Ino melanjutkan mengunyah makanan dengan senyuman licik yang tepatri di wajahnya. Ia tak sabar untuk menceritakan kejadian lucu ini kepada teman-temannya.
.
.
.
TELEPHONE
.
.
.
Mencurigakan.
Di siang hari dengan udara panas memenuhi kelas, lelaki berkulit sawo matang tetap khidmat dalam menjalankan kegiatannya. Saking khusyuknya, pemuda berambut jabrik itu tidak tahu jika dua pasang mata memandangnya dengan heran. Yups, mereka adalah Sasuke dan Gaara. Kedua pemuda itu menatap Naruto yang tengah duduk di pojok kelas dengan kening berkerut.
Ooh, mereka mengerinyitkan dahi bukan karena Naruto tiba-tiba insaf dan belajar bahasa Inggris di kelas sambil menenteng kamus satu milyar. Yang mereka bingungkan adalah, kenapa Naruto melamun dengan siklus ekspresi ajaib itu? Awalnya dia diam, lama-lama senyuman mulai mengembang, lalu pipinya memerah, dan saat puncaknya wajah Naruto benar-benar minta dirukiyah.
"Uke, ada apa dengan ketuamu?" bisik Gaara setelah menyikut lengan teman sebangkunya.
"Ck, bisakah kau memanggil namaku dengan benar?" Sasuke memutar bola matanya malas. "Mungkin Naruto sedang menikmati me time."
"Urgh, apa dia tidak bisa mencari peluang me time dengan baik? Kenapa ia harus memakai jam pelajaran bahasa Inggris?"
"Mana aku tahu!" gerutu Sasuke.
Gaara mulai mencoba menyadarkan Naruto dengan berbagai cara. Dari melempar kertas kecil sampai melempar uang koin ke kepala Naruto, tapi tetap saja Naruto merenung layaknya orang susah. Gaara hanya ingin menjadi anak baik hari ini. Pria berkulit pucat itu ingin menjauhkan ketuanya dari kesangaran guru bahasa Inggris mereka, Tsunade sensei. Guru yang dikenal sebagai pawang semua preman di sekolah. Salah satu korban Tsunade adalah kakak kelasnya yang telah menjadi alumni bernama Pein.
Lihat saja, terakhir kali Gaara bertemu Pein di gang kecil mengenakan sarung, baju koko, kopiah, tasbih, lengkap ditemani semerbak aroma kasturi. Saat tatapan mereka bertemu, Pein mengulas senyuman kecil dan menyapa Gaara dengan sopan,
"Assalamualaikum Gaara,"
Sapaan itu sukses membuat Gaara merinding. Seniornya yang dulu hobi menindik wajahnya, yang suka main guna-guna bersama teman satu organisasi laknatnya, dan satu kali setiap jam pelajaran wajib lapor ke ruang BK karena kasus baru, kini telah bermetamorfosis menjadi pemuda shaleh dan menjadi sekretaris remaja masjid.
"Gaara, salam itu harus dijawab lho…" sambung Pein.
"Eeh iya, Waalaikumsalam kak."
Itulah hasil trainee Tsunade sensei terhadap Pein selama tiga tahun berturut-turut. Tidak ada yang bisa mengalahkan the power of Tsunade.
"Hey you, yang duduk in the corner rambut jabrik yellow. Siapa nama you?"
Hal yang Gaara duga terjadi juga, ketuanya berhasil menarik pandangan Tsunade sensei. Naruto yang baru saja sadar dari lamunannya menelan air ludahnya kasar dan menatap guru bahasa Inggrisnya dengan takut. Jika Tsunade sensei telah menanyakan nama, bersiap-siaplah untuk merasakan aura neraka. Dan saat itu pulalah kreativitas pelajar diuji.
"Eeeuum… nama saya Afgan sensei," Naruto menjawab dengan suara bergetar.
"Afgan? Kenapa you brave sekali melamun di kelas saya? Apa you sudah merasa clever? Apa Afgan tidak look Raisa sedang mengajar di depan? Atau you ingin Raisa banting?" See, betapa sangarnya wanita satu ini.
"Ti… tidak sensei,"
Bel berdenting keras. Kemarahan Tsunade yang awalnya menyaingi tinggi Kilimanjaro, kini telah sejajar dengan Palung Mariana. Senyuman lebar terpatri di wajahnya dan ia bersiap-siap untuk keluar kelas. Saat guru bahasa Inggris itu benar-benar pergi, barulah para ajudan mengintropeksi pimpinan.
"Naruto, kenapa kau melamun di kelas Tsunade sensei?"
"Itu bukan urusanmu Gaara." jawab Naruto seraya memasukkan semua peralatan tulisnya ke dalam ransel. Saat semuanya telah selesai, Naruto melangkah ringan keluar kelas.
"Wowowo… sekarang kau mau pergi ke mana? Kau tidak mengajak kami?"
"Dan itu juga bukan urusanmu Sasuke. Aku hanya ingin menyelesaikan urusan pribadiku, ok?" Naruto mendorong pelan tubuh temannya yang kini tengah memblokade pintu kelas.
"Ouh, jadi sekarang kau mulai merahasiakan sesuatu dari kami?" protes Gaara yang merasa tidak diacuhkan.
"Kenapa kau marah? Bukankah sudah ku katakan, ini urusan pribadiku dan cukup aku sendiri yang tahu! Sama seperti merk eyeliner yang kau pakai setiap hari dan tidak pernah luntur jika ditimpa hujan yang sampai sekarang masih tetap kau rahasiakan dariku." Naruto menatap dayang-dayangnya secara bergantian lalu meninggalkan mereka.
"Naruto aneh sekali…" komentar Sasuke sambil menatap Naruto yang telah sampai di ujung koridor.
"Bukankah dia memang selalu aneh."
"Aku tahu jika dia itu aneh, tapi tingkat takson keanehannya hari ini sangat berbeda!"
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Gaara, Sasuke menyunggingkan senyum tipis andalannya dan memerintahkan Gaara mengikutinya.
.
.
Jika kalian ingin tahu apa yang Hinata rasakan sekarang, jawabannya cukup simpel. Hinata kesal. Pasalnya, gadis berambut bak iklan sampo TRESemme itu menunggu Temari dan Sakura yang (katanya) pergi membeli gorengan di warung. Karena Ino mengatakan bahwa ia punya informasi bagus dan akan membagi cerita di rumahnya, alhasil kedua sahabatnya itu mencari makanan untuk menemani mereka saat mendengar cerita Ino nanti. Tapi, sudah setengah jam ia menunggu, Temari dan Sakura tetap tidak tampak. Huuft, andaikan tadi ia lebih memilih saran Tenten untuk langsung pergi ke rumah Ino, pasti nasibnya kini tidak seperti anak kehilangan orang tua di pusat perbelanjaaan.
Good~
Hinata mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya dengan gemas. Ia tidak percaya jika untuk membeli gorengan made in warung saja ia harus menunggu lebih dari setengah jam. Jika kedua sahabatnya itu berbelanja baju di butik, Hinata masih bisa maklum. Tapi mereka hanya berbelanja di warung sobat, warung kecil yang makanannya bisa kau lihat tanpa harus mondar-mandir kebingungan, dan itupun mereka hanya beli gorengan! Karena terlalu kesal itulah, Hinata tidak menyadari jika ada seseorang yang berada di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya orang tersebut.
Ya Tuhan, Hinata kesal dan kekesalan Hinata akan bertambah jika ada orang yang sok kenal dengannya memberi pertanyaan bodoh. "Sedang buka lapak. Ck, sudah jelas aku menunggu seseorang dan kau te-"
Lidah Hinata kelu seketika saat mendapati dengan siapa ia berbicara kini. Lelaki berkulit tan dan sempat Hinata puji bersuara seksi tengah menatapnya dengan angkuh ditemani motor besar berwarna hitam. Mata Hinata membulat diikuti wajah bercucuran keringat dingin.
"Maaf, aku tidak tahu jika itu kau." cicit Hinata sambil menunduk dalam.
"Lupakan saja. Ada yang ingin aku katakan, cepat naik ke motor ku." spontan Naruto menarik lengan kecil Hinata dan secepat itu pulalah Hinata menahan tubuhnya agar tidak berpindah tempat.
"KYAAA! Kau mau me… membawaku ke… ke mana?"
Hinata benar-benar kalut sekarang. Ia panik jika Naruto akan membawanya untuk disekap dan dia cekik atau ditampar karena telah berani bertindak semena-mena kepada Yth. Tuan Uzumaki Naruto di tempat. Atau lebih parah lagi, Hinata akan dikuliti lalu kulitnya dijemur untuk dijadikan kerupuk dan setiap organ tubuhnya dijual secara online dengan harga murah. Ya Dewa, izinkan perempuan lemah tak berdaya seperti Hinata untuk menikmati masa tuanya.
"Urgh, cepat naik!" Naruto menatap manik lavender di depannya penuh aura negatif dan sukses membuat Hinata takut. Tanpa komando lain, gadis itu menaiki motor Naruto disertai tatapan sendu. Lain halnya dengan Naruto yang tersenyum kecil saat melihat ekspresi Hinata. Entahlah, siswi itu terlihat menggemaskan ketika ia ketakutan. Naruto menyalakan motornya dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Temari dan Sakura yang kini menenteng beberapa kantong plastik berjalan santai untuk menemui Hinata. Saat keduanya sibuk menggunjingkan ketua kelas mereka-Sai, inner mata Temari tidak sengaja melihat sosok yang sangat ia kenal.
"Sakura, aku tidak tahu apakah bayangan di mataku ini masih bersifat nyata, terbalik, sama besar, tapi aku melihat Hinata tengah dibonceng Naruto pergi."
Sakura menoleh, dan yups memang benar. Ketua berandalan tingkat SMA itu bersama sahabatnya mengendarai motor hitam besar. Siswi yang sering dituding memiliki jidat seluas GBK tersebut berteriak memanggil nama Hinata sambil melambai-lambaikan tangan dengan senyuman manis di wajahnya.
"Hinata terlihat sangat bahagia bersama Naruto." komentar Sakura polos.
"Bahagia dari Hongkong! Kau tidak lihat bibirnya sudah pucat? Kau tidak lihat air matanya telah menggenang? Kau tidak lihat sorot matanya yang meminta bantuan?" sungut Temari yang berhasil membuat Sakura berkaca-kaca layaknya anak tiri yang baru disiksa ibu tirinya.
"Berbicara denganmu tidak ada gunanya. Lebih baik aku memberitahu kabar ini kepada Ino." Temari mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya dan membiarkan Sakura menggambar di tanah menggunakan ranting kayu yang entah dari mana ia dapat.
.
.
Entah doa apa yang Tenten lantunkan tadi malam sampai gadis itu berada di dalam rumah megah bergaya Victorian ini. Dinding yang dipadu dengan cat aksen berwarna lembut, hiasan dari kaca yang membuat kesan mewah, sofa yang masih ditempeli aroma 'baru dibeli', dan segala furniture yang memperkuat betapa kayanya sang pemilik rumah. Tenten menutup mulutnya yang telah menganga selama delapan detik lalu menatap Ino dengan penuh rasa iri, "Ini benar rumahmu Ino?"
"Tentu saja, memangnya kenapa?" Ino melempar tas mahalnya ke sembarang arah.
"Tidak ada, kupikir outlet perabotan Swedia sudah pindah ke sini."
"Kau bisa saja Tenten, hohohoho!" tawa Ino yang persis dengan milik mamanya. Tanpa mereka ketahui, mama Ino yang sedang sibuk mensasak rambutnya di kamar bergumam 'Mama bangga dengan ketawa kamu Ino.'
Sebagai tuan rumah yang baik, Ino mengajak Tenten untuk mengelilingi kediamannya yang hampir mirip istana di film film Barbie. Sekaligus membiasakan diri, karena Tenten perdana singgah ke rumahnya dan mencoba menghilangkan sifat tradisional (red: katro) yang beberapa menit lalu diekspos. Gadis dengan rambut dikepang itu terpukau saat gerbang rumah Ino terbuka secara otomatis dan dengan polosnya ia ber- wow! ria sambil bertepuk tangan. Mirip pithecanthropus yang baru saja melihat dinosaurus beranak.
Layaknya tour guide, Ino menjelaskan setiap ruangan di rumahnya dengan penuh kesabaran. Hingga sampailah mereka di garasi dan menemukan seonggok lelaki yang akan masuk ke mobil berwarna silver.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ino dengan penuh selidik. Merasa diajak bicara, lelaki itu mengurungkan niatnya dan menatap dua siswi SMA di hadapannya.
"Aku mau pergi."
"Dengar, kusarankan jangan menggunakan mobil ini. Karena mobil ini milik kakakku. Kecuali jika kau suka melihat kakakku meledakkan rumahmu." seru Ino dengan wajah serius, sedangkan lelaki itu tidak peduli dan meninggalkan gadis berambut pirang tersebut.
"Hey supir baru! Kau tidak mendengar ucapanku? Jika kau ingin menjemput papa, jangan gunakan mobil ini. Gunakan mobil yang itu!" bentak Ino. Sontak pria itu memandang Ino dengan rasa tak suka.
"Siapa yang kau panggil supir baru?"
"Tentu saja kau! Kalau kau bukan supir baru, lalu apa? Tukang kebun baru?"
"Dasar adik durhaka, AKU INI KAKAKMU INO!"
CTARRR!
Kaca pecah.
Tanah retak.
Foto keluaga Ino jatuh begitu saja.
Rambut mama Ino gagal disasak.
Penyakit udik Tenten kambuh lagi.
Azan Maghrib berkumandang. (Inimah maunya author!)
"MWAHAHAHAHA! Kau ingin membodohi ku pembantu baru? Heh, dengar ya aku sangat tahu karakteristik kakakku sendiri! Kak Dei itu rambutnya panjang, hobi main petasan, parno sendiri kalau lihat mobil satpol pp karena pernah dikira banci lampu merah, tidak pernah punya pacar, dan kalau bicara pasti pakai embel-embel 'un'!"
"Ya salam, kau tidak mempercayaiku? Aku ini adalah kakakmu, Yamanaka Ino Khairunnisa Herlina Dwi Mulyani!"
Ino termangu…
Ino sangat tahu hanya papa, mama, dan kakaknya saja yang mengetahui nama lengkap yang akhirnya dipenggal karena Ino jatuh sakit (diduga) akibat nama sepanjang rel kereta api itu…
Dan hanya kakaknya saja yang hobi memanggil Ino dengan kompleks jika ia sudah naik pitam…
Maka, itu artinya…
"Kak Dei?"
"Iya, dan berhenti menatapku seperti itu." perintah Deidara yang muak dengan tatapan tak percaya adiknya. Bagaimana Ino tidak kaget, kakaknya mengalami perubahan drastis! Deidara yang dulu sering disuruh pak uztad untuk berhijab, pernah digrebek warga karena memproduksi petasan, dan doyan mencoret nama baik keluarga telah mengubah semua imej itu! Kini Yamanaka Deidara menunjukkan jati diri yang sebenarnya bahwa ia adalah lelaki tulen, macho, dan laki! Selaki Deddy Corbuzier.
"Sejak kapan kepala kakak tandus kering tanpa kehidupan seperti itu?" Ino menunjuk kepala kakaknya yang pelontos.
"Sejak papa memangkas habis tadi malam. Bagaimana, kakakmu ini tampan kan? IYA KAN? SEPERTI ITU KAN?"
"Iya kak, seperti itu." Ino menjawabnya dengan sedikit terpaksa. Tenten yang menyaksikan adegan itu mulai menduga-duga, jangan-jangan mamanya Ino itu Si Mai yang jadi kecengannya babe di sinetron TOP. Soalnya Ino dan Deidara kalau berinteraksi ada kata 'seperti itu' terus.
"Ya sudah, kakak mau pergi. Nih, salam dulu." Deidara memajukan tangannya ke wajah Ino, dan Ino langsung cium tangan sang kakak. Setelah itu, Deidara pergi bersama mobil silvernya.
"Ino kau patuh sekali pada kakakmu?"
"Yang tadi masih mendingan Tenten, biasanya dia minta sungkeman," ujar Ino yang masih dirundung kebingungan. Ia tidak percaya jika papanya benar-benar mencukur kepala kakaknya seperti biksu! Dan yang membuat Ino semakin bingung, kenapa kakaknya tidak memakai embel-embel 'un'? Apa ini salah satu akibat pencukuran rambut kakaknya?
Ponsel Ino berdering, dengan cepat ia menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa Temari?"
"Kau bercanda?! Kalau begitu sekarang ikuti mereka, pastikan kalian mengantar Hinata lengkap dengan napas kehidupannya!"
.
.
Mual, pusing, mata berkunang-kunang, intinya keadaan Hinata sekarang sekarat. Gadis itu tidak menyangka jika dibonceng pemimpin preman kota berhasil memaksanya menenggak antimo plus menghirup minyak telon yang biasa ia bawa. Kini Hinata baru sadar betapa anarkis, rasis, kisruh, dan brutalnya pemuda bernama Uzumaki Naruto.
Bayangkan saja, saat ada tikungan?
Naruto belok dengan lutut yang hampir menyapa aspal.
Jalan lurus dan suasana damai?
Naruto ngegas motor layaknya Valentino Rossi.
Ada seribu polisi tidur?
Motor Naruto jumping.
Oh god, bahkan Hinata masih tidak percaya jika ia telah berhasil melewati detik-detik nestapa tersebut dengan keadaan selamat. Dan saat imajinasi Hinata melayang bahwa ia akan dibawa ke suatu ruangan yang suram, gelap, dan berbau, Naruto menepuk pundak sempit gadis tersebut untuk masuk ke sebuah tempat yang tidak asing lagi baginya.
Hinata melirik Naruto untuk meminta penjelasan, "Eemm… Naruto, apa yang harus aku lakukan di sini?"
"Bantu aku gali kubur, tentu saja makan! Kau pernah diisolasi di dalam gua berapa tahun sih?" sungut Naruto sambil berkacak pinggang. Naruto tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis di hadapannya ini. Sudah jelas terpampang palang bertuliskan 'Kafe Shingles' dan ia tetap bertanya.
"Aku tidak pernah diasingkan!"
"Tapi tingkahmu mendeskripsikannya."
"Kalau kau mengajakku ke sini hanya untuk menghinaku, lebih baik aku pulang."
"Hufft, baiklah sekarang dengarkan aku. Kau masuk menggunakan kedua kakimu lalu makan, atau aku akan menggendongmu dan menyuapimu hingga perut kenyang?" ancam Naruto dan menatap Hinata dengan aura negatif (lagi).
"Aaaa, pilihan pertama terdengar lebih baik." balas Hinata kaku, gadis cantik itu masuk ke dalam kafe didampingi Naruto yang tersenyum jahil.
Sedangkan di tempat yang sama namun beda sudut, terdapat siswi berambut merah muda dan kuning tengah berbisik di sela-sela pot tanaman kafe.
"Kenapa Naruto membawa Hinata ke sini? Apa ia sedang mengajak Hinata berkencan?" tanya Sakura dengan mata berbinar-binar. Ia tidak sabar menunggu adegan romantis antara Hinata dan Naruto.
"Entahlah, sebisa mungkin kita harus duduk di tempat yang paling dekat dengan mereka." perintah Temari dan memberi aba-aba untuk keluar dari persembunyian.
Sakura mengangguk patuh dan berjalan dengan penuh hati-hati. Namun, setinggi apapun tingkat kehati-hatian Sakura, tetap saja berakhir dengan kecerobohan. Selang beberapa detik, tubuh Sakura mulai oleng karena menginjak batu di dekat pot. Alhasil, gadis manis itu tidak sengaja mendorong seseorang di depannya hingga orang itu tersungkur.
"Ma… maafkan aku." Sakura sibuk membungkukkan badannya berkali-kali. Wajahnya merah sempurna, jantungnya berdebar cepat, dan rasa malu diiringi rasa takut menjelajahi benaknya.
Apa perlu Sakura tekankan di sini bahwa ia baru saja mendorong salah satu anggota The Killer hingga jatuh dengan tidak elitnya? Pemuda dengan ketampanan di atas rata-rata dan berasal dari keluarga luar biasa. Pemuda yang sering masuk koran lokal dan dengan senang hati Sakura memotong foto orang itu untuk dipajang. Pemuda dengan rambut hitam legam yang kini sejajar dengan keset welcome yang sudah buluk. Pemuda yang telah mencuri hatinya, pemuda yang menyandang nama SASUKE UCHIDA, EH, UCHIHA! SASUKE UCHIHA!
Sasuke berdiri dengan dahi yang memerah, siswa berambut hitam itu mendekatkan wajahnya ke arah Sakura dan mulai berbisik pelan "Perhatikan langkahmu," Sasuke melirik name tag gadis yang telah mendorongnya, "Sakura-chan."
Dengan santainya Sasuke memasuki kafe dan berpapasan dengan Temari yang keluar dari kafe untuk menjemput temannya yang hilang. Temari sangat ingin memukul kepala Sakura dengan kipasnya karena sahabatnya itu terlalu lamban untuk masuk ke kafe. Tapi niat itu terhenti saat melihat Sakura terkejut dengan wajah memerah.
"Temari, kau tahu tidak? Dia memanggilku Sakura! SASUKE MEMANGGIL NAMAKU TEMARI! DIA MEMANGGILKU SAKURA-CHAN! KYAAA! SAKURA SANGAT BAHAGIA MAS BRAM!"
"Tentu saja ia memanggilmu Sakura, memangnya kau berharap dipanggil siapa? Adriana?" gerutu Temari seraya menarik Sakura untuk masuk ke dalam kafe. Temari khawatir jika mereka tidak mendapatkan kursi di dekat Hinata. Entah nasib sial apa, satu-satunya tempat yang dekat dengan Hinata telah ditempati orang, dan orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Gaara (adik kandungnya) dan Sasuke (teman adik kandungnya). Dengan penuh keterpaksaan Temari mencari tempat lain sambil memarahi Sakura.
Sedangkan kedua tokoh utama...
"Mbak!" panggil Hinata dengan sopan, sayangnya pramusaji tersebut tidak menanggapi.
"Kau memanggil pelayan dengan volume sekecil itu?" ejek Naruto.
"WOOOII! SINII!" teriak Naruto dengan suara lantang. Sontak pramusaji yang dipanggil berlari tergopoh-gopoh menuju meja Naruto. Pengunjung lain kaget berjamaah lalu melayangkan tatapannya kepada Naruto dan Hinata. Naruto bersikap biasa saja, sedangkan Hinata menggelengkan kepalanya lalu berbisik 'Saya tidak kenal, dia bukan teman saya. Sumpah, saya tidak berbohong!'
"Iya Mas, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya pesan ramen lima porsi, yakiniku tiga, ayam bakar dua, teriyaki dua, jus alpukat tiga, dan jeruk peras tiga." lapor Naruto lengkap, membiarkan Hinata dan pramusaji termangu heran.
Naruto ini lapar, doyan, kesurupan, atau mempersiapkan sesajen?
"Kalau Mbak nya?"
"Ayam bakar satu dan lemon tea satu."
Pramusaji wanita tersebut mengulangi pesanan lalu pergi sambil menenteng daftar menu. Selagi menunggu, sesekali Hinata melirik kafe untuk memastikan bahwa situasi kembali kondusif setelah Naruto memanggil pelayan dengan jalan ekstrim. Berbeda dengan Naruto yang sibuk mengatur napas lalu memandang Hinata penuh keseriusan.
"Ada yang ingin ku katakan kepadamu," tutur Naruto. Hinata berhenti melihat situasi sekeliling dan menatap Naruto dengan tenang. Naruto menarik kedua tangan Hinata lalu menggenggamnya dengan hangat.
"Kumohon, jadilah kekasihku-"
.
.
.
"-Hinata-chan."
.
.
.
TBC
Makin gaje ya? Haaaa~ gomen *ojigi
Mwehehehehe, bagi yang minta fic ini dipanjangin, Megumi baru bisa banyakin word segini. Dan bagi yang merasa chap 3 fic ini terlalu mengutamakan humor, gomen~ masalahnya otak Megumi kemarin lagi penuh2nya sama humor yang bisa Megumi usahain deh banyakin moment romance NaruHina ^^. Sesuai janji Megumi kemarin, kalau Megumi bakal nyelipin moment buat SasuSaku dan NejiTen. Nah, chap ini SasuSaku aja dulu, next chap baru jatahnya NejiTen. Dikarenakan sekarang bulan puasa, jadi tolong dimaklumi jika cerita Megumi ada mengandung religi gitu (zering kebawa zuazana zaja). Dan Megumi minta maaf karena udah bikin imej akang Pein sama eneng Deidara(?) begitu nista di chap ini~
Jangan nyerah buat nunggu fic ini up ye!
The last of my bacot : review pliss…
