Haloooooo aku back aku back bawa ff ini! Ini end looo end! Horee *girang banget* makasih ya buat yang menunggu ff ini dan rela nungguin aku hiatus bentar karena UN hehe. Makasih banget. Banget. Udah, mari baca saja langsung! Capcuss!

SORRY FOR TYPOS BRO!

.

.

.

Park Chanyeol, kau harus bertanggung jawab!

Kau yang menyebabkan ini semua terjadi!

Aku membencimu.

Aku -mencintaimu.

.

.

Ini bukan salahku, karena memang dari awal ini semua sudah salah. Jangan menyalahkanku, aku tidak salah! Aku korban disini!

.

.

Seseorang yang kau benci jatuh dalam genggamanmu. Harusnya kau bahagia, kan? Mengapa kau malah tak tega? Dia yang telah menghancurkan hidupmu!

.

.

An EXO Fanfiction

REVENGE (IVORGGE)

Cast:

Byun Baekhyun as Baekkie/Baekhyun (18 yo)

Park Chanyeol as Park Chanyeol (25 yo)

Xi Luhan as Kim Luhan (20 yo)

Do Kyungsoo as Do Kyungsoo (18 yo)

Kim Jongin as Kai (17 yo)

Oh Sehun as Oh Sehun (20 yo)

*n/b: Park Chanyeol pov is a Chanyeol's diary

Author pov is a story

This story has written by araraaa

Chapter 4/4

THIS IS YAOI STORY! DO NOT BASH! IF YOU NOT LIKE THE STORY, GET OUT FROM MY FIC!

Saling menghargai^^ Gamsahamnida chingudeul^^

.

.

.

Baekhyun terbangun dari tidurnya saat Chanyeol membuka pintu kamarnya. Chanyeol tersenyum menatapnya. "Sudah bangun Baekkie?" tanyanya. Baekhyun mengangguk pelan. Chanyeol memberi isyarat agar Baekhyun bangun dan segera mandi, yang kemudian diangguki oleh Baekhyun. Baekhyun segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.

Chanyeol memanfaatkan kesempatan itu untuk mengecek ponsel Baekhyun. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan, hanya ada panggilan masuk dari Kai. Chanyeol lalu menghela nafas dan pergi meninggalkan kamar Baekhyun. Baekhyun yang sedari tadi mengintip Chanyeol pun tersenyum penuh kemenangan, lalu menatap sebuah benda kecil ditangannya.

"Yuhuuu!"

.

.

.

Chanyeol dan Sehun sudah menunggu Baekhyun dimeja makan. Baekhyun menghampiri kedua hyungnya itu sambil tersenyum, seperti biasa. Sehun hanya memasang wajah datar -jangan salah, ia memang selalu seperti itu- dan Chanyeol membalas senyuman Baekhyun. Baekhyun duduk dihadapan Chanyeol -ia selalu duduk disana- dan Chanyeol menyodorkan sebuah piring kearah Baekhyun. "Sarapan pertama kita berkumpul bertiga, setelah sekian lama," ujar Chanyeol. Baekhyun tersenyum senang lalu mengangguk antusias. "Sehun hyung," panggil Baekhyun. Sehun menoleh, lalu menggumam pelan. "Jangan lupa, hyung. Kim Luhan," Baekhyun mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.

Chanyeol terdiam, menatap adiknya yang kini dengan pose genit yang diabaikan oleh Sehun. "Apa kau berniat menjodohkan Luhan dengan Sehun, Baekkie?" tanya Chanyel pura-pura curiga. Tatapannya ia buat seolah-olah ia sedang menginterogasi seseorang. Baekhyun tertawa renyah. "Mungkin. Mereka cocok, bukan hyung?" Baekhyun masih memasang senyum nakalnya pada Sehun yang hanya ditanggapi helaan nafas pasrah dari yang dituju. Chanyeol ikut tertawa, lalu menepuk bahu Sehun yang duduk disebelahnya. "Luhan anak yang baik, sopan dan cantik. Ia juga ramah. Aku harap kau tidak membuatnya takut, Sehun," Chanyeol berucap dengan nada serius.

Sehun menoleh, merasa tertarik dengan perkataan hyungnya. "Takut kenapa, hyung?" balasnya tak sabar. Chanyeol menatap Baekhyun sebentar, sepertinya Baekhyun paham apa yang akan diucapkannya. Baekhyun menutup mulutnya menahan tawa. "Takut dengan wajahmu yang sedatar tembok," kali ini nada bicara Chanyeol dibuat sedatar mungkin. Dan Sehun kembali memasang wajah datarnya. Ia sempat melirik Baekhyun yang tertawa dibalik telapak tangan yang menutupi mulutnya itu, dan Sehun hanya menatapnya datar.

Benar-benar datar.

.

.

.

"Hei!" teriak seseorang dari arah depan Sehun. Sehun mendelik, siapa dia? Berani-beraninya berbicara dengan Sehun dengan nada setinggi itu. "Murid pindahan dari China?" tanyanya lagi. Namja itu tersenyum manis, Sehun sedikit luluh melihatnya. "Im seonsaeng sedang ada urusan. Aku yang ditugaskan oleh beliau untuk menemanimu seharian ini. Mungkin ada yang kau perlukan," ujarnya menjelaskan. Sehun mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Hoy! Namaku Kim Luhan," namja itu menepuk bahu Sehun yang hanya diam sepanjang perjalanan mereka melewati koridor. Sehun mengernyit bingung. Kim? Luhan?

"Kau temannya Baekhyun," bukan pertanyaan, melainkan pernyataan telak dari seorang Oh Sehun. Luhan tersenyum kikuk, ia menggaruk tengkuk lehernya untuk menghilangkan rasa canggung. "Jadi, kau sudah tahu ya?" tanyanya pelan, suaranya terdengar malu-malu. Sehun hanya meliriknya sebentar.

"Sekelas denganku?" tanya Sehun dengan suara datar. Luhan mengangguk antusias. "Selama satu semester ini, jadwal kita sama," jelas Luhan lalu menyerahkan sebuah kertas yang menuliskan jadwal kelas mereka selama enam bulan. Sehun menerimanya dan menatap Luhan.

Anggap saja itu sebuah ucapan terima kasih dari seorang namja albino berwajah tampan, tinggi dan datar. Oh Sehun.

.

.

.

Chanyeol menatap ponselnya lama. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah ia perlu pergi ke pusat telekomunikasi -yang bekerja mengatur dan menyimpan data-data para pengguna sim card agar ia bisa melacak dan mengetahui dengan siapa Baekhyun berbicara tadi malam?

Itu terdengar sangat, sangat berlebihan.

Tapi, tidak ada salahnya mencoba kan? Siapa tahu ia bisa menemukan keluarga Baekhyun?

Bukan, bukannya Chanyeol ingin mengembalikan Baekhyun ke keluarganya. Ia terlanjur menyayangi Baekhyun. Ia tidak ingin kehilangan Baekhyun. Meski perasaannya salah.

Ia mencintai, bukan sekedar menyayangi.

Chanyeol beranjak dari ruang kerjanya lalu turun menuju parkiran, menyambar mobilnya dan bergegas menuju perusahaan telekomunikasi. Ia akan melakukannya.

Melacak Baekhyun yang entah bagaimana bisa se-mencurigakan itu dimatanya.

Padahal, Baekhyun hanya menelpon Kai kan?

Atau jangan-jangan Chanyeol cemburu? Apa ia ingin tahu hubungan Kai dan Baekhyun sebenarnya? Bisa saja mereka -sepasang kekasih kan?

Chanyeol akan melakukannya. Melacak dengan siapa saja Baekhyun berhubungan. Seperti ketika ia -melacak nomor ponsel yang digunakan untuk menelpon eommanya oleh sang pembunuh.

.

.

.

Chanyeol mengangkat panggilan dari Sehun. Ia sudah berada di rumah sekarang. Kegiatannya hari ini -terlebih saat ia berada di perusahaan telekomunikasi tadi siang membuat moodnya benar-benar berantakan. Ia langsung pulang, tak kembali ke kantornya ketika mendapati nomor ponsel Baekhyun tidak melakukan panggilan sama-sekali. SAMA-SEKALI.

"Hyung?" panggil sebuah suara diujung sana. Chanyeol melirik ponselnya dengan malas. "Ada apa?"

"Ternyata kau benar! Luhan memang sangat cantik dan baik. Ia bahkan dengan senang hati menawarkanku untuk pulang bersama -yang mana aku masih belum hafal denah dari kampusku menuju rumahmu," cerita Sehun. Chanyeol mendesah pelan, "Sudah? Aku sedang dalam masa kehancuran mood. Jangan ganggu dulu, juseyo,"

Piip! Sehun disana hanya menatap ponselnya dengan tatapan aneh sedang Chanyeol sendiri tengah sibuk berkelut dengan pikirannya -lagi.

Sampai dimana tadi ia memikirkan Baekhyun? Aha! Nomor ponselnya yang sama-sekali tidak terlacak siapa-siapa saja yang dihubunginya. Chanyeol tak habis pikir, bagaimana bisa? Jelas-jelas, Chanyeol mendengar sendiri saat Baekhyun sedang menelpon seseorang. Chanyeol mengurut dahinya pelan. Terasa sangat berat, pikirannya sekarang.

Kriet.

Pintu itu terbuka pelan enampilkan sosok yang sedang Chanyeol pikirkan. Baekhyun diambang pintu terlihat dengan senyuman manisnya. "Hyuuung," panggilnya manja. Chanyeol, entah bagaimana merasa muak dengan ini semua. Tak ada lagi hubungan kakak-adik itu! Persetan dengan eommanya yang bisa saja merasa sedih dari alam barunya! Ia tidak peduli!

"Baekhyun," panggil Chanyeol pelan, dan tenang. Seperti biasa. Baekhyun dengan senyuman yang masih terpatri dibibirnya menghampiri Chanyeol dan memeluk pinggang kakaknya. Bakehyun menatap Chanyeol imut. "Ada apa hyung?" tanyanya.

"Aku tahu ini salah, Baek. Aku tahu ini harus dihentikan tapi aku, aku sendiri tidak bisa menghentikannya. Jika ini tidak bisa dihentikan, aku yakin jalan satu-satunya adalah dilanjutkan," ujar Chanyeol. Menarik nafas dalam sebelum akhirnya menghembuskannya perlahan guna menghilangkan rasa gugupnya.

"Aku... Mencintaimu, Baekhyun,"

Baekhyun berjengit. Ia segera melepaskan pelukannya pada Chanyeol dan berdiri, hendak meninggalkan Chanyeol namun tangannya tertahan. Tertahan oleh tangan besar Chanyeol yang menggenggamnya erat. "Ta-tapi hyung,"

"Tapi apa? Kau tidak mencintaiku? Kau tidak menyayangiku? Lalu selama ini hubungan kita apa?"

"Kita saudara hyung! Hyung kakakku dan aku-"

"Kau adik tiriku Baekkie. Sampai kapanpun tak akan ada yang dapat merubah hal itu," Chanyeol berujar dingin. Sumpah! Baru kali ini Chanyeol dingin padanya.

Baekhyun terdiam, menunduk. Tak berani bahkan untuk sekedar melirik Chanyeol. Matanya terpejam erat, tangannya terkepal. "Kembalilah menjadi hyungku yang dulu, Channie,"

Panggilan itu lolos begitu saja dari bibir mungil Baekhyun. Baekhyun mulai meneteskan airmatanya. "Jangan begini. Kembalilah menjadi Chanyeol hyung yang kukenal. Kembalilah menjadi Channie-ku. Jangan seperti ini, kumohon," lirih Baekhyun. Chanyeol menatapnya sendu.

"Tapi aku tidak bisa mengubah rasa cintaku lagi. Aku sudah mencobanya Baekkie! Kau seharusnya tahu betapa sulitnya aku mencintaimu saat eomma begitu tulus menganggapmu sebagai anak kandungnya. Saat kau benar-benar seperti adik kandungku. Aku merasa seperti terserang gejala brother complex, meski sebenarnya itu tidak benar. Kau, dalam silsilah keluargaku bukanlah adik kandungku jadi aku berhak untuk mencintaimu!"

Baekhyun jatuh, airmatanya lolos. Chanyeol seolah tersadar, ia sudah membentak Baekhyun. Terlebih saat ia mengatakan Baekhyun bukanlah bagian dari silsilah keluarganya. Itu pasti sangat menyakitkan.

"Baekkie," panggil Chanyeol pelan. Ia berjongkok, menyamai Baekhyun yang kini terduduk dilantai dibawah sofa. Chanyeol menyentuh bahu namja manis itu tapi sang namja menolak dengan menggerakkan bahunya kekanan dan kekiri. Chanyeol menatapnya miris. "Maafkan aku,"

"Kau jahat hyung," bisik Baekhyun dengan suara paraunya.

"Amat sangat jahat padaku,"

"Jadi hyung tidak suka aku tinggal disini?"

"Bukan begitu Baek. Kumohon maafkan aku,"

"Hyung benar-benar ingin aku pergi?"

"Jangan pergi kumohon! Aku -mencintaimu. Apapun asal jangan tinggalkan aku!"

"KAU MEMBUAT SEMUANYA SEMAKIN SULIT!"

Brakk!

Pintu kamar Baekhyun tertutup kencang akibat bantingan dari sang pemilik kamar. Chanyeol menatap sendu kamar namja manis itu. Lalu mengacak rambutnya frustasi. "Apa yang harus kulakukan?!"

.

.

.

Baekhyun sudah kembali seperti biasa dipagi harinya. Hanya saja yang berbeda -tak ada senyuman dan candaan yang biasa ia lontarkan. Ia tetap sarapan -duduk dihadapan Chanyeol seperti biasanya namun ia sama-sekali tak menoleh bahkan tak menanggapi perkataan Chanyeol untuknya. Chanyeol tak menyerah, ia takkan pernah menyerah. Chanyeol membenarkan earphone yang ia gunakan untuk mendengarkan lagu, lalu memandang Baekhyun lagi.

Maafkan aku. Aku terpaksa harus melakukan ini.

.

.

.

Baekhyun memasuki kelasnya dengan langkah pelan. Dipojok sana -tempat duduknya sudah terisi dua manusia yang ia kenal bernama Kai dan Kyungsoo. Tersenyum sraya melambaikan tangannya kearah Baekhyun. "Terlihat lesu," kalimat yang samar keluar dari bibir Kai. Entah itu bermaksud mengejek, menyatakaan keadaannya atau malah mempertanyakan keadaannya. Baekhyun tidak ambil pusing.

"Ada apa, Baek?" suara lembut Kyungsoo kini terdengar. "Rencana..." gumam Baekhyun. Dahi Kyungsoo dan Kai mengerut, mereka tampak tidak mengerti dengan arah maupun maksud dari ucapan Baekhyun itu.

"Ada apa dengan rencana?" suara Kai memasuki gendang telinga Baekhyun. Baekhyun hanya diam, tak menanggapi. Pandangannya kosong menerawang kearah dinding disamping Kyungsoo.

"Baekhyun!" Kyungsoo mendorong bahu Baekhyun hingga namja itu oleng namun tak sampai terjatuh karena Kai sudah terlebih dahulu menahannya. Baekhyun menatap miris kearah Kai dan Kyungsoo.

"Bisakah kalian... Ubah rencana?" gumamnya lalu mendudukkan diri dipangkuan Kai.

Kai dan Kyungsoo saling pandang. Baekhyun terasa sangat lemas dipangkuan Kai.

Seseorang yang kau benci jatuh dalam genggamanmu. Harusnya kau bahagia, kan? Mengapa kau malah tak tega? Dia yang telah menghancurkan hidupmu!

.

.

.

Luhan menatap Sehun yang sedang membaca sebuah buku. Merasa diperhatikan, namja albino itu menoleh, lalu dengan sedikit senyum ia bertanya, "Ada apa Luhan? Apa aku terlalu tampan?" ujarnya.

Luhan sontak mengangguk. "Ya, kau sangat tampan! Ups," Luhan menutup mulutnya sendiri sambil membelalakkan matanya. Ia keceplosan, tahu!

Sedangkan Sehun hanya terkekeh kecil. "Yehet~ Akhirnya, ada juga yang mau mengakui secara terang-terangan ketampananku," ujarnya. Wajah Luhan makin merona, terlebih ketika mengingat apa yang akan ia katakan pada Sehun setelah ini.

"Sehun," panggilnya pelan. Sehun menoleh masih dengan senyumannya yang ternyata sangat tampan.

"Ya, Luhan?"

"Maukah kau... Menemaniku ke club malam ini?"

.

.

.

Baekhyun terisak keras dipelukan Kyungsoo. Kai hanya diam menatap punggung hyungnya dengan datar. Kai beralih menatap Kyungsoo, Kyungsoo juga sedang melirik kearahnya. "Sudah kubilang Kai. Permainan ciptaanmu sangat berbahaya. Baekhyun, kakakmu sendiri yang merasakan akibatnya," gumam Kyungsoo. Ia berharap Kai akan luluh dan mengubah segalanya. Memperbaiki semuanya dari awal.

Kai mendecih. "Sudah kubilang bukan dari awal, Luhan hyung saja yang melakukannya. Ini akan menjadi lebih mudah, terlebih Luhan hyung adalah-"

"DIAM! Aku tidak akan menghentikan rencana ini, Soo! Aku hanya ingin menggantinya. Jika kalian memang tidak mau menggantinya, terpaksa aku harus melakukan ini hari ini juga,"

Kyungsoo mendelik. "Kau gila hyung? Hari ini? SETELAH KAU MENANGISINYA KAU AKAN MEMBUNUHNYA?! KAU GILA! KALIAN GILA!" bentak Kyungsoo lalu pergi meningalkan Baekhyun yang kembali tertunduk dan Kai yang menatapnya sendu.

"Mianhae, Kyung... Tapi ini demi appa dan eomma," lirih Kai sambil terus menatap kepergian Kyungsoo.

.

.

.

Baekhyun pulang ke rumah dan menemukan rumah yang ditempatinya selama 10 tahun ini kosong. Baekhyun tersenyum kecil lalu menatap botol kecil pemberian Kai yang ada ditangan kanannya. Baekhyun melangkahkan kakinya memasuki rumah itu dan segera menuju kamarnya. Ia ingin istirahat sebentar sebelum Chanyeol kembali dari kantornya.

.

.

.

Chanyeol terdiam. Pulang atau tidak. Ia bingung dengan keputusan yang biasanya terasa mudah itu. Ia tahu -sangat tahu resiko jika ia pulang sekarang. Namun jika ia tidak pulang, bagaimana caranya ia berbicara pada Baekhyun?

Chanyeol memutuskan untuk pulang sekarang. Ia segera menyambar jasnya yang disampirkan digantungan dekat pintu dan kunci mobilnya.

Ia berharap ini belum terlambat untuk menghentikan kemarahan Baekhyun padanya.

Lagi-lagi Chanyeol menyentuh telinganya.

.

.

.

Luhan menatap Sehun yang masih sibuk meminum semua minuman yang tersedia dihadapan mereka. Luhan bahkan tak meminum satupun, ia takut mabuk.

Ya, mereka tengah berada disebuah club. Sehun meng-iyakan tawaran Luhan tadi siang.

Sehun tampak tersenyum sendiri menatap Luhan yang tengah menatapnya khawatir. "Kau yakin masih kuat Sehun? Tidak mabuk? Yakin?" tanya Luhan bertubi-tubi. Khawatir? Tentu saja! Ia yang akan mengantarkan Sehun pulang -tidak mungkin Sehun pulang sendiri dalam keadaan mabuk berat seperti ini.

"Iya Luhan. Apa aku terlihat seperti orang mabuk?" tanya Sehun sambil menunjuk hidungnya sendiri. Luhan mendengus kesal. Sangat, bodoh!

Luhan memiringkan kepalanya saat Sehun meminta tambahan satu gelas lagi.

'Anak ini cukup menyeramkan. Apa dia pikir meminum minuman ini -apa tadi namanya? Bisa membuat lidahnya sembuh dari cadel 's' nya?' batin Luhan horror. Matanya tak lepas dari pergerakan tangan Sehun. 'Dia haus apa doyan?'

"Luhan?"

"Luhan?"

"E-eh ya?" tanya Luhan gugup. Wajah Sehun sangat dekat dengan wajahnya. Dan bau alkohol tercium sangat menyengat, menguar dari mulut Sehun.

Luhan memejamkan matanya saat Sehun makin mendekatkan wajah mereka.

Brak!

Luhan membuka matanya dengan cepat. Sehun meletakkan gelas kosongnya dengan kasar diatas meja. Dan wajah mereka sudah menjauh.

Bruk!

"Emmpphh!" Luhan tersentak kaget saat Sehun tiba-tiba menciumnya. Ia erdiam cukup lama -efek kaget lalu tak lama tersenyum.

Showtime, Baekhyun.

.

.

.

Pintu depan terbuka, ini sudah jam 7 malam dan Baekhyun dapat menebak siapa orang yang datang. Chanyeol terdiam didepan pintu, menatap Baekhyun yang duduk manis disofa ruang tengah. Menonton spongebob, kartun kesukaannya.

"Baek," panggil Chanyeol pelan saat ia sudah berdiri dibelakang Baekhyun. Ia ragu untuk menyentuh pundak Baekhyun, takut jika namja mungil itu masih marah padanya.

Baekhyun menoleh, "Ah yaaa hyung! Sudah pulang?" sapa Baekhyun sambil tersenyum. Ia berdiri menghadap Chanyeol. "Lelah hyung? Aku membuatkanmu minuman. Sebentar aku ambil dulu," Baekhyun segera melesat pergi bahkan sebelum Chanyeol menjawab perkataannya.

Baekhyun kembali dan mendapati Chanyeol tengah terduduk disofa. Baekhyun menghampirinya lalu menyodorkan segelas orange juice yang tampak amat segar dimata Chanyeol. Chanyeol menelan ludahnya. Jujur ia sangat haus.

Baekhyun tersenyum manis. Lalu menyodorkan gelas yang ada ditangannya untuk Chanyeol raih. Chanyeol tersenyum dan meraih gelas itu. Baekhyun mengangguk pelan -entah karena apa- lalu pergi meninggalkan Chanyeol, memasuki kamarnya.

"Maafkan aku hyung," bisik Baekhyun saat ia sudah berada dalam kamarnya.

Chanyeol menatap lekat-lekat gelas orange juice yang sangat menggoda itu. Ia memutar-mutar gelas itu. Jujur, ia tidak tahu apa yang akan Baekhyun berikan untuknya.

"Hyung memaafkanmu," ujarnya pelan. Lalu membawa gelas itu ke dapur. Membuangnya, dan bertingkah seolah ia sudah menghabiskan minuman itu.

"Terimakasih Baekkie! Enak sekali!" teriak Chanyeol sebelum memasuki kamarnya. Ia yakin Baekhyun pasti dapat mendengar teriakannya.

"Apa kau menghabiskannya hyung? Jawab aku hyung... Jangan dihabiskan... Hiks.."

"Tidak kuminum sedikitpun Baekkie," lirih Chanyeol lalu menidurkan tubuh lelahnya diatas ranjang.

"Apa yang akan terjadi padaku setelah ini?"

.

.

.

Kai berusaha mendorong pintu apartemen Kyungsoo sedangkan Kyungsoo berusaha menutupnya. "Pergi Kai!" bentak Kyungsoo. Ia sudah lelah. Mereka sudah lebih dari 5 menit melakukan hal gila ini. Dan lagi, tenaga Kai lebih besar dari tenaganya.

"Hyung! Buka dulu pintunya! Aku ingin bicara seben...tar!" Kai berusaha menendang pintu itu, tapi ia khawatir Kyungsoo akan terjatuh.

"Tidak! Pergi!" Brakk!

Akhirnya Kai menyerah. Pintu itu tertutup rapat, tak ada celah baginya untuk masuk. Kai menghela nafas, lalu merosot, duduk dengan bersandarkan pintu apartemen Kyungsoo.

"Soo, baby, maafkan aku. Ini demi eomma dan appa..." gumam Kai. Kyungsoo yang sedang menyandarkan tubuhnya dipintu juga -mereka hanya terbatas pintu dengan lebar 5 cm saja mengusap rambutnya yang berantakan.

"Masih banyak cara lain, Kai.." Kyungsoo membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya.

"Ini cara terbaik..."

"Bukankah yang kalian inginkan... Chanyeol merasakan sakitnya ditinggal eomma dan appanya? Sekarang Chanyeol yatim-piatu. Bukankah kalian impas?"

"Chanyeol juga terlibat... Dia harus mati..."

"Dia tidak harus mati..."

Tanpa bisa mendengar satu sama lain, ucapan mereka menggambarkan seakan mereka sedang berdialog. Padahal kenyataan yang ada, mereka hanya bermonolog.

.

.

.

Luhan mendorong bahu Sehun. Ini sudah ke-tujuh kalinya Sehun menciumnya. Sehun sudah mabuk berat, tampaknya dia sudah tidak bisa bangkit dari duduknya. Luhan mendengus sebal.

"Kan sudah kubilang! Jangan terlalu banyak minum!" bentak Luhan. Luhan menarik tangan Sehun dan mengalungkannya dibahunya. Ia akan membopong tubuh Sehun yang sudah setengah sadar itu keluar dari club ini. Ia akan membawa Sehun entah kemana -atau bisa saja membuangnya.

"Uhh! Kau itu kurus tapi berat sekali! Jalan sendiri!" Luhan melepaskan tangan Sehun yang mengalung indah dibahunya, membuat tubuh Sehun oleng namun ia segera menangkapnya. "Aku tidak tega padamu, tiang," gumamnya lalu kembali membopong tubuh lemah Sehun.

.

.

.

Baekhyun menatap jam dimeja nakas samping ranjangnya. Sudah jam 9, dan ia lapar. Pasti Chanyeol sudah tidak sadar -itu perkiraannya. Ia tidak bisa menjalankan misi disaat lapar seperti ini.

"Uh, kalau Chanyeol hyung sudah pingsan, bagaimana dengan perutku? Perih sekalii..." rintihnya sambil memegangi perutnya.

"Ini semua karena eomma yang tidak mengizinkanku menginjak dapur. Padahal kan aku sudah cukup besar saat itu. Seperti ini kan jadinya. Kelaparan saat aku hanya sendirian di rumah," omel Baekhyun. Baekhyun bangkit dan berjalan keluar kamar. Ia mengintip Chanyeol di kamarnya.

Sepertinya Chanyeol sudah tidak sadar. Mau bagaimana lagi? Dibangunkan pun malah merusak rencana mereka -Kai, Baekhyun, Luhan-. Akhirnya Baekhyun memutuskan keluar untuk mencari makan malam.

.

.

.

Chanyeol sedikit menyunggingkan senyumnya ketika mendengar suara Baekhyun ditelinganya. Ditelinga?

Ya.

Headset yang Chanyeol pakai, terhubung dengan sebuah chip kecil yang Chanyeol letakkan dikepala bagian belakang Baekhyun saat Baekhyun tidur setelah menelpon Kai. Jangan tanya darimana Chanyeol mendapatkan benda itu. Ia menggunakan benda itu untuk mengawasi pegawai kantornya.

Dan dengan begitu, Chanyeol tahu. Tahu alasan eommanya meninggal. Dan tahu alasan mengapa Baekhyun bisa masuk kedalam hidupnya saat itu. Semua itu disengaja.

Meski ada satu hal yang Chanyeol tak mengerti. Untuk apa Baekhyun, Kai dan Luhan melakukan ini? Menyusup dalam kehidupannya seperti ini? Ini cara balas dendam yang sangat rumit.

Serumit perasaan Chanyeol pada Baekhyun sekarang.

Antara sakit, kecewa, sedih, dan takut.

Takut karena ia tidak bisa bersatu dengan Baekhyun. Ia takut kehilangan Baekhyun. Amat sangat takut.

.

.

.

Cklek!

Pintu kamarnya terbuka. Chanyeol kembali memejamkan matanya, berpura-pura tertidur. Baekhyun duduk disisi ranjang Chanyeol. Tangan berjari lentik itu mengelus pelan pipi Chanyeol.

Neol nabakke mollaseotdeon igijogin naega

Ne mamdo mollajwotdeon musimhan naega

(Keegoisanku, yang hanya memperdulikan diri sendiri

Kejamnya aku, yang tidak menyadari semua perasaanmu)

Siganeul meomchwo (Nege doraga)

Chueogeu chaegeun (Neoui peijireul yeoreo)

Nan geu ane isseo

Neowa hamkke itneun geol

Aju jeogeumago yakhan sarami neoui sarangi

Ireohke modeun geol (Nae salmeul modu)

Bakkun geol (Sesangeul modu)

(Kuhentikan waktu (Dan mencoba kembali padamu)

Kuingat kembali dirimu (Dalam setiap lembar memoriku)

Ketika aku berada disana,

Disana bersamamu

Cintamu, sebentuk manusia kecil dan lemah

Namun mampu merubah semuanya (Seluruh hidupku)

Aku berubah (Seluruh isi hatiku))

Baekhyun bernyanyi pelan, lalu menghela nafas setelahnya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya secara perlahan. Lalu menelentangkan tubuh Chanyeol yang sebelumnya tertidur dengan posisi miring.

"Mianhae, hyung," Baekhyun mengarahkan pisau kecil itu kearah Chanyeol namun dengan cepat Chanyeol mengunci kedua tangan Baekhyun.

"Kau! Apa yang kau lakukan?!" teriak Baekhyun kaget sekaligus panik. Chanyeol menghempaskan tangan Baekhyun yang berada dalam genggamannya hingga pisau itu terlempar kebawah ranjang. Baekhyun membelalakkan matanya.

"Lepaskan!" bentaknya.

"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan Kim Baekhyun? Kau mencoba membunuhku lewat minuman itu? Atau kau mencoba untuk membuatku lemah dengan begitu kau bisa membunuhku? Aku mencintaimu dan aku tahu kau mencintaiku jadi berhenti melakukan hal yang sia-sia!" Chanyeol memojokkan tubuh Baekhyun kearah pintu. Baekhyun tidak bisa lolos sekarang.

"Aku tidak mencintaimu hyung!" diantara rasa kagetnya, ia masih menyempatkan diri mengelak dari kenyataan. Jelas-jelas Chanyeol tahu nama aslinya, bisa dibilang mustahil jika Chanyeol tidak mengetahui perasaannya yang sebenarnya.

"Bahkan disaat kau hampir membunuhku kau masih memanggilku hyung?! Itu yang kau sebut tidak mencintai? Lagipula mana mungkin kau menangis dan meminta Kai mengubah rencana kalian jika bukan karena kau mencintaiku?"

"SALAHMU! INI SEMUA SALAHMU! MENGAPA KAU MENGIZINKANKU TINGGAL BERSAMAMU 10 TAHUN YANG LALU?! MENGAPA?! Harusnya -tidak kan? Seharusnya kau membiarkanku karena mengajakku sama dengan menjemput kematian kalian..."

"Ini bukan salahku, karena memang dari awal ini semua sudah salah. Jangan menyalahkanku, aku tidak salah! Aku korban disini!"

"Korban? Cih! Korban apa?!"

"Korbanmu. Korban cintamu dan korban keganasan kau dan dua saudaramu. Salah aku dan eomma apa, Baek?

Baekhyun menunduk. Airmatanya mulai menetes.

"Perusahaan milik keluarga Chanyeol mengadakan pesta saat itu. Dan mereka mencuri listrik dari daerah kami. Itu menyebabkan hubungan arus pendek dan eomma dan appaku meninggal karena tersetrum saat menyalakan televisi..."

"Suara siapa itu?" tanya Chanyeol. Ia menatap lekat pada Baekhyun. "Kai?"

Baekhyun mengangguk pelan. "Aku tidak tahu kau meletakkan itu dirambutku, tapi Kai menyadarinya saat aku mencari makan malam tadi. Kami bertemu,"

"Bahkan disaat seperti ini kau masih jujur padaku," ujar Chanyeol. "Katakan saja, kau mencintaiku. Lupakan semua dendam itu dan kita bisa memulai kehidupan baru, bukan?"

"Bicaramu mudah! Park Chanyeol, kau harus bertanggung jawab! Kau yang menyebabkan ini semua terjadi!" bentak Baekhyun. Chanyeol menatapnya lembut. "Aku mencintaimu,"

Baekhyun menatap Chanyeol dalam. "Aku membencimu. Aku -mencintaimu." Baekhyun menunduk.

Chanyeol tersenyum penuh kemenangan. "Jadi?"

"Jadi apa?"

"Kau yang membunuh eomma, Baek?" tanya Chanyeol out of topic. Baekhyun mengangguk pelan.

"Dan aku akan membunuhmu, sekarang,"

Bruk!

Baekhyun menendang Chanyeol hingga Chanyeol jatuh tersungkur.

Mudah sekali namja ini memintanya melupakan dendam masa lalunya.

Eomma dan appanya meninggal karena ulah keluarga namja ini.

Tak semudah ini untuk Baekhyun.

Sret!

Baekhyun berhasil meraih pisau yang sebelumnya terjatuh dibawah ranjang Chanyeol.

Baekhyun mulai mendekati Chanyeol yang berusaha berdiri.

"Kau. Yang. Membuatku. Kehilangan. Eomma. Dan. Appa. Kau. Harus. Rasakan. Akibatnya." ujar Baekhyun penuh penekanan.

Cleb!

Pisau itu menusuk tepat jantung Chanyeol.

Chanyeol terbatuk, darah mucrat mengenai wajah manis Baekhyun.

"B-baekhh..." tangan Chanyeol berusaha menarik keluar pisau yang bersarang dijantungnya.

"Mi-miannhh... Kau bilang.. Mencintaiku.." lirih Chanyeol. Nafasnya sudah memendek. Lalu tak lama mata indah itu terpejam.

Baekhyun hanya diam. Matanya kosong.

Brak!

"Bagus hyung. Kau berhasil," orang itu Kai.

Baekhyun menoleh, lalu kembali memfokuskan perhatiannya pada mayat yang ada didepannya.

"APA YANG KULAKUKAN?!"

.

.

.

END

End dengan tidak elitnya u,u mianhae jika hasilnya tidak memuaskan. Aku sudah memikirkan sequel soalnya makanya dibuat kayak gini hoho -_- gak nyangka aku bisa nyiksa yeol, padahal diakan suamiku u,u /?

Makasih buat yang kemaren kemaren udah review, tetap tinggalkan review di ff gaje ini/? Hehe maafnya aku gak sanggup nyiksa mereka lama-lama jadi aku bikin end disini. Sekali lagi maaf yang sebesar-besarnya.

UN SUSAH BANGET WOY! Mtknya bikin gemeteran! Mana ada kabar un diulang lagi-,- ogah aku, setres nih.. do'ain ya chingudeul biar aku bisa lulus. Oh iya aku lagi ada plan ff baekyeol lagi nih, rencananya nanti judulnya Not a Good-Boy. Itu terinspirasi dari temen cowok aku yang baru kenalan seminggu/? Nyeritain kisah aku sama dia gitu u,u baca yaaa *wink*

Oiyee udah pada nonton Mnet XOXO? Aku belum masa ;( maklum lah pulsa modem nol. Ini aja apdet lewat hape hehe... kasih tau aku dong di mnet xoxo ada apa aja u,u

Last... review please? Jebal u,u saranghae mumumu:*