"Anxiety"
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: typo, OOC (mungkin), DLDR
.
.
.
"Ayah... Kalungmu tertinggal di wastafel ! " Teriak Nara kecil sambil menghampiri ayahnya yang kaget dan tersedak ketika sarapan setelah mendengar teriakan Shikadai.
"Errr- terima kasih ya nak"
'Mampuslah aku kalau sampai kalung cincin ini tidak dipakai apalagi ketinggalan di wastafel !' batinnya berteriak lega dan menengok perlahan ke arah istrinya yang sedang melototinya.
"Ma-maaf tadi aku melepasnya karena tersangkut ketika mengganti bajuku yang basah tadi" dengan muka memelas dia memohon maaf.
"hmmph! Awas kalau sampai beneran hilang!" Temari agak sedikit kesal karena kejadian tadi.
"Iya.. Iya nyonya..." Shikamaru menjawabnya dengan menggerutu.
Kemudian mereka melanjutkan makan sarapannya lagi. Hal ini membuat Shikadai agak penasaran kenapa ibunya bisa kesal kalau cincin yang dikalungkan itu hilang. Apakah karena cincin itu mahal? Atau kalungnya yang mahal? Tapi kelihatannya itu hanya rantai stainless steel biasa saja.
"Psst, yah!" Tiba-tiba Shikadai memanggil ayahnya sambil berbisik. Shikamaru berbalik menunduk ke arah Shikadai.
"Ya?" jawabnya sambil ikut berbisik ke anak semata wayangnya.
"Memangnya cincin itu kalau sampai hilang kenapa yah?"
"Ehm... Karena itu adalah cincin pernikahan ayah dan ibu"
"Cincin pernikahan? Memangnya perlu ya yah?" tanyanya lagi dengan muka polosnya.
"Tentu saja, itu menandakan bahwa ayah dan ibu telah menikah. Makanya ibumu juga memakai cincin itu di jari manis tangan ki-"
"Nara Shikamaru, Nara Shikadai selesaikan sarapannya dulu baru ngobrol!" Temari memotong pembicaraan kedua Nara tersebut. Mereka hanya bisa menurut dan melanjutkan sarapannya lagi dengan cepat.
"Ayah.. Ayah... Nanti lanjutkan lagi yah" bisik Shikadai sambil menarik pelan baju Shikamaru.
Shikamaru meresponnya dengan tersenyum ke arah anaknya, "Iya.. Ayo kita cepat habiskan habis itu baru kita mengobrol lagi"
.
.
.
"Jadi..."
"Jadi?" Shikamaru menatap Shikadai dengan penuh tanya.
Kedua Nara itu melanjutkan 'kegiatan favorit' mereka dengan tidur-tiduran di depan beranda halaman rumah sambil melihat langit dan awan yang cerah. Benar-benar ciri khas laki-laki keluarga Nara.
"Cih... Jadi lanjutkan obrolan kita, yah!" Shikadai berguling mendekat ke arah Shikamaru dengan muka excited.
"Oh... Ehem.. Jadi cincin ini adalah lambang pernikahan antara ayah dan ibumu-"
"Iya aku tahu itu, tadi ayah kan sudah menjelaskan" Dengan cepat Shikadai memotong kata-kata Shikamaru. "Aku lebih penasaran kenapa ayah tidak memakai cincin itu di jari tangan ayah melainkan mengalunginya. Sedangkan ibu memakai di jari tangannya"
"Cih lama-lama kamu makin mirip sifat ibumu, tidak sabaran sekali" gerutu senior Nara.
"Kalau ibu dengar, ayah bisa di marahi loh"
"Oh, sekarang kamu mengancam ayahmu?" Shikamaru hanya bisa cemberut melihat kelakuan Shikadai.
"Hahahaha... Yak lanjut yah.." pintanya lagi.
"Sebenarnya dulu ayah memakai cincin ini di jari manis tangan kiri sama seperti ibumu. Cuma suatu ketika ibumu tiba-tiba meminta- ah, tepatnya 'menyuruh' untuk mengalungkan cincinnya. Ketika ditanya alasannya, ibumu hanya bilang 'untuk mengusir serangga' dan tidak ada penjelasan lainnya. Wanita memang merepotkan !"
Shikamaru menghela nafas panjang kalau mengingat alasan yang tak masuk akal dari Temari. Jikalau ditanya pasti alasannya tetap sama dan kalau dipaksa malahan dia mengamuk. Lebih baik Shikamaru diam dan mengikuti apa mau istrinya itu, lagipula tidak ada yang dirugikan juga sih.
"Serangga? Memangnya rumah kita banyak serangga? Iya sih rumah kita dekat hutan, tapi sampai sekarang aku merasa biasa saja"
Shikadai semakin bingung akan kelakuan ayah dan ibunya itu.
"Kamu tahu sendiri kan bagaimana keras kepalanya ibumu itu?"
'Yah anakku ini juga sama saja sih. Perawakan boleh persis seperti aku tapi wajah cantik dan mata hijau serta sifatnya itu seratus persen dari gen Temari. Hah... Dasar merepotkan'
Shikamaru tersenyum lembut menatap anak tercintanya yang sedang kebingungan itu dan mengusap-usap kepalanya.
"Lalu yah, aku juga bingung kalau ayah menganggap wanita itu menyeramkan dan merepotkan apalagi yang seperti ibu dan nenek, kenapa ayah masih menikahi ibu? Ibu kan wanita juga galak dan merepotkan. Kenapa tidak menikah dengan pria saja, kan bisa saja tidak merepot-"
Shikamaru menaruh kedua tangannya di bahu kecil. "Nak, pertanyaan kamu itu menyeramkan untuk ayah. Biarpun ayah tidak suka wanita merepotkan tapi ayah ini seorang gentleman yang masih menyukai wanita dan mencintai ibumu. Jadi kalau disuruh memilih menikah dengan pria itu pasti tidak mungkin" Terlihat wajah horor Shikamaru yang tidak sengaja membayangkan pertanyaan Shikadai.
"Tapi yah, aku masih belum mengerti" Shikadai cemberut mendengar jawaban ayahnya.
"Mungkin belum saatnya kamu mengerti sekarang ini, sekalinya wanita itu menyeramkan ada saatnya dia akan menunjukan sisi lembutnya terhadap kita. Itu kata kakekmu ketika ayah masih seumuran kamu. Dan walau ibumu menyeramkan tapi dia itu lemah lembut dan senyumnya yang paling ayah sukai"
"Ih ayah gombal !" Shikadai memandang geli ke arah ayahnya seakan tidak percaya akan perkataan ayahnya itu.
"Oi, dasar anak ini..." Dia balas menatap anaknya dengan pandangan kesal. 'Dasar benar-benar kloning-an Temari'. "Sudah... Sudah... Nanti suatu saat kamu juga akan mengerti maksud ayah jika kamu sudah menemukan wanita yang kamu sukai"
"Cih, kalau ada. Perempuan-perempuan di kelas akademi semuanya berisik dan merepotkan." balas Nara junior.
.
.
.
Tak lama kemudian Boruto dkk datang untuk mengajak Shikadai pergi bermain. Temari melihat suaminya masih tidur terlelap di beranda halaman rumah mereka. Kemudian berinisiatif mengambil selimut untuk sang suami. Ketika ingin menyelimutinya, Shikamaru terbangun kaget.
"Ah, maaf!" Temari pun juga ikut kaget ketika ingin menyelimutinya.
"Ugh... Tidak apa-apa" Melihat selimut di badannya, dia tersenyum ke arah Temari. "Terimakasih ya"
Shikamaru tiba-tiba menarik lengan Temari agar dia mendekat ke arahnya.
"Oi, Shikamaru kamu ngapa- umph"
Temari tidak mampu melawan karena bibirnya dikunci oleh bibir sang suami tercinta. Waktu untuk bermesraan sebenarnya agak sulit karena sudah ada Shikadai dan Temari tipe wanita yang tidak suka bermesraan di depan orang lain apalagi di depan anaknya. Jadi ketika anaknya sedang pergi ke akademi, bermain dan juga tidur siang adalah waktu yang tepat untuk bermesraan bagi pasutri ini.
"Hmmm Temari..." Shikamaru mencium leher istrinya dengan mesra serta mendekapnya makin erat.
"Dasar suami cengeng ini" sambil menghela nafas dan mengusap kepala nanas suaminya.
"Tem, aku jadi kepikiran dan masih penasaran soal cincin ini" katanya sambil menunjuk ke kalung yang dipakainya itu.
Temari hanya diam. Shikamaru menengok ke arah Temari dan melihat sedikit rona merah di wajah Temari.
"Ih apaan sih, sana jauh-jauh! Buat apa kamu bertanya itu lagi? Kan sudah aku bilang untuk mengusir para 'serangga'!" Muka Temari makin memerah kemudian menjauhkan wajah Shikamaru.
"Pfff... Tidak mau sampai kamu beritahu alasannya dulu" Kapan lagi bisa menggoda Temari yang seperti ini walau terkadang berujung kena pukulan dari dia.
Temari hanya bisa mengeram kesal serta malu. Dia masih mencoba untuk melepaskan dari pelukan Shikamaru.
"Tem-" pinta Shikamaru dengan suara beratnya itu dan makin mempererat dekapannya. Temari makin tak berdaya.
"Ugh...habisnya... Habisnya walaupun kamu memakai cincin pernikahan kita di jarimu itu tetap saja banyak wanita yang mendekatimu!"
"... Hah?! Itu mana mungkin, pasti itu para penggemar Naruto yang menitipkan hadiah atau apalah untuk dia" jawabnya sambil terkekeh.
"Memangnya aku bodoh?! Aku bisa membedakan mana yang penggemar Na- maksudku Hokage-sama dan penggemarmu, dasar idiot!" kata Temari dengan sangat ketus.
"Oi... Galak sekali sih kamu" Mendengar omelan istrinya, Shikamaru menjadi cemberut dan belum tentu para wanita itu penggemarnya. Shikamaru masih tak habis pikir dengan istrinya itu.
"Padahal mereka tahu kalau kamu sudah beristri tapi masih saja berharap... Cih!"
"Pff... AHAHAHAHAHAHA ! Ya ampun Tem... "
"Hei! Apa yang kamu tertawakan hah?!" bentak Temari kepada Shikamaru yang tertawa terbahak-bahak tanpa sebab itu.
"Jadi hanya karena itu kamu memaksa aku untuk mengalungkan cincin pernikahan kita?"
"Iya! Biar para wanita centil itu sadar kalau kamu sudah beristri ! Makanya aku bilang 'untuk mengusir serangga' kan? Beraninya berkata 'rela menjadi istri kedua kamu' di depan aku ?!"
"Yah mereka mungkin belum mengenal siapa kamu kan Tem? Memang sih Sabaku no Temari, si ninja sadis dari Desa Suna itu tetkenal tapi ada juga yang belum mengenal kamu" Shikamaru mencoba menenangkan hati istrinya agar tidak meledak sewaktu-waktu.
"Aku tahu itu tapi tetap saja aku kesal kalau mengingat itu" katanya sambil cemberut dan membuang arah muka menjauh dari Shikamaru.
"Kamu tahu kan kalau hal itu akan sangat merepotkan? Dan aku sudah cukup kerepotan dengan kamu"
Mendengar hal itu Temari menjadi agak kesal, "Lalu kenapa kamu mau menikah dengan 'wanita merepotkan' ini hah, Nara Shikamaru?!"
"Soalnya kamu itu sangat berharga walaupun merepotkan untukku" jawabnya tegas dan jujur.
"Khhh- dasar gombal!" Muka Temari menjadi sangat merah mendengar pengakuan Shikamaru.
"Tapi aku senang ternyata kamu bisa juga cemburu. Padahal kukira kamu itu wanita yang tidak mau repot untuk hal seperti itu"
"Aku juga tidak mau bertindak seperti itu dan sudah mencoba menghiraukannya tetap saja tidak bisa" jawabnya sambil malu-malu.
Shikamaru tak menduga akan hal ini. Entah kenapa dia sangat senang melihat kecemburuan istrinya. Biasanya Temari hanya bersikap tenang dan hanya menjawab 'Ooh..' sehabis bertanya siapa wanita yang sedang mengobrol akrab dengannya itu ternyata bisa gelisah juga.
"Apaan sih... Tatapanmu itu tidak mengenakan tahu!" Temari yang melihat senyuman Shikamaru menjadi sedikit malu dan risih.
"Baiklah berhubung anak kita sedang main dan aku juga sedang cuti hari ini. Bagaimana kalau kita 'mempererat kebersamaan' kita ini ?" Dengan penuh tatapan nakal dia menatap ke arah Temari.
Temari kaget mendengar keinginan nakal suaminya itu "... Tidak.. Tidak!" Temari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan rona muka memerah. "Ini masih siang ! Jangan berpikiran macam-ma- ... Oi !" Tiba-tiba Shikamaru menggedong Temari dengan bridal style.
"Mumpung Shikadai sedang keluar bermain dan sepertinya akan pulang sore nanti jadi gunakan saat saat seperti ini, oke?" Secepat kilat Shikamaru mencium bibir istrinya dan terlihat senyum penuh kemenangan. Shikamaru berjalan ke arah kamar mereka berdua dengan diiringi teriakan dan pukulan dari Temari yang rona mukanya semakin merah.
*fin*
a/n
yo~~~ akhirnya bisa update lagi setelah ber-jibaku ama kerjaan kantor... OTL
kembali dgn cerita gaje dan mungkin kalian akan menemukan typo2 ganas (semoga ga ada orz) dan terkesan OOC tapi biarlah pastinya para istri itu ada rasa insecure kan? /saya belom married padahal tapi uda sotoy kyk gini /lari Kemudian itu menjelang akhir2 rada takut, takut khilaf nyasar ke rated M /padahalngarep /ditabok. Jadi masih saya tahan deh XD
Terus maaf shikadainya nampil cuma sebentar krn emg kepikiran buat bikin fic ttg cincin yg di kalunging ama papamaru itu asdkjfhflglglhj ^q^
ya uda drpd banyak cocot disini /plak, saya harap reviewnya .-.)9 supaya semangat menulis fic dgn baik lagi /amin.
dan klo mw ajak ngobrol twit aja ke twitter saya Tare_Hare dan kalian akan menemukan gambar2 random saya baik yg rate normal hingga engga /plakplakplak. Saya lbh aktif di twitter wwwwwww
ciao~ adieu~
