Kerajaan Dorminotory adalah kerajaan terkuat dimasanya. Namun enam belas tahun yang lalu kerajaan tersebut lenyap tanpa bekas. Kerajaan dengan makhluk yang memiliki kekuatan magis dan inteligensi tertinggi itu hilang dalam peta kerajaan dunia lain. Bahkan putri tunggal yang merupakan kunci menghilangnya kerajaan tersebut hingga kini masih belum ditemukan. Entah masih hidup atau telah meninggalkan dunia ini.


My Angel

Disclaimer:

Masashi Kishimoto

Pair:

ItaIno sligh SaiIno

Rated: T

Genre:

Romance Fantasy

Warning:

sedikit OOC maybe, AU, Typo, Gaje,

alur sedikit cepat, EYD yang cukup berantakan

Don't Like Don't Read


"Janganlah memendam kesedihanmu sendirian … Aku akan selalu bersamamu, Hime."


"Sekarang jelaskan padaku," todong Ino saat mereka berada di atap lagi kali ini. Saat bel istirahat berbunyi tadi Ino langsung menyeret Naruto dan Sasuke.

"Ino, kenapa kita harus berkumpul disini?" tanya Sakura bingung karena dirinya juga ikut diseret Ino tepat saar suara bel masih mengudara. Dan saat ini mereka tengah duduk berhadapan, bersimpuh di lantai. Sakura di samping Ino dengan Sakuke dan Naruto di hadapannya.

"Hn … Dobe jelaskan."

"Ekh? Kenapa harus aku, Teme kau yang jelaskan."

"Malas."

"Apa kau bi—"

Tak. Tak.

"Kalian berdua yang jelaskan padaku." Tunjuk Ino kesal dari tadi hanya diacuhkan dengan makhluk yang lebih memilih bermain kata berdua. Sasuke dan Naruto hanya mengelus pelan kepala yang baru saja dijitak Ino.

"Apa kau yakin membiarkan Sakura ikut mengetahui ini semua?" lirik Sasuke pada Sakura yang duduk di sebelah Ino.

"Iya, dia sahabat baikku, lagi pula hanya dia satu-satunya orang yang kupercaya saat ini."

"Sudahlah, Teme kurasa Sakura-chan bisa dipercaya."

Sakura yang bingung ketiganya berbicara apa hanya diam. Tak tahu juga ingin mengatakan apa. "Kalau kalian keberatan aku di sini, aku tak apa keluar kok," ujar Sakura seraya tersenyum dan ingin berdiri. Namun tangannya sudah ditarik Sasuke terlebih dahulu.

"Apa kau tak dengar kalau Ino memperbolehkanmu, jadi duduklah." Sakura tak mengatakan apa-apa pada Sasuke namun ia kembali duduk di samping Ino.

"Mulai dari mana?" tanya Naruto.

"Tentang kalian," jawab Ino cepat.

"Baiklah, dengarkan dengan baik … Nah Sasuke jelaskan," ujar Naruto santai yang dibalas oleh Sasuke dengan sebuah jitakan pada kepala Naruto. Sasuke kemudian menghela napas pelan dan berujar singkat "Kami adalah angel yang ditugaskan mengirim roh jahat yang berada di dunia dikirim kembali kedunia lain, hanya itu. Selesai."

"Apanya yang selesai Uchiha-kun? Jelaskan lebih baik kenapa, kau ini benar-benar buruk dalam menjelaskan. ya."

"Uchiha-kun …? Bukankah sebelumnya kau memanggilku Sasuke?"

"Gomen, Aku tak tahu kalau Sasuke itu nama kecilmu," Ino hanya berujar pelan dan menundukkan kepalanya.

"Panggil Sasuke."

"Eh?" Ino mendongakkan kepalanya mendengar perkataan Sasuke.

"Kalau tidak aku tak akan melanjutkan penjelasannya."

"Kau curang, Uchiha-kun," ujar Ino kesal mengerucutkan bibirnya.

"Bagaimana mau tidak?"

"Tidak."

"Serius?"

"Aku serius."

"Ya, sudah … Dobe ayo kita kembali saja. Dobe …?" Sasuke tertegun saat tak mendengar suara Naruto. Ditolehkannya kepalanya kesamping dan tak ada Naruto di san, pantas saja tak ada suara apa pun dari tadi. Ino pun juga menoleh dan Sakura juga menghilang, hanya ada mereka berdua saat ini. Ino pun juga baru menyadari entah sejak kapan Sakura tak lagi di sampingnya. Ino beralih pada sebuah kertas kecil yang tertinggal sebagai pengganti Sakura tergeletak di kakinya.

"To Teme no Baka. Aku kencan dulu. Kau saja yang jelaskan pada Ino-chan ya. From majikanmu yang baik, Naruto ganteng."

Siiinnnggg …

"Dasar brengsek! Awas kau Dobe." Sasuke meremas kencang kertas yang direbutnya dari tangan Ino. Dan membuangnya ke lantai.

Ino bergidik saat merasakan hawa panas yang menyelimuti Sasuke, mata Sasuke yang awalnya berwarna hitam juga ikut berubah merah, tak lama api itu menghilang termasuk Sasuke sendiri, meninggalkan Ino di atap. Menyadari kalau dirinya kembali ditinggal sendiri, Ino berteriak keras. "Kalian berdua kembali! Jangan menghilang seenaknya begitu bodoh!"

Tentu saja teriakan itu tak ada artinya karena hanya dirinyalah yang kini berada di atap saat ini. Ino kemudian memutuskan untuk turun saja, dan berjanji dalam hati akan menghajar keduanya saat bertemu lagi. Sepertinya Ino melupakan kalau Sakura juga ikut diculik Naruto.

.

.

.

.

.

Ino terus saja mengomel sepanjang jalan menuju kesebuah ruangan yang bukan kelasnya. Walau bel sudah berbunyi namun Ino tak berniat kembali, belajar dengan hati kesal begini tak baik jugakan. Langkah Ino terhenti didepan pintu sebuah pintu yang terletak di ujung lorong. Ditendangnya keras pintu itu tanpa belas kasihan. Tak disadarinya seseorang juga ikut terhantam karena berada dibalik pintu.

"Ouch."

"Eh?" Ino bergumam bingung saat mendengar suara seseorang, padahal ruangan ini selalu kosong. Dibukanya perlahan sembari dijulurkannnya kepalanya perlahan. Disana, Uchiha Itachi tengah mengelus hidungnya yang baru saja berciuman keras dengan pintu karena ulah seseorang.

"Uchiha-san, apa yang kau lakukan di sini?"

"Yamanaka-san? Kau yang baru saja mendobrak pintu?"

"Eh … he … he … Gomen ne, kukira tak ada orang, karena ruang musik ini jarang dipakai karena gurunya belum ada," jelas Ino singkat.

Itachi hanya diam saja, bekas kemerahan terlihat pada hidung dan juga dahnya, sepertinya pintu tadi mengahantam keras wajahnya. Melihatnya Ino sedikit merasa bersalah dirinya kemudian beralih ke wastafel di kiri ruangan, tangannya merogoh sapu tangan yang selalu berada dikantongnya dan membasahinya dengan sedikit air kemudian mendekati Itachi yang duduk di salah satu kursi siswa.

"Gomen ne, Uchiha-san jadi merah begini." Ino mengusapkan pelan sapu tangan itu ke wajah Itachi. Untung saja saat itu Itachi tak sedang memakai kacamatanya kalau tidak bisa-bisa matanya buta karena pecahan kaca, Ino sedikit bergidik juga saat membayangkannya.

"Sudahlah tak apa. Sebentar lagi juga sembuh," ujar Itachi seraya menghentikan tangan Ino yang masih berusaha mengusap dahinya.

"Ah, maaf aku terlalu lancang uchiha-san."

"Hn … tak apa … Bolehku tahu mengapa kau berusaha menghancurkan pintu?"

"Bukan begitu! Aku hanya … sedang kesal saja," jawab Ino pelan menundukkan kepalanya.

"Keberatan untuk bercerita?"

"Itu … Hmmnn … Tak apa kurasa aku sudah tak apa-apa kok, Uchiha-san." Ino hanya tersenyum kecil.

"Ya sudahlah." Sebenarnya Itachi ingin menannyakan lebih jauh, hanya saja melihat wajah Ino rasanya jadi tak enak juga.

"Uchiha-san/ Yamanaka-san," ujar keduanya bersamaan.

"Uchiha-san saja duluan."

"Kau saja, kelihatannya ada yang ingin kau tanyakan."

"Itu sebenarnya … Kalian siapa?" Aku merasa tak pernah mengenal kalian, hanya saja mengapa teman-temanku seperti mengenal Uchiha-kun dan Namikaze-kun ya?"

Itachi mengernyitkan keningnya bingung mendengar perkataan Ino, "Uchiha-kun dan Namikaze-kun? Apa maksudnya mungkin Sasuke dan Naruto" Tak lama Itachi berujar "Karena kami memang sudah hidup di dunia ini sejak lahir."

"Maksudnya?" tanya Ino bingung dan menatap Itachi langsung.

"Ini akan jadi cerita yang panjang, apa kau mau mendengarkannya?" Ino mengangguk cepat atas pertanyaan Itachi, karena tak ada gunanya juga menunggu dan menanyakan pada duo-baka tadi. Ditariknya sebuah kursi hingga berhadapan dengan Itachi.

"Kami berasal dari sebuah dunia lain, yah seperti dunia paralel …Kau tahu dunia lainnya yang ada di muka bumi ini, sebuah dunia yang indah hampir mirip dengan bumi. Di sana tinggal makhluk yang mirip dengan manusia hanya sayap dan kekuatan magis saja yang membedakannya. Angel itu panggilan yang diberikan kepada kami oleh manusia di bumi. Aku tak tahu bagaimana awalnya namun beberapa angel diutus ke bumi mencari para roh jahat yang berkeliaran di sini. Dan saat ini ada empat angel terakhiryang terdaftar dan sepertinya kami sudah menemukannya, setelah lama mencari," ujar Itachi menatap tajam pada Ino, bukan tatapam membunuh yang biasa diberikannya pada orang lain namun sebuah tatapan penuh perasaan yang begitu langsung masuk menembus aquamarine milik Ino. Ino yang ditatap begitu hanya mengalihkan pandangannya, wajahnya memerah, perasaannya jadi tak menentu dan kacau. Sedikitnya terjadi perubahan dari detak jantungnya.

"Lalu, bagaimana tentang pertanyaanku barusan Uchiha-san?" tanya Ino lagi mengalihkan semua rasa yang kini bergulir didadanya..

"Itu …? Saat seorang angel turun ke bumi, mereka akan terlahir menjadi seorang manusia kau tahu? Seperti bayi pada umumnya. Tumbuh dan kembang selayaknya manusia. Itulah mengapa kami juga memiliki kehidupan di sini. Aku dan Sasuke terlahir ke dalam keluarga Uchiha dan Naruto ke dalam keluarga Namikaze. Hanya saja saat melewati gerbang waktu kami kehilangan ingatan di dunia sana, dan biasanya akan tersadar saat mereka berusia sepuluh tahun, dan kupikir kau sudah tahu itu, Yamanaka-san?"

Ino hanya menggelengkan kepalanya, ingatan? Bahkan dirinya baru tahu semua ini saat ini. "Aku tak ingat, bolehkan aku bertanya lagi mengapa Uchiha-kun bisa mengeluarkan api dari tubuhnya tanpa kesakitan? Bukannya tubuhnya masih manusia, apa tidak panas?"

Itachi hanya terkikik pelan mendengar penuturan Ino. Mungkin Sasuke bertengkar lagi dengan Naruto dan merasa kesal hingga mengeluarkan apinya didepan Ino itu yang dipikirnya. "Itu elemen utamanya. Setiap angel itu memiliki elemennya tersendiri. Sasuke itu tipe api sedangkan Naruto angin. Dan elemen itu tak akan menyakiti pemiliknya."

"Begitukah? Pantas saja Namikaze-san itu selalu bisa melarikan diri dengan cepat … Lalu mengapa kami tak menyadarinya saat dia menghilang?"

"Dimensi waktu, yang bisa digunakan tanpa diketahui orang lain kecuali para angel … Apa masih ada yang ingin kau tanyakan Yamanaka-san?"

"Banyak. Hanya saja aku tak yakin bisa menyerap semuanya, kau tahu terlalu banyak pertanyaan dan informasi dikepalaku. Dan aku masih belum bisa mempercayai semuanya" Ino menyandarkan kepalanya ke atas meja.

"Kau bisa menanyakannya pelan-pelan, dan aku akan memberikan jawabannya untukmu … Itu reaksi yang wajar karena ingatanmu masih belum kembali," ucap Itachi pelan seraya mengusap kepala Ino pelan.

Ini? Mengapa rasanya semua ini pernah terjadi. Kehangatan apa ini. Ino malah memejamkan matanya merasakan setiap rasa yang ikut mengalir ketubuhnya.

"Ne, Uchiha-san … Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Dan lagi mengapa kau memanggilku saat di atap Hime-sama?" tanya Ino diturunkannya tangan Itachi dari kepalanya lalu digenggamnya erat, tak ingin kehangatan itu menghilang. Mata Aquamarine itu bertemu langsung dengan manik gelap milik Itachi.

"Soal itu … Anda harus mengingatnya sendiri … Hime-sama."

Ino tertegun saat Itachi memanggilnya begitu apa lagi dengan gaya bahasa yang begitu berbeda. "Mengapa wajahmu sedih begitu ne, Itachi? Jangan tersenyum kalau kau tak mau, bodoh. Hatiku jadi ikut terasa perih."

"Tak bisakah kau katakan saja? Bukankah kau sudah berjanji akan menjawab semua pertanyaanku."

"Maaf ya? … Hanya hal itu saja yang tak bisa kukatakan padamu." Itachi lalu beralih melepaskan tangannya dari Ino dan mulai melangkahkan kakinya. Sesampainya di pintu Itachi berhenti sejenak. "Ada yang lupa kukatakan … " Itachi menjeda kata-katanya. Ino berlonjak senang dalam hati dipikirnya Itachi akan mengatakan sesuatu yang penting terkait pertanyaanya tadi, namun … "Jangan lagi menendang pintu ruang musik. Karena gurunya sudah ada didepanmu, atau kau ingin aku menghukummu berdiri di lapangan." Itachi hanya tersenyum kecil saat dilihatnya wajah shock Ino, kemudian beralih pergi dengan tenang..

.

.

.

.

Ino hanya tertegun saja saat Itachi meninggalkannya di ruang musik. Tidak, bukan karena kata terakhirnya namun terlebih dengan kata sebelumnya, "Soal itu … kau harus mengingatnya sendiri … Hime-sama." Sebegitu pentingkah orang yang dipanggil Hime-sam itu sampai bisa membuat raut wajahmu begitu menyedihkan. Mengapa aku sedikit cemburu ne, Itachi. Saat kau sebut nama itu walau kau tujukan untukku?

Ino mengulurkan tangannya ke leher ingin meraih benda yang selalu bisa membuatnya lebih baik. Namun tak tergapai apa pun, tak ada apa pun di sana, kosong. Tak ada kalung yang selalu bertengger manis dilehernya, dengan panik Ino segera berusaha mencari, mungkinkah terjatuh saat masuk kemari. Matanya menjelajah setiap sudut ruangan. Berusaha menemukan satu-satunya peninggalan kekasihnya.

"Tak akan mungkin bisa kau temukan lagi."

Ino mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang kini berdiri dihadapannya. "Apa maksudmu, Uchiha-kun?" Sepertinya Ino tak lagi kaget dengan siap kemunculan mereka yang selalu tiba-tiba.

"Kalung itu sudah hancur saat Itachi menyelamatkanmu tadi pagi. Apa kau tak ingat?"

Menyelamatkan? Tadi pagi? Yang Ino ingat tadi pagi hanya melihat Sakura bersama Sasuke dan Naruto di depan kelas, kemudian terbangun di langit, hanya itu. lalu kapan kalungnya menghilang.

"Siapa yang memberikan kalung itu padamu?"

Sejenak ragu Ino untuk menjawab" … Uchiha Sai, kekasihku."

"Apa kau tahu kalung apa itu?"

"Hanya kalung biasa, bukan?"

"Kau sudah mendengar tentang dunia kami dari nii-san bukan, dan itu adalah kalung sihir dari dunia kami. "Angel Sealing" Kalung yang bisa menyegel kekuatan seorang angel, dan biasanya membutuhkan darah penyegelnya untuk mengaktifkan kalung itu."

"Kau bohong. Mana mungkin Sai bisa mendapatkannya kalau pun itu benar."

"Mungkin saja … Entahlah … Aku tak bisa yakin untuk mengatakan iya … kau tahu walau berada di keluarga yang sama aku tak pernah bertemu dengan sepupuku itu. Hanya nii-san yang pernah menemuinya—".

"—Dan lagi kurasa sejak dia tiada segel itu tentu saja melemah dan membuat sayapmu keluar walau belum seutuhnya." Sambung Sasuke dalam hati

Ino mengerjap tak percaya, dirinya lupa kalau Sasuke juga keluarga Uchiha. Walau begitu Ino yakin Sai bukanlah orang begitu. Lagi pula buat apa Sai menyegelnya, dan dari mana Sai tahu ino adalah Angel. Itu semua mustahil.

"Jangan berbicara yang tidak-tidak tentang orang yang sudah tiada, Sasuke."

"… Kau yakin dia sudah tiada? Bagaimana kalau seandainya dia masih hidup?"

"Eh …? Jangan berbicara yang tidak-tidak. Uchiha-kun," desis Ino kesal menahan marah mendengar semua perkataan Sasuke.

"Aku hanya mengatakan seandainya bukan? Terserah kalau kau percaya atau tidak."

"Sudah cukup. Aku tak mau mendengar apa pun lagi darimu."

"Ya, sudah. Aku hanya sekedar berbagi informasi," ujar Sasuke kemudian menghilang dari hadapan Ino.

Ino menggeram kesal menghentakkan kakinya. Sebenarnya apa yang tengah terjadi saat ini. Begitu banyak lubang berisi pertanyaan dibenaknya.

.

.

.

.

.

"Untuk apa kau mengatakan hal tak penting begitu, Sasuke?" tanya Itachi sinis saat Sasuke muncul di lorong. Ternyata Itachi masih berdiri tak jauh dari ruang musik.

"Oh, nii-san, kupikir kau sudah pergi. Tak baik bukan menguping pembicaraan orang lain?"

"Bukannya kau yang lebih dulu menguping pembicaraanku."

"Aku hanya membantumu tak ada yang lain."

"Tapi tidak dengan memaksa mentalnya dengan sebuah kebohongan, kau tahu bukan itu hanya memperlambat semuanya."

"… Baiklah. Tak akan kulakukan lagi."

"Dengar Sasuke, kita hanya akan melakukan apa yang diperintahkan saja. Jadi jangan kacaukan semuanya hanya karena tindakan egosimu, mengerti?"

"Hn …"

"Janji?"

"… Iya nii-sanku tersayang tercinta aku berjanji," jawab Sasuke datar.

Twich.

"Jangan mengatakan hal menjijikan begitu, kalau didengar orang semua bisa salah paham. Lagi pula mengatakan dengan wajah dingin begitu, rasanya kau juga tak ikhlas mengatakannya, Sasuke."

"Hn … baiklah." Sasuke kemudian berjalan meninggalkan Itachi, yang masih berdiri bergeming menyandarkan kepalanya pada tembok.

.

.

.

.

Ino masih terus saja terpekur dalam diamnya tak menyadari kalau kini ada dua orang yang tengah berdiri dihadapannya, seorang berambut pirang dan seorang lagi berambut putih, dipunggung mereka berdua juga terdapat sepasang sayap berwarna putih, keduanya kini tengah menyeringai senang melihat Ino.

"Apa kabar Ino-sama? Bagaimana kehidupannmu saat dibumi ini? Menyenangkan eh?"

Tersentak Ino menaikkan kepalanya, matanya terperajat saat melihat ada orang lain diruangan ini. "Siapa kalian dan apa mau kalian?"

"Kami hanya menginginkan kekuatan milikmu, kekuatan yang disegel pak tua kerajaan itu enam belas tahun lalu padamu,un" jawab Siblonde.

"Aku tak mengerti apa yang kalian katakan dan aku bukanlah orang yang kalian cari."

"Benarkah?" kali ini seorang berambut putih menyeringai senang sembari menjilati bibirnya, langkahnya mulai bergerak mendekati Ino, merobek paksa lengan baju kanan Ino hingga bahunya terlihat jelas. "Kalau begitu bagaimana bisa lambang kerajaan ini bisa berada padamu,"

Ino terbelalak heran memalingkan wajahnya melihat suatu lambang yang kini berada dibahunya. Lambang kuncup bunga sakura berwarna biru tua di dalam sebuah pentagram. "Sejak kapan lambang ini berada dibahuku?"

"Ne, Ino-sama masihkah kau beralih mengatakan kalau kau bukan Hime-sama dari kerajaan dorminotory yang menghilang enam belas tahun yang lalu?"

"Kalian bohong!"

"Terserah, kami tak peduli yang kami butuh hanya kekuatanmu," ujar sirambut putih mencekram rahang Ino kuat.

"To—long! … Sakit … Lepaskan … Aku."

"Percuma … Ruangan ini sudah dipasang pelindung. Kau pikir hanya ksatria-mu saja yang bisa melakukannya, un?" Pria blonde itu melirik ke pintu dimana ada seorang angel yang tengah berusaha menghancurkan barier yang mereka pasang.

.

.

.

.

.

Diluar Itachi tengah berusaha menghancurkan barier yang mereka pasang. Dari tadi tangannya sibuk membuat berbagai pentagram sihir namun masih belum berhasil bahkan tergores saja tidak. Itachi tak menyangka kalau mereka akan menyerang langsung begini. Dipikirnya mereka hanya kan mengirim roh kelas rendah seperti tadi pagi. Menarik napas pelan, Itachi memejamkan matanya sembari mengatakan sesuatu di dalam pikirannya. "Sasuke, Naruto, kemarilah nii-san butuh bantuan kalian." Sekejap kemudian Sasuke dan Naruto telah berada di samping Itachi.

"Kenapa nii-san? Kau tahu aku sedang bersantai menikmati tomatku," tanya Sasuke ditangannya terdapat buah tomat yang hanya tinggal separuh.

"Ada apa Itachi-nii? Padahal Aku lagi kencan dengan Sakura-chan, terpaksa kutinggalkan jadinya," rajuk Naruto kesal karena acaranya terganggu.

"Lakukan itu semua nanti. Sekarang dengarkan aku, para angel buangan itu sedang berada di dalam bersama Ino dan aku tak tahu bagaimana keadaan di dalam karena ruangan ini diselebungi baries pembatas tiga sisi. Sekarang hancurkan tiga titik segel yang berada di tiap sudut ruangan secara bersamaan, mengerti?"

Tahu kalau sekarang bukan saatnya untuk bertanya lagi baik Sasuke dan Naruto langsung menempati titik yang dikatakan Itachi. Mereka bertiga segera membuat pentagram sihir dan menghancurkan ketiga titik yang membentuk pola segitiga itu secara bersamaan. Blar. Ledakan kecil muncul saat selubung itu mulai hancur.

Itachi segera mendobrak masuk kedalam ruangan dan mendapati kalau Ino sedang dicekram oleh salah satu angel yang dikenalnya sebagai buronan kerajaan.

"Kalian beraninya?" geram Itachi melihat keadaan Ino yang terlihat susah bernapas.

"Wah, wah, aku tak menyangka bisa menemukanmu disini, Tuan Angel terkutuk."

Ino terkejut saat mendengar panggilan yang diberikan untuk Itachi. "Angel terkutuk? Apa maksudnya?"

"Nii-san? Bagaimana?" tanya Sasuke saat kembali mendekati Itachi, matanya mendapati dua orang yang saat ini menyandera Ino. "Deidara … Hidan? Bukankah kalian termasuk dalam daftar hitam kerajaan?"

Plok. Plok.

"Tepat. Lagi pula kami tak ada urusan dengan kalian yang kami butuhkan hanya gadis ini, jadi selamat tinggal."

"Tung—gu." Namun keduanya sudah lenyap dengan membawa Ino ikut serta bersama. Itachi hanya menggeram kesal saat melihat ketiganya menghilang.

"Itachi-nii mana Ino-chan?"

"Mereka sudah pergi Dobe. Kau terlambat."

"Apaaa!" teriak Naruto tak percaya.

"Jangan berteriak ditelingaku, Baka." Naruto baru saja hendak membalas Sasuke saat didengarnya ucapat dingin dari Itachi. "… Sasuke, Naruto bersiaplah kita akan mendobrak masuk kediaman para iblis itu." Mata Itachi yang semula berwarna hitam berubah warna menjadi merah dengan tiga titik koma ditengahnya. Sepasang sayap hitam pun muncul dibalik punggungnya. Aura kuat ynag menguar muncul dari tubuhnya, membuat Sasuke dan Naruto yang melihatnya sedikit merinding ketakutan. Sepertinya kali ini Itachi akan mengamuk habis-habisan. "Semoga aku masih bisa selamat," do'a Naruto didalam hati.

"Kita berangkat."

.

.

.

.

.

A/N:

Balas review … gomen ne cuma lewar fict, Mizu gak sempat lewat PM.

To Vaneela: Yup Ino juga salah satu angel yang ada dibumi. Hehe mereka berdua akan muncul penuh dichap depan kok jadi Vanee-chan pastikan adja siapa mereka. Arigatou dah mampir dan review ne^^

To el cierto: Belum telat kok, Mizu yang telat update … gomen ne. Soal kisu itu el-san pikirin sendiri ya?#dilempar sendal karena seenaknya. Kalung yang dipakai Ino udah terjawab dichap kali inikan? Arigatou dah mampir dan review ne^^

To Laura: Kissu? Waduh gimana ya, tunggu tanggal mainnya aja ya bakal banyak kok. Arigatou dah mampir dan review ne^^

To Bluremi: Haha … gak apa kok Akina-chan, udah terjawab dichap kali ini kan^^ Arigatou dah mampir dan review ne^^

Maaf ya balas reviewnya singkat, waktunya Mizu mepet banget buat ngetik, moga chap kali ini gak terlalu banyak bertebaran typo dan kesalahan EYD, juga chara yang gak terlalu ooc. Mizu pamit, sampai ketemu lagi dichap depan^^

Konkrit, kritik, saran,silahkan kirimkan saja ke kotak biru dibawah ne minna.

Salam manis

Sabaku 'Mizu' Akumu