Because I Care
.
Because I Care © Sweatpanda
.
Cast :
Main
Lai Guanlin X Bae Jinyoung (PanDeep) Slight
!GuanHwi !DeepWink !2Park
Side
!NielHwang !OngWoon !HwanSung
And many more.
Genre :
Romance, Hurt/Comfort
Length :
Chaptered
Summary :
Menjadi seorang Beta, bukanlah keinginan seorang Bae Jinyoung. Karena jujur, Jinyoung tidak mau memilih antara sang sahabat Alphanya Lai Guanlin, atau Omega yang dijodohkan dengannya, Park Jihoon. Rated :
T - M
Warning :
Omegaverse!AU, YAOI, Typo(s), OOC.
.
.
Chapter 4
.
.
"Jinyoung-ah!"
Jinyoung menoleh ke sisi kanannya ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Jinyoung mengerjap pelan ketika melihat Jihoon yang berjalan ke arahnya dengan kepala yang menunduk.
"Ada apa, Jihoon-ssi?" Tanya Jinyoung ketika Jihoon sudah berada di depannya. Jihoon mengatur nafasnya sebelum mengangkat kepalanya dan menatap mata Jinyoung yang menatapnya datar.
"Bisa kita bicara sebentar?" Balas Jihoon dengan suara pelan. "Aku rasa kita sedang bicara. Katakanlah Park Jihoon apa yang kau mau katakan. Aku ingin segera pulang," Jinyoung berkata dengan nada datar yang membuat Jihoon mengumpat dalam hati. Mengumpati sosok yang tengah berdiri di depannya ini, tentu saja.
"Aku ingin kita berkencan," ucap Jihoon seraya menatap lurus mata Jinyoung. "A-apa?" Mata Jinyoung membulat ketika mendengar Jihoon mengatakan hal itu.
"Aku rasa, tidak ada salahnya untuk kita saling mengenal satu sama lain 'kan? Kalau kita saling nyaman dan mungkin jatuh cinta, kita bisa menerima perjodohan ini. Namun jika tidak, kita bisa menolak perjodohan ini bersama-sama," jelas Jihoon seraya menghela nafas panjang.
Jinyoung terdiam sebentar, memikirkan perkataan Jihoon. Dalam hati, tentu saja Jinyoung menolak mentah-mentah ide Jihoon ini. Bagaimanapun juga, Jinyoung itu mencintai Guanlin. Tapi tidak memungkiri juga jika otak Jinyoung berteriak untuk menerima ide Jihoon ini. Mungkin saja dia bisa membuka hatinya untuk Jihoon dan dapat menyenangkan orangtuanya. Tapi, bagaimana dengan perasaan Woojin?
"Jadi, apa kau setuju?"
Jinyoung tersentak dari lamunannya ketika indera pendengarnya kembali mendengar suara Jihoon. Menghela nafasnya, Jinyoung melirik sekitar sebelum mengangguk kecil.
"Aku rasa itu bukan ide buruk. Tapi, tolong rahasiakan ini dari semua orang, termasuk Daehwi. Aku tidak ingin membuat orang berfikir yang tidak-tidak dengan hubungan kita."
Jihoon menganggukkan kepalanya dengan senyum manisnya yang mengembang, "Aku mengerti, Jinyoung-ah."
"Kalau begitu aku pergi dulu. Hyungku memintaku pulang cepat sekarang."
"Baiklah, hati-hati di jalan. Jinyoung-ah," Jihoon melambaikan tangannya pada Jinyoung yang bergerak berjalan lebih dulu. Jinyoung membalasnya dengan senyum kecil yang membuat Jihoon terpana untuk beberapa detik.
"Jadi, kau benar-benar serius dengan perjodohan ini?"
Jihoon melirik ke samping kanannya begitu Woojin tiba-tiba muncul dan langsung merangkul bahunya.
"Bae Jinyoung itu tampan. Aku rasa tidak ada salahnya punya mate seperti dia," balas Jihoon santai.
Woojin terkekeh pelan, matanya menatap remeh pada Jihoon. "Sejak kapan kau melihat seseorang dari wajah? Ku kira selama ini kau hanya melihat seseorang dari status saja," ucap Woojin dengan seringai kecil di wajahnya.
Jihoon mengendikkan bahunya, "Sejak, beberapa hari lalu, mungkin."
Woojin tertawa pelan mendengarnya. Keduanya pun melanjutkan langkah mereka menuju rumah masing-masing. Dengan sedikit obrolan ringan yang diselingi tawa kecil. Dan tanpa Jihoon sadari, Woojin yang sesekali menatapnya dengan pandangan yang tak terbaca.
.
.
Jinyoung mendekati Minhyun yang tengah memasak makan malam. Jinyoung memeluk Minhyun dari belakang dan menyembunyikan wajahnya di punggung Minhyun. Minhyun tersentak kaget, sebelum akhirnya tersenyum manis menyadari adik sepupunyalah yang tengah memeluknya.
"Ada apa Jinyoung?" Tanya Minhyun pelan, tangannya masih sibuk mengaduk sup buatannya.
Jinyoung menggeleng pelan, dan bibirnya masih saja tertutup tidak ingin membalas apapun atas pertanyaan Minhyun. Minhyun mengulum senyumnya, sangat mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada adik sepupunya itu.
Minhyun menyentuh tangan Jinyoung, "Makan malam sudah siap. Tolong kau panggilkan Daniel ya, dia ada di teras depan tadi."
Jinyoung mengangguk pelan, ia pun melepas pelukannya di tubuh Minhyun dan berjalan menuju ke depan rumah. Minhyun tersenyum kecil melihat tingkah Jinyoung seperti ini. Minhyun merasa sedih sebenarnya, mengetahui jika adik sepupunya ini memiliki masalah yang cukup besar untuk anak seusianya.
Menggeleng pelan, Minhyun kembali pada dunia nyata ketika ia mendengar suara Daniel yang menyapa indera pendengarnya.
"Sudah siap semua hyung?" Daniel menghampiri Minhyun dan berdiri di dekatnya. Minhyun mengangguk pelan, "Hanya tinggal ini yang belum ditaruh," ucap Minhyun seraya menunjuk semangkuk sup yang berada di tangannya.
Daniel tersenyum lebar, "Omong-omong, Guanlin ikut makan malam bersama kita. Dia juga akan menginap beberapa hari ke depan. Wooseok dan Yuto akan ke Jepang karena ayah Yuto sedang sakit di sana. Mereka juga mengajak Seonho, hyung."
Minhyun mengangguk mendengar penjelasan Daniel. Pantas saja Daniel terlalu lama di luar, rupanya mengobrol dengan keluarga Jung dulu.
"Lalu, di mana Jinyoung dan Guanlin sekarang?" Tanya Minhyun setelah meletakkan mangkuk berisi sup itu di atas meja. Daniel mengendikkan bahunya, "Tadi aku tinggal mereka di depan pintu."
"Kenapa kau meninggalkan mereka?" Sinar mata Minhyun berubah cemas ketika menatap Daniel yang sudah duduk di kursinya. Daniel menghela nafasnya melihat tatapan itu.
"Kau tenang saja hyung, sebentar lagi juga mereka ke sini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan mereka," balas Daniel tenang. Daniel berdiri lagi dan menarik sebuah kursi yang tak jauh darinya, ia pun menuntun Minhyun untuk duduk di sana.
"Sekarang kita makan dulu saja. Jika mereka lapar, mereka pasti akan ke sini dengan cepat," ucap Daniel dengan senyum lebarnya. Minhyun menghembuskan nafasnya pelan, mungkin benar dia tidak boleh terlalu banyak berpikir negatif sekarang. Apalagi mengenai adik sepupunya itu dan Guanlin. Karena Minhyun tahu, Guanlin adalah anak yang baik.
"Kau benar, Daniel-ah."
.
.
Jinyoung melangkah menuju bangku di depan rumahnya. Guanlin sendiri masih berdiri di dekat pintu rumah Jinyoung setelah beberapa menit berlalu Daniel meninggalkan keduanya. Guanlin menunduk, ia melangkah mendekati Jinyoung yang sudah duduk di bangku dengan pandangan kosong yang menatap lurus ke depan.
"Maaf jika aku mengganggumu, hyung," cicit Guanlin pelan. Jinyoung tidak bergeming, "Duduklah, Guanlin. Aku tahu kau lelah karena sedari tadi berdiri terus." Ucap Jinyoung masih dengan pandangan yang lurus ke depan. Tidak melirik maupun menoleh pada Guanlin.
Guanlin tersenyum kecil, ia pun memilih untuk duduk di samping Jinyoung. Matanya melirik pada Jinyoung yang sekarang sedang menutup kedua matanya. Guanlin memperhatikan bagaimana wajah kecil Jinyoung yang begitu menawan di mata semua orang. Tidak peduli itu wanita atau lelaki. Tidak peduli itu Omega, Beta, ataupun Alpha. Seperti dirinya, misalnya.
"Aku akan berkencan dengan Jihoon."
Guanlin mengerjapkan matanya pelan ketika suara datar Jinyoung terdengar. Tunggu! Jinyoung, berkencan? Dengan Jihoon? Jadi, serius jika Jinyoung lebih memilih orang yang baru ia kenal dibanding dirinya? Entah Guanlin harus menangis atau menertawakan dirinya sendiri sekarang.
"Sebenarnya aku ingin merahasiakan ini darimu, maupun dari orang lain. Tapi, kita sudah berjanji 'kan untuk tidak merahasiakan apapun lagi? Maka dari itu, aku ingin memberitahunya padamu," Jinyoung melanjutkan tanpa menunggu respon Guanlin.
Karena Jinyoung sendiri tahu pasti bagaimana perasaan Guanlin sekarang. Tidak hanya dirinya yang terluka saat ini, tapi Guanlin juga. Apalagi baru kemarin malam Guanlin mengungkapkan perasaannya dan sekarang Jinyoung sudah memberitahu Guanlin jika dirinya ingin berkencan. Jika bisa, Jinyoung ingin menampar dirinya sendiri sekarang.
"Se..lamat?" Guanlin berujar ragu, sinar matanya meredup ketika menatap Jinyoung. Jinyoung terkekeh datar, matanya membuka dan bertemu tatap dengan mata Guanlin. "Kau senang?" Tanya Jinyoung pelan.
"Kau ingin jawaban aku sebagai sahabatmu atau aku sebagai orang yang mencintaimu?" Guanlin balik bertanya. Matanya merangkap pandangan Jinyoung untuk tetap menatap matanya.
Jinyoung menelan ludahnya, menggigit pipi dalamnya sebelum menjawab, "Dua-duanya."
Guanlin terkekeh pelan, "Sebagai sahabat, aku tentu saja senang mendengar sahabatku ingin berkencan. Karena bagaimanapun kau belum pernah berkencan 'kan hyung?" Nada jahil keluar dari mulut Guanlin yang membuat Jinyoung menatapnya tak suka.
"Tapi sebagai orang yang mencintaimu, tentu saja aku tidak senang," Tatapan Guanlin menajam, ia menghembuskan nafasnya pelan.
Jinyoung menghela nafasnya dan menundukkan kepalanya, "Maaf. Tapi ini sudah menjadi pilihanku."
"Aku mengerti hyung."
Guanlin menyentuh pundak Jinyoung, mendekatkan tubuh mereka. Guanlin memeluk pundak Jinyoung dan memaksa kepala Jinyoung untuk menyender di bahunya. Jinyoung melirik sinis namun dibalas oleh senyuman lebar Guanlin.
"Dasar!"
Namun Jinyoung malah menyamankan kepalanya di bahu Guanlin. Jinyoung memejamkan matanya, mencoba meresapi rasa hangat yang menjalar ke dalam hatinya akibat dekapan hangat Guanlin.
"Aku ingin kita seperti ini terus, hyung." Gumam Guanlin seraya menumpukkan kepalanya di kepala Jinyoung.
'Aku juga ingin, Guanlin-ah,' balas Jinyoung dalam hati.
Jinyoung pun menyusupkan tangannya untuk memeluk tubuh Guanlin. Untuk malam ini saja, biarkan Jinyoung membalas perasaan Guanlin dan melakukan apapun yang ia inginkan bersama Guanlin. Termasuk memeluk pemuda Taiwan itu dengan erat. Jinyoung tersenyum membayangkan jika dirinya dapat melakukan hal seperti ini terus dengan Guanlin.
'Aku sekarang mengerti hyung, bagaimana perasaanmu kepadaku. Dan dengan ini, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak melepaskanmu. Aku akan memperjuangkanmu bagaimanapun caranya. Termasuk menghadapi kedua orangtuamu.' Janji Guanlin dalam hati sambil mencium sayang pucuk kepala Jinyoung.
"Aku bilang mereka akan baik-baik saja, 'kan hyung?" Bisik Daniel yang berada di samping Minhyun. Minhyun mengangguk pelan, "Kau benar, Daniel-ah."
"Sekarang, ayo ke kamar. Biarkan mereka menghabiskan waktu berdua. Jika mereka merasa dingin, mereka juga akan masuk kok," ajak Daniel seraya menggenggam tangan Minhyun.
Minhyun mengulum senyumnya, keduanya pun masuk ke dalam kamar mereka. Dan Minhyun hanya dapat berdoa, jika ia bisa melihat senyum Jinyoung terus seperti tadi.
.
.
"Daehwi-ya?"
Daehwi tersentak dari lamunan panjangnya melihat seseorang yang menghampirinya.
"Youngmin hyung?" Daehwi melihat bingung pada sosok pemuda yang sudah duduk di depannya itu. "Sedang apa di sini?" Tanya Daehwi pelan.
"Janjian dengan Donghyun. Tapi biasa, dia sedikit telat karena ada urusan dulu katanya," jawab Youngmin santai. "Kau sendiri sedang apa? Menunggu orang juga?" Youngmin balik bertanya.
Daehwi menggeleng dengan senyuman kecil yang mengembang, "Tidak hyung. Aku hanya sedang menenangkan pikiran saja."
"Kau ada masalah?" Alis Youngmin bertaut menatap sosok yang sudah dianggapnya adik itu sepertinya sedang sedih. Terlihat dari wajahnya yang menyendu.
"Hanya sedikit kok hyung," sahut Daehwi dengan mata yang bergulir menatap sekelilingnya. Tidak mau menatap sosok Alpha yang duduk di hadapannya itu.
"Bicara saja yang jujur Daehwi-ya. Tapi, hyung juga tidak akan memaksamu. Hyung cukup mengerti, mungkin ini masalah besar untukmu. Tapi, lebih baik kau berbagi bersama orang lain, agar kau bisa mendapat jalan keluarnya. Terkadang, nasihat orang itu diperlukan untuk mengambil keputusan. Meski keputusan diri sendirilah yang lebih penting, terlepas kau akan menyesal atau tidak dengan keputusanmu itu," ucap Youngmin panjang lebar selaras dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Daehwi diam mendengarkan. Sudah dua orang yang memberinya nasihat, dan Daehwi kini sudah harus bisa mengambil keputusannya sendiri. Menyesal atau tidaknya nanti, itu adalah hal yang harus Daehwi terima akibat pilihannya itu.
"Terimakasih hyung, kau sangat membantuku," ujar Daehwi dengan senyum lebarnya.
Youngmin menganggukkan kepalanya, meskipun tidak sepenuhnya mengerti akan masalah Daehwi, tapi Youngmin bersyukur jika kata-katanya dapat membantu Daehwi.
"Youngmin-hyung!"
Youngmin menoleh ke arah suara di mana sosok yang memanggilnya berada. Tersenyum lebar, Youngmin melambaikan tangannya menyapa Donghyun yang sedang berjalan menghampirinya. Diikuti oleh seseorang yang juga menghampiri dirinya.
"Lho, dia bukannya?" Gumam Youngmin yang dapat didengar Daehwi. Menolehkan kepalanya, mata Daehwi membulat melihat seseorang yang berada di belakang Donghyun.
"Dia-!"
.
.
Seongwoo menyipitkan matanya melihat sepupunya yang tengah tersenyum menyeringai sambil menatap ponselnya. Mendekati sepupunya, Seongwoo menepuk bahu Woojin seraya duduk di samping Woojin.
"Kau dapat darimana foto itu?" Tanya Seongwoo penasaran setelah melihat foto yang berada di ponsel pemuda bergingsul itu.
Woojin melirik Seongwoo masih dengan seringai yang terpatri di wajahnya, "Aku mengambilnya sendiri tadi, hyung."
"Kau sudah sangat ahli mengintai huh, Park Woojin?" Seongwoo terkekeh pelan, ia kemudian meraih ponselnya yang berbunyi menandakan adanya pesan masuk.
"Kau seperti tidak tahu aku siapa saja hyung," Woojin membusungkan dadanya bangga. "Berpura-pura menjadi Beta saja aku bisa apalagi hanya menjadi mata-mata dari seorang Bae Jinyoung? Itu tidak ada apa-apanya bagiku, hyung."
"Ya, terserahmu saja, Woojin-ah. Hanya saja hyung ingatkan padamu, jika kau ingin mendapatkan Jihoon, lebih baik kau jujur padanya. Jangan terlalu banyak melibatkan perasaan orang, karena nantinya akan banyak juga yang terluka."
Woojin mengulum bibirnya, matanya menatap tajam pada Seongwoo yang setelah mengatakan hal tadi langsung sibuk berbalas pesan dengan seseorang yang dapat Woojin pastikan adalah Park Sungwoon. Kakak dari Park Jihoon.
"Aku mengerti akan hal itu, Seongwoo hyung. Hanya saja, bermain-main dalam cinta, tidak ada salahnya 'kan?"
Seongwoo menggeleng tidak setuju, "Jika kau bermain-main sedikit saja maka akan fatal akibatnya, Woojin. Bukan hanya kau bisa kehilangan cintamu, tapi juga orang-orang di sekitarmu yang akan langsung menganggapmu tidak punya perasaan."
Seongwoo berdiri dari duduknya dan menepuk bahu Woojin, menyemangati. "Hyung hanya ingin mengingatkan, kurangi ambisimu pada Jihoon. Sebelum dia terluka, karena bagaimanapun Jihoon adalah adik dari mate hyung, Woojin. Jika kau menyakitinya sedikit saja, maka jangan harap kau akan selamat dariku," gumam Seongwoo tajam seraya berlalu.
Woojin menggeram rendah, percuma saja ia kabur dari rumahnya jika tidak di rumah tidak di sini, selalu saja dapat omelan.
"Ck! Menyebalkan!"
.
.
TBC
.
.
A/N :
1.) Terimakasih untuk yang sudah review, favorite, serta follow ff ini.
2.) Ada yg nanya Daehwi sama siapa? Kalo aku balikin ke kalian, Daehwi cocoknya ama siapa? Mau SamHwi or DongHwi? Atau yg lain, siapa?
See you next chap!
28 Agustus 2017
Panda
