EGLANTINE ~*Aku Terluka untuk Sembuh*~

Author : Shee

Desclaimer : Tuhan YME, Orang tua mereka masing-masing, Pledis Ent.

CAST : SEVENTEEN member.

Rated : T

Genre : Romance, School Life, Angst (inginnya).

Summary : Didalam tubuh Jihoon ada satu lagi sisi manusia. Jihoon yang berjuang dengan kematiannya, dan sosok itu mencegahnya mati-matian.

.

Chapter 04

.

"Kau bisa melihatnya?" Jihoon menatap Jisoo intens.

Orang nomor satu sekolah ini ternyata bisa melihat hal-hal seperti ini, siapa yang bisa menyangkanya. bahkan Jihoon tidak yakin kalau dia bercerita pada Seungchol dia akan mempercayainya. Mereka tidak mengenal satu sama lain sebelumnya, tapi karena Jisoo adalah orang yang sangat baik dan bisa akrab dengan siapapun, dia tidak pernah ragu mengajak siapapun berbincang-bincang dengannya.

"Dia seperti memiliki urusan denganmu, bukan aku menakutimu atau apa. tapi sebaiknya kau melepasnya. dia bisa menimbulkan banyak hal buruk terjadi padamu." ujarnya saat melihat ke arah Wonwoo yang menunjukkan wajah tidak sukanya terhadap orang itu. entah karena dia memiliki hawa yang mirip seorang excorcist atau cenayang entahlah apa itu namanya. Wonwoo hanya tidak menyukainya saja. "Aku bisa membantumu menemukan orang yang bisa membuangnya, kalau kamu mau" tawar Jisoo.

Jihoon berpikir sejenak, keadaannya memang tidak berubah menjadi baik atau buruk semenjak dia diikuti, semuanya berjalan statis bahkan orang yang membully-nya tetap. hanya saja dia telah kehilangan sahabat terbaiknya saat ini, tapi itu semua salahnya, hantu ini tidak ada hubungan apapun mengenai kehidupannya.

Apa dia akan bahagia kalau dia tidak diikuti hantu ini?, jawabannya tidak. Jihoon jarang merasa bahagia akhir-akhir ini. tapi setidaknya dengan adanya Wonwoo, dia memiliki teman untuk berbicara walau mengharap imbalan, itu lebih baik dibanding orang yang terlihat baik namun menusuk di akhir.

"Hal buruk?, dengan atau tanpa dia, hariku tetap seperti ini." setelah itu Jihoon ijin untuk pergi meninggalkannya karena sepertinya jam istirahat sudah hampir habis. "Terima kasih tawarannya."

"Kalau ada apa-apa jangan ragu untuk datang padaku." ujar Jisoo yang masih bisa di dengar Jihoon, entah kenapa orang itu seperti tertarik dengan masalah ini.

.

.

.

"Jihoon, kita perlu bicara."

Seungchol yang sengaja menunggu Jihoon di depan loker sepatunya karena Jihoon paling bisa melarikan diri darinya kalau dia menunggu di depan gerbang.

"Kenapa kau jadi seperti ini? apa aku melakukan kesalahan padamu? oke maaf soal Jeonghan karena tidak memberitahumu." Jihoon hanya diam mendengarkan, sebenarnya dia masih ingin berteman dengan Seungchol, tapi dia mulai tidak suka dengan Jeonghan yang menganggapnya serangga yang mengganggu hubungan mereka.

"Seungchol. hari ini aku ingin pulang bersamamu."

Dan sekarang sudah terjadi apa yang di takuti Jihoon, Dari jauh Jeonghan memanggilnya. Seungchol pasti lebih memilih orang yang selama ini dicintainya dari pada sosok teman yang menyebalkan seperti Jihoon.

"Pergilah. aku tidak butuh permintaan maaf darimu." ujar Jihoon dan segera mengambil sepatunya. dalam hati ia ingin melanjutkan 'karena aku selalu memaafkanmu...'

"Jihoon tapi-"

"Jisoo, mau pulang bersamaku?" Sebelum sempat Seungchol mengejarnya, tidak sengaja Jisoo lewat dan dia langsung berpura-pura mengajaknya pulang bersama.

Dan Jeonghan pun segera menarik Seungchol pergi dan tidak membolehkannya mengejar Jihoon.

Di perjalanan, Jihoon dan Jisoo terlihat canggung entah apa yang dipikirkannya tiba-tiba mengajak Jisoo pulang bersama padahal kenal dekat saja tidak.

"Kau menggunakanku sebagai alat pelarian." ujar Jisoo santai sambil tersenyum seperti biasanya, walaupun hanya sekilas dia tahu semuanya. berterima kasihlah pada otak dan kepekaannya terhadap sekitar, tidak heran dia sangat disegani seluruh sekolah. Dari fisik dan sikap dia tidak ada celah sedikitpun terlihat sangat sempurna.

"Aku tidak kenal banyak orang, dan aku melihatmu,maaf. kalau kau tidak nyaman kau boleh pergi." ujar Jihoon merasa bersalah, membawa orang sebaik itu dalam masalahnya.

Mereka terus berjalan berdua tidak perduli berapa banyak pasang mata yang menatap mereka. termasuk dua geng yang selalu mengganggu Jihoon tapi sekarang mereka tidak bisa melakukannya karena dia melihat Jisoo berada bersamanya. melakukan kekerasan di depan Jisoo sama seperti mendaftar untuk di d.o dari sekolah.

"Jadi kau bisa melihat arwah-arwah?" tanya Jihoon memecah keheningan.

"Iya, aku tidak tahu itu berkah atau musibah terkadang aku ketakutan sendiri. jangan katakan pada anak yang lain"

"Aku bahkan tidak punya teman untuk membahas ini."

Dan saat mereka berjalan bersama, Wonwoo yang mengikuti Jihoon sekarang sudah tidak ada disampingnya, dia pergi entah kemana. dia benar-benar tidak menyukai orang yang seperti Jisoo.

.

.

.

Dengan cepat berita menyebar, Jihoon bukan termasuk orang terkenal jadi tidak mungkin sesekolah membicarakan dirinya tanpa alasan, masalahnya ini pada Jisoo. Dia dan Jisoo dikabarkan dekat. dan kabar miring itu mengatakan kalau Jihoon ingin 'menjilat' Jisoo supaya statusnya disekolah ikut naik.

Apalagi ini, kalau dia semakin menjadi pusat perhatian dia tidak akan bisa hidup dengan tenang.

Dan entah kenapa Jisoo tidak mempermasalahkan itu semua. dia semakin dekat dengan Jihoon dari hari ke hari.

Orang-orang yang sempat bersimpatik kepadanya, kini mulai membencinya kembali terutama perempuan yang hanya bisa mengangumi Jisoo dari kejauhan. begitu lebih baik.

Saat pelajaran Biologi semua sudah berpasangan dan dia hanya sendirian berjalan melewati lorong untuk sampai ke laboratorium. biasanya ada Seungchol yang sudah berada disampingnya mengajaknya berbicara walau tidak mendapat sedikitpun respon.

Jihoon mendapati sosok Soonyoung yang berdiri didepan kelasnya dimarahi guru olahraga karena tidak membawa seragamnya padahal hari ini ada test, kalau dia tidak memaki seragam olahraga dia tidak diperbolehkan ada di lapangan dan tidak mendapat nilai.

Setelah sang guru pergi meninggalkannya, dia melihat Jihoon yang lewat sendirian di depannya, Soonyoung mengikuti pergerakannya yang terlihat santai dan tidak mau mengejek dirinya, sampailah Jihoon di depan lokernya.

Jihoon membuka lokernya dan mengambil sesuatu dari dalam, dia berbalik kearah Soonyoung berdiri dan menyerahkan seragam olahraga pada Soonyoung.

"Untuk apa ini?"

"Kau boleh meminjamnya. nanti pulang sekolah taruh saja diatas lokerku."

"Kau kan tidak ada jadwal olahraga kenapa kau membawa baju ini? dan kenapa kau memberikannya padaku, aku tidak suka berhutang budi. apalagi padamu."

"Aku tidak suka pulang dengan seragam yang kotor. dan aku tidak memaksamu untuk membalas budi. cukup kembalikan seragamnya."

Soonyoung bingung antara menerimanya atau tidak. Tapi entah apa yang ada dipikirannya, Jihoon segera meletakkan baju itu ditangannya. Soonyoung mau tidak mau menerimanya begitu saja dan segera ke lapangan, untuk hari ini dia harus jadi orang yang terlihat baik karena orang tuanya baru saja pulang dan akan mengechek kegiatannya selama ini, jadi dia tidak mencari gara-gara dengan Jihoon untuk kali ini.

Dengan begitu Jihoon segera ke lab. biologi untuk ikut pelajarannya sendiri.

Di lapangan, Soonyoung mengampiri ke dua temannya yang meninggalkannya di kelas sendirian.

"Kau temukan dimana baju olahraga lengkap begitu?. dan kenapa kekecilan begitu?" Seokmin yang sedang duduk di pinggiran lapangan langsung mengomentari penampilan Soonyoung, Jun hanya bisa terkekeh di ujung kaos olahraganya ada jahitan lucu berbentuk kelinci.

"Masih untung aku bisa menemukannya disaat-saat terakhir, kalau tidak habislah nilaiku semester ini."

Soonyoung tidak mengatakan darimana dia mendapatkannya, lagipula teman-temannya tidak akan suka mendengarnya.

Setelah jam pelajaran selesai Jihoon tidak langsung menuju kelasnya atau ke kantin, lagi-lagi dia mencari tempat sepi. siapa tahu Wonwoo sudah ada di sekitarnya lagi semenjak kemarin menghilang.

Saat dia memasuki ruang kosong bekas klub drama itu kini ada gitar yang tergeletak di dekat jendela, dan dia yakin ada seseorang yang sedang menggunakan tempat ini.

Jihoon menoleh ke belakang, dia merasakan ada yang datang. dan benar saja sosok yang selama ini mengikutinya kembali lagi. "Darimana saja kau? kupikir kau sudah naik ke atas."

Entah atas itu maksudnya apa, mungkin tempat dimana arwah biasanya berkumpul atau entah dimana itu Jihoon juga tidak tahu.

"Aku tidak suka berada disekitar orang itu.."

"Orang itu? siapa?"

"Orang yang bisa melihatku kemarin. dia menyeramkan"

"Kalau ada orang yang menyeramkan itu Seokmin, Seungkwan dan anak buahnya mereka yang menakutkan. Jisoo baik pada semua orang"

"Kamu jangan terlalu dekat padanya."

"Kamu dan Jisoo sama-sama bilang seperti itu, lalu aku harus menuruti siapa?"

.

.

.

Saat pulang sekolah, Jihoon tidak melihat adanya tanda-tanda seragam olahraganya dikembalikan, pasti dibuang entah kemana oleh Soonyoung. yasudahlah salah Jihoon sendiri sudah memberikannya.

Dari jauh Soonyoung hanya melihatnya dan tidak mau mendekat, dia ingin mengembalikannya secara baik-baik karena sudah dipinjami, tapi entah kenapa rasa malunya tinggi sekali. apa yang orang-orang katakan kalau melihat Soonyoung menerima bantuan dari orang yang selama ini dia hina dan permalukan.

Jihoon melangkahkan kakinya untuk segera pulang, hari sudah sore untung saja hari ini dia tidak bertemu genk mereka sama sekali. entah apa yang terjadi tapi itu menguntungkannya. Dan Soonyoung hanya mengikutinya dari belakang.

Ditengah perjalanan dan di sebuah jalan yang sepi. tiba-tiba Soonyoung melihat Jihoon terjatuh dengan keras begitu saja ditengah jalan. Dia kaget dan panik sekaligus, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, menelpon ambulan? menolongnya sendiri? meninggalkannya begitu saja?.

Sibuk dengan pikirannya sebelum sempat dia melakukan apa-apa, Jihoon sudah bangun lagi dan cara berjalanya sudah berbeda dengan yang tadi, tidak terlihat ada yang sakit. Dari jalannya terlihat lebih urakan dan seperti jadi orang yang berbeda. Dia mengingat kejadian tangannya patah beberapa waktu lalu. Jihoon juga jadi brutal dan omongannya tidak jelas setelah itu dia tidak ingat kalau dia yang mematahkan tangannya.

Mungkinkah,...

Jihoon memiliki dua kepribadian, dia harus memberitahu teman-temannya. tapi dia tidak punya banyak bukti yang bisa membuat semua orang percaya. Mereka akan mengira ini hanya bualannya belaka dan mereka akan menanyakan kenapa dia membuntuti Jihoon sampai seperti itu.

Keingintahuannya membawanya untuk terus mengikuti Jihoon kemanapun dan sampailah dia di sebuah perempatan penyebrangan jalan, walaupun beberapa kali lampu penyebrangan jalan terus berganti dia tidak ada keinginan menyeberangi jalan hanya diam disisi jalanan.

Tidak ada yang bisa dia dapatkan untuk menjelaskan presepsinya, Jihoon hanya berdiri disana sampai malam benar-benar tiba dan langsung pulang kerumah tidak ada yang aneh lagi.

.

.

.

Pagi-pagi sekali Jihoon mengobrak-abrik lemarinya dia mencari seragam olahraga cadangannya, karena hari ini jadwal kelasnya yang mengadakan tes untuk pengambilan nilai semester akhir, hanya hari ini dia diijinkan masuk ke lapangan.

"Sedang mencari apa, sayang?"

Mamanya yang tidak sengaja hendak membangunkannya malah menemukan Jihoon sedang melempar-lempar bajunya dengan keadaan panik.

"Mama tahu seragam olahraga cadanganku yang kusembunyikan supaya mama tidak menyulamnya dengan hal-hal menggemaskan kesukaan mama.?"

"Sedang di laundry, kau memakainya seminggu ini kan? kau mau memakainya lagi? memangnya kenapa seragammu bukannya kamu punya dua."

Tamatlah riwayatnya kali ini, ada rasa menyesal meminjamkannya pada Soonyoung kemarin, tapi nasi sudah menjadi bubur, mungkin dia diijinkan masuk lapangan walau memakai pakaian biasa. yah siapa tahu mereka bisa melihat keadaannya.

"Tidak ada toleransi untukmu sekalipun, tidak memakai seragam olahraga tidak diijinkan masuk lapangan, dan tidak masuk lapangan berarti tidak mengikuti tes. mudah kan?"

Guru olahraga merangkap guru BP itu satu-satunya guru paling tegas disini dan semua peraturan yang dibuatnya ditegakkan tanpa pandang bulu.

"Aku akan menyelesaikan tesku terlebih dahulu lalu pakailah punyaku, berharaplah kau giliran terakhir?" Seungchol menawarinya, dan Jihoon hanya bisa tersenyum pasrah dia tidak mau merepotkannya apalagi setelah mereka canggung selama ini. Seungchol dan jiwa penolongnya ternyata masih tetap sama seperti pertama kali mereka bertemu.

Setelah lama mondar-mandir di depan kelas mencari cara agar dia bisa mengikuti tes lari ini dengan tidak merepotkan Seungchol lebih banyak dari ini, tidak ada kelas lain yang sedang waktu olahraga kecuali kakak kelas dan adik kelas.

BUKKK

"Aduuhh."

Sesuatu dilempar dan mengenai sekitar wajahnya, saat dia berhasil melihat benda itu ternyata baju olahraga lengkap. "Punyamu masih kotor, itu punyaku pakailah dulu" Dari kejauhan Soonyoung yang melempar pakaian itu, tanpa bertanya apapun Jihoon segera berlari ke kamar ganti dan mengganti bajunya.

Di lapangan Seungchol sampai menatap Jihoon lama, penasaran dengan siapa orang yang membantunya apakah Jisoo lagi, rumornya mereka sangat dekat.

Jihoon tepat datang saat namanya disebut dalam absen dan bisa mengikuti tes walau nilai seadanya, setidaknya tidak kosong.

.

.

.

"Si Soonyoung ternyata masih memiliki sisi manusia juga dalam dirinya."

Gumam sosok yang selalu mengikuti Jihoon itu, dan Jihoon sendiri segera mengambil seragam formalnya dan menuju ruang ganti bersiap mengikuti pelajaran selanjutnya di kelas.

Setelah pelajaran olahraga selesai, Jihoon kembali ke kelasnya untuk mengambil seragam dan dia dikagetkan dengan karangan bunga mini yang tergeletak di mejanya, dan mejanya penuh dengan coretan merah bertuliskan 'Jugeora' atau menyuruhnya untuk mati.

Dia tidak sibuk mencari siapa yang melakukannya, Karena teman sekelasnya juga tidak mengambil pusing dengan hal itu, lagipula itu bisa siapa saja bahkan mungkin di kelas ini. Jihoon sempat melirik Seungkwan di seberang sana dan pandangan acuhnya, dia langsung menarik meja itu keluar dan menggantinya dengan yang lain di gudang.

Di tengah perjalanannya dia bertemu Jisoo, dan dia langsung khawatir pasti ada yang mengerjainya, tapi Jihoon berusaha mengelak kalau ini milik teman sebelahnya bukan miliknya. tapi Jisoo tahu orang seperti Jihoon tidak pernah mau repot mengurusi orang lain, dan tidak mau orang lain repot karena urusannya.

"Aku bisa melaporkannya ke guru konseling, mungkin itu lebih baik" tawar Jisoo.

"Tidak, terima kasih. ini mudah diatasi."

Dari jauh dia bisa melihat Seungkwan tersenyum aneh kearahnya, mungkin dia tersenyum karena Jihoon terlalu bodoh dan menolak tawaran Jisoo untuk melaporkan kasusnya. Dan sepertinya Seungkwan sangat tidak menyukai dirinya yang dekat dengan Jisoo.

Dia sadar Seungkwan berhenti menjahilinya tepat setelah dia memiliki kesenjangan dengan Seungchol, tapi sekarang dimulai kembali saat dia memiliki kabar berteman dekat dengan Jisoo.

Ingat saat dia masih SMP dan dia tahu kalau Seungkwan menyukai Seungchol, tapi entah kenapa Seungchol tidak terlalu sadar dan memilih untuk dekat dengan si penutup diri Jihoon, dan tidak bisa menjadi satu dengan si ceria Seungkwan. berbagai cara dilakukannya tapi tidak sedikitpun merubah keadaannya bahkan sampai SMA dia bertemu orang-orang yang membawanya ke dalam dunia popularitas ini. Dan Jihoon yang semakin menutup diri adalah mangsanya.

Saat sampai di gudang, Wonwoo merasa ada bahaya yang menanti Jihoon setelah ini. dia langsung tak berpikir panjang untuk menggantikan Jihoon sementara waktu.

Tepat saat Seungkwan hendak mengunci pintu gudang dari luar, tiba-tiba Jihoon mencengkeram erat tangannya.

"Ternyata aku sedang menghadapi seorang pengecut yang beraninya hanya main dari belakang."

"Lepaskan!."

Jihoon yang biasanya hanya terdiam sekarang mulai memarahi Seungkwan dan sifat kekanak-kanakannya, ingin mendapat perhatian dengan cara yang salah. Hal yang biasa menurut Jihoon tapi jadi bahan tertawaan untuk Wonwoo karena dia sudah pernah mengalami sebelumnya dan itu tidak akan berhasil mendapat apapun malah akan menyusahkan saat dia dewasa nanti. Seungkwan ketakutan, yang dia hadapi seperti bukan Jihoon. genggamannya sangat keras sampai dia merasa ada kuku tajam yang menancap di tangannya.

"Bocah, kuberitahu sesuatu padamu. permainan yang seperti ini suatu saat akan kembali padamu, mungkin saat ini adalah suatu saat itu."

Seungkwan mencari tahu apa dia sedang berhadapan dengan orang lain yang lebih dewasa darinya. tapi tidak, dia hanya menemukan Jihoon dengan seringaian dan muka jahatnya dan tubuh yang tidak sebesar dirinya tapi dengan satu tangannya dia berhasil menghempaskan Seungkwan terjatuh ke belakang dan menutup pintu besar dan berat itu dengan satu tangannya. lalu membiarkan Seungkwan terkunci di dalamnya.

"Keluarlah dari tubuh ini, kau tidak berhak menguasainya." Tiba-tiba dari belakang, Jisoo memegangnya dengan tangan yang basah entah itu air apa tapi Jihoon langsung tidak sadarkan diri.

Jisoo segera mengeluarkan Seungkwan dari dalam sana, dan dia menangis sejadi-jadinya menyalahkan Jihoon atas semuanya saat melapor pada guru BP nya, tapi Jisoo membela Jihoon saat itu dia bilang kalau itu bukan salah Jihoon dan Seungkwan sendiri yang masuk ke gudang itu tidak sengaja Jihoon menguncinya dari luar. lalu Seungkwan menunjukkan luka di tangannya itu akibat Jihoon, tapi lagi-lagi disanggahnya dengan mengatakan kalau pintu ditutup gudang pasti gelap mungkin saja Seungkwan tidak sengaja tergores sesuatu didalam sana.

Dan semua guru disekolah mempercayai perkataan pria nomor satu itu, dan mengabaikan Seungkwan yang kesehariannya memang sering membual, mengada-ada dan melebih-lebihkan sesuatu.

Jihoon tidak dalam kondisi sadar saat ditemukan dan dibopong ke ruang kesehatan. sempat membuat kegaduhan bagi yang melihat, melihat siapa yang membopongnya seorag Hong Jisoo dan kedekatan mereka sudah tidak diragukan lagi.

Dengan masih memakai baju olahraga yang sedikit kebesaran di badannya kini dia tertidur dengan pulasnya di salah satu bilik di ruang kesehatan ini, beberapa kali diberi minyak kayu putih di sekitar hidung dan dadanya tapi dia tidak juga membuka matanya.

Jisoo kini berbalik ke Seungkwan yang tersengguk karena dia kesakitan dan tidak ada seorangpun yang membelanya. Sesekali Jisoo mengelus rambutnya saat membersihkan lukanya dan mengobatinya mengatakan kalau dia tidak boleh menangis seperti ini.

"Hyung tidak perlu repot begini, lagipula hyung juga tidak mempercayaiku."

"Seungkwan kalaupun kau bilang yang sesungguhnya belum tentu hasilnya berbeda, "

"Kenapa hyung melakukan itu?, aku tidak berbohong soal dia melukaiku."

"Bagaimana dengan cerita sebelum itu, tentang kenapa kau ada di gudang?"

"Itu aku-"

"Sudah kubilang berapa kali kau tidak boleh melakukan hal seperti itu."

Jisoo dan Seungkwan mendengar suara orang dari bilik milik Jihoon. bisa dipastikan itu suara Jihoon, tapi yang membuat heran adalah dia berbicara pada siapa, Seungkwan langsung menghampirinya tidak perduli lukanya yang belum tertutup semua itu.

Dalam pandangan Seungkwan, dia melihat Jihoon seperti bicara pada seseorang yang ada disampingnya tapi disana tidak ada siapa-siapa.

"Apa yang dia lakukan, kenapa dia bicara sendiri?"

.

.

.

Tbc

maaf kalau tidak sesuai ekspektasi itu mas jisoo-nya udah ditunggu-tunggu juga. untuk soal kopel atau enggak akan di apdet setelah chapter 5 di publish.

Kayaknya juga ada yang bisa nebak karakter mas Jisoo disini begimana... udah kecium dari jauh... hahaha /ketawa nista/

doain semoga bisa end tanpa menghabiskan banyak chapter biar tidak terkesan terlalu bertele-tele. rasanya susah sekali menulis di pertengahan untuk mengarahkan ke pada akhir yang sesungguhnya.

And last

Review Please

Re : 26/07/16