Chapter 4
".. Jadi, pembukaan Culture Festival Teitan High School dengan ini resmi di buka!"
'DORR!'
Letusan balon yang selingi dengan teriakan siswa siswi serta sorakan dan tepuk tangan terdengar.
"Dan kita kedatangan tamu yang merupakan siswi dari sekolah lain! Sambutlah, dia.."
Sorakan dan teriakan kekecewaan dari siswa siswi. Sekali lagi. Kedua gadis itu hanya bisa memicingkan mata. Melihat siapa yang muncul dari balik tirai merah.
Dua makhluk ciptaan Tuhan. Berjalan dengan tempo yang sama. Senyuman dari sang gadis yang merupakan anugerah Tuhan untuknya terlukis seketika. Rambutnya yang berwarna biru keunguan indah di belai oleh angin sejuk siang hari. Di sampingnya, yang menjadi pendamping. Berjalan pemuda yang sangat di kenalnya.
'Siapa..?'
Aoko hanya bisa memerhatikan dua insan itu dalam diam. Dadanya sesak. Hanya dengan melihatnya berdiri pada panggung yang sama dengan yang lain.
Sorakan dan teriakan itu hanya menjadi suara yang paling gelap dalam hatinya.
"... Koizumi Akako – sama!"
.
If He Knew
Tiramisu–chan30's present.
Detective Conan and Magic Kaito by Aoyama Gosho
"With this heart, I present this story for you."
.
'Siapa?'
Pertanyaan itu lagi-lagi terulang di benaknya. Pandangan tak dapat di lepasnya dari pemandangan yang menyita perhatian hampir semua yang berada di sana. Tak terkecuali dia. Aoko. Nakamori Aoko.
"Ah, Akako – sama. Kami sangat tersanjung dapat di datangi oleh anda."
Suara pembawa acara terdengar saat gadis tersebut sudah berada di sana. Seragam sekolahnya yang tampak elegan juga cocok dengan postur tubuhnya yang atletis.
"Akako – sama! Akan berapa lama anda berada di sini?" Gadis yang di panggil 'Akako' tersebut tersenyum. Para lelaki di belakang maupun depan sudah berteriak menyebutkan namanya dengan suffix yang refleks terucap hanya dengan melihat sang sosok Hime siang hari itu. Mircophone yang mulanya berada di bawah bibir sang MC kini bergerak mendekati bibir ranum sang gadis.
"Saya akan berada di sini selama festival. Apa ada yang keberatan?" Ucapan gadis itu terdengar membuat para lelaki pasti berteriak. Teriakan 'tidak!', 'Akako – samaa!' dan teriakan lainnya bercampur. Membuat sang gadis yang berada di atas pentas tersebut tersenyum manis.
"Kami merasa terhormat dengan kedatangan anda." Pembawa acara paling bergengsi di Teitan High School tersebut lagi-lagi tersenyum. Mengingat bahwa MC tersebut juga merupakan laki-laki.
Melihat bahwa MC itu akan melontarkan banyak pertanyaan itu, pemuda di samping sang Hime tersebut angkat bicara. "Maaf. Tapi, dia memerlukan istirahat. Apa boleh ia kembali ke ruangannya?" Suara pemuda tersebut terdengar tiba-tiba. Mengisi kekosongan pelan dalam acara di ruangan terbuka itu.
Dada itu kembali sesak. 'A-apa? Ada apa denganku?'
MC tersebut mengangguk dengan wajah yang tersirat kekecewaan. "Sepertinya Akako – sama, tidak bisa berlama-lama di sini. Terima kasih atas waktunya!"
Sang pemuda memberikan tangannya. Mengisyaratkan sesuatu pada sang gadis. Yang diisyaratkan dan merasa mengerti, meletakkan tangan kanannya di atas tangan pemuda itu. Lagi-lagi senyum terukir di bibir ranumnya. Teriakan kekecewaan dari para siswa laki-laki yang sebagian atau mungkin keseluruhannya mengumpat kehadiran pemuda yang bisa berada di dekat 'Hime – sama' mereka tersebut. Tak sedikit dari siswa perempuan, berteriak histeris melihat adegan tersebut. Sepertinya, 'pangeran' mereka dekat dengan gadis lain. "Baiklah, acara selanjutnya adalah.."
Keiko menghela napas panjang. "Hah~, sepertinya bakal banyak lagi nih. Gosip. Apalagi, si 'itu'nya kan dari kelas kita. Hah." Ungkapnya. Ia menutup matanya. Menyembunyikan manik hijau gelap itu di balik kelopak matanya. Tiba-tiba, matanya kembali terbuka. Dialihkannya pandangan ke sebelah. Iris di balik kacamata itu memperhatikan gadis di sampingnya dengan tatapan sedikit tidak biasa.
"Di-dia kan, A-Aoko – chan.."
'Cklek.'
Pintu besi terbuka, mengikuti arah yang sudah di tentukan oleh pembuatnya sejak awal. Membuka jalan bagi keduanya. Sang pemuda melangkahkan kedua kakinya terlebih dahulu. Menyusul kaki jenjang sang gadis yang membawa tubuh pemiliknya.
Keduanya diam. Ruangan itu tetap hening, terbebas oleh segala percakapan yang seharusnya terjadi. Hanya bunyi kecil yang di timbulkan oleh benda mati yang terdengar.
Sang gadis mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang dapat langsung berhadapan dengan pantulan diri. Pemuda tersebut membaringkan dirinya di kasur di sisi lain ruangan. Pantulan bayangan sang pemuda dapat di lihat oleh penglihatannya.
"Aku tidak menyangka kau bisa seromantis itu,"
Ungkapan yang entah memuji atau mengejek itu, di tangkap oleh pendengaran sang pemuda. Senyuman malas dan tidak ikhlas muncul menghiasi wajah pemuda tersebut.
"Tentu. Dan sepertinya kau harus berterima kasih pada ini."
Sang pemuda mengangkat tangannya yang mengenggam secarik kertas. Senyuman itu terlihat menggantikan matanya yang tertutupi oleh poni-poninya.
"Ya. Dan tanpa kelihaianmu dalam bersandiwara, mungkin aku akan tetap di luar sana, Kuroba – kun."
Akako memperhatikan Kaito dari cermin. Tak melepaskan pandangannya. "Ya, ya. Terserah." Kaito menukar arah tidurnya. "Lagipula, kenapa harus aku yang di suruh untuk menjadi pendampingmu, hah? Kan banyak yang mau, kenapa harus aku?" Tanya Kaito tidak senang. Akako tersenyum sinis. "Tentu saja karena aku memintanya. Asal kau tahu, di sekolah ini hanya kau yang ku kenal." Tutur Akako.
Kaito terkekeh pelan. "Hahaha." Ia tertawa renyah. "Padahal kau bisa meminta pihak perempuan. Bukannya ketua OSIS itu temanmu? Sepertinya kalian sudah akrab sejak pertama bertemu." "Dia pernah datang ke sekolah ku. Adiknya sekolah di sana." Jawab Akako sambil membuka laci meja rias. "Owh." Respon singkat tersebut muncul dari balik bibir Kaito.
"Bukannya kau senang? Menjadi pendampingku?" Tanya Akako di sela-sela kegiatannya. "Kheh, siapa juga yang senang." Cibir Kaito pelan. Tapi, dapat terdengar oleh Akako. "Ohohohoho, apa yang barusan kau katakan, Kuroba – kun?" "Tidak, tidak ada." Balas Kaito. "Lagipula, kata-kata yang tertulis di sini memang tidak romantis. Entah kenapa kesannya jadi romantis, ya." Ujar Kaito sambil memperhatikan kertas itu lagi.
Akako beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju lemari di samping kasur yang kini tengah di gunakan oleh Kaito. "Karena terbawa suasana. Perempuan mudah sekali terbawa. Sedangkan laki-laki tidak. Laki-laki akan terbawa suasana saat ia berada dalam beberapa faktor. Dan yang paling mendukung adalah.." Akako kembali menutup lemari yang tadi di bukanya dan membalikkan badannya. ".. Saat ada perempuan yang berhasil memikat hatinya." Ucapnya.
Kaito membulatkan matanya. 'Kenapa orang ini dengan hati sekali mengucapkannya? Apa ada suatu makna, ya?' Batin Kaito bingung. Ia pun kembali terkekeh pelan. Menyadari rekan bicaranya menatapnya dengan pandangan tidak biasa.
"Dan, kenapa kau yang datang ke sekolah kami, hah? Pasti kau yang memintanya? Aku yakin, deh." Ujar Kaito tanpa menatap Akako sama sekali. "Tidak, aku tidak meminta apapun tentang kedatanganku ke sekolah mu ini, Kuroba – kun." Jawab Akako. "Yang memilih adalah panitia yang dapat undangan dari sekolah mu ini." Tambahnya. 'Paling kau menggunakan mantra sihir bodoh itu, kan?' "Pasti panitianya laki-laki." Tebak Kaito seyakin-yakinnya. "Tidak, panitianya perempuan." Jawab Akako lagi. 'Apa!? Jangan bilang dia ini juga dapat memikat hati perempuan?'
Akako mengernyit heran saat Kaito menatapnya horor. "Apa yang kau pikirkan? Perempuan itu tidak mungkin menyukaiku. Tapi, entahlah ya. Aku juga tidak tahu. Apa kecantikanku dapat mempengaruhi perempuan, ya?" Akako memasang pose berpikirnya. 'APA DIA JUGA BISA MEMBACA PIKIRANKU?!' Batin Kaito menjerit frustasi. "Tidak. Aku hanya menebaknya saja." Jawab Akako tiba-tiba. 'Ini gawat saat aku di dekat wanita ini.'
"Dan, ngomong-ngomong. Kau tidak muncul di Jepang sebagai Kaito KID sudah hampir lima bulan, ya." Akako menukar topik. Ia mendekat ke arah Kaito dan setengah berbisik. "Apa itu tidak terlalu membingungkan? Pasti inspektur yang selalu menanganimu itu sekarang hanya mabuk-mabukan." Ujar Akako setengah serius. "Kau lagi bicara apa, sih? Sudah berapa kali aku bilang. Aku ini bukan KID." Sergah Kaito sambil sedikit berkeringat dingin.
Akako hanya tersenyum menanggapinya. Terus melanjutkan segala yang dianggapnya harus dilanjutkan. "Kalau tidak salah, kau baru saja pulang dari Paris, ya?" Tanyanya sambil menatap Kaito. "Y-ya, begitulah." Jawab Kaito. 'Gawat, apa-apaan nih cewek?! Jangan bilang dia mau interogasi aku?'. Sang gadis dengan helaian-helaian biru keunguan indah itu duduk di tepi kasur yang sekarang sedang di pakai oleh Kaito. Keringat dingin itu menetes sedikit demi sedikit. Lalu sang gadis mendekatkan wajahnya ke arah wajah sang pemuda yang menatapnya sedari tadi.
Memegang kedua sisi pipi pemuda itu. "Aku sudah bilang kan, Kaito KID? Kuroba Kaito adalah Kaito KID. Apa kau mau memungkirinya lagi?" Ucapan sinis itu terdengar. Kedua iris itu berada dalam satu tali abstrak antar dialog. 'Poker face,' "Dan sudah berapa kali ku bilang kalau aku bukanlah dia. Aku bukanlah Kaito KID. Bukankah aku sudah berkata seperti itu sejak kita satu sekolah dulu, kan?" Bantah Kaito sambil menyembunyikan segala kepanikannya di balik topeng ketenangan palsu itu.
"Huh." Akako menjauh. Lalu berjalan menuju salah satu meja di sisi lain dari ruangan tersebut. Terdapat beberapa cangkir di atasnya. Cangkir putih bersih dengan beberapa corak merah menyerupai mawar. Di bawahnya, menopang piring gelas dengan corak mawar.
Ia mengambil cangkir itu. Sesaat, mengisi cangkir kosong itu dengan cairan beraroma melati yang khas. "Ara, aku baru menyadarinya. Mawar merah, yah?" Akako memperhatikan cangkir itu dengan seksama. "Mawar merah.. Entah kenapa aku jadi teringat dengan Kaito KID." Ujar Akako sambil menyesapi teh tersebut. Kaito menatap Akako dengan tatapan malasnya yang biasa. "Apa Kaito KID selalu muncul dengan mawar merah, heh?" Ucapan Kaito dengan kekehan pelan di akhir kalimat.
Akako memberikan jeda antara kegiatan bersantainya dengan secangkir teh beraroma melati itu. "Tanya itu pada dirimu sendiri, tuan." Jawab Akako kembali menyesapi sisa-sisa cairan kental hangat tersebut.
"Sudah berapa kali kubilang aku bukan KID, Akako."
"Sudahlah, Aoko – chan. Daripada kau murung seperti itu, lebih baik kau membantuku di sini." Ucap Keiko dari dapur kecil stand tersebut. Ia menuangkan teh yang berada dalam teapotnya menuju cangkir-cangkir itu sama rata. "Apa kau memikirkan kejadian tadi?" Tanya Keiko lagi.
Gadis yang menjadi lawan bicaranya di tempat yang bisa di bilang ramai pada siang hari berawan itu hanya diam sambil memegang cangkir teh hangatnya. Ia hanya diam menanggapi temannya itu. "Keiko –chan, tolong teh nya lagi."
"Mou!" Keiko merengut kesal sambil menatap Aoko yang sedari tadi menunduk. Ia melangkahkan kakinya mendekati meja gadis yang duduk di couple table tersebut. Sayangnya, yang duduk di sana bukan couple. "Kau daritadi hanya meminta teh terus! Oh, ayolah, Aoko! Jangan pikirkan Kaito – kun terus!" Ujar Keiko sedikit mengeraskan suaranya.
Aoko menatap Keiko tajam. "Siapa yang memikirkan si pensulap bodoh itu? Untuk apa aku memikirkan dia?" Keiko mengedipkan matanya beberapa kali. "Eh? Kau tidak memikirkan Kaito – kun? Terus kau kenapa lesu sekali?" Aoko kembali menunduk lesu. Poni-poni rambutnya menutupi bagian matanya. Ia lalu mengangkat sehelai kain berwarna merah jambu terang dengan berbagai hiasan benang di atasnya.
"INI! MASA' SENSEI ITU BILANG INI PUNYAKU, SIH!?" Teriakan yang entah pelan atau malah sangat keras itu membuat Keiko kembali mengedipkan matanya beberapa kali. Beberapa orang yang di dekat mereka pun menoleh. Keiko yang menyadarinya hanya bisa tersenyum sambil sedikit membungkuk. "A-apa? Ini punya Aoko – chan? Ma-masa'?" Keiko memberikan tampang tidak percaya sama sekali. Aoko meletakkan kain itu di atas meja.
"Ta-tapi, ini memang nama mu, lho Aoko – chan." Keiko memperhatikan sulaman nama yang sama buruknya dengan hiasan utama. "Percayalah, Keiko! Aku yakin ini ulah Kaito! Dia pasti menukar kain jahitan ku dengan punya dia! Ah, malah tadi dia santai sekali! Awas saja dia! Akh!" Muka Aoko merah padam saat mengucapkan patah-patah kalimat tersebut.
Keiko hanya mendengus pelan. "Iya, deh. Kau bisa menghajar pensulap itu nanti. Sekarang, bantu aku dulu. Kita banyak pelanggan, nih." Ujar Keiko sambil berlalu. Ia segera mengantar teh-teh dan beberapa cemilan kecil pada meja-meja yang penuh dengan siswa-siswi yang ingin memanjakan perut mereka. 'Tunggu sebentar, bukannya pelajaran menjahit itu sudah lama, ya? Kenapa Aoko – chan baru sekarang protes, ya?' Keiko membatin bingung.
Aoko menghela napas pelan, lalu beranjak dari kursinya. Langkahnya menginjaki jejak-jejak langkah Keiko yang sudah mendahuluinya. Raut mukanya yang sedih tertutupi oleh suasana yang cerah itu.
Aoko mengambil salah satu pakaian maid yang sederhana namun tampak mewah yang sudah menjadi keputusan bersama. Salah satu yang sangat sibuk saat rapat tentang stand kafe beserta perlengkapannya dipegang oleh ketua dan wakilnya. Sang wakil mengurus tentang perlengkapan pakaian dan kafe lainnya. Sedangkan ketua memegang kendali atas stand dan perabotan.
Pakaian maid itu kini sudah melekat pada tubuhnya. Aoko keluar setelah sebelumnya meletakkan baju yang sebelumnya ia kenakan di salah satu laci di sana. Menggeser pintu dan mengambil nampan kosong serta kertas menu.
Aoko mendatangi salah satu meja dengan seorang pemuda yang tengah membaca buku yang lumayan tebal. "Silakan kertas menunya. Anda mau pesan apa?" Aoko memberikan kertas menu itu. Ia tetap menunduk. Menyembunyikan sedikit wajahnya.
Pemuda itu terdiam, menutup bukunya setelah melipat bagian atas kertas buku itu sedikit di halaman yang ia baca tadi. Tangannya kemudian mengambil kertas menu itu dengan lembut.
"Secangkir teh hangat mungkin menarik, nona. Di siang yang cerah ini?"
Pemuda itu kemudian mengembalikan kertas itu. Aoko sedikit mengangkat kepalanya. Tapi, hanya senyuman lembut sang pemuda yang terlihat olehnya. "Te-terima kasih sudah memesan. Silakan tunggu sebentar." Ucap Aoko pelan lalu berlalu. Pemuda itu tetap menampilkan senyumnya.
"Pukul dua belas lewat tiga puluh empat menit tujuh detik, Hime – sama menemui seorang pengembala di tengah ramainya kota ini."
"AH! A-AKU TERLAMBAT!" Teriak Kaito nyaring yang sukses membuat Akako menutup kedua telinganya. "Apa-apaan kau? Apa kau sedang di kejar dengan Lucifer, Kuroba – san?" Akako mendengus di sela-selanya. "Gawat! Aku terlambat ke stand! Ini gawat! Pasti Aoko bakal marah besar, nih." Kaito memakai sepatunya dengan tergesa-gesa. 'Aoko?' "Eh? Dia siapa?" Akako mengernyit heran. "Aku tidak bisa bilang sekarang, Akako! Aku duluan!" Kaito memutar kenop pintu besi itu lalu manariknya. Bersiap-siap untuk berlari.
'Grep.'
"Chotto!" Akako menarik bagian belakang baju Kaito. Tersentak, Kaito terdiam. Menunggu sang gadis berbicara. "Aku mau ikut. Pasti maksudmu stand kafe, kan?" Akako melepas tarikannya. Mengambil sepatunya dan mengenakannya. "Aku tahu dari ketua OSIS itu." Ucap Akako.
Kaito hanya diam. Sebenarnya ia ingin menyuruh Akako tinggal,–
"Apa? Ke-kenapa harus aku?" Kaito tampak tak setuju. Perempuan yang sepertinya satu tahun lebih tua darinya itu tersenyum iblis. "Oh, Kaito – kun, Akako ini sangat terkenal di sekolahnya. Aku ingin kau saja yang menemaninya. Lagipula, kau kan teman masa SMP nya dulu. Jadi, mungkin kalian lebih dekat." Ucap Ketua OSIS bergender perempuan itu tenang.
"Ya-ya, walaupun. Kan aku tidak mungkin–," Ucapan Kaito terpotong saat perempuan itu mendekatkan wajahnya. "Tolonglah, Kaito – kun!" Ucapnya. Kaito hanya diam lalu sedikit mundur dari posisinya.
"Baiklah. Sekali ini–," Lagi-lagi. Terpotong oleh orang yang sama. "Aku tahu kau pasti mau! Kau juga suka, kan? Dengan Akako?" Kaito serasa mau mati mendengarnya. 'Kheh! Gadis itu sudah berapa kali ingin mengguna-gunaiku!' "Ti-tidak, kok," Ucap Kaito sambil tersenyum terpaksa.
"Dasar Kaito tsundere!" Ledeknya sambil berlalu. 'Tsu-tsundere?!' Ia membuka salah satu pintu. "Akako! Ayo, kalian keluar lah! Lakukan sesuai rencana, yah!"
–tapi, ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa melakukan itu.
"Baiklah. Tapi, kau jangan melakukan hal yang aneh-aneh, ya." Ujar Kaito dengan malas sambil memperhatikan Akako yang beranjak dari tempat duduknya. "Apa maksudmu 'hal aneh-aneh', heh?" Akako membalas dengan nada kesal. "Tanya itu pada dirimu sendiri, nona penyihir."
Akako mendengus pelan sambil tetap berjalan di samping Kaito.
Lorong sekolah yang lumayan ramai itu, terlewati. Beberapa dari siswa siswi yang menyadari kehadiran mereka, menatap mereka. Bisikan pelan dan sorakan keras beberapa pengangum. Senyum itu lagi-lagi menghiasi wajah sang gadis.
Rombongan langsung mengerumuni mereka berdua. Berbagai pertanyaan dari wartawan itu terlontar. Sampai tidak dapat di jawab dan dihitung lagi pertanyaan itu.
"Akako – sama! Apakah anda mempunyai hubungan Kuroba Kaito dari kelas 2B? Apakah kalian adalah sepasang kekasih?"
Satu dari sekian pertanyaan yang berhasil membuat Kaito dan Akako menoleh ke arahnya. Kaito menunjukkan wajah horor yang sangat mendalam.
"Aku dan Kuroba – kun teman masa kecil yang sangat mesra."
'APA?!' Jawaban Akako yang tiba-tiba itu sangat tidak–, oh jangan katakan.
"Tidak! Ka-kami hanya teman masa kecil!"
Ujar Kaito. Ia langsung menarik lengan Akako keluar dari kerumunan itu. "Kuroba – san, kau ini–," "Akako, kita hampir sampai. Tenanglah." Ujar Kaito memotong perkatannya. Ia lalu menoleh ke arah Akako di belakangnya. "Tolong, deh. Cukup dengan–,"
'Bruk.'
Ucapan Kaito terpotong saat bahunya membentur bahu seseorang. Ia kembali menoleh dan ekor matanya melihat nampan dan cangkir-cangkir yang terlempar ke atas karena pegangan pada pembawanya terlepas.
Tangannya menangkap nampan dan cangkir-cangkir yang entah kenapa tidak tumpah sama sekali isinya.
"Ini," Kaito memberikan nampannya pada gadis yang terduduk lemas di lantai. Kaito mengulurkan tangannya. "Maaf aku menabrakmu tadi." Ia menarik tangan gadis itu saat pemilik tangan menerimanya. 'Tunggu, tangan ini. Sepertinya aku kenal.' Batin Kaito.
Gadis itu berdiri. Ia masih saja menunduk. Seakan enggan untuk menunjukkan wajahnya. Ia lalu mengangkat wajahnya. Memberikan senyuman tipis.
Wajah Kaito mengisyaratkan suatu keterkejutan. "A-Aoko?" Ujarnya. Gadis dengan pakaian maid sederhana tapi mewah itu sedikit terkejut. "Ka-Kaito – kun? A-ah, terima kasih." Aoko mengambil nampan itu.
Tak terasa wajah Aoko memerah di saat yang bersamaan. 'Apa yang akan dikatakannya tentang baju ini?'
"Ah, kau sangat tidak cocok memakai itu, Ahouko."
Perkataan itu terbayang sebagai terkaan di benak Aoko.
Saat ekor matanya menangkap bayangan gadis di belakang Kaito yang sedari tadi melihatnya, ada suatu suara yang menyuruhnya untuk pergi. 'Gadis itu..' Aoko membersihkan sedikit pakaiannya. "Aku duluan. Maaf." Ujar Aoko sembari berlalu. "E-eh? A-Ao–," Panggilan Kaito terputus saat menyadari suatu kejanggalan dari sikap sahabat masa kecilnya.
'Dia, ada apa dengannya?' Batin Kaito. Ia terus menatap punggung Aoko yang terus menjauhi dirinya. Gerakannya yang lugu dan –biasanya semangat itu. 'Ah, hanya perasaanku saja.'
"Kaito – kun!"
"KHEH?!" Kaito tersentak kaget saat wajah gadis berkacamata muncul di depannya. Kaito sedikit berjalan mundur ke belakang. "Ke-Keiko?" Keiko menatapnya kesal. "Kau–! Kau bilang tidak akan terlambat! Lihat! Kau sudah terlambat lima belas menit! Cepat lakukan rencanamu itu!" Teriak Keiko sambil mendorong tubuh Kaito.
"Ah, maaf." Akako yang sedari tadi diam mulai membuka mulutnya. Ia menghalangi pergerakan Kaito oleh Keiko dari belakang. "Tapi, aku ingin berbicara dengan Kuroba – san sebentar. Boleh?" Akako menggunakan kalimat yang sedikit berbeda dengan kebanyakan gadis lainnya. Kaito mengangkat sebelah alisnya.
Keiko berhenti mendorong tubuh tegap Kaito lalu memperhatikan Akako dengan seksama. "A-anda, Koizumi Akako – san?" Tanya Keiko sedikit kagum. "Y-ya." Jawab Akako tersenyum manis. Keiko membalas senyuman tersebut lalu berlalu. "Baiklah." Ucapnya pada Akako. Kemudian, perhatian mata di balik kaca itu beralih ke Kaito.
"Oi, Kaito. Kau jangan terlambat." Ujar Keiko dengan tatapan yang lumayan maut. Kaito hanya bisa mengangguk pasrah.
"Tidak Aoko, tidak Keiko. Sama saja. Hah." Kaito menghela napas pendek. "Nah, ada apa Ak–?!" Ucapan itu terhenti saat yang entah sudah berapa kali hari itu, wajah Kaito dan Akako bertemu. Akako menatap dalam sapphire Kaito. Mencari sesuatu yang penting di dalamnya.
"Ak–kako..?" Akako kemudian menghela napas panjang. "Tidak ada." Ia kemudian menjauh. Membuat jarak yang begitu jauh dari wajah sang pemuda. "Aku duluan. Selesaikan urusanmu." Ujar Akako sambil berjalan menuju salah satu meja kosong.
Kaito menatap perempuan itu bingung. 'Wanita itu..'
"Nah sekarang," Sang pemuda bersetelan jas abu-abu itu mengocok posisi kartu-kartu yang berada di tangannya dengan cepat. Lalu melemparnya ke udara dan hanya menyisakan empat kartu di atas meja yang berada di depannya.
"As heart, seven spade, one heart, king diamond." Ujarnya sambil menunjuk masing-masing kartu bergantian. Kemudian, ia kembali mengambilnya dan membiarkan audience melihat jawabannya pada kartu yang kini ia perlihatkan di masing-masing tangan berjumlah dua kartu.
Terdengar sorakan penuh kekaguman yang memenuhi ruangan. Lalu, tepuk tangan itu terdengar menggantikannya. Belum selesai dengan segala trik tangan yang di sajikan, sang magician tersebut mengambil sisa kartu yang di simpannya dan menggabungkan empat kartu sebelumnya. Membuat lebih banyak sulap yang dapat menghibur hati.
Sang gadis yang bersembunyi di balik tirai tersebut tersenyum dan sesekali bertepuk tangan. Matanya tak lepas memperhatikan sang pensulap menampilkan sulapnya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa seorang pemuda lain di sana tidak lagi memperhatikan sulap dari bintang siang itu. Ia telah mengalihkan pandangan menuju dirinya.
Dan senyum yang terlihat berbeda itu, menghiasi wajah sang pemuda.
.
.
To Be Continue.
A/N :
Mati saja. Mamvus saya. Ini chapternya pake acara satu bulan lagi updatednya. Hiksu.
Aduh. Saya sempat kena WB, tapi syukurlah tidak begitu lama. Saya berharap masih ada yang ingin memberikan review.
Thanks to Imut Chan yang sudah review, yha. "Aduh, maafkan hamba. Maafkan karena slow update yang super slow ini. Sampai-sampai, anda harus membaca balik. Semoga terhibur yha. Keep reading and reviewing!"
Baiklah. Sekian untuk hari ini. Maaf sekali lagi atas keterlambatan saya dalam mengupdate. Thank you for reading and review this story. Hope u like it, all!
.
Laffual.
Tiramisu–chan30.
