Hei, kenapa kau tak bisa memberiku kesempatan lagi?

Kita masih bisa memperbaiki semua ini, 'kan?


BLUE DAYS

Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

I don't gain any commercial advantage by publishing this fanfic. This exactly is just for fun.

Story © Sukie 'Suu' Foxie


Ch 4. Special


"Aaahh~! Malam minggu …," mata kecokelatan ini menoleh ke sekeliling sebelum perhatiannya terpaku pada Ino, "… tapi aku malah berduaan denganmu. Di kafe yang seharusnya bisa menjadi tempat romantis bagi pasangan."

"Memangnya kau punya pacar?" tanya Ino sambil mengangkat alis dan tersenyum mencemooh. Tangannya kemudian memainkan sedotan dan mengaduk isi minumannya.

Tenten mengibaskan tangan. Ia memasang wajah cemberut.

"Yaa, anggap saja kau sedang berkencan denganku. Toh aku yang traktir, 'kan?" ujar Ino lagi sambil mengembangkan cengiran.

Perempuan berambut cokelat itu kemudian menyangga wajahnya dengan kedua tangan. Matanya tampak menyelidik.

"Jadi …?"

Sesaat tak ada yang membuka mulut di antara mereka. Tenten tentu saja tahu alasan Ino memanggilnya. Pasti sesuatu yang berhubungan dengan Itachi. Sudah lama juga sejak terakhir ia bertemu Ino dengan suasana yang agak suram seperti ini, ia kira Ino sudah baik-baik saja. Lagi pula, Ino tak pernah berlama-lama meratapi laki-laki yang sudah menjadi mantannya. Kenapa sekarang …?

Apa perbedaan Itachi dan mantan-mantan Ino sebelum ini?

Sebelum otak Tenten meraih kesimpulan, mendadak suara Ino kembali terdengar. Suara itu begitu lirih. Begitu Tenten mengangkat wajah untuk melihat ekspresi Ino lebih jelas, perempuan di hadapannya itu sudah tak lagi tersenyum. Ada guratan tersiksa di sana. Kali ini, Ino tampak tak menutup-nutupi perasaan yang sebenarnya.

"Apa katamu?" ulang Tenten dengan alis yang mengernyit. "Kau melihat Itachi?"

"Dengan seorang perempuan," sambung Ino setelah mengangguk. "Di mall di dekat kantorku."

Tenten ingin menceletuk, 'Ya, wajar, sih? Kalian kan sudah putus sekitar lima bulan yang lalu. Not to mention that Itachi is hot, so …,' tapi Tenten urung mengatakannya. Ia tak bisa begitu saja mengatakan kata-kata yang akan menyakiti hati temannya.

Setelah berdeham, akhirnya Tenten mengutarakan hal lain yang sudah dipikirkannya baik-baik, "Kau sudah mencoba bertanya pada Sakura?"

Kali ini, Ino tampak gusar. Ia memperbaiki posisi duduknya sendiri sebelum ia menyedot minumannya lagi. Selesai minum, Ino mendorong posisi gelasnya hingga sedikit menjauh.

Ia mendengkus kemudian.

"Kau tahu kan, Tenten? Aku segan berbicara dengan Sakura sejak ia mengomentariku macam-macam setelah putus dengan Itachi."

"Oh."

"Lagi pula," suara Ino terdengar sedikit mendesis, "aku tak yakin dia akan menanggapiku secara serius. Ya, bayangkan saja, saat aku sedang ada masalah dengan Itachi pun, apa yang bisa dia lakukan untukku? Tak ada."

"Mungkin dia hanya tak ingin terlalu ikut campur urusan kalian?"

"Yeah, right," jawab Ino ketus. "Lalu, kenapa dia harus dengan sengaja, di tempat yang bisa terlihat olehku, saling bertukar komen dengan Itachi? Mereka bahkan tampak tak peduli kalau saat itu aku benar-benar … sedang merasa sakit hati?"

"Hubunganmu dan Itachi tak seharusnya merusak hubungan Sakura dan Itachi, 'kan?"

"Aku tahu!" ujar Ino setengah membentak. Tatapannya tak lagi mengarah pada Tenten. Mata biru pucatnya kini tampak menatap kedua tangannya sendiri yang sudah mengepal di atas meja.

"Aku tahu kalau sebelum Itachi berkencan denganku, ia terlebih dahulu mengenal Sakura. Tapi setidaknya … mereka bisa sedikit memikirkan perasaanku, 'kan? Bercanda-canda di media sosial sementara mereka seharusnya tahu bahwa aku masih bisa melihat mereka …."

Tenten menghela napas. Ia mendorong gelas Ino hingga menyentuh tangan sang perempuan yang sedang diliputi amarah.

"Baiklah, kita hentikan saja cerita soal Sakura. Lalu, bagaimana dengan Itachi dan … perempuan yang entah siapa itu?"

Kepalan tangan Ino tampak melemah. Ia menarik gelasnya sendiri dan merangkum gelas yang berbentuk silinder itu. Butir air dingin yang menjalar keluar gelas akibat adanya es batu di dalam membasahi tangan Ino. Namun, Ino tampak tak terganggu. Bahkan mungkin, ia justru menikmati sensasi dingin yang menenangkan tersebut.

Tenten melihat Ino sejenak memejamkan mata. Ia pun hanya bisa menunggu dengan sabar sampai Ino kembali bersuara. Menjelaskan perihal perasaan, kekalutannya—untuk yang kesekian kali. Kadang Tenten sampai bisa menebak dalam hati, kalimat apa yang akan Ino ucapkan selanjutnya.

Dari pembicaraan mereka kali ini, sudah jelas bagi Tenten, Ino masih belum bisa benar-benar melupakan Itachi. Ino hanya berpura-pura. Tenten pernah berpikir, dari kepura-puraan itu, mungkin Ino akan benar-benar bisa melupakan Itachi dan melangkah maju. Nyatanya ia salah.

Residu perasaan Ino pada Itachi bagaikan racun yang bisa muncul sewaktu-waktu. Tak akan bisa bersih sampai ia tahu mengapa Itachi begitu spesial bagi seorang Yamanaka Ino.

"Hei, Ino," sela Tenten. "Itachi … bukan yang pertama bagimu, 'kan?"

Mata Ino tampak terbelalak sesaat. Tenten bisa menduga bahwa temannya itu kaget karena ia memotong pembicaraan dengan topik yang tak terduga.

Namun, selanjutnya Ino menjawab tanpa ragu. "Bukan," ujarnya sambil menghela napas.

"Kalau begitu," Tenten menyerah—lebih baik ia biarkan Ino sendiri yang berpikir, "kenapa kau sebegitunya tak bisa lepas dari Itachi? Apa yang membuatnya begitu spesial untukmu?"

Ino terdiam. Ia memandang Tenten dalam-dalam.

Namun, pikirannya tampak sudah tak berada di sana.

Apa yang membuat seorang Uchiha Itachi begitu berharga untuk Yamanaka Ino?

***TO BE CONTINUED***


A/N: Haaii! Akhirnya saya bisa lanjutin fanfik ini. Padahal niatnya mau update teratur tiap minggu, tapi apa daya, ada ini-itu jadi agak telantar. Terus, maaf aku belum bisa bales-balesin review yang masuk, tapi … aku senang banget masih ada yang baca dan review fanfik ini!

Many thanks for your continuous support! :*

Ke depannya pun, aku masih akan nunggu review kalian. Semoga fanfik ini masih bisa menghibur, ya! Oke, sekian dulu.

With love,

Suu.