Cancer

Di 30 detik terakhir kepalamu sangat pusing. Kamu harus lebih fokus untuk memainkan pianonya. Untunglah kamu sama sekali belum melakukan miss.

'kepalaku terasa berputar-putar' batinmu

'ada apa? Kenapa permainanmu melambat?' Akashi membatin sambil melirikmu. Kepalamu sudah terasa berputar-putar. Bibirmu juga mulai memutih. Kamu mengeluarkan lebih banyak keringat disbanding 20 detik yang lalu. Waktu pun berakhir. Untunglah kamu tidak miss sama sekali. Kalian memberi hormat kepada penonton tanda permainan kalian sudah selesai. Tapi kepalamu makin bertambah pusing. Dan kamupun…


My Kawaii Sei-chan

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Warning: Typo(s), Gaje, Alur gak jelas, aneh, OOC maybe, dll..

Gak suka? jangan lanjutin baca


Note : 'Aku' disini sebagai anak berumur 13 Tahun. 'Aku' bersekolah di SMP Teiko kelas 2-B. 'Aku' pernah mengikuti kelas Akselerasi sebelum aku pindah ke Teiko.


Reader P.O.V

Untunglah sudah selesai. Tapi kepalaku semakin pusing. Harusnya tadi aku meminum obat sebelum tampil. Aku ini memang ceroboh. Pandanganku semakin buram. Dan tiba-tiba aku tak sadarkan diri.

Aku sadar sekarang diriku telah terbaring di atas kasur, ya kasur rumah sakit, aku perhelan-helan duduk. Aku dapat melihat teman-temanku berada di ruangan ini. Mo-chan, Kuroko-kun, Aomine-kun, Midorima-kun, Kise-kun dan Muk-kun. Jadi mereka sudah tau ya? Mereka semua tertunduk melihat ke lantai. Aku dapat melihat air mata Mo-chan yang jatuh satu persatu.

"Jangan menangis" aku berbicara terbata-bata, semuanya langsung menenggakan kepalanya melihat ke arahku. Mo-chan memelukku sambil menangis.

"Kenapa kau tidak pernah memberi tahu kami?" Mo-chan menangis suaranya agak berteriak, aku hanya menunduk

"Jadi kalian benar-benar sudah tahu ya? Gomenasai, Minna…" kataku menundukan kepalaku, Kise-kun hanya melihat sekeliling ruangan ini, mungkin untuk menghilangkan mukanya yang terlihat sedih. Kamar yang cukup besar, pasti ini kamar VVIP. Aku tidak suka melihat mereka murung begini. Kemana perginya Akashi-kun? Ah, dia memang selalu begitu

"Hei! Jangan murung begitu dong!" Kataku agak berteriak.

"Aku akan baik-baik saja!" Kataku tersenyum ke arah mereka, dengan susah payah aku membuat mereka agar tidak murung. Aku hampir menyerah, akhirnya aku memesan ramen kesukaanku agar mereka senang. Dan itu berhasil, aku menceritakan beberapa kejadian memalukanku saat belum kenal mereka. Mereka tertawa, ya, aku senang melihat mereka tertawa. Kami berfoto bersama, dan melakukan hal hal yang seru. Tapi mereka harus pulang, jadi aku hanya berdua dengan Akashi.

"Aku sudah menduganya, ada sesuatu yang kau rahasiakan" kata Akashi setelah mereka pergi

"…"

"Dari lagu yang kau nyanyikan, perkataanmu waktu aku sengaja tidur bersamamu dan kau setiap hari pergi kesini untuk terapi"

Aku diam mendengar itu, ya. Lagu itu, pada lirik 'Silence like a cancer grow' aku sangat mendalaminya, tak kusangka dia dapat mengetahuinya. Lagipula kenapa dia peduli kepadaku?

"kenapa kau masih peduli kepadaku?"

"sekali kau mengenal seseorang, kau tidak akan bisa benar-benar melupakannya" jawabnya tenang. Aku hanya diam mendengar jawabnnya. Itu memang benar, ya.. seperti aku mencoba melupakannya. Tidak akan bisa. Tidak pernah bisa.

"hmm… Akashi, aku akan mengabulkan semua permintaanmu" Dia mengangkat sebelah alisnya dan menghela napas.

"Baiklah, mulai sekarang panggil aku Sei-chan" aku kaget mendengar itu, yang benar saja dia mau dipanggil Sei-chan, ini pasti mimpi kan? Akupun menggigit lidahku. Sakit! Ini bukan mimpi!

"Kedua, aku akan mengabulkan segala permintaanmu" katanya, hmmm… dia membalikannya kepadaku.

"Aku hanya punya satu permintaan" kataku, dia menunggu apa yang aku katakan selanjutnya, aku mau minta apa yaaa? Aku bingung… bagaimana ini?!

"Panggil aku Onee-chan sekali saja" kataku setelah berpikir panjang, dia diam dan membuang mukanya dariku

"ayolah, sekali saja… tadi kau bilang segala permintaanku kan?" aku memohon kepadanya, dia tampak berpikir, apa sih yang dia pikirkan?

"Onee..-chan" dia mengucapkannya dengan susah payah, aku sangat senang! Senang! Senang! Rasanya mau lompat dari jendela kamar ini. Aku hanya bisa tersenyum bahagia. Aku harus tetap bertingkah tidak aneh di depan Sei-chan. Aku tidak bisa berhenti tersenyum.

.

.

.

.

Aku sedang di periksa oleh dokter, ya, dia dokter yang selalu membantuku sejak aku mendapatkan penyakit ini, seperti biasa, aku setiap hari melakukan terapi, tidak setiap hari juga sihh… . Hehe… aku hari ini boleh keluar rumah sakit untuk sehari saja. Aku senang.. habisnya di rumah sakit itu membosankan. Hanya ada obat, dokter, dan suster. Yah.. walaupun Cuma boleh keliling taman rumah sakit

Momoi P.O.V

Dari tadi aku terus memikirkan keadaan dia, sedang apa ya? Asal dia tahu saja, semuanya jadi kacau, permainan mereka jadi aneh, mereka tidak fokus. Aku harus bagaimana? Aku juga menghawatirkan dirinya.. aduh… dia memang terkadang sangat merepotkan.

*FlashBack*

Kami menunggu kedua teman kami yang baru saja tampil, tiba-tiba laki-laki bersurai hijau itu mendapat pesan dari Akashi-kun.

"(Nama) pingsan, jadi aku sedang berada di rumah sakit sekarang."

-Akashi

Tentu saja kami panik! Kami langsung pergi ke rumah sakit dan menemui Akashi-kun. Dia sedang mengurus administrasi-nya.

"Setiap tiga kali hari sekali dia kesini untuk melakukan terapi, mungkin dia belum bilang kepada kalian" kata perawat itu. Kami bingung. Terapi? Untuk apa? Terapi apa?

"Memangnya penyakit apa yang ada di tubuhnya?" kata Midorima-kun

"dia mengidap leukemia stadium 1 sejak seminggu yang lalu" kata perawat itu. Akupun meneteskan air mataku. Kenapa dia tidak bilang kepadaku? Jika tidak ditahan oleh Dai-chan, mungkin tubuhku sudah ambruk ke bawah. Aku benar-benar tidak menyangka. Seseorang yang terlihat selalu riang. Akan mengidap penyakit semacam itu. Penyakit yang orang-orang bilang amat mematikan. Tapi aku tidak mau dia di operasi. Karena itu sangat berbahaya, selama ini Akashi-kun sudah memberikannya obat-obatan dari pamannya di Korea. Tapi tetap saja ia harus di operasi. Sudah hampir sebulan dia di rumah sakit. walau obat yang dibawa Akashi-kun itu banyak membantu. Dokter bilang ia harus tetap di operasi agar ada kemungkinan sembuh total.

.

.

.

6 Month Later

.

.

.

Reader P.O.V

Semuanya kembali tertunduk, beberapa jam lagi aku akan menjalani operasi. Orang tuaku sangat khawatir tentang penyakitku ini. Tapi mereka tidak bisa membatalkan meeting mereka. Sebenarnya mereka bulan madu atau kerja sih?. Tiap hari mereka menyanyakan keadaanku lewat telepon, pasti Sei-chan yang mengabarkan mereka tentang penyakit yang ada di tubuhku ini. Sekarang semua teman-temanku berkumpul di kamarku. Begitu juga Sei-chan dan Nijimura-kun. Aku sehari bisa meminum ½ botol besar minyak ikan loh! Katanya ini dapat membantu menyembuhkanku. Aktifitasku dibatasi selama satu tahun ini. Aku juga kasihan pada Mo-chan yang harus mengerjakan tugasnya sebagai menejer sendirian. Kudengar Nijimura memilih Sei-chan untuk menggantikannya sebagai kapten tim. Apa dia sudah gila? Yang lainnya akan benar-benar mati jika kaptennya Sei-chan.

"Ku dengar minggu depan kalian akan mengikuti perlombaan kan?" kataku memecah keheningan.

"Ya" Jawab Aomine-kun singkat

"Aku berjanji aku akan menonton pertandingan kalian, akukan menegernya!" kataku menenangkan mereka, mereka semua mengangkat kepalanya dan kembali menatapku. Akupun tersenyum dan mengangkat jari kelingkingku "Aku berjanji"

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan membuka pintunya. Itu adalah dokter.

"Operasinya akan di laksanakan 15 menit lagi, perkiraan keberhasilan 60%, jika operasi ini berhasil, kemungkinan besar pasien akan sembuh total. Jika operasi ini gagal, maka-"

"Saya mengerti dok, keputusan saya sudah bulat" kataku memotong pembicaraan dokter agar teman-teman tidak ketakutan. Walau mereka sudah tahu. Aku lebih memilih untuk melakukan operasi, kenapa? Karena jika tidak, ada kemungkinan penyakitku ini bertambah ganas. Setidaknya jika berhasil, aku bisa hidup lebih lama. Jika gagal, tiada hari esok untukku. Itu sebuah taruhan yang besar kan? Aku bertaruh nyawa disini. Semoga kami-sama mendengar doa ku dan doa semua orang.

"Baiklah, operasi akan dilaksanakan 12 menit lagi" kata dokter keluar dari ruangan. Aku langsung meminum segala obat-obatan yang dibawa Akashi. Madu, minyak ikan, dan lainnya. Semuanya menjadi hening lagi. Aku mengajak mereka berbincang untuk memecah keheningan. Tapi kali ini sangat hening. Mereka terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

Author P.O.V

Operasi-pun di mulai. Semua temanmu menunggu di depan ruang operasi dengan muka cemas dan pasrah. Terlebih lagi adikmu dan Momoi. Semua menunggu dengan sabar. Operasimu berjalan cukup lama. Pikiran yang tidak-tidak merasuki bayangan teman-temanmu. Orang tuamu juga menunggu lewat Skype dengan laptop milik Akashi. Semuanya cemas dengan keadaanmu dan menunggu ada kabar dari dokter.

.

.

.

1 jam

.

.

.

2 jam

.

.

.

3 jam

.

.

.

Setelah menunggu, seseorang keluar dari ruangan itu. Semua menoleh ke arahnya. Ya, itu dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi. Semua menatap muka dokter dalam-dalam ingin tahu apakah operasi yang kamu jalani itu berhasil atau tidak.

"Bagaimana dengan operasinya dok? Apakah kakak saya selamat?" dokter itu diam seperti ingin menyusun kata-kata. Semuanya menunggu jawaban dari dokter itu.

"Operasinya-"

.

.

.

.

TBC


Oteh '3')b Arigatou udah baca ff buatanku yang rada gak jelas ini. Jujur aku gak tau sama sekali tentang kanker dan cara penyembuhannya :v jadi ku tulis aja asal-asalan :v. Jadi maafkan daku kalo emang ngaco :v

Oh ya :v BTW hari ini aku ultah lho (14 April) :v #weeee #apaini #abaikan *Efek jones (gak ada yang ngucapin)*

Thanks For Reading!