"Snow on The Sahara"
.
Ia berada di sini, dalam situasi seperti ini karena dulu seseorang pernah berkata kepadanya bahwa hendaknya kau melakukan apapun demi sesuatu yang kau cintai. Apapun, meski hal itu sesulit meminta salju turun di gurun Sahara.
.
.
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning: AU, rated T+ due to themes and language.
.
.
.
Chapter IV
.
.
Shikamaru kini berada di sebuah camp darurat yang dijadikan kantor Kazekage sementara pasca peledakan gedung Kazekage oleh pasukan Konoha kemarin. Di sana ia disambut oleh Kazekage berambut merah tersebut beserta Baki, kepala militer angkatan darat Sunagakure alias atasannya.
Shikamaru langsung tahu apa maksud dari pertemuan ini.
"Kau pasti sudah tahu apa maksud kami mengundangmu ke sini 'kan, Tuan Shirogane?" sambut Kazekage yang lengan kanannya dibalut perban tersebut tanpa basa-basi.
Shikamaru mengangguk pelan. Pandangannya ia alihkan ke arah Baki yang juga sedang menatap tegas ke arahnya.
"Silahkan, Tuan Baki," kata Kazekage itu lagi. Baki menyambut perintah itu dengan anggukan sebelum kembali melemparkan pandangannya lurus ke arah Shikamaru.
Pria tinggi kekar tersebut terlihat menghirup nafas dalam sebelum bersuara.
"Saya tidak perlu lagi menjelaskan imbas dari kematian Sasori pada pertahanan kita," ucapnya tegas.
"Untuk itu, mulai dari sekarang, Anda saya perintahkan untuk mengisi posisinya sebagai kepala badan strategi militer Sunagakure, Shikamaru Shirogane."
Hening sejenak menyapa ruangan sempit itu sebelum sebuah penghormatan dan beberapa kata keluar dari mulut Shikamaru.
.
.
.
Sudah berlalu dua minggu sejak tragedi penyerangan Konoha yang menewaskan ratusan orang dan cukup mengubah pusat negeri Suna porak-poranda. Keadaan kota sudah mulai membaik. Tenda pengungsian sudah berangsur-angsur berkurang penghuninya. Hanya sebagian dari pengungsi yang benar-benar kehilangan tempat tinggal, yakni mereka yang bermukim di pusat kota, karena memang penyerangan kemarin tampaknya hanya difokuskan di titik-titik yang berdekatan dengan gedung pemerintahan. Pengungsi yang keadannya telah pulih kini dialokasikan ke beberapa pemukiman darurat di daerah pinggiran, jauh dari huru-hara bekas kejadian penyerangan. Para tentara dan polisi tampak masih berjaga-jaga sambil membantu warga sipil membereskan puing-puing. Anak-anak mulai terlihat kembali bermain sambil tertawa.
Begitulah perang. Kematian atau kehilangan bukan menjadi perkara besar. Pada akhirnya orang-orang dipaksa untuk kembali bangkit dengan dagu tegak secepat mungkin, tak peduli sebesar apapun pilu baru saja menyambangi.
Belum ada perubahan signifikan dari siklus hidup Shikamaru sejak kenaikan jabatannya. Ia dan rekan-rekannya masih fokus pada tugas evakuasi dan rehabilitasi. Dirinya setiap hari akan berada di sekitar tenda pengungsian. Semakin hari beban pekerjaan di tenda pengungsi semakin berkurang sampai akhirnya hari ini menjadi hari terakhir baginya mengunjungi tenda secara rutin dalam rangka tugas.
Dan ia masih belum melihat sosok itu lagi sejak kejadian hari itu.
Untuk pertama kalinya sejak penyerangan, Shikamaru akhirnya menginjakkan kakinya kembali di kediamannya, yang untungnya tidak tersentuh imbas dari tragedi tersebut karena terletak agak jauh dari pusat kota.
Beruntungnya lagi, pelayan Shikamaru yang sangat setia tersebut juga tidak mendapatkan kemalangan apa-apa. Ia dan keluarganya sehat, tempat tinggalnyapun masih utuh. Karena alasan itu ia langsung kembali ke rumah Shikamaru saat pria itu mebutuhkannya. Shikamaru tak tahu harus bagaimana saat melihat rumahnya yang berantakan dan pengap akibat ditinggal selama dua minggu itu jika tak ada gadis belia tersebut di sana.
Ia beranjak ke dalam kamarnya untuk melihat sesuatu. Langkah kakinya sangat pelan menuju ke sudut ruangan, tepatnya ke arah lemari pakaian. Ia buka lemari itu. Tangannya menerobos ke ruang-ruang antara pakaian yang digantung. Jarinya terus meraba-raba dinding belakang lemari tersebut sampai terdengar bunyi derikan.
Di balik pakaian-pakaian tersebut kini terdapat lubang yang menghubungkan dinding di belakang lemari dengan sebuah lorong. Lubang tersebut berukuran tidak terlalu besar, hanya memungkinkan satu orang masuk ke dalamnya, itupun dengan bersusah payah.
Benar saja, karena memang itu yang dilakukan Shikamaru setelahnya. Badannya ia tekuk sedemikian rupa sehingga bisa lolos ke dalam lorong. Shikamaru selalu benci melakukan ini.
"Merepotkan," kata itu akhirnya keluar setelah lama tak terdengar.
Dengan menuruni beberapa tangga kayu, dirinya kini berada di sebuah lorong yang lebih besar. Dirinya berjalan dengan santai di sana. Di sudut lorong tersebut tampak sebuah ruangan.
Dirinya sampai di depan ruangan tersebut. Ia menatap sebentar pintu kayu yang hampir lapuk itu sebelum membukanya. Ruangan itu kosong, gelap, tak ada suara, tak ada tanda-tanda kehadiran manusia. Ia hidupkan lampu enam puluh watt yang ada di dalam sana sehingga cahaya remang-remang akhirnya cukup menerangi ruangan berdebu tersebut. Tampaklah sebuah meja kecil dengan beberapa kursi yang tersebar di penjuru ruangan. Kosong, masih tak ada siapa-siapa. Mata kelam Shikamaru mengobservasi beberapa detik sebelum kakinya ia gerakkan menuju salah satu sisi ruangan.
Tangannya kembali meraba-raba sesuatu yang ada pada dinding di depannya sampai terdengar suara derikan yang kurang lebih sama dengan yang tadi.
Dari balik sana ia dapatkan sebuah mesin telegraf tua yang dimakan debu. Beberapa laba-laba tampak asyik mengerubunginya. Entah bagian apa pada mesin tersebut yang ditekan oleh jari Shikamaru sehingga memunculkan sebuah bunyi "klik".
Mesin itu kini memproduksi beberapa kode Morse yang maknanya tentu saja sudah berada di dalam kepala jenius Shikamaru.
Dalam hati, Shikamaru membacakan intrpretasi kode berwujud garis-garis itu.
"Sekarang cukup. Silahkan bersenang-senang."
.
.
.
Tak terasa, hari ini tepat enam bulan sejak penyerangan Konoha waktu itu. Kehidupan warga sipil kini hampir pulih seperti sedia kala. Penyerangan tersebut kini hanya meninggalkan puing-puing yang terlalu besar untuk diangkat oleh eskavator sebelum terlebih dahulu dilebur menjadi bentuk lebih kecil. Puing sisa gedung Kazekage contohnya. Semua kegiatan pemerintahan pusat kini masih berlangsung di camp darurat yang suasananya agak memprihatinkan.
Sedangkan Shikamaru, masih belum banyak yang berubah dari kehidupannya kecuali jam kerja yang bertambah panjang dan pekerjaan yang semakin menumpuk.
Pertemuan resmi pertamanya dengan anggota militer Suna terjadi dua minggu setelah penyerangan. Tak banyak yang diputuskan. Satu-satunya yang bisa diperbuat Suna sekarang adalah tetap bertahan dengan kondisi seperti ini. Melakukan serangan balik ke Konoha sama saja dengan bunuh diri. Setidaknya Otogakure sudah menarik diri dari perbatasan sejak beberapa bulan lalu, jelasnya waktu itu.
Pertemuan kedua terjadi dua bulan lalu. Saat itu Shikamaru memaparkan strateginya untuk mengadakan pendekatan dengan Oto. Ia dapat melihat senyum puas dari Baki setelah ia menyelesaikan penjelasannya.
Hari ini Shikamaru menyelesaikan pekerjaannya di camp militer Suna setelah lewat tengah malam. Tak terasa sudah setengah tahun ia menjalankan kehidupan seperti ini. Ia selalu berakhir seperti orang sempoyongan di kantor- paling cepat sebelum tengah malam, setelah mengerjakan pekerjaan yang tak ada ujungnya.
Seluruh badannya terasa penat. Pikirannya berkabut. Ia akhirnya keluar dari camp tersebut, mencicipi udara malam Suna yang dingin. Ia segerakan langkahnya menuju mobil sambil terus merengkuh tubuhnya. Mobil tua tersebut ia hidupkan lalu dengan cepat ia berlalu meninggalkan camp di belakangnya.
Entah apa yang merasuki pikiran Shikamaru, setibanya di persimpangan menuju kediamannya, mobil yang harusnya melaju lurus tersebut malah ia belokkan ke kanan. Sepertinya Shikamaru tidak berniat segera tidur malam ini.
Ia sampai di sebuah pub kecil yang berada di sudut kota. Jalanan di sekitarnya tampak sepi dan gelap, membuat pub yang dihiasi lampu-lampu tersebut tampak lebih mencolok dari keadaan sekelilingnya. Kerongkongannya sudah terlalu lama puasa dari mencicipi minuman beralkohol khas Sunagakure yang disediakan tempat tersebut. Pekerjaan barunya juga mengambil andil dari bertambahnya beban pikiran Shikamaru, membuatnya semakin ingin singgah ke tempat itu untuk menghilangkan penat sekejap.
Tak apa lah, sekali-kali. Bukannya seseorang menyuruhnya untuk bersenang-senang sedikit dulu?
Ia memasuki pub tersebut dan langsung menuju ke meja bartender yang letaknya tak jauh dari pintu utama. Shikamaru langsung saja memesan minuman favoritnya sambil berusaha keras menahan kantuk. Sementara minuman itu disiapkan, mata Shikamaru menyusuri setiap sudut ruangan. Pub itu masih seperti dulu. Hari sudah menunjukkan hampir pukul dua malam namun hanya beberapa kursi yang tampak kosong. Penyerangan Konoha sepertinya tak memberikan dampak apapun pada tempat ini.
Shikamaru tiba-tiba mengalihkan pandangannya ketika ia dengar suara bartender yang memberitahunya bahwa minuman sudah datang. Ia segera mengambil minuman tersebut dan menyeruputnya perlahan. Kursinya ia putar kembali sambil tetap menikmati minuman tersebut. Matanya bergerak liar menyusuri sesuatu yang entah apa sampai akhirnya pandangan itu tertumbuk pada sesosok pria yang berjarak beberapa meter darinya. Pria berambut cokelat itu dikelilingi beberapa wanita berpakaian minim. Tidak, tak hanya dikelilingi, dua dari empat wanita itu berani menyusupkan tangan mereka ke balik pakaiaan yang dikenakan pria tersebut. Salah satu dari mereka bahkan duduk di pangkuannya. Mimik wajah sang pria sarat kesenangan.
Shikamaru menajamkan pandangannya. Ia tatap lekat-lekat pria yang kebetulan tak melihatnya tersebut.
"Seperti kenal."
Mata Shikamaru tiba-tiba terbelalak diikuti kursi yang juga tiba-tiba diputarnya kembali sehingga dirinya kini menghadap meja bartender. Ia tahu siapa sosok itu.
Dia itu Daimaru.
Bukan, bukan Daimaru yang pertama kali diteriakkan pikiran Shikamaru.
Tapi "suami Temari".
Iya, tak salah lagi. Dia adalah suami Temari.
Walaupun ia baru sekali bertemu dengan Daimaru beberapa bulan lalu, wajah pria itu belum sepenuhnya lenyap dari memorinya. Ia ingat saat dimana pria tersebut menggenggam tangan si puteri Suna di pesta keluarga Kazekage waktu itu, sesaat sebelum dirinya dan wanita itu berkenalan.
Shikamaru mau tak mau kembali melirik arlojinya. Sudah hampir pukul setengah tiga pagi.
Ia memang bukan tipe orang yang mau mengurusi kehidupan orang lain, tapi otaknya secara tak sadar memunculkan bayangan wajah si wanita pirang, membuatnya bertanya-tanya apa yang melatarbelakangi seorang kakak ipar Kazekage untuk berada di tempat seperti ini, selarut ini, dan melakukan perbuatan yang sama sekali tak pantas dilakukan oleh orang seperti dirinya.
Ia memikirkan Temari.
Apa perasannya jika mengetahui suaminya berlaku seperti ini di belakangnya?
Memorinya menapak tilas ke obrolannya dengan kakak perempuan Kazekage itu di dekat tenda pengungsian sehari setelah penyerangan, mecoba mencari-cari clue yang mungkin berhubungan dengan kejadian yang baru ia saksikan.
Dan pada akhirnya otak jenius Shikamaru tak sengaja membuat sebuah konklusi yang mungkin tak seharusnya ia buat.
Nafsu Shikamaru untuk menghabiskan minuman di depannya mendadak pudar. Segera ia seret dirinya dari tempat tersebut sebelum pikirannya menerawang lebih jauh ke hal-hal yang mungkin sama sekali tak berhak ia jamah.
.
.
.
Kalau saja ia tak mempunyai pelayan yang pada akhirnya memberanikan diri untuk menggedor pintu kamarnya pagi tadi, sudah pasti ia terlambat ke camp hari ini dan pada akhirnya akan mendapatkan serentetan pertanyaan merepotkan dari Baki. Matanya sayu akibat jam tidur yang sangat kurang. Dengan susah payah ia berusaha membuat posturnya untuk tetap tegap dalam balutan seragam militer. Kini ia sedang berada di balik meja kerjanya dan mengetik beberapa dokumen menggunakan mesin tik dengan separuh hati.
Shikamaru sedang meregangkan anggota geraknya saat sebuah tangan mendarat di bahunya. Dari belakang terulur sebuah amplop besar. Ia menolehkan kepalanya.
"Kazekage memintamu mengantarkan ini sekaligus menjelaskan isinya secara detail padanya," ucap Baki dari belakang.
"Siap, Komandan!"
Shikamaru sedikit mengumpat dalam hati sebelum memberi hormat pada atasannya dan berlalu menuju kantor sementara Kazekage. Amplop tersebut kini sudah berada dalam sebuah tas kecil yang ada di tangannya.
"Oh iya, Kazekage sedang berada di kediamannya. Dia sedang tidak enak badan sejak tiga hari lalu," jelas Baki ketika Shikamaru baru saja akan beranjak meninggalkan ruangan.
Shikamaru mengangguk dan melanjutkan langkahnya sambil mengambil kunci mobil dari saku celana.
.
.
.
Ia sampai di kediaman keluarga Kazekage yang berjarak kurang lebih dua puluh kilometer dari kantor Kazekage yang menjadi korban penyerangan pasukan Konoha beberapa bulan lalu. Jarak yang cukup jauh dari titik fokus serangan membuat bangunan tersebut masih utuh seperti tak terjadi apa-apa. Di samping bangunan berdiri sebuah gedung tempat dilaksanakannya pesta keluarga Sabaku yang dihadirinya waktu itu. Shikamaru kini memarkir mobilnya di depan bangunan tersebut. Para penjaga yang sudah mengenal siapa sosok Shikamaru langsung saja mempersilahkan pria itu masuk tanpa melontarkan pertanyaan apapun. Mereka melemparkan sapa hormat mereka yang disambut dengan senyum simpul oleh Shikamaru.
Shikamaru langsung menuju ruangan kerja Kazekage setelah mendapatkan petunjuk dari seorang pelayan. Tangannya masih memegang erat tas yang berisi amplop dokumen penting tersebut. Dokumen itu berisi data sementara yang berhasil dihimpun dari badan intelijen mengenai usaha penyerangan Konoha. Butuh waktu kuang lebih sebulan untuk menyiapkan dokumen tersebut.
"Hey, Shikamaru!" sapa suara bariton dari belakang. Shikamaru balik kanan dan mendapati kakak laki-laki Kazekage yang bernama Kankuro sedang tersenyum padanya.
Pria berambut cokelat itu kini menatap sesuatu yang ada di tangan Shikamaru. "Oh, itu dokumen yang diminta Kazekage?" tanyanya penasaran.
"Iya," jawab Shikamaru sedikit canggung. Ia baru ingat kalau Kankuro pernah memperingatinya untuk tak menyisipkan embel-embel "tuan" dalam panggilannya pada kakak Kazekage tersebut.
"Saya dengar tuan Kazekage sedang tidak enak badan, Kankuro?" Shikamaru mengambil inisiatif bertanya.
"Iya, sudah dari tiga hari yang lalu. Tak perlu khawatir. Kata dokter hanya demam viral biasa," jelas Kankuro santai. "Sekarang dia sudah merasa agak lebih baik. Silahkan temui dia di ruangan itu," lanjut Kankuro sambil menunjuk sebuah ruangan yang berada di lantai dua.
Shikamaru mengangguk. "Terima kasih," balasnya pada pria berambut cokelat.
"Kalau ada yang perlu dibantu, saya ada di ruangan sebelah," ucap Kankuro sembari tangannya menunjung dinding di sebelah kiri. Shikamaru hanya membalas dengan anggukan sebelum benar-benar pergi dari hadapan pria tersebut.
.
.
.
"Serangan dilakukan hari Senin tanggal dua puluh satu Januari. Bom yang menghancurkan gedung Kazekage dijatuhkan dari udara tepat pukul sebelas siang. Serangan dipusatkan di area pemerintahan dan beberapa titik di pusat kota. Untuk sementara diperkirakan bahwa mereka mengirim kurang lebih tujuh pesawat tempur yang mulai memasuki daerah Suna sekitar pukul 10.45," jelas Shikamaru panjang lebar di hadapan Kazekage yang menatapnya serius. Pria berambut merah tersebut memakai syal yang meliliti lehernya.
"Bagaimana dengan motif?"
"Badan intelijen mendapatkan data bahwa penyerangan ini dilakukan sebagai bentuk peringatan pasca mundurnya Oto dari perbatasan," jawab Shikamaru. "Serangan ini hanya sebuah gertakan pada kita, memperingatkan bahwa kekuatan mereka tak akan berkurang sekalipun Oto sudah mundur."
"Lalu maksudmu akan ada serangan-serangan berikutnya?"
"Saya berani mengatakan iya, Tuan Kazekage. Walaupun sampai sekarang belum terendus rencana yang mengarah ke sana."
Sang Kazekage terdiam sejenak. Kedua telapak tangannya ia katupkan dan sikunya ditumpukan pada meja, menutup sebagian wajahnya yang terlihat agak pucat.
"Baiklah. Terus pantau Otogakure. Jalankan rencanamu mengenai Oto yang kau jelaskan dua bulan lalu," Gaara akhirnya merespon.
"Otogakure sedang krisis, Tuan," ucap Shikamaru.
"Yang juga berarti krisis bagi aliansi?" Gaara dengan cepat melontarkan pertanyaan tersebut sesaat setelah Shikamaru menyudahi pernyataannya. Shikamaru mengangguk.
"Baguslah," kata Kazekage sambil menurunkan tangannya. "Hanya menunggu waktu yang tepat sampai Oto benar-benar bisa kita amankan."
"Iya," balas Shikamaru singkat.
"Terimakasih, Tuan Shirogane. Kerja Anda bagus sejauh ini," ucap Gaara dengan senyum tipis. "Anda boleh undur diri," lanjutnya mempersilahkan.
Shikamaru membungkukkan badannya sebelum balik kanan dan akhirnya meninggalkan ruangan tersebut. Ia menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu. Ia menyusuri koridor panjang yang memisahkan beberapa ruangan di sana. Bangunan ini amatlah besar mengingat semua keluarga Kazekage bertempat tinggal di sini. Terlalu besar untuk disebut rumah tapi masih terlalu kecil untuk disebut sebagai istana.
Langkah santai Shikamaru tiba-tiba berhenti ketika indera pendengarannya menangkap sebuah percakapan yang aneh. Agak terlalu kasar untuk sebuah percakapan biasa. Suara berat seorang laki-laki terdengar agak membentak dan beberapa kata makian terdengar jelas oleh telinganya.
Shikamaru hampir saja masa bodoh dan memilih pergi dari sana sebelum ia mendengar sebuah suara yang amat dikenalnya membalas makian suara laki-laki tadi dengan nada yang bergetar.
"Silahkan berbuat semaumu tapi jangan kau rusak nama keluarga kami!"
Itu suara Temari.
Hati Shikamaru memaksa kedua kakinya untuk melangkah mendekati sumber suara. Akhirnya ia sampai di depan sebuah ruangan yang hanya dibatasi tirai dari koridor utama. Pemandangan yang ia lihat setelahnya hampir menyulut api di hati.
Pria yang ia kenal sebagai Daimaru itu kini melayangkan tangannya di udara. Shikamaru tau persis akan kemana pergi tangan itu. Isteri pria itu alias Temari hanya memalingkan wajah sambil memicingkan mata, membuat tangan si pria berhenti sebelum berhasil mendarat tepat di pipi mulus sang puteri.
"Untung aku masih sedikit sayang padamu, Temari," ucap pria itu ke arah telinga sang puteri sambil memegang kasar kedua pipi wanita tersebut. Temari malah menatap tajam ke dalam manik pria itu. Daimaru akhirnya pergi meninggalkan Temari yang terpaku dengan nafas tak beraturan.
Otak Shikamaru terlalu sibuk mencerna apa yang baru saja ia saksikan sehingga tanpa ia sadari Temari mengetahui keberadannya di balik tirai. Sungguh memalukan. Ia langsung membalikkan badannya dan bergegas pergi dari sana.
"Tunggu!" Temari terdengar mengejar langkah Shikamaru sambil setengah berteriak. Mau tidak mau langkah Shikamaru terhenti setelah ia rasakan tangan sang puteri menggenggam pergelangan tangannya, membuat ia balik badan.
"Aku memaafkanmu karena telah lancang menguping pembicaraan kami asal apapun yang kau lihat tadi hanya kau simpan untuk dirimu sendiri, mengerti?" Temari berujar dengan nada mengancam sambil melemparkan tatapan tajam ke arah Shikamaru. Genggamannya di pergelangan tangan Shikamaru kini sudah ia lepaskan.
Shikamaru terdiam sesaat menatap kedua bola mata hijau yang sudah lama tak ia lihat. Aura kelam yang kini ditampilkan oleh sorot mata itu sama sekali tak mengurangi keindahannya di mata Shikamaru. Entah setan apa yang merasuki alam pikiran pria bermarga Shirogane itu sehingga apa yang keluar dari mulunya setelah ini bukanlah permintaan maaf maupun sebuah pertanyaan yang mungkin menambah prediket lancang Shikamaru di hadapan tuan puteri.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Shikamaru. Tatapan Temari semakin tajam ke arahnya setelah pertanyaan itu dilontarkan.
"Aku tahu tidak seharusnya aku menanyakan hal ini padamu, tapi pembicaraanmu tentang suamimu waktu di tenda serta apa yang aku lihat semalam dan barusan sudah cukup untuk membuatku merasa terlibat. Dia hampir menamparmu!" lanjut Shikamaru dengan nada yang sarat emosi. Sedetik setelahnya ia menyesali kata-kata yang barusan keluar dari mulutnya. Ia merasa sudah terlalu jauh.
"Memangnya apa yang kau lihat semalam?" tanya Temari sengit.
"Apa pantas seorang kakak ipar Kazekage berada di pub sampai larut malam dan dikelilingi oleh beberapa pelacur?" Shikamaru terbelalak, nafasnya sedikit tercekat sebelum melanjutkan, "maafkan aku, seharusnya aku tak mengatakannya," ucapnya pelan sambil menunduk.
Temari juga menunduk sejenak sebelum kembali menatap wajah Shikamaru. "Kau melaporkan kejadian itu seolah-olah aku belum tahu," katanya getir.
Shikamaru terdiam dengan dahi berkerut. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia baru saja melihat bola mata itu sedikit berkaca-kaca sebelum pemiliknya mengalihkan pandangan. Ia sangat menyesali perkatannya tadi. Ia menangkap pernyataan Temari barusan sebagai konfirmasi bahwa dirinya sudah tahu betul dengan perangai suaminya yang seperti itu. Kejadian tadi malam dan barusan yang disaksikan Shikamaru berarti bukan yang pertama kali.
"Sudahlah, Shikamaru. Ini bukan urusanmu," ucap Temari tiba-tiba tanpa menatap manik cokelat pria di hadapannya.
Shikamaru terdiam sambil terus menatap wajah yang berpaling darinya. Rasa penyesalan menyelimuti dadanya. Baru saja ia akan membuka mulutnya untuk mengucapkan permintaan maaf yang terakhir sebelum lenyap dari sana ketika didengarnya langkah kaki berjalan pelan ke arah mereka.
"Saya harus pergi. Permisi," ucap Temari tergesa-gesa tanpa sedikitpun menatap Shikamaru.
Tinggalah Shikamaru sendiri dengan tangan kanan yang mengepal dan permintaan maaf yang tertahan di tenggorokan.
.
.
.
To Be Continued.
.
.
.
.
AN: Terimakasih sebanyak-banyaknya untuk teman-teman yang sudah membaca, terutama yang mereview dan memberi feedback. Maaf tidak bisa saya pm dan tulis namanya satu satu di sini.
Untuk rating, mungkin baru di beberapa chapter depan yang akan saya ubah ratingnya. Terima kasih, ya, teman-teman yang sudah kasih saran mengenai rating.
Mohon direview jika berkenan :)
- DesertLily7
