lehernya kini telah tak terpasang lagi. Blazer abu-abu gelapnya teronggok menyedihkan di atas meja. Dua kancing teratas baju seragamnya dibiarkan terbuka. Sebagian besar bagian kemejanya pun sudah keluar dari celana panjang hitamnya. Ichigo sungguh terlihat kacau hari ini.

Renji menatap heran sahabat baiknya itu. Sejenak, ia menghentikan ritual mengisi perutnya, dan menatap Ichigo serius. "Kau ada masalah, ya, Ichigo?"

Ichigo tersenyum kecut sambil menjawab, "Toushiro marah padaku."

"Bukankah biasanya juga dia selalu marah-marah?" tanya Renji lagi.

"Kali ini berbeda, Renji. Dia benci padaku." Ichigo mendesah frustasi. "Dia mengira aku selingkuh saat melihatku jalan-jalan dengan gadis lain di hari seharusnya kami berdua berkencan."

"Wow!" Tanpa rasa simpati sedikit pun, Renji terkekeh mengejek. "Lalu kau diapakannya? Ditonjok? Ditampar? Atau 'itu'-mu ditendang sampai hancur olehnya?"

"Begitu lebih baik, Renji." Hati Ichigo kembali berdenyut sakit bila mengingat senyum pahit Toushiro kemarin. "Dia bahkan sama sekali tidak menampar atau memukulku. Dan, justru itulah yang membuatku semakin merasa bersalah."

"Heh?" Dahi Renji berkerut tak percaya. "Lalu, kau benar-benar menghianatinya? Err~ selingkuh di belakangnya, maksudku."

Baru saja Ichigo hendak menjelaskan detil permasalahannya pada Renji, bel tanda istirahat usai berbunyi. Memaksa mereka untuk tidak lagi melanjutkan percakapan mereka, karena setelah ini adalah waktu bagi Kurotsuchi-sensei—guru kimia mereka yang terkenal paling killer—mengajar. Dan, kalau mereka masih ingin melihat mentari esok hari dan tak ingin jadi objek eksperimen guru sinting itu, lebih baik mereka segera masuk kelas.


o0o Flashback(mode)ON o0o

"Ichi-nii." Sepasang lengan kecil menggoyang-goyangkan bahu Ichigo, mencoba untuk membangunkan pemuda yang tengah lelap terbuai mimpi itu.

Ichigo yang masih larut dalam tidurnya, tiba-tiba tersentak bangun sambil meneriakkan sebuah nama, "Toushiro!"

Keringat dingin mengucur menuruni pelipisnya, bahunya sedikit bergetar. Nafasnya tersengal-sengal. Ia mimpi buruk. Dan kini ia sadar sebab dari mimpi buruk itu. Toushiro. Ya, ia ada janji dengan gadis itu hari ini. Seharusnya jam setengah delapan tadi ia menemui Toushiro di cafe dekat sekolah. Dan, jam berapa sekarang?

Ichigo melirik jam dinding yang terpasang di kamarnya. Jam sembilan kurang lima belas menit. "Astaga! Aku terlambat!" Dengan panik, ia menyingkap selimut tidurnya. Ia sudah terlambat hampir satu setengah jam dari waktu yang dijanjikan.

"Ichi-nii bicara apa, sih?" Karin yang tadi membangunkannya hanya berkacak pinggang melihat tingkah-polah sang kakak. "Tou-san sudah menunggumu di bawah. Lebih baik Ichi-nii segera turun sekarang. Cuci muka dulu, gih, sana!"

Sepasang lengan kecil mendorong Ichigo ke kamar mandi, memaksanya untuk segera membasuh muka dan turun untuk menemui sang ayah. "Aduh, Karin. Aku ada janji hari ini. Memangnya ada apa, sih?"

"Tou-san mau memperkenalkanmu pada teman bisnisnya," jawab Karin enteng. "Sudah, ayo cepat turun!"

"T-tapi..." Akhirnya Ichigo hanya bisa pasrah saat dirinya ditarik paksa untuk menuruni tangga menuju ke ruang tamu yang letaknya ada di lantai bawah.

"Nah, ini dia!" Suara berat Isshin menggelegar ketika melihat Ichigo memasuki ruang tamu. "Dia adalah putera sulungku. Namanya Ichigo."

Ichigo hanya tersenyum sopan saat dirinya diperkenalkan di depan rekan bisnis ayahnya.

"Nah, Ichigo, ini adalah partner bisnis ayah di kantor. Namanya Kuchiki Byakuya. Dia eksekutif muda yang jenius." Mendengar kata jenius, membuat Ichigo kembali teringat pada Toushiro. "Dan yang satu ini adalah adik dari Byakuya-san, Kuchiki Rukia. Umurnya sepantaran denganmu."

Ichigo membungkuk hormat pada kedua tamu ayahnya itu. "Salam kenal," ucapnya sopan. "Senang bertemu dengan Anda, Byakuya-san, Rukia-san."

Byakuya mengangguk kecil dengan tampang datarnya. Sementara Rukia, wajahnya memerah—takluk pada pesona Ichigo.

"Oh ya, Ichigo. Ajaklah Rukia jalan-jalan ke luar." Isshin kembali menatap anak tertuanya. "Ayah dan Byakuya-san ada urusan bisnis sebentar. Ada yang perlu kami bicarakan berdua."

"T-tapi..." 'Bagaimana dengan Toushiro?'

"Ichigo, tolonglah, Nak," ujar Isshin sedikit memaksa.

Ichigo menatap Rukia yang balas menatapnya dengan pandangan berbinar-binar. Genggamannya pada kedua belah tangannya menguat. 'Maafkan aku, Toushiro...' "Baiklah."

o0o Flashback(mode)OFF o0o

"Jadi, pada intinya semua ini hanya salah paham. Benar begitu, kan, Kurosaki-kun?" simpul Hinamori setelah Ichigo menceritakan masalah yang sebenarnya.

Dia, Ichigo, dan juga Matsumoto sekarang tengah berbincang di kafetaria kampus Psikologi Universitas Karakura, tempat Hinamori berkuliah.

Ichigo mengangguk pelan, dalam hati ia benar-benar berharap semoga dua gadis yang duduk di hadapannya itu bisa membantu menyelesaikan masalahnya dengan Toushiro.

"Ayahmu yang seorang pengusaha sukses—pemilik serta pemimpin utama Kurosaki corp.—dan termasuk dalam jajaran orang-orang paling beruang di kota ini memiliki kolega bisnis bernama Kuchiki Byakuya." Hinamori mulai berkicau sendiri. "Kuchiki Byakuya di usianya yang relatif masih muda, dia sudah menjadi pewaris resmi dan pemimpin sebuah perusahaan terbesar di Karakura, Kuchiki corp.—perusahaan milik keluarganya. Dia adalah orang paling kaya di kota ini jika dilihat dari survey yang diadakan oleh salah satu majalah bisnis beberapa tahun belakangan ini. Dan dia adalah pemegang saham terbesar di perusahaan keluargamu.

"Pantas saja ayahmu sangat menghormatinya," ujar Hinamori panjang lebar. "Dan sekarang, masalahnya bersumber dari adik Kuchiki Byakuya yang bernama—siapa tadi kau bilang?"

"Rukia...," jawab Ichigo pelan. Entah kenapa, nama itu terasa begitu tabu untuk diucapkannya.

"Ya, itu dia. Rukia," lanjut Hinamori. "Jadi, masalahnya berasal dari si Rukia itu. Kau dipaksa oleh ayahmu untuk mengajaknya jalan-jalan, sementara di hari itu seharusnya kau berkencan dengan Shiro-chan. Dan, karena kau tak bisa menolak perintah beliau, akhirnya kau mangkir dari kencan. Begitu, kan?"

Lagi-lagi Ichigo hanya mengangguk meng-"iya"-kan.

"Nah, yang jadi pertanyaanku sekarang adalah...," kata Hinamori lagi. "Kenapa kau bisa tertidur dan lupa pada jadwal kencanmu?"

"Eh?" Ichigo menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tak terasa gatal. "I-itu..."

Kening Hinamori berkerut melihat gelagat Ichigo.

Ichigo makin panik. Ia tidak mungkin menceritakan tentang konfliknya dengan sang ayah pada Hinamori, karena baginya itu hanyalah aib keluarga yang tak pantas untuk digembor-gemborkan.

Hinamori menghela napas lelah. "Baiklah. Kalau memang kau tak mau menceritakannya, tidak masalah."

Sekilas, Ichigo tersenyum berterima kasih.

Tiba-tiba, Matsumoto menyela pembicaraan mereka berdua. "Ne~ Kurosaki-senpai... Sebenarnya aku penasaran sejak kemarin," ujarnya agak pelan. "Err~ bisa kau jelaskan, kenapa gadis yang bersamamu kemarin tiba-tiba jatuh pingsan dengan darah yang merembes keluar dari hidungnya begitu?"

Sebelah alis Hinamori terangkat. "Mimisan, lalu pingsan?" Mata hazel-nya kini kembali tertuju pada satu-satunya pemuda yang duduk bersamanya di meja paling pojok kafetaria kampusnya.

Ichigo mengangkat bahunya sekilas. "Entahlah. Aku juga tak tahu dengan pasti," jawabnya. "Tiba-tiba dia pingsan dan hidungnya mengeluarkan darah. Setelah ambulans yang dipanggil Rangiku-san datang, kami dibawa ke rumah sakit dan Rukia langsung masuk ke ruang UGD. Beberapa menit kemudian, Byakuya-san yang sempat kuhubungi sebelumnya tiba di UGD dan langsung menyuruhku pulang setelah mengucapkan terima kasih padaku."

"Senpai langsung disuruh pulang?" Matsumoto mengerutkan keningnya. "Mencurigakan..."

"Hah?" Ichigo balas mengerutkan keningnya. "Apanya yang mencurigakan?"

"Ehehe..." Matsumoto nyengir innocent, dan mengangkat kedua tangannya di depan dada sambil menggeleng-geleng pelan. "Tidak... tidak. Lupakan saja."

"Sudahlah. Kembali ke pokok bahasan kita sebelumnya. Lalu...," lanjut Hinamori. "Kenapa kau tak jelaskan langsung saja apa yang terjadi sebenarnya pada Shiro-chan?"

"Taichou tak mau dengar penjelasan Kurosaki-senpai." Kini Matsumoto yang menjawab pertanyaan Hinamori. "Dia langsung pergi setelah melihat Kurosaki-senpai selingkuh kemarin."

"Aku tidak selingkuh, Rangiku-san!" protes Ichigo cepat. "Aku sudah berulangkali mencoba untuk menghubungi ponselnya. Tapi, tak pernah diangkat. Pesan singkatku pun tak ada satu pun yang dibalasnya."

"Wah... kurasa dia benar-benar marah padamu, Kurosaki-kun." Hinamori memandang Ichigo simpati.

"Aku tahu itu, Hinamori-san." Ichigo menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Dan oleh sebab itu, aku sungguh minta tolong padamu—juga Rangiku-san—untuk membantuku menjelaskan yang sebenarnya pada Toushiro."

"Ya. Tentu saja, kami akan dengan senang hati membantu." Hinamori tersenyum ramah. "Tapi, menurutku, alangkah lebih baiknya jika kau sendiri yang menjelaskannya pada Shiro-chan."

"Tapi, aku bisa apa?" Ichigo menjambak-jambak rambut orange-nya, frustasi. "Dia bahkan sama sekali tak mau mendengarkanku."

"Nah, di situlah kami akan membantumu." Hinamori tersenyum memberi semangat. "Kami akan berusaha membuat Shiro-chan mau mendengarkan penjelasanmu. Iya, kan, Ran-chan?"

Matsumoto mengangguk tak kalah semangat.

"Ya. Terima kasih, Hinamori-san, Rangiku-san." Ichigo balas tersenyum penuh rasa terima kasih. "Semoga saja, Toushiro mau mendengarkanku."


Karakura Hospital. Lantai 7. Kamar VVIP nomor 3.

Terbaring dengan lemah, seorang gadis usia enam belas tahun. Selang-selang infus yang menunjang hidupnya tertempel di pergelangan tangan kirinya. Sementara di hidungnya terdapat alat bantu nafas.

Mata violet yang biasanya berbinar ceria, kini sama sekali tak menampakkan cahayanya, tersembunyi di balik kelopak mata yang hingga detik ini masih saja enggan untuk membukakan diri.

Rambut hitam yang kian menipis milik gadis itu kini dibelai dengan lembut oleh seseorang yang dengan setia duduk di samping ranjangnya.

Seorang pria berambut hitam panjang sebahu mengelus-elus rambut milik adiknya sambil menatap sendu wajah pucatnya. Sesekali dikecupnya lembut puncak kepala gadis cantik itu.

Tangannya kini beralih untuk meraih tangan kanan Rukia yang tak tertancap selang infus, menggenggamnya erat dan penuh kelembutan.

Wajahnya yang biasanya selalu terlihat kaku dan dingin, kini diliputi oleh rasa bersalah dan cemas. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya berusaha memberikan fasilitas perawatan yang terbaik bagi sang adik dan memohon pada Tuhan-nya agar adiknya lekas sembuh.

Jika melihat adiknya terbaring lemah seperti sekarang ini, ingatannya kembali terbang ke masa-masa lima tahun yang lalu. Ketika ia juga berada di posisi yang sama seperti saat ini, lima tahun yang lalu, saat ia hanya bisa pasrah mendampingi sang istri yang terkulai lemah di tempat tidur rumah sakit, berjuang melawan ganasnya penyakit yang terus menggerogoti tubuh ringkihnya. Yang kemudian disusul dengan wafatnya wanita yang paling dicintainya itu.

Kenangan pahit itu terus saja menghantui pikirannya, di mana ia tak bisa berbuat apa pun untuk menyelamatkan istrinya.

Dan sekarang, kejadian itu seolah terputar kembali. Di mana adik iparnya yang memiliki wajah serupa—bahkan identik—dengan almarhumah istrinya, kini terbaring lemah akibat sebuah penyakit kronis yang menyerang tubuh kecilnya yang ringkih.

Penyakit yang sama dengan penyakit yang telah berhasil merenggut nyawa istri tercintanya.

Pria tampan itu kembali menatap sendu wajah adik iparnya. "Maafkan aku, Hisana," ujarnya lirih. Lalu pandangannya teralih ke arah jendela kamar inap yang tengah menampilkan lukisan indah maha karya Sang Pencipta berupa langit sore. "Aku tak bisa menepati janjiku."

Tiba-tiba, ia merasakan ada gerakan pelan dari tangan kecil yang digenggamnya. "Rukia?" Mata abu-abu kelamnya menatap penuh harap pada sosok gadis mungil di depannya.

Namun, kedua bola mata violet yang sangat diharapkan kenampakannya itu pun tak kunjung terlihat. Kedua kelopak matanya masih setia menjaga ketertutupannya. Akan tetapi, bibir pucat itu bergerak-gerak pelan, seperti sedang berbicara.

Pria berambut panjang itu menanti dengan sabar, menunggu apa yang hendak diucapkan adik iparnya dalam keadaan setengah sadar seperti itu.

"Ichigo..."


Continued on Chapter #5


(a/n):

Special thanks to:

# Winter Narcissus #

# Hanabi Kaori #

# Dina Shuuya Hitsugaya #

# Megami Mayuki #

#Shiroi Mari #

#Cha-13elieveSuJuELF #

Terima kasih telah membaca, me-review, bahkan mem-fave fic ini... saiia benar-benar ucapkan terima kasih untuk kalian semua X3 m(_ _)m

Saiia juga minta maaf untuk kesalahan di chapter kemarin, setelah saiia baca ulang emang bener ada satu kesalahan fatal yang sudah saiia perbuat T^T saiia bener-bener nggak nyangka kalau ternyata saiia selalai itu...*pundung*ngorek-ngorek aspal*

Oleh karena itu, saiia sampaikan ralat atas chapter kemarin... Sebenarnya Ichigo berumur tujuh tahun saat Masaki meninggal, dan kejadian itu berlangsung sembilan tahun yang lalu. Jadi, sekarang umur Ichigo itu enam belas tahun, sedangkan Toushiro lima belas tahun.

Khusus untuk Quinsi-nee, makasih, ya, sudah diingatkan m(_ _)m XD

Untuk kali ini saiia minta maaf karena gak sempat bales review~ Tapi, yang jelas... membaca review kalian udah bikin hati saiia seneng banget XD X3

.

Chapter ini ternyata lebih panjang dari chapter kemarin (=,=)a

Hitung-hitung sebagai permintaan maaf saiia karena sudah telat update *nyengir innocent*digampar*

Sungguh, saiia minta maaf karena setelah ini pun saiia gak bisa update kilat lagi... bukan karena saiia nggak mau, tapi tugas-tugas sekolah-lah yang sudah memaksa saiia untuk telat update TT_TT

Gommen na m(_ _)m

.

Kalau ada yang mau kasih koreksi atau ada yang belum dimengerti dan mau nanya tentang ceritanya, silakan lewat review XD Saiia tunggu~!

Yakk, sekian dulu...

Sampai jumpa di chapter depan~

Jaa~

Mohon tinggalkan kritik, kesan, dan saran Anda sebelum menekan tombol 'back'

m(_ _)m

Review, please XD