~ Aishiteru , Camus – sensei ~

Naruto belongs Masashi Kishimoto

Saint Seiya Belong Masami Kurumada

.

~ Aishiteru Camus – sensei ~

Chapter 4: Gadis Itu Mendapatkannya, Orang Yang Dia Cintai Walaupun Mengorbankan Perasaan Seseorang.

.

.

Setelah Hyoga mengatakan bahwa dia akan membantu Hinata dalam 'menjodohkan' Hinata dengan Guru sekaligus Ayah angkatnya sendiri, lalu Hyoga setiap harinya mencoba dengan berbagai cara agar mereka berdua bisa bersama walaupun dia sendiri merasa iri dan sakit hati tetapi apa boleh buat? Cintanya sudah bertepuk sebelah tangan.

"Baiklah latihan kita diakhiri samapi disini." Kata Camus

"Hai." Seru Hyoga dan Hinata bersamaan

"Hn? Hinata kau baik-baik saja kan?" kata Camus menyadari ada kesalahan pada anak didiknya yang baru itu

"Aah iya benar muka mu begitu memerah Hinata-chan. Apakah kau sakit?" kataHyoga yang begitu khawatir terhadap Hinata. Bagaimanapun juga rasa cintanya kepada Hinata belumlah hilang sepenuhnya bahkan ada rasa sakit yang terselip ketika Hyoga melakukan hal itu –walaupun Hyoga sendiri berusaha mengabaikan rasa sakit yang dirasakannya ketika berhadapan dengan gadis pemalu ini.

"Aah kalau boleh jujur, se-sebenarnya kepala ku se-sedikit pusing sejak tadi pagi. Te-tetapi aku masih bisa melanjutkanna, sensei." Kata Hinata

"Kemari biar aku perikasa." Kata Camus kepada Hinata. Yah bagaimanapun juga, walau dia bukanlah seorang dokter, tetapi setidaknya dia tau penyakit, ciri-ciri orang yang terkana penyakit itu dan bagaimana cara mengobatinya (turunan dari Degel).

Dan hati seorang Cygnus Hyoga hancur seketika itu juga. Rasa sakit yang diabaikannya tadi, datang kembali kepadanya bahkan rasanya sepuluh kali lipat lebih sakit daripada dia terkena serangan dari Scorpion Milo yang merupakan sahabat baik guru sekaligus ayahnya sendiri. Bagaimana tangan Camus yang selalu membelai kepala Hyoga, ketika Hyoga sakit tangan itu lah yang selalu menyentuh dahinya. Tetapi sekarang, tangan itu berpindah kedahi orang lain.

Sakit.

Begitu sakit.

Hingga rasanya ingin kembali ditusuk oleh Scarlet Needle dan Scarlet Antares milik Milo dirasakan kembali disekujur tubuhya.

"Aku pe rmisi dulu." Kata Hyoga dengan kepala menuduk dan membuat Camus dan Hinta kebingungan karena wajahnya tertutup oleh poni Hyoga yang sudah mulai memanjang sejka pertama kali mereka bertemu.

"Hoi! Hyoga! Kau mau kemana?" kata Camus yang heran dengan tingkah murid sekaligus seseorang yang dianggapnya sebagai anaknya sendiri.

"Ano . . Sumimasen (Maaf) sensei. Aku sangat lelah hari ini. Aku ingin tidur lebih awal." Kata Hyoga yang berusaha menormalkan nada bicaranya yang begetar itu.

Lalu Camus berdiri dari tempatnya semula dan menyentuh dahi Hyoga untuk memastikan anak itu tidak mengalami Flu sama seperti Hinata. Dan betapa terkejutnya Hyoga atas apa yang dilakukan oleh Camus. Lalu Hyoga menyigkir tangan besar Camus dari dahinya dan berlalu tanpa mengatakan sepatah kata-pun kepada Camus. Hal inilah yang membuat Camus penasaran akan bebek peliharaanya ini –salah- maksudnya anak kesayangannya ini.

Setelah keluar dari tempat latihan itu, Hyoga segera menuju kekamarnya. Satu-satunya ruangan dimana dia bisa sendirian tanpa ada yang mengganggunya. Walaupun itu tidak membantu banyak, tetapi setidaknya dia ingin menenangkan hati dan pikiranya yang kacau (Weh bebek bisa galau yah . .#dibeku'in).

Berulang kali dia mengubah posisinya, mulai dari duduk, bersandar, tiduran dikasur dan lainnya. Tetapi tidak ada satupun yang bisa membuatnya tenang. Biasanya pada saat seperti ini, Camus masuk kekamarnya dan megusap-usap puncak kepala Hyoga dengan lebut dan penuh kasih sayang seorang ayah yang belum pernah Hyoga rasakan sebelumnya lalu menanyakan kenapa lalu Hyoga menceritakan semuanya dan Camus memberikan solusi yang membuat hati Hyoga merasa lebih tenang.

Tetapi sekarang, berbeda. Sejak datangnya atau bergabungnya gadis pemalu itu ditempat ini. Yah walaupun dia gadis yang Hyoga cintai dan cintanya kepada gadis itu tak terbalaskan alias bertepuk sebelah tangan tetapi tetap saja. Rasanya begitu berat untuk dijalanin. Apa Hyoga cemburu dengan gadis itu? Jawabnya adalah Ya. Kenapa? Kenapa? Kenapa kepada gadis itu dia harus cemburu? Ketika Camus melakukan hal yang sama kepada Milo saja dia tidak merasa keberatan sama sekali. Tetapi kenapa?

"Hyoga? Kau baik-baik saja?" kata Camus yang masuk kedalam kamar Hyoga. Dan Hyoga yang mengetahuinya langsung berpura-pura tidur memunggungi sang guru.

"Hyoga? Kau benar-benar sudah tidur?" tanya Camus kepada Hyoga dan tidak mendapatkan jawaban dari orang tersebut. Camus mengusap-usap puncak kepala Hyoga dengan lembut dan penuh kasih sayang seperti yang dilakukannya selama ini bila Hyoga memiliki masalah. Hyoga mulai menitihkan air matanya ketika merasakan apa yang selama ini ia inginkan sejak kedatangan Hinata di tempat ini. Rasanya begitu rindu dengan sentuhan lembut ini. Lalu tanpa sadar Hyoga terbuai dengan usapan lembut dari Camus hingga terlelap.

.

In the Next Morning . . .

"Are? Aku tertidur yah?" kata Hyoga ketika dia barusaja membuka matanya. Dia beranjak menuju jendela kamarnya dan membuka selambu berwarna putih. "Sudah siang rupanya. Haaaah . . " kata Hyoga ketika ia melihat matahari bersinar begitu cerahnya dan hampir berada diatas kepala manusia yang berarti hapir pukul duabelas siang. Baru kali ini Hyoga terlelap begitu nyenyaknya. Hyoga menyentuh puncak kepalanya, dimana usapan tangan Camus tadi malam masih membekas disana. Tanpa sadar remaja itu meneteskan airmata lagi mengingat sensasi akan apa yang dilakukan oleh gurunya. Sungguh dia ingin merasakannya kembali. Rasanya dia seakan memiliki ayah kandung yang teramat sangat sayang kepadanya.

"Oh Hyoga? Kau sudah bangun rupanya." Kata Camus tiba-tiba memasuki kamar Hyoga degan membawa segelas coklat hangat ditangannya, lalu buru-buru Hyoga mengusap airmatanya tetapi dia tidak berbalik untuk menatap Camus.

Camus meletakan coklat hangat tersebut diatas meja didekat kasur Hyoga dan menghampiri Hyoga. "Kau ada masalah?" tanya Camus dengan nada khawatir kepada anak kesayangannya itu dan membelai puncak kepala Hyoga. Tetapi, Hyoga menepis tangan hangat itu dan berbalik lalu keluar dari kamarnya.

"Gomenasai sensei, aku akan segera mandi." Katanya. Walau mencoba menyembunyikannya, tetapi tentu saja Camus mengetahui nada suara Hyoga yang begetar itu dan dengan segera Camus menangkap pergelangan tangan Hyoga lalu membuat Hyoga terpaksa menatap wajah sang ayah yang begitu dihormatinya dan disayangin nya.

"Kau . . . habis menangis?" kata Camus lembut kepadanya. Pemuda yang ditanyai oleh Camus cuman menundukan wajahnya sehingga wajahnya tertutup oleh poninya. Lalu dengan segera dia melepaskan diri dari cengkraman Camus dan segera menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri tanpa mengatahkan sepatah kata pun kepada Camus dan membuat semuanya bertambah rumit –terutama bagi Hyoga.

Sudah 2 bulan lamanya situasi ini terjadi terus menerus. Hyoga mulai berbicara seperlunya saja kepada Camus dan juga Hinata, jarang datang untuk berlatih, pulang ketika semua penghuni kuil Aquarius sudah terlelap, ketika sarapan datang ketika semua sudah selesai sarapan, dia melakukan apapun yang diminta oleh gurunya maupun Hinata tanpa berbicara apapun kepada mereka. Hinata merasa bersalah juga akan kejadian ini, karena bagaimanapun juga dia sudah berjanji kepada Hyoga agar hal seperti ini tidaklah terjadi namun dia tidak menempati janjinya tersebut.

"Hyo-Hyoga-kun, bisa ki-kita berbicara sebentar?" tanya Hinata ketika menemukan Hyoga disebuah taman didekat Sanctuary. Pemuda yang diajaknya berbicara hanya bangkit berdiri, membersihkan kotoran yang menempel dibaju dan juga celana putih panjangnya lalu berlalu. Hinata tanpa sadar terjatuh ditanah dan meneteskan airmata karena dia merasa tidak berguna dan tidak menepati janjinya kepada pemuda yang mencintainnya tersebut. Andaikan Hinata bisa memutar waktu dia tidak akan mengatakan bahwa dia merasa tidak enak badan sehingga kejadian ini tidak terjadi.

.

Hyoga kembali menelusuri jalanan dikota Athens setelah dia bertemu dengan Hinata ditaman tadi. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Hanya itu saja yang selalu berada dikepalanya setiap saat tanpa mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Taklama setelah itu hujan turun membasahi apapun yang berada dibawahnya. Seakan langit tau apa yang dirasakan oleh Hyoga. Air hujan tersebut menyamarkan air mata Hyoga sehingga tidak ada yang tau bahwa dia sedang menangis.

Pukul 11.00 PM, Hyoga kembali kekuil Aquarius ketika hujan reda dengan keadaan basah kuyup dan berharap bahwa penghuni kuil kesebelas itu sudah pada terlelap dalam mimpinya. Namun, dia salah. Ada seseorang yang menunggunya didepan pintu masuk kuil. Dan orang itu adalah Aquarius Camus sang penjaga kuil tersebut.

"Hyoga?! Darimana saja kau?" kata Camus begitu melihat Hyoga berjalan menuju kuil Aquarius. "Astaga kau basah kuyup begini. Bagaimana kalau kau sakit? Aku akan ambilkan handuk. Kau tunggu disini Hyoga." Kata Camus begitu khawatir begitu menegetahui bahwa anaknya tersebut pulang dengan keadaan seperti bebek kejebur danau –salah- maksdunya keadaan basah kuyup.

"Tidak perlu. Aku akan segera mandi." Kata Hyoga menghentikan langkah sosok ayanh yang sangat disayanginya itu.

Lalu Camus berbalik menuju tempat dimana Hyoga berdiri dan memeluk anak kesayangannya itu. "Kau ada masalah? Coba ceritakan. Itu akan mengurangi beban mu walau cuman sedikit." Kata Camus tetapi dia tak mendapatkan jawaban dari Hyoga. "Tolong lepaskan sensei. Aku baik-baik saja." Kata Hyoga mencoba melepaskan pelukan sang kesatria emas ini namun, Camus justru mempererat pelukannya kepada Hyoga agar dia tidak bisa kabur dan supaya masalahnya cepat selesai.

"Maaf, mungkin setelah ini kau akan membenci saya. Saya sudah tau semuanya dari Hyuuga-san setidaknya sedikit tentang permasalahan ini. Hyoga, walaupun saya melakukan hal tersebut kepada Hyuuga-san, bukan berarti aku menyinkirkan mu atau menomor duakan mu. Kau tetaplah nomor satu bagiku. Walaupun Milo sudah saya anggap sebagai sahabat terbaik saya, tetapi dia tidak bisa memiliki tempat pertama dihati saya, Hyoga. Karena bagi saya, kau adalah anak kesayangan saya. Jadi kau mengertikan, Hyoga?" jelas Camus panjang lebar kepada anak kesayangannya itu.

"Hiks hiks hiks hiks . . . Ayaaah . . ." dan saat itu juga tangis Hyoga pun pecah dan membalas pelukan Camus dengan sangat erat. Walaupun hal ini sangat kekanak-kanakan bagi para saint tetapi Hyoga tetaplah manusia kan? Dia juga punya hati dan juga perasaan. Lega rasanya Camus mengatakan hal itu. Beban yang akhir-akhir ini membebaninya akhirnya bisa terlepas.

"Hyoga-kun, Go-gomenasai (Ma-Maaf) . . . Wa-watashi wa (A-aku) . . " kata Hinata yang barusaja masuk dan menyaksikan kejadian tadi. "Iie. Daijyoubu desu (Tidak. Semuanya baik-baik saja)." Balas Hyoga yang sudah merasa baikan. "Hinata-chan, bisa kita berbicara?" lanjut Hyoga dan menyeret Hinata keluar kamar dan meninggalkan Camus seorang diri dan dengan senyum yang sangat tipis.

.

"A-ada apa, Hyoga-kun?" tanya Hinata

"Aku . . Ingin minta maaf atas kelakuan ku akhir-akhir ini kepada mu." Kata Hyoga menyesal

"Tidak apa-apa Hyoga-kun. Aku ju-juga pernahberada diposisimu. Ja-jadi aku paham ba-bagaimana perasaanmu." Kata Hinata lembut

"Oh ya! Apa kau sudah mengatakannya kepada Ayahku?" tanya Hyoga tiba-tiba yang membuat muka Hinata memunculkan semburat merah.

"A-Ayah? Maksud Hyoga-kun?" tanya Hinata yang berpura-pura tidak mengerti

"Jangan pura-pura tidak tau Hinata-chan! Ayolah tentu saja Camus!" kata Hyoga dengan mengacak-acak puncak kepala Hinata.

"Um . . . A-ano . . Etooo . ." kata Hinata yang kehilangan kata-katanya

"Ayolah aku yakin kau sudah mengatakannya. Bagaimana? Diterima?" tanya Hyoga yang teramat sangat penasaran.

"U-um . . A-a-aku sudah me-mengtakannya." Kata Hinata dengan nada yang sangat pelan dan tergagap-gagap

"Biar aku tebak. Pasti diterima kan?" tebak Hyoga yang semakin membuat wajah Hinata benar-benar memerah sempura.

"Da-darimana Hyoga-kun tau?"

"Tuh kan benar."

"Eeeh?!"

"Sudahlah Hinata. Tidak perlu berbohong lagi. Aku sudah tau bagaimana nantinya kok. Hehehe . . Selamat yaah~" kata Hyoga ceria dan jahil seperti biasanya.

"Hoi! Apa yang kalian bicarakan itu huh?" kata Camus yang bersandar didepan pintu kamar Hyoga dengan meminum coklat hangat yang tadi dia buat sebari menunggu Hyoga pulang. Astaga lihatlah kelakuan mu itu Camus~. Kau sudah membuat Hinata semakin merona melihat betapa kerennya pose dan wajah mu itu~.

"Hehehe . . . bukan sesuatu yang penting kok Ayah." Jawab Hyoga

"Dasar kalian ini . . " kata Camus meletakan gelas yang dipegangnya lalu menghampiri kedua orang yang sangat berarti dan peting baginya dan mengacak rambut mereka dengan sayang dan juga tak lupa senyuman tulus yang pertama kali dia tunjukan kepada orang lain –selain Milo yang sudah mengetahuinya lebih dahulu dibandingkan mereka tentunya.

~ The End ~

Halo Minna-san . . Saya kembali dengan menamatkan Fict ini nanodayo~#lompat-lompat.

Gomenasai lama untuk meng-upload ini dikarenakan tidak adanya ide yang lewat diotak ku QwQ. Dan baru seminggu yang lalu aku mendapat ide yang tepat untuk melanjutkan Fict ini dan baru selesai hari ini nanodayo.

Naruto : (baca cerita) APA-APA'AN INI? HINATA DENGAN SI MANUSIA ES INI? YANG BENAR SAJAAAA!

Hikari (Author) : Urusai (berisik) nanodayo!

Hinata : Na-Naruto-kun . . te-tenang saja ini cuman cerita kok.

Naruto : Enak saja! Tidak bisa! Kau itu pacarku Hinata!

Milo : Camus jadian dengan gadis pemaalu itu? Hah yang benar saja. Iya kan, Camus?

Camus : Terserah lah

Milo : Bagaimanapun kau tetap memilih ku kan~?

Camus : . . . . (cuek)

Milo : Caaamuuuss~

Hikari : Urusai! Urusai! Kalian semua keluar dari sini nanodayo!

.

Terimakasih sudah membaca . . .

Akhir kata . . .

R

E

V

I

E

W

Please~ . . . .