Chapter 3
JL chan kawa : Hahah... namanya juga Sting... XD. Makasih supportnya! Tetep support Sticy ya! Maap telat banget updatenya..T^T. Enjoy! :D
Erin-chan : Ah, Lucy diapa-apain juga kayanya tetep baik yah? Begitulah Lucy. Harap diterima..wkwkw.. Maap telat banget updatenya..T^T. Enjoy! :D
Himiki-chan : Hello! #high five. Sticy celamanyah! Hehehe XD. Semuanya pada bilang Sting mesum.. hahaha... Makasih! Maap telat banget updatenya..T^T. Enjoy! :D
Mako-chan : Ia donk, Sting bisa romantis donk. Hihii XD. Rate M? Waow O_O belum terpikir. Mungkin bisa dipikirkan...:D Tetep support Sticy ya! Maap telat banget updatenya..T^T. Enjoy! :D
StingyBee : Ane juga pengen digombalin XD Tetep support Sticy ya! Maap telat banget updatenya..T^T. Enjoy! :D
Naachan : Hai! Mungkin... bisa jadi... hihihi... Tetep support Sticy ya! Maap telat banget updatenya..T^T. Enjoy! :D
Sarah Brown : Forever! Uhm... mungkin saja ada, tapi harus ada biar ga bosen! Mungkin Jellal? #nosebleed. Tetep support Sticy ya! Maap telat banget updatenya..T^T. Enjoy! :D
Akai Hito : Hai hai! Ayo merapat ke sini kalo Sticy XD. Waow! Makasi sampe baca berkali-kali! XD Tetep support Sticy ya! Maap telat banget updatenya..T^T. Enjoy! :D
Regina Moccha : Hai! Tenang aja pasti ketahuan kok #lho?. Nggak afdol kalo aman-aman aja...hihihi... iaaa masih dikit #nangis gulung-gulung T^T. Tetep support Sticy ya! Maap telat banget updatenya..T^T. Enjoy! :D
The 1st Witnesses
Reminder
'Aku rasa, ini akan menjadi memori pertama antara aku dan Sting…'
Ia menutup matanya dan dengan segera terbawa ke alam mimpi ditemani dengan rasa hangat di sekujur tubuhnya. Tanpa ia ketahui, Sting yang juga sudah terbawa ke dalam mimpi, terus tersenyum di dalam tidurnya.
"Bangun!"
Hening.
"Bangun!"
Terdengar lenguhan pelan, otot-otot saling meregang, dan kembali hening.
"Demi segala sesuatu yang bersaudara dengan kebo, bangun!" bisiknya dengan putus asa. Tangannya dengan kasar mengguncang-guncang sosok yang terlelap seperti mayat.
"Serius, ini orang tidur atau mati sih?" gerutunya. Tangannya menggaruk-garuk kepalanya dengan frustasi. Ia melirik sosok yang tengah terbaring di sampingnya. Nafasnya teratur dan pelan, bibirnya yang merona merah, sedikit merekah. Rambutnya berantakan. Fokus pandangannya teralih ke dada sosok itu. Naik. Turun. Naik. Turun. Ia bisa merasakan wajahnya tiba-tiba menghangat dan ia bisa merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya. Tangannya meraih hidungnya dan saat ia mengangkat tangannya, ia melihat darah melumuri tangannya.
"Duh! Pake mimisan... sialan banget sih..." gerutunya.
-Dok! Dok! Dok!-
"Lucy!"
"Ah! Sialan!" umpatnya setengah berbisik. Dengan panik, ia membereskan barang-barang dan pakaian yang berserakan di lantai.
"Lucy! Kau bisa mendengarku?! Lucy!" ketukan di pintu terdengar semakin menyeramkan.
"Bangun! Oi!" bisiknya di telinga sosok itu. Ia memandang sekeliling berusaha menemukan sesuatu yang bisa membangunkan sosok itu.
"LUCY! Jika kau tidak segera membuka pintu, aku akan mendobrak masuk dan mencincangmu hidup-hidup!" mendengar ancaman itu, bulu kuduknya berdiri dan kepanikan mulai mencekiknya.
"Bangun!" sosok itu tidak bergeming. Ia mengerang dengan frustasi. Tiba-tiba suatu ide terlintas di kepalanya.
"Lucy, kuhitung sampai 10, jika tidak kau buka, kau akan menemui ajalmu!" ancam orang di balik pintu itu.
"Kamfret! Kalau kita masih hidup setelah ini, benar-benar keajaiban." bisiknya.
"Oke! Kau memilih untuk menemui ajalmu Lucy. Satu!" ia mengerang untuk kedua kalinya pada pagi ini.
"Dua!"
"Sekarang atau tidak sama sekali."
"Tiga!" ia mendekatkan bibirnya pada leher sosok itu dan perlahan menciumnya, meninggalkan jejak saliva di kulit sosok itu.
"Empat!" sosok itu menggeliat dan matanya perlahan mengerjap-ngerjap. Melihat korbannya sudah mulai sadar, ia dengan ganas mencium lagi leher sosok itu dan meneruskannya hingga ke pipi.
"Lima!"
"Apa ya-"
"Wake up or... I'll rape you!" ia bisa merasakan sosok yang didepannya menegang.
"Enam!" akhirnya mata itu terbuka lebar setelah menyadari arti dari ucapan yang baru saja didengar. Sosok itu menatapnya dengan berbagai macam emosi yang terperangkap di balik ke dua bola matanya.
"A-hmmphh!" sebuah telapak tangan dengan cepat membekap mulut sosok itu dan memelototinya dengan raut wajah panik
"Tujuh!" Kedua kepala itu segera mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu yang ramai dengan teriakan dan ketukan penuh amarah.
"Lakukan apa yang seharusnya dilakukan!" tangan itu terlepas dari mulut sosok itu.
"Delapan! Lucy, kau mengharapkan sesuatu yang buruk!" Dari luar, sosok di balik pintu itu mendengar suara gaduh dan pekikan-pekikan kecil.
"Sembilan! Kau tidak menyembunyikan sesuatu 'kan Lucy?!" ketukan yang tidak manusiawi, terdengar semakin keras dan brutal.
"Sembilan setengah!"
"Tarik nafas, hembuskan, menguap lebar, gosok-gosok mata... Ugh, aku harap semuanya baik-baik saja.." gumam Lucy yang tengah menata tampilannya.
"SEPU-"
-Cklek-
"Oaaahhhhmm..." pintu terbuka lebar, menampakkan sesosok gadis cantik dengan rambut pirang yang berantakan dan kusut di sana-sini, dengan mata yang masih merona merah, gaun tidurnya terlihat kusut. Ia menguap lebar dan meregangkan otot-otot tangannya lalu bersandar dengan malas pada kusen pintu.
"Pa-Oaahmm-gi... Tacik ku sayang..."
"Lucy...?"
"Yaaa..."
"Apa itu darah di hidungmu?" mendengar pertanyaan dari Tacik, sontak ekpresi malas lucy tergantikan dengan ketegangan dan kepanikan. Tangannya mengusap hidung mungilnya dan mendapati jejak darah yang mulai mengering.
"Apa yang terjadi?" selidik Tacik Erza. Matanya yang tajam mengintip ke arah belakang tubuh Lucy dan mendapati ruangan yang sedikit berantakan, buku-buku berserakan di lantai, dan terlihat sebuah buntalan besar di lantai.
"Ugh, uhmm... ya, aku baru saja mimisan. Mungkin suhu yang terlalu dingin membuat pembuluh darah hidungku pecah. Ya! Tadi malam dingin sekali." Jelas Lucy sambil saling menggosok-gosokkan kedua tangannya yang terasa membeku. "Ada apa, Tacik? Nggak biasanya, kamu mengetuk pintu seperti ini..." lanjutnya.
"Ini sudah pukul satu siang, adikku sayang. Bisa kamu bayangkan betapa paniknya setiap orang yang menggedor pintu kamarmu dan nggak mendapatkan jawaban sama sekali?" tanya Rambut Tomat itu dengan sedikit jengkel. Bulu kuduk Lucy berdiri, mendapati kenyataan bahwa setiap orang telah berusaha membangunkannya sedari pagi.
"Mengenai itu... aku minta maaf!" serunya seraya membungkukkan badan berulang kali. "Aku kelelahan dan mungkin terlalu menikmati perjalanan ini. Maafkan aku, aku akan segera bersiap-siap dan berkumpul dengan kalian segera."
"Oke, cepat. Yang lain sudah menunggu untuk makan siang bersama. Ngomong-ngomong Lucy, itu buntalan apa ya?" tanya Tacik. Jarinya menunjuk pada satu buntalan besar yang teronggok di depan lemari pakaian.
"Ah! Itu untuk aku berlatih. Kamu tahu'kan, aku nggak seberapa kuat dalam adu fisik, jadi aku membawanya untuk membantuku dalam melakukan latihan fisik." Jelas Lucy dengan senyuman yang ia paksakan. Pemilik rambut merah itu, mengangguk-anggukan kepalanya dan menerobos masuk.
"T-ta-tacik! Ka-kamu mau apa?" yang dipanggil segera menoleh dan memandang Lucy dengan penuh keheranan. "Aku mau melihat-lihat. Kelihatannya, aku bisa meminjamnya saat waktu senggang. Boleh aku mencobanya?" wajah kusam Lucy mendadak berubah menjadi pucat pasi.
'Kalau aku menolak permintaan Tacik, bisa-bisa ia malah mengamuk dan kalap. Yang ada, aku dan Sting bakal mati muda. Ughh... nggak mauuuu.." keluh Lucy di dalam hatinya.
"Lucy?"
"Eh, ya, silahkan, aku akan bersiap-siap kalau begitu."
'Huaa... maafkan aku Sting..." rengeknya dalam hati. Tacik Erza tersenyum puas dan segera meraih buntalan besar itu dan mendirikannya lalu menyandarkannya pada lemari. Ia mengusap-ngusap kain pelapisnya dan dengan satu tarikan nafas panjang, ia melesakkan tinju mematikan miliknya ke buntalan itu.
-Oof!- -"Ugh..."-
Terdengar desah nafas yang tercekat. Lucy membelalakkan matanya menyaksikan kebrutalan Tacik.
"Tacik!"
"Ya?" tangan Tacik yang telah mengepal dan siap melayangkan tinjuan, terhenti.
"K-k-kamu, kamu nggak merasakan sesuatu yang aneh dengan samsak tinju itu?" tanya Lucy dengan hati-hati. Ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan pada Tacik Erza. Wanita di depannya termenung sejenak dan jari telunjuknya memain-mainkan ujung rambutnya.
"Setelah kamu bilang, aku merakan hal yang aneh. Samsak ini terlalu lembek dan aku merasakan beberapa bagian yang seperti... uhm, aku tidak bisa menjelaskannya. Kamu mau memakainya sekarang?" kepanikan mendera Lucy. Ia harus bersikap normal dan menerima tawaran.
"Eh, uhm... Ya." gumamnya. Ia mendekati buntalan itu dan dengan wajah penuh penyesalan, ia mengepalkan tangannya dan sebelum ia melayangkan tinjunya, ia membisikkan kata-kata maaf yang hanya bisa didengar olehnya. Koreksi, bisa didengar juga oleh Sting dengan pendengarannya yang sensitif.
-BUAKH!- -Oof!- -"Ergh..."- Tiba-tiba Tacik menahan pergelangan tangan Lucy dan menariknya mendekat. Terdengar suara geraman di ruangan tersebut.
"Lucy, kamu mendengarnya?" tentu saja ia mendengarnya.
"Mendengar? Emangnya ada suara apa?" tanya Lucy dengan wajah polos. "Seperti suara geraman. Kau yakin di kamar ini hanya ada kita berdua?"
"Uhm, ya. Tentu saja!" sebuah senyum tersungging di wajah pucat Lucy. Tacik hanya memandangnya dengan pandangan tajam yang sanggup membuat Lucy gemetar dan kemudian menghela nafas.
"Aku mendengarnya berasal dari sini." Tunjuk Tacik pada samsak tinju itu. Keringat dingin mulai membanjiri tubuh Lucy. Ia harus cepat-cepat memberikan jawaban dan mengalihkan pembicaraan ini.
"Ini?" tunjuknya pada samsak itu. "Kamu pasti koleng ya? Apakah kamu gemetaran? Kamu menunggu makan siang 'kan? Dengarkan, nggak ada apa-apa." Ujar Lucy seraya melayangkan Lucy Kick fenomenalnya ke buntalan malang itu. Yang ditanya mengangguk lemah dan mulai mengusap-usap perutnya. Terdengar alunan musik kerocong dari perut langsing Tacik.
"Uhm, lebih baik kamu segera pergi ke kafetaria. Di sana, ada strawberry cheesecake terlezat! Lebih enak dari yang dijual di Magnolia! Kejunya... Ugh... stroberinya... nyum nyum..." mendengar dan memperhatikan penjelasan Lucy yang menggiurkan, Tacik Erza dengan ekspresi wajah yang komikal, mulai ngiler.
"Kamu bahkan bisa minta ekstra stroberi dan saus yoghurt yang terkenal di kapal ini, dengan setengah harga!" imbuhnya. Tanpa perlu dikomando, Tacik Erza segera melesat bak roket menuju kafetaria demi mendapatkan 'camilan sehat' favoritnya. Yang tidak ia ketahui adalah kenyataan bahwa Lucy bahkan belum pernah ke kafetaria dan apakah di kafetaria itu menyediakan 'camilan sehat' atau tidak. Oh, terpujilah Mavis mungil yang agung jika Tacik Erza tidak menemukan kue kesayangannya dan berakhir dengan adegan penggundulan kepala Lucy di tengah laut.
Ruangan hening sejenak dan yang terdengar hanyalah hembusan nafas Lucy. Setelah ia menutup pintu rapat-rapat dan memastikan menguncinya dengan segala gembok dan kunci yang ia bawa, ia kembali berhadapan dengan onggokan buntalan yang siap membuatnya menghadapi surga di telapak kaki ibu dengan lebih cepat.
Perlahan ia mulai membaringkan buntalan itu dan menggelindingkannya hingga akhirnya setiap kain yang membungkus, terbuka dan terurai, meninggalkan sosok malang Sting yang tengah dilanda mual-mual. Wajahnya bonyok dan menghijau. Di beberapa bagian tubuhnya, terdapat lebam-lebam. Ia meringkuk memegangi perutnya dan menutup mulutnya. Lucy yang menjadi tersangka utama, harus menerima sorotan tajam dan mematikan dari mata biru Sting.
"Lo... Ng-ng-nggak akan hidup s-s-sete-lah in-i!" gerutunya. Dengan cepat, Lucy mendekati Sting, duduk bersimpuh di lantai dan mengangkat kepalanya, lalu membaringkannya di atas pangkuannya. Ia memeriksa lebam-lebam di sekujur tubuh Sting dan menghela nafas lega, setelah meyakinkan dirinya bahwa cedera yang didera Sting tidaklah serius.
"Maaf... aku panik. Kamu harus tahu kalau Tacik bisa membunuh kita berdua. Huhuhu... aku nggak mau melewatkan masa mudaku, Sting." Rengek Lucy dengan wajah komikal. Sting hanya bisa menatapnya dengan jengkel.
"Lo bener-bener harus membayar seeemuuuaaaa... kerugian yang gue terima."
Flashback
"Delapan! Lucy, kau mengharapkan sesuatu yang buruk!"
"Oke, Sting, kamu percaya padaku?"
"Maksud lo?" Ia merasakan sesuatu yang buruk akan segera menimpanya dan sesuatu yang buruk itu akan berlipat-lipat efeknya.
"Blon-uooo...!" Belum sempat ia mendapatkan jawaban, ia merasakan tubuhnya didorong dengan kekuatan yang cukup kuat, membuatnya jatuh terguling di atas lantai. Dengan sigap, Lucy menarik selimut tebal serta kain pelapis kasur yang cukup tebal, menyisakan seprai yang menempel, kemudian dengan cepat mengambil satu set seprai dan selimut baru yang ditemukannya kemarin, dari lemari pakaian dan menjabarkannya di lantai.
Sting yang masih pusing akibat terguling dari kasur harus rela menerima apa yang akan dilakukan Lucy berikutnya. Gadis pirang itu mengguling-gulingkan tubuhnya hingga berada tepat di pinggir kain, lalu membungkusnya dengan menggelindingkan mereka bersamaan, sehingga terbentuklah sebuah buntalan besar yang cukup tebal namun masih memberikan ruang bernafas untuk Sting.
"Stop! St-Hmph! Asghhghg! Mmfuhfuh!"
"Diem!" sentak Lucy dengan galak.
"Sembilan! Kau tidak menyembunyikan sesuatu 'kan Lucy?!" ketukan yang tidak manusiawi, terdengar semakin keras dan brutal.
Dengan sekuat tenaga, Lucy meletakkan buntalan Sting di depan lemari. Terdengar seruan protes dari Sting yang cukup mengganggu dan bisa menimbulkan dampak yang fatal jika mereka ketahuan.
"Sembilan setengah!"
Dengan segenap kekuatan, ia melakukan Captain Lucy Kick yang diadaptasinya dari Captain Tsubasa, membuat korban kebrutalan Lucy, pingsan seketika.
End of Flashback
"Huaaa...ampun Sting!" pekik Lucy tertahan.
"Lo nggak tahu 'kan gimana rasanya mabok kendaraan?! Dasar bocah tengil!" balas Sting tidak kalah galak.
"Mana aku tahu kalau menggelinding juga bisa bikin mabok, Sting!" balas Lucy yang memelas, memohon belas kasih Sting.
"Meh, alasan! Ngapain juga lo bikin gue jadi samsak tinju? Nggak ada ide lain? Samsak tinju?! Serius?!"
"A-am-bweh-pun S-s-sting-do-do-dono..." jawab Lucy dengan bibir gemetar.
"Ergghh... jangan panggil gue kaya gitu! Jijik, tahu!" sentak Sting dengan sewot.
"S-sting... di-ding-in..." bisik Lucy dengan suara parau.
"Biarin! Hukuman buat lo yang udah semena-mena." Jawab Sting dengan enteng. Wajahnya menyiratkan kepuasan. Sebuah seringai lebar, terpampang jelas di bibirnya. Tangannya dengan lincah memainkan kepala shower yang terus menerus menyemburkan air dingin, memberikan kebekuan pada setiap sentimeter kulit Lucy yang tersentuh oleh air.
Sting memandangnya dan mendapati setiap rengekan-rengekan yang mengalir keluar dari bibir mungil itu, membuatnya perlahan tertarik dengan keberadaan gadis itu. Ia berjongkok di depan Lucy, tangan kirinya menumpu pada lutut, wajahnya ia sandarkan pada tangan kirinya sementara tangan kanannya masih sibuk dengan shower.
"Gimana, Blondie?"
"S-st-sting... ak-aku mo-mohon, d-d-dingin s-s-s-sekali..." bisik Lucy. Buku jarinya mulai memutih, kulit jarinya mulai berkerut-kerut. Bibirnya gemetar, giginya bergemeletuk. Gadis itu meringkukkan tubuhnya. Ia memeluk lututnya dengan erat, seolah-olah dengan begitu, ia bisa mendapatkan kehangatan. Ia duduk memucuk di dalam shower box itu, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dengan air yang terus membasahi tubuhnya.
-Krit krit krit-
Lucy bisa mendengar suara keran yang diputar. Saat itu juga, kucuran air mulai mengecil dan perlahan berhenti. Tanpa melihat secara langsung, ia bisa merasakan, penindasnya mulai bangkit berdiri.
Air berhenti mengalir. Sting berdiri di tempatnya dan segera memasang kembali shower tersebut di tempatnya. Ia memandangi gadis malang itu. Pandangannya melunak saat melihat kondisi gadis berambut pirang itu. Bulan Desember merupakan bulan dengan cuaca dingin. Pagi hari akan membuat semua orang menjadi malas, karena mereka harus beranjak dari kehangatan yang menyelimuti mereka sepanjang malam. Air dengan suhu ruang pun bisa terasa seperti menusuk-nusuk kulit di dalam cuaca dingin dan bersalju seperti ini.
"Bangun." Perintah Sting dengan datar. Gadis itu perlahan mengangkat kepalanya dan memandang Sting dengan lemah. Wajahnya pucat pasi. Yang membuat Sting harus menahan lidahnya untuk berkomentar adalah apa yang ia dengar selanjutnya.
"M-m-makasih. Ma-maa-f ya... R-rambut N-n-nanas..." bisik Lucy dengan lemah. Sebuah senyum kecil terpulas di bibirnya, sebelum akhirnya, ia memejamkan matanya. Tubuhnya terkulai ke samping. Suara riak air, terdengar menggema. Sting berlutut, bertumpu dengan salah satu kakinya. Di dalam dekapannya, Lucy menggigil kedinginan. Jika ia tidak segera menangkapnya, bisa dipastikan kepala Lucy akan berbenturan dengan lantai. Pria berparas tampan itu menghela nafas panjang.
"Bodo, kalo dia nggak ngerjain gue, dia pasti nggak bakal koleng kaya gini." Gumamnya. Ia melihat pakaian Lucy yang basah kuyup dan menempel di kulit pucatnya, menampilkan setiap lekuk tubuh Lucy yang memabukkan.
"Uoohh..." perlahan darah menetes dari hidung Sting. Hanya dengan melihat lekuk tubuh Lucy, mampu membuatnya berfantasi yang tidak-tidak.
"Kira-kira, dia inget nggak ya apa yang dia bilang waktu bangunin gue? Nggak nyangka nih bocah tengil, bisa juga nggoda gue." Gumamnya. Ia tertawa kecil saat mengingat-ingat kalimat menggoda Lucy untuk membangunkannya.
"Cih, gimana caranya gue gantiin bajunya..." gumamnya pada diri sendiri. Ia mengangkat tubuh kecil itu dan meletakkannya ke dalam bath tub kering. Pakaiannya yang basah akibat menggendong Lucy yang basah, terpaksa ia tanggalkan. Ia beralih ke kabinet kecil di bawah wastafel dan mengambil sehelai handuk.
Ia duduk di pinggir bath tub dan mulai mengeringkan tubuh Lucy. Dalam hitungan menit, ia mendapati Lucy yang setengah kering. Ia beranjak dari tempatnya dan membongkar lemari pakaian. Ia mencari-cari dan akhirnya menemukan pakaian Lucy yang cukup tebal. Beberapa kali ia harus menahan keinginan untuk membiarkan hidungnya mimisan hanya karena melihat pakaian dalam Lucy yang kelewat seksi.
"Nah, waktunya menahan godaan iman." Bisiknya. Kakinya melangkah ke kamar mandi. Sejenak ia memandangi sosok yang tengah terlelap di dalam bath tub. Dengan wajah merah merona, ia perlahan membuka pakaian Lucy dan mengeringkannya lebih lanjut, lalu dengan segera memakaikannya pakaian kering yang baru saja diambilnya. Setelah selesai, ia membawanya ke tempat tidur dan membaringkannya, lalu menyelimutinya.
Tanpa membuang waktu lagi, ia mandi dan setelah penyamarannya siap, ia menyelinap keluar dari kamar menuju restoran, untuk mengisi perutnya dan membawakan makanan untuk korban kecilnya itu. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai restoran.
Dengan cepat ia memilih bangku yang terletak di sudut dan cukup tersembunyi dari gerombolan Fairy Tail lalu memesan makanannya. 10 menit berselang, pesanannya datang dan seperti singa rakus, ia segera menghabiskannya. Seorang pelayan datang dan membawakan sebuah bungkusan kecil. Ia meninggalkan uang di meja dan segera beranjak menuju wastafel. Tanpa ia sadari sesorang tengah mengamati gerak-geriknya saat di wastafel.
'Itu 'kan... Sting! Apa yang dia lakukan di sini?' batin orang itu. Dengan cepat ia mencuci tangannya, lalu berpamitan dengan rombongannya untuk kembali ke kamarnya terlebih dulu.
Sting melangkah dengan cepat ke kamarnya. Sesekali melihat ke belakang. Kali ini ia menghentikan langkahnya. Untuk sesaat ia hanya terdiam mematung.
'Bagus.' Pikirnya. Lalu ia melanjutkan perjalanannya yang terhenti. Sesampainya di depan pintu kamar, ia membuka pintu lebar-lebar dan tidak ambil pusing untuk segera menutupnya.
'Satu... Dua... Tiga... Empat... Lima!' dengan cepat ia membalikkan badannya, tangannya secepat kilat menyambar keluar pintu dan menariknya kembali membawa sekelebat bayangan bersamanya. Kemudian tanpa pikir panjang, ia menutup pintu kamarnya dengan keras, menguncinya, dan menjepit bayangan itu di antara pintu dan dirinya. Tangannya yang besar dengan cekatan menemukan titik lemah bayangan itu.
"Siapa lo? Dan ngapain lo ngikutin gue?" tanya Sting dengan intonasi yang berbahaya.
"Ergh.. lepasin... ng-nggak b-bisa na-fas..."
"Jawab!" desisnya mengintimidasi. Sosok itu bergeming dan berusaha melihat ada yang ada di balik tubuh raksasa Sting. Pria itu menyadarinya dan terus berusaha menutupi pandangan sosok itu. Setelah memperhatikan dengan seksama, matanya membulat dan terbelalak.
"Lo!? Si Manusia Air?! Tukang kuntitnya Si Tukang Ote-Ote?!" seru Sting setengeh tidak percaya. Cekikannya di leher sosok itu melonggar dan akhirnya terlepas, membuat sosok itu jatuh terduduk di lantai dan terengah-engah, berusaha mengumpulkan udara ke dalam paru-parunya yang malang.
"Ya! Nama Madam adalah Madam Juvia. Hei, nama Si Tukang Ote-Ote itu Akang Gray-sama tercayang!" jawab Madam Juvia dengan galak.
"Ngapain lo ngikutin gue?"
"Ma-madam Juvia cuma penasaran, kenapa Sting-san ada di sini."
"Bukan urusan lo. Pergi!" Madam Juvia bangkit dari tempatnya dan hendak berbalik keluar kamar saat matanya menangkap sekelebat sosok yang tengah tertidur di atas tempat tidur.
"Lucy-san!" dengan sekuat tenaga ia menerobos pertahanan Sting dan berlari menghampiri Lucy. Ia berlutut di samping tempat tidur dan dengan panik membangunkan Lucy.
"Apa yang kamu lakukan pada Lucy-san!?" Sting cukup tersentak mendengar nada bicara Madam yang menyakitkan telinga sensitifnya. Ia mendekat dan mengacak-acak rambutnya.
"Lucy-san! Bangun! Lucy-san! Oh, Madam harus memberitahu Natsu dan Tacik Erza mengenai Lucy-san."
"NGGAK! Lo nggak bakal ke mana-mana, Madam!"
"Ugh..." keduanya berhenti berdebat saat sosok yang membuat mereka bertengkar terbangun dari tidurnya.
"Lucy-san!" Madam Juvia segera memelukanya dengan erat dan membuat Lucy terperangah, tidak tahu harus berbuat apa.
"Madam Juvia nggak nyangka kalau Love Rival baik-baik saja!"serunya dengan senyum lebar.
"Madam, apa yang kamu lakukan di sini? Tunggu!" Ia menarik dirinya dari pelukan Madam dan mencengkramnya dengan erat di bahu.
"Kalau kamu berhasil masuk ke kamar ini, berarti kamu bertemu dengan Sting!?" Madam mengangguk pelan. Ketegangan dan kepanikan mulai menggerayangi Lucy.
"Rileks, Blondie. Biar aku yang menangani Madam ini." Lucy melirik Sting dengan pandangan yang mematikan.
"Jangan coba-coba nyentuh sahabatku atau kamu bakal jadi telor dadar lagi!" ancam Lucy sambil menudingkan telunjuknya ke wajah pria itu. "Dan ngaca! Kamu juga pirang! Huh!" lanjutnya seraya menjulurkan lidahnya dengan jengkel.
"Bleh, kuarepmu, nduk (terserah lo, nak)." Cibir Sting dengan logat Jawanya yang super kental. Ia memutari tempat tidur dan duduk di samping Lucy, menunggu aksi lanjutan dari gadis cerewet itu.
"Dengar Madam, ceritanya panjang, yang jelas, kamu harus membantuku dan Sting. Kalau nggak, aku akan menculik Akang Gray dan menyantetnya!" mohon Lucy setengah mengancam. Mendengar Akang Gray-sama tercayangnya akan diculik, Madam mengangguk-angguk dengan cepat dan balik mengancam Lucy.
"Kalau Madam Juvia tahu Lucy-san mengambil calon suami madam, Lucy-san bakal Madam tenggelemin di laut ini!" serunya dengan mimik wajah yang menyeramkan. Bahkan, sting dibuat bergidik ngeri melihat penampakan Madam Juvia yang mengerikan.
"Jadi, apa yang harus Madam Juvia lakukan?"
"Simpel. Kunci mulut lo, buang kuncinya jauh-jauh, dan saat kita butuh pertolongan, buuzzz lo nongol kaya tuyul!" umbar Sting tanpa memperdulikan sopan santun. Lucy memelototinya dengan galak, membuat Sting hanya menyeringai lebar.
"Jangan dengarkan, tapi, yah kamu harus melakukannya. Huh, bisakah aku mempercayaimu, Madam?" gadis berambut biru itu mengangguk dan tersenyum.
'Selama Akang Gray-sama tercayang aman, Madam bakal lakukan apapun. Hihihi... mungkin saja Love Rival bisa Madam Juvia jodohkan dengan Sting-san!' pikir Madam dengan tawa kecil yang mengerikan.
-Dok! Dok! Dok!-
"Lucy! Kenapa kamu lama sekali? Natsu menunggumu! Kamu juga berhutang padaku!" seru Tacik erza dengan geram.
Oops! Sepertinya Tacik tidak mendapatkan 'camilan sehat' favoritnya. Benar-benar liburan yang MENYENANGKAN.
Kepanikan mendera 2 gadis itu. Sting dengan sigap menjauh dari Lucy dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada bidangnya.
"Nggak! Nggak ada lagi telor dadar!" desis Sting dengan galak. Madam Juvia tidak kehabisan akal. Ia mengobrak-abrik lemari pakaian dan menemukan baju ekstra besar milik Lucy. Warnanya kuning, berhiaskan kain renda di ujung bawah. Bergambar baby tiger, membuatnya seperti dress.
"Sting-san! Pakai ini!"
"What!?" pekiknya setengah berbisik.
"Lucy, kamu di dalam?!" tanya Tacik Erza.
"Pakai atau telor dadar?" ancam Lucy. Dengan erangan frustasi, Sting terpaksa mengenakan gaun tersebut yang secara ajaib, pas dengan ukuran tubuhnya. Sementara Lucy sibuk membantu merapikan penampilan Sting, Madam Juvia membereskan segala macam kain yang bertebaran dan menyembunyikannya di lemari pakaian.
"Diam! Jangan coba-coba!" ancam Lucy pada pria malang di depannya.
"Lucy!"
"Sebentar!" teriaknya. "Cancer!" panggil Lucy seraya membuka gerbang celestial.
"Ya, -ebi?"
"Lakukan apapun untuk membuantnya menjadi berbeda. Jangan potong rambutnya! Atau kita berdua akan dibunuh. Bisa?"
"Bisa diatur-ebi." Secepat kilat Cancer menyelesaikan pekerjaannya dan membuat penampilan Sting berubah. Dengan rambut pirang yang terkuncir rapi, riasan wajah yang cukup tebal untuk menutup bekas lukanya, dan lipstik serta perona pipi berwarna pink cerah, Sting menjelma menjadi Stacy Eucliffe.
"Nah, coba menjadi feminin dan kamu akan selamat. Nggak selamanya kita bisa terus bersembunyi seperti kemarin. Oke?" Sting hanya bisa mengerang pasrah.
"Sting-san, cobalah berjalan dengan cantik." Lanjut Madam.
"HAH?!" pekiknya.
"Lucy! Apa itu laki-laki di dalam sana?!" tanya Tacik Erza dengan suara yang mengerikan.
"Nggak! Itu televisi! Sebentar! Aku masih membereskan sesuatu. Tunggu!" serunya. Ia memalingkan wajahnya dan memaksa Sting untuk mengikuti pelajaran kilat dari Madam.
"Stacy, bicara dengan halus."
"Stacy?! Gila! Modar! Modar! Awakku modar! (Hancur! Hancur! Gue hancur!)" pekik Sting dengan histeris.
"Lucy!"
"Datang!" ia membuka pintu lebar-lebar dan mendapati Tacik yang mengetuk-ngetukkan kakinya dengan emosi. Baru saja ia mau mengomeli Lucy, matanya terbelalak melihat sosok tinggi besar dan seperti lelaki di belakang Lucy, berdiri di samping Madam Juvia yang terlihat kikuk.
"Madam, jadi kamu pamit duluan untuk menemui Lucy?"
"Ah, iya, Madam Juvia berniat memanggilnya untuk makan siang, karena Lucy-san nggak datang-datang." Kilah Madam. Mata elang Tacik menyelidik sosok tiggi besar itu.
"Siapa itu Lucy?"
"Oh, uhm.. di-dia Sti-Stacy!'
"Stacy?"
"Stacy Eucliffe. Sepupu jauh Sting Eucliffe."
"Eucliffe? Si Congkak berbaju rumbai?" tanya Tacik Erza. Lucy harus menahan tawanya mendengar julukan Sting dari Tacik.
"HEI!" Madam Juvia segera menyikut Sting dengan keras. Tacik melihatnya dengan curiga.
"Suaramu..."
"Ah, bukan, maksud gu-, maksudku, hei! Jangan menghina kakak sepupuku itu. Aku hanya menyuarakan ketidak sukaanku pada julukanmu itu, nona..." sesaat setelah mendengar suara Stacy, Tacik merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Erza. Erza Scarlet. Kamu bisa memanggilku Tacik, seperti yang lainnya. Mengenai hal itu, aku minta maaf." Ucap Tacik seraya membungkuk memohon maaf.
"Ne! Nggak usah gitu, emang Stacy begitu orangnya, sama congkak dan terkadang idiot seperti sepupunya. Aww!"
"Kenapa?" tanya Tacik.
"Ah, nggak apa-apa kok." Jawab Stacy. Lucy meliriknya dengan ganas. Tangannya mengusap-usap pinggangnya yang memerah akibat cubitan Sting yang kelewat sadis.
"Madam Juvia rasa, ini waktunya menikmati waktu senggang. Madam Juvia dan Lucy-san mau menemani Sti-Stacy-san jalan-jalan. Ia hanya seorang diri di tempat ini. Keberatan?" tanya Madam. Tacik Erza menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
"Malah, aku mau mengenal nona Stacy Eucliffe lebih jauh, boleh aku ikut?" ketiga wajah itu menjadi pucat pasi. Dengan terpaksa mereka menerima permintaan Tacik. Berempat, mereka berjalan menuju dek kapal. Beberapa orang bersiul-siul melihat penampilan Stacy.
"Blondie, lo bakal mati." Bisik Sting di telinga Lucy. Lucy hanya menatapnya dengan pandangan jenaka dan menjulurkan lidahnya. Madam berjalan di samping Tacik dan Lucy beserta Sting mengekor di belakang mereka. Mata Lucy perlahan beralih ke kaki Sting.
-Buk!-
"Duh!" desis Sting dengan jengkel. Ia mengusap-usap pantatnya yang baru saja dipukul dengan keras oleh Lucy.
"Ingat! Jalan cantik! Jangan jalan kaya habis disunat!" bisik Lucy.
"Iya, Lucyku sayang, terimakasih sudah mengingatkan." Cibir Sting dengan suara perempuannya yang mendayu-dayu.
'Ini bakal jadi liburan yang saaaaaaangaaattt paaannnjjjaaannnng...' keluh Lucy, Sting, dan Madam di dalam hati mereka.
Maap ane baru balik T^T. Banyak dilema kampus yang harus dilewati...
Semoga kalian puas dengan chapter barunya ya, dan bisa setidaknya menebak siapa yang getol banget usahanya untuk membangunkan sesorang dari tidurnya.
Yosh, ane mulai menghilang lagi! Bakal balik secepatnya! Hihihi XD
Makasih yaa... RnR pleasee!
Matursuwun... :3
