Gadis itu melangkahkan kakinya ke dalam kamar duluan. Ia memandang sekeliling kamar. Kamar itu besar. Ada satu meja rias, televisi, kaca yang tertempel di dinding setinggi gadis itu, satu sofa panjang, lemari, dan tempat tidur berukuran king size. Semua berwarna hitam perpaduan putih, minimalis.
Mata gadis itu tertuju pada sofa dan ia berseru, "Hei, Takao. Kau tidur di sofa," perintahnya dan Takao baru saja masuk ke kamar itu.
"Kau dengar tidak?" Gadis itu berjalan ke tempat tidur, merebahkan dirinya di atas kasur besar itu. Memonopoli kasur itu untuk dirinya sendiri.
"Apa?" tanya Takao.
Gadis itu mencari remote televisi, sambil berkata, "Kau tidur di sofa, Takao." Remote televisi sudah di tangannya. Ia menyalakan televisi dan menikmati acara yang ada di televisi itu.
Alis Takao naik sebelah. Kesal disuruh tidur di sofa. Remote televisi di tangan gadis itu di ambil secara paksa. Gadis itu pun kaget. Gadis itu menguatkan pegangannya agar remote tersebut tidak diambil—atau dicuri Takao. Tarik-menarik memperebutkan remote terjadi.
"Hei, Takao! Lepaskan." Tangan kiri gadis itu memukul lengan Takao.
"Aw! Jangan main pukul, hoi!" Takao sedikit jengkel.
Si gadis tidak mau mengalah, jumlah pukulan dari gadis itu jadi meningkat.
"Aw! Aw! Aw!" Takao geram, salah satu tangan Takao yang sedang bebas memegang pergelangan tangan gadis itu. Mata gadis itu membulat.
"Akhirnya pukulannya berhenti." Takao mendesah lega. Namun, posisi mereka sekarang benar-benar seperti mau malam pertama.
Si gadis dengan posisi tidur, Takao di atasnya dengan memegang kedua tangan gadis itu, saling memandang. Posisi mereka bertahan beberapa menit. Bila dibiarkan lebih lama mungkin gadis itu akan terbuai dengan tatapan Takao yang memabukkan dan hal itu tidak boleh terjadi. Kaki gadis yang sedang bebas itu menendang betis Takao.
Duak! Takao mengerang tertahan, tetapi matanya melotot pada gadis itu. Tangan Takao melepaskan tangan gadis itu untuk mengusap betisnya. Tangan gadis itu kembali bebas disusul dengan tertawa bebasnya.
"Rasakan itu," sela gadis itu masih dengan tertawa.
Takao mendesis tidak jelas. Berpikir bagaimana bisa dia tertarik dengan gadis sebuas ini.
Tawa gadis itu mulai memudar berganti menjadi tatapan serius kepada Takao. "Satu lagi, jangan lakukan kebiasaan saat kau tidur di sini." Gadis itu memperingatkan Takao. Takao hanya menganggukan wajahnya.
.
.
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Desember
by Chieko Akane
Warning: AU. Typo(s). klise. Perubahan kata untuk orang ketiga akan sedikit membuat bingung.
Birthday fict for my beloved friend, Ryuu.
.
.
Chapter 4
"Kau tidak mandi?" tanya Takao kepada gadis itu.
Gadis itu masih memperhatikan televisi. "Kau duluan," kata gadis itu tanpa memalingkan mukanya.
Takao mengangkat bahu, lalu melepas bajunya di depan pintu kamar mandi. Gadis itu tersentak kaget. Tentu saja, pintu kamar mandi terdapat di sebelah televisi. Badan seksi Takao pasti terlihat oleh mata gadis itu dengan jelas.
"Mesum! Buka bajumu di dalam kamar mandi, jangan di sini!" Gadis itu tidak bisa menahan semburat merah yang menghiasi pipinya sekarang.
Takao hanya terkekeh geli. Pintu kamar mandi dibuka, Takao masuk ke dalam kamar mandi lalu menutupnya.
.
.
10 menit kemudian. Takao keluar dari kamar mandi. Beberapa bulir air jatuh menghiasi lantai kamar itu —rambut Takao basah. Handuk berwarna putih melingkari lehernya. Dia masih bertelanjang dada, tubuhnya atletis. Gadis itu tidak sadar bahwa ia memperhatikan Takao, tak bisa dipungkuri bahwa Takao yang sekarang memang menggairahkan.
Takao masih berdiri di depan pintu kamar mandi, tangannya mengambil handuk yang ada di lehernya, dipindahkan ke kepala dan mengusap rambutnya berharap cepat kering. Takao melihat gadis itu dari sudut matanya, ia sadar bila diperhatikan. Ia mengambil langkah mendekati tempat tidur.
Gadis itu masih tak bereaksi. Mungkin terlena ditelan imajinasi liarnya. Muncullah ide nakal Takao. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu meniup telinganya. Gadis itu bergidik geli.
Buk! Satu bantal mendarat di sisi wajah Takao. Meskipun gadis itu tidak beranjak, tapi tangannya masih aktif untuk menyerang Takao. Serangan mendadak gadis itu sudah seperti suatu kebiasaan yang harus diterima Takao, jadi tidak perlu kaget lagi.
"Jangan kira kau bisa mengerjaiku, ya!"
"Tapi aku bisa. Buktinya wajahmu memerah," kata Takao seraya tertawa ringan. Takao duduk di samping ranjang tepat sebelah gadis itu.
Gadis itu menarik selimutnya dengan cepat dan menyembunyikan dirinya di dalam selimut itu. Tidak ingin berurusan lebih dengan Takao dan memilih tidur. Takao berdiri, berjalan menuju sofa untuk tidur.
Di dalam selimut gadis itu masih aktif memperhatikan Takao yang tidur di atas sofa, tepat disebelah ranjang gadis itu. Dan pada malam itu dia menyadari Takao sudah mengambil sedikit tempat di dalam hatinya.
.
.
Cahaya mentari bertubi-tubi menusuk indra pengelihatan gadis itu. Memaksa dirinya untuk bangun. Gadis itu melihat sofa di sebelahnya, Takao masih tidur dengan tenang di sana.
Gadis itu sadar ia belum mandi dari kemarin malam dan ia memutuskan untuk berendam di pagi hari. Gadis itu menapakkan kakinya ke lantai, menuju arah jendela yang ada di sebelah sofa. Pagi yang cerah, padahal kemarin ada badai salju hebat, pikirnya. Gadis itu kembali memandangi wajah Takao. Tidurnya begitu damai. Gadis itu mendekatkan dirinya pada Takao. Ingin melihat wajah Takao dari dekat.
—srak. Tangan Takao menarik dirinya ke dalam pelukan Takao. Gadis itu bisa merasakan hangatnya sentuhan Takao. Takao memang tidur dengan bertelanjang dada bahkan ia bisa merasakan detak jantung Takao. Mata gadis itu kembali memperhatikan Takao. Takao menggumam tidak jelas. Tapi ia yakin, namanya disebut oleh Takao. Degupan jantung gadis itu mulai berpacu. Sial.
Gadis itu berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Takao. Sebenarnya tidak perlu berusaha karena ia bisa melepaskan dirinya dengan mudah. Tidak sepertinya sebelumnya, ia harus memukul Takao terlebih dahulu. Gadis itu pun beranjak ke kamar mandi.
Takao terbangun. Ia mengambil posisi duduk. Dua jarinya memijit pangkal hidungnya. "Apa kau tak tahu betapa aku berusaha menahan diriku semalam?" Takao menghela nafas.
.
.
.
.
Hanamiya mondar-mandir di depan apartemen gadis itu. Heran. Kemana gadis itu pergi. Hanamiya melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, sudah jam 4 sore. Kenapa gadis ini belum kembali. Sebagai saudara tentu saja ia khawatir. Di lain sisi, gadis itu harus mengantar barang pagi tadi. Lihat saja kalau ketemu, tidak akan ada bayaran hari ini.
Pandangan Hanamiya kembali lurus menatap koridor di lorong apartemennya. Ia melihat gadis itu berjalan dengan tetangga baru. Alis Hanamiya naik satu. Ternyata anak itu pacaran dengan tetangga baru, tapi tidak mau mengaku.
"Ehem." Hanamiya berdehem dari jauh. Deheman yang dibuat-buat agar gadis itu menyadari dirinya. Di sisi lain Takao sudah masuk ke ruangannya.
"Ah, Hana!" Gadis itu menyapanya dengan riang. "Kenapa kau di sini?" tanyanya seraya mengambil kunci dari saku celananya dan memasukkan kuncinya ke lubang kunci.
"Kemana saja kau? Seharusnya kau mengantar barang pagi tadi." Hanamiya bercakak pinggang. Gayanya sudah seperti ibu-ibu yang memarahi anaknya.
"Aku menonton konser oldcodex. Kau tahu mereka kan? Si Takao —tetangga baru— menawarkan salah satu tiketnya padaku. Kesempatan langkah, bukan? Tentu saja tidak kusia-siakan." Pintu apartemen telah terbuka. "Sudah dulu, ya," pamit gadis itu lalu menutup pintunya.
"Aku belum selesai bicara!" seru Hanamiya dari luar. Awas saja gadis cilik itu, pekerjaannya akan dilipatgandakan.
.
.
Gadis itu keluar dari kamar mandinya dan berjalan menuju kamar tidurnya, ponsel yang ia taruh di atas ranjang pun berbunyi singkat. Ia segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.
1 missed call.
Aida Riko.
Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Mengapa Riko menghubunginya. Gadis itu tahu Riko bukan seseorang yang menghubungi jika tak penting. Tidak ingin menerka hal yang tidak pasti, gadis itu menelpon Riko untuk mendapatkan jawaban pasti.
Gadis itu melangkahkan kaki menuju balkon kamarnya, untuk mendapatkan sinyal yang lebih. Menunggu mendapatkan jawaban, gadis itu pun melihat ke balkon sebelah. Tak di sangka Takao berada di balkon kamarnya, terduduk di lantai. Seperti biasa Takao selalu menyanyi sambil memetikkan gitar di sana.
"Ada apa?"
"Ha?"
"Kenapa kau menelponku," jawab Riko dari ujung sana.
"Ah, maaf Riko." Gadis itu berdehem singkat, "Kenapa kau menelponku tadi?"
Riko berdiam, tidak langsung menjawab. Menurut gadis itu, mungkin ini hal yang penting.
"Begini … Kemarin aku,"
"…"
"Riko, hei!" Gadis itu kesal. Ia melihat layar ponselnya. Sial, baterainya habis. Di saat mengatakan sesuatu yang membuatnya penasaran seperti ini kenapa baterainya harus habis?
"Hei," panggil seseorang.
Gadis itu mencari asal suara yang memanggilnya. Takao rupanya.
Takao memberhentikan petikannya. "Bukannya sekarang waktumu untuk memasakkan sesuatu untuk kita?"
Gadis itu mendengus. Mengingat perjanjian yang ia buat dengan Takao dua hari yang lalu. "Ya, aku akan memasak. Masuklah ke apartemenku, tidak dikunci."
Gadis itu kembali masuk ke dalam kamarnya.
Tidak lama setelah itu, Takao sudah berada di depan pintu apartemen gadis itu. Gadis itu menyuruhnya masuk. Mereka menuju meja makan bersama. Menu hari ini adalah kare. Semua peralatan makan telah disediakan. Takao tak perlu repot-repot mengambil lagi dan mereka memulai makan.
"Takao," panggil gadis itu.
"Hm?"
"Sebenarnya profesimu apa?" gadis itu bertanya tanpa menatap Takao.
"Penyanyi di sebuah café, tidak terlalu istimewa."
"Oh, mengapa tidak mencoba jadi artis atau membentuk band?"
"Aku tidak suka kehidupan pribadiku diusik," jawab Takao enggan.
Gadis itu merasa ada sesuatu yang aneh pada Takao. Takao menjadi pendiam. Tidak jahil seperti biasanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Gadis itu bukan siapa-siapa. Ia merasa tidak berhak bertanya kenapa. Makan malam mereka berlalu dengan hambar. Sesudah mencuci peralatan makan Takao kembali ke kamarnya.
.
.
Gadis itu masuk ke kamarnya. Sebuah syal hitam yang tergantung di balik pintu kamar mencuri perhatian gadis itu. Syal Takao, batinnya. Gadis itu menyambar syal itu, berencana mengembalikan syal itu pada Takao.
Suara bel apartemen Takao telah dibunyikan berkali-kali. Namun, Takao tak kunjung keluar. Gadis itu penasaran. Ada yang aneh. Gadis itu membuka pintu apartemen Takao.
Pintunya terbuka, tidak di kunci. Gadis itu mengucap permisi walaupun tidak ada siapapun di ruangan utama. Gadis itu memandang apartemen Takao. Meskipun Takao laki-laki. Apartemennya sangatlah rapi. Gadis itu mencoba masuk ke satu persatu ruangan yang ada di apartemen Takao.
Dapur. Takao tidak ada.
Ruang makan juga tidak ada.
Gadis itu masuk ke kamar Takao perhatiannya terpusat pada Takao yang jatuh di sebelah tempat tidur. Dengan cepat gadis itu menghampiri Takao.
"Hei," panggilnya dengan menepuk pipi Takao pelan.
Wajah Takao memerah. Gadis itu menempelkan telapak tangannya pada dahi Takao. Panas. Takao masuk angin. Ah, mungkin gara-gara kemarin. Dasar makhluk satu ini. Berlagak kuat, tapi keok juga.
Gadis itu menggotong—atau menyeret— Takao ke kasurnya. Takao hanya mendesis tidak jelas.
Gadis itu menuju dapur mengambil sebuah mangkok, diisi air hangat. Serbet bersih yang dia temukan di sebuah cabinet cocok untuk menjadi kompresnya. Ia kembali menuju kamar Takao. Mengompresnya.
Gadsi itu berpikir, kalau begini terus mana bisa sembuh dengan cepat. Ia butuh obat. Gadis itu beranjak kembali ke dapur, mencari obat flu. Nihil, tidak ada. Ia harus pergi ke toserba dekat apartemen mereka.
Gadis itu kembali ke kamar Takao. Menghampiri Takao dan berkata akan meninggalkannya sebentar.
.
.
Malam musim dingin memang dahsyat dinginnya. Gadis itu menggigil selama perjalanan ke toserba. Ia membeli apa yang diperlukannya, tidak memerlukan waktu yang lama. Takao hanya sendiri, pikirnya.
Asap putih hangat mengepul keluar dari sepasang bibir gadis itu. Makin lama makin dingin saja. Sebuah mesin minuman hangat di pinggir jalan mencuri perhatian gadis itu. Gadis itu mencoba berjalan ke mesin itu.
Ada seorang lelaki di sana. Rasanya familiar sekali. "Permisi."
Pada saat laki-laki itu menoleh ke arah gadis itu. Matanya membentuk bulat sempurna. Tubuhnya menjadi kaku. Jantungnya serasa ingin berhenti kapan saja.
"Shin …?"
Laki-laki dari masa lalunya berada tepat di depannya.
.
.
TBC
A/N: Oke! Chapter ini maksa! Serius chapter ini maksa :"D
Maaf kalau jelek, serius. Chi masih sangat kurang dalam penulisan. Maafkan diriku. Huhu. Kritik yang membangun sangat diperluka :D
Ryuukaze Hikari: Eh? Bingung di bagian yang mana? Chi masih newbie, mohon bimbongannya *bow* tapi terima kasih atas pujiannya 8)
IzumiTetsuya: Ah, kalau untuk itu mungkin aku akan membuatnya di Multi Chapter yang lain. Udah aku putuskan, untuk MC ini tidak menggunakan itu. Maafkan aku! TT_TT
Kurotori Rei: Ah, sayangnya mulai dari chapter ini fluffnya berkurang T.T Chi akan buat jadi hurt, tapi apakah akan kerasa? Chi juga tidak tahu XD
LeafandFlower: Sudah update! Bagaimana? XD
Akane Miyahara: Sekamar, tapi belum bisa berbuat aneh-aneh, sedih :"
Ay Seijuurou: Maafkan diriku, reader sama Takaonya ga ngapa-ngapain TT_TT
: Nah, itu bener~! Agak susah membuat reader percaya sama Takao, bakal rumit juga hubungan mereka. Semoga Chi bisa memuaskan!
Ren-chan11111: Biar kelihatan elit dikit gitu lho 8)
ChocoBanyla: Takao memang bisa menjadi sosok pacar ideal. Tapi jahilnya itu loh, nyebelin abis :" maaf kalau menurut choco-san Takaonya OOC T.T iya, karena sifat jahilnya Takao, reader jadi susah percaya, apalagi reader sudah pernah disakiti sama seseorang *lirik Mido*. Maaf membuat kecewa. Tapi, mereka belum melakukan hal tersebut :" aslinya sih chi ingin juga buat adegan kissu (dan serupa itu) tapi, rasanya ntar jomplang banget XD
PinKrystal: Ah, terima kasih banyak. Chi masih tahap pembelajaran, perlu butuh banyak masukkan :D tolong kritik dan sarannya *bow*
Terima kasih bagi semua yang sudah review, fav dan follow! *bow*
