First Love
Park Jimin & Min Yoongi
Namjoon;Seokjin;Taehyung;Jungkook;Hoseok
Other
Rated : T
Warning! BL/AU/OOC/Abal/Typo(s)
.
.
Semua cast milik Tuhan dan diri mereka sendiri, saya hanya meminjam nama mereka untuk menuangkan isi pikiran saya melalui ff ini.
Mohon maaf jika ada yang tidak suka, I hope u don't bash cast in here.
.
Enjoy!
.
Kemarin malam tepat hari pertama Yoongi, Seokjin, dan Taehyung pindah ke apartemen Namjoon. Mereka sampai di apartemen tepat jam sembilan malam, dan memutuskan untuk makan di cafeteria gedung atas. Dan hari itu juga Yoongi bertemu dengan Jimin, kebetulan macam apa ini. Pikir Yoongi.
Awalnya Yoongi menolak untuk ikut. Tapi Seokjin memaksa, karena selama perjalanan Daegu-Seoul perut Yoongi hanya terisi air mineral saja. Jimin, berterimakasih lah pada Seokjin karena dia kau bisa bertemu Yoongi.
Yoongi sebenarnya sangat lelah untuk hanya sekedar makan, ia ingin cepat-cepat berbaring. Dimana pun itu tak masalah. Sesampai di cafeteria pun Yoongi langsung mendudukan dirinya di kursi, dan tidur. Seokjin tersenyum lembut melihat betapa kelelahan sahabatnya itu.
Saat Namjoon dan Seokjin kembali ke meja dengan beberapa nampan berisi pesananan, Yoongi tahu mereka membawa seseorang untuk bergabung. Ya, dia Jimin teman kecilnya dulu saat sama-sama di Busan.
Entalah Jimin menganggapnya teman atau bukan. Karena pertemuan mereka berdua hanya seminggu. Dan Yoongi tidak tahu apa yang di lakukan Jimin selanjutnnya.
Mereka berdua sama-sama tidak berpamitan juga. Dan Yoongi menyesali itu.
Karena itu, Yoongi pun berpura-pura tertidur dan menunggu Jimin. Apakah dia mengenali dirinya atau tidak.
Bingo.
Jimin tidak mengenali dirinya. Dan siapa itu Jungkook? Jimin sangat asik bersamanya sampai melupakan sekitar. Tidak. Melupakan Yoongi lebih tepatnya.
"Yoon…ada yang mencari mu,"
Suara Seokjin melunturkan lamunan Yoongi, tentang kejadian kemarin malam itu.
Seokjin melihat sahabatnya dalam. Dimana janji sahabatnya itu saat masih di Daegu? Keadaanya masih sama seperti di Daegu, duduk di sofa dengan tv yang menonton dia. Seokjin tersenyum.
Yoongi menoleh ke arah Seokjin, "Siapa hyung?" tanya nya.
"Temui saja."
Seokjin pun menduduk 'kan dirinya di sofa, dan Yoongi yang berjalan ke arah pintu apartemen.
Dret
From : Namjoonie
Sayang, aku ingin makan sup rumput laut. Bisa kau buatkan untuk ku? Akan ku usahakan pulang cepat. Love you.
Seokjin tersenyum melihat pesan dari sang kekasih. Di pikir-pikir selama mereka memadu kasih, Seokjin belum pernah memasak untuk Namjoon. Itulah beratnya long distance relationship harus pintar memanfaatkan waktu ketika bersama. Dan Namjoon dapat melakukan itu.
To : Namjoonie
Baiklah, jangan terlalu dipaksakan. Kalau kau lelah beristirahatlah sejenak, Joonie…
Balas Seokjin.
"Sebentar lagi waktu makan malam, dan Taehyung kenapa belum pulang juga?" tanya Seokjin entah pada siapa. Ia pun berdiri, dan menuju dapur.
Dirinya masih memikirkan Taehyung. kemarin malam adiknya itu tidak pulang bersama Namjoon saat dari cafeteria, Namjoon bilang Taehyung sedang ada urusan.
Dan tadi pagi Seokjin tidak bertemu lagi. Yoongi bilang, dia harus datang pagi untuk pemotretan pertamanya. Setidaknya Taehyung menghubungi dirinya juga, tak tahu apa kakaknya disini sedang khawatir setengah mati.
Dan juga, ini hari pertamanya Taehyung menginjak Seoul, tidak ada rasa takut di benak adiknya itu kah? Terkadang melelahakan juga mempunyai adik yang ajaib seperti dia. Keluh Seokjin.
Seokjin pun kembali memasak. Mungkin karena adiknya sudah memberitahu Namjoon dan Yoongi, makanya dia tidak menghubunginya lagi. Pikirnya positive.
Kembali ke Yoongi.
Kenapa terasa sangat lama sekali untuk menuju pintu. Apa karena efek apartemen yang besar atau Yoongi yang berjalan seperti siput. Yoongi pun langsung membuka pintu tanpa melihat benda persegi panjang, yang biasa berada di samping pintu untuk melihat siapa yang bertamu.
"Si—"
Yoongi membulatkan mata kucingnya. Dan reflek menutup pintu kembali.
'Jimin! Untuk apa dia kesini'
Suara bel terus berbunyi, dan Yoongi masih belum membuka pintu. "YOON KAU BELUM MEMBUKA PINTUNYA JUGA?!" teriak Seokjin dari dapur.
Yoongi sadar dari lamunannya. Ia pun membuka pintu, dan melihat Jimin melipatkan tangannya di dada.
"Hyung! Kau kira aku setan, sampai menutup pintu lagi. Masih marah?" tutur Jimin.
Yoongi menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Tidak, aku hanya kaget." Ucapnya.
Jimin tersenyum. "Bilang saja kau terpesona dengan ketampanan ku." Jimin melangkah masuk, meninggalkan Yoongi yang terdiam.
Yoongi masih tak habis pikir, sejak kapan si bocah cengeng berbadan gemuk menjadi seperti itu sekarang. Menjadi sangat percaya diri. Ya, Yoongi akui juga Jimin sangat tampan. Masih memakai setelan jas dan tas kerja. Kenapa dia juga repot-repot kesini, bukannya kamarnya ada di lantai bawah?
Untuk menemui mu Min Yoongi.
"Hyung, kau tak ada niatan untuk memberiku minum?" gumam Jimin, melihat pemuda pucat itu berjalan ke arahnya, yang tengah duduk di sofa.
"Kenapa kau dari dulu selalu menyusahkan, Jim." Degus Yoongi, tetapi tetap berjalan ke arah dapur.
Di sepanjang jalan menuju dapur, Yoongi terus mengucapkan sumpah serapah. Apa Jimin memang orang seperti itu? Bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, sedangkan ia terus memikirkan hal yang jelas-jelas orang 'itu' tak peduli?
Sial. Yoongi muak. Kenapa ia harus bertemu Jimin dua belas tahun lalu. Kenapa?
Seokjin yang melihat Yoongi pun bingung, terang saja sahabat berkulit pucatnya itu datang dengan segudang kata kotornya. Ingin menyumpahi dirinya?
"Sudah bertemu dengannya?" ucap Seokjin.
Yoongi tengah sibuk mencari gelas, enggan menjawab pertanyaan Seokjin.
"Lemari dekat kulkas, rak kedua. Beri dia cola dan camilan yang ada di meja."
Seokjin tahu Yoongi sedang bingung mencari gelas, dan juga bagaimana kalau misalnya dia kesasar di suatu tempat? Sama dirinya saja enggan bertanya, bagaimana dengan orang lain?
"Hyung. Kenapa kau tak bilang yang datang itu Jimin?" tanya Yoongi.
Yang ditanya hanya diam, fokus dengan masakannya.
"Kenapa kau mengabaikan ku?" tanya Yoongi lagi.
Seokjin menghadap Yoongi, "Kau mengabaikan ku juga." Jawabnya.
"Pertanyaan mu itu tidak penting sekali hyung."
"Lalu, apa pertanyaan mu itu penting juga?" balas Seokjin.
Yoongi berjalan ke arah Seokjin. "Sudahlah hyung, aku malas berdebat dengan mu. Kenapa akhir-akhir ini kau jadi sensitive sekali." Ucapnya seraya pergi meninggalkan Seokjin.
Belum selangkah Yoongi berjalan, Seokjin membalas.
"Siapa yang memulainnya Yoon? Kau sudah berjanji bukan untuk menghilangkan sikap mu itu. Dan mandilah, kau seperti kucing yang tak di mandikan selama sebulan."
Seokjin tertawa.
"Baiklah, dan maafkan aku,"
"Jimin yang melarang ku mengatakannya, sepertinya dia niat sekali untuk meminta maaf. Bersikap baik lah Yoon." Ucap Seokjin, menjawab pertanyaan Yoongi tadi.
Yoongi terdiam, "Ya, aku tahu." Balasnya, sebelum benar-benar pergi.
Memang benar dirinya dan Yoongi, akhir-akhir ini sering berdebat. Syukurlah, selalu terselesaikan dengan baik. Seokjin ingin sekali membuat kucing rapuhnya itu lebih menikmati hidupnya. Sulit sekali menghadapi Yoongi, walau sudah bersama cukup lama. Banyak aspek tentang Yoongi yang ia tak ketahui.
.
.
Yoongi meletakkan nampan berisi minuman dan camilan di meja. Tapi dimana Jimin? Hanya ada jas dan tasnya saja.
"Soonyoung sedang cuti?! Kenapa dia tidak memberitahuku!"
Yoongi mencari sumber suara yang seperti orang kebakaran jenggot. "Oh…begitu marahnya seseorang yang selalu tebar pesona haha." Cicit Yoongi, ia tengah menguping pembicaraan Jimin yang sedang bertelepon.
'kenapa dia harus melepas jasnya?! Dan hanya memakai kemeja biru! Batin Yoongi
"Pasti dia sering berolahraga, tubuhnya berubah drastis. Dan lihat dirimu Min Yoongi." Cicit Yoongi lagi. Seraya melihat tubuhnya yang seperti kucing jalanan.
"Menaruhnya di meja?! Kenapa harus takut tidak di ijinkan, baiklah biar aku yang urus." Jimin memutus sambungan telepon, sepertinya ia harus lembur lagi.
Jimin tersenyum melihat Yoongi yang bersembunyi, tapi ocehannya tetap tak tersembunyikan, "Sedang apa kau hyung disitu." Gumamnya.
"Eh? T-tidak aku sedang mencari kunci kamar ku." Elaknya
CEO muda itu menaikan alisnya. "Mencari barang? Kenapa kau tertawa sejak tadi? Ada yang lucu?" tanya Jimin
"Tertawa? Siapa? Sudahlah aku ingin mandi." Yoongi bergumam, ia memang harus pergi dari hadapan Jimin, ekspresinya sudah tidak bisa di control.
Jimin kembali ke sofa. Apa ia pulang sekarang saja? Inikah yang di sebut masa muda yang kelam? Mirisnya. Bahkan Chanyeol bebas berkelana kemana saja.
Di umurnya yang masih di bilang seumur jagung pun, ia sudah menanggung tanggung jawab yang berat ini. Ia sarankan untuk anak muda sekarang, nikmatilah hidup dengan lebih baik. Siapa sangka jabatan yang selalu di inginkan orang lain, dan selalu di sebut ringan karena hanya di cap memerintah itu sulitnya luar biasa.
Buktinya untuk mandi saja Jimin tak sempat.
Jimin sepertinya harus pulang sekarang. Ya, menunggu Yoongi atau Seokjin lebih baik, sekaligus berpamitan juga. Tatak rama lebih penting.
Tatak rama? Lalu yang CEO muda itu lakukan saat bertamu tadi apa? Menyuruh tuan rumah memanggil Yoongi, seenak masuk dan meninggalkan Yoongi yang terdiam, meminta minum lebih dulu. Itu yang di sebut tatak rama, tuan muda?
Anggap saja Jimin kehilangan setengah otaknya sebelum kesini.
"Jin hyung? Mau kemana?" Tanya Jimin yang melihat Seokjin terburu-buru menuju pintu. "Ah Jimin! Namjoon sudah pulang. Nanti dulu ya bicaranya," ucap Seokjin.
Bukannya Namjoon pemilik apartemen ini? Untuk apa Seokjin membukakan pintu? Pasti Namjoon tau dengan baik password rumahnya ini, ah Jimin tau. "Dasar bandit mesum." Gumamnya datar.
Hampir sepuluh menit Seokjin belum kembali juga.
"Lho, Park. Sedang apa kau disini?" suara Namjoon menghilangkan keheningan ruang tengah milik apartemennya.
Jimin tersenyum miring, "Pintar sekali kau hyung."
Namjoon tertawa mendengar ucapan rekan bisnisnya itu. "Iri saja kau, Park." Balasnya.
Melihat reaksi Seokjin yang seperti itu, Jimin tau dia tak paham. "Jimin, ayo makan dulu. Aku sudah membuat banyak makanan." Tawarnya.
Bayangkan saja apa yang di lakukan Namjoon pada Seokjin di pintu tadi.
.
.
Semuanya sudah berada di meja makan, bahkan Yoongi sudah selesai membersihkan tubuhnya. Semua menatap bingung pemuda pucat itu, terlibih Seokjin. Pasalnya tak biasanya Yoongi memakai piyama, bahkan saat di Daegu Yoongi sering menggunakan jeans saat tidur.
'kerasukan setan apa dia' batin Seokjin.
"Kenapa kalian semua menatap ku." tutur Yoongi tanpa menatap mereka, ia malah menyibuk 'kan mengambil lauk di mangkuk nasinya.
Namjoon yang paham enggan menjawab, toh dirinya baru mengenal sahabat dari kekasihnya itu. Yang Namjoon lihat memang sedikit berbeda, Yoongi yang cuek dengan penampilannya yang terlihat manis dengan piyama. Ia teringat saat kekasihnya mengoceh pagi-pagi, hanya untuk menyuruh sahabatnya bangun dan mandi.
Jawabannya Yoongi tetap tertidur, bahkan sebelum Jimin datang. Yoongi tengah di tonton oleh tv.
Seperti bukan Min Yoongi, kalau dia memperhatikan tampilannya.
"Ah! Ayo makan." Ucap Seokjin mencairkan suasana.
Di saat yang besamaan, Jimin terkaget-kaget saat mendengar suara Seokjin. Tidak ada yang menyadari dari tadi ia terus memandangi sosok di hadapannya, yang tengah makan terlebih dulu.
"Hyung. Aku ingin minta bantuan."
Jimin memulai pembicaraan. Karena disini Jimin yang termuda, semua menatapnya karena merasa terpanggil.
"Kau mau minta bantuan siapa Park?" tutur Namjoon.
Jimin memutar bolamata nya malas, "Heh, kau tak dengar nada bicara ku hyung? Hanya pada mu aku bicara begitu." Namjoon menghentikan makannya, " Ya sudah, aku tidak mau membantu." Jawab Namjoon malas.
Jimin memiringkan kepalanya ke arah Namjoon, yang ada di sampaingnya. "Baiklah. Hyung tolong carikan aku sekretaris, ya ya?" ucapnya melas.
Namjoon pun menghadap ke arah rekannya itu, "Bukannya kau harus mencari yang cocok Park? Mungkin kalau aku menggantikan posisi ayahku nanti, Jin yang akan menjadi sekretarisku." Seokjin yang mendengarnya, memukul tangan Namjoon gemas.
"Jimin, sepertinya Yoongi bersedia—" Yoongi seketika menghentikan acara makannya saat Seokjin meyebut namanya, "—dia sering membantu pekerjaanku saat di Daegu. Tapi dia sering di tolak saat melamar kerja, katanya wajahnnya kaku seperti batu." Seokjin tertawa renyah.
Yoongi lagi-lagi membulatkan mata kucingnya, saat mendengar penuturan terakhir Seokjin. Apa benar karena wajahnya juga? Yoongi bertanya-tanya pada hatinya. Padahal jelas-jelas sahabatnya itu hanya bercanda.
"Seokjin hyung!"
Semua yang berada di meja minus Yoongi tertawa, "Aku tak masalah, asalnya dia bersedia ya sudah," ucap Jimin membalas Seokjin.
"Tidak! Tidak. Terima kasih Park Jimin atas tawarannya."
Suasana hati Yoongi sedang buruk sekarang. Ia berharap ada yang datang siapa pun itu. Dirinya seperti orang yang terpojok, semburat merah di pipinya juga tidak bisa di sembunyikan karena wajahnya yang tergolong putih pucat. Marah campur malu, itu yang Yoongi rasakan.
"Aku pulang!~ wah kalian tertawa begitu, tidak mengajak ku ya,"
Akhirnya Kim Taehyung, adik Kim Seokjin yang ia kira sudah lupa jalan pulang kembali juga. "Yak! Kim Taehyung! Kenapa tidak menghubungi hyung!" teriak Seokjin.
Taehyung berjalan kearah meja makan, "Aku 'kan sudah memberi tahu Namjoon hyung," ucapnya.
"Setidaknya kau menghubungi hyung juga!" Seokjin menjitak kepala adiknya.
Namjoon tersenyum, memperlihatkan dimple yang sangat dalam. "Sudah-sudah. ayo lanjutkan makan." Ucapnya. Berusaha menengahi.
Seokjin memang sangat menyayangi adiknya itu, ingatan saat dirinya di tolak Seokjin pun berputar. Saat itu, Seokjin menolak ikut ke Seoul dengan alasan Kim Taehyung. Dan Seokjin sampai tidak bisa di hubungi karena dia kira Namjoon marah, saat di tolaknya.
"Taetae hyung, aku taruh sini belan—"
"Jungkookie?" gumam Jimin.
Ya, Kim Taehyung lupa memperkenalkan tamu yang ia bawa. Sudah tidak asing sih, karena sebelumnnya mereka semua pernah bertemu. Taehyung tidak menyangka karena Jungkook juga bekerja sebagai model.
Di hari pertamanya pemotretan Jungkook adalah rekannya. Ternyata Jungkook sudah menjadi model sejak SMA, dan sekarang dia kuliah semester pertama.
Taehyung tidak merasa canggung, karena di pertemuan pertama Jimin meminta tolong padanya menemani Jungkook. Dan ia tahu sekarang siapa 'nenek sihir' yang selalu Jungkook sebut.
Dia ibunya sendiri.
Hampir empat jam penuh Jungkook menceritakan pada Taehyung, padahal mereka baru saja bertemu. Taehyung pikir posisi Jimin pasti seperti ini juga, selalu luluh dengan kelinci kecil yang malang.
"Aku masih marah pada mu hyung. Ingat itu."
Jungkook melewati Jimin, dan lebih memilih duduk di samping Taehyung.
CEO muda itu tersenyum, "Masih marah denganku rupanya," Jimin terkekeh.
"Pikir saja sendiri, huh."
Rasanya Jimin ingin memeluk Jungkook yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri, mungkin secepatnya ia harus mentraktir kelinci kesayangannya itu. Tugas yang menumpuk ini astaga, bisa di bakar saja tidak?
"Seokjin hyung terimakasih atas makan malamnya, maaf aku tidak bisa berlama-lama. Kerjaan ku sudah teriak minta di selesaikan." Ucap Jimin.
Namjoon bergumam ke arah Seokjin maklum-CEO-muda dengan melirik-lirik Jimin
Jimin yang melihatnya tertawa. Ia pun membungkuk ke arah Seokjin, tak lupa bersalam dengan Namjoon 'thanks bro' sekiranya itu yang ia katakan pada rekan bisnisnya. "Taehyung, jangan lupa antar kelinci itu pulang." Tutur Jimin.
''Jimin. Yoongi akan mengantar mu sampai pintu."
Lagi-lagi Seokjin mengatakan sesuatu yang Yoongi belum setujui, "Untuk apa sih hyung?! Dia bukan anak kecil lagi, bahkan pintu kita tidak sejauh brazil," jengah Yoongi.
Jimin tersenyum lembut, "Tak apa Seokjin hyung, yang di katakan Yoongi hyung benar."
Pemuda tampan itu pun meninggalkan meja makan, juga tas dan jasnya masih di sofa tadi. Ia harus mengambilnya.
"Yoon…kau masih ingat dengan perkataan ku?" Seokjin menatap Yoongi tajam.
"Iya iya, baiklah."
Pemuda berpiyama itu pun menyusul Jimin yang terlihat sedang memakai jasnya.
"Aku akan mengantar mu, Jim." Ucap Yoongi.
Jimin menoleh ke belakang, benar itu Yoongi. "Aku bukan anak kecil lagi, hyung."
"Seokjin hyung yang meminta ku, sudahlah aku tak ingin berdebat."
Jimin dan Yoongi pun berjalan ke arah pintu. Dengan Yoongi yang berada di depan. Hening. Tidak ada yang membuka pembicaraan.
Setelah sampai. Jimin sudah berada di luar, Yoongi pun hendak menutup pintu, "Hati-ha—" ucapannya terhenti, seketika tangan sahabat kecilnya itu menggenggam lengan pucatnya.
CEO muda itu menarik tubuh Yoongi kedalam rengkuhannya. "Tidak kah kau rindu dengan ku, Min Yoongi?" bisiknya.
Yoongi terdiam, dirinya masih mencerna apa yang Jimin lakukan. Satu menit pun berlalu. Yoongi masih tetap di posisinya, "Jawab aku hyung," bisiknya lagi.
Karena Yoongi tidak merespon, Jimin melepaskan pelukannya. Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat Yoongi menangis dalam diam. Lalu ia pun merengkuh Yoongi lagi, sekarang berbeda karena Yoongi menangis dalam dadanya.
Ya, Yoongi tidak bisa membohongi perasaannya. Kalau ia juga merindukan Jimin. Tapi entah kenapa semua perkataannya tercekat, dan hanya terucap perkataan pedas—seolah ia membenci pemuda itu.
Yoongi tidak tahu mengungkapkan rasa rindunya seperti apa, dengan memeluknya? Berucap manis? Karaoke bersama? Layaknya sahabat kecil umumnya. Ia tak bisa seperti itu… Pemuda pucat itu merasa semakin kecil, dengan Park Jimin sekarang. Ia malu, dan merasa gagal.
Jimin pun tidak mengucapkan sepatah kata lagi. Ia hanya ingin terus begini, barang semenit pun tak apa. Jimin rindu, rindu super hero nya, rindu teman masa kecilnya, dan rindu sosok Min Yoongi sekarang.
Apakah ini yang Seokjin maksud dengan 'kucing rapuh'? karena Min Yoongi hanya bisa menangis dalam diam.
Jimin melepas pelukannya, Yoongi masih terlihat terisak. "Hyung, tatap aku." Cicitnya. Yoongi tidak ingin mnatap Jimin apalagi menanggapi perkataannya. Jimin pun menyentuh kedua sisi pundak Yoongi, dan Yoongi reflek menatap Jimin yang semakin bertabah tinggi.
Chup
Mata kucing Yoongi membulat. Jimin menciumnya.
Hanya kecupan rasa rindu, walau Yoongi merasakan sedikit lumatan di bawah bibirnya. Ia dapat melihat Jimin yang tengah menciumnya. Matanya tertutup, dan sangat indah.
"J-jim…" lirih Yoongi.
Astaga Jimin hampir keterusan, ia pun melepaskan tautan satu sama lain. Jimin menatap Yoongi yang tengah mamasok udara, apa ini frist kiss Yoongi juga? Dia tidak merespon. Hanya terdiam seperti batu kali.
^Masih sempat ya memikirkan hal bodoh seperti itu.
Canggung. Ya. rasanya Yoongi ingin kabur, tetapi tubuhnya tak selaras dengan otaknya. Ciuman pertamanya di ambil oleh bocah cengeng itu. Kenapa dirinya selalu luluh dengan orang di hadapannya ini Tuhan? Dan apa-apaan itu, kenapa air matanya menetes tanpa disuruh?!
Jadi, siapa yang cengeng disini?
Jimin mendorong Yoongi masuk ke dalam, "Aku tunggu minggu depan, di kantor ku hyung." Sebelum itu, Jimin mengambil ponsel Yoongi di dalam kantong piayama nya. Dan menuliskan beberapa digit nomor lalu menghubungi ponsel miliknya sendiri. "Terima kasih, membiarkan ku mencuri nomor mu." Dan di akhiri dengan Jimin mencium pipi Yoongi. Sebelum benar-benar pergi.
Yoongi? Ia masih terdiam, memikirkan ciuman pertamanya.
Di meja makan, Seokjin merasa gelisah karena Yoongi belum kembali sampai saat ini.
"Joonie, apa Yoongi tidur di sofa? Dia belum kembali. Bahkan sudah lima belas menit." Tanya Seokjin pada kekasihnya itu.
Namjoon manaikan alisnya, "Belum kembali? Coba kau lihat sayang." Suruhnya.
Seokjin pun pergi menyusul Yoongi.
"Apa Jimin melakukan?, hal yang ku lakukan tadi dengan Seokjin?" gumam Namjoon.
.
.
-to be continue-
.
.
09/07/2017
Fiuh~ hampir 3k :') maafkan chap yang ngedrama ini /sungkem/ yang sebelumnya dramanya parah pula wkwkwk. Maafkan jadinya begini, aku pun bingung tertulis aja seperti ini lol
Btw minal aidzin wal waidzin, mohon maaf lahir dan batin^.^ dan jangan lupa gaes terus support Bangtan kita, nagih terus nih remake Come Back Home ,
Love u guys /bow/
