"Mungkin, jika aku gagal. Mereka akan tetap mengejarmu, karena aku menyimpan sesuatu yang aku curi dari mereka dan menyembunyikannya di tubuhmu."
Gakupo bersiap-siap untuk pergi, dia membawa sekitar 30 samurai miliknya ke dalam sebuah tas besar, dia memasang sabuk yang bisa mengaitkan pedang, disimpannya 2 pedang di sabuknya itu. Yuma membantu Gakupo membereskan perlengkapannya, sementara Luka melihat mereka dengan wajah memelas. Gakupo sadar akan raut wajah Luka. Dia menghampiri Luka. Luka langsung membuang muka.
"Sampai kapan kau akan begitu?" tanya Gakupo.
Luka sama sekali tidak menjawab dan wajahnya terllihat jengkel. Yuma melihat mereka berdua, dan sekilas dia ingat pada kakaknya yang dibunuh 2 tahun setelah Yuma menjadi Dark One. Yuma selesai membereskan barang-barang Gakupo. Gakupo pun siap-siap pergi, mengetahui Gakupo akan pergi, Luka memandang Gakupo dengan wajah yang memberi beribu-ribu kekhawatiran. Gakupo meliriknya dan tersenyum simpul, dia pun pergi layaknya ninja, berlari dengan cepat dan bahkan bayangannya pun tak bisa mengejarnya. Luka tersentak akan kepergian Gakupo, Yuma melihat Luka yang bersikap seperti itu pun menyuruh dia untuk kembali masuk ke mansion. Luka duduk di sofa depan perapian. Yuma menghelas nafas dan hendak membuat teh untuk Luka. Luka mengangkat kakinya dan memeluknya.
"Dia pergi sendiri, melawan orang-orang itu. Gakupo, kau ini sebenarnya sedikit sombong dan egois, partner-mu saja kau abaikan, padahal dia akan sangat menolongmu jika ada kesusahan." Gumam Luka sambil menunjukkan wajah cemas.
"Dia memang seperti itu, sudah tidak bisa dilawan lagi."
"Iya... Dia memang—" Luka sadar ada seseorang berbicara disampingnya.
"Li—Lily?!" Luka kaget.
"Kau sebenarnya cemas kan? Pura-pura tidak peduli adalah hal yang bodoh. Huh! Kau ini mirip Gakupo, berlagak dingin dan tidak peduli, padahal sebenarnya sangat mengkhawatirkan orang yang dimaksud." Lily membuang muka dan berwajah datar.
Luka tersenyum simpul sambil melihat perapian, Yuma datang dengan teh yang dia bawa. Dan kaget melihat Lily yang tiba-tiba ada disana.
"Lily, sejak kapan kau disini?" tanya Yuma sambil menyimpan baki teh yang dia bawa.
"Baru saja, aku berpapasan dengan Gakupo. Dia bilang aku harus memantau mansion ini." Jelas Lily.
"Bukannya aku disuruh untuk mengurus semuanya." Yuma tidak mau kalah.
"Dia bilang kau jaga wanita ini," Lily menunjuk pada Luka, "Sedangkan aku disuruh menjaga mansionnya." Jelas Lily.
Yuma mengerti dan memberi cangkir berisi teh ke Luka. Lily menyilang tangannya, dan berpikir.
"Apa dia masih ingat kalau persembunyian mereka ke arah timur? Dia baru saja pergi ke arah selatan." Gumam Lily.
Luka mendengar gumaman Lily. "Jadi maksudmu dia sama sekali tidak tahu kemana dia pergi?" Luka kaget.
"Aku tidak bilang apa-apa, kukira dia akan pergi ke suatu tempat dulu." Lily menjawab Luka.
"Tapi dia bilang akan langsung ke persembunyian mereka." Kata Luka.
Mereka bertiga diam, beberapa detik kemudian mereka sadar kembali.
"Jadi dia mau kemana?!" Lily jengkel.
"Maksudmu dia tidak akan pergi ke persembunyian para Bright One?" Yuma ikut kaget.
"Bodoh..." Luka berwajah ketus.
Lily memutuskan untuk mencari Gakupo, dia meninggalkan Luka dan Yuma di mansion. Luka lari ke kamarnya, dia memakai sepatu boot heels-nya, dia kembali keluar dan pergi dari mansion, Yuma mengejarnya.
"Hey tunggu! Kau mau kemana?!" Yuma berteriak sambil berlari mengikuti Luka.
"Aku akan mencarinya juga!" balas Luka sambil berteriak dan berlarian.
Gakupo berhenti di atas bukit, dia melihat kesana kemari. Gakupo bergumam akan sesuatu sambil menutup matanya. Saat dia kembali membuka matanya, mata biru terangnya berubah menjadi merah. Dia melirik ke arah kanan dengan cepatnya, dia lari seperti angin. Gakupo mengejar sesuatu atau mungkin seseorang, Gakupo meraung dengan keras dan sosok yang dikejar Gakupo tergelincir. Gakupo berhenti dan berjalan ke arahnya.
"Sudah kuduga." Kata Gakupo.
"Aku ketahuan ya, memang tidak ada seorang pun yang luput dari matamu." Kata orang yang dikejar Gakupo dan yang ternyata adalah Cul, partner pertama Gakupo, wanita yang semuanya serba merah mulai dari rambut, mata, pakaian, dan kuku.
"Inilah akibatnya jika aku ada di dekatmu, Curse Eyesku keluar secara tiba-tiba. Sudah kubilang kau harus mengontrol kekuatanmu." Gakupo protes sambil menutup matanya dan membukanya kembali dan warna matanya kembali normal.
"Jadi... Apa tujuanmu untuk menemuiku?" tanya Cul.
"Aku butuh 500 jiwa, aku ingin kau mendapatkannya secepat mungkin. Kau adalah Dark One yang bisa menaklukan beribu-ribu jiwa dalam hitungan beberapa jam saja." Kata Gakupo.
"Untuk apa 500 jiwa itu? Kau sudah mulai serakah ya?" tanya Cul curiga.
Gakupo terkekeh, "Bukan, tapi ada tubuh yang harus aku hidupkan kembali setelah sesaat aku membunuhnya." Jelas Gakupo.
"Apa? Kau sudah berani melakukan ritual aneh seperti itu? 30 tahun aku berhenti menjadi partnermu, kau semakin aneh saja." Kata Cul.
"Sudahlah, kumpulkan semua jiwa itu dalam 2 hari. Aku bergantung padamu." Kata Gakupo.
Cul menghela nafas dan mengangguk setuju. Gakupo pergi dari hadapan Cul, dan Cul sendiri mulai mencari jiwa yang diperintahkan oleh Gakupo.
Sementara itu Luka, Lily dan Yuma masih mencari Gakupo. Lily benar-benar kehilangan jejak Gakupo. Lily kaget karena dibelakangnya ada Luka dan Yuma mengejarnya.
"Ka—kalian hebat juga bisa mengejarku." Kata Lily terkagum sekaligus kaget.
"Kau sudah menemukan jejaknya?" tanya Luka yang nafasnya terpotong-potong karena mengejar Lily.
"Padahal tadinya akan aku gendong untuk mengejar Lily, tapi kau menolak." Kata Yuma pada Luka.
"Aku kehilangan jejaknya, dia tiba-tiba lenyap sejak berhenti di bukit sana." Lily menunjuk ke arah bukit dimana Gakupo berhenti tadi.
"Kalau begitu ayo kesana!" Luka lari ke arah bukit itu.
"Hey! Tunggu!" Lily dan Yuma mengejarnya.
Mereka sampai di bukit itu. Mereka melihat kesana kemari, namun tidak ada tanda-tanda dari Gakupo. Namun Lily, mencium bau seseorang yang familiar. Lily berjalan ke arah semak-semak dan melihat sebuah helai rambut merah yang bercahaya.
"Cul..." kata Lily.
"Siapa?" tanya Luka.
"Kalau tidak salah Cul itu..." Yuma berpikir.
"Iya, Cul. Istri tercinta Gakupo." Ujar Lily.
"Istri?" Luka terhentak tak percaya.
Lily dan Yuma saling memandang dengan wajah datar, namun Lily tersenyum licik, Yuma hanya tersenyum, lalu mereka kembali melihat ke arah Luka.
"Iya, dia istri Gakupo. Mereka sengaja berbeda rumah karena mereka ditugaskan di tempat yang berbeda." Kata Lily membual.
"Aku tidak tahu dia memiliki istri." Luka membuang mukanya ke arah bawah dan berwajah muram.
"Kudengar mereka adalah pasangan yang paling saling mengerti. Makanya, mereka adalah pasangan yang awet hingga kini." Yuma ikut membual.
Luka diam saja dan tampak down. Lily terkekeh dan Yuma merasa bersalah namun tetap saja terkekeh seperti Lily. Akhirnya Lily menyuruh Luka dan Yuma kembali ke mansion.
"Baiklah, mungkin ini alasan dia pergi kesini, untuk bertemu dengan Cul. Jadi tidak akan ada apa-apa. Ayo kembali." Ajak Lily.
Yuma menggendong Luka, selama di jalan menuju mansion, Luka masih berwajah muram. Yuma jadi makin merasa bersalah. Lily yang melihat reaksi Yuma, hanya tersenyum dan menyuruhnya diam saja.
Gakupo masih berlari dengan cepatnya, namun dia disambut oleh laki-laki berambut biru yang dijumpai oleh Luka semalam. Gakupo berhenti dan memandang laki-laki itu dengan wajah datar. Laki-laki itu tersenyum dan membungkukan badanya layaknya dia menyambut Gakupo, dia bermata biru gelap dan tatapannya penuh teka-teki, dia memegang sebuah gagang dan benang bening untuk sebuah puppet.
"Ah, Gakupo. Sudah lama kita tidak bertemu." Laki-laki itu masih tetap tersenyum ramah.
"Kaito. Berani sekali kau menunjukkan wajahmu dihadapanku. Aku tidak ingin disambut oleh pengkhianat sepertimu." Kata Gakupo ketus.
"Gakupo! Kau membenciku? Kita teman kan? Dan lagi aku ini bukan pengkhianat, aku hanya menemukan jalan yang benar, seharusnya kau ikut denganku," Kaito masih tersenyum, "Dan mengembalikan barang yang kau curi dari kami." Senyuman Kaito hilang dan berubah menjadi tatapan dingin.
Gakupo tersenyum licik, "Lawan aku dulu, Puppet Master." Tantang Gakupo.
Kaito lari ke arah Gakupo dan memegang benang beningnya dengan kencang.
"Kau ingin melawanku dengan benang seperti itu—"
Pipi Gakupo tergores oleh benang tersebut, darahnya mulai bertetesan. Kaito menyeringai.
"Selama ini kau selalu meremehkanku, kau sama sekali tidak tahu apa yang aku miliki. Kau hanya mempermalukan dirimu sendiri!" Kaito mulai menyerang Gakupo lagi.
Gakupo mengelurkan pedangnya dari sabuknya. Dia menebas benang yang Kaito lilitkan padanya, Kaito terbang melewati kepala Gakupo dan siap menyerang dari belakang, namun Gakupo menebaskan pedangnya ke arah belakang tanpa membalik badannya. Kaito mencoba menghindar, namun Kaito terlambat mundur, tangannya terkena tebasan pedang Gakupo. Kaito mulai jengkel, lalu dia melepaskan semua benang yang ada pada tubuhnya, mata biru Kaito berubah menjadi abu-abu. Dia melayang dikelilingi oleh benang-benang bening miliknya. Gakupo mengangkat wajahnya dan melihat Kaito yang seperti itu dengan tatapan biasa. Kaito mengayunkan tangannya ke arah depan, tepatnya ke arah Gakupo. Tiba-tiba benang-benang itu secara teratur dan cepat menyerang Gakupo, Gakupo mengeluarkan pedang keduanya, dan menebas benang-benang tersebut.
"Kau bukanlah kaum yang benar! Kau adalah kaum yang terkutuk! Kalian mengambil jiwa-jiwa yang tidak bersalah!" Kaito berteriak sambil mengayunkan tangannya, dan benang-benang tajamnya menuruti semua perintah Kaito.
"Setidaknya aku bukanlah kaum yang membunuh manusia secara brutal dengan alasan mereka melakukan sedikit kesalahan." Gakupo bergumam.
Gakupo lari dan membuka tas besar yang berisi 30 pedang samurai miliknya. Dia melemparkan semua pedangnya ke sembarang tempat, kini pedang Gakupo ada dimana-mana. Gakupo mulai lari ke arah Kaito yang sedang melayang, dia mengambil satu pedang yang ada di dekat Kaito, lalu dia menebas punggung Kaito, Kaito pun terbang ke arah lain, dia mencoba mencabut pedang Gakupo yang ada di dekatnya, namun ketika pedangnya disentuh, tangan Kaito malah serasa terbakar dan mengeluarkan asap. Kaito mengepal tangannya yang kesakitan.
Gakupo memandang Kaito, "Kau tidak bisa memegang pedangku. Bahkan kaumku juga tidak bisa. Hanya aku yang bisa." Kata Gakupo tenang.
"Cih...!" Kaito turun dan lari ke arah Gakupo dengan cepatnya, dia mengeluarkan gagang puppet dan bersiap untuk menghantam Gakupo. Gakupo menghindar, Kaito masih berusaha mengejarnya. Tanpa sadar Gakupo menabrak sebuah batu besar, ini membuat dia berhenti, kesempatan, Kaito lari dengan cepat dan menancapkan gagang puppet miliknya yang cukup tajam itu ke depan pundak Gakupo. Darah menyembur dari pundak Gakupo, dia hanya tersenyum kesakitan. Kaito memutar gagang puppetnya itu di dalam pundak Gakupo, darah Gakupo semakin menyembur. Kini Gakupo menggertakan giginya dan wajahnya serius kesakitan. Kaito menyeringai dan hendak meninju perut Gakupo untuk serangan terakhir. Gakupo memejamkan matanya untuk menerima serangan terakhir, namun terdengar suara tembakan di langit, keduanya kaget dan melihat kesana kemari. Ternyata itu adalah Meiko dengan shot gun andalannya. Kaito melepas gagang puppet yang menancap di pundak Gakupo dengan kasar. Gakupo tumbang. Meiko menatap Kaito dengan pandangan jijik, sedangkan Kaito tersenyum melihat Meiko. Meiko turun dari pohon tinggi, dan berusaha menembak Kaito, namun ragu-ragu. Kaito tersenyum.
"Mei-chan. Syukurlah kau masih sehat." Kata Kaito.
"Diam kau! Angkat tanganmu atau kubunuh seperti aku menghancurkan puppetmu tadi malam!" Meiko membentak.
"Mei-chan, kau jadi dingin seperti ini. Kau lebih ramah waktu dulu, waktu kau—"
Meiko berlari ke arah Kaito dan menamparnya, "Diam kau!" Meiko berwajah ketus.
Kaito mulai memipih, dia bagai abu yang tandus dan berterbangan kesana kemari.
"Mei-chan, maaf ya. Aku tidak bisa bersamamu lagi, karena kau lebih memilih menjadi Dark One daripada menjadi Bright One. Kita akan berjumpa di lain waktu." Kaito tersenyum dan menghilang bersama angin.
Meiko lari ke arah Gakupo dan berusaha menolongnya, Gakupo batuk-batuk sambil menyemburkan darah dari mulutnya.
"Kenapa kau tidak menembaknya? Kau malah menembakkan pelurumu ke langit." Kata Gakupo serak karena cukup kesakitan.
Meiko tidak menjawab, namun matanya terlihat berat dan hampir menangis. Gakupo melihatnya dan sepertinya mengerti, dia memejamkan matanya sementara Meiko mengobati pundaknya.
Disisi lain, Kaito sampai di persmbunyian para Bright One. Ketika Kaito hendak masuk, dia disambut oleh Kiyoteru.
"Dari mana kau?" tanya Kiyoteru.
"Hanya jalan-jalan, aku tadi sedang bosan." Balas Kaito sambil tersenyum ramah.
"Apakah jalan-jalan membuat tanganmu berdarah seperti itu?" kata Kiyoteru sambil membetulkan kacamatanya.
"Ah ini, tadi aku tidak sengaja berjalan diantara ranting-ranting tua, jadinya ya begini." Jawab Kaito tenang.
Kiyoteru tidak curiga sama sekali, dia masuk kembali. Tempat persembunyian mereka cukup besar, dan hampir semua berwarna putih, layaknya istana yang terbuat dari kaca.
Saat itu, matahari mulai terbenam. Lily dan Yuma tampak menikmati permainan kartu mereka, sedangkan Luka hanya menonton mereka, karena Luka menolak bermain dan lebih memilih menonton. Luka sudah menguap beberapa kali, namun dia menolak untuk tidur.
"Hey, kau tidur saja sana. Aku jadi ikut cape melihat kau menguap terus." Tegur Lily.
"Aku tidak mengantuk. Main saja sana, jangan hiraukan aku." Kata Luka tegas.
"Jangan-jangan kau masih memikirkan Gakupo? Atau istrinya?" kata Llily sambil melihat kartunya dan siap-siap memberi balasan kartu pada Yuma.
"Ti—tidak! Aku, aku sama sekali ti—tidak memikirkannya!" Luka protes sambil membuang muka.
"Iya, iya. Aku mengerti. Dasar..." Lily tersenyum dan melanjutkan permainan kartunya.
Tiba-tiba bel mansion berbunyi, Yuma berdiri dan hendak membuka pintu.
"Siapa yang datang jam segini? Belum malam sih, tapi kenapa jam segini?" kata Lily.
Yuma membuka pintu dan ternyata itu adalah Cul.
"Cul. Lama tak bertemu." Yuma menyambut Cul yang tiba-tiba datang ke mansion.
Mendengar kata Cul di pintu depan, Luka terhentak dan membalik badannya sesaat untuk melihatnya. Lily menghampiri Yuma dan Cul di pintu depan.
"Cul! Kemana saja? Aku rindu padamu!" Lily girang dan memeluk Cul.
"Aku kesini karena Gakupo." Kata Cul yang masih dipeluk Lily.
Luka menghampiri mereka ke pintu depan, Luka nampak ragu-ragu untuk melihat Cul. Namun Cul sadar akan kedatangan Luka, dia melambai ke arah Luka dan tersenyum ramah.
"Hai, aku baru bertemu denganmu." Kata Cul. "Siapa dia?" Cul berbisik pada Lily.
"Ah dia, dia harta karun Gakupo. Aku dan Yuma mengerjainya kalau kau itu istri Gakupo, jadi bantu kami untuk mengerjainya." Bisik Lily.
"Apa?! Kau sudah gila? Dari mananya aku istri dari laki-laki super cuek dan egois seperti dia?" Cul berbisik dan jengkel.
"Sudah, sudah. Hanya mencairkan suasana." Balas Lily.
"Yang ada dia tampak ketus melihatku." Protes Cul.
"Ah Luka, ini Cul, istri Gakupo yang aku ceritakan itu. Lihat, dia cantik kan?" Lily menggoda Luka.
"I—iya, aku Megurine Luka. Salam kenal." Luka memperkenalkan dirinya pada Cul dengan tampang tidak rela.
Mereka masuk ke ruang perapian lagi, Luka terus-terusan memandang Cul. Cul yang merasakan aura Luka hanya terdiam dan tersenyum kaku.
"Cul, apa yang diminta Gakupo?" tanya Lily.
"Dia butuh 500 jiwa, aku baru saja mengumpulkan 132 jiwa." Jawab Cul.
"132 jiwa dalam waktu 5 jam? Kau memang ahlinya. Sekarang aku tahu alasan Gakupo terus bersamamu." Ujar Lily.
"Untuk apa Gakupo butuh 500 jiwa?" tanya Yuma.
"Katanya sih dia mau menghidupkan seseorang yang dia bunuh nanti." Jawab Cul.
Luka hatinya terhentak dan pipinya mulai merah tak karuhan. Lily, Yuma dan Cul melihatnya dengan wajah `Hah?`.
"Oh iya, aku dengar kematian kakakmu karena ulah kaum Bright One." Cul mengubah topik dan bertanya pada Yuma.
"Iya, mereka awalnya ingin menjauhkan kakakku dariku, tapi mereka mengatakan kalau kakakku meninggal karena tekanan yang dia dapat saat mengetahui sebenarnya aku sudah mati." Jelas Yuma.
"Mereka mulai berbuat seenaknya sejak itu." Lily ketus.
"Tidak. Mereka menjadi seenaknya sejak Gakupo mencuri seratus juta jiwa murni yang disimpan kaum Bright One." Kata Cul santai.
"APA?!" Lily kaget.
"Jadi..." Yuma melirik Luka, "Yang ada di dalam tubuh Luka adalah... seratus juta jiwa murni?" Yuma kaget.
"Hah?! Dia menyebunyikannya di tubuh Luka?!" Lily dan Cul ikut kaget.
Luka melihat mereka kaget dan dia hanya bisa terdiam.
"Tapi kenapa harus di dalam tubuhnya?" Cul heran.
"Kata Gakupo aku punya jiwa yang kuat." Jelas Luka.
"Meskipun begitu, ini sebuah keteledoran! Keterlaluan! Ini bisa membunuhnya! Ini alasan aku berhenti jadi partnernya!" bentak Cul.
"Partner...?" Luka membuka matanya lebar-lebar.
Lily segera menutup bibir Cul dan tersenyum canggung pada Luka. Luka yang sadar, menyipitkan matanya dan berwajah ketus.
"Hehehe, aku hanya bercanda." Kata Lily canggung.
Luka tersenyum lega dan tiba-tiba mengusap kepala Cul, "Sudahlah, ini keinginannya. Kita turuti saja." Luka tersenyum dan kembali duduk dengan tenang.
"Kau nampak senang, Luka." Yuma tersenyum kecil.
"Ti—tidak kok. A—aku biasa-biasa saja." Luka membuang muka.
Sementara itu, Gakupo dan Meiko sampai di depan gerbang persembunyian Bright One. Gakupo mempersiapkan pedang-pedangnya, dan Meiko mempersiapkan pistol-pistolnya.
"Kau siap?" tanya Meiko.
"Aku tidak pernah sesiap ini sebelumnya. Ayo!" Gakupo dan Meiko berlari lalu bersembunyi di semak-semak besar.
"Ingat, jika kita benar-benar sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Aku ingin kau memberi telepati pada semua Dark One untuk menyerang balik. Sekarang kita taklukan penjagaan mereka. Jika pertahanannya sudah takluk, kita bisa menyerang kemana saja." Jelas Gakupo
"Baiklah." Meiko mengangguk mengerti, mereka siap berlari, tapi tiba-tiba Meiko memeluk Gakupo, "Hati-hati. Ingat apa alasanmu menyerang sejauh ini." Meiko melepas pelukannya.
"Aku mengerti." Jawab Gakupo.
Mereka pun berpencar secara sembunyi-sembunyi. Dan siap mendobrak penjagaan kaum Bright One.
To be continued...
