Hajimemashite, Minna…

Watashiwa ~ Ruki ~ desu

Disclaimer : Tite Kubo-Sensei

Warning : OOC, AU, Typo

Pairing : IchiRuki

Rate : T


Trim'z ama semua yang udah nge'r'viu


Arlheaa

Aizawa Ayumu

Zheone Quin

liekichi Aika

Ray Kurobachan

So-chand cii Mio imutZ

Yuki-ssme

Kurochi Agitohana

yuuna hihara

Ichiruya Ruru Kuchiki

SoraHinase

Jee-ya Zettyra

Yupi -AkaiYuki- Kurosaki

Nyit-Nyit

minami kyookai

ichirukiluna gituloh

erikyonkichi

edogawa Luffy

Shinigami Yui Kurosaki

Aine Higurashi

bl3achtou4ro


^_^ Kilas balik chap 3


Masa lalu telah terungkap, Ichigo berhasil ditolong oleh kakaknya, Kaien. Mungkinkah Ichigo selamat? Dan apa yang akan terjadi dengan arwah penasaran Rukia selanjutnya?


LAST OR FUTURE

== Ruki ==

Chapter 4


Tak bergerak, Ichigo sama sekali tak menunjukkan suatu reaksi yang berarti. Di tekannya perlahan dada bidang lelaki berambut jingga tersebut.

"Kumohon Ichigo, sadarlah…" kata Kaien dalam hati.

*(n_n)*

Dirasa usaha yang dilakukannya sia-sia, kini Kaien menggambil satu langkah berani. Di dekatkannya bibir miliknya mendekat pada mulut Ichigo yang sedikit terbuka. ia teguk sekilas ludah miliknya.

Sebenarnya ia ragu dengan apa yang akan ia lakukan saat ini. Tapi ini adalah keharusan jika ingin adiknya selamat. Ia tutup sepasang mata hijau miliknya.

Ini terlalu membuatnya tak tega, berciuman dengan seorang lelaki bukanlah salah satu cita-citanya. Mendekat, semakin mendekat hampir menyentuh, dan…

"Waaa!" teriak Ichigo saat perlahan ia membuka matanya.

Bagaimana ia tidak terkejut, sebuah bibir lelaki berada di depan matanya begitu saja. Segera ditahannya wajah tampan sang kakak menjauh.

"Apa yang kau lakukan, Bodoh?" teriak Ichigo sambil tetap menjauhkan mulut kakaknya untuk tidak lebih mendekat.

Dengan cepat Kaien membuka sepasang matanya. Ia tersenyum dan memandang adiknya dengan tatapan syukur.

Di lepaskannya perlahan kedua tangan Ichigo dari wajahnya. Dan ia pun mulai menatap adiknya dengan serius.

"Kau baik-baik saja kan, Ichigo?" tanyanya dengan kerutan dalam di dahinya.

Ichigo hanya berwajah datar. Dasar kakak tidak tahu diri, mana mungkin ia baik-baik saja. Ulah Kaien kali ini sudah kelewatan.

"Ah, sudahlah. Jangan memandangku seperti itu," kata Ichigo santai dan langsung mengambil posisi berdiri, melangkahkan kaki menjauhi kakaknya yang masih terdiam di tempat.

Kaien yang masih melihat gurat kesedihan di wajah adiknya pun merasa bersalah sendiri. Dengan segera ia mengambil posisi berdiri, menghadap punggung Ichigo yang semakin menjauhinya.

"Maafkan aku, Ichigo… aku tidak tahu kalau kau masih memikirkan Ru…" kata Kaien penuh sesal namun dengan cepat terpotong oleh omongan Ichigo.

"Tangkap!"

Tanpa berbalik ke arah Kaien, dengan percaya dirinya Ichigo melempar sebuah benda yang sedari tadi digenggamnya. Sepertinya ia yakin bahwa benda itu akan jatuh tepat di atas tangan Kaien.

Gerak reflek dari tubuh Kaien pun bekerja. Dengan sangat baik ia tangkap benda itu. Sebuah bros salju. Bros yang ia ketahui adalah milik Ichigo.

"Buang saja," kata Ichigo dengan nada datar sambil meneruskan langkahnya.

Kaien yang tak bisa melihat wajah Ichigo hanya bisa memasang wajah penuh akan tanda tanya, apakah ia serius? Bukankah beberapa saat yang lalu ia telah mati-matian mengambil benda ini?

"Tapi, bukankah kau…" kata Kaien datar namun kembali terputus.

"Aku sudah tahu, itu pemberian darinya. Dulu aku sudah membuangnya, berarti aku tidak membutuhkannya," kata Ichigo santai dan langsung melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

Ichigo sudah mengetahui semuanya. Gadis itu benar Rukia, dia bukanlah penunggu bros keramat itu, semua hanya kebohongan belaka.

Ia mengingat semuanya dengan sangat jelas. Itulah kado yang Rukia berikan 5 tahun yang lalu. Benda yang sudah di anggapnya sampah.

Sementara itu

"…"

Samar-samar Kaien mendengar suatu suara, seperti suara tangisan. Di alihkannya kedua fokus iris hijaunya ke sekeliling danau. Tak ada seorang pun, lalu suara apa itu?

"Ichigo benar-benar marah padaku…"

Kembali, suara itu terdengar jelas di telinga Kaien. Dan saat ia berbalik, wajah terkejut mulai nampak dari paras tampannya. Seorang gadis dengan rambut hitam dan rok terusan putih di atas lutut terpantul jelas di kedua matanya.

Ia mengenali sosok tersebut, tapi apakah mungkin seseorang yang sudah mati dapat dilihatnya sejelas ini?

"Ka… kau…" kata Kaien ragu tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Dengan perlahan gadis tersebut menoleh ke samping. Ia dapat melihat 'Ichigo kedua' tengah berdiri dengan wajah heran. Segera dihapusnya air mata yang terlanjur membasahi pipinya.

"Kak Kaien," sapa Rukia dengan senyum yang begitu dipaksakan.

"Kau… Rukia? Benar Rukia?" tanya Kaien meyakinkan.

Rukia hanya menjawab dengan isyarat anggukan kepala. Sungguh tak dapat di percaya, ternyata Ichigo tidaklah gila, sosok itu benar-benar nyata ada di hadapannya.

"Bros itu adalah milik Ichigo," kata Rukia sambil melirik sebuah bros yang digenggam Kaien.

Ditatapnya sekilas bros tersebut oleh Kaien. Dia tahu ini milik Ichigo, tapi Ichigo tidak menginginkannya. Memang dari awal dia telah membuangnya.

"Kakak bisa melihatku karena Ichigo yang memberikannya," seolah tahu apa yang ingin Kaien tanyakan, Rukia mengatakan alasan tersebut.

Kaien masih tetap diam di tempat, ia tidak tahu hal apa yang harus ia katakan pada roh penasaran ini. Menghiburnya? Kaien rasa tidak, karena Ichigo benar-benar sudah tak ingin memilikinya.

"Kak Kaien bisa membuangnya sekarang, bukankah dia sudah… emph!" kata Rukia namun terputus.

Dengan cepat dibungkamnya bibir manis Rukia dengan sebelah tangannya. Kaien tak ingin mendengarnya lagi. Rukia sangat menyedihkan di depan matanya. Dipeluknya renggang gadis itu, berharap ia bisa membuatnya sedikit tenang.

"Aku tidak akan membuangnya, kau akan tinggal bersamaku. Dan aku akan membantumu," kata Kaien setenang mungkin.

Dilepaskannya pelukan singkat itu oleh Kaien. Dan di tatapnya dalam sepasang iris violet di depannya.

"Dia pasti mau memaafkanmu, yakinlah!" kata Kaien sambil sedikit mengacak rambut kusut Rukia.

Rukia hanya tersenyum dan ia berharap apa yang dikatakan Kaien adalah benar. Semoga saja.

*(n_n)*

Saat ini Kaien telah kembali tinggal bersama keluarga Kurosaki yang semula tinggal di Tokyo dan bersekolah di sana. Kaien adalah anak pertama yang terpaut satu tahun saja dengan adiknya, Ichigo.

Tak khayal banyak orang mengira Kaien dan Ichigo adalah saudara kembar, karena kemiripan fisik mereka mendukung opini tersebut. Ia akan memasuki sekolah barunya bersama Ichigo dan akan menempati satu tingkat di atas Ichigo yaitu di kelas 3.

Sepanjang hari Kaien menggunakan bros salju pemberian Rukia di seragam sekolahnya. Rukia pun setiap saat berada di samping Kaien, menemaninya mengobrol, melihatnya bertanding basket, atau sekedar membantunya mencari jawaban saat ulangan. Sungguh, pasangan yang saling menguntungkan. Terlebih bagi Kaien.

Saat ini mereka tengah berada di atap sekolah, Rukia berdiri merapat di samping pagar pembatas di hadapannya. Menatap langit biru yang sangat cerah hari ini.

"Langitnya indah sekali, Kak," kata Rukia sambil tetap mengamati luasan biru di atasnya.

Kaien yang semula hanya tiduran di lantai, kini mengambil posisi duduk dan menatap ke arah atas. Terlihat beberapa awan mengotori luasan biru di depan matanya, menurutnya hal itu biasa saja.

"Aku suka dengan langit biru, karena langit birulah yang mempertemukanku dengan seseorang," kata Rukia tertunduk menatap ke arah bawah, rumputan hijau yang sama luasnya.

"Kau ingin menemuinya?" tanya Kaien menatap serius punggung Rukia.

Rukia berbalik dan kini menatap Kaien.

"Kalau aku bisa, pasti akan ku lakukan…" kata Rukia dengan nada sedih.

Kaien menghela napasnya sejenak. Gadis ini masih terlalu polos untuk menerima kenyataan di depan matanya. Bahkan ia tidak tahu, perubahan apa yang Ichigo ciptakan selama ini.

"Ku harap kau tak menyesal, dia sudah berubah," kata Kaien datar sambil berdiri dan melangkah menuju ke arah Rukia.

Nampak wajah penuh akan tanda tanya tercermin sempurna di paras cantiknya. 'Berubah'? Rukia tidak mengerti maksud dari perkataan Kaien.

Sejenak nampak lelaki tinggi berambut hitam itu berpikir, tepatnya mencari cara agar Rukia bisa menemui adiknya, Ichigo.

"Kau roh kan? Mungkinkah kau bisa merasuki tubuh orang lain?" kata Kaien dengan nada tak yakin.

Rukia tak menjawab, karena ia belum mencobanya sama sekali.

"Mungkin? Aku tidak terlalu yakin," kata Rukia datar.

"Kita coba saja, pulang sekolah nanti akan ku bawa kau ke rumah sakit dimana ayah bekerja, mungkin saja ada tubuh yang bisa kau gunakan," kata Kaien santai.

Rukia hanya mengangguk, ia merasa tak yakin dengan hal ini. Tapi apa salahnya ia mencoba. Toh ia disini untuk mendapatkan maaf dari Ichigo. Dan ia harus mendapatkan itu.

Karakura Hospital

Kini Kaien dan Rukia telah sampai di sebuah ruangan yang nampak berukuran sedang, tak terlalu besar, tapi ruangan tersebut cukup membuatnya merinding.

Kamar Mayat

Dengan langkah yang diusahakan tenang, Kaien berjalan memasuki ruangan yang tersohor dengan keangkerannya itu. Nampak lemari lebar dan tinggi di depannya. Dengan laci yang berjumlah lebih dari 30 buah, Kaien yakin di dalamnya pasti berisi beberapa mayat yang bagus untuk bahan percobaannya.

Di bukanya dari urutan nomor 30 lemari es tempat para mayat itu bersarang. Bau khas itu mulai menusuk hidung Kaien, tak dapat ia sangka sebelumnya, ia benar-benar melakukan hal gila ini.

Setelah 15 menit mencari, Rukia masih saja menggelengkan kepala, namun saat ia sampai di nomor 21.

"Ini! Aku mau yang ini! Badan gadis ini mirip denganku!" kata Rukia girang sambil menunjuk seorang gadis mungil dengan rambut berwarna merah sebahu.

Kaien hanya mengangguk sekejap, kemudian menyuruh Rukia untuk masuk ke dalam tubuhnya. Kaien yang sudah jengah dengan bau mayat pun kini melangkahkan kaki untuk menuju ke luar ruangan sejenak. Mengambil napas segar yang sungguh minim di dalam sana.

Disisi lain

Mayat itu mulai bergerak, sepasang matanya mulai terbuka dan dapat dilihat, sepasang mata tersebut berwarna violet indah. Dengan perlahan gadis itu turun dan kini menginjak lantai.

Dengan ragu ia gerakkan tubuh itu perlahan, ia tersenyum. Dengan cepat pula ia mengambil sebuah sprei putih tak jauh darinya. Ia belitkan di tubuh telanjangnya hingga di atas dadanya. Ia nampak senang, ia berhasil.

Cklek!

Pintu terbuka dan nampaklah sosok Kaien yang kini menatap gadis di depannya. Kedua mata tersebut memandang terkejut gadis itu. Seolah-olah ia tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.

"Rukia?" kata Kaien dengan nada ragu.

Rukia hanya tersenyum dan kini berjalan menuju ke arah Kaien.

"Bagaimana penampilanku, Kak? Apakah sangat buruk?" kata Rukia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tak kan pucat lagi seperti mayat yang baru saja ia rasuki.

Kaien masih terkejut, begitu mirip!

"Tidak mungkin… kau memiliki wajahmu! Kau seperti Rukia!" kata Kaien sedikit berteriak.

"APA?"

*(n_n)*

Atap sekolah

Akhir-akhir ini, kehidupan lelaki tampan dengan rambut jingga itu sungguh teramat menyenangkan. Dengan mudah ia bisa mencari hiburan untuk hatinya yang telah terluka.

Memang, wajah tampan adalah salah satu keberuntungan yang dimiliki lelaki tersebut. Tapi apakah ia sadar? Lukanya takkan sembuh dengan cara yang ia lakukan selama ini.

"Ichigo, Kau sedang memikirkan apa sih?" kata suatu suara dengan nada centil.

Ichigo yang semula hanya tiduran di atas lantai kini membuka matanya dan mengambil posisi duduk dengan kaki terselonjor ke depan. Kedua tangannya ia jadikan sebagai penumpu badan dengan cara menegakkannya di belakang tubuh miliknya.

Ditatapnya gadis cantik berambut hijau itu, seringai tajam mulai nampak di bibirnya.

"Aku bosan, dan aku ingin dihibur," kata Ichigo dengan nada licik.

Gadis itu hanya tersenyum centil dan mulai merangkak ke depan Ichigo, mengurung kedua kaki yang terselonjor milik Ichigo dan mensejajarkan wajahnya dengan lelaki itu, jarak mereka amat dekat.

"Oh ya? Bagaimana dengan Si rambut coklat panjang itu? Bukankah dulu kau sering bersamanya?" tanya gadis tersebut kemudian.

Ichigo masih menunjukkan ekspresi datar. Ditatapnya gadis tersebut dan ia berkata,

"Cih! Gadis itu sama saja dengan Ashido, tak berguna!" kata Ichigo sambil membuang mukanya ke samping.

Gadis dengan nama Neliel itu memandang Ichigo heran. Di sentuhnya paras tampan Ichigo dengan sebelah tangannya. Dipaksanya wajah tersebut menatap dirinya kembali.

"Aku bisa membuatmu senang," kata Neliel dengan nada menggoda.

Ichigo hanya menyeringai dan menatap licik gadis yang tengah menggodanya tersebut.

"Oh ya?" tanya Ichigo dengan nada santai.

Tanpa menjawab pertanyaan Ichigo, Neliel langsung mendekatkan wajahnya lebih merapat pada Ichigo. Napas hangat keduanya saling menyapu wajah masing-masing. Dilihatnya oleh Ichigo, dengan senyum manis Neliel berusaha untuk menciumnya.

Ichigo hanya menatap datar gadis tersebut. Ia tidak menolak, tidak menghindar. Tatapannya masih lurus ke depan. Dalam hati ia berkata,

"Cih! Gadis murahan,"

Ichigo membiarkan bibir mereka sejajar dan hampir bertemu, namun…

"Aw!" dengan sekali tarikan di rambut hijaunya, Neliel langsung berteriak menandakan ia kesakitan.

Seseorang menjambak dan menarik rambut hijau itu ke belakang, menjauhkan wajah Neliel dari Ichigo. Ichigo sama sekali tak bereaksi.

Ia menebak, mungkin saja itu Nemu, Soifon atau Inoue, Senna, Momo atau bahkan Lisa, Matsumoto, Harribel dan ya… semua yang telah menemani Ichigo beberapa hari ini.

Mungkin saja mereka tak rela Ichigo mendapatkan mainan baru. Memang, beberapa hari ini Ichigo menjadi sedikit berbeda kepada para pengagumnya. Asal mereka dapat membuat Ichigo senang dan melupakan masalahnya, kenapa tidak?

Begitu seseorang itu berhasil menyeret dan membawa Neliel menjauh dari Ichigo. Segera di lepaskannya tarikan kuat itu. Neliel hanya dapat meringis di tempat.

"Rasakan itu! Dasar gadis penggoda!" kata gadis itu lantang.

Tunggu dulu, Ichigo mengenali jelas suara itu, dengan mata yang melebar sempurna ditatapnya gadis yang kini berdiri tak jauh dari dirinya. Gadis pendek dengan rambut hitam sebahu, dan mata violet indah yang menatapnya sinis.

Apa ia tidak sedang bermimpi? Rukia berdiri di depan matanya, mengenakan seragam sekolahnya. Mungkin saja otak Ichigo benar-benar tak waras kali ini.

"Rukia?" kata Ichigo meyakinkan.

"APA? Kau terkejut melihatku! Ck! Ternyata selama ini kau melakukan hal seperti ini! Sungguh murahan!" teriak Rukia sangat lantang, memandang tajam mata Ichigo.

Di tepisnya oleh Ichigo rasa terkejut dari muka tampannya. Ia ganti wajah terkejut tersebut dengan seringai tajam yang melekuk dari bibirnya. Ia tertawa kemudian.

"Hahaha… Apa pedulimu?" kata Ichigo yang kini telah bangun dan berdiri angkuh dengan sebelah tangan yang ia masukkan ke dalam saku. Menatap Rukia datar.

Rukia yang mulai naik darah pun berjalan cepat menghampiri Ichigo, begitu sampai di depannya, ditariknya kasar kerah baju lelaki tersebut dengan susah payah. Ichigo sampai sedikit membungkuk karena tarikan itu.

"Apa peduliku katamu? Kau gila!" teriak Rukia tepat di depan wajah Ichigo.

Dengan seringai tajam dan gerak cepat, diraihnya pergelangan tangan mungil yang berani mencengkram kerah bajunya. Sebelah tangan yang lain ia keluarkan dari dalam saku dan melingkar erat di pinggul Rukia. Membawanya mendekat bahkan merapat.

Hanya berjarak sehelai hembusan napas. Tubuh Rukia terjinjit oleh pelukan Ichigo, wajah mereka kini berhadapan sangat dekat.

"Kau juga menginginkannya kan, hn?" kata Ichigo dengan nada licik.

Napasnya menerpa sempurna wajah Rukia, dan hal itu berhasil menimbulkan aksen merah di wajah manisnya.

"Le-lepas!" kata Rukia dengan nada terbata.

Ichigo tersenyum dan melepas cengkraman tangannya dari pergelangan tangan Rukia. Kemudian disentuhnya dagu gadis tersebut dengan kasar.

"Aku akan menciummu seperti mereka… Gratis!" kata Ichigo yang kini semakin mendekatkan bibir miliknya menuju bibir Rukia.

Rukia menahan Ichigo dengan kedua tangan yang ia tempelkan pada dada bidang lelaki tinggi tersebut. Namun usahanya sia-sia. Entah kenapa ia tak bisa berteriak saat ini. Kekuatannya kalah banding dengan milik Ichigo.

Dan yang bisa ia lakukan saat ini hanya menutup matanya serapat mungkin, sangat rapat hingga kelopak matanya bergetar. Sedangkan Ichigo masih saja berusaha mencium Rukia.

Dan berhasil, Ichigo berhasil menyentuh sedikit bagian bibir mungil itu, menempel sekilas dan…

Buk!

Satu tinjuan mendarat sempurna di pipi Ichigo, membuat adegan pemaksaan itu terhenti. Pelukan Ichigo pada tubuh Rukia terlepas sedangkan tubuh Ichigo sedikit oleng ke samping dan mundur beberapa langkah.

"Cih! Jangan sentuh dia, Brengsek!"

T`B`C`


Imajinasi Ruki jauh banget... Seandainya ada 3 Genre, bakal Ruki bikin Romance/ Hurt/Comfort/ Fantasy... hahaha, serakah bener nui orang.


Arigatou and Mata Ashita "^_^"


R P

E L

V E

I A

E S

W E