Fic ini bersetting setelah For the Dearest berakhir ^_^
Disclaimer: BLEACH punya kusanagi dalam mimpi indah kusa...XD *dicincang Tite Kubo*
Salah Sangka
Toushiro baru akan membuka pintu dan keluar kamar mandi ketika ia mendengar suara desahan dari satu-satunya ruangan setelah pintu kamar mandi, "Ah... Gin bagaimana kalau Toushiro lihat." desah Rangiku. Lalu Toushiro membeku di tempat berdirinya sambil memegang gagang pintu kamar mandi.
"Tenang saja. kita pasti akan selesai sebelum Toushiro lihat." Jawab Gin pelan tetapi cukup keras untuk Toushiro dengar dari balik selembar pintu yang memisahkan kedua ruanga itu.
Mendadak muka Toushiro merona sangat merah membayangkan apa yang kedua orang tuanya lakukan di ruangan di balik pintu, 'Apa yang mereka lakukan sedangkan aku berada didalam apartement yang sama.' Kata Toushiro Toushiro kesal. Ia kesal dengan orang tuanya yang tidak menghormati keberaadaanya dalam apartement.
Lalu kemudian Toushiro dikejutkan dengan teriakkan ibunya, "Ah... Gin jangan disitu!"
"Disini?" tanya Gin.
"Iya betul disitu.' Kata Rangiku dengan nada puas.
Sekarang ini hal yang ingin Toushiro lakukan adalah menghilang dari dalam apartement, berlari sejauh-jauhnya dan menangis di pulau tak berpenghuni. Tetapi sayangnya ia tidak berani keluar dari pintu dan satu-satunya jendela dalam kamar mandi itu terlalu sempit untuk dilewati, sehingga ia terperangkap dalam kamar mandi itu.
"Aduh... Gin cepetan dong!" teriak Rangiku lagi. Tidak tahan dengan informasi yang didengarnya, Toushiro menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya untuk menghindari mendengar lebih banyak informasi yang tidak ia inginkan. Tetapi sayangnya otaknya yang jenius sudah terlebih dahulu mengolah informasi yang didapatnya dengan cepat.
Tidak tahan, akhirnya Toushiro menangis di dalam kamar mandi.
Sementara itu, di ruangan di balik pintu...
Gin dan Rangiku dengan panik membereskan dokumen-dokumen divisi 10 yang tanpa sengaja Gin kacaukan. Mereka takut Toushiro akan mengamuk ketika mendapati dokumen yang sudah dengan susah payah ia atur semalaman suntuk, berantakan lagi gara-gara Gin.
"Hm... Ran..." kata Gin memanggil Rangiku.
"Apa?" tanya Rangiku sambil dengan panik mengatur dokumen-dokumen di tangannya.
"Apa kau tidak merasa, Toushiro terlalu lama di kamar mandi?" kata Gin mulai khawatir karena putranya belum keluar dari dalam kamar mandi sejak 5 menit yang lalu.
Rangiku mengangkat sebelah alisnya kepada Gin, "Entahlah..." lalu kemudian ia mengecek dokumen yang sedang Gin atuh, "Ah... Gin! dokumen itu jangan disitu!" teriak Rangiku.
"Disini?" tanya Gin sambil membetulkan urutan dokumen di tangannya.
"Iya betul disitu."
Tanpa mereka berdua sadari, mereka telah membuat putra mereka menangis dan trauma.
-kusanagi-
