Disclaimer. Masashi Kishimoto.
[4]
—"Torn apart"—
Pria berambut panjang itu baru keluar dari balik barisan pohon-pohon lebat hutan. Selembar handuk yang cukup tebal masih tersampir di bahunya sebagai formalitas belaka. Helaian panjang sewarna ebony itu terlihat basah—saling menyatu satu sama lain—bahkan rembesan airnya turut membasahi kimono putih tulang yang membalut tubuh atletisnya itu, memberikan sensasi lembab di kulit sekitar tengkuk ke bawah—ke pertengahan pinggangnya.
"Sudah selesai mandinya, Neji?"
Neji terhenyak sejenak ketika pertanyaan retoris itu terdengar di telinganya. Bukan karena bingung akan-menjawab-apa, melainkan ia terhenyak karena sedang mengingat suatu hal krusial yang sempat terlupakan sedikit.
Di mana aku menyimpannya tadi ….
Setelah ingat pun ia masih saja tetap bungkam, membiarkan si penanya setia menunggu harapan palsu darinya. Bukannya menjawab, ia malah melangkahkan kakinya menuju tasnya yang tergeletak di antara kedua orang yang menunggunya sedari tadi. Satu perempuan—yang menanyainya barusan—dan satu lagi pria berambut mangkok hitam rapi yang sedang makan daging buruan dengan nikmatnya.
"Hoi, jawab aku, dasar banci!"
Urat di pelipis Neji mendadak berkedut ketika kata sakral itu terucap dengan lancarnya. "Kau bisa lihat sendiri bukan, Tenten?"
Kedua alis Tenten saling bertaut dan dahinya berkerut tanda emosinya sudah terpancing karena balasan-tanya itu. "Cuek sekali," ia menjedah sejenak mengambil napas, "kuingatkan sekali lagi pada, kau—Neji—bahwa: kau harus berterima kasih pada-ku karena sudah mau menjaga barang-barang rongsok-mu itu!" balasnya ketus dengan penekanan di setiap indikasi subjek yang tertera.
Neji hanya memutar malas bola matanya ketika mendengar pernyataan ofensif itu. Jujur, ia tidak mau mengakui kalau sejatinya ia harus berterima kasih pada orang itu. Orang itu sudah menemaninya berkelana dua tahun lamanya. Bahkan ia sendiri yang menawarkan dirinya untuk ikut bersama Neji tak lama setelah pengusirannya dari klan terhormat itu.
Ya … kata seharusnya ada karena timbulnya suatu yang menyimpang jalur bukan? Neji terlalu angkuh untuk mengucap terima kasih padanya. Entahlah. Tak ada bukti kongkrit yang menyatakan alasan di balik sikap menyebalkannya itu. Tapi, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah: Neji bukanlah orang yang seperti itu sebenarnya.
Bola mata sewarna kayu itu melirik Neji sekilas. Pria menyebalkan itu sedang mengaduk-aduk isi tasnya, mencari suatu benda yang sepertinya tertimbun di dasar tas yang menggembung itu. Tenten menatapnya dengan raut tak suka. Ia tahu benar benda apa yang sedang dicari Neji itu. Oh, perlukah ia mengulang bahwa ia telah bersama—hidup bertahan bersama—pria itu selama dua tahun lamanya?
"Kau masih menyimpan benda bulukan itu, Neji?" ucapnya tanpa pikir panjang, "dia saja mungkin sudah lupa pernah memberikan ikat kepala itu," setidaknya kali ini ucapannya tak terdengar seperti menghina—setidaknya—tapi dibandingkan penghinaan, ucapannya lebih seperti mengasihani orang yang ia panggil Neji itu.
Kasihan ….
Neji setia pada sikap pasifnya. Ia tetap saja enggan untuk membalas perkataan ofensif yang diucapkan oleh Tenten terus-menerus. Baginya, dibanding membuang waktu untuk berdebat dengan manusia yang satu itu, jelas ia lebih memilih benda kesayangannya itu—ikat kepala—yang ia cari-cari dari tadi.
Neji pun akhirnya berhasil menemukan ikat kepalanya. Sebuah ikat kepala yang cukup panjang berwarna hitam pudar sudah berada di tangannya. Tanpa ia sadari, segaris senyuman terukir tipis di bibirnnya. Tak ingin terlalu lama membuang waktu, Neji langsung memakai ikat kepala itu tepat di dahinya—menutupi tanda silang yang diapit oleh dua garis melengkung tipis yang berwarna hijau pudar.
Tenten memajukan bibir bawahnya. Ia kembali mengambil potongan daging panggang yang berada di atas api unggun sambil meniup panasnya pelan-pelan, "kau masih mau memakainya?" orang ini selalu saja berhasil membuat Tenten terheran-heran dengan sifatnya yang terlalu setia, "pasti untuk menjual barang itu kau harus membayar pembelinya, Neji …."
Apalah yang dia katakan tidak berarti bagi Neji. Sekalipun itu ditujukan untuk menghina barang kesayangannya ini. Neji bukanlah tipikal orang yang memperhatikan apa-orang-bilang-mengenai-dirinya. Ia tidak peduli, bahkan terhadap kata-kata Tenten sekalipun. Ia tetap saja mengikatkan benda yang dibilang bulukan itu di dahinya. Setelah itu pun, ia tak menunjukkan tindak-tanduk bakal membalikkan pernyataan yang menghina barangnya itu. Ia malah duduk santai di samping Lee—pria lain yang berada di sana—sambil mengambil potongan daging yang sedang dimasak itu.
Lee hanya menatap datar interaksi kedua temannya itu. Bohong jika ia tidak pernah merasakan apa yang Tenten rasakan saat ini. Terkadang ia merasa kesal dengan tabiat Neji yang seakan mengabaikan teman-teman disekitarnya—ayolah, Neji sejatinya bukanlah orang yang seperti itu—tapi di sisi lain ia juga mengakui bahwa ia juga merasa bosan mendengar ocehan tak berarti milik perempuan itu.
Menurutnya, Tenten hanya membuang waktu dan tenaganya untuk hal yang sia-sia. Ia tahu benar teman di sampingnya ini seperti apa. Kepalanya ini bahkan lebih keras dibandingkan batu, buat apa menasehati orang yang satu itu? Ayah kandungnya sendiri saja berani ia tentang, apalagi teman kacangan seperti ia dan Tenten? Mengajak orang itu berdebat hanya membuat lelah saja.
"Jangan bilang kau lupa siapa yang memberikan itu pada Neji? Senjata-senjata itu sudah membuat otakmu tumpul, ya?"
Tenten berhenti mengunyah. Sedetik kemudian matanya membulat seakan sirkuit di otaknya baru saja tersambung secara sempurna menghantarkan impuls data. Ia pun menepuk dahinya, "kenapa aku bisa lupa, Hinata-chan, bukan—dan—hey! Apa maksudmu otak tumpul itu, ha?"
Ya … dia mulai menyembur lagi.
"Hei … akukan cuma bertanya," kilah Lee sambil mengunyah daging dalam mulutnya, "kau saja yang memang merasa seperti itu."
Tusuk yang digunakan untuk memanggang daging itu patah dalam genggaman Tenten. Mata coklatnya mendadak menatap nyalang pria berbaju ketat itu. "Apa kau bilang …?" desisnya pelan.
"Yang mana? Yang 'otakmu tumpul' atau 'kau memang merasa seperti itu'?"
"Ulangi …."
"Haah?" telinga Lee disfungsi mendadak, "yang mana? Otak tump—" dan kata-katanya tertelan kembali akibat bogem mentah yang dilayangkan Tenten barusan.
Lee pun terjengkang sedangkan Tenten malah berteriak, "APA KAU BILANG, BERENGSEK!" teriakan Tenten melengking sampai naik dua oktaf. Tangannya mengepal dan terus saja melempar pukulan keras yang bertubi-tubi ke tubuh Lee.
Neji hanya mendesah berat. Ia memijit pangkal hidungnya yang mendadak berdenyut. Ia merasa bingung dengan dirinya sendiri yang bisa-bisanya terjebak dengan kedua orang aneh ini.
Jika bukan karena dua tahun lalu, ia pasti tidak akan terjebak bersama mereka ini.
Tenggorokan Neji mendadak kering ketika ingatan itu terlintas di otaknya. Ingatan akan kemurkaan ayahnya yang berakhir pelarian irasionalnya ini.
Ya. Benar-benar irasional menurutnya. Terkadang ia merutuki dirinya yang terlalu kekanakan sampai memutuskan kabur dan keluar dari klan hanya karena sang ayah melarang keras dirinya untuk menjadi pejabat pemerintahan. Sungguh labil.
Saat itu ia baru berumur belasan tahun—delapan belas—mentalitasnya terlalu labil. Terlebih ia adalah tipikal orang yang terlalu ambisius, keras kepala, dan terkadang keegoisan menutup akal pikirannya.
Ia seorang jenius. Teramat jenius. Ayahnya seorang petinggi klan—dan pernah menjabat dalam pemerintahan saat rezim yang sebelumnya—jelas jika ia mendapatkan tempat yang strategis untuk mengasah kejeniusannya itu.
Ia mempelajari segalanya, entah yang memang seharusnya ia pelajari dan yang tidak. Otaknya ini dirancang selayaknya sebuah kain tebal yang kering, mampu menyerap genangan air kecil bahkan besar sekalipun. Sekalipun genangan itu masih menyisakan air, ia tidak akan pergi sampai kain itu mengering dan kembali menyerap air kembali.
Mata pelajaran sekelas kalkulus, bahasa asing dan klasik, serta sejarah memang sudah seharusnya ia pelajari saat itu. Tapi, otaknya yang haus akan ilmu itu menyerap pelajaran yang melebihi tingkat seharusnya. Ia diam-diam mempelajari ajaran-ajaran klasik maupun neo-klasik, hukum dan tata pemerintahan, serta filsafat secara mendalam.
Ia mempelajari itu semua. Dengan bakat yang ia miliki itu semakin mendorongnya untuk mendapatkan lebih, lebih, dan lebih. Tak heran jika ia menjadi lulusan terbaik serta termuda akademi. Lulus saat berumur 15 tahun.
Ilmu yang ia pelajari itu mengukir perlahan cita-citanya sebagai pegawai pemerintahan dalam hatinya. Maka, tanpa pikir panjang, setelah lulus ia mengutarakan niatannya pada kedua orang tuanya.
Ayahnya hanya terdiam ketika niatan itu terucap. Sedangkan ibunya? Sama sekali tak mengatakan semangat ataupun dukungan secara eksplisit. Ia malah menyarankan dirinya untuk menunda tiga tahun lagi—ketika ia sudah berumur delapan belas—saat ia sudah legal secara negara untuk mendaftarkan dirinya.
"Bukankah Neji masih berumur lima belas tahun? Masih ada tiga tahun untuk mempelajari hal lain bukan?"
Awalnya ia hanya mengiyakan. Ia bahkan sependapat, itu—ide ibunya—adalah ide bagus dan sama sekali bukanlah hal yang buruk untuk dilakukan. Maka, Ia kembali mendekamkan diri dalam lautan ilmu yang sangat ia cintai itu. Ia kembali ke akademi lagi. Namun bukan sebagai pelajar, tapi sebagai tim riset pengembangan ilmu pengetahuan. Ia mendalami kembali ilmu-ilmunya, menelaah kembali teori-teori yang selama ini ia pelajari, menuliskan banyak sekali manuskrip serta esai untuk diarsipkan.
Ia lakukan itu semua untuk mempersiapkan dirinya masuk ke ujian pegawai negeri saat ia berumur delapan belas tahun kelak, saat ia dapat diterima secara legal. Memperbaiki kembali dirinya agar ia pantas dan dapat diterima dengan pintu terbuka oleh ranah politik itu. Ia lakukan itu semua tak semata-mata ia suka dan ingin. Tapi juga karena ia menghargai keinginan orang tua tersayangnya.
Sayangnya, tanpa ia sadari, alasan itu hanyalah untuk mengalihkan dirinya dari tempat yang ia inginkan.
Pada saat yang sama, ayahnya mengajarkan ia berdagang, menempa besi, bertani, serta keahlian-keahlian tukang lainnya. Ia dibuat sibuk dan secara tidak langsung terlalihkan pada tempat lain.
Tapi itu tidak mengubah apapun pada dirinya.
Suatu malam, ketika ia pulang larut setelah menyelesaikan pekerjaannya di akademi, tanpa sengaja ia mendengar percakapan ayah dengan ibunya. Percakapan yang menjadi mengubah hidupnya dan mengulanginya dari awal lagi.
"Kita tidak bisa terus menerus membohonginya, Hiashi!"
"Tidak … kita tidak membohonginya Hitomi, sama sekali tidak …."
"Tidak membohongi? Lalu apa maksudmu dengan membawanya pergi berdagang sampai ke sawah itu?!"
"Aku hanya mengalihkan perhatiannya dari tumpukan perkamen busuk itu! Aku tidak membohonginya dengan apapun itu! Aku hanya mengalihkan perhatiannya agar ia lupa dengan mimpi—"
"—Lupa? Apa kau tidak menyadari kalau selama ini ia masih saja menggandrungi ilmu-ilmu itu? dengan harapan suatu saat nanti ia bisa pergi mendaftar ke ujian itu?"
Tak ada sahutan, Hiashi terdiam. Mulutnya seakan tersumpal kain.
"Kita sama saja memberinya harapan palsu … larang saja dia … Hiashi," ibu itu mulai terisak, "oh Neji … anakku … anakku yang malang … kenapa kau ingin pergi kesana nak …?"
Neji membatu seketika. Ia tidak mengerti apa yang terjadi saat ini. Kenapa kedua orang tuanya bersikap sedemikan rupa hanya karena mimpi besarnya ini? Kenapa hal ini sampai bisa membuat ibunya meratap pilu seperti itu? Kenapa ayahnya bersikeras mengalihkannya dari apa yang ia inginkan?
Ia memikirkan itu semua. Memikirkan segala kerumitan itu sampai tidak sadar ketika ayahnya membuka fusuma tepat di depan rupanya.
"Ne—neji?"
"Ne—neji?!"
"Neji!"
Neji tersentak seketika. Setetes air keluar dari pelupuk matanya menuruni pipi tirusnya. Dengan tergesa ia mengusap kasar bekas aliran cairan bening itu sampai kering.
"Kau tak apa?" tanya Tenten dengan raut khawatirnya.
Mendengar kalimat retoris itu Lee mendecak, "apa kau buta? Dia jelas tidak baik-baik saja—" kalimatnya mendadak terhenti ketika mahluk yang satu-satunya bergender perempuan itu memandangnya tajam, "—apa? Aku salah?"
Tenten hanya memutar bola matanya malas mencemooh ketidakpekaan teman pancinya itu, "kau tak apa, Neji?" ulangnya lagi.
Neji hanya menggeleng. Ia menepis pelan sebelah tangan Tenten yang ada di bahunya, "aku tak apa," jawabnya berusaha meyakinkan lawan bicaranya.
Tenten masih menatap Neji dengan raut khawatir. Dibandingkan Lee, ia jauh lebih mengenal siapa Neji sebenarnya. Ia sudah mengenali pria ini sejak kecil—mereka ini teman sepermainan—jelaslah jika ia tahu benar seluk beluk tentang pria yang kerap kali menutup isi hati serta apa yang sebenarnya ia pikirkan.
Maka, kejadian dua tahun lalu yang dialami Neji pun juga bukan sesuatu yang baru baginya.
Ia mendengus pelan, lalu sebelah tangannya merogoh kantong celana selututnya. "Kau tahu? Aku mendapatkan ini," selembar kertas telah terapit di kedua jemari lentik Tenten, "saat kau mandi, ada burung pengirim surat datang dan memberikan ini."
Bola mata kelabu itu memicing menatap selembar kertas yang agak kusut itu. Napasnya tercekat, kerongkongannya mendadak mengering, ia menatap horor lembaran kertas itu. Terutama ketika ia menangkap ikatan tali berstempel tersemat di surat itu.
Tanpa diberi tahu pun Neji sudah tahu dari siapa surat itu datang.
Terbesit perasaan ragu untuk mengambil surat itu. Rasa ragu yang dipenuhi oleh kedefensifanlah yang memenuhi hatinya. Jujur, dia bukanlah orang yang selalu merasa ragu. Bahkan memutuskan untuk angkat kaki dari rumah—dari klan—saja tak dipikir dua kali.
Tapi, jika sudah berurusan dengan ini—dengan-nya—selalu saja membuat Neji ragu.
Tenten tidaklah termasuk tipikal orang yang sabaran. Justru sebaliknya, ia adalah perempuan kasar dann jarang sekali terlihat sabar dalam kondisi-kondisi tertentu. Ia juga tak menampik kalau ia selalu merasakan kejengkelan tiap melihat sikap labil yang Neji lancarkan itu. Satu-satunya alasan ia menahan diri adalah karena ia tak ingin membuat Neji merasa tertekan.
Pria itu sudah cukup banyak tertekan.
Tapi, jika begini akhirnya, mana bisa ia mempertahankan sikap sabarannya yang memang tak tercipta tebal itu?! Tenten memijit pangkal hidungnya yang berdenyut. Oh Kami, kenapa memikirkan pria yang satu ini selalu membuat tensi darahnya naik seketika?!
Ia sudah tidak tahan, decakan keras lolos dari mulutnya dan dengan paksa, ia menarik lengan Neji dan membuka telapaknya untuk memberikan kertas menyebalkan itu kembali ke empunya.
"Lupakanlah masa lalu, Neji! Putuskan saat ini juga! Terlepas dari yang sudah-sudah!" ucapnya dengan intonasi yang tinggi.
"Aku tidak mengerti, kenapa kau begitu kekanakan seperti itu sampai tega meninggalkan ayahmu selama dua tahun lamanya?!"
Tak ada jawaban. Neji masih menutup mulutnya, seakan kata-kata itu bukanlah kalimat tanya yang perlu jawaban yang jelas.
"Kau tahu? Kau bukan lagi seorang remaja labil seperti dua tahun lalu, yang pergi dari rumah hanya karena impiannya tak direstui," Tenten meletakkan kedua tanggannya di bahu Neji, memberikan sedikit cengkraman di sana agar pria itu mau mengerti, "ia sangat menyayangimu, bodoh."
"Ia memintamu pulang ... pulang ke Taiyou sekarang juga ..."
Neji terdiam. Batu perak sewarna bulannya menatap Tenten tak percaya. Lidahnya kelu, tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Ia telah kehilangan semua kata-katanya. Benar-benar kehilangan.
Segaris senyuman terulas di bibir Tenten. Tangannya bergerak dari bahu ke garis rahang Neji yang tegas. Ibu jarinya mengusap pelan tulang pipinya yang tirus.
Ia tidak peduli lagi jika Neji semakin tertekan atau labil. Ia benar-benar tak peduli … karena ia sudah muak dengan segala sikap defensif itu. Terlebih … ia sudah tidak tahan melihat Neji yang masih saja tersiksa dengan masa lalunya sendiri. Tersiksa dan sama sekali tak berdaya untuk menghadapi-nya.
"Aku akan setia berada di sampingmu, bukankah begitu, Neji?" ucapnya retoris, seraya memeluk tubuh kekar itu.
.
.
.
Malam sudah sampai kepertengahannya. Bulatan perak berpendar menggantung besar di langit gelap yang penuh kerlipan cahaya bintang. Awan kabut gunung yang biasanya bermukim di puncaknya itu memberat perlahan dan mulai turun, bahkan sampai ke kakinya.
Semua sudah jatuh terlelap di alam mimpi masing-masing. Tak satupun yang mencoba untuk terjaga secara cuma-cuma. Hanya yang berkepentinganlah yang masih dengan sanggupnya tetap terjaga sampai pertengahan malam ini. Namun, untuk kali ini, ada sekelompok orang yang rela agar tidak terlelap tidur malam ini.
Empat orang pembawa tandu dan dua orang pengawal terlihat bergerak melewati jalan setapak yang membelah hutan di utara Taiyou. Mereka bergerak dengan cepat untuk ukuran sebuah tandu. Bergerak cepat seakan ada ada yang mengejar di belakang mereka.
Dua orang pengawal itu menenteng lentera untuk menerangi mereka ketika memasuki hutan Taiyou yang terkenal gelap. Masing masing dari mereka juga membawa senjata di belakang tubuh mereka, karena yang mereka kawal bukanlah orang sembarangan.
Seorang pemimpin klan.
Mereka berenam—serta orang yang ada dalam tandu—masih bergerak walaupun mereka sudah keluar dari jalan setapak. Mereka bergerak naik turun melewati gundukan tanah hutan yang tidak rata, berbelok ke kanan lalu kekiri ketika menemukan persimpangan, melewati sungai yang dangkal, sampai akhirnya mereka sampai di sebuah minka tua yang di kelilingi pagar kayu yang tingginya mencapai dada orang dewasa, serta terdapat lima orang tentara kerajaan berdiri di setiap arah.
Satu dari dua orang pengawal itu memberikan lencana ke tentara kerajaan yang berdiri di pintu masuk minka itu. Tak perlu waktu lama, tentara itu mempersilahkan agar tandu itu memasuki wilayah minka.
Rombongan kecil itu memasuki minka ketika pintu gerbang kayu itu dibuka. Tandu di turunkan perlahan setelah sampai di pekarangan minka yang cukup luas. Salah satu pengawal membuka pintu tandu itu lalu keluarlah seorang pria muda dengan yukata biru beraksen ombak tipis di lengannya.
Seorang pria awal dua puluh tahunan turun dengan elegannya dari tandu. Rambut perak berombaknya terlihat berkilau di tempa sinar rembulan. Tubuh tegap atletis yang membentuknya itu berdiri tegap ketika seorang pria paruh baya datang menyambutnya. Mata biru bening miliknya menyorot tajam pria paruh baya itu. Dengan segaris senyuman tipis, ia membungkuk tanda hormat pada pria itu.
"Selamat datang kembali, Hyuuga-sama."
Hiashi menatap curiga pemuda yang membungkuk dengan hormat iru. Namun ia bukanlah orang yang terlalu congkak untuk sekedar memberi penghormatan formal. Demi misi ini—demi Yang Mulia Selir—ia akan rela, membungkuk dengan hormat pada cecunguk sialan ini.
"Aku tak tahu kalau kau yang datang, Toneri-san."
Toneri—pria berambut perak itu—masih dengan senyuman tipisnya. Sorot matanya tetaplah tajam, seakan mencurigai balik pria bau tanah itu.
"Ya, Otou-sama telah wafat dua bulan lalu, dan saya diangkat sebagai penerus klan."
Anak yang sopan, cibir Hiashi dalam hati. "Kuharap Ootsutsuki menunjukkan itikad baik kali ini."
"Tentu saja, Hyuuga-sama," tentu saja.
Hiashi pun berbalik. Ia berjalan memasuki minka tua itu. Sedangkan Toneri hanya diam dan mengikuti pria tua itu dari belakang.
Mereka berdua memasuki minka dalam diam. Tak ada yang berusaha berbasa-basi. Karena mereka tahu, hubungan di antara mereka bukanlah hubungan yang layak untuk mengadakan sebuah basa-basi konyol belaka.
Karena hanya saling curigalah yang tepat untuk mengisi hubungan itu.
Mereka telah melewati genkan. Melepas alas kaki sekenanya, lalu kembali melangkahkan kaki menuju bagian dalam rumah. Mereka berhenti ketika sebuah fusuma menghalangi jalan mereka. Hiashi yang ada di depan menggeser pintu itu dan mempersilahkan Toneri—yang notabenenya lebih muda—memasuki terlebih dahulu ruangan itu.
Ruangan itu cukup luas dan nampak seperti kamar-kamar tidur biasa. Futon putih bersih terhampar di belakang ruangan, di depannya berdiri meja kayu berkaki rendah yang memanggul beberapa gulungan perkamen. Tiga bantal duduk terdapat di sana. Satu yang berada di kanan meja, sedangkan dua yang ada di depan meja berhadapan dengan letak futon. Terlihat biasa memang, tapi satu hal yang membuat kamar itu menjadi tidak biasa. Kipas merah-hitam besar tergambar di washi fusuma belakang ruangan. Sebuah kipas besar yang melambangkan sebuah klan.
Klan uchiha, dinasti yang membangun Taiyou.
Dua orang manusia berlainan jenis kelamin itu telah menunggu kedatangan Mereka. Seorang wanita yang seumur dengan Hiashi itu duduk dengan anggunnya di atas futon kamar. Kimono merah sederhana yang ia kenakan itu menjuntai sampai ke lantai kayu minka. Rambut hitam legamnya tersanggul rapi di belakang kepalanya oleh sebuah kanzashi yang sewarna dengan kimono-nya. Di sisi kirinya – tepatnya di kiri meja, duduklah seorang pria yang seumuran dengan Toneri. Rambutnya sewarna dengan milik wanita itu. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan senyuman ramah tak pernah lepas dari bibir tipisnya.
Mikoto Uchiha, Yang Mulia Selir yang kini menjabat sebagai pengganti raja sementara, dan Itachi Uchiha, anak angkatnya – anak dari Permaisuri yang telah wafat dahulu, pewaris tahta Kerajaan Taiyou, sudah duduk menunggu kedatangan duo pemimpin klan besar itu.
Hiashi dan Toneri pun bersujud memberi hormat kepada wanita itu. Lalu duduk menempati bantal yang masih kosong. Hiashi memasang senyum tanda penghormatan. Sebaliknya, Toneri memasang senyum miring sedikit menghina Itachi yang ada di seberangnya.
"Maaf membuat anda menunggu lama, Mikoto-sama," ucap Hiashi dengan penuh rasa memohon.
Mikoto hanya tersenyum. Umurnya yang hampir mencapai setengah abad itu sama sekali tak membuatnya terlihat tua. Bahkan terlihat cantik dan awet muda dan berwibawa selayaknya ibu di pertengahan umurnya.
"Tidak masalah, Hiashi-san, aku tidak keberatan," ia menjedah sejenak mengambil napas, "lagipula aku yang meminta waktu kalian, bukan—"
"—langsung saja, Mikoto-san," potong Toneri tanpa pikir panjang.
Bola mata kelabu milik Hiashi terbelalak kaget, ia menatap nyalang pria yang jauh lebih muda daripada dirinya dan mungkin, seumur anak sulungnya itu.
Berani-beraninya dia … terhadap Yang Mulia Selir seperti itu ….
"Tidak apa, Hiashi-san," ucap Mikoto seakan tahu apa yang dipikirkan Hiashi, "lagipula … Toneri-san masih muda, wajar jika ia berbuat salah, dan lagi …" ia kembali menjedah menarik napas panjang yang tidak kentara, "… ini bukanlah saat yang tepat untuk berbasa-basi ..."
Ruangan itu hening seketika. Teramat hening sampai tak ada satupun yang mencoba memecahkan keheningan itu. Tak satupun, tak terkecuali Toneri yang tadi dengan congkaknya menyerobot kata Yang Mulia Selir.
Tangan Mikoto terkepal, meremas kimono-nya perlahan. Jemari lentiknya terlihat sedikit bergetar, seakan berusaha mengumpulkan kembali kekuatannya yang hilang perlahan.
Itachi menatap sendu orang yang telah mengasuhnya lebih dari sepuluh tahunan ini. Ia sangat mengenal wanita ini. Bahkan jauh sebelum wanita itu datang ke istana dengan membawa anak. Ia mengerti bagaimana perasaan wanita itu begitu mengetahui berita bahwa orang yang paling ia benci itu kembali ke tengah-tengah masyarakat. Kembali dengan segala potensi penghancurnya serta membawa jauh lebih banyak kekhawatiran di hatinya.
Wanita itu selalu seorang diri. Saat ia ditendang dari istana dengan tidak terhormatnya, ia sendirian. Di masa-masa ia nyaris tidak sanggup untuk mempertahankan jabang bayi di kandungannya, ia tetap saja sendirian. Bahkan ketika ia sudah mendapatkan kembali orang terkasihnya, kekuasaan, dan apa yang seharusnya ia dapatkan, ia kembali sendiri karena orang terkasihnya justru direnggut nyawanya dengan sadisnya.
Ia selalu sendiri. Berjuang sendirian. Bahkan keputusannya untuk mengambil alih tahta pengganti seorang raja ia lakukan sendiri. Ia melakukannya karena ia tidak ingin – ia tidak ingin lagi apa yang ditinggali suaminya dijarah, diekploitasi oleh pihak-pihak yang merenggut nyawa suaminya, dan kini, ia harus berjuang kembali untuk melawan orang itu – orang jahat itu.
"Haha-ue, biar aku saja—"
"—Tidak Itachi, tidak, aku saja," suaranya terdengar tercekat, dan matanya mulai sembab,"aku tak apa" ucapnya lirih, "aku harus mempertahankan wibawaku di depan mereka, bukan?"
Ironi.
Itachi diam saja. Pria itu menelan kembali kata-katanya bersama ludah kering yang mengumpul di mulutnya tadi. Dalam hatinya masih menumpuk rasa tidak terima jika wanita itu—wanita yang ia anggap seperti ibu sendiri—harus memulai ini semua harus berjuang kembali di garis depan demi mengalahkan manusia bengis itu.
Tapi, setidakterimanya dia, ia harus tetap terima dan mengijinkan apa yang wanita itu inginkan. Karena dengan itulah—memenuhi ambisinya—wanita itu akan bahagia.
Mikoto mengambil napas lagi, berusaha menengangkan dirinya. Menahan sekuat tenaga air mata yang akan keluar dari pelupuk matanya. Kemudian bibirnya pun mengulas segaris senyuman. Senyuman pahit.
"Kumohon pada kalian, Hyuuga-sama, Ootsutsuki-sama, sekali lagi, pinjamkan aku kekuatan kedua klan kalian untuk menumpas habis Madara Uchiha."
.
.
.
Hari sudah berganti hari. Namun langit masihlah gelap dan bulan belum turun dari peraduannya. Burung hantu yang hanya keluar di kala malam meraja itu masih menikmati perburuannya. Kerikan jangkrik terdengar sayup-sayup bernyanyi di hutan. Kerlipan kunang-kunang sudah terlihat jarang—tak sebanyak tadi—dan mulai meredup karena beberapa jam lagi fajar akan menyingsing.
Hari mungkin telah berganti, tapi ketiga orang itu masihlah tetap setia duduk di ruangan itu walaupun telah kehilangan satau anggotanya, seorang pria muda berambut perak. Ia sudah pulang ke kediamannya sedari tadi lamanya.
Mereka semua terdiam. Tak satupun yang berusaha berbasa-basi, menghilangkan ketegangan yang tercipta di ruangan ini. Pria paruh baya itu sejatinya sudah pulang sedari tadi. Ia juga sudah berpamitan secara resmi bersamaan dengan kepulangan Ootsutsuki itu. Tapi, tak berselang lama, ia malah kembali ke minka ini lalu bersimpuh membungkuk hormat pada wanita yang ada di belakang meja.
Mikoto mungkin bukanlah pemimpin yang baik. Ia adalah seorang wanita—mahluk yang mengandalkan perasaan ketimbang logika—jelas di saat-saat seperti ini, saat di mana ia mempertaruhkan segalanya untuk suatu hal yang bahkan kemungkinan keberhasilannya kurang dari setengah persen itu membuat perasaannya kalut serta bimbang. Terlebih, sikap aneh pria ini semakin menjerumuskannya dalam kebingungan.
Ia sangat mengenal pria ini. Hiashi bukanlah tipikal orang yang mempermasalahkan sesuatu hal kecil yang tidak penting. Ia adalah loyalis yang paling setia, paling mengerti apa yang tuannya kehendaki, sehingga sangat tidak mungkin jika ia datang dengan keadaan seperti ini dengan membawa alasan kosong belaka.
Sayangnya, kebimbangan serta kekalutan itu sudah terlanjur meliputi isi hatinya. Mikoto terkesan labil sekarang. Ia merasakan banyak ketidakyakinan mulai mengisi perasaannya hanya karena melihat sikap abnormal yang pria itu.
Pria ini satu-satunya orang yang ia percayai untuk keberhasilan rencanya. Jika pria itu sendiri merasa tidak yakin, pada siapa seharusnya Mikoto percayai?
"Hiashi-san—"
"—maafkan saya, Mikoto-sama, kita tidak seharusnya mempercayai Klan Siluman itu!" serunya lantang sambil terus membungkukkan tubuhnya.
"Jaga ucapanmu Hiashi-san!" ucap Mikoto dengan tegas, buku-buku tangannya mengeras, memutih karena mengepal dengan erat, "jika bukan karena rencana ini, kau sudah kupenjarakan saat ini juga!" eramnya kesal.
Hiashi terperangah kaget akan ucapan Mikoto barusan. "Klan itu—Ootsutsuki—tidak dapat kita prediksi pergerakannya, Mikoto-sama. Mereka bukanlah bagian dari kita—Taiyou—mereka itu dari Taiping, negara independen yang memiliki kepentingan tersendiri. Kita tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan, Mikoto-sama!"
Amarah mulai menyulut perasaan Mikoto yang memang tidak stabil itu, "hentikan itu, Hiashi!" ia menjedah, "Ootsutsuki adalah kerabat jauh dari Uchiha, ia kerabat dari Itachi dan mereka satu-satunya klan terkuat yang bisa kumintai tolong untuk menghancurkan Madara!"
"Bisa-bisanya kau berseru seperti itu dihadapan Itachi …."
"Mikoto-sama, bukan begitu maksud saya …" ia menjedah kembali menundukkan kepalanya lebih dalam lagi, "… anda hanya perlu bergantung pada saya—Klan Hyuuga—kita tidak membutuhkan—"
"—Tidak, Hiashi, tidak …" napasnya mulai tercekat bahunya naik-turun tak beraturan "… kalian tidak bisa menumpas itu sendirian … Madara itu licik! Kita tidak tahu apa yang mereka rencanakan … kita juga tidak bisa hanya berpangku pada satu kekuatan! Kita tidak bisa, Hiashi … tidak bisa …"
"—Mikoto-sama!"
"—Maaf menyela, Hiashi-san," Itachi pun angkat bicara untuk menengahi perdebatan ini, "kami sudah mengonfirmasi tentang kepercayaan Klan Ootsutsuki, dan aku yakin bahwa mereka tidak akan menghianati rencana ini."
Hiashi sedikit mengangkat tubuhnya, raut tidak percayalah yang ia pasang di wajahnya saat ini, "apa anda yakin, Itachi-sama?"
"Yakin sekali, kami sudah menyelidikinya selama sebulanan ini."
"Kita masih tidak benar-benar tahu apa yang benar-benar mereka rencanakan, Itachi-sama, kita benar-benar tidak tahu."
"Sama halnya dengan kami yang juga tidak benar-benar tahu isi hatimu, bukan?"
Hiashi sedikit tercekat. Ia tidak memikirkan sampai ke detail yang itu. Kenyataan bahwa masih ada peluang dirinya untuk menghianati Mikoto serta Itachi sama itu benar-benar memukul keras egonya.
Ia terhenyak. Keadaan ini benar-benar masih abu-abu. Tidak ada yang jelas siapa lawan siapa kawan. Kita tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi esok. Jangankan esok, teman jadi lawan maupun sebaliknya saja dapat terjadi dalam hitungan detik saja.
Hiashi menelan ludah kecutnya, "anda tak perlu meragukan saya, saya loyalis setia anda, Mikoto-sama, Itachi-sama," ucapnya seraya menundukkan kepalanya dengan hormat.
Mikoto masih menatap Hiashi sangsi. Emosinya benar-benar tak terkendali saat ini. Ia benar-benar merasa bingung dan tidak berdaya dengan semua ketidakpastian yang dihadapkan padanya. Bahunya masih naik-turun tak beraturan, tanda bahwa emosinya masih memuncak dan belum ada tanda akan surut.
Tenggorokan Hiashi merasa kering. Ia benar-benar merasa keputusannya dalam mengutarakan pendapatnya ini salah. Tak seharusnya ia mengutarakan pendapatnya ini. Tak seharusnya.
"Saya mohon maaf sekali lagi Yang Mulia," ulangnya lagi dalam posisi yang sama.
Mikoto hanya diam tak berbicara. Ia masih setia pada puncak amarah serta emosinya yang sedang labil. Menyadari akan hal itu, Itachi mengambil alih peran Mikoto.
"Kau bisa pergi sekarang, Hiashi-san," dan pria itu segera berbalik pergi meninggalkan dua orang itu sendirian di ruangan itu.
Bahu Mikoto merosot seketika. Napasnya yang tadi memburu itu mulai lepas dalam satu hembusan. Ia benar-benar merasa putus harapan dan semakin tidak yakin dengan semua yang ia putuskan dan rencanakan selama setengah tahunan ini.
"Haha-ue!" Itachi menyeru dan dengan sigap ia memegangi tubuh wanita itu yang hampir limbung membentur lantai kayu ruangan.
"Haha-ue …" ucapnya lirih dan membekap erat tubuh rapuh wanita yang membesarkannya lebih dari separuh umurnya itu, "aku akan berada di samping Haha ... selalu …."
"Itachi …" suara itu jauh lebih lerih dibanding suaranya, "maafkan Haha karena menyeretmu ke dalam masalah ini …"
"Maafkan Haha ..." suaranya tercekat, napasnya kembali tersendat, dan bahunya mulai naik turun tak beraturan, "... aku tidak pantas menjadi sosok Haha untukmu, Itachi ..."
"Aku sudah menjerumuskanmu pada masalah ini ... dan bahkan ... aku mungkin akan membawamu mati bersamaku pula."
Itachi hanya diam. Ia tidak mampu membalas perkataan ibu asuhnya itu. Pikirannya seakan kosong. Amarah yang dari dulu ia tahan mulai merebak memenuhi setiap sisi hatinya.
Jika ditanya apakah ia baik-baik saja dengan keadaan ini, ia jelas tidak baik-baik saja. Ia cenderung membenci semua masalah yang secara tidak langsung dibebankan pada punggungnya ini.
Masalah ini … jelas-jelas mengambil sebagian harapan hidupnya untuk tenang dan bebas dari intrik licik manapun.
Tapi, bisa apa dia? Ia tidak tega meninggalkan wanita itu berjuang di jalan ini sendirian, tanpa ada yang menemani. Setiap kali ia berpikir untuk menyerah berdiri di samping wanita itu, bayangan akan kasih sayang wanita itu saat ia kecil selalu saja datang menghalanginya, menarik kembali pikiran itu. Ia terlalu sayang pada orang yang telah mengasuhnya lebih dari setengah hidupnya. Bahkan rasa kasih sayangnya itu melebihi rasa sayang pada ibu kandungnya sendiri yang telah meninggalkannya lama.
"Apakah … apakah Sasuke sudah mengetahui akan rencana ini?" suara yang lirih itu kembali terdengar.
"Tidak …" ia menjedah sejenak, "Sasuke tidak tahu rencana ini, ia hanya tahu kalau Madara akan keluar dari sel tahanan."
Mikoto menghembuskan napas panjangnya, "syukurlah …."
Itachi kembali diam. Ia masih mendekap tubuh rapuh ibu angkatnya itu.
"Berajanjilah padaku satu hal itachi," ucapnya pelan, Itachi terhenyak dan menatap wajah wanita itu dari atas.
"Berjanjilah untuk tidak membiarkan Sasuke mati bagaimanapun juga keadannya …."
"… karena hanya Sasuke lah harapan kita satu-satunya untuk mengambil alih tahta jika kita terbunuh esok."
.
.
.
.
.
A/N
Somehow, aku harus menjelaskan sejauh apa alur ini, tentang fanfik ini, dan nge-rant dikit. Maaf kalau malah jadi manjang-manjangin words. Ini fanfik sebenarnya adalah cita-cita pribadiku untuk membuat fanfik dengan bumbu politik di archieve sasuhina yang udah terlalu banyak lemonan. Istilah lainnya, bosen.
Lalu, kenapa rate M? Masih save gini juga. Karena politik itu terlalu berat untuk dimasukkan ke rating T apalagi K. Gini deh, orang mau ikut pemilu minimal 17 tahun kan? Umur yang udah bisa dianggap dewasa. Jadi, bahasan politik itu bukanlah konsumsi – sebagian remaja dan jelas bukan untuk anak-anak.
Apakah ada lemon/lime-nya? Nggak menjanjikan seperti lapak-lapak yang lain.
Ini fict tentang apa? Poin utamanya untuk saat ini ya tragedi 10 tahun lalu. Karena itu yang dimasalahin sampe sekarang. Madara – biang keroknya, dapet surat pengampunan masa tahanan, jelas dia bisa balik dan yang di khawatirin Mikoto sama Itachi adalah dia balik dan bikin kudeta lagi.
Minimal berapa chapter? Hmm … belasan atau mungkin puluhan yang jelas ngga sampe ratusan. Ending masih belum terlihat.
Update sebulan sekali. I hope so, jujur, SMA is really … ucking hard and getting tired of all those responsibility. Maaf kalau ngaret /bungkuk.
Jangan lupa ff mu yang lain. Nggak lupa, cuman … pending dulu ya, ini harus diutamain karena ff ini, terlalu berat untuk di pending sampe tiga bulanan :'')
Hinata-chan jadi cast utama? Jelas.
Apa Naruto menjadi penghambat hubungan Sasuhina? :).
Madara adalah musuh mereka sebenarnya? Untuk saat ini iya.
Apa ini cinta segitiga? Ini reverse harem sebenarnya, di mana hinata akan dikelilingi banyak pria yang memiliki motif yang berbeda untuk tetap berada di sampingnya.
Gak ada interaksinya dengan abang saskey. Iya ya, kapan adanya? Tunggu ya kawans.
Kenapa Hinata bisa lupa sama Naruto? Simply, trauma.
Senpai, pairnya Sasuhina kan? Jelas.
Fict ini fokusnya ke cinta atau politik? Dua-duanya, untuk saat ini masih fokus ke politik dulu karena masalah tragedi 10 tahun lalu blm kelar. Akan nada saatnya Sasuhina terus yang dibahas. Jadi … nikmatin dulu, oke :).
Apakah nanti ada perang? Technically, :]
Apa Hinata rakyat jelata? Nggak, bapaknya dulu pernah kerja di pemerintahan.
Udah ya, segitu dulu. Yang mau tanya apa aja silahkan kirim ke kotak review. Bakal dijawab (selama itu bukan spoiler). Terima kasih, yang sudah like dan follow. Lumayan buat pelepas stress.
Salam.
Kana
