DON'T LIKE, DON'T READ
Title : BenCinta
Disclamer : Masashi Kishimoto
Warnings : OOC, AU, Typo (s), Miss typo, Cerita nyerempet ke teenlit campur nyinet, EYD agak kurang baku (untuk beberapa kalimat), Humor garing, Judul alay, dll
Maaf kalau jelek :)
Story by: Bii Akari
Dedicated for: Meong . nbuyung
Enjoy~
.
.
.
NORMAL POV
Tenten mengerucutkan bibirnya sebal, matanya langsung mengelana liar menghindari sepasang lavender milik Neji yang masih mengawasinya dalam diam. Pertanyaan sederhananya tadi masih digantung, dan Neji tetap bungkam bersabar menanti jawaban sang gadis—yang masih tampak enggan buka mulut.
Dua menit, Neji masih duduk kalem. Lima menit, Neji mulai berpikir mungkin Tenten segitu bingungnya hendak menjawab pertanyaan Neji dengan bagaimana sampai memakan durasi selama itu—pemuda tampan itu berdecak dalam hati, padahal ia hanya mengharapkan jawaban jujur dari Tenten.
Barulah setelah lima belas menit berlalu, Hyuuga muda itu sadar bahwa Tenten sedang mengacanginya—tanpa ada niat sama sekali untuk menjawab pertanyaannya. Lavender Neji menyipit, menyorot Tenten dengan pandangan curiga. "Kau mengabaikanku?" Dapat dilihatnya tubuh Tenten sempat menegang sesaat tadi sebelum berlagak rileks mengayun-ayunkan kakinya sambil bersiul sok asyik—kali ini berpura-pura tuli.
Habis sudah kesabaran Hyuuga Neji. Pemuda itu langsung bangkit dari duduknya seraya menuding Tenten tak santai dengan telunjuknya, "Apa maumu, hah?" Padahal Neji sudah berbaik hati mencoba gencatan senjata dengan Tenten, tapi gadis itu tak menanggapi niat baik berbasa-basinya tadi dan malah menghadiahinya tatapan menusuk yang menohok hati Neji.
Tenten menghentikan siulannya, ayunan kakinya pun tertahan sejenak. Tatapan manik hazel-nya yang biasa terlihat cerah kini tampak sedikit keruh—bodohnya Neji yang tak menyadari hal itu. "Kau hanya ingin mengejekku." Tenten mendengus, melempar wajahnya ke arah lain dengan angkuh.
Neji menggeram halus. Entah mengapa, jika sudah menyangkut tentang gadis bercepol dua itu, ia gampang sekali terbawa emosi—perasaan. Tangan kanannya yang semula teracung ke arah Tenten kini sudah kembali ke tempatnya. Berupaya menahan kesal, Neji pun kembali duduk di peraduannya—di pojok bangku taman yang sama dengan Tenten.
Hei, Neji tak merasa pertanyaannya tadi itu menyinggung Tenten—oke, sedikit saja, mungkin. Ah mungkin karena Tenten-nya saja yang terlalu sensitif. Yang penting 'kan Neji tidak bermaksud begitu? Mengapa Tenten seakan tidak peduli pada niat baik—tunggu, sejak kapan Neji berbuat baik pada Tenten? Ah, sudahlah! Intinya Tenten salah paham, Neji hanya ingin berbasa-basi saja, tapi berhubung dia sangat-sangat-sangat jarang membuka obrolan, dia jadi bingung sendiri harus berkata apa.
Diliriknya Tenten yang masih memasang pose sama—berlagak ngambek enggan menoleh menghadap Neji. Pemuda bersurai panjang itu tanpa sadar mengurut keningnya gemas, mulai frustasi menghadapi Tenten. Mengapa rasanya begitu sulit bahkan hanya untuk mengobrol normal dengan Tenten? Padahal Neji sebenarnya hanya ingin memberikan sesuatu.
Tenten menarik mundur bibirnya yang sempat monyong beberapa senti ke depan, pegal juga sebenarnya berlama-lama menoleh membelakangi Hyuuga Neji seperti ini. Leher Tenten akan terasa kaku jika dibiarkan lebih lama lagi. Tapi si Hyuuga masih diam di ujung sana, mana boleh Tenten menghiraukannya—Tenten masih punya harga diri.
Tapi lehernya?—Ah masa bodoh, sakit leher masih lebih baik ketimbang melihat tampang si Ketua OSIS itu!
"Oke, kau tak perlu menjawab pertanyaanku jika memang tak ingin." Neji membuka keheningan, Tenten mendengus tak sudi—masih dalam posisi yang sama.
Jelas saja Tenten tak ingin menjawab pertanyaan Neji yang terdengar lebih mirip dengan ejekan. Bilang saja kalau pemuda itu hanya ingin pamer kekalahan—mengingat Neji seharusnya sudah menang jika saja Hinata tidak roboh tepat di depan matanya.
Tenten mendumel dalam hati tiap ingat kejadian itu. Rasanya lebih baik ia kalah saja daripada harus menang dengan cara seperti itu. Ia terlihat bagai seorang pecundang sejati—mata Tenten mulai memanas lagi mengenang rasa kesalnya kala Hyuuga Neji mengalihkan lavender-nya saat tengah bertarung sengit dengan dirinya. Perasaannya memang sedang sensitif sekarang ini dan Neji malah datang memperkeruh suasana hatinya. Tenten berkedip cepat, berupaya mengusir cairan di matanya yang mulai terasa lembab.
Sementara itu, Neji masih bertahan di tempatnya. Ia sudah bisa mengendalikan emosinya, tapi ia masih bingung harus memulai semuanya dari mana. Bingung harus melontarkan kata mana terlebih dahulu? Langsung berterus terang saja atau pura-pura mengalihkan pembicaraan dulu ke hal lain yang menjurus ke inti pembicaraannya—kira-kira Tenten suka yang mana?
Neji sedikit menunduk, memperdalam proses pemikiran matangnya—yang sudah hampir membuat leher Tenten patah karena terlalu lama memakan waktu. Gengsi, gadis itu belum mau mengembalikan lehernya dalam posisi normal sebelum Neji kembali buka mulut.
Tenten tetap keras kepala menyiksa lehernya, ogah-ogahan melirik Neji barang sedetik pun—lagipula matanya masih sembab. Neji termenung, tampak sedikit gelisah di balik raut seriusnya. Oke, mereka tampak bagaikan pasangan kekasih yang sedang saling ngambek sekarang—siapapun yang melihat ini pasti akan berpikir demikian.
Akhirnya, setelah memantapkan hati, Neji pun angkat bicara. "Aku hany—"
"Neji-senpai," Tenten memotong, masih dalam pose yang sama. Neji pun melirik, mengalah demi menunggu kalimat Tenten selanjutnya. "To-tolong, leherku tidak bisa kugerakkan."
Mati-matian Neji menahan tawanya.
.
Senja kala itu berlembayung jingga yang indah. Dengan sedikit horizon tipis-tipis awan yang membelah langit, membuat angkasa tampak berkali lipat lebih luas ketimbang biasanya.
Matahari sudah nyaris lenyap dari ufuk barat ketika Tenten memasuki kediamannya dengan langkah brutal. Tas ransel kremnya langsung ia lempar sembarangan saat tubuhnya ia buang begitu saja di atas ranjangnya yang empuk. Wajah gadis itu kini merah padam, entah karena menahan kesal atau sesak karena sejak tadi ia keukuh menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Napasnya terputus-putus, mulai lelah akan aktivitas kakinya yang terus-menerus menghentak menendang-nendang udara kosong di bawahnya—berupaya melampiaskan perasaannya.
Gadis itu langsung membalik punggungnya dengan sekali coba begitu dirasanya sudah puas menyiksa diri sendiri dalam posisi nunggingnya tadi. Mata coklatnya menatap langit-langit kamarnya dengan seksama. Wajahnya masih merona, napasnya pun ikut memburu berlomba-lomba meraup oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya. Sepasang kaki dan tangannya ia rentangkan begitu saja di sisi tubuhnya. Angannya bergerilya, menyusun ulang hal-hal menyebalkan apa saja yang telah terjadi pada hidupnya hari ini.
Pertama, melihat Rock Lee berduaan dengan Haruno Sakura—Tenten memutar bola matanya kesal, ia tak ingin peduli lagi pada pemuda berambut bob itu meski hatinya masih sulit menerima kenyataan. Sekali menggeleng, Tenten berupaya keras mengusir perasaan menyesakkan itu dari dadanya. Kedua, bertemu dengan Hyuuga Neji—bibirnya mengerucut lucu lagi. Ketiga, mengobrol dengan Hyuuga Neji—Tenten terkikik—oke, mungkin tak bisa disebut mengobrol juga, sebenarnya. Keempat, mempermalukan diri di depan Hyuuga Neji—telapak tangannya spontan menutup wajahnya yang merona, mengingat betapa memalukannya dirinya tadi. Kelima, pulang bareng Hyuuga Neji. Tolong garis bawahi kata 'bareng', kalau perlu di-bold dan italic sekalian, biar semua orang tahu betapa gregetnya itu!
Tenten menjerit tertahan, wajahnya makin merona saja jika mengingat 'insiden leher tergilir'nya tadi yang malah membuat Hyuuga Neji memaksa untuk mengantarnya sampai di depan rumah dengan motor sport kerennya! Ini sangat-sangat-sangat memalukan—sekaligus mendebarkan—bagi Tenten. Rasanya seperti bertemu dengan anjing puddle lucu di jalan yang hendak menggigit jarimu ketika kau mendekatkan diri ingin mengelus bulunya yang menggemaskan. Tapi kau berhasil menghindar, dan anjing itu melompat-lompat lucu di hadapanmu—oke, ini perumpamaan yang aneh.
"—Ten? TENTEN?!" Setengah berteriak, wanita bermata sipit itu kini mengamati Tenten dengan tangan yang dilipat di depan dada. Ada yang tak beres dengan anak semata wayangnya itu, lihat saja ranjangnya yang berantakan dan ekspresi entah-disebut-apa-itu anaknya yang terlalu sulit dideskripsikan dengan kata-kata. "Kau baik-baik saja?"
Tenten langsung mengangguk semangat, berusaha tersenyum sebiasa mungkin agar tak membuat wanita di ambang pintu itu berpikir macam-macam tentang dirinya—dan semoga saja ia tak melihat siapa gerangan pemuda yang mengantarnya pulang ke rumah lima menit yang lalu.
"A-aku hanya ...," Tenten mulai mencari-cari alasan. "Kesal." Satu kata tak terduga meluncur dari bibirnya begitu siluet Hyuuga Neji melintas di kepalanya. Wanita bercelemek kotak-kotak itu menatap Tenten heran, masih menunggu penjelasan lebih lanjut. "E-etto, itu t-tadi ... ada mata pelajaran yang tak kusukai, tapi aku berhasil menyelesaikan soalnya dan," kalimatnya menggantung, tatapan penasaran masih menghujatnya. "Aku rasa dia—maksudku, pelajaran itu, hehe—tidak begitu buruk." Seulas senyum manis terukir, membuat sang Ibu merasa lega—tampaknya Tenten tidak berbohong.
Wanita berambut gelap itupun tersenyum maklum, membuat mata sipitnya semakin sipit saja akibat pipi tembemnya yang terangkat naik—merespon kurva yang dibentuk oleh bibirnya. Wanita itu kemudian berlalu sambil berujar, "Ahya, lain kali, ajak temanmu singgah makan malam dulu di rumah sebelum pulang. Ibu tidak pernah mengajarimu membiarkan temanmu pergi begitu saja setelah repot-repot mengantarmu ke rumah."
Rahang Tenten mencelos menampar lantai tanpa persiapan.
.
Hyuuga Neji duduk tenang di tepi ranjangnya. Dari jendela besar di sisi kamarnya, ia dapat melihat dengan jelas ratusan—Neji mulai lebay—bintang yang bertaburan di atas kanvas gelap langit malam ini. Tak ada bulan, hanya bintang-bintang yang berkerlap-kerlip menggoda saja.
Malam sudah semakin larut, namun pemuda Hyuuga itu masih belum bisa tidur. Diliriknya seisi kamarnya yang rapih, barang-barangnya tertata tepat pada tempatnya, kecuali sebuah gitar yan—tunggu. Neji menatap gitar berstiker ramen—yang terlihat norak—itu dengan seksama. Sejak kapan ada gitar di kamarnya? Barulah sedetik kemudian ia tersadar, Naruto pasti tak sengaja meninggalkannya sewaktu berkunjung di sana beberapa hari yang lalu.
Di malam yang sesunyi ini, Neji sendiri, tiada yang menemani~ Loh? Kok terdengar seperti lirik lagu, ya? Mendadak Neji jadi ingin bernyanyi jadinya. Tanpa pikir panjang, Neji langsung meraih gitar Naruto. Smirk tampannya terpeta, padahal jelas sekali ia tak tahu cara bermain gitar. Batinnya menyemangati—ah kau ini jenius, pasti nanti langsung tahu, jreng saja dulu—begitu si pemuda nyaris tak jadi melepaskan hasrat bernyanyinya.
Dengan gaya sok ganteng, Neji memutar-mutar kuncian pada senar gitarnya—hendak mengeratkan karena dirasanya agak longgar, sesungguhnya. Namun, siapa kira, Neji malah keasyikan dan—
TUING
—memutarnya terlalu kencang.
Senar gitarnya putus. Neji tak jadi menyanyi.
Aduh, padahal—entah bagaimana—Neji lagi kebelet menyanyi. Sudahlah, kalau begini tak ada gunanya gitar Naruto ada di sini. Dengan seenak dengkul mbahnya, Neji langsung memasukkan gitar kesayangan Naruto ke bawah ranjangnya—tak peduli pada kenyataan bahwa ia sendirilah yang telah merusak gitar si Pirang yang dieluk-elukkan sebagai calon pacar adiknya itu.
Huh, mengingat tentang Hinata membuat Neji teringat pada pertandingan kendo-nya dengan Tenten. Neji tak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Tenten petang tadi, sebab gadis itu mendadak bersikap kekanak-kanakan di depannya—sst, Neji tak sadar bahwa ia juga sempat salah tingkah sejenak.
By the way, kira-kira Tenten sedang apa sekarang, ya?—TIDAAAAAAK!
Hyuuga Neji melotot tak percaya, rambutnya nyaris ia jambak frustasi.
MENGAPA PULA AKU REPOT-REPOT MEMIKIRKAN ITU!—batinnya heboh. Tentu saja ia tak boleh berteriak betulan, atau ayahnya akan datang dan memenggal kepalanya saat itu juga karena telah mempermalukan martabat Hyuuga.
Belum sempat menenangkan diri lebih lanjut, mendadak suara debaman langkah di lantai kayu koridor kamar Neji menyentak kesadaran laki-laki itu dari khayalan ngaconya. Cepat-cepat Neji melompat ke ranjangnya dan menarik selimutnya sebatas dagu.
CKLEK
Pintu terbuka. Seorang pria berperawakan tenang dengan rambut panjang menjuntai indah—yang tak satu helai pun ada ubannya padahal ia telah berumur—berdiri di ambang pintu.
Neji menutup matanya paksa, berusaha membuat wajahnya terlihat sedamai mungkin agar sang ayah berpikir ia telah tertidur pulas—padahal ekspresinya justru terlihat horror karena terlalu dipaksakan.
Hizashi mengembuskan napas pelan, ia menimbang-nimbang sejenak keputusannya di mulut pintu—masih dengan tangan yang bersandar pada kenop pintu kamar Neji. Kasihan juga sebenarnya ia pada anak itu, wajahnya terlihat aneh sekali, mungkin sedang mimpi buruk—pikir Hizashi. Tapi, Neji sudah besar, ia harus bisa menghadapi mimpi buruknya sendiri. Hizashi mengangguk mantap. Lagipula ia datang kemari karena tadi—somehow—dia seperti mendengar jeritan hati Hyuuga Neji yang teramat pilu tak tertolong. Khawatir, buru-buru ia ke sana. Namun, yang didapatinya adalah sosok Neji yang tertidur—plus bermimpi buruk. Mimpi hanya mimpi. Apapun itu, Neji harus bisa menghadapinya sendiri.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Hizashi langsung menutup pintu Neji dan berlalu dari sana—membuat Neji berbangga diri atas aktingnya yang terlihat sempurna dan benar-benar alamiah. Padahal—ah sudalah.
.
.
Mentari bersinar terik. Meski kerjanya sendiri, tapi hangat sinarnya ampuh membuat manusia-manusia yang berada di bawah naungannya merasa gerah. Tak terkecuali Tenten—gadis bercepol dua yang sibuk menjilat es krim vanilanya sembari berjalan pulang bersama beberapa teman perempuannya. Tenten sengaja tak menunggu Lee selesai dengan serentetan latihan gilanya karena sekarang ia sedang dalam fase move on dari lelaki tak peka itu.
Ah sudahlah, mengingat-ingat Lee membuat Tenten jadi panas luar dalam—flashback LeeSaku terputar kembali menghantui kepalanya.
"Kau tak apa-apa, Tenten?" Seorang gadis berambut hitam sebahu menepuk pelan pundak Tenten, mengabaikan sementara es krim coklatnya yang sudah mulai meleleh akibat cuaca yang panas.
Tenten menggeleng kuat-kuat, sekalian mengusir fantasinya yang berlebihan tentang hint LeeSaku di dalam kepalanya. "Aku tak apa-apa," jawabnya lekas, dilanjut dengan cengiran lebarnya.
Mereka pun melanjutkan langkah menuju ke luar gerbang sambil berceloteh ringan. Saat topik sedang seru-serunya membahas tentang kepopuleran Uchiha Sasuke, seorang gadis mendadak nyeletuk, "Ehiya, Tenten-chan tumben pulang dengan kita hari ini." Teman-temannya yang lain mulai berpikir hal yang serupa, membuat mood Tenten mendadak memburuk. "Lee-senpai ke mana?"
Tenten tak menjawab, gadis itu terus saja berjalan sambil menjilati es krimnya dengan wajah tertekuk—jelas tampak keberatan dengan pertanyaan salah satu teman sekelasnya tadi.
Belum menyerah, gadis bernama Matsuri itu buru-buru mengejar langkah Tenten dan kembali bertanya kepo—lagi. "Hubungan kalian sudah berakhir ya?"
Gadis-gadis yang lain ikut memburu langkah, menyejajarkan diri di samping Matsuri.
"Benarkah itu, Tenten-san?"
"Kok bisa?"
"Cerita dong~"
"Atau jangan-jangan Lee-senpai suda—"
"Aku dengar Lee-senpai dekat dengan Sa—"
"URUSAI!" Tenten berteriak kesal, emosinya sudah sampai di ubun-ubun. Topik tentang dirinya dan Lee benar-benar membuat Tenten merasa tidak nyaman. Padahal dia sudah mencoba menjaga jarak dengan Lee, tak tahunya sekarang malah terjebak di tengah topik tentang laki-laki penggemar warna hijau tersebut—menyebalkan sekali.
Usai menarik napas panjang, Tenten pun berbalik dengan sekali hentak. Ia tatap wajah kaget teman-temannya sambil mencengkram kerupuk es krimnya di tangan kanannya. "Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Lee-senpai," akunya jujur.
Hening sesaat. Para gadis itu memang terdiam, tapi tatapan mereka jelas-jelas menunjukkan betapa tak puasnya mereka dengan jawaban Tenten. Matsuri bahkan mengirim tatapan lalu-mengapa-kalian-terlihat-sangat-akrab-selama-ini kepada Tenten yang masih membisu.
"Kami 'kan bertetangga. Lagipula, kami sudah bersahabat sejak keci—"
Saat itulah Hyuuga Neji lewat, membuat waktu terasa melambat—sebab tak hanya Tenten yang menatap salah satu dari most wanted person di sekolah itu dengan tatapan terpana. Hei, Tenten juga gadis normal yang tertarik pada laki-laki tampan!—ups. Lagipula, kemarin Hyuuga Neji telah berbuat baik padanya, rasanya wajar saja jika Tenten meras—tunggu, sejak kapan senpai paling jahat itu berbuat baik padanya?
Tenten menjerit konyol dalam hati, menyesali dirinya yang terlambat menyadari kelakuan aneh (baik) si Hyuuga itu padanya. Angan-angan ilusi tentang Neji dengan smirk tampannya yang berkata 'Hai, Tenten~' sambil berkedip nakal di atas motornya dengan pose keren dan dua kancing teratas kemejanya yang terbu—heh? Khayalanmu nista sekali, Tenten!
SWING
Hyuuga Neji sudah lewat, diekori Naruto di belakangnya yang masih merengek-rengek entah minta apa pada Neji.
Detik kembali berjalan. Tenten berkedip dua kali.
"—il."
Dan tak ada yang menyadari butuh interval berapa lama sampai dua biji huruf terakhir dari ujung kalimat Tenten tadi untuk bisa keluar dari celah bibirnya yang terbuka. Ah, sudahlah~
.
Jangan bodoh. Hyuuga Neji tidak buta—jelas, ia punya sepasang mata indah yang menyempurnakannya. Ia pun tidak tuli—pasti, telinganya masih berfungsi dengan baik sewaktu dirinya tanpa sengaja mendengar kalimat Tenten tadi.
"Kami 'kan bertetangga. Lagipula kami sudah bersahabat sejak kecil."
Bagus untukmu, Tenten—batin Neji puas. Lee dan Tenteng sama sekali bukan perpaduan yang cocok—menurut Neji. Melihat dua orang yang tak disukainya bersama menimbulkan sensasi yang sangat tak disukai Neji. Neji mengerti konsepnya. Sederhananya, jika kau menambahkan sambal extra hot di atas sambal pedas biasa, maka makananmu pasti akan terasa jauh lebih pedas. Intinya—begitulah, kalian seharusnya mengerti.
"—Ji? Neji?" Naruto masih memanggil, berusaha mengembalikan kesadaran Neji ke bumi. Tapi tampaknya belum berhasil, melihat ekspresi Hyuuga muda itu yang masih senyum-senyum absurd sejak tadi.
"WOI NEJIIIIII!" Naruto mengaum ganas, tepat di telinga kanan Neji—yang langsung sukses membuatnya budek dadakan.
TSIIIIIIIIING
Telinganya terasa berdengung dan kehilangan fungsinya sekarang. Sementara, si Blonde malah mencak-mencak dengan wajah masam bahkan nyaris gelindingan ganas di atas ranjang Neji—beruntung cepat ditahan oleh sang empunya sebelum aksi unjuk rasa Naruto benar-benar terjadi.
Naruto menekuk bibirnya sebal. Neji tak tahu saja, rasanya dicuekin tuh, sakitnya di sini~ Rasanya Naruto benar-benar ingin teriak frustasi seperti itu, tapi ditahan-tahannya demi menjaga nama baik Uzumaki dan jabatan ketua club kendo yang disandangnya—padahal tak lama lagi ia sudah pensiun.
Begitu pendengarannya sudah cukup baik, Neji lekas-lekas melepas tangannya dari tangan Naruto sebelum ada yang masuk di kamarnya dan mulai berpikir yang tidak-tidak tentang mereka berdua—yang saling tatap intens di dekat ranjang.
"Apa maumu?"
JADI SEJAK TADI DIA TIDAK DENGAR?—teriak Naruto penuh amarah, dalam hati tentunya. Naruto sebenarnya hendak memprotes lagi, tapi berhubung itu tak ada gunanya dan hanya membuang-buang waktu, jadi pemuda pirang itu mencoba bicara baik-baik. "Gitarku."
Neji mengangguk, "Aa, gitarm—apa? Gitarmu?" Neji mendelik dalam hati. Mulai merasa was-was. Gawat, gitar Naruto 'kan tanpa sengaja ia rusak semalam.
Naruto memutar bola matanya bosan. "Iya, gitarku yang tertinggal di rumahmu minggu lalu. Kau meletakkannya di mana?"
Mampuslah dikau, Neji. Ingin jujur, tapi tak enak hati. Mau disimpan di mana harga diri Neji jika ia ketahuan mencoba memainkan gitar Naruto sampai senarnya putus segala? Ini memalukan. Neji memutar otak, berusaha mencari jalan damai dengan Naruto tanpa harus menjatuhkan harga dirinya yang tinggi itu.
Berbohong saja, bagaimana?
Tidak, Neji tidak dibesarkan untuk menjadi pembohong. Didikan keluarganya sangat disiplin, ia tak boleh berdusta kepada orang lain. Hanya orang-orang rendahan yang berbohong—apalagi pada temannya sendiri. Cih, Neji bukan orang seperti itu.
"Neji?" Naruto menatap laki-laki di hadapannya dengan penuh selidik. Iris shappire-nya mengamati si Lavender dengan tajam, begitu melihat gelagat Neji yang mulai mencurigakan.
Tak ada jawaban, Neji hanya menggumam datar, "Hn," sambil berusaha menjaga image cool-nya.
Habis sudah kesabaran si Maniak Ramen.
"HN APANYA, HAH? KAU KEMANAKAN GITAR KESAYANGANKU?"
Dan cekikan maut Naruto seolah mampu mengakhiri hidup Neji detik itu juga.
.
.
.
TBC
Author's line:
Berakhir dengan gajenya :v Lagi webe, dipaksain nulis, kangen NejiTen, jadinyaa-ahsudahlah :v hint NejiTen udah bertebaran, anggap fanservice aja, karna banyak yang depresi akibat LeeTen chap kemarin :'3 #digoreng
MAAAAAAAP BERIBU MAAP BARU SEMPET APDET ;_; #gelindingandiranjangNeji
Saya sibuk mulu di RL, pas udah libur eh mendadak webe :'( #dicekek
Protesnya ntar di kolom review yaa, saya mau balas-balas review dulu :v #disepak
fire at winter: Entahlah, Neji masih bingung sebenarnya. Milih Pantene atau Tresemme :3 #woi Iyaaa~ sesekali bikin Lee bahagia kan gapapa ihi :v temenmu naksir Lee? *O* Kayaknya Sasuke bakal muncul, plotnya masih rush banget soalnya. Saya nulis sekenanya saja, spontan~ karna memang fic ini belum jelas endingnya gimana wkwkwk :v #silakancekeksaya
Subarashii Shinju: *ikut merentangkan tangan* #yogabu? wkwkwk entah abang ayam bakal dimunculin atau gak, liat mood (?) nanti ajadeh :v #diinjek iyeiye, dia mau mup on, tapi tau sendirilah~ anak sekolah kan selalu diajar mengingat, bukan melupakan, jadi susah :v #eeaak kayaknya saya gak perlu jawab lagi :v #bukabaju #ehgakding atau mungkin berakhir dengan LeeIndah :v :v #ciyee minggu depan? iyaa, ini minggu depan tepat sebelas bulan yang lalu :v #kabur
Hima Maa: iyaa, naksir berat malah 3 #disepak slight mereka kayaknya bakal diakhir doang, liat ntar aja deh, mmas wkwk :v #dianyabingungjuga Neji tsuntsun imut, dia gak nyadar juga :''3 #peyukabang
lullabie: gimana? butuh keajaiban kayaknya biar mereka jatuh cinta wkwkwk :v apdet XD
Queennara: minta ke Oro aja, Nar :v tapi awas ntar dipedoin :3 #lirikOro lohloh? gapapalaaah sesekali Lee ada yang naksir :''3 lagian saya sempet merasakan hint mereka pasca kematian bbang Neji T^T #cekekLee #salahwoi Ini lama gak? :3 #senyumanis saya gak bisa ngetag, maap~ jaringan oh jaringan ;_; btw, si Rin amanaman aja di pelukanku, jangan ngimpi yaa :3
Fumiyo Nakayama: kamu ganti penname? :O #barunyadar btw, disini bbang Neji saya nistain banget yak? wakakak :v abis imejnya terlalu bagus di chapter kemarin-kemarin, nista dikit gapapa dong? :3 #kedipnakal pelis kenapa gak ada yang ngebela Lee? ;_; #menangisinasibLee #dihajarLeefg liat aja ntar, saya akan berusaha maksimal X3 btw, itu 'alis menukik naik' kan artinya dia heran? heran aja gitu, anak baru tapi udah deket ama Lee (Neji kan belom tau mereka deket) :v tangan terkepal? itu ada sesuatunyaa wkwk :v
sasa-hime: doain Tenten bisa cepet mup on doong T3T #authortakbertanggungjawab
Mina Jasmine: iyaa, boleh banget kok, Min X3 makasiiih 3 tau dari manaa? pas publish sih emang masih SMA, tapi sekarang udah kuliah hampir semester 3 wkwkwk :v #kelamaangakapdet virus cintanya Neji emang absurd, buruan buatin vaksinnya, Min wkwkwk :v #dipelototiNeji wkwkwkwk itu pesannya nohok banget di bagian 'kelainan genetik' nya :''3 #pukpukLee ini udah panjaaaang kan? menebus waktu panjaaaang saya gak apdetapdet :v #gakcukupwooi
Rara Takanashi: makasiiih udah repot-repot :'( ini keluar, tapi lama banget yaak :'''3 #kicked
Mega dwi: lanjuuuut ^^
meong . nbuyung: iyaa, jadi mahasiswa itu rasanya ternyata giniyaa :'') #meratapinasib tampooool aja o #dibyakugan aamiinaamiinaamiin~ makasih :3
Uchiha Sakura: at least, Neji belom ngomong apa yang mau dia omongin :"3 #prayforNeji
Haqqu Asslamtu: aa bisaaja, diksiku masih ngaco kok :'3 apdet ^^
Himemiya Hyuuga: Neji belom ngomong hal yang mau dia omongin :'v maybe the next (or next or next-) chapter can answer your question :3 #ditimpuksendal Apdet ^^
Namikazuki Demeter: Nahkaan, saya juga suka nistain cowok-cowok kece macam Neji atau si Sasucake :v :v #dihajarparafg salakanlah imej mereka yang terlalu sempurna yang membuatku ingin menjadikan mereka sedikit cacat mental (absurd :v) #dibakaridupidup
Guest: sesungguhnya saya juga sulit terima, tapi yaa mau gimana lagi ToT
Natsumi Kyoko: apdet ^^
yoshikohamano: kapan-kapan :v #dihajar apdet ^^
Alia Shaza: makasih :3 apdet ^^
BTW, saya gak apdetnya ampir setaun yaa? :'3 Apa masih ada yang nunggu fic ini apdet? saya ragu :'''v #makanyajanganhiatusmulu
Oke, sekarang udah boleh protes~ kotak reviewnya ada di bagian bawah, setelah selesai menumpahkan keluh kesahnya, tekan 'post review' yaaa :3
Arigatou :)
