Happy Family
(Too Late For Sorry's Sequel)
.
Author:
.
Deer Luvian
.
Main Cast:
.
Byun Baekhyun (GS)
Park Chanyeol
.
Other Cast:
.
Lu Han (GS)
Kim Jongin
Do Kyungsoo (GS)
Kim Joonmyeon
Byun (Jung) Daehyun
Jung Ilhoon
.
Genre:
.
Drama, Romance, Hurt/Comfort, Family
.
Rated:
.
T-T+
.
Lenght :
.
multi chapter (But everychapter is oneshot)
.
*Disclaimer:
Semua cast yang saya pakai sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa. Dilahirkan oleh kedua orang tua masing-masing dan dibesarkan oleh agensi mereka. SM Ent, maupun yang lainnya. Jalan cerita, ide cerita dan segalanya yang berkaitan dengan cerita sepenuhnya milik author. Kalaupun ada kesamaan cerita saya mohon maaf sebesar-besarnya.
This original stories is mine with pairing before WooGyu and I posted on Asianfanfics so If u feel that u've been read it, please bear it! I just re-make my own stories. Thanks for your attention..
This is genderswitch for several cast.
With Pairing ChanBaek, Slight! HunHan and Other
Please don't bash! Don't plagiat!
DLDR
.
AU! OOC! GS!
.
Thanks!
.
Summary:
Kisah kehidupan Chanyeol dan istri tercintanya Byun Baekhyun yang selama ini ia sia-siakan. Kehidupan rumah tangga sepasang suami istri yang berharap selalu dalam kebahagiaan.
.
.
Happy Reading ^^,
.
Part 04. Jealous?
Jepang..
Negara Jepang...
Pada akhirnya keluarga Park mengalah setelah mendapat desakan yang luar biasa dari keluarga Oh. Siapa lagi kalau bukan Lu ah bukan, Oh Luhan biang keladi dari ini semua? Atas bujuk dan rayu Luhan yang melebihi batas normal, Baekhyun mengiyakan ajakan paksa darinya. Chanyeol hanya menurut. Apa yang dikatakan Baekhyun ia lakukan. Kalau Baekhyun masih keukeuh tidak mau yaa Chanyeol tidak mau juga tapi kalau Baekhyun bilang iya Chanyeol pun juga.
Musim semi kali ini dihabiskan Baekhyun dan keluarga mengeksplor salah satu Kota di Jepang. Baekhyun tak begitu tertarik dengan jalan-jalan bersama keluarga di luar negeri awalnya, namun karena banyak pertimbangan apalagi bisikan setan dari Luhan ia pun memutuskan membawa keluarga ke Jepang. Mungkin ini salah satu cara dirinya agar lebih erat lagi dengan sang keluarga. Walaupun tanpa harus berlibur keluarga Park memang terkenal harmonis. Selain itu, satu-satunya putra keluarga Park yang masih berusia satu tahun itu memang perlu mengenal dunia luar. Dan Baekhyun pikir ini bukan hal yang salah.
Saat ini suasana musim semi jelas terasa di sebuah penginapan kecil tengah kota yang berada di Perfektur Okinawa. Pilihan yang tepat dari seorang Oh Luhan. Ia memang paling jago mencari informasi tentang hal ini. Baekhyun dan Chanyeol ikut saja apa yang dikatakan Luhan saat ia lebih memilih penginapan dalam bentuk rumah seperti ini daripada hotel. Katanya agar lebih leluasa dan bisa menikmati momen-momen bersama. Luhan dan Baekhyun meletakkan tas yang mereka bawa ke kamar masing-masing. Ada dua kamar yang tersedia dengan tempat tidur king size cukup menampung kedua keluarga kecil itu untuk beristirahat. Dapur luas, dua kamar mandi dan tempat berkumpul yang lumayan luas. Dilengkapi perabot yang menjanjikan kenyamanan luar biasa.
Bagi Baekhyun yang merupakan seorang pecinta bunga, Luhan telah memanjakan mata sipitnya dengan taman sebelah tempat mereka menginap. Sepertinya ada gegap gempita dalam menyambut musim semi kali ini. Ribuan bunga tampak tumbuh subur disana memberikan warna yang cantik di pantulan mata kecil Baekhyun. Harum kas musim semi pun turut menyemarakan hari-hari Baekhyun dan keluarga ke depannya.
"Ini sudah malam, kita istirahat saja yaa.." Baekhyun mengambil alih Chanhyun dari gendongan Chanyeol. Langit di luar sana telah menggelap sejak beberapa jam yang lalu. Kedatangan dua keluarga di Okinawa ini memang telah menginjak sore hingga sampai mereka di penginapan malam hari tiba.
Luhan mengangguk, ia menggoyangkan kecil tubuh mungil Sena yang mulai tertidur lelap. "Besok baru kita menjelajahi Okinawa.. Ada beberapa tempat yang indah disini.." Tukasnya pelan.
"Baiklah, ah, apa kalian ini makan lebih dulu? Aku bisa memasakkan untuk kalian.. Tapi apa ada bahan makanan disini?" Tanya Baekhyun seraya berjalan menuju dapur. Ia lupa jika mereka belum makan setibanya di Okinawa. Terakhir kali makan saat transit di Tokyo dan itu sudah beberapa jam yang lalu.
"Ah benar... Kalau aku tidak terlalu lapar.. Aku bisa makan roti Seyeol yang masih ada.. Bagaimana dengan kalian?" Luhan melihat satu persatu Chanyeol dan Sehun yang tengah duduk di depan televisi.
Chanyeol bangkit lalu mendekati Baekhyun. "Kita lapar... Pesan makanan jadi saja.. Aku tidak mau kau kelelahan yeobo.." Tangannya memeluk pinggang Baekhyun. Sedikit mengganggu pergerakan Baekhyun yang tersita akibat tubuh mungil Chanhyun digendongannya.
"Kau saja yang menelpon ya Chanyeol.. Pesan tiga porsi, siapa tahu nanti aku dan Baekhyun ingin makan.." Pinta Luhan.
Chanyeol melepas tangannya dari pinggang Baekhyun. "Baiklah.." Ia merogoh ponselnya dan men-dial nomor telepon tempatnya memesan makanan.
Mungkin ayam goreng yang akan menemani mereka mengingat yang ia ketahui hanya nomor dari sebuah restoran waralaba terbesar di Jepang. Setelah selesai memesan makanan untuk mereka, Chanyeol menyusul Baekhyun yang lebih dulu masuk ke dalam kamar. Ia menyapu ruangan itu denga seksama. Sedikit desah tertahan ia lakukan. Hanya ada satu ranjang disana. Berarti...
Pandangannya mengalih pada Baekhyun yang telah membaringkan tubuhnya dengan posisi miring. Di depannya ada bayi mungil tengah terpejam. Sepertinya Chanhyun menikmati dunia barunya di alam mimpi. Lantas ia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Baekhyun menyadari kedatangan Chanyeol memandangnya dengan pandangan aneh.
"Ada apa denganmu Yeollie?"
Woohun menghela nafas. "Apa Chanhyun akan tidur di tengah?" Tanyanya hati-hati.
Baekhyun bangkit dan memicingkan mata sipitnya. "Maksudmu? Tentu saja dia tidur di tengah... Kenapa?"
"Kita akan kesulitan bercinta nanti.. Pasti Chanhyun menangis saat kita ribut bercinta..." Sahut Chanyeol pelan. Air muka yang terpampang di wajahnya ia buat sesedih mungkin. Sedikit memulung belas kasih dari sang istri.
Alih-alih Baekhyun merasa prihatin, ia justru mendorong tubuh Chanyeol hingga nyaris terjungkal.
"Tuhaaaann... Pikiranmu! Kau ini bagaimana sih Chanyeol... Masih bisa berpikir seperti itu.." Sentak Baekhyun dengan suara sedikit tertahan. Takut sang malaikat kecil akan menangis ketika mendengar suara bentakannya.
Chanyeol meringis kesakitan. Ia mengusap kasar pantatnya. "Baek... Bukankah hal wajar aku meminta jatah? Kenapa..."
"Keluar saja kau Chanyeo! Perut laparmu membuat kau menjadi gila... Sana tunggu pesananmu tiba!" Ucapan Baekhyun memotong kalimat Chanyeol. Tangannya mendorong tubuh Chanyeol yang berusaha duduk kembali di ranjang. Baekhyun hanya menampilkan cengiran lebar setelah ia berhasil mengusir suami tercintanya.
Sebenarnya ia tak masalah dengan itu, hanya saja mereka baru tiba di Jepang. Butuh istirahat dan Chanyeol ingin cepat-cepat bercinta. Apa ia tak memikirkan anak satu-satunya mereka yang juga kelelahan dan butuh kehangatan Baekhyun. Terkadang wanita bermata sipit itu heran dengan sikap kekanakan Chanyeol. Ia sering mengeluh karena tak mendapatkan perhatian yang lebih besar dari Baekhyun. Bukankah kehadiran Chanhyun juga akibat perbuatannya? Tuhan, ada apa dengan suaminya itu?
Sementara lelaki yang tengah murung itu keluar kamar dengan wajah lesu. Ia hanya mendapati Sehun tertidur di depan televisi. Mata besarnya melirik jam yang menggantung. Sudah dua puluh menit sejak ia memesan makanan namun belum diantar. Lalu Chanyeol mendudukkan tubuhnya di sebelah Sehun.
Membosankan...
Tak lama kemudian, tiga porsi ayam goreng tersedia di depan Chanyeol dan Sehun. Pemuda bermata elang itu telah bangun dari tidurnya. Ia tak sanggup menahan godaan dari aroma ayam yang menguar. Chanyeol menatap heran suami Luhan sekaligus teman kerjanya itu. Sedangkan kedua istri mereka sepertinya telah tertidur.
"Kenapa?" Tanya Chanyeol ketus seraya memakan ayam gorengnya ketika arah pandang Sehun menghujam wajahnya. Kerutan di kening Sehun jelas mengatakan lelaki itu heran dengan ekspresi wajahnya.
Sehun melanjutkan makannya dengan cepat. "Ada apa? Wajahmu terlihat muram sekali.." Tanyanya kemudian.
Chanyeol menghela nafasnya frustasi. Ia meletakkan sumpit yang ia pegang lalu menyenderkan tubuhnya.
"Baekhyun tidak mau melayaniku.."
"Uhhuukk..." Sehun terbatuk. Ia menelan paksa gumpalan ayam dan menatap bingung Chanyeol.
Chanyeol memutar bola matanya. "Bercinta, dia tidak mau bercinta denganku.. Jangankan itu, sekarang ia lebih memilih tidur dengan Chanhyun daripada aku..." Jelasnya lagi.
"Ahhh..." Sehun mengambil minum lalu meneguk pelan. "Hanya itu kau muram? Kapan terakhir kali kalian bercinta?"
"Eh?" Alis Chanyeol menaut. Ia mengusap dagunya pelan seakan mengingat sesuatu yang terpendam di pikirannya. "Lima hari yang lalu?" Sahutnya tak yakin.
"Masih sebentar.. Aku sudah lebih dari seminggu.."
"Dan kau kuat?"
"Kenapa tidak?"
"Kenapa kau tidak minta?"
Sehun memutar bola matanya, ia meneruskan makan ayam yang tinggal sedikit daripada menjawab Chanyeol. Setelah beberapa menit dibiarkan sepi, ia membuka suara.
"Luhan sibuk dengan dua anak kami. Kau masih satu saja sudah mengeluh, bagaimana denganku yang dua anak kecil-kecil seperti itu?" Sehun melirik sekilas Chanyeol sebelum membereskan sisa makanan. "Sangat melelahkan. Makanya aku memilih tidur disini.."
Chanyeol kembali menghela nafas frustasi. Yang dikatakan Sehun benar. Lelaki itu tidak berpikir sejauh Sehun. Jiwanya yang ingin diisi menggebu dan menggelapkan semuanya. Namun tetap saja, Chanyeol merasa Baekhyun memang lebih berpihak pada anak satu-satunya itu.
Hal wajar bagi seorang ibu, ada apa denganmu Chanyeol?
.
.
.
.
Tiriing... Tiriing... Tiriiing...
Baekhyun mengerjabkan mata sipitnya. Suara alarm yang menggema membuat kepalanya pusing. Ia menekan dahinya pelan sebelum membuka kelopak mata seluruhnya. Setelah mampu sadar sepenuhnya, ia bangkit. Malaikat kecilnya masih tertidur pulas di sisinya. Namun ada yang aneh, sosok itu. Park Chanyeol, kemana lelaki tampan itu? Apa ia sudah bangun? Tumben sekali.
Mata sipitnya dibawa pada jam weker yang baru saja berbunyi. Masih pagi, pukul enam pagi. Bahkan mentari belum menunjukkan eksistensinya. Jelas tak mungkin Chanyeol sudah bangun. Lalu kemana lelaki itu? Apa dia tidur di ruang tv? Segera Baekhyun turun dari ranjang. Sejenak ia membenarkan letak posisi Chanhyun sebelum meninggalkannya keluar kamar.
Pertama kali yang ditangkap oleh sepasang iris kecil milik Baekhyun adalah dua sosok tengah tertidur pulas di depan tv. Dugaan Baekhyun benar, Chanyeol memilih tidur disana. Mungkin ia marah dengan sikapnya yang sedikit emosi, atau malah merasa bersalah dengannya? Apapun lah.. Baekhyun mendekatinya, mengecup pelan pipi Chanyeol lalu membenarkan selimut yang terjatuh di sebelahnya. Ia menghela nafas pelan, dasar lelaki-lelaki malas. Sehabis makan tak langsung membuang bungkusan itu malah tidur seperti ini. Baekhyun membereskan sampah-sampah itu dan membawa ke dapur.
Baekhyun juga merasa heran, kemana Luhan? Atau ia masih belum bangun? Tapi, kamarnya terbuka. Lalu kemana ia?
"Baek..."
Ah, Baekhyun menoleh pada sumber suara. Matanya menyipit saat menangkap apa yang ada di tangan Luhan.
"Aku membeli ini untuk makan pagi..."
"Kenapa kau tidak mengajakku? Aku bisa menemanimu Luhannie..." Tukas Baekhyun seraya mengambil alih belanjaan itu.
Luhan hanya mengulas senyum. "Tidak perlu, lagian aku melihat kamarmu masih tertutup rapat.." Sahutnya. Lantas ia berjalan menuju depan kompor dan menyiapkan semuanya.
Baekhyun mengeluarkan bahan makanan itu. "Ah, iya.. Apa kedua manusia itu tidur disana semalaman?" Tanyanya. Dengan cekatan Baekhyun mulai mencuci bahan-bahan itu.
"Sepertinya iya, Sehun sama sekali tidak masuk kamar.." Luhan mengisi panci dengan air. "Mungkin dia sadar, aku tidak bisa menemaninya karena harus memeluk dua anak kami.."
Baekhyun mengangguk. Ia mematikan aliran air dan membawa sayuran itu ke meja untuk dipotong. "Rencana nanti mau kemana?" Topik bahasan berubah.
"Ke pantai? Okinawa dekat dengan pantai. Atau taman? Terserah kau saja Baek mau kemana.." Sahutnya dengan tangan bergerak cepat memasukkan bahan sup ke dalam panci.
"Baiklah, kita ke taman saja. Bunga-bunga pasti indah saat ini... Apalagi spring di Jepang terkenal indah."
"Pastinya..."
Keduanya mulai sibuk menyiapkan sarapan. Tangan Baekhyun dan Luhan terlatih menghidangkan makanan berkelas. Sup lezat dan beberapa makanan tertata rapi di atas meja. Namun keduanya masih belum selesai masak. Masih ada yang dikerjakan Baekhyun maupun Luhan.
Baekhyun berjengit kaget kala sebuah tangan merengkuh pinggangnya dari belakang. Ia tahu siapa pemilik tangan saat suara berat kas orang baru bangun menyentuh pendengarannya. Baekhyun menoleh padanya lalu tersenyum.
"Ada apa Chanyeol?"
Alih-alih menjawab, Chanyeol justru menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Baekhyun. Meniup-niup pelan dan mengecup lembut. Sengatan yang diberikan membuat Baekhyun bergidik.
"Chan-, geli ah, kenapa kau?"
Chanyeol memeluk Baekhyun lebih erat lalu berbisik. "Morning sex?"
"Mwo?"
"Morning kiss.."
"Yaa!" Baekhyun memukul pelan kepala Chanyeol seketika mendengar perkataan Chanyeol. Bisa-bisanya ia mengatakan hal ini.
Chanyeol melepaskan pelukannya. "Ayolah Baek.. Quick sex?"
"Oh Tuhaaan... Chanyeol..."
"Baek..."
"Hey, kalian! Kalau ingin mengatakan hal itu lihat tempat dong! Kalian tidak melihat ada aku disini?" Bentak Luhan kesal dengan kelakuan dua orang ini. Seolah mereka tak menghargai kehadirannya disini.
Chanyeol mendengus kesal. Lagi-lagi keinginannya harus ia tahan dan kali ini penyebabnya adalah Luhan. Coba kalau wanita bermata rusa itu tak ada disana, pasti Baekhyun sudah ia hajar habis-habisnya. Dan Chanyeol, kau harus bisa menahan hasratmu oke.
Baekhyun hanya terkekeh geli melihat Chanyeol yang berjalan gontai meninggalkan mereka berdua. Kepalanya menggeleng kecil, suaminya ini sungguh. Kenapa jadi seperti ini? Kemana sosok Chanyeol yang penuh kedewasaan? Oh Tuhan, ampunilah Chanyeol.
.
.
.
.
Seperti yang telah dibayangkan Baekhyun ketika terpikirkan kata musim semi di Jepang adalah pemandangan yang menyejukkan mata. Hamparan taman yang luas, dihias berbagai macam bunga menyajikan pemandangan yang luar biasa indahnya. Apalagi beberapa bunga sakura yang menambah semarak musim semi kali ini terlihat mengesankan. Ini benar-benar selera Baekhyun. Sekali lagi ia tak menyesal menyetujui permintaan Luhan. Wanita bermata rusa itu mengerti betul keinginan Baekhyun.
Mereka berempat duduk di bawah pohon sakura dengan menggelar tikar. Di atasnya ada banyak bekal. Ceritanya mereka tengah piknik bersama. Anak-anak mereka begitu antusias. Jelas terlihat dari kebahagiaan yang terpancar di wajah juga cekikikan tawa serta semangat berjalan di antara ruang yang ada di taman. Seyeol misalnya, si kecil yang mampu berlari itu terus menggoda appa-nya dengan berlari ke sana kemari. Sedangkan Chanhyun yang masih dalam tahap berjalan tertatih sedikit mencoba tanah di Jepang. Baekhyun dengan telaten menuntun putranya berjalan-jalan. Sesekali tawa renyah menggelegar dari bibir mungilnya. Chanhyun begitu menikmati pengajaran berjalan yang diberikan Baekhyun. Hingga membuat wanita bermata sipit itu senang.
Yang tampak tak begitu semangat adalah Chanyeol. Tak tahu mengapa, suami dari Baekhyun itu hanya menatap datar mereka. Sesekali ia menghela nafas dan menepis guguran sakura yang jatuh di atas dahi ataupun bagian lain wajahnya. Ia tak memiliki keinginan mengajak bermain Chanhyun layaknya Sehun yang bercanda dengan Seyeol maupun Sena. Sekali saja, Chanyeol tak memiliki keinginan itu.
"Suamimu kenapa sih Baek?" Luhan mengambil botol susu Sena dan memberikan pada bayi mungil itu.
Baekhyun melirik sekilas Chanyeol lalu menggeleng.
"Apa dia kurang makan? Kurang tidur? Atau..." Sebuah seringaian terulas di wajah Luhan.
Baekhyun mengerutkan keningnya. Mata sipitnya menatap tajam Luhan. "Atau?"
"Tidak! Aku tidak mau membuat suamimu menjadi lebih badmood.." Luhan kembali berkutat dengan Sena yang tengah menikmati susu-nya.
Baekhyun mendekati Chanyeol dan menyentuh pundaknya. Saat ini Chanhyun ikut bermain dengan Seyeol dan Sehun. "Kenapa sayang? Ada apa?" Baekhyun mengusap pipi Chanyeol kemudian.
Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun lalu melepaskannya. "Tidak apa-apa!" Sahutnya datar. Baekhyun tersentak kaget. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan suaminya. Tapi apa?
"Kau kenapa? Katakan padaku Yeollie.."
"Aku baik-baik saja Baek..."
"Kau bohong.."
"Sungguh."
"Tapi.." Baekhyun menyenderkan kepala pada pundak kekar Chanyeol. "Kau tidak bersemangat. Katakan apa yang sedang kau pikirkan?"
Chanyeol mengalah, sikap hangat yang diberikan Baekhyun padanya mampu meluluhkan es di dalam tubuh lelahnya. Sebenarnya Chanyeol sendiri tak begitu yakin dengan penyebab dirinya seperti ini. Tapi yang ia inginkan saat ini adalah istrinya. Ia ingin Baekhyun di pelukannya. Lantas ia memeluk tubuh Baekhyun dari samping. Satu kecupan mendarat di keningnya. Ia hendak memutar kepala Baekhyun dan mencuri kecup pada bibir, namun..
"Eommaa..." Bayi yang telah mampu menapakkan kakinya itu duduk di pangkuan Baekhyun. Sepertinya ia lelah bermain. Lekas Baekhyun menegakkan tubuhnya dan melepas pelukan Chanyeol. Ia mengalihkan atensinya pada anak kesayangannya.
Chanyeol mendesah pelan. Tubuhnya dibawa mundur sedikit menjauh. Ia memberikan ruang bagi kedua manusia itu saling berbaur. Tuhan, tiba-tiba saja hatinya nyeri entah mengapa.
Kenapa anak ini selalu mengambil alih masa-masa pentingku sih?
Chanyeol, apa yang tengah bergelut di pikiranmu? Chanhyun anakmu. Kenapa kau malah bersikap seperti itu?
.
.
.
.
Bukan Luhan namanya jika ia melewatkan hari tanpa berbelanja. Baiklah, yang berkuasa di liburan kali ini memang Luhan. Hampir semua di handle oleh istri Sehun. Salah satunya adalah acara setelah menikmati keindahan taman di Okinawa. Bagaimana dengan Baekhyun? Wanita bermata sipit itu hanya mengikuti kata Luhan dan terjerumus dalam hal-hal yang mungkin bisa menguras kantung uang. Bagaimana dengan Chanyeol? Lelaki tampan itu hanya mengikuti langkah kedua manusia yang berkuasa dengan tangan sesekali menggandeng Sehun yang memiliki Seyeol di gendongannya. Chanyeol masih bersyukur, Chanhyun tak merengek minta digendong.
Palette Kumoji, menjadi pilihan Luhan dan Baekhyun menapakkan kaki untuk berbelanja. Sejenak Baekhyun memperhatikan mall yang besar itu. Banyak sekali barang yang ditawarkan. Mulai dari pernak-pernik, pakaian maupun souvenir yang bisa dibawa pulang dengan harga murah. Seringaian tercipta di bibir mungil Baekhyun. Efek sering bergaul dengan Luhan menimbulkan jiwa berbelanja yang tinggi di dalam tubuhnya. Segera Baekhyun mengalihkan gendongan Chanhyun kepada Chanyeol dan menggeret tangan Luhan mendekat salah satu toko.
Chanyeol mengerang frustasi. Chanhyun yang ada di gendongannya terus membelot seolah ingin pergi. Terus Chanyeol menenangkan anak semata wayangnya itu agar lebih tenang. Namun usahanya itu dibalas dengan tangisan yang menggema. Lagi dan lagi Chanyeol mengerang kesal. Anaknya seakan enggan berada di dekatnya. Kenapa? Apa wajah Chanyeol tampak menyeramkan?
Ia lelah terus menghadapi bayi mungil yang tak berhenti menangis. Sebelah tangannya menarik tubuh Baekhyun yang tengah hanyut dalam memilih pakaian. Cukup butuh waktu lama hingga wanita bermata segaris itu menoleh padanya dengan wajah penuh tanya.
"Chanhyun menangis! Dia ingin bersama eomma-nya.." Tukas Chanyeol kesal. Entah apa yang membuat emosi Chanyeol layaknya diaduk-aduk.
Baekhyun berdecak pelan sebelum meletakkan kembali pakaian itu. Detik selanjutnya, ia mengambil alih gendongan Chanhyun. Pelan sekali Baekhyun menggoyangkan tubuh mungil itu hingga kembali tenang. Baekhyun menatap datar Chanyeol sejenak lalu kembali pada posisi semula. Sementara Chanyeol, kilatan mata terbakar itu membuatnya gelap. Hatinya sedikit kesal bercampur emosi melihat Chanhyun begitu nyaman di pelukan Baekhyun. Apa yang salah dengannya?
Semenjak kejadian Chanhyun yang terus menangis di gendongan Chanyeol, lelaki tampan itu tak mau lagi diminta menggendong Chanhyun. Alasannya sama, pasti Chanhyun akan menangis lagi di gendongannya. Daripada merepotkan, lebih baik Baekhyun saja yang menggendong.
Alasan itu terdengar menggelikan di telinga Luhan. Wanita bermata rusa itu paham ada sesuatu yang membuat mood Chanyeol rusak. Oh ayolah, Luhan mengenal Chanyeol tidak setahun dua tahun. Ia cukup tahu bagaimana temannya itu. Jika dilihat dari kelakuan Chanyeol selama ini, sepertinya lelaki itu kurang belaian. Ah, Luhan tahu. Pasti Chanyeol kalah dengan Chanhyun yang begitu bahagia berada di pelukan Baekhyun daripada dirinya. Selain itu, pasti masalah hasrat yang tak tertuntaskan.
Tiba-tiba Luhan terkikik geli melihat ekspresi Chanyeol. Baekhyun yang hendak membayar belanjaannya menatap bingung Luhan. Kedua alis dan keningnya saling bertemu. Ditambah sorot bingung membuat Luhan berhenti terkikik.
"Suamimu Baek! Aduh... Menggelikan." Luhan bersuara setelah menghentikan tawa kecil itu.
Kerutan masih tercetak di kening Baekhyun. "Kenapa dengan Chanyeol?"
"Kau tidak menyadari sikap aneh yang ditunjukan oleh Chanyeol?"
"Aneh?" Ulang Baekhyun. Seketika ia melirik pada suaminya yang tengah menatap kosong jalanan luar. Yang dikatakan oleh Luhan benar, ada yang aneh dengan Chanyeol. "Kenapa dengan Chanyeol?"
Luhan mendesis kecil lalu mengeluarkan dompetnya untuk membayar belanjaan. "Kau tidak bisa memahami suamimu sendiri?"
"Maksudmu?"
"Sudahlah! Tanyakan sendiri padanya saat pulang nanti. Berapa?" Luhan mengalihkan pembicaraan pada kasir yang melayaninya.
Rasa penasaran masih bersama dengan Baekhyun. Berulang kali ia mencuri pandang pada suaminya, tapi ia tak tahu apa yang terjadi pada Chanyeol. Ia benar-benar meragukan batinnya yang bisa mengerti sang suami. Kenapa? Ada apa? Ah, Baekhyun ingin cepat pulang dan bertanya. Karena Baekhyun tahu bahwa Chanyeol tidak akan menjawab jika ditanya sekarang.
.
.
.
"Kita langsung pulang saja setelah ini." Sehun menatap satu persatu pihak lain di meja itu.
Selesai berbelanja, mereka memutuskan mengisi perut yang meraung-raung. Restoran sushi menjadi pilihan untuk memasuk nutrisi mereka.
Baekhyun memandang suaminya dengan tatapan penuh tanya. Bibirnya masih mengunyah pelan sushi itu. Merasa ditatap, Chanyeol hanya membalasnya dengan tatapan datar. Baekhyun mengerutkan kening ketika melihat reaksi yang diberikan oleh Chanyeol. Ada apa dengan suami tercintanya itu?
Ia mengusap pipi Chanhyun yang sedikit belepotan akibat sushi itu sebelum melayangkan sebuah tanya.
"Chanyeol.. Apa kau lelah?"
Chanyeol menggeleng.
"Lalu?"
Luhan yang selesai menyuapi si kecil menoleh pada Chanyeol. Sorot malas itu menghujani sang obyek. Sedikit decakan terdengar lalu ia bersuara.
"Apa yang aku katakan ternyata benar Baek! Suamimu seperti anak kecil."
Baekhyun menoleh pada Luhan. Mata sipit itu menyiratkan banyak tanya.
"Huhh... Nanti waktu sebelum tidur, kau akan tahu sendiri."
Sehun yang sedari tadi memperhatikan lainnya hanya menggeleng kecil. Ia tahu dengan apa yang terjadi pada Chanyeol.
"Kalau begitu kita pulang saja sekarang."
Lainnya mengangguk. Tak butuh waktu lama, mereka selesai menghabiskan makanan itu. Sekitar lima belas menit kemudian, Luhan bangkit dengan tangan menggendong si kecil Sena, begitu juga dengan Sehun yang kebagian menggendong Seyeol.
Chanyeol hanya mengikuti langkah kedua orang itu. Ia tak mengambil alih gendongan Chanhyun dari Baekhyun hingga membuat Baekhyun sedikit mengernyit heran. Apa benar yang ia duga selama ini jika Chanyeol sedang...
Ah, Chanyeol bukan anak kecil lagi. Tapi kenapa seperti ini?
Pada akhirnya mereka sampai di penginapan dengan tubuh yang sedikit melelah. Berjalan-jalan seharian cukup menguras tenaga. Ketiga malaikat kecil itu telah lelap dalam gendongan orangtuanya. Segera mereka membawa ketiga malaikat itu pada tempat yang lebih nyaman untuk tidur.
Baekhyun melakukan hal itu dengan cepat. Ia menidurkan Chanhyun lalu menyelimutinya. Beberapa menit selanjutnya, ia bangkit dari ranjang dan melihat ke seluruh ruangan kamar. Chanyeol tak ada di dalam. Lantas ia melangkah keluar kamar.
Hembusan nafas itu terasa sedikit pasrah melihat suaminya berbaring di salah satu sofa. Jika kemarin hari ada Sehun yang menemani, sekarang tidak. Lelaki berahang tegas dengan wajah rupawan itu tengah menutup wajahnya menggunakan lengan. Baekhyun tak habis pikir kenapa suaminya lebih suka tidur di sini dari pada di dalam kamar. Padahal kasur king size itu cukup untuk tidur mereka bertiga.
Langkahnya pelan dibawa menuju ke arah sang suami. Bibir tipis itu melengkung kala melihat wajah damai Chanyeol berada di balik lengannya. Baekhyun berjongkok lalu mengecup bibir itu. Sekali lagi ia mengecup ulang bibir itu.
"Kau kenapa Chanyeol-ah?" Baekhyun mengangkat lengan yang menutup wajah Chanyeol.
Chanyeol menggeliat pelan ketika merasa seseorang menyentuh lengannya.
Baekhyun menyibakkan poni yang menutup kening Chanyeol lalu mengecup ringan.
"Chanyeol.." Panggil Baekhyun pelan seraya mengusap lembut pipi Chanyeol. Wanita itu tengah membangunkan sang suami.
Chanyeol bergerak-gerak gelisah. Mendapat perlakua seperti itu jelas membuatnya tak nyaman. Beberapa detik kemudian, Chanyeol mengerjab berulang lalu membuka penuh mata itu. Ia sedikit terkejut melihat sosok Baekhyun berada pas di depan wajahnya dengan senyum mengulas lebar.
"Kenapa tidur disini?" Tanya Baekhyun khawatir. "Ada apa denganmu?"
Chanyeol mengerutkan keningnya lalu bangkit. Ia membiarkan Baekhyun yang duduk di sebelahnya.
"Kau marah denganku?" Baekhyun menyenderkan kepalanya pada pundak Chanyeol dengan tangan memainkan tangan Chanyeol.
Lelaki yang masih memiliki kesadaran minim itu hanya melihat Baekhyun dengan pandangan bingung. Kenapa istrinya tiba-tiba seperti ini? Bukankah beberapa hari ini Baekhyun menyuruhnya menjauh dari dia dan anaknya?
Bahkan saat ini mungkin Chanyeol sedikit merasa gila karena sikap Baekhyun yang berubah seratus delapan puluh derajat dari kemarin hari. Bagaimana tidak, Baekhyun telah menjalankankan jari-jainya di dada bidang Chanyeol.
"Kau marah ya?" Pertanyaan Baekhyun kali ini terdengar lebih kelabu. Sedikit bumbu sedih menghiasi kata-kata itu.
Chanyeol mengerutkan keningnya bingung. Baru bangun tidur mendapati suguhan seperti ini. Ada apa?
"Chanyeol!" Rengek Baekhyun yang mulai hilang kesabaran didiamkan oleh Chanyeol.
Lelaki itu menegakkan tubuhnya dan menangkup wajah Baekhyun.
"Kenapa aku marah?" Tanyanya balik.
Baekhyun mendengus. "Sikapmu!"
"Sikapku?"
"Chanyeooolll..." Baekhyun kesal dengan sikap Chanyeol yang seolah tak ada apa-apa.
Perlahan picingan mata Chanyeol menutup seiring dengan tawa yang nyaris pecah. Lelaki tampan ini tidak kuat melihat istrinya kesal seperti itu. Pipi tembam yang menggembung dengan kerucutan dari bibir tipis itu membuat Chanyeol tak sabar ingin menyerangnya. Tawa Chanyeol tampak enggan berhenti meski tatapan benci tampak mengerikan dari dua mata sipit itu.
Chanyeol menahan tawanya agar tak kembali pecah. Ia tersenyum melihat Baekhyun yang semakin memerah.
"Kenapa kau mengira aku marah? Aku tidak marah sayang.." Chanyeol meraih kepala Baekhyun dan meletakkannya pada dada.
Baekhyun mengernyit. "Kau tak marah?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kau bersikap seperti marah?"
"Eh?" Ingatan Chanyeol berputar cepat. Ah, seperti itu. Ia baru sadar jika sikapnya selama ini diartikan marah oleh Baekhyun. Padahal ia hanya...
"Tidak.. Hanya saja..."
"Hanya saja?"
Chanyeol membuang pandangan, ia terlalu malu mengatakannya. Bagaimana Baekhyun akan menanggapinya kalau ia mengatakan yang sebenarnya?
"Emm... Aku cemburu." Jawab Chanyeol lirih.
Baekhyun tersentak lalu mengangkat kepalanya. Yang didengar bukan sesuatu yang aneh 'kan?
"Kau cemburu?" Ulang Baekhyun bingung.
Chanyeol mengangguk ragu. Ia melirik sejenak Baekhyun yang memasang wajah bingung. "Aku cemburu karena kau terus bersama dengan Chanhyun.."
Sekejap wajah manis Baekhyun menampakkan ekspresi bingung. Lalu tak lama ia tertawa terbahak-bahak. Sungguh, apa yang didengarnya adalah hal yang lucu. Cemburu? Cemburu pada anaknya sendiri? Apa-apaan Park Chanyeol ini?
"Kenapa ketawa?"
Baekhyun masih setia dalam tawanya. Untuk sesaat Chanyeol meringis menyesal mengatakan ini. Ia hanya menatap pilu Baekhyun yang seakan senang menertawainya.
"Kau cemburu kepada anakmu sendiri? Yaa... Park Chanyeol.. Dia anakmu.. Kenapa kau cemburu?"
"Karena... Kau lebih sering bersama dengan Chanhyun daripada denganku.."
"Itu? Karena itu?"
Chanyeol mengangguk.
Baekhyun kembali tertawa sejenak sebelum ia menangkup wajah Chanyeol lalu mengecup bibirnya kilat.
"Kenapa cemburu? Dia anakmu dan masih kecil. Wajar kalau aku selalu ada untuknya. Maafkan sikapku yang mungkin membuatmu tersingkirkan. Tapi percayalah, aku mencintaimu.. Chanhyun masih butuh waktu untuk bisa sendiri sayang..." Sekali lagi Baekhyun mengecup bibirnya kilat.
Hati Chanyeol menghangat. Istrinya ini benar-benar sosok yang patut diacungi jempol. Sempat rutukan menghantui dirinya yang menganggap Baekhyun terlalu mecintai Chanhyun.
Lantas Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dan mengecup dalam.
"Maafkan aku yang bersikap seperti anak kecil."
Baekhyun mengulas senyum tipis lalu mengusap pipi Chanyeol. Anggukan dalam ia berikan.
"Jangan ulangi lagi.. Aku tidak mau kau bersikap seperti anak kecil."
Chanyeol menggangguk patuh. Ia mengecup berulang pipi gembul Baekhyun.
"Kalau begitu aku ingin sesuatu dan kau harus menurutinya."
Mata sipit Baekhyun membesar penasaran. "Apa?"
"Ayo kita buat anak lagi..."
Pletak..
Alih-alih jawaban manis, sebuah pukulan ringan diterima kepala Chanyeol. Sang empunya hanya bisa mengaduh kesakitan.
"Kau punya anak satu saja cemburu seperti itu, apa lagi punya anak lebih?"
Chanyeol mendelik saat menyadari ucapan Baekhyun. Cengiran aneh melengkung dari bibir tebalnya. Ia paham dengan apa yang dikatakan Baekhyun dan membenarkannya. Tapi namanya hasrat bagaimana bisa dibendung lagi kalau sudah sampai diujung?
"Tapi aku tetap mau.." Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun hingga terbaring di sofa.
Baekhyun hendak melawan namun kekuatan Chanyeol jauh lebih besar. Mau tak mau ia menerima gencaran ciuman panas dari suaminya.
"Chan.. Hey... Chanyeol.. Ini di ruang tamu..."
Baik Chanyeol maupun Baekhyun melepaskan ciuman panas mereka. Sepertinya ada yang lain di tempat ini. Mata Chanyeol dan Baekhyun sama-sama menangkap sosok kurus berdiri di depan mereka.
"Yaa! Kalian ini tidak punya tempat lain apa? Dasar!"
"Luhan-ah! Kau mengganggu saja!"
"Sana cepat kembali ke kamar! Bagaimana kalau ada yang lihat lagi! Sana!"
"Iya-iya! Dasar nenek lampir!"
.
.
.
.
.
.
END for this chapter
.
.
Halooooo...
Waaahhh kayaknya ni FF bersarang-sarang yaa..
Banyak sarang laba-labanya.. hahahahahaha
Maaf yaa, lama gak update, maaf yaa...
Suibuk bener sumpah...
Duh ilah.. apaan sih aku nih.. :D
Okeehh, silahkan tinggalkan komentarnya yaa readers tercinta...
Terima Kasih...
.
.
.
Best Regards
.
.
~Deer Luvian~
