Disclamer: Masashi Khisimoto
Pairing: SasukeNaruto
Rate: T
Warning: YAOI, AU, OOC, TYPO, DLL.
{Segala kritik, saran, flame dengan berbagai variasi rasa saya terima dengan SENANG HATI.}
.
OriginaLove
.
By:Borax 007
-XoX-
Tidak semua orang lahir dalam keberuntungan. Bahkan orang yang lahir dalam keberuntungan sekalipun terkadang tidak sadar dengan keberuntungan yang mereka miliki. Kita butuh semacam kesialan atau penderitaan untuk menyadarkan betapa beruntung, betapa bahagianya diri kita di dunia ini.
Dan saat aku terbangun pagi ini, aku pikir aku adalah orang yang beruntung tapi bukan orang yang bahagia.
Aku menatap lekuk wajahnya. Dia memiliki paras yang rupawan. Dia memiliki alis hitam yang tebal, hidung yang mancung, dan bibir tipis. Dia memiliki semua apa yang lelaki harapkan. Dia memiliki semua apa yang wanita sukai.
Cacatnya mungkin hanya satu. Dia membosankan. Tapi ketika ia menemukan seseorang yang tepat aku yakin ia akan menjadi sempurna.
Sungguh kasihan, jika aku yang ia inginkan untuk tidur di sampingnya. Sasuke Uchiha yang kurang beruntung. Atau aku yang kelewat beruntung hingga ia memilihku.
Bulu matanya bergetar dan sedikit gerakan kecil jari-jarinya pertanda dia akan segera terbangun. Aku cepat-cepat mengambil posisi pura-pura tidur, aku tidak ingin tertangkap basah sedang mencuri wajahnya ketika ia tertidur.
Aku menunggu beberapa detik, berharap dia beranjak dari tempat tidur kami agar aku juga bisa bersiap untuk jam kantor pagiku. Alih-alih ia melakukan apa yang kuharapakan, lewat sela-sela mataku aku merasakan ia tengah melakukan seperti apa yang aku lakukan tadi. Dia menatapku. Apa yang sedang Uchiha ini coba lakukan? Kepalanya ia pindahkan kebantalku dengan pelan, wajahnya teramat dekat dengan pipi kananku, teramat dekat hingga dapat kurasakan hembusan nafasnya. Aku yakin ia pasti berpikir aku masih tertidur.
Jahannam mesum ini selalu bangun lebih dulu dariku, apa ia selalu melakukannya selama ini?
Bibirnya tiba-tiba tertempel di pipiku. Mataku terbuka dan membola.
"Ap-a ya-ng- se-da-ng ka-u la-ku-kan?" tanyaku terpatah-patah.
Sasuke Uchiha menjauh secepat kilat, hampir-hampir tejatuh ke sisi ranjang.
Aku berbalik bermaksud mengancamnya dengan tatapan tajam tapi menemukan ekspresi seorang Uchiha Sasuke yang terlihat seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen membuatku tak tahan menahan tawa geli.
Aku masih punya apartemenku yang mungkin sekitar 3 bulan lagi akan tiba masa tenggangnya. Tapi akhir-akhir ini aku lebih banyak menghabiskan malam-malamku di rumah baru mantan tetanggaku.
Tetanggaku itu bernama Uchiha Sasuke, biasanya aku memanggilanya Uchiha-san tapi sekarang aku memanggilnya Sasuke tanpa embel-embel -san. Sebenarnya aku kurang nyaman memanggilnya seperti itu mengingat kami baru akrab sebulan terakhir, tapi mungkin akan lebih kurang nyaman memanggil kekasihmu sendiri dengan nama marganya.
Kekasih? Ah Uchiha Sasuke di depanku sekarang ini adalah kekasihku. Dia menyukaiku, kami telah tidur bersama, dan aku sama sekali tidak keberatan. Apa yang kutangkap dari situasi kami sekarang kurasa aku tidak salah menyebut jika kami adalah sepasang kekasih.
Sejujurnya, jika ada seseorang yang menanyakan perasaanku sekarang aku mungkin akan menjawab jika aku sama sekali tidak punya rasa pada pria ini. Aku baru putus dengan orang yang kucintai yang hampir 3 tiga tahun ini, kemudian berpacaran dengannya sekitar seminggu setelah aku putus dengan kekasih lamaku itu.
Kumohon jangan salahkan aku, menghapus kemudian menggambar perasaan yang baru tak akan pernah semudah itu. Aku putus asa dan aku butuh seseorang yang bisa membuatku melupakan keputus asaan ini, walau hanya sedetik. Dan tiba-tiba saja seseorang datang menawarkan diri walaupun ia tahu bahwa luka adalah konsekuensi yang akan ia dapat.
Aku memainkan pinggir cangkir teh hijauku. Rasanya seperti nostalgia. Ini adalah cafe yang sama dimana Sasuke menyatakan perasaannya dulu.
Makanan dan minumannya mungkin lumayan tapi di antara banyaknya cafe yang jauh lebih nyaman, kenapa dia memilih tempat ini. Aku merasa ada sesuatu yang spesial di tempat ini untuknya. Aku sedikit penasaran. Mungkin kapan-kapan aku harus menanyakannya.
Sasuke menatapku datar seakan ia tengah membaca buku membosankan namun menarik perhatiannya.
"Kau memiliki iris mata yang berwarnah biru." Ucapnya seolah menarik kesimpulan dari buku yang baru di bacanya. Bukan pujian ataupun celahan.
Aku menekuk sikutku di atas meja, menautkan jari-jari, dan menaruh daguku di sana. Membiarkannya dapat melihat wajahku lebih dekat dari sebelumnya.
"Apa kau baru saja menilai wajahku?" Selain tampan aku juga selalu berpikir jika Uchiha Sasuke adalah orang yang cerdas. Orang sempurna seperti dirinya selalu menarik perhatianku untuk mencari celahnya, maksudku melihatnya sedikit kehilangan kepercayaan dirinya.
"Ya aku melakukannya." Ah si brengsek ini, terlampau sombong.
"Setelah kau melakukan setiap hari? Ah, maksudku setiap pagi?" aku berharap dapat melihat ekspresinya yang tadi pagi.
"Kau pasti akan melakukannya jika wajah itu adalah milik orang yang kau sukai,"
Aku kembali duduk tegap. Akulah yang memancingnya dan ia mengatakannya secara alami tanpa maksud apa-apa. Yah, ucapannya barusan mungkin terdengar romantis, tapi sebagai laki-laki yang mendapat kata-kata seperti itu dari lelaki lain, aku tiba-tiba kehilangan minat untuk melanjutkan percakapan diantara kami. Dan Sasuke menyadari hal tersebut.
"Ah, aku mengajakmu kesini untuk memberikan ini."
Aku mengerut heran. Yakin bahwa aku tak salah lihat benda yang di sodorkan Sasuke itu adalah buku tabungan.
"Mungkin tak seberapa, tapi ini adalah hasil kerja kerasku selama beberapa tahun ini."
Aku mengambil buku tabungan itu, saat melihat isinya mataku membola.
"Aku telah mendaftarkan namamu juga di sana." Dia berucap dengan ekspresi yang tetap sama seperti biasanya.
"A-aku tidak mengerti. Ini maksudnya apa?"
"Aku serius dengan mu. Mungkin bukan begini caranya, tapi aku ingin membuatmu yakin padaku."
Pria ini naif apa tolol?
"Kau... haahhh..." Berusaha meredam ketidak percayaanku, aku membuang nafas kemudian kembali menaruh buku tabungan di depannya.
"Dengar Sasuke, kau seperti sedang menyogokku—"
"Aku tidak menyogokmu." Dia berujar cepat.
"KAU... kau memperlakukan seperti wanita matre." Aku sadar aku sedikit keterlaluan mengatakan ini dimana aku tahu bahwa dia melakukan semua ini dengan tulus.
"Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa aku benar-benar punya masa depan untukmu."
Aku tertegun. Masa depan? Orang ini berpikir untuk masa depanku? Apa Sasuke benar-benar berpikir sejauh itu? Selama ini, ketika aku menjalin hubungan dengan Gaara ataupun dengan orang sebelumnya, jangankan mereka aku bahkan hanya berpikir tentang 'hari ini'. Selama aku masih dapat merasakan cintanya 'hari ini' aku tidak ingin repot-repot berpikir untuk masa depan. Mungkin inilah sebabnya aku seputus asa ini, aku terlalu takut menghadapi masa depan.
Dan ketika seseorang yang begitu dewasa seperti Sasuke duduk di hadapanku, yang seperti anak-anak ini aku hanya mampu terdiam malu.
Aku tersenyum. Ku lihat ia tertegun singkat entah karena apa.
"Apa aku ini pacar pertamamu?"
"Kau, yang kedua." jawabannya terlalu jujur.
"Apa kau juga melakukan hal ini padanya?"
"Maksudmu?"
"Kau juga memberi BUKU TABUNGANmu pada pacarmu yang sebelumnya?"
"Aku belum sempat melakukannya."
Aku menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal.
"Tapi kau berencana melakukannya. Kau ini bodoh apa tolol sih. Bagaimana kau bisa sepercaya ini pada orang lain. Aku bisa saja membawa lari uangmu itu."
Sasuke mendengus kemudian tertawa. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya tertawa seperti itu, tapi aku terkejut ini adalah kali pertama kalinya aku melihatnya tertawa seperti itu. Aku bahkan menangkap ronah merah dipipi pelayan yang melihat Sasuke tertawa saat ia lewat di samping kami. Dan aku juga meras pipiku sedikit terbakar.
"Kau, haha kau Uzumaki Naruto mencoba melakukan hal semacam itu? Membawa lari uang tabunganku? HAHA, maaf pff..." Sasuke berusaha meredam suaranya.
"Apanya yang lucu?"
"Tidak, tidak. Ambillah ini, dan kita akan memindahkan barang-barangmu kerumahku, mulai minggu depan kau tinggal di rumahku." Ia kembali menyodorkan kembali uang tabungannya padaku.
"Apa maksudnya itu? Dan hei, kau memintaku atau memerintahku?"
"Aku hanya berpikir kita sangat sibuk dengan pekerjaan kita masing-masing, dan melihatmu pulang-pergi dari kantor ke rumahmu kemudian ke rumahku, itu sangat merepotkan."
"Maaf Sasuke tapi aku pikir mungkin ini belum saatnya kita tinggal bersama."
Sasuke memegang tanganku.
"Aku mengerti."
XoX
Aku terus menatap layar handphone ku, berharap ada panggilan atau pesan masuk di sana.
Tunggu dulu, apa aku kehilangan konsentrasi bekerja karena si brengsek itu?
Tapi siapa juga yang tidak kehilangan konsentrasi jika berada di posisiku sekarang.
Apa Sasuke sedang mengerjaiku? Apa ia sengaja tidak menghubungiku tiga hari belakangan ini hanya untuk membuatku merasa bahwa kini aku mulai memikirkannya.
Dan pemikiran seperti itu lah selalu membuatku gagal menelponnya atau berkunjung kerumahnya. Rasa gengsi yang sungguh memalukan.
Sial. Aku tidak tahan, aku ingin mendengar suaranya.
Tuuuutt... tuuuuut...tuuuuttt.
Dan sekarang ia sengaja berlama-lama mengangkat panggilanku.
/"Halo?"/
"KAU...aku tahu kau sibuk tapi kenapa tidak pernah menghubungiku?" aku berusaha menekan emosi dan suaraku agar tidak terdengar seperti wanita manja yang kekurangan perhatian dari kekasihnya.
/"Maaf. Aku sedang kurang enak badan."/
Aku terdiam. Aku baru sadar jika suara Sasuke benar-benar parau.
"Kau tidak apa-apa, kan?" Kurasakan nada khawatir yang tak kusadari merambat diantara pertanyaanku.
/"Aku baik-baik saja. Nanti ku telpon lagi—" Brukk/
Suara debuman di seberang sana membuatku terkejut.
Seakan tak peduli apa-apa aku berlari ke halte secepat yang ku bisa. Orang-orang menatapku heran. Keringat yang mengalir dan juga nafas yang memburu. Semuanya telah hilang dari jangkauanku, hanya ada nama Sasuke yang terus berulang-ulang di benakku.
Sasuke jangan mati dulu. Aku bahkan belum benar-benar mencintaimu.
TBC;
Halloo, Apa chap ini membosankan? saya rasa, saya terlalu memaksakan Naruto jatuh cinta dengan Sasuke. Tapi mau tidak mau saya harus melakukannya di chap ini, karena mulai chap depan masalah yang sebenarnya mungkin udah benar-benar bakal di mulai. Bisa di bilang mulai dari chap depan, saya akan menceritakan siapa Sasuke, bagaimana dan kenapa ia jatuh cinta dengan Naruto. Tapi kendalanya adalah saya sedikit bingung XD Saya kurang suka mengganti povneview dalam satu fanfic, jika saya memulai dengan sudut pandang orang pertama saya lebih suka mengakhirnya dengan sudut pandan pertama juga tanpa campur tangan orang kedua atau ketiga. Jadi bagaimana saya menjelaskan semua yang di alami Sasuke dimana saya tetap memakai Naruto pov (tanpa menggunakan sudut pandang Sasuke)/. ada yang punya saran?
Ok, sekian. Thankyou yang udah read & review yah. sampai jumpa di chap berikutnya.
