Chapter 3.
.
.
.
Aku terus memperhatikan Kyuhyun seperti orang bodoh. Jendela mobil itu terbuka lebar sehingga aku dapat melihat wajah wanita itu. Warna lipstick yang sangat mencolok. Aku kembali teringat saat bibir itu bersentuhan dengan pipi Kyuhyun. Oh sial!
Aku tak lagi melihat Kyuhyun. Ia pergi mengedarai mobilnya sendiri tak lama setelah wanita itu pergi. Mungkin mereka akan pergi kesuatu tempat dan aku mulai memikirkan yang tidak-tidak. Aku seperti sedang di tertawakan oleh bayanganku sendiri.
Aku menarik nafasku.
"Sungmin?"
"Jonghyun?"
Well, Jadi pria misterius dan hot yang Sojin maksud adalah Jonghyun? Ekor mataku tak sengaja menangkap Sojin yang sedang memperhatikan kami. Sojin mendengus kesal saat aku mengedipkan mata padanya. Aku menahan tawaku.
"Ya, ini aku."
"Sejak kapan kau kembali ke Korea?"
"Aku tiba di Seoul kemarin malam."
Jonghyun tersenyum. Tak ada yang berubah dari pria itu. Masih sama seperti terakhir kali aku bertemu dengannya tahun lalu. Jonghyun adalah teman sekolahku sewaktu di Busan. Ia meneruskan kuliah di Jepang dan bekerja disana. Hanya sesekali ia kembali ke Korea.
"Jadi, apa yang membuatmu datang kemari?"
"Aku ingin mengajakmu makan siang. Aku harap kau sedang tak begitu sibuk."
Aku melihat jam tanganku.
"Maafkan aku Jonghyun. Sepertinya aku makan di kantor saja, karena kami memang sedang sibuk. Bagaimana jika makan malam?"
"Baiklah."
Aku memintanya menjemput di rumahku jam 7 malam nanti. Jonghyun memelukku dan berpamitan setelah kami mengobrol cukup lama. Ia sudah ku anggap seperti kakakku sendiri, aku sering menangis di pelukannya saat sedang ada masalah di sekolah dulu.
Aku mengantar Jonghyun ke teras lobby. Ia tersenyum pada Sojin saat kami melewati meja resepsionis. Aku mengangkat sudut bibirku melihat Sojin yang seperti kehilangan nyawanya. Ia benar-benar terlihat bodoh.
"Jangan tersenyum seperti itu padanya. Kau bisa membuatnya pingsan."
.
.
.
.
Aku meringkuk di atas kasurku seperti anak anjing yang kedinginan. Satu jam setelah jam istirahat berakhir, Jungmo dan Victoria memintaku untuk pulang lebih awal karena aku terlihat sangat pucat. Aku tak tahu, kepalaku tiba-tiba saja terasa pusing dan perutku sakit. Mungkin karena tak ada satupun yang masuk ke dalam perutku selain kopi sejak pagi tadi.
Beruntung aku masih bisa mengendarai mobilku dan sampai dengan selamat di rumah. Sebenarnya Jungmo dan Victoria menawarkan diri untuk mengantarku. Tapi tidak, aku tahu mereka sedang banyak pekerjaan.
Ryeowook menelponku persis seperti ibu-ibu yang tengah panik mendengar anaknya sakit. Ayolah, aku hanya mengirimnya pesan karena sore ini tak bisa datang melakukan fitting gaun untuk pernikahannya nanti. Aku, Kibum dan Eunhyuk akan menjadi pengiring mempelai wanita.
"Kau jangan lupa minum obat Min."
Aku tersenyum. Ryeowook adalah yang paling muda di antara kami. Dia sangat polos, baik dan perhatian. Aku akan mendorong Yesung ke jurang dengan tanganku sendiri jika pria itu berani membuat Ryeowook sakit hati.
"Iya nyonya Kim. Kau sudah seperti ibu-ibu."
Aku tertawa mendengarnya mendengus kesal. "Aku serius Lee Sungmin. Pernikahanku satu bulan lagi. Aku tak mau kau sakit-sakitan seperti itu."
"Aku hanya pusing biasa. Kau tak usah mengkhawatirkanku. Aku akan minum obat."
"Baiklah. Cepatlah sembuh. aku menyayangimu."
"Ya. aku juga menyayangimu."
Aku memutuskan telponku. Meletakannya asal lalu meringkuk kembali. Nada dering pesan masuk terdengar dari ponselku. Aku membukanya. Satu pesan dari Kyuhyun dan tujuh pesan lainnya yang belum ku baca. Aku tak ingin memikirkannya.
Ponselku berdering. Aku melihat ID pemanggil dan membiarkannya terekam di kotak suara. Aku beranjak dari dari kasur mengganti pakaian kerjaku. Aku tak memiliki tenaga untuk mengganti pakaianku saat sampai dirumah tadi.
Ponselku kembali berdering. Aku mendudukan tubuhku di tepi kasur. Menarik nafasku dalam-dalam.
"Hallo sayang." Sapa Kyuhyun. "Kau sakit?"
"Hanya pusing biasa. Tapi Jungmo memintaku untuk istirahat dirumah."
"Aku sedang dalam perjalanan ke rumahmu."
Tidak. Jangan.
"Kau seharusnya memberitahuku dulu."
"Kau tak membalas pesanku. Kau juga tak menjawab telponku."
Aku mendesah. Aku mungkin tak siap bertemu dengannya. Tapi keberuntungan tak akan membiarkanku berhasil menghindari Kyuhyun.
.
.
.
Tepat lima belas menit kemudian Kyuhyun sampai di rumahku. Ia masih mengenakan jasnya. Aku tahu jam kerja memang belum berkahir. Tapi biasanya pria itu akan meninggalkan jasnya didalam mobil.
Kyuhyun memelukku, memberi kecupan ringan dibibirku yang terasa kering.
"Aku mengkhawatirkanmu."
"Aku hanya pusing biasa."
Kami duduk di sofa ruang tengah. Ia melepaskan jasnya, menggulung lengan kemejanya sebatas siku. Kyuhyun terlihat tampan seperti biasanya. Aku suka saat melihat wajah paniknya barusan. Andai saja aku tak melihatnya dengan seorang wanita siang tadi. Aku mungkin sudah membuka kakiku lebar-lebar untuknya sekarang.
"Aku langsung datang kemari saat mendengarmu sakit." Ia menggenggam tanganku. "Kau tak memberitahuku jika kau sakit."
"Aku tak ingin mengganggumu dengan wanitamu. Lagi pula ini hanya pusing biasa."
Alis nya mengerut menatapku. "Wanita?"
Aku menghela nafasku. Kyuhyun semakin mengeratkan genggamannya saat aku mencoba menarik tanganku dari genggamannya. "Ya. Aku tak sengaja melihatmu tadi siang. Kalian terlihat mesra."
"Maksudmu Anna?"
Oh!
"Aku tak tahu. Yang jelas kau terlihat mesra dengannya."
"Jadi kau cemburu?"
Batinku tertawa seperti orang bodoh. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Well, aku memang cemburu. "Aku melihatmu dengan wanita lain sehari setelah kau memintaku untuk kembali. Aku merasa kau hanya mempermainkanku saja."
Kyuhyun tak mengatakan apapun. Ia menarik daguku, mempertemukannya dengan bibirku. Menciumku dengan lembut dan dalam. Aku memejamkan mataku menikmati sentuhan bibirnya. Mungkin ini akan menjadi ciuman perpisahan.
"Aku senang kau cemburu." Ia kembali mengecup bibirku. "Anna hanya teman bisnisku saja. Jika kami terlihat mesra itu karena aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri. Seperti kau dan Donghae, aku tak suka melihatnya menciummu."
"Tapi aku…"
"Aku tahu, Kau dan Donghae hanyalah teman. Aku juga tahu Donghae sudah memiliki Eunhyuk. Dan kau juga harus tahu jika Anna sudah memiliki kekasih."
Selamat Lee Sungmin. Kau benar-benar terlihat bodoh di depannya sekarang.
Kyuhyun tersenyum lalu mengecup punggung tanganku. Ia beranjak dari duduknya berlutut di depanku. Itu seperti lamaran.
"Apa yang kau lakukan?" Aku bergeser memintanya duduk kembali. Ia duduk di tepi meja. Beruntung itu berbahan kayu dan cukup kuat menahan berat badannya.
"Kau tahu. Aku tak akan pernah bermain-main dengan perasaanku sendiri. Di Inggris mungkin aku pernah berkencan dengan wanita lain. tapi semua itu karena semata-mata aku pria normal. Aku tak pernah merasakan cinta pada wanita lain selain denganmu. Ya, ini terdengar klasik. Tapi seperti itulah kenyataannya."
"Aku mencintaimu Lee Sungmin. Aku ingin kita kembali bersama lagi. Tak masalah jika kau membutuhkan waktu lama untuk menerimaku kembali. Aku akan bersabar untukmu."
Aku terdiam menatapnya dari air mata yang menggenang di pelupuk mataku. Aku memeluknya erat. Aku tak pernah merasa seistimewa ini sebelumnya selain bersama Kyuhyun. Aku tak tahu apa yang dimiliki Kyuhyun. Sepertinya pria itu memang memilki sihir.
"Maaf membuatmu seperti ini. Kau tak perlu menungguku lagi Kyu. Aku ingin kembali bersamamu."
Kyuhyun menarik tubuhku. Membuat pendangan kami bertemu.
"Katakan sekali lagi."
"Ya. Aku ingin kita bersama lagi Kyu. Kita bisa memulainya lagi."
Kyuhyun meraih bibirku dengan bibirnya. Melumat bibir atas dan bawahku bergantian. Lidahnya yang hangat membuka mulutku. Melesak kedalam menekan lidahku lalu menghisapnya. Kyuhyun sangat ahli dalam berciuman.
"Thanks god." Ia berbisik di bibirku. Aku tersenyum lalu kami kembali berpelukan.
Mataku melirik pada jam dinding. Ini hampir pukul 6. Aku harus bersiap-siap karena satu jam lagi Jonghyun akan datang menjemputku. Aku harap Kyuhyun tak mempermasalahkannya. Walau kenyataannya aku ingin tetap di sini dan bercinta dengannya.
"Aku harus bersiap-siap, aku ada janji makan malam dengan Jonghyun."
"Siapa Jonghyun?"
"Dia temanku dan baru kembali dari Jepang. Kami berjanji untuk makan malam bersama."
Kyuhyun beranjak. "Tidak Lee Sungmin. Kau sedang sakit."
"Aku sudah tak apa."
"Dimana ponselmu?"
"Kamar."
Kyuhyun berjalan menuju kamar. Mengambil ponselku dan menggunakannya. Aku menatapnya tak mengerti saat ia kembali duduk disampingku. Membiarkan lengannya berada di bawah kepalaku.
"Apa yang kau lakukan dengan ponselku?"
"Aku mengirim pesan padanya jika kau sedang sakit dan tak bisa pergi."
"Tapi aku memiliki dua nama Jonghyun di ponselku."
Kyuhyun mengedikan bahunya. "Dua-duanya."
.
.
.
Kyuhyun memaksaku untuk makan. Aku tak memiliki apapun untuk dimasak. Aku belum sempat pergi berbelanja. Lagi pula aku juga tak lapar.
Aku tertawa saat Kyuhyun mengeluarkan ponselnya. Memesan satu kotak pizza ukuran besar dan minuman jeruk untuk kami. Kyuhyun tahu jika aku tak bisa menolak pizza. Akan selalu ada tempat untuk makanan berbahan dasar tepung itu.
Jonghyun menelponku saat kami sedang makan. Kyuhyun memaksa untuk membiarkannya menjawab telpon dari Jonghyun. Aku semakin merasa bersalah padanya. Aku berjanji akan mentraktirnya jika kami bertemu nanti.
Kami menyisakan beberapa potong pizza. Aku menaruhnya di kulkas. Membereskan meja dan mencuci gelas yang kami pakai.
"Mau makanan penutup?"
Aku tahu kemana arah pembicaraan Kyuhyun.
"Aku sudah kenyang. Tapi mungkin kau bisa membuatku lapar lagi."
Aku menjerit dan tertawa saat Kyuhyun mengangkat tubuhku. Membaringkanku diatas sofa lalu menindih tubuhku. Aku menggigit bibirku saat ia menggesekan lututnya pada milikku yang masih tertutup oleh celanan jeans. Tangannya yang nakal menggoda dadaku. Meremasnya cukup kuat membuatku mendesahkan namanya.
"Oh God. Kau sangat menggoda Min."
Kyuhyun mencium bibirku. Turun ke dagu, leher dan berhenti di dada atasku. "Damn! Aku tak peduli kau lapar atau tidak. Karena aku sudah tak tahan lagi. Kau selalu membuatku bergairah."
Aku tersenyum mendengarnya. Sesuatu yang menyenangkan jika mengetahui pasanganmu menginginkanmu. Kyuhyun melepas kaos ku dengan cepat. Aku sedikit mengangkat tubuhku mempermudahnya melepas pengangit bra-ku. Ia membuka kancing celanaku, melepasnya lalu merobek celana dalamku dengan mudah.
"Kau merobeknya?"
Ia tertawa. Meraup dadaku menghisap kedua putingku bergantian. Sebelah tangannya membuka pahaku. Menggoda milikku dengan jemarinya yang sexy.
Aku mendesah saat jari Kyuhyun memasukiku. Menggerakannya dengan perlahan didalamku. Aku menggigit bibirku menahan sekuat mungkin agar tak mendesah. Aku tahu Kyuhyun sedang menggodaku.
"Bermain-main denganku sayang?"
Ia menggerakan jarinya dengan cepat. Pertahananku runtuh, aku tak bisa menahan untuk tak mendesah lebih lama lagi. Sentuhan Kyuhyun membuatku gila.
Kyuhyun menundukan badannya. Melesakan wajahnya diantara kedua kakiku yang terbuka, menggantikan jemarinya yang hebat dengan lidahnya yang luar biasa.
"Kyu…" aku merintih nikmat merasakan lidah hangatnya bermain di milikku. Pandanganku bekabut, aku mendesah menyebut namanya. Sedikit menggerakan pinggulku memohon untuk disentu lebih. Dan Kyuhyun melakukannya dengan cara yang luar biasa.
"Kyuhyun aku…"
"Ya sayang, sebut namaku." Aku merasakan nafasnya di milikku saat ia berbicara.
Otot perutku menegang. Aku melesakan wajahku kesamping mendesahkan namanya saat sensasi nikmat itu datang. Ini sangat luar biasa.
Kyuhyun melepas celananya dengan tak sabaran. Aku bisa melihat miliknya yang tegang dan sangat siap memasukiku. Ia membuka lebar kakiku. Menghentakan miliknya kedalam milikku cukup kuat.
"Kyuhyun!" Aku memeluk erat tubuhnya. Menggigit bahunya menahan rasa sakit dan nikmat secara bersamaan.
Kyuhyun menggerakan tubuhnya dengan cepat. menghentakan miliknya didalam ku menyentuh titikku membuatku mendesah kuat.
Kyuhyun mengerang saat milikku berkedut menjepit miliknya. Aku tersenyum puas melihat ekspresi wajahnya yang di penuhi keringat sama sepertiku.
"Keluarkan diluar. Aku belum meminum pilku."
"Persetan dengan pil."
Kyuhyun menggerakan cepat tubuhnya. menyentuh milikku berkali-kali membawakan menuju kenikamatan untuk kedua kalinya. Kyuhyun menyusulku, perutku terasa hangat oleh cairannya yang mengalir didalamku. Aku mengatur nafasku yang terengah. Keberuntungan sedikit berpihak padaku, karena aku tidak sedang dalam masa subur.
.
.
.
.
Aku tak melihat Kyuhyun selama tiga hari di kantor. Ia sedang berada di China menghadiri pertemuan mewakili ayahnya yang masih berada di Inggris. Hampir setiap jam Kyuhyun mengirimku pesan dan menelponku di malam hari. Bahkan kami pernah melakukan phonesex sekali. Aku tak akan melakukannya lagi. Itu menyiksaku.
Aku bertemu dengan Jonghyun dan makan siang bersamanya kemarin. Jonghyun akan kembali ke Jepang besok malam. Aku berniat untuk makan malam bersamanya nanti.
"Hanya makan malam Kyu."
"Aku pulang sore ini. Aku mau kau menungguku dan kita pergi bersama."
Aku mengrutkan biburku lalu mematikan telponku setelah mengiyakan perintahnya.
Waktu berjalan cepat. Laporan yang menumpuk membuat kami tak sadar jika jam sudah mengarah ke angka lima. Victoria merengut kesal karena minggu besok aku sudah mulai cuti. Aku memutar mataku mendengarnya menyebutkan titipan oleh-oleh.
"Vic. Aku hanya pulang ke Busan. Bukan pergi ke Eropa atau Singapore."
"Aku tak peduli Min. Kau hanya membawakan kimchi pun aku tak masalah."
Jonghyun menjemputku tepat pukul 7. Kyuhyun tak lagi mengirimku pesan sejak sore tadi. Mungkin ia masih dalam perjalanan. Aku mengirimkan alamat restoran tempat aku dan Jonghyun makan malam. Tak begitu jauh, hanya 20 menit dari rumahku.
"Jadi, kau kembali bersama Kyuhyun lagi?"
"Ya. Dia sudah kembali dari Inggris, kami kembali berkencan."
Jonghyun mengehela nafas kemudian meminum winenya. Kyuhyun belum juga datang ketika pelayan mulai menyajikan dessert untuk kami. Ia membuatku cemas karena tak membalas pesanku.
"Ku pikir. Aku akan mendapat kesempatan untuk memilikimu."
"Itu tak mungkin Jonghyun. Kau sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri."
"Tapi aku mencintaimu Min."
"Rasa cinta yang kau rasakan sama sepertiku. Hanya sebagai saudara. Percayalah."
Kami melanjutkan makan dengan suasana yang sedikit canggung. Aku bernafas lega saat Kyuhyun mengirimku pesan. Penerbangannya di tunda selama satu jam. Ia sedang dalam perjalanan kemari sekarang.
"Kau yakin tak ingin aku antar?"
"Tak perlu Kyuhyun sedang dalam perjalanan kemari."
"Tak bisakah kau menyuruhnya untuk pulang. Kau sedang bersamaku sekarang." Jonghyun meninggikan suaranya.
"Kau ini bicara apa?"
Jonghyun mencengkram tanganku. "Kau…"
Aku memalingkan wajahku menghindari ciumannya. Aku tak tahu apa yang merasuki Jonghyun sehingga ia berubah seperti ini. Ini bukanlah Jonghyun yang ku kenal.
"Jonghyun hentikan."
Aku memejamkan mataku, meringis sakit saat tangannya menahan wajahku. Demi Tuhan, kami sedang berada di area parkir. "Jonghyun lepaskan aku."
Aku mendengar suara pukulan. Cengkraman tangan Jonghyun terlepas. Aku membuka perlahan mataku. Pandanganku tertuju padanya yang tergeletak dengan hidung yang berdarah.
"Brengsek! Beraninya menyentuh Sungminku."
Kyuhyun?
Kyuhyun kembali mendaratkan pukulannya di wajah Jonghyun. Kini darah segar mengalir dari sudut bibirnya. "Kyuhyun hentikan."
Kyuhyun kembali memukulnya.
"Kyuhyun cukup. Kau bisa membunuhnya."
Aku menghampiri Jonghyun, meletakan kepalanya di pahaku. Wajahnya penuh darah akibat pukulan Kyuhyun. Jonghyun bisa saja membalas pukulan itu jika ia mendapatkan kesempatan. Kyuhyun tak memberinya walau hanya untuk menarik nafas.
"Cih… walau kau membunuhku sekalipun. Aku tak akan melepaskan Sungmin untukmu."
"Jonghyun diam!" Aku menjerit. Aku tak bisa melihatnya kesakitan ketika berbicara. Kyuhyun kembali menarik kerah kemeja Jonghyun dan kembali memukulnya. Aku menjerit lalu menangis. Memeluk tubuh Jonghyun yang terduduk lemas.
"Kyuhyun hentikan. Kau bisa membunuhnya."
"Tapi dia mencoba menciummu Min."
Aku tak menanggapi ucapan Kyuhyun. Aku membantu Jonghyun berdiri. Menuntunnya masuk kedalam mobil.
"Aku harus mengobatinya. Aku akan menemuimu nanti."
.
.
.
.
.
"Aw… sakit Min, perlahan."
"Bodoh. Kenapa kau tak balas memukulnya?" Aku mengoleskan obat luka di pelipisnya. Air mataku kembali menetes melihatnya menahan sakit seperti itu.
"Aku tak apa. sudah, jangan menangis."
"Kau hampir mati. Dan kau bilang tak apa?"
Jonghyun tersenyum. "Kyuhyun sangat mengerikan Min. Dia sepertinya benar-benar mencintaimu."
"Tentu saja bodoh." Aku memeluknya. Ia membalas pelukanku, mengusap kepalaku pelan. "Maafkan aku. Kau sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri Jonghyun. Kau tahu itu."
"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku bodoh dan bersikap seperti pria brengsek padamu."
Aku mengangguk.
"Aku senang Kyuhyun memukulmu. Kau pantas mendapatkannya."
Jonghyun melepaskan pelukannya. Menahan sakitnya saat tertawa. "Aku tenang karena kau mendapat pria yang tepat seperti Kyuhyun. Tapi jika dia menyakitimu. Aku tak akan melepasmu lagi Min."
Aku tersenyum. Kembali memeluk Jonghyun erat.
.
.
.
.
Sudah pukul 10 lebih saat aku tiba di apartemen Kyuhyun. Beruntung aku memiliki password pintu apartemennya. Minggu lalu ia memberi tahuku saat aku bermalam disini.
Aku melangkah perlahan memasuki apartemen Kyuhyun. Aku mendesah lega melihatnya sedang meminum wine di ruang tengah. Ia masih mengenakan pakaian yang sama dan terlihat kusut.
"Kyu..." Aku memanggilnya lirih. Mendudukan tubuhku disampingnya.
"Apa kau sudah selesai mengobati pria brengsek itu?"
"Kyu, dia Jonghyun bukan pria brengsek."
"Tapi dia memaksa menciummu."
"Aku tahu. Dia sudah minta maaf padaku. aku tak mempermasalahkannya."
"Kau tak mempermasalahkannya?"
Aku melihat rahangnya mengeras.
"Aku tidak ingin bertengkar denganmu Kyu."
"Apa kau tidur dengannya?"
"Apa yang kau katakan?"
"Aku tak tahu. Kau mungkin tidur dengannya saat aku di China."
Aku tak percaya akan jawaban Kyuhyun. Aku sekarang sadar jika Kyuhyun memang tak serius padaku. Yang ia pedulikan hanya tentang sex. Aku menarik nafas berusaha mengendalikan emosiku.
"Aku tidak."
"Kau yakin?"
Ini sudah keterlaluan. Aku tak bisa lagi menahan air mataku. Bukan lagi terhina, Kyuhyun sudah membuatku sakit dan kecewa. Aku tak seharusnya menerima Kyuhyun begitu saja saat ini. Aku harus memikirnya ribuan kali karena apa yang aku takutkan benar akan terjadi. Kyuhyun akan pergi meninggalkanku. Tidak! Aku yang akan meninggalkannya.
"Maaf sudah mengganggu waktumu. Tapi kau harus tau. Aku tak pernah tidur dengannya."
Aku menarik nafasku. Sungguh keajaiban karena aku masih sanggup berbicara.
"Sungmin." Kyuhyun memanggilku saat aku berjalan menuju pintu. Ia meraih tanganku. menarikku kedalam pelukannya.
"Lepaskan aku."
"Tidak!"
Aku meronta di dalam pelukan Kyuhyun. Ia makin mengeratkan pelukannya.
"Maafkan aku." bisiknya lalu mengecup kepalaku.
Aku menangis di pelukannya. Ia mengusap punggungku. mengecup lagi kepalaku berulang-ulang.
"Lepaskan aku Kyu."
"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau memaafkanku. Aku tidak seharusnya mengatakan seperti itu padamu. Aku hanya emosi. Aku menjadi bajingan karena aku khawatir dan sangat marah melihatnya memaksa untuk menciummu. Ku mohon maafkan aku." Ia mengecup kepalaku. "Katakan sesuatu. Ku mohon."
"Kau tak perlu meminta maaf. Aku anggap itu tak pernah terjadi. Dan lupakan jika kita pernah saling mengenal."
.
.
.
.
TBC
