Siang itu langit cerah tanpa awan. Hinata berniat menghabiskan waktu liburnya untuk meredakan rasa gelisahnya. Ia memilih untuk menikmati ramen pedas di kafe kesukaannya.

Ramen pedas adalah salah satu pelampiasan Hinata setiap wanita muda itu merasa kesal, sedih, maupun gelisah dan cemas. Seperti hari ini, Hinata telah memesan dua mangkuk ramen pedas untuk melampiaskan emosinya.

Namun sepertinya dia tidak seharusnya terlalu sering berkunjung ke Kafe Ichiraku. Atau mungkin dia tidak seharusnya keluar rumah selama sebulan ini.

Hinata menatap tidak percaya pada sosok pria pirang di depannya. Sosok jangkung dengan mata biru serta wajah rupawan bagai model itu, masih memertahankan posisi serta senyum gantengnya.

Setengah berlutut, dengan gitar ia sampirkan, dan sebuah kotak merah yang terbuka menampilkan cincin polos berwarna emas.

"Maaf, bisa kau ulangi lagi yang kau katakan barusan?"

Bibir pemuda itu tertarik membentuk senyuman tiga jari. "Hyuuga Hinata menikahlah denganku."

Kepala Hinata seketika pening. Sorakan dari pengunjung kafe makin membuat darahnya naik ke ubun-ubun. Dia sama sekali tidak senang, tidak bahagia, karena Hyuuga Hinata seorang Gamophobia.

Terlebih lagi...

"Aku bahkan tidak mengenalmu, Tuan!!"

Teriakan melengking Hinata terdengar sampai ke luar kafe Ichiraku. Deru napas wanita muda itu tidak terkendali, bersama keringat dingin sebesar biji jagung di pelipisnya. Tanpa banyak kata, Hinata beranjak dari duduknya dan berlari menuju toilet tanpa memedulikan seruan pemuda asing itu.

Hinata menutup pintu berwarna hitam itu dengan keras. Tubuhnya merosot turun dan bergetar pelan. Sial, mimpi apa dia semalam sampai tiba-tiba dilamar oleh pria asing? Kenal saja tidak, tiba-tiba melamar. Apa pria itu mengira dengan wajah tampan seperti itu, dia bisa seenaknya saja melamar?! Perlukah Hinata memberi pelajaran pada pria sinting itu, dan mengajarinya proses suatu hubungan hingga ke jenjang pernikahan?!

"Haa...," kelopak mata itu terpejam, menyembunyikan sepasang rembulan indahnya. "Mou..., mengapa semua terjadi begitu tiba-tiba?!"

Niat ingin meredakan gelisah, malah emosinya semakin membuncah. Isi perut bukannya mengenyangkan malah berbalik membuatnya mual. Hinata benci ini, mengapa dunia seakan menyudutkannya?

"Mou..., takut, takut, takut!"

Hinata merengek pelan, seperti seorang anak kecil. Emosi mulai menguasainya, wanita muda itu beranjak dan segera keluar dari toilet. Manik peraknya melirik kanan kiri, mencari sosok jangkung sialan yang seenaknya melamar dirinya di depan banyak orang.

Melihat kondisi sekitar yang aman, Hinata segera keluar dengan membungkuk sedikit dan berjalan pelan-pelan. Untung saja ia sudah membayar lebih dulu ramen pesanannya, mana mau dia diteriaki maling karena belum membayar.

Hinata berhasil pulang ke rumah dengan selamat, tanpa bertemu lagi dengan pria aneh itu. Usai membersihkan diri, ia merebahkan tubuhnya yang hanya memakai kaos oblong putih dan celana pendek. Rambut pendeknya yang masih basah membuat penampilan Hinata terlihat segar.

Sembari bersantai, wanita itu membuka ponsel pintarnya. Ia mulai men-scroll akun sosmed dan melihat postingan tanpa minat. Sampai sebuah pemberitahuan masuk menarik perhatiannya. Sebuah akun bernama 'Monster_Bijuu' memberikan 'like' di hampir seluruh postingannya.

Seketika Hinata beranjak duduk, keningnya berkerut karena tidak biasanya ada seseorang yang berturut-turut memberikannya 'like'. Hinata yang penasaran segera membuka profile akun itu dan melihat foto profile-nya hanya sebuah topi hitam dengan tulisan 'Naru'.

"Sepertinya aku kenal dengan topi ini."

Iris bulannya mengerjap kemudian mulai melihat satu persatu postingan akun si Monster_Bijuu. Rata-rata isinya adalah foto jalanan kota-kota, macam-maca kafe yang terlihat nyaman, dan juga foto pemusik jalanan.

Harus Hinata akui, pemilik akun ini tahu bagaimana cara mendapatkan hasil jepretan yang bagus. Bibir tipis Hinata melengkung tanpa ia sadari, cukup menyukai foto-foto postingan si Monster_Bijuu. Sampai sebuah foto memudarkan senyumnya.

Di foto itu Hinata melihat dirinya sendiri yang tengah tersenyum sembari menikmati segelas minuman dingin. Di bawah foto itu terdapat sebaris kalimat pendek.

'I love the things that make you smile...'

Hinata kembali menemukan foto dirinya, kali ini ketika wanita muda itu tengah berdiri di tengah keramaian dengan tatapan menerawang.

'Bolehkah jika aku berlari dan memelukmu? Mengatakan bahwa kau tidak sendirian, ada aku disini...'

Foto-foto itu masih banyak, dan Hinata melihatnya satu persatu. Sampai ia melihat postingan terbaru, sebuah foto dirinya yang tengah menatap keluar jendela kafe. Pakaian yang dikenakan juga pakaian yang Hinata pakai hari ini. Lalu sebuah cincin emas juga terlihat mengarah ke arahnya.

'Kita mungkin masih sebatas orang asing, namun bolehkah jika aku melamarmu? Bersama kita saling mengenal, menemukan sisi baru setiap hari, hingga membuat kita bahkan lupa apa itu kata bosan. Will you marry me?'

Untuk sesaat, Hinata merasa darahnya berdesir pelan. Baru kali ini ia mendapatkan kalimat manis yang ditujukan untuknya. Namun rasa itu hanya sesaat, ia kembali dibuat kaget ketika sebuah DM muncul di layarnya.

'Jadi apa jawabanmu?'

Sontak wanita muda itu melemparkan ponselnya. Ia bahkan sudah berdiri dan menjauhi ranjangnya dengan raut takut.

"Menakutkan! waktunya terlalu pas! bagaimana bisa dia mengirimkan pesan di waktu yang tepat seperti itu?! dia pasti penguntit!!"

Hinata berjalan mondar-mandir, ia bahkan sesekali mengecek sudut kamarnya dan membuka jendela untuk melihat sekitar. Takut kalau-kalau pria aneh itu ternyata memasang kamera pengawas sehingga dia tahu apa yang sedang Hinata lakukan saat ini.

Suara ponsel kembali terdengar, Hinata meraihnya cepat dan membuka pesan yang ada di kotak masuk sosmed-nya.

'Aku tidak memasang kamera pengawas.'

Hinata menggeram pelan, "Pembohong!"

'Aku tidak bohong, kau saja yang tidak memerhatikan sekelilingmu. Aku sudah memerhatikanmu sejak dulu.'

Merasa tidak terima dengan kata-kata pria aneh itu, Hinata segera mengetik balasan. "Hanya seorang pengecut yang memerhatikan seseorang diam-diam."

'Itu lebih baik daripada meninggalkan seseorang yang tengah menunggu jawaban.'

Sudut pelipis Hinata berkedut, pria ini benar-benar menyebalkan. "Tentu saja, siapa yang tidak akan lari ketika dilamar pria asing?!"

'Jadi kau tidak akan lari kalau kita sudah saling kenal?'

"Mungkin, tapi aku akan tetap lari jika kau melamarku."

'Kenapa?'

"Karena aku tidak ingin menikah."

Kening wanita itu mengerut ketika ia tidak lagi mendapatkan balasan. Mungkin pria aneh itu akhirnya menyerah ketika ia mengatakan kalau tidak ingin menikah. Bukankah itu secara tidak langsung mengatakan kalau Hinata menolaknya?

Senyum Hinata mengembang, ia menaruh kembali ponselnya dan mulai bersenandung pelan. Sepertinya ia tidak perlu memusingkan lagi si pria aneh itu. Namun tak lama ponsel pintar itu kembali bergetar dan berbunyi pelan. Sebuah pesan kembali muncul dilayar ponsel.

'Mau bertaruh? Aku pastikan kau mau menikah denganku.'

.

.

.

Continue...

Ini edisi ngebut, jadi maaf kalau ada banyak typo yang bertebaran dan juga ada beberapa kata yg gk nyambung. Tapi semoga aja masih nyambung yah hehe. Terima kasih buat yang nungguin cerita ini. Kirain gk ada yg nunggu hehe.

Okeh sampai jumpa sabtu depan.