CHRYSANT
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Mysteri, Romance
.
.
.
Hinata dan Sasuke menuju Rumah sakit yang menjadi tempat pemeriksaan mayat Sakura. Bau obat-obatan yang menyengat sudah memenuhi indra penciuman Hinata. Mereka mencari dokter Tsunade di ruangannya.
"Jadi kalian ingin mengetahui tentang mayat gadis berambut pink itu?" Tsunade memperbaiki letak kacamatanya.
Sesosok mayat yang dibawa kemari beberapa minggu yang lalu membuat wanita itu terkejut. Bagaimana tidak, dia seorang gadis SMA. Sayang sekali umurnya tidak panjang, apalagi dia meninggal dengan cara yang tragis.
"Apa ada informasi yang kalian sembunyikan?" tanya Sasuke to the point.
"Bisakah pertanyaanmu lebih sopan lagi?" Tegur seorang perawat yang memakai tag name dengan nama Shizune.
"Maaf, teman saya memang tidak pandai berbicara." Timpal Hinata sambil tersenyum pada Shizune membuat Sasuke mendecih.
Dokter Tsunade memeriksa beberapa dokumen yang ia simpan di lacinya. Sebuah dokumen dengan sampul warna hijau sudah di tangannya. Tsunade menghampiri mereka dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Apa hubungan kalian dengan gadis bernama Haruno Sakura ini?" tanya Tsunade.
"Saya temannya dan orang yang di samping saya adalah calon tunangannya." Jawab Hinata.
"Jadi kau akan bertunangan dengan gadis malang itu? Kau pasti sangat tertekan saat mendengar berita ini." Kata Tsunade. "Sepertinya ada yang sengaja mencelakai gadis itu."
Sasuke dan Hinata terkejut mendengarnya. Meskipun mereka sudah menduganya tetapi pernyataan ini masih terasa mengejutkan.
"Bisakah Anda menjelaskannya?" tanya Hinata penasaran.
"Sakura jatuh dari tangga. Kalau dia terjatuh tanpa sengaja biasanya pergelangan tangan atau telapak tangannya akan retak akibat gerak refleks yang dia lakukan untuk menopang tubuhnya." Kata Tsunade menjelaskan. "Berbeda kalau ada orang yang sengaja mendorongnya."
Penjelasan Tsunade membuat mereka semua terdiam. Sekarang sudah jelas kalau ada yang berniat membunuh gadis musim semi itu. Siapa pembunuhnya masih menjadi misteri.
0oooOooo0
.
Sasuke pulang ke rumah dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di otak jeniusnya. Ada seorang pembunuh yang harus ia waspadai, apalagi kemarin Hinata mendapat bunga krisan yang sudah pasti dikirim oleh pembunuh itu. Apa yang harus dia lakukan? Dia bahkan tidak memiliki petunjuk apapun untuk mengusut kasus ini.
Haruno Sakura. Seorang gadis yang hampir menjadi tunangannya. Sebenarnya Sasuke tidak punya perasaan apapun pada gadis itu, tetapi ayahnya lah yang memaksanya untuk menyetujui perjodohan tersebut. Setahu Sasuke, sebelumnya keluarga mereka tidak cukup dekat. Rasanya aneh kalau tiba-tiba Uchiha dan Haruno memutuskan mengadakan perjodohan.
"Hei, apa yang kau pikirkan. Adikku tersayang?" Kata Itachi yang tidak tahu kapan dia muncul tiba-tiba sudah duduk santai di samping Sasuke.
"Hn, kasus pembunuhan."
Kasus pembunuhan? Sejak kapan adiknya memikirkan hal se-aneh itu? Apa dia baru saja menonton berita di televisi?
"Jangan bercanda, itu tidak lucu malah terdengar menyeramkan."
"Aku sedang tidak bercanda baka aniki! Sakura meninggal karena dibunuh."
Itachi membetulkan posisi duduknya lalu menatap adik kesayangannya itu dengan serius.
"Kau tidak bercanda? Tapi kenapa kau berpikir begitu?"
"Ada yang mendorongnya dari tangga. Aku sudah memastikannya melalui dokter yang memeriksa mayatnya."
"Sakura dibunuh? Apa motif pembunuhan itu?"
"Itulah yang sedang aku pikirkan. Kenapa dia harus dibunuh?"
"Apa dia memiliki musuh?" tanya Itachi.
"Aku tidak tahu, tapi dia dan Hinata saling membenci."
"Hinata? Gadis yang kau ceritakan waktu itu? Dia amnesia kan?"
"Iya, dia hilang ingatan setelah mengalami kecelakaan. Kecelakaan itu terjadi pada malam yang sama saat kematian Sakura." Kata Sasuke. Itachi menatapnya terkejut. "Aku tahu apa yang kau pikirkan, Aniki. Tapi aku percaya pada gadis itu. Meskipun dulu sikapnya sangat buruk tetapi dia gadis yang baik."
"Ya, ya, aku mengerti. Tapi apa dia tidak menyukaimu?"
Sasuke hanya diam. Kalau dia menjawab "iya" apakah Itachi akan mencurigai Hinata? Membunuh hanya karena cinta? Itu sangat konyol.
"Sasuke, hanya ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, Hinata adalah saksi mata dari pembunuhan Sakura. Dia pasti sangat shock sampai tidak memperhatikan jalan dan terjadilah kecelakaan yang merenggut ingatannya. Kedua, Hinata lah pembunuhnya."
"Kemungkinan pertama memang masuk akal. Tapi yang kedua itu sangat tidak masuk akal!"
"Yeah, itu terserah padamu. Kalau kau yakin bukan dia pelakunya, maka nyawa Hinata saat ini dalam bahaya. Apalagi sekarang dia sedang berusaha menyelidiki kasus itu." kata Itachi. "Kasihan sekali Sakura, padahal dia hampir menjadi tunanganmu. Apa kau tahu, keluarga Sakura sangat menginginkan pertunangan ini. Mereka bahkan memberikan investasi yang sangat besar pada perusahaan kita."
Sasuke memutar bola matanya. "Sudah kuduga. Pantas saja ayah sangat menyetujui perjodohan ini."
"Sebenarnya mereka memaksa untuk mempercepat pernikahan kalian."
"Apa maksudmu?"
"Kau seharusnya menikah dengan Sakura bulan depan."
"Tapi kami bahkan masih kelas 2 SMA. Apa yang mereka pikirkan?"
"Entahlah, yang aku tahu dana itu tidak akan diberikan sebelum pernikahan kalian."
Sasuke sudah tidak mengerti dengan pola pikir ayahnya. Apa-apaan ini? Apakah dia menjual Sasuke?
0oooOooo0
Musim dingin sepertinya tidak lama lagi akan berakhir. Setelah itu datanglah musim semi. Bunga Sakura akan bermekaran dan menjadikan pemandangan yang indah. Tapi apakah kasus ini juga akan berakhir seperti halnya musim dingin?
Terik matahari dengan anggunnya menimpa seorang pemuda yang sedang berdiri di tengah lapangan. Semua orang yang lewat pasti akan meluangkan waktu beberapa detik untuk memandangi pemuda berambut merah itu. Kali ini bukan tatapan kagum karena ketampanannya melainkan tatapan heran mengapa pemuda bak malaikat ini dihukum? Yeah, itu hanya pemikiran beberapa orang murid yang baru pertama kali melihat Gaara dijemur di tengah lapangan. Pemuda itu sudah sangat sering mencicipi silaunya mentari di pagi menjelang siang seperti sekarang ini.
Hinata yang kebetulan lewat pun sedikit terkejut melihat keadaan teman sekelasnya ini. Kemarin dia sempat melihat Gaara dinasihati oleh guru Kakashi karena ke-nakalannya. Sebetulnya pemuda ini baik hanya saja dia suka membuat onar.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Hinata sambil memberikan sebotol air minum –tentunya setelah hukuman itu selesai.
Gaara menerimanya lalu duduk di sebelah gadis indigo itu.
"Terimakasih," kata Gaara. "Dulu kau tidak se-baik ini."
Hinata tersenyum mendengarnya. Dia bersyukur masih bisa diberi kesempatan untuk merubah sikapnya.
"Akhir-akhir ini aku sering melihatmu bersama pemuda itu."
"Sasuke maksudmu? Ya, aku sedang menyelidiki kasus kematian Sakura."
"Hm, apa hanya itu? bukankah kau menyukainya?"
"Hei, kau terdengar seperti orang yang sedang cemburu." Goda Hinata membuat Gaara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia mirip Naruto kalau bertingkah seperti ini. Naruto adalah sahabat Hinata yang Ino ceritakan beberapa waktu yang lalu.
"Benarkah?" Tanya Gaara, Hinata mengangguk. "Lalu bagaimana perkembangan kasus itu?" Gaara mengalihkan pembicaraan.
"Ini kasus pembunuhan."
Gaara sedikit terkejut mendengarnya. "Sudah kuduga, memang sedikit aneh kalau Sakura meninggal dengan cara seperti itu. Apa kau sudah tahu siapa pelakunya?"
"Belum. Bahkan aku belum tahu motif dari pembunuhan itu."
"Kau harus berhati-hati, Hinata. Pembunuh itu pasti tidak akan tinggal diam."
"Aku tahu, aku akan berhati-hati." Kata Hinata. "Gaara, apa masuk akal kalau aku mencurigai Karin?"
"Karin? Kenapa kau mencurigai dia?"
"Entahlah, aku rasa dia yang mengirim bunga krisan pada Sakura. Tapi aku tidak yakin kalau dia pembunuhnya."
Gaara menatap gadis bermata lavender itu. Mata yang dulu bahkan tidak pernah melirik ke arahnya. Ada perasaan aneh yang baru kali ini Gaara rasakan dalam hatinya.
0oooOooo0
Perpustakaan sekarang menjadi tempat favorit bagi Hinata. Dilihatnya seorang pemuda –yang selalu membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat– sedang membaca sebuah buku tebal berjudul "67455" Itu adalah novel yang Hinata baca beberapa waktu lalu. Judulnya cukup aneh tapi itu justru menarik perhatian Hinata untuk membacanya. Novel itu menceritakan tentang seorang gadis bernama Krystal yang mencari pembunuh adiknya. Sebuah novel ber-genre misteri yang cukup menegangkan, sayangnya Hinata belum selesai membacanya.
"Kau suka novel itu? bagaimana akhir ceritanya? Aku belum sempat membacanya sampai selesai." Ucap Hinata.
Sasuke memandangnya sebentar lalu kembali melanjutkan bacaannya. "Aku baru saja membacanya. Kalau kau penasaran, baca saja sendiri." Kata Sasuke datar.
"Ya, baiklah, aku akan membacanya nanti."
"Tadi aku melihat kau bersama Gaara. Sejak kapan kau dekat dengan pemuda berandal itu?" tanya Sasuke.
"Dia pendengar yang baik, aku suka bicara dengannya." Kata Hinata membuat Sasuke menaruh novelnya di meja. Sepertinya dia sudah tidak berniat membaca novel itu lagi.
"Sasuke, sepertinya kita harus mencari tahu kenapa keluarga Sakura tidak penasaran soal kematian putrinya."
"Mungkin mereka tidak peduli. Aku rasa Sakura bernasib sama sepertiku. Dia dijual hanya untuk bisnis." Setelah mengatakan itu Sasuke langsung pergi dari hadapan Hinata.
Hinata mengambil buku yang ditinggalkan oleh Sasuke. Mungkin Hinata harus menyelesaikan bacaannya sekarang.
.
.
Gadis berambut indigo itu berjalan sambil melamun. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Setelah membaca novel tadi perasaannya menjadi tidak tenang. Sebelumnya, Hinata tidak pernah merasa seperti ini saat membaca novel dengan twist ending yang mengejutkan. Tetapi yang ini berbeda, ternyata Krystal sendirilah yang telah membunuh adiknya.
Oh, ayolah Hinata! Bagaimana bisa sebuah novel memperngaruhi pikiranmu sejauh itu?
BRUKK!
Tumpukan buku-buku pelajaran berserakan di lantai. Yeah, Hinata sudah menabrak seseorang dan dia adalah seorang gadis bercepol dua. Siapa namanya? Hinata tidak tahu.
"Maaf, aku benar-benar menyesal." Kata Hinata sambil membantu membereskan buku yang Tenten bawa.
Gadis itu terlihat tidak nyaman saat Hinata membantunya. Dia terlihat ketakutan. Hinata yang menyadari raut wajah gadis itu pun langsung bertanya.
"Ada apa?" tanya Hinata.
"T-tidak, a-aku harus pergi." Ucap Tenten lalu berdiri dengan cepat kemudian pergi menjauh dari Hinata.
Hinata menarik lengan Tenten. "Kenapa? Kau mencoba menghindariku?"
0oooOooo0
Hinata berjalan dengan lemas menuju kamarnya. Sekarang dia memiliki sebuah informasi yang penting tetapi bukannya membantu malah membuat semuanya tambah rumit.
Kau pernah menaruh sesuatu di makanan Sakura.
Ucapan gadis bernama Tenten itu membuat Hinata terkejut. Dia menaruh sesuatu di makanan milik Sakura? apa Hinata pernah mencoba mencelakai Sakura?
"Apa kau yakin itu aku?"
"Tidak juga, aku tidak melihatmu tapi kau lah satu-satunya orang yang berada di kelas. Setelah itu Sakura mual-mual dan pusing lalu dia pulang ke rumah dan tidak berangkat selama tiga hari karena sakit."
"Lalu apa yang membuatmu yakin kalau itu aku?"
"Aku menemukan botol aneh di laci mejamu."
Hinata membuka laci meja di rumahnya. Dia menemukan sesuatu yang sama sekali tidak ia duga. Sebuah botol obat pencuci perut dan kartu kecil tanda pembayaran Bunga Krisan toko bunga Sunshine. Hinata terbelalak, ini bukan miliknya 'kan? Kalau ini memang miliknya, berarti dia sendiri pembunuhnya?
Hinata membuka buku diari'nya. Sebuah tulisan yang menjelaskan semuanya ia baca dengan perasaan takut kalau itu memang benar.
Aku membenci Sakura! aku ingin membunuhnya...
Hinata lah pembunuh yang sebenarnya? Jadi selama ini dia mencari dirinya sendiri?
Entah apa yang Hinata pikirkan, dengan cepat dia kembali ke sekolah. Dia harus mencari tahu sesuatu!
0oooOooo0
Sudah lebih dari 1 jam Sasuke mencari keberadaan gadis berambut indigo itu. Ini aneh, baru saja Sasuke meninggalkannya di perpustakaan tetapi sekarang entah kemana gadis itu pergi. Di kelasnya juga tidak ada. Di mana dia sebenarnya?
Sasuke menuju tempat loker, siapa tahu dia bisa menemukan Hinata di sana.
Suara isakan yang menyakitkan terdengar di koridor yang Sasuke lewati. Dan benar saja, gadis yang dia cari rupanya sedang duduk meringkuk sambil menangis. Kenapa dia? Apa yang terjadi?
"Hinata?"
Hinata mengangkat kepalanya. Mata lavendernya basah karena air mata.
"S-sasuke, ternyata aku ... aku yang menyelakai Sakura."
"Apa maksudmu? Kau bercanda kan?"
"T-tidak, a-aku pernah mencoba mencelakai Sakura dan aku menemukan ini di rumahku." Kata Hinata sambil menyerahkan kartu dengan logo "Sunshine" di atas sebelah kirinya. "Itu toko bunga yang mengirim krisan pada Sakura."
Sasuke terkejut, "K-kau..."
"Aku pembunuh! Aku lah yang membunuh Sakura!" teriak Hinata histeris.
"Tidak mungkin!"
"Aku adalah gadis yang jahat!"
"Diam!"
"Ternyata selama ini aku mencari diriku sendiri,"
"Diam!"
"Kau tahu novel yang kau baca tadi? Itu sangat mirip dengan ceritaku," Hinata semakin terisak. "Novel itu lah kuncinya."
"Aku bilang diam!" Bentak Sasuke dengan suara yang tinggi. "Lihat aku!"
Hinata menatap iris kelam Sasuke. Mata yang selalu memancarkan pesonanya, mata yang selalu dia inginkan untuk menatapnya.
"Semuanya sudah jelas, Sasuke." Kata Hinata. "Maafkan aku,"
Sasuke segera menarik Hinata ke pelukannya. "Kau ini berisik sekali, ya."
Hinata menangis sejadi-jadinya. Dia tidak bisa menerima kenyataan ini. Hatinya seakan tercabik dan membuat luka yang sakitnya bahkan tidak pernah Hinata bayangkan. Benarkah Hinata se-keji itu? membunuh Sakura, teman sekelasnya?
"S-sasuke–"
"Ssst, diam. Dengarkan ucapanku baik-baik," kata Sasuke. "Kau bukanlah pembunuh! Bukan kau yang membunuh Sakura. Ada orang yang ingin membuatmu percaya bahwa kau yang melakukannya."
"Tapi siapa orang itu?"
"Kita akan mencarinya bersama-sama," ucap Sasuke sambil mempererat pelukannya.
"Aku ... aku sangat takut."
"Semuanya akan baik-baik saja," kata Sasuke yang bahkan dia sendiri tidak yakin. "Tidak apa-apa, aku akan selalu ada di sampingmu."
"Terimakasih," ucap Hinata lalu bangkit untuk berdiri.
Tiba-tiba pintu lokernya terbuka. Suara decitannya membuat mereka menoleh ke sumber suara.
"Aku rasa, aku lupa menguncinya." Hinata mencoba menutup pintu lokernya tetapi sesuatu yang selalu mengganggunya ada di sana.
Bunga krisan dan sebuah surat bertuliskan "KAU HARUS MERASAKAN APA YANG SAKURA RASAKAN!"
Hinata tersentak kaget, ini kedua kalinya ada yang menaruh bunga krisan di lokernya. Siapa yang menerornya?
Tanpa mereka sadari sepasang mata milik pemuda beralis tebal sedang mengawasi mereka. Bibirnya terangkat membuat sebuah seringai tipis di wajahnya.
To be continued...
A/N : Gomen ne kalau kurang memuaskan para reader, aku tunggu komentarnya di kolom riview.
Oh ya gimana chap ini? sudah ada gambaran siapa pembunuhnya kah? kalian pinter-pinter kok nebaknya :3
See u next chap ^_^
