IDOL GAMES : Being Couple
(It's straight; EXO; GS! uke)
By shinhaeran
EXO N (namja) and EXO Y (yeoja), boyband and girlband formed by SM entertainment will join in a new reality show "IDOL GAMES". Both of groups formed to be couple group and decide to reveal their official couple by doing this game. What will be happen?
NOTE: Italic font adalah ucapan saat mereka diinterview setelah acara berlangsung.
.:3'rd chapter:.
.:Synchronize Time part 3-End:.
.
.
.
.
.
"Maaf, maafkan aku," Luhan terduduk di tanah seraya membungkukkan badannya. Ia nampak meringis kesakitan.
"Agassi, gwenchana?" tanya sosok berbaju putih tak jauh darinya. Sosok itu terlihat memandangnya sedikit khawatir.
"Aniya, gwenchana. Aku tidak.. ahh," Luhan kembali meringis kesakitan, kali ini sambil memegang pergelangan kakinya yang sedikit memerah.
"NOONA!" sebuah teriakan dari pintu keluar membuat Luhan sedikit tersentak. Ia sepertinya mengenal suara itu.
Dan tak lama, terlihatlah sosok yang berjalan mendekatinya. Mata sipitnya terbuka lebar, "Sehunnie?"
"Noona, gwenchana? Apa yang terjadi?" tanya Sehun cepat begitu ia tiba di dekat Luhan. Luhan yang masih terkejut hanya terdiam sambil menunjukkan kakinya.
"Kaki noona terkilir. Aigoo, bagaimana bitha?" ucap Sehun lagi dengan cepat, sampai-sampai cadelnya pun tak terdengar.
Sedangkan sosok berbaju putih di dekat mereka yang ternyata hantu 'palsu' itu justru memperhatikan mereka sambil menahan tawa.
Tiba-tiba Sehun menjentikkan jarinya, lalu membalikkan badannya dan berjongkok di depan Luhan, "Ayo naik kepunggungku, noona,"
Luhan tak beranjak sedikit pun, ia justru semakin terkejut, "Tapi.."
Dan mendengar itu, Sehun menolehkan kepalanya dan tersenyum, "Aniya, noona haruth ditangani tim medis thegera. Gwenchana,"
Saat itu, aku seperti melihat sisi baru dari Sehun. Sisi seorang Oh Sehun yang tenang, lembut dan perhatian (tersenyum malu-malu) –Luhan
.
.
"Apa-apaan Sehun itu? Masuk ke dalam seenaknya," omel Kai entah pada siapa. Ia pun mulai beranjak memasuki rumah hantu itu juga, namun tangannya segera ditahan oleh Suho.
"Biarkan saja, nanti juga ia kembali," ucap Suho tenang seperti biasa, yang justru membuat Kai sedikit kesal.
"Ada apa ini?" sebuah suara tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka. Tak jauh di depan, tampak Kris yang berjalan mendekati mereka dan Lay di sampingnya dengan wajah cemberut.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian semua berkumpul disini?" tanya Kris lagi. Kali ini ia nampak sedikit menarik pergelangan tangan Lay untuk mendekatinya, membuat Suho langsung menatap tak suka pada keduanya.
"Kyungsoo noona dan Luhan noona baru memasuki rumah hantu ini dan Luhan noona tertinggal di dalam dan tak kunjung keluar, jadi kami menunggunya disini. Tetapi tiba-tiba saja, Sehun memaksa masuk dan berlari ke dalam sendirian," jelas Kai dengan nada kesal yang masih sedikit terdengar.
Kris hanya balas mengangguk, sedangkan Lay di sampingnya tampak sedikit terkejut, "Jadi Sehun masuk ke dalam sendirian?"
Baik Suho, Kai, Tao maupun Kyungsoo hanya mengangguk kecil, lalu kembali beralih menatap pintu keluar rumah hantu itu.
"Oh, itu Sehun," pekik Tao tiba-tiba seraya menunjukkan tangannya ke arah pintu keluar. Member lain yang mendengar pun segera menajamkan penglihatan mereka.
Kyungsoo yang juga mulai melihat sosok Sehun beserta Luhan, segera berlari ke arahnya, "Sehun, Luhan-jie kenapa?"
Sehun tak menjawab, ia hanya bergegas mendekati salah satu bangku di dekat mereka dan mendudukkan Luhan dengan hati-hati. Yang lain pun segera mendekati mereka dengan penasaran.
"Kakiku hanya terkilir sedikit, Kyungsoo-ya," jawab Luhan kemudian seraya tersenyum.
"Sungguh? Jiejie tidak apa-apa?" tanya Kyungsoo khawatir. Ia memperhatikan pergelangan kaki Luhan yang memerah dengan teliti, "Tapi ini merah.."
Setelah memastikan Luhan nyaman, Sehun segera beranjak dari tempatnya, "Tunggu thebentar noona, akan thegera kupanggilkan tim medith"
Member lain yang sedari memperhatikan mereka sedikit mengernyitkan dahi.
"Aku tak pernah melihat Sehun seserius itu," gumam Lay lirih, namun masih bisa terdengar oleh yang lain. Member lain pun diam-diam menyetujui perkataannya.
Kyungsoo kini terduduk di depan Luhan, menatapnya dengan rasa bersalah. Matanya pun mulai berkaca-kaca lagi, "Jiejie, jeongmal mianhe. Aku terlalu ketakutan, jadi..,"
Luhan kembali tersenyum, ia mengusap rambut Kyungsoo lembut, "Aku tidak apa-apa, sungguh. Kau tidak perlu merasa bersalah begini,"
"Syukurlah kalau kau tak apa-apa, Lu," ucap Kris yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.
"Ne, kami sangat khawatir noona. Syukurlah jika noona baik-baik saja," balas Suho seraya tersenyum lembut.
Luhan balas tersenyum pada mereka, "Gomawo, dan maaf kalau sudah membuat kalian khawatir"
"Aku tidak mau masuk ke dalam. Lu-jie saja terkilir begitu," rengek Tao tiba-tiba. Ia kini tengah menggandeng lengan Lay erat.
Luhan tiba-tiba tertawa kecil, "Hahaha, benar, sepertinya aku terlalu percaya diri untuk masuk ke dalam ya?"
Semuanya pun hanya balas tertawa kecil.
.
.
"Kau lihat tadi, Dae?" tanya Baekhyun pada Chen yang duduk di sampingnya. Mereka kini tengah duduk di salah satu bangku seraya menyantap es krim yang baru saja mereka beli.
"Apa?" tanya Chen asal, terlalu sibuk dengan es krim di tangannya.
"Ekspresi Xiumin eonnie tadi saat mendengar pertanyaan kita tentang Chanyeol"
"Memangnya kenapa?" Chen nampak masih terfokus pada es krimnya.
Baekhyun seketika mencubit pinggang Chen pelan, kesal karena merasa tak diperhatikan.
"Kau mendengarkanku tidak sih?" omelnya kemudian.
Chen mengusap pinggangnya gemas, "Iya, aku dengar. Aku kan bertanya, memangnya kenapa?"
Baekhyun memeletkan lidahnya pada Chen, lalu kembali memakan es krimnya.
"Pasti Chanyeol yang meninggalkannya," ucap Baekhyun kemudian.
"Ia itu inginnya denganmu," Baekhyun langsung menatap Chen tak terima, "Aku?"
Chen balas menatap Baekhyun lalu mengangguk, "Iya, tadi kau sudah dengar sendiri kan?"
Baekhyun kembali memakan es krimnya dengan kesal, "Huh, mana ada yang mau dengan namja egois sepertinya"
Saat mendengarnya mengatakan hal itu, aku mulai berfikir, "Ahh..Jadi, kau sengaja memilihku untuk menghindarinya?" (mengangguk kecil) –Chen
.
.
Di salah satu sudut taman, tampak Kris dan juga Suho yang tengah berdiri di sana. Mereka tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, Kris dengan handphonenya sedangkan Suho nampak memikirkan sesuatu.
"Kau senang berpasangan dengannya, Wu?" tanya Suho tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka.
Kris menatap Suho sekilas, lalu kembali sibuk memainkan handphonenya, "Lay?"
"Siapa lagi?" balas Suho sedikit kesal.
"Lumayan"
Suho mengangguk kecil mendengar jawaban Kris, "Lalu, kau sudah memilih siapa yang akan kau jadikan official couple-mu nanti?"
"Entahlah, aku tidak terlalu memikirkan hal itu," Suho kembali ingin bertanya, namun segera tertahan ketika ia mendengar suara lembut Lay.
"Kami kembali"
Suho membalikkan badannya, lalu tersenyum lembut pada Lay dan juga Kyungsoo yang baru tiba.
"Bagaimana keadaan Luhan noona?" tanya Suho setelahnya.
"Tidak apa-apa, ia hanya perlu istirahat saja karena sepertinya kepalanya juga sedikit pusing," jelas Lay. Suho hanya balas mengangguk kecil.
"Baiklah, sebaiknya kita lanjutkan saja kegiatan kita masing-masing. Ayo Kris, kita jalan," ucap Lay lagi, kali ini dengan nada ceria. Dengan bersemangat, ia menarik paksa lengan Kris yang masih asyik memainkan handphonenya itu.
Hening. Kembali tidak ada percakapan antara Suho dan Kyungsoo setelah sosok Lay dan Kris menghilang dari pandangan mereka.
"Oppa," panggil Kyungsoo dengan hati-hati. Namun nampaknya Suho masih sibuk menatap ke arah Lay dan Kris pergi tadi.
"Oppa!" panggil Kyungsoo sedikit lebih keras.
Merasa tak ada jawaban, Kyungsoo sedikit menarik lengan baju Suho.
"Sampai kapan oppa akan mendiamkanku seperti ini?" ucap Kyungsoo lirih.
Suho yang awalnya masih sibuk dengan lamunannya segera berbalik begitu mendengar isakan kecil dari arah belakang.
"Kyungsoo-ya.."
Kyungsoo mengusap matanya pelan, ia terisak kecil, "Apa oppa marah padaku?"
"Aniya, aniya, oppa tidak marah padamu," Suho tiba-tiba nampak panik.
"Tapi sedari tadi oppa mendiamkanku terus. Apa oppa tidak suka berpasangan denganku?" tanya Kyungsoo agi dengan lirih.
"Bu..bukan begitu Kyungsoo-ya, hanya saja.." Suho mengusap tengkuknya dengan gelisah, ia nampak bingung bagaimana menenangkan Kyungsoo di hadapannya.
Oppa tidak ingin berpasangan denganku (mengangguk, lalu tersenyum) –Kyungsoo
Lalu apa kau tau siapa yang Suho inginkan untuk menjadi pasangannya? –PD
Hmm, Lay-jie? (tidak yakin) –Kyungsoo
Isakan Kyungsoo mulai mereda, ia menatap Suho dalam, "Aku ingin sendiri saja, oppa"
"Eh?" Suho seketika membulatkan matanya.
"Hmm, sebaiknya kita berpisah saja. Aku ingin jalan-jalan sendiri," ucap Kyungsoo mantap.
"Kau yakin, Kyungsoo-ya? Tak mau oppa temani?"
"Eum," Kyungsoo mengangguk lucu, "Lagipula oppa juga mendiamkanku sedari tadi"
Aku jadi merasa bersalah padanya. Tetapi mau bagaimana lagi, terkadang namja memang akan menjadi egois saat menyangkut yeoja yang disukainya, benar kan? (tertawa kecil) –Suho
Aku sudah memantapkan hatiku bahwa, "Aku tidak bisa seperti ini. Aku tidak bisa terus menerus terpaku pada Suho oppa" –Kyungsoo
Apa kau merasa sedih? –PD
Sedikit (tersenyum), tetapi setidaknya saat itu aku tau bahwa ternyata Suho oppa hanya menganggapku sebagai dongsaengnya selama ini –Kyungsoo
"Kyungsoo-ya, maafkan aku.." ucap Suho lirih, ia tak berani menatap mata Kyungsoo langsung.
"Ne, gwenchana oppa. Aku duluan, annyeong," ucap Kyungsoo seraya tersenyum kecil lalu segera berlari meninggalkan Suho.
Dan tak lama setelah itu, barulah pesan yang berisi misi datang. Mau tak mau, aku tetap tidak akan bisa melakukan misi itu kan?(terkekeh) –Suho.
.
.
"Pergilah, Kai-ya. Aku yang akan dithini"
"Yak, Oh Sehun. Aku pasangan Luhan noona, jadi akulah yang disini"
"Namja macam apa yang membiarkan pathangannya terluka begini"
"Aku tidak membiarkannya, Luhan noona sendiri yang ingin masuk..."
Luhan menatap kedua maknae itu dengan jengah, "Mau sampai kapan kalian berdebat, huh?"
Sehun mulai menatap Luhan. "Noona, biarkan aku dithini menemani noona ya?" Sehun kembali menggunakan jurus aegyonya.
"Huh, aegyo lagi," sindir Kai.
Sehun memeletkan lidahnya, "Apa? Bilang thaja, kau iri kan karena tidak bitha aegyo?"
"Sudah, sudah cukup!" pekik Luhan kesal membuatnya keduanya berhenti berbicara seketika.
"Sehunnie, sebaiknya kau pergi saja. Kasihan Tao yang menunggu di luar sedari tadi," Kai yang mendengar itu kini balas memeletkan lidahnya.
"Dan, Kai-ya, kau juga sebaiknya pergi. Aku ingin beristirahat disini sendirian saja," ucapan Luhan kemudian membuat Kai cemberut seketika.
"Tapi noona.."
"Kai, aku mohon.." ucap Luhan dengan puppy eyesnya, membuat Kai mau tak mau harus mendengarkan kata-katanya.
Sehun yang mendengar itu kini tertawa kecil, "Mehrong," dan ia pun segera keluar dari ruang medis itu sebelum mendapat jitakan dari Kai.
"Kalau begitu, aku keluar dulu, noona," ucap Kai kemudian.
Luhan balas tersenyum dan Kai pun mulai beranjak dari duduknya.
.
.
Di dekat tenda yang memang dibuat khusus sebagai ruang medis, Tao tampak terduduk di salah satu bangku dalam diam. Tatapan tertuju pada tanah dan kakinya bergerak-gerak tak sabar.
Tak lama kemudian, terdengar sebuah langkah kaki yang semakin mendekat. Ia pun segera mengangkat kepalanya lagi.
"Lama sekali sih," ucap Tao kesal seraya mengerucutkan bibirnya dengan lucu.
"Mianhe," Sehun tersenyum kecil, lalu mengacak poni Tao pelan. "Kita mau kemana?"
"Ballon Sky Ride," balas Tao bersemangat.
"Baiklah, kajja," ucap Sehun, lalu ia mulai berjalan lebih dulu, meninggalkan Tao yang kembali mengerucutkan bibirnya.
"Oh Sehun, tunggu aku!"
.
.
"Chanyeol-ah?" Xiumin memanggil namja di depannya dengan hati-hati. Sedangkan sang namja justru masih terfokus pada handphone di tangannya.
"Chanyeol-ah?" kali ini Xiumin sedikit meninggikan suaranya.
Chanyeol sedikit tersentak, lalu mulai tersenyum kecil "Ah, ye noona"
"Tidak mau mengikuti Baekhyun lagi?" tanya Xiumin lagi, kali ini dengan lebih hati-hati.
"Aniya. Mau diikuti terus pun tak berguna apa-apa," jawab Chanyeol seadanya, lalu kembali fokus pada handphonenya.
Xiumin yang penasaran dengan apa yang dilihat Chanyeol, sedikit berjinjit di sebelah Chanyeol untuk melihat layar handphone Chanyeol. Chanyeol yang mulai menyadarinya segera menyembunyikan handphonenya di balik punggung.
"Kenapa?" tanya Xiumin penasaran.
"Aniya, tidak ada apa-apa, noona"
Xiumin masih menatap Chanyeol curiga, membuat Chanyeol sedikit gelisah.
Tak lama, Chanyeol pun mulai mendapat ide. "Bagaimana kalau kita mulai jalan saja, noona? Aku ingin naik Bungee Drop," ucap chanyeol bersemangat, lalu berjalan lebih dahulu, membuat Xiumin mau tak mau harus menahan rasa penasarannya.
Saat itu aku mendapatkan pesan berisi misi yang harus namjadeul lakukan, aku mulai berpikir keras bagaimana agar dapat melakukan misi itu dengan cepat (tersenyum penuh arti) –Chanyeol.
.
.
"Ughh, aku bosan," ucapan Lay yang tengah berjalan di depannya tak begitu dihiraukan oleh Kris. Ia nampak sibuk membaca pesan yang tak lama sebelumnya terkirim ke handphonenya.
Mission Text
Akan ada misi untuk kalian para namja, namun kalian tidak boleh memberitahukan misi ini pada pasangan kalian.
Misinya adalah : Back hug
Ingat, kalian harus melakukan misi ini secara natural tanpa diketahui pasangan kalian, dan bagi kalian yang berhasil melakukan misi ini, akan ada keuntungan di game selanjutnya. Fighting!
-Leeteuk
Kris nampak mengernyitkan dahinya bingung. Ia sepertinya tidak sadar dengan Lay yang kini tengah menatapnya penasaran.
"Ada apa?" ucapan Lay yang tiba-tiba membuat Kris sedikit tersentak. Ia pun segera menyimpan handphonenya di dalam saku celana.
"Aniya"
Lay nampak tak puas dengan jawaban Kris, ia mulai bertanya lagi "Apa ada masalah?"
"Tidak ada. Ayo, bukankah kau ingin naik Gyro Swing?" Kris mulai mengalihkan pembicaraan mereka.
"Jadi? Kita akan naik Gyro Swing?" tanya Lay kemudian dengan antusias.
"Ne," jawab Kris seadanya yang langsung dihadiahi pelukan singkat dari Lay.
"Gomawo"
Dan lagi-lagi, mereka tak sadar dengan sebuah tatapan yang kembali memperhatikan mereka.
.
.
Tao berdiri dengan gelisah, sesekali ia mengusap peluh di lehernya. Meskipun udara masih cukup dingin, namun jika kalian berada di keramaian seperti ini, kalian pasti akan mengeluarkan peluh juga.
"Antriannya panjang sekali," keluh Tao kemudian. Ya, saat ini ia dan Sehun memang tengah mengantri untuk membeli tiket Ballon Sky Ride.
Sehun yang tengah asyik memperhatikan layar handphonenya tiba-tiba terdiam. Ia nampak memikirkan sesuatu.
"Apa kau hauth, Tao-er?" tanya Sehun kemudian. Tao yang mendengar itu pun langsung mengangguk.
"Bagaimana kalau aku membeli minuman dulu? Kau mengantri dithini sambil menungguku, bagaimana?," ucap Sehun, ia sedikit harap-harap cemas.
"Eum.." Tao nampak berpikir, namun tak lama ia pun mengangguk pelan.
"Oke, tapi jangan terlalu lama," ucap Tao dengan puppy eyes andalannya.
Sehun tersenyum lega. Ia mengusak poni Tao pelan, "Kalau begitu aku pergi dulu"
"Ne, hati-hati," balas Tao sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
Sehun yang mulai beranjak dari tempat itu diam-diam tersenyum penuh arti.
"Mianhe, Tao," gumamnya pada dirinya sendiri.
.
.
Kyungsoo berjalan pelan menyusuri setapak Lotte World. Tampak sesekali ia mengusap pelan pipinya yang berair. Ya, Kyungsoo memang sedang menangis. Meskipun tanpa suara, tetapi terlihat dengan jelas air mata yang mengalir di kedua pipinya.
Aku terlihat sangat menyedihkan bukan waktu itu? (tertawa kecil) Aku sendiri juga tidak tahu mengapa aku bisa menangis. Waktu itu tiba-tiba saja aku merasa kesepian dan air mataku mengalir begitu saja –Kyungsoo
Sedangkan dari arah lain, tak jauh dari tempatnya, nampak Kai yang tengah berjalan seorang diri seraya memakan permen lolipopnya dan memainkan sesuatu di tangannya. Ia nampak berjalan dengan malas, hingga matanya mulai menangkap sosok Kyungsoo.
"Oh, Kyungsoo noona!" Kai berteriak keras seraya berjalan cepat menghampiri Kyungsoo. Kyungsoo yang mendengar itu pun langsung mengusap air matanya dengan cepat.
"Noona sendirian saja? Junmyeon hyung kemana?" tanya Kai begitu sampai di hadapan Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum kecil, "Ne. Noona ingin jalan-jalan sendiri jadi tadi kami berdua memisahkan diri,"
"Ooh," Kai mengangguk mengerti, lalu ia mulai teringat sesuatu.
"Apa noona ingin naik Bungee Drop?" ucapnya seraya menunjukkan dua buah tiket di tangannya. "Tadi aku iseng membeli ini, tetapi kupikir lagi, tidak asyik kalau nai sendirian. Jadi aku membeli dua,"
Senyum Kyungsoo nampak semakin berkembang, ia lalu mengambil salah satu tiket itu, "Boleh, kita naik bersama saja,"
Kai nampak tidak dapat menyembunyikan wajah senangnya. Ia pun lalu mengikuti langkah Kyungsoo yang semakin menjauh.
.
.
"Wahh, ternyata pemandangan dari sini indah sekali," Xiumin merentangkan kedua tangannya ke samping, lalu ia pun menutup matanya, menikmati hembusan lembut angin yang melewatinya.
Ia dan Chanyeol kini sedang berada di atas Magic Castle, tempat yang sangat familiar bagi muda-mudi Seoul yang tengah berkencan. Chanyeol sendiri tengah berdiri di belakangnya seraya tersenyum penuh arti.
"Eh?" mata Xiumin membulat seketika begitu merasakan sebuah pelukan dari belakang. Ia menoleh sekilas, "Chanyeol-ah?"
"Maafkan aku noona, maaf.."
Xiumin masih terdiam , perlahan ia mulai menurunkan kedua tangannya. Terlihat dari wajahnya bahwa ia merasa sangat bingung.
"Maaf karena membuat noona selalu mengikuti kemauanku tadi,"
Perlahan, Xiumin mulai tersenyum. Ia sudah mengerti arah pembicaraan Chanyeol.
"Tidak apa-apa. Noona mengerti bahwa kau sangat menyukai Baekhyun,"
Chanyeol mulai melepaskan pelukannya, lalu menatap Xiumin dengan dahi berkerut, "Noona tahu?"
"Tentu saja," Xiumin tertawa kecil, "Siapa yang tidak tahu jika sikapmu terlihat jelas begitu?"
Chanyeol ikut tertawa kecil bersama Xiumin, namun kemudian raut wajahnya kembali sendu, "Tetapi kenapa Baekhyun masih tidak membalasnya? Apa ia tidak tahu?"
Xiumin tersenyum lembut pada namja yang sudah dianggapnya sebagai dongsaengnya itu dengan lembut. Ia mengusap lengan Chanyeol pelan, "Noona yakin, Baekhyun juga sudah tahu,"
"Benarkah?" tanya Chanyeol seraya menatap Xiumin ragu. Xiumin pun mengangguk mantap.
"Ne. Hanya saja, ia pasti masih butuh waktu untuk menjawab perasaanmu, Yeol," ucapnya disertai senyumnya yang menenangkan, membuat Chanyeol mau tak mau juga membalas senyumannya itu.
.
.
"Cemburu, eoh?" pertanyaan Chen yang tiba-tiba membuat Baekhyun mengalihkan perhatiannya seketika. Ia pun membalikkan badannya dengan cepat.
"Tidak,"
Chen mengikuti langkah Baekhyun dari belakang, "Bohong,"
"Jangan sok tahu, deh, Dae," balas Baekhyun dengan kesal, tanpa menatap ke arahnya.
"Memang aku tahu," ucapan Chen yang penuh percaya diri membuat Baekhyun membalikkan badannya.
"Tahu apa?"
"Tahu kalau kau suka dengan Chanyeol," jawab Chen seraya tersenyum jahil.
"Siapa bilang? Tidak kok," Baekhyun masih menyangkal, ia kembali berjalan cepat menjauhi tempat itu. Tepatnya di atas Magic Castle, tak jauh dari tempat Chanyeol dan Xiumin berada tadi.
"Aku sudah mengenalmu lama, Baek. Dan aku tahu persis kalau kau sedang berubah mood,"
Baekhyun masih tidak menoleh, "Aku hanya lelah,"
Sedangkan Chen hanya mengikuti di belakang seraya tersenyum maklum.
Aku tahu pasti bagaimana tingkahnya saat sedang marah ataupun kesal. Dan terlihat jelas saat itu ia sedang kesal setelah melihat Chanyeol dan Xiumin noona berpelukan -Chen
"Kau tidak perlu membohongi hatimu sendiri,Baek," perkataan Chen yang tiba-tiba membuat langkah Baekhyun terhenti.
"Kalau memang kau menyukainya, kenapa kau menjauhinya? Apa.." Baekhyun masih terdiam di tempatnya, dan Chen pun tak berani melanjutkan perkataannya lagi.
"Tidak, sampai ia benar-benar mengerti perasaanku yang sebenarnya," diam-diam, setetes air mata mulai turun dari ujung mata Baekhyun. Ia mengusapnya dengan kasar, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Chen menghela nafasnya pelan, "Perasaanmu kalau kau sedang cemburu?"
Baekhyun masih tidak menjawab, ia terus melanjutkan langkahnya yang semakin cepat.
"Tapi itu hanya misi, Baek," ucapan Chen kembali membuat Baekhyun berhenti. Kali ini ia benar-benar membalikkan badannya.
"Maksudmu?"
"Itu misi dari Leeteuk Hyung, yang menyuruh kami para namja untuk memeluk pasangan kami dari belakang,"
Baekhyun terdiam sejenak, ia nampak memikirkan sesuatu.
"Lalu, kenapa kau tidak melakukannya padaku?"
Chen tersenyum kecil, lalu berjalan mendekati Baekhyun. Ia mengusak poni Baekhyun dengan lembut, "Aku tidak bisa, Baek,"
Baekhyun menatap Chen dengan bingung, "Kenapa tidak?"
"Karena kalau kau tak ingin, aku tidak bisa melakukan hal itu padamu," begitu menyelesaikan kalimatnya, Chen berjalan melewati Baekhyun, meninggalkan Baekhyun yang kini nampak menundukkan wajahnya.
Aku benar-benar tidak tahu jika pilihanku saat itu menyakiti Chen. Ia pasti kecewa karena aku memilihnya hanya karena untuk menghindari Chanyeol (raut wajah menyesal) -Baekhyun
.
.
Luhan nampak sedang terduduk seraya menyandarkan punggungnya di sisi ranjang yang didudukinya. Ia sedang asyik memainkan salah satu game dari handphonenya.
"Noona," sebuah panggilan dari arah luar membuatnya menoleh seketika. Tak lama nampaklah sosok Sehun yang berjalan memasuki ruangan itu.
"Sehun, kenapa kau...?! " tanyanya dengan sedikit berteriak karena terkejut.
"Thudah Thehun duga, noona pasti tidak thedang tidur," Sehun berjalan mendekati ranjang Luhan dengan santai.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Luhan masih dengan wajah terkejutnnya.
"Menemani noona," Sehun mulai duduk di sisi ranjang Luhan. "Noona thedang thendirian kan?"
"Ta, tapi," Luhan masih menatap sosok dihadapannya dengan tidak percaya. Bukankah tadi ia sudah mengusirnya bersama Kai?
"Tao bagaimana?"
Sehun tak menjawab, ia justru mengeluarkan dua buah tiket dari sakunya.
"Noona mau naik bianglala berthama Thehun? Thehun thengaja membelikannya untuk noona,"
Luhan hendak menolak, namun ia justru semakin membulatkan matanya saat melihat Sehun berjongkok memunggunginya.
"Naik di punggung Thehun saja, kalau noona mathih belum bitha berjalan. Thehun akan menggendong noona thampai thana,"
Aku memang tahu kalau Sehun itu keras kepala. Tapi aku tak tahu kalau ia akan berusaha sampai seperti ini -Luhan
.
.
Lay menuruni arena permainan dengan tersenyum lebar. Ia terlihat sangat puas setelah menaiki permainan yang sangat diinginkannya.
"Lalu, kita akan kemana lagi, Kris?" Lay bertanya dengan antusias. Ia melompat-lompat kecil di tempatnya.
"Sudah dulu, aku lapar,"
Lay nampak mengerucutkan bibirnya sejenak, namun akhirnya tersenyum lagi.
"Baiklah, ayo kita makan,"
Lay kembali berjalan dengan riang, sedangkan Kris yang mengikutinya di belakang nampak tidak fokus. Ia nampak tengah memikirkan sesuatu.
"Kris, kau mau makan pasta, atau.." kalimat Lay terpotong begitu Kris memeluknya dari belakang. Kedua mata sipit Lay seketika membulat. Ia pun hanya terdiam saking terkejutnya.
"Ya!" teriak Lay begitu sadar. Ia langsung menghempaskan tangan Kris dengan cepat, "Kenapa kau tiba-tiba memelukku?"
"Ingin saja," jawab Kris seraya tersenyum jahil. Ia lalu mulai melangkah kembali.
"Ish, kau benar-benar," Lay terdiam di tempatnya seraya menatap Kris dengan kesal, moodnya kembali buruk.
"Makan saja sendiri! Aku akan main sendiri," ucapnya, lalu segera berbalik menjauhi Kris.
Kris yang mendengar itu pun langsung berjalan cepat menghampiri Lay. Namun belum sampai ke tujuannya, matanya menangkap sosok yang dikenalnya tengah terduduk di salah satu bangku tak jauh darinya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan Lay dan berjalan mendekati sosok itu.
"Tao-er?"
Sosok itu yang tak lain adalah Tao, seketika menengadahkan wajahnya. Terlihatlah oleh Kris kedua mata Tao yang sudah basah karena menangis.
"Kenapa kau menangis?"
Tao tak menjawab, ia justru langsung memeluk tubuh Kris dengan erat.
"Sehun meninggalkanku, ge. Ia pergi membeli minuman, tapi sampai sekarang belum kembali,"
(Tertawa kecil) Kebiasaannya memeluk orang lain itu sebenarnya cukup merepotkan, tetapi entah mengapa aku jadi menyukai hal itu -Kris
"Sehun?"
"Ne," Tao menganggukkan kepalanya yang berada di ceruk leher Kris. Kris pun hanya bisa mengusap punggung Tao pelan.
"Ssst. Jangan menangis, Tao-er. Gege akan menemanimu bermain, kau ingin main apa?"
Tao melepas pelukannya seketika, ia menatap Kris dengan mata berbinar, "Sungguh? Gege mau menemani Tao?"
"Ne," anggukan Kris dibalas dengan senyuman Tao yang lucu.
"Tao ingin naik Ballon Sky Ride. Ini, Tao sudah beli tiketnya," ucapnya seraya menunjukkan kedua tiket di tangannya pada Kris.
"Kalau begitu, kajja! Kita pergi sekarang," ucap Kris lalu mulai beranjak menuju arena yang dimaksud Tao. Tao pun mengikuti di sampingnya dengan bersemangat, tangannya bahkan mulai bergelayut di lengan Kris.
"Kajja!"
.
.
Luhan menatap keluar seraya menggigit bibirnya. Ia kemudian menoleh, menatap Sehun yang tadi mengajaknya pergi dengan sedikit ragu.
"Noona takut?" tanya Sehun yang nampak menahan tawanya, membuat Luhan hanya tertunduk malu.
"Noona tenang thaja," Sehun bergerak mendekat ke arah Luhan, lalu mulai mengaitkan jemarinya ke jemari lentik Luhan. "Thehun kan ada dithini,"
Perkataan Sehun tadi membuat Luhan sedikit merona, dan Sehun yang melihat itu semakin melebarkan senyumnya.
Keadaan kembali hening sejenak. Keduanya kini nampak tengah memperhatikan keadaan Seoul di bawah mereka dengan seksama. Sesekali gumaman kagum terdengar dari mereka.
"Sehunnie,"
"Hmm," Sehun hanya bergumam tanpa melihat ke arah Luhan. Ia nampak asyik memperhatikan arena permainan lain yang tak jauh dari mereka.
"Apa kau benar-benar menyukaiku?"
Sehun menolehkan kepalanya seketika, lalu menatap Luhan dengan bingung, "Kenapa noona bertanya begitu?"
"Aniya, hanya saja.."
"Aku memang sangat menyukai noona," Sehun menjawab dengan cepat, bahkan cadelnya pun tak sampai tedengar. Ia menatap Luhan dengan dalam. "Apa tidak boleh?"
"A, ani," Luhan nampak bergerak gelisah di bangkunya. "Hanya saja, jika memang kau benar-benar menyukaiku, bisakah kau membuatku menyukaimu?"
Sehun terdiam, ia hanya menatap Luhan pertanda tidak mengerti.
"Maksudku, selama tiga hari ini, bisakah kau membuatku menyukaimu? Ini adalah tantangan dariku," Luhan kemudian tersenyum pada Sehun dengan penuh arti.
Sehun yang mulai mengerti, juga balas tersenyum.
Aku pathti akan beruthaha membuat noona menyukaiku (menjawab mantap) –Sehun
.
.
"Dasar namja aneh, tiba-tiba memelukku seperti itu," keluh Lay saat ia berjalan sendiri. Ia nampak menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.
"Bagaimana jika ada member lain yang melihat? Mereka pasti akan mengira kita saling menyukai," langkah Lay tiba-tiba terhenti, ia kembali teringat sesuatu.
"Bisa-bisa aku akan benar-benar berpasangan dengannya nanti," Lay bergidik ngeri sendiri saat membayangkan hal itu. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya.
Langkah Lay kembali terhenti, kali ini karena ia melihat seseorang yang tengah berjalan tak jauh darinya.
"Oh, Suho-ssi?"
Suho, sosok yang dipanggil Lay tadi, sedikit tersentak. Wajahnya nampak terkejut.
"Lay-ssi? Kau sendiri?"
"Ne," Lay tersenyum hingga menampilkan dimple manisnya. "Kau juga, Suho-ssi?"
Suho mengangguk, ia nampak sedikit gugup, "Ne,"
"Kalau begitu, kita berjalan bersama saja,"
"Ne?"
Suho membulatkan matanya, kembali terkejut, membuat Lay sedikit mengernyitkan dahinya, "Kenapa? Kau tidak mau?"
"A, aniya. Tentu saja aku mau. Kau ingin kemana?" tanya Suho kemudian setelah mengontrol ekspresinya.
"Hmm, tidak tahu juga. Kita jalan-jalan saja dulu,"
Suho pun hanya mengangguk, dan mereka mulai melanjutkan langkah mereka lagi. Semakin lama melangkah, mereka nampak semakin akrab. Sesekali tawa mulai terdengar dari keduanya.
"Aku sering melihatmu latihan seorang diri di tengah malam saat trainee. Apa kau tidak lelah?"
Lay tersenyum kecil mendengar pertanyaan Suho, "Aku memang suka berlatih sampai tengah malam. Soalnya saat tengah malam itu, suasana akan sangat hening dan itu sangat menenangkan,"
"Lalu kau kenapa bisa melihatku saat itu?" kali ini balas Lay yang bertanya.
"Ah, itu," Suho mengusap tengkuknya, "Aku sering tertidur setelah latihan, dan baru bangun saat tengah malam. Jadi, begitulah," Suho tertawa kecil setelahnya, membuat Lay juga ikut tertawa karenanya.
Suho-ssi enak diajak mengobrol. Mungkin karena kami lahir di tahun yang sama, jadi kami merasa nyaman satu sama lain (mengangguk kecil) –Lay
.
.
Keenam pasangan kini nampak sudah duduk di kursi mereka masing-masing saat ini. Mereka segera berkumpul setelah mendapatkan pesan dari Leeteuk.
"Jadi, bagaimana? Apa kalian menikmati permainan disini?" tanya Leeteuk seraya menatap mereka satu per satu.
"Ne," jawab mereka hampir bersamaan.
"Lalu, bagaimana dengan misi yang aku berikan?"
Reaksi setiap orang kini nampak berbeda. Namjadeul ada yang nampak cuek, ada juga yang gelisah karena melupakan misinya. Di sisi lain, yeojadeul justru menatap Leeteuk dengan tidak mengerti, kecuali Baekhyun yang sedari tadi terdiam seraya menundukkan kepalanya.
"Misi apa?" tanya Luhan kemudian, mewakili rasa penasaran yeojadeul yang lain.
"Misi rahasia untuk para namja," jawab Leeteuk dengan senyum penuh arti. Yeojadeul yang tidak mengerti pun hanya bisa mengendikkan bahu.
"Sayang sekali, sepertinya hanya dua orang yang berhasil melaksanakan misi ini dengan baik," namjadeul yang mendengarkan itu hanya menghela nafas mereka.
"Chanyeol dan Kris, mereka yang akan mendapat keuntungan untuk permainan selanjutnya," lanjut Leeteuk lagi.
Chanyeol tersenyum lebar mendengar hal itu, sedangkan Kris nampak tak begitu tertarik. Namjadeul lain menatap mereka sedikit iri.
"Baiklah. Kalian bisa melanjutkan perjalanan ke airport untuk menuju Jeju-do sekarang. Sampai bertemu di airport nanti,"
Dan setelah Leeteuk menyelesaikan kalimatnya, keduabelas member EXO pun mulai beranjak menuju mobil mereka sebelumnya. Kali ini dengan suasana hati yang berbeda dari sebelumnya.
.
.
TBC?
Annyeonghaseyo, chingudeul. Maaf saya kembali dengan ff ini sangat lama. Saya sempat kehilangan feeling dari ff ini, apalagi setelah medapat cukup banyak bash sebelumnya Tetapi saya tetap berusaha melanjutkan ini, semoga masih ada yang mau menunggu ya. Jeosonghamnida *bow
.
.
.
.
.
"Kali ini, namjadeul akan mulai memilih pasangan duduk mereka selama di pesawat," jelas Taeyeon yang kini tengah berada di dalam pesawat. Di sampingnya, keenam member EXO-N berdiri menunggu penjelasannya lebih lanjut.
"Dan Chanyeol-ssi?" panggil Taeyeon kemudian. Chanyeol yang mendengar itu pun langsung menoleh.
"Ne?"
"Karena kau yang pertama berhasil melakukan misi tadi, maka kau diberikan kesempatan pertama untuk memilih,"
Chanyeol nampak memekik senang. Ia pun mulai memasuki tempat keenam member EXO-Y yang sudah duduk menunggu.
Tanpa ragu, ia pun langsung mendekat ke arah bangku yang diduduki Baekhyun. Namun tidak seperti sebelumnya yang akan berteriak kesal saat melihatnya, Baekhyun kali ini justru hanya diam memperhatikan ke arah luar. Begitu pula saat ia mulai duduk di sebelahnya. Chanyeol yang merasakan itupun mengernyitkan dahinya, bingung.
Aku tahu jika Baekhyun sedang marah padaku. Tetapi seingatku, jika ia marah, ia pasti akan langsung berteriak keras padaku. Karenanya saat melihatnya yang hanya diam, aku berpikir bahwa ini pasti lebih serius dari sebelumnya. Dan saat itu, aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan, karena sepanjang perjalanan ia hanya diam saja tanpa menoleh ke arahku –Chanyeol
"Lalu selanjutnya, Kris-ssi yang juga berhasil melakukan misi. Silahkan,"
Kris berjalan pelan memasuki tempat itu, ia nampak memperhatikan yeoja di samping kanan-kirinya dengan seksama, hingga tiba di barisan paling depan, dimana Lay dan Tao duduk bersebrangan.
Kris hendak melangkah mendekati bangku di sebelah Lay, hingga sebuah tangan menahan lengannya.
"Gege disini saja," itu Tao, Tao yang menatap Kris dengan puppy eyesnya.
Kris yang melihat itu hanya diam, ia melirik sekilas ke arah Lay di sebelahnya. Tak diduga, Lay justru mengibaskan tangannya seolah menyuruh Kris untuk duduk bersama Tao.
Akhirnya, setelah berpikir cukup lama, Kris pun melangkahkan kakinya ke bangku sebelah Tao. Tao pun menatap Kris dengan senang.
Tatapannya sangat polos, dan itu membuatku tidak bisa menolak permintaannya. Jujusr saja, aku tak pernah seperti itu sebelumnya –Kris
"Untuk selanjutnya adalah Sehun-ssi, yang tadi telah menang dari permainan batu-kertas-gunting,"
Sehun memasuki tempat yeojadeul dengan bersemangat, dan seperti yang diduga, ia langsung menuju bangku di sebelah Luhan. Namun ia tak langsung duduk di sebelahnya seperti biasa.
"Noona, bolehkah Thehun duduk dithini?" tanyanya dengan lembut, membuat Luhan sedikit membuka mulutnya.
Apakah itu Sehun? Aku tak pernah melihatnya selembut sebelumnya. Ia selalu bertingkah gegabah dan seenaknya dulu –Luhan
Aku belajar dari internet thebelum melakukan itu. Mereka mengatakan bahwa yeoja thelalu thuka pria yang lembut dan thopan, jadi aku beruthaha berthikap theperti itu di depan Luhan noona –Sehun
"Tentu saja boleh," Luhan yang mulai sadar dari kegiatan melamunnya, kini menepuk bangku disebelahnya dengan pelan, mengisyaratkan Sehun untuk segera duduk.
Tak lama, Suho nampak masuk memasuki tempat itu. Ia sedikit ragu pada awalnya, namun perlahan ia mulai mendekati bangku di sebelah Lay.
"Oh, Suho-ssi. Duduklah disini," Lay menepuk bangku itu seraya tersenyum, membuat senyum malaikat Suho kembali merekah.
"Terimakasih," Suho pun akhirnya memantapkan niatnya untuk duduk di bangku itu.
Chen masuk ke tempat itu setelahnya. Ia menatap dua bangku kosong yang tersisa, lalu menatap bangku lain yang sudah ditempati.
Akhirnya ia pun memilih untuk duduk di bangku sebelah Xiumin. Xiumin yang melihat itu hanya membulatkan matanya.
"Apa kau yang terakhir?"
Chen sedikit mengernyitkan dahi, "Tidak, masih ada Kai di belakang,"
Mendengar itu, diam-diam Xiumin mulai tersenyum lega.
Setidaknya ia tidak memilihku hanya karena tinggal aku yang tersisa (tertawa kecil) Aku jadi terdengar begitu buruk, bukan begitu? –Xiumin
Dan Kai yang terakhir memasuki tempat itu, sedikit tersentak begitu mengetahui bangku milik siapa yang tersisa. Ia nampak terdiam beberapa saat di tempatnya.
"Kai-ya? Ada apa?" tanya Kyungsoo yang bingung dengan tingkah Kai. Kai kembali terkejut mendengar pertanyaan Kyungsoo.
"Apa kau tak suka duduk denganku?" tanya Kyungsoo lagi, kali ini dengan wajah yang sedikit sendu.
"A, aniya, noona. Aku suka duduk denganmu, kok," Kai buru-buru duduk di bangku sebelah Kyungsoo, lalu balas tersenyum manis.
"Syukurlah kalau begitu," Kyungsoo pun mulai tersenyum lagi, lalu mulai memasang headset di telinganya.
"Kau mau ikut mendengarkan?"
"Ne?" lagi-lagi Kai kembali tersentak dengan pertanyaan Kyungsoo.
"Aku sedang mendengarkan lagu, kau mau ikut mendengarkan?"
Kai nampak sedikit ragu, namun kemudian ia mengangguk.
"Aku tidak tahu apakah kau akan menyukai lagu ini atau tidak, tapi coba dengarkan saja. Ini menenangkan," ucap Kyungsoo kemudian, lalu keduanya pun mulai terhanyut dalam lagu yang yang mereka dengarkan.
Dan saat itu, aku merasa aku mulai mengenal sosok Kyungsoo noona yang selama ini kukagumi. Ia yang sangat lembut, menyukai permainan yang menantang, menyukai lagu ballad, dan sangat suka memperhatikan awan-awan yang bergerak. Hari ini, aku menjadi merasa lebih dekat dengannya –Kai
Lalu, apakah hal ini juga akan berlaku bagi yang lain? Bagaimana mereka dapat mulai mengerti dan memahami perasaan mereka satu sama lain?
.
.
.
Waiting for next chapt :*
Pada hari aku menggunakan pakaian terbaikku
Aku bertemu denganmu, aku sangat beruntung
Ini mungkin karena aku melakukan hal baik sebelumnya (Kai)
.
Oh Tuhan, ini adalah hal terindah yang kudengar
Suaranya melelehkanku seperti es krim
Dia adalah sesuatu yang sempurna (Sehun)
NP: Lucky-EXO N
*lyric part is just an imagination, kekeke
