Author : Tsuki

Title : Aka no Yume (Red Dream)

Genre : Fantasy-Horror, Thriller-Romance.

Rating : T

Main cast : Yuki Kurosu, Kuran Kaname & Kiryuu Zero

Disclaimer : Vampire Knight is a property of Matsuri Hino.

Author's Note: Most of the story plot come from my imagination. If you don't like it, you are free to leave this note.

Night 4, Lost

Kedua bola matamu yang berpijar tanpa jeda itu tidak pernah bisa kuselami. Pandangan itu selalu menawanku di kedalaman samudera merah tak berdasar milikmu.

"Ka . . Kaname-Senpai."

Yuki segera menarik tangannya dari daratan lembut berlekuk yang dijelahahinya. Matanya yang bulat nampak membesar ketika mendapati sosok menawan itu memandanginya dengan tatapan sarat kekecewaan. Selama 8 tahun mengenal pribadi Kaname, kemampuannya dalam menginterpretasikan perasaan yang diisyaratkan pria itu tidak mengalami kemajuan. Baginya, Kaname adalah manifestasi dari absolutisme misteri paling nyata. Kehadirannya telah mengukir teka-teki tersendiri di hati Yuki. Dan meski sekeras apapun ia berusaha untuk menembus kabut misteri yang menyelimuti sosok Kaname, hasilnya selalu sama; terperangkap sempurna dalam lika-liku labirin yang diciptakan pemuda berparas sendu itu.

Di luar sana gemuruh angin malam saling memburu. Seolah berebut untuk masuk dengan memanfaatkan akses jalan paling potensial; celah pintu dan jendela. Yuki membelenggu diri dalam diam. Kedua matanya berkelit, menghindari kontak yang lebih jauh. Apalagi yang menjadi lawan pandangnya saat ini bukanlah seseorang yang mudah untuk dikelabui. Walau serapat dan selihai apapun kau menyembunyikan isi hatimu, dengan sekali tatap saja dapat dia tafsirkan. Tidak ada satu detil rahasia pun yang luput dari pantauan pupil berwarna merah darah itu.

Keheningan sontak buyar tatkala seorang pria menampakkan diri dari balik tubuh Kaname. Pria yang senantiasa mengumbar senyum, satu-satunya yang menjadi kepercayaan sang pimpinan,- Takuma Ichijou.

"Minna-san, konbanwa! Maaf atas keterlambatan kami." Ucapnya seraya merendahkan sedikit tubuhnya. Namun, tidak ada jawaban dari pihak manapun yang setidaknya bisa mencairkan kebekuan situasi.

Bagus! Kaien segera mengeksekusi sinyal yang diberikan Ichijou, dia mengaktifkan sel-sel euforianya dan kembali menjadi sosok yang proaktif.

"Aaahh . . . Konbanwa! Daijoubou. Aku bisa memakluminya. Kalian berdua kan baru saja tiba dari perjalanan ke kota Verona, jadi wajar kalau terlambat. Bagaimana perjalanannya? Pasti sangat melelahkan mengingat kota Verona bermil jauhnya dari sini."

"Begitulah . . Perjalanan kami memang cukup melelahkan. Gomenasai, karena tidak ada jawaban dari penghuni rumah, kami langsung masuk saja, dan ternyata semuanya tengah berkumpul disini." Pemuda berambut pirang itu memutar haluan pandang kearah Yuki. "Ne, Yuki-chan bagaimana dengan keadaanmu?" Ichijou sengaja mengalihkan objek pembicaraan guna menetralisir suasana yang kian hambar.

"Aku baik-baik saja Ichijou-senpai. Arigatou . ." Ucap Yuki, setengah menunduk.

"Bampaia . ." Suara bariton Zero bergetar memecah keheningan. Mencium aroma seorang Junketsu di dekatnya, refleks dia pun mengarahkan senjata ke wajah Kaname.

Gawat! Kaien membatin. Sikap antipati Zero terhadap Vampire tidak mengenal kompromi. Dia harus segera mengambil tindakan preventif sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi. Sebaliknya, Yagari sebagai shisou malah santai merokok seolah tidak peduli dengan ulah anak didiknya yang bisa menuai masalah baru.

Reaksi negatif Zero memicu situasi kian menegang. Namun, Kaname,- pria dengan seribu kamuflase itu hanya tersenyum tipis. Sorot matanya tidak menyiratkan rasa rikuh atau takut sedikitpun.

"Jangan pikir aku tidak berani melakukannya." Kata Zero dalam hati. Terdengar bunyi tik saat dia hendak menarik triggernya.

"Zero dame!" Yuki berteriak, melompat dari ranjang. Dia berlari, memasang tubuhnya untuk melindungi Kaname dari pelepasan peluru perak yang mematikan. Zero perlahan melonggarkan tekanan jari telunjuk pada pelatuknya. Kedua alisnya saling bertaut, heran. Sepasang bola mata magenta itu memerangkap refleksi Yuki di dalamnya.

"Jama tsuruna!(Jangan menghalangiku)"

Seseorang berbisik lirih di telinganya. Tidak jelas apa itu . .?

Yuki menggeleng pelan, dia enggan bergeser satu mili pun dari hadapan Zero.

"Yada! Aku akan tetap berdiri disini."

"Naze? (Why)"

Lebih dalam dari sebelumnya . .

Bak dialiri listrik 10.000 voltase, menggetarkan tiap urat syaraf dalam tubuhnya. Ada apa gerangan dengan dirinya? Zero tidak mengerti. Gema suara Yuki sekejap memenuhi ruang kosong di hatinya yang lama ia tinggalkan.

Pada titik ini, baik Kaien maupun Yagari tidak bisa berbuat banyak. Sementara Ichijou hanya diam memperhatikan. Gerakan bola mata Kaname mengisyaratkannya agar tidak mengambil langkah apapun.

Bibir mungil Yuki mulai berucap, "Kaname-senpai wa . . watashi no tasukete kuretanda. (Kaname-senpai adalah orang yang menyelamatkanku)." Kembali keheningan menguasai. Sebaris kalimat yang terlantun melankolis itu entah mengapa menyayat perih batin Zero.

"Turunkan senjatamu Zero!" Tegas Yagari di sela-sela aktifitas merokok, dia lalu mengalih pandang kearah Kaname. "Kami telah menantikan kedatanganmu Kuran Kaname." Ucapnya, mengepulkan segumpal asap putih ke udara.

Kaname berdesah panjang, "Sou kka, wakatta." Sosok tegap itu melenggang pergi; melepas pandangannya dari Yuki. Sesaat Yuki merasa pria di hadapannya begitu sedih dan kesepian. Dingin nan kelam bagai dirungkupi gelapnya malam yang tidak berujung. Figur kuat nan rapuh yang selalu melindungi perasaannya dengan rasa sakit itu meninggalkannya tanpa sepenggal kata.

"Kaname-Senpai . . "

Aku ingin memelukmu, menghapus jejak kesedihan yang terpatri di parasmu .. Namun, aku bahkan tak mampu menggapai siluetmu yang menghilang di balik pintu .. Aku yang kini terpekur pilu meratapi ketidakberdayaanku . .

Sebulir air mata mengalir turun dari pelupuknya. Yuki terjatuh lemas. Segenggam sesal berkecamuk dalam dirinya. Dia telah melukai perasaan pria yang selama delapan tahun terakhir ini selalu menemani dan melindunginya. Bahkan, Kaname sama sekali tidak menatapnya, dia melangkah pergi begitu saja tanpa berucap apapun. Sesuatu yang jarang dilakukannya. Meski hanya sekedar seringai sapa, Kaname tidak mungkin melupakan kebiasaan itu.

Melihat Yuki yang berurai air mata cukup membuat Zero mengerti akan posisi sang junketsu di hati gadis yang tanpa terduga mengisi sebagian ruang dalam hatinya. Lelaki berwatak keras itu menggertakan gigi seiring tangannya yang terkepal geram.

"Berhenti menangis! Aku tidak suka ekspresi wajah seperti itu, jadi berhentilah menangis." Yuki tersentak. Dia menengadahkan wajahnya perlahan menatap punggung lebar Zero yang menghilang di balik pintu.

"Zero . . ." Lirihnya, terisak menahan tangis.

Kuran Tsuki

Suhu malam ini berada pada minus 5 derajat celcius. Kaien pun segera menyalakan perapian, meski bagi vampire seperti Kaname dan Ichijou suhu dingin bukanlah masalah, bagi manusia adalah kebalikannya. Kulit tipis mereka yang rentan tidak akan mampu bertahan menghalau cuaca yang terlampau dingin.

Lantunan jarum waktu berputar pelan mengkolaborasikan iramanya dengan hentakan teratur jantung, menuntun kesenyapan masuk lewat celah-celah yang berpotensi untuk disusupi. Kelima mahkluk adam berbeda ras itu duduk bersama di satu ruangan. Zero mengambil posisi duduk yang langsung mengkonfrontasi Kaname, lelaki yang teramat membenci vampire itu tampak tidak menurunkan kewaspadaan. Sementara Yagari duduk di samping Kaien. Di masa lalu mereka adalah partner sekaligus vampire hunter yang paling disegani sebelum akhirnya Kaien memutuskan untuk menjadi kepala sekolah cross gakuen dan mengusulkan alternatif yang bertentangan dengan organisasi, yakni rencana unifikasi antara manusia dan vampire. Di lain pihak, Kaname,- pemimpin keluarga Kuran, generasi pertama para vampire hanya menanggapi segala pandangan yang menyudutkan itu dengan senyuman. Kehadiran ras mereka sedari awal memang telah mengundang kontradiksi yang berujung pada permusuhan berabad-abad yang lalu.

Tanpa membuang waktu Yagari segera mengutarakan tujuan pertemuannya dengan Kaname. Namun, saat bola mata hitamnya bertemu dengan bola mata semerah darah Kaname, dia merasakan adanya satu kekuatan yang seolah menarik jiwanya kedalam pusaran labirin yang menyesatkan. Level vampire Junketsu memang berbeda, mereka tidak bisa disejajarkan dengan vampire kelas biasa. Pantas saja banyak vampire yang mendambakan darah seorang Junketsu. Batinnya pun tak ayal menyenandungkan sanjungan bagi sosok pimpinan paling di segani di dalam ras penghisap darah yang melegenda tersebut.

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Tanya Kaname, air mukanya berubah serius. Yagari menyeringai tersenyum, dia mematikan rokok setelah mengepulkan beberapa gumpalan asap yang dikreasikannya menjadi bulatan-bulatan kecil seperti donat.

"Baiklah, kita langsung saja ke inti permasalahan. Beberapa hari yang lalu aku menghadiri pertemuan antara dewan vampire dan organisasi hunter di Normandy terkait meningkatnya populasi Level E. Dari pihak organisasi menyarankan untuk diadakannya pengawasan terhadap 6 Junketsu yang tersisa, termasuk didalammnya adalah klan Kuran. Namun, proposal tersebut ditolak karena dianggap menekan kebebasan para Junketsu. Perdebatan sengit pun tidak bisa dihindari. Saat itu kau bahkan tidak berada disana Kuran Kaname. Dan organisasi memutuskan untuk melakukan pengawasan terhadapmu, mengingat keinginan terbesarmu agar vampire dan manusia bisa hidup berdampingan."

"Matte na Yagari," Kaien menginterupsi, kemudian kembali melanjutkan kalimatnya, "Apa kau ingin mengatakan bahwa Kaname-kun bertanggung jawab sepenuhnya atas itu semua? Dan bahwa Kaname-kun memiliki motif yang kuat untuk melakukannya? Karena hanya Kaname-kun, vampire yang berharap bisa hidup berdampingan dengan manusia, dan karena alasan itu pula lah semua menjadi masuk akal. Organisasi tidak bisa begitu saja memberatkan Kaname-kun dengan kata benda tertuduh seperti itu."

"Kau ini bicara apa?" Kali ini Zero yang menyela, dia bidik sasaran di depannya,- Kaname- dengan pandangan yang disarati kebencian yang mendalam. "Beberapa jam yang lalu putrimu nyaris menjadi mangsa salah satu Level E yang berkeliaran di sekitar pasar. Kalau saat itu aku datang terlambat, mungkin dia sudah menjadi mayat. Dan kau pikir siapa yang menyebabkan bermunculannya Level E kalau bukan seorang Junketsu seperti Kuran Kaname." Sergahnya, mematahkan argumentasi Kaien.

Perdebatan putaran pertama telah dimulai, Ichijou tersenyum kaku sambil menggaruki kepala. Di sisi lain, Kaname sebagai topik pembicaraan nampak tengah melamunkan sesuatu. Pikirannya seolah berkelana entah kemana.

"Semuanya tenanglah! Mari kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin." Ichijou berusaha menengahi. Dia tersenyum-senyum seraya mengangkat kedua tangannya di depan dada.

"Jadi bagaimana, apa kau akan berkooperasi dengan organisasi?" Tanya Yagari, sekali lagi mengkonfirmasi. Zero mengumpat pelan, memalingkan wajahnya. Di matanya vampire tidak lebih dari makhluk terkutuk yang haus darah. Bekerja sama dengan mereka sama artinya dengan mengkhianati prinsip yang dijunjungnya. Meski begitu organisasi tampaknya memiliki pemikiran lain dan dia harus mentaati aturan main yang telah ditetapkan.

"Kaname-kun, kau tidak perlu melakukannya. Hal itu hanya . . ."

"Wakattemasu . ." Kaname memotong kalimat Kaien. Pikirannya yang mengembara kini telah berlabuh. Serentak semuanya melayangkan pandangan kearah Kaname.

"Kaname, apa kau yakin akan melakukannya? Tanya Ichijou,- memastikan. Dia seperti mengerti jalan pikiran Kaname. Vampire memiliki kemampuan yang biasa disebut telepati. Suatu kemampuan dimana pikiran mereka bisa saling terkoneksi satu dengan yang lainnya dan memungkinkan mereka untuk membaca pikiran masing-masing.

"Aku akan bekerja sama, tapi dengan satu syarat," Disini Kaname sejenak memberi jeda,- menanti respon Yagari. Namun, Zero malah mendahului.

"Sudah kuduga, kau tidak mungkin melakukan sesuatu dengan cuma-cuma." Ucapnya, mendelik sinis kepada Kaname. Lelaki bermata teduh itu mengulum senyum, tak tersinggung dengan sikap Zero.

"Apa yang kau inginkan?" Yagari memberi penekanan yang lebih berat pada suaranya,-nyaris menggeram.

"Seperti yang telah kau katakan sebelumnya bahwa aku ingin menciptakan hubungan yang baik antara vampire dan manusia. Kutegaskan padamu, Aku tidak akan berubah pikiran mengenai hal itu. Lalu permasalahannya sekarang adalah Level E," Desis Kaname. Sejurus dia berhenti, kemudian kembali melanjutkan perkataannya yang belum dia tuntaskan.

"Level E terbentuk karena adanya benturan antara DNA Junketsu dan manusia yang tercampur dalam aliran darah. Manusia yang diserang vampire junketsu tidak mungkin bisa bertahan. Sebagai akibatnya, mereka akan mengalami beberapa fase perubahan sebelum akhirnya menjadi vampire kelas bawah atau yang kita sebut dengan Level E. Level E memiliki tendensi perangai yang impulsif dan destruktif. Mereka akan menyerang manusia secara acak. Dan untuk membasmi Level E tidaklah mudah,"

"Jadi apa yang ingin kau sarankan disini?" Tanya Yagari, melipat kedua tangannya di depan dada.

"Sederhana saja. Kami akan membantu memburu level E." Dari ujung mata emeraldnya, Ichijou melirik kearah Kaname,

"Jodan jane!" Geram Zero, memukulkan tangannya ke meja. "Berhenti membual! Kalian pikir aku akan mempercayainya. Jelas kalian memiliki motif tersembunyi di balik keinginan konyol yang tidak masuk akal itu! Memangnya apa yang bisa kalian berikan sebagai jaminan? Omong kosong!"

Situasi semakin memanas. Amarah yang tertahan dalam diri Zero menggelegak bagai lidah api yang menyambar-nyambar.

"Watashi wa Zero no koto wakarunda (aku mengerti apa yang kau rasakan Zero). Sekarang yang paling kau inginkan adalah membunuhku bukan?" Kaname balas menatap Zero. Satu hal yang terbaca dari pikiran anak muda labil itu, yakni keinginan untuk menghabisinya. "Gomene, aku tidak berminat untuk mati di tanganmu." Ucapnya, menyulam senyum.

"Haa . . . Nyaris saja!" Batin Kaein,- menghembus nafas lega. "Ano Baka Yagari! Kenapa dia malah diam, bukannya menenangkan amarah anak didiknya!" Yagari tersentak
kaget menerima aliran listrik dari tatapan kejam Kaien. Cara berkomunikasi melalui kontak mata terkadang lebih efektif daripada bicara secara langsung. Terbukti dengan Yagari yang tidak berkutik saat dirajam sinar laser dari mata Kaien.

"Kemudian mengenai jaminan yang kau katakan. Bagaimana kalau kau sendiri yang menjadi jaminannya, Zero-kun?" Ucapan Kaname mengundang keterkejutan yang lain, terutama Zero. Dia tidak mengerti dengan arah pembicaraan Kaname dan apa yang dia maksudkan dengan menjadikan dirinya sebagai jaminan.

"Kaein-san . ." Pria berkacama itu seketika mengalihkan objek pandangnya. "Hai! Doshita no desuka Kaname-kun?" Tanyanya, tersenyum lebar.

"Aku telah memikirkan apa yang kau katakan tempo hari, dan aku pun telah membuat keputusan. Aku menyetujui untuk bersekolah di Cross gakuen. Tolong urus penempatanku dan yang lain di Night class." Betapa bahagianya Kaein mendengar keputusan Kaname menjadi salah satu siswanya di cross gakuen. Kesuksesan rencana unifikasi yang digagasnya tinggal di depan mata. So da naa! Masa depan yang cerah antara vampire dan manusia terwujud sudah, setidaknya proses pertama menuju kearah itu telah terlewati.

Hontou ka? Ureshiii na! Arigatou Kaname-kun!"

"Hoi, Kaien Kurosu! Jelaskan padaku apa maks

"udnya ini?" Yagari menarik kerah baju Kaein dengan buas. Raut wajahnya berubah mengerikan seolah hendak menelan Kaien bulat-bulat.

"Kore wa kore wa. (My, my)" Gumam Ichijou seraya meminum tehnya.

"Apa kau bercanda denganku! Sebenarnya apa yang kau rencanakan dengan memasuki cross gakuen?" Zero mengarahkan moncong bloody rose miliknya tepat ke wajah Kaname. Yagari, dan Kaien pun sampai terperangah dibuatnya. Lain halnya dengan Ichijou, dia santai meminum tehnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Jangan salah paham Zero-kun. Kulakukan ini untuk mengawasi pergerakan Level E.. Aku mengerti alasanmu yang membenci vampire. Lagipula situasi kita tidak jauh berbeda, Zero-kun. Tidakkah kau penasaran dengan jaminan yang kumaksud?" Pandangan Kaname sedikit mengusiknya, "Lalu apa maksudnya itu?" Tanya Zero, enggan menurunkan senjatannya.

"Kaien-san, aku ingin Zero-kun dan Yuki yang menjaga kami selama pergantian day class dan night class berlangsung. Bukan hanya itu saja, aku ingin mereka berdua melakukan patroli disekitar moon castle setiap malam,- memastikan tidak satu pun dari kami yang berbuat macam-macam. Dengan kata lain, Zero-kun memiliki tanggung jawab dan kontrol penuh terhadap kami. Bagaimana? Kau lah yang akan menjadi jaminannya, Zero-kun . ." Lagi-lagi tatapan Kaname menantangnya. Mudah saja bagi Zero untuk menarik pelatuk senjata ditangannya. Dengan satu kali tekan, peluru perak langsung bersarang di jantung sang Junketsu. Walaupun keinginan untuk menghabisi Kaname begitu besar, Zero tak lantas melakukannya. Dia menurunkan senjata lalu duduk di tempatnya semula.

"Apa kau bisa memegang kata-katamu barusan Kaname? Jika kau sampai melanggarnya, aku sendiri yang akan datang membunuhmu!" Ujar Yagari, ujung matanya kian meruncing.

"Tentu saja. Lakukan seperti yang kau inginkan. Bagi kami, Level E adalah aib yang harus dimusnahkan."

Deg! Zero tersentak. Bola mata merah itu memandanginya intens. Tanpa dia sadari kedua kakinya bergerak membawanya keluar dari sana.

"ZERO!"

Kuran Tsuki

Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Kaname dan Ichijou lekas kembali ke tempat peristirahatannya di moon castle. Pertemuan itu berlangsung cukup lama dari yang diperkirakan.

Saat Kaname beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu, Kaien memanggilnya.

"Kaname-kun!" Lelaki berwajah pucat itu lalu menolehkan kepala. "Apa kau tidak ingin melihat Yuki-chan?" Kaname tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya ke pintu.

"Untuk hari ini kurasa cukup. Biarkan dia beristirahat." Jawabnya,

"Minna-san arigatou, konbanwa!" Ichijou membukakan pintu, dan tak lama mereka pun berlalu pergi.

Malam itu baik Yuki, Kaname maupun Zero tak berucap sepatah kata pun. Mereka bungkam seribu bahasa. Yuki tercekik dalam keheningan yang membuatnya tersesat di lorong panjang nan hampa. Zero terjebak dalam mimpi buruk yang terus menghantui langkahnya. Lelaki malang itu tak henti merutuki diri sendiri. Sementara Kaname, entah apa yang ada di benaknya. Sosok misterius itu menyunggingkan senyuman yang ambigu. Bola matanya berpijar merah dalam keremangan malam.

I'll Show you a sweet dream next night . . .