Disclaimer
Vocaloid – Yamaha Crypton Future Media
Story – Me
Warning : OOC, Typo dll.
Di Pohon Sakura
--
Miku POV
"Aaarrggghhh...mmmmm...aahhh...sudah pagi kah."
Kukucek mataku dan ku renggangkan badanku. Selepas itu aku berjalan keruang tengah, dan kudapati Gumi-chan, Gumiya-kun, Rinto-kun, dan Lenka-chan tertidur disofa. Aha, aku baru ingat, mereka menginap disini kemarin. Dari ruang tamu aku berjalan kedapur untuk membuat sarapan untuk mereka.
Dikulkas aku hanya melihat 3 potong paha ayam, saus tomat, semangka dan Tenpura dari Len. Kuhangatkan saja Tenpuranya, karena memasak ayam itu ribet, kupilih yang simple saja. Tak lengkap rasanya jika sarapan tak dibarengi dengan secangkir kopi, ku lihat lemari khusus kopiku dan ternyata stok persedian kopi ku sudah habis.
"Sial, stok kopi habis, uangku tinggal sedikit." Kugigit kuku tangan kananku karena terlalu kesal dengan keadaan ini. "Tidak ada cara lain, akan kugunakan ini."
Len POV
"Diiiirrrttttt...Diiiiiirrrrrrrttttt...Diiiiiirrrrttttt."
"Ahhhh...Siapa yang menelpon ku pagi-pagi buta begini?" (Note : Jam 08:30 AM)Kuambil Hpku dengan malas.
"Selamat Pagi Len-chan." Suara ini!
"Aghhh.. Ahhh selamat pagi juga Hatsune-san." Diriku terjatuh dari tempat tidur karena kaget.
"Suara apa itu?"
"Tidak ada apa-apa kok, jadi ada apa kau menelponku pagi-pagi buta begini begini?"
"Haahhh!! Pagi buta, apakau tak lihat jam di Hpmu?"
Kulihat Jam di Hpku, 08:31. Ya, ini bukan pagi buta lagi. Bodohnya kau Len.
"Ahhh maaf-maaf, aku baru bangun tidur."
"Dasar, oh iya, kau pernah bilang kalau kau kelebihan simpanan kopi kan!"
"Ya. Masih ada kok, kau mau?"
"Hebat kau Len-chan, kau tahu saja apa yang sedangku pikirkan." Dia tertawa, aaahhhh aku ingin melihat senyumnya.
"Hahahaha, aku bukan paranormal. Jadi kau perlu kapan?"
"S-e-k-a-r-a-n-g j-u-g-a."
"Haaaah, baiklah aku kesana sekarang."
Kuganti piyama tidurku dengan baju casual dan sweater tanpa Hoodie. Kuambil 10 stok kopiku dan kumasukkan kedalam tas. Jujur saja aku adalah orang yang kurang suka dengan kopi, cafeinnya yang terlalu berat dapat membuatku dapat terjaga seharian dan aku benci itu. Aku lebih memilih nikotin yang dapat membuatku rileks dan dapat tidur dengan nyenyak, ini hanya pendapat pribadiku.
Setelah Sampai didepan rumah Hatsune-san, ku lihat dari jendela depan banyak sekali orang yang terlihat sedang tidur di sofa. Biar kutebak, Rinto, Lenka, Gumi-san, Dan Gumiya. Pintu rumah Hatsune-san terbuka.
"Pagi Len-chan, maaf ya sudah merepotkanmu, ehehehe." Dia menggaruk belakang kepalanya dan memasang senyum polosnya.
"Tidak apa-apa kok, ini kopinya." Kusodorkan plastik berwarna merah ke hadapan Hatsune-san.
"Terima kasih, masuk dulu Len-chan, akan kubuatkan susu untukmu." Hatsune-san berjalan kedalam rumahnya dan aku mengikutinya.
Dan tebakanku benar, Rinto, Lenka, Gumi-san, dan Gumiya tertidur nyenyak disofa. Akupun kembali berjalan kearah dapur. Didapur, Hatsune-san tengah bernyanyi dengan nada pelan. Sungguh, ini adalah pagi terbaik yang pernah kurasakan, rasanya aku ingin seperti ini setiap hari.
"Len-chan, kenapa kau senyum-senyum sendiri." Suaranya menyadarkanku dari alam imajinasiku.
"Ah tidak apa-apa. Tumben saja aku melihatmu bernyanyi, biasanya kau hanya bernyanyi saat pelajaran saja."
"Apa yang kau katakan? Aku selalu begini kok setiap pagi." Hatsune-san menaruh cangkir berisi susu kehadapanku.
"Hah? Serius?" Tanyaku.
"Serius, aku selalu bernyanyi kok setiap pagi." Hatsune-san meninggalkanku dan pergi kearah kompor.
Heeehh... Tak kusangka. Sebentar, kalau begitu, aku bisa mendengar nyanyiannya setiap pagi! Sip, mulai sekarang aku akan kerumahnya pagi sekali dan berangkat bersamanya. Tapi sebentar, kalau begitu kenapa aku tak memintanya untuk bernyanyi saja? Tidak tidak tidak, dia pasti akan merasa aneh tiba-tiba disuruh menyanyi. Aduuuuhhh, apa yang harus aku lakukan, aku ingin mendengarnya nyanyiannya setiap hari.
"Len-chan." Hatsune-san memanggilku.
"Kenapa Hatsune-san?" Tanyaku sembari meminum susu.
"1 bulan lagi sekolah kita akan mengadakan festival bukan?" Hatsune-san meniup cangkir kopinya.
"Ah, kau benar, aku hampir lupa. Tapi 2 minggu sebelum Festival, kita harus melewati ujian dulu."
"Ya, kau benar." Dia menyeruput kopinya dengan pelan. "Haaahh, jadi kelas kita akan menampilkan apa?"
"hmmm... Mungkin drama adalah yang terbaik."
"Drama? Kukira kau akan melanjutkan aksi panggungmu seperti tahun lalu." Hatsune-san kembali menyeruput kopinya.
Tahun lalu, aku, Kazumi Io, dan Shion Akaito bernyanyi dalam festival untuk mewakili kelasku. 'Boyband' gadungan itu sangat terkenal oleh 1 sekolah, dan imbasnya kami bertiga selalu dikejar-kejar siswi SMA Voca. Dan para murid perempuan tersebut sampai membuat Fans Club Io, Akaito dan aku. Sungguh kenangan kelam yang tak ingin ku ingat. Dan sampai sekarang, Fans Club tersebut masih ada dan kadang masih mengejar kami.
"Tidak akan pernah dan tidak akan sudi." Jawabku dengan nada kesal, lalu kuminum susuku sampai habis. "Kenapa tidak kau saja yang bernyanyi?"
"Tidak mau, aku tidak suka menjadi pusat perhatian."
"Sudah kuduga." Aku menghelas nafas panjang setelah mendengar jawabannya.
"Drama seperti apa yang ingin ditampilkan?"
"Aku belum berpikir sejauh itu. Sepertinya aku akan membuat ceritanya sendiri."
"Semangat Len-chan." Hatsune-san tersenyum, senyumnya menampakkan gigi-giginya yang berbaris rapi. Sungguh pagi yang indah.
Oh tuhan, terima kasih kepadamu karena telah menunjukkan pemandangan indah ini kehamba. Setelah selesai sarapan, aku pergi keruang tengah. Ku bangunkan teman-temanku ini dengan berteriak, dan akhirnya mereka bangun.
"Loh loh loh, Kenapa ada Kagamine-kun disini?" Tanya Lenka yang kelihatan masih setengah sadar.
"Aku mengantarkan stok kopi untuk Hatsune-san." Jawabku.
"Hei Len, jangan bilang saat kami tidur, kau dan Miku sedang..." Gumiya mengisyaratkan sesuatu melalui jarinya, dan aku mengerti maksudnya tersebut.
"Tidak seperti itu BODOH!" Kubanting badan Gumiya kelantai.
"Adaawwww... Len sialan, aku baru bangun. Jangan banting badanku sekeras itu." Gumiya nampak kesal setelah kubanting.
"Salahmu sendiri, aku dan Hatsune-san tidak mungkin melakukan itu." Bentakku.
"Oh, semuanya, selamat pagi." Tiba-tiba Hatsune-san datang kearah kami. "Apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Kami sedang membi..." belum selesai berbicara, Kubanting badan Gumiya dengan tubuhku.
"Tidak ada apa-apa kok." Tukasku.
"Oh begitu. Lenka-san, Gumi-san, air hangatnya sudah siap, ayo kita mandi bersama." Mata miku berbinar-binar, nampaknya ini yang pertama kalinya ia mandi dengan teman-temannya.
"Ok." Jawab Gumi-san dan Lenka dengan cepat. Mereka bertigapun pergi meninggalkan kami bertiga.
"hei hei, Len, Gumiya, mereka bertiga mau mandi ya?" Tanya Rinto yang sedang merenggangkan badannya diatas sofa.
"Iya, itu yang dikatakan Hatsune-san tadi, memangnya kenapa?" Tanyaku sambil memasang wajah curiga.
"Baiklah, ayo kita intip mereka." Ucap Rinto dengan entengnya.
Seketika ruangan ini terasa sangat senyap setelah Rinto mengatakan kalimat yang cukup 'kampret' itu.
"Yang benar saja, kau ingin mati muda?" Wajah Gumiya terlihat suram.
"Aku tak ingin ikut-ikutan, ini rumah orang. Beda lagi kalau rumahku." Kataku sambil menepuk pundak Rinto.
"Hoho, ternyata kau boleh juga Len. Tak ku sangka kau juga seperti itu." Ujar Rinto dengan pedenya dan membalas tepukanku dengan mengedipkan mata kirinya.
"Untuk kali ini aku ikut kau Rinto." Senyuman jahat menghiasi wajahku.
"Bagus Len, ayo berangkat." Rinto mengandengku dan berjalan pelan kearah kamar mandi Hatsune-san. "Oh iya, hampir lupa. Gumiya kau mau ikut tidak?"
"Tidak."
"Kau bisa melihat tubuh Lenka yang sedang telanjang loh."
Mendengar kata tersebut, wajah Gumiya menjadi merah. Wajar saja, Gumiya memang sudah lama naksir dengan Lenka-san. Jadi ini kesempatan yang cukup bagus untuk melihat tubuh elok wanita yang ia taksir. Termasuk juga aku, aku ingin melihat tubuh Hatsune-san yang tak tertutupi kain.
"Ayolah Gumiya, aku yakin kau pasti akan menyenangkan." Kataku dan Rinto sembil memasang senyum jahil.
"Baiklah baiklah aku ikut. Tapi aku tak mau terlibat masalah yang lebih parah." Akhirnya Gumiya ikut dengan kami, dengan begini misi mengintip dimulai.
Miku POV
Aku, Gumi-chan dan Lenka-chan bersiap untuk mandi. Ini akan menjadi yang pertama kalinya bagiku mandi bersama teman-temanku. Kubuka bajuku dan melepas kaitan bra.
"Miku-chan, itu luka?" Tanya Gumi-chan sambil menunjuk kesalah satu luka yang ada dibagian bawah dadaku.
"Ya, luka sayatan. Tidak parah kok."
"Apa tidak sakit?" Tanyanya lagi.
"Biasa saja. Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan waktu itu." Kupelankan suaraku diakhir kalimat. Ingatanku tentang kejadian itu kembali datang, kepala kananku tica-tiba terasa sakit. Posisiku yang tadinya berdiri kini menjadi terduduk sambil mengusap kepala.
"Sudahlah Miku, jangan bersedih lagi. Yang lalu biarlah berlalu, itu adalah pelajaran berharga bagimu untuk siap terjun kemasyarakat. Di luar sana ada yang lebih parah dari Sukone-shi dan Hibiki-shi, aku yakin itu." Lenka berusaha menenangkanku.
"Terima kasih nasihatmu Lenka-chan. Kau benar, ada yang lebih parah dari mereka berdua."
"Maafkan aku Miku-chan. Aku tak bermaksud begitu." Gumi-chan terlihat panik saat melihat keadaanku yang sekarang.
"Tidak apa-apa Gumi-chan. Sudah sudah, ayo kita mandi." Ucapku sambil mendirikan kembali badanku.
"Oke." Ujar Gumi-chan yang kemudian membuka bajunya.
Gumiya POV
Tidak bisa kupercaya, aku harus mengikuti kedua teman bodohku ini. Oh kita belum berkenalan ya, namaku Megpoid Gumiya kelas 11-1 SMA Voca. Sekarang aku dan kedua temanku ini berjalan kearah kamar mandi Miku untuk melihat tubuh mereka. Bukannya gimana ya, hanya saja aku tahu kalau tindakan ini amat sangat beresiko. Tapi jujur saja, nafsu birahiku mengalahkan segalanya dalam urusan seperti ini.
Rinto, dia adalah laki-laki super mesum yang tertarik dengan yang besar maupun yang kecil, kalian pasti tahu maksudku. Len, dia kesini hanya melihat Miku saja. Kalau aku? Yang ingin kulihat adalah adik dari Rinto, Kamine Lenka. Seperti kata rinto barusan, aku memang naksir dengan Lenka-san.
Aku sudah naksir Lenka-san dari SMP. Alasan itulah yang membuatku berteman dengan Len dan Rinto yang notabene satu keluarga dengan Lenka. Hal yang kusuka dari Lenka adalah dia Baik, rajin, sopan, tidak mudah cemberut, humoris, dan pintar. Berkat dialah sekarang aku duduk dikelas 11-1, terima kasih Lenka-sensei.
"Sudah sampai." Ucap Rinto pelan.
"Jadi ini kamar mandi Miku, dari pintunya saja sudah elit, kamar mandinya pasti elit juga." Kataku.
"Ayo kita masuk." Len membuka pintu kamar mandi dengan pelan.
Aku, Len dan Rinto mengintip kedalam. Kulihat diatas meja tersebut ada pakaian yang dikenakan oleh Lenka dan juga Miku. Len membuka pintu dengan lebar dan dirinya masuk kedalam. Dia melihat-lihat pakaian dalam Miku seperti seorang maniak, sementara Rinto melihat semua celana dalam tersebut dan hidungnya mulai keluar darah.
"Gumiya, nampaknya adikku ini sangat bagus dalam mencari pakaian."
Rinto melempar bra dan celana dalam Lenka kearahku. Kulihat baik celana dalam dan branya terdapat renda-renda kecil yang terlihat 'wah'. Nafsuku kini melonjak-lonjak, tak kusangka seorang Lenka yang penampilannya biasanya culu ternyata memakai pakaian dalam seperti ini.
"Heh, aku tak tahu kalau Lenka punya benda seperti ini." Rinto mengambil sebuah kalung dari dalam celana Lenka.
Kalung tersebut adalah kalung yang kuberikan untuk Lenka sebagai hadiah karena sudah mau mengajariku. Aku membeli kalung tersebut dari rekomendasi Len yang mengatakan kalau Lenka menyukai kalung, jadi kubeli saja kalung. Tak kusangka kalau kalung yang kuberikan itu akan dibawanya. Padahal setiap hari dia tak pernah memakai perhiasan apapun selain jam tangan.
Pintu kayu kamar mandi Miku mulai terbuka. Dengan cepat kutaruh bra dan celana dalam Lenka didekat Rinto. Kemudian aku berlari keluar dan mengunci pintu kamar mandi. Untung saja ada kuncinya disini, dewa keberuntungan memang yang terbaik.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA" Teriakan Gumi dan Lenka sukses membuatku terkejut.
"Gumiya sialan, buka." Len teriak dari dalam sana.
"GUMIYAAAAAAAAA." Rinto juga ikut teriak.
Dan suara teriakan tersebut berubah menjadi suara baku hantam. Aku yakin didalam sana pasti para perempuan sedang menghajar Len dan Rinto. 5 menit kemudian kubuka pintu kamar mandi, ketiga gadis tersebut langsung lari keluar dan meninggalkan Len dan Rinto yang terluka. Aku jongkok didepan mereka berdua dan melakukan pose seperti berdoa.
"Gumiya, akan kubalas kau nanti." Ucap Len pelan, sepertinya dia mulai sekarat.
Sementara Rinto sepertinya benar-benar sekarat. Aku hanya tertawa melihat mereka berdua yang seperti ini. Mungkin ini yang dinamakan kalau teman itu gudangnya segala kejadian yang sulit dilupakan.
Beberapa jam kemudian, aku, Gumi, Rinto dan Lenka pamit pulang dari rumah Miku. Sekarang Lenka sedang berjalan dibelakangku, nampaknya dia menjauhi Rinto sebab insiden barusan. Aku tak keberatan kok dengan posisi ini, justru aku menyukainya. Terima kasih tuhan.
"Rinto-nii mesum." Ucap Lenka yang membuat kami semua diam ditempat. Gumi yang barusan berdiri disamping Rinto sekarang pindah kebelakangku mengikuti Lenka.
"Lenka, bisa kau lupakan kejadian yang tadi." Rinto nampak kusut setelah adiknya mengatakan mesum kedirinya.
"Tidak. Sampai rumah nanti aku akan melaporkannya ke mama."
"Kumohon jangan." Rinto berlari kearahku, kutahan larinya dengan memegang kepalanya, untung aku lebih besar dan lebih tinggi dari Rinto. "Gumiya sialan, kau kan juga ikut aku saat kedalam kamar mandi, bahkan kau melihat pakaian dalam Lenka dengan tatapan Mesum." Sekarang pukulanku mengenai telak perut Rinto dan sukses membuatnya terkapar dijalan.
"Lenka, apa yang barusan Rinto bilang benar-benar salah kok. Jadi jangan terlalu dipikirkan." Ucapku sambil jongkok didepan Rinto dan memastikan apakah dia pingsan atau tidak.
"Kalau Gumiya-kun yang lihat, tidak apa-apa kok." Ucap Lenka dengan nada yang sangat pelan sampai tak terdengar oleh telingaku, wajahnya sekarang memerah.
"Apa yang barusan kau katakan?" Tanyaku.
"Ti-ti-tidak ada apa-apa. Aku pulang duluan, sampai ketemu besok Gumi-chan, Gumiya-kun." Lenka lari meninggalkan kami. Sementara itu Gumi terlihat sedang menahan tawanya.
"Apa yang lucu?" Aku menatap tajam wajah Gumi.
"Tidak ada apa-apa." Gumi berlari meninggalkanku dan Rinto.
"Hei Gumiya." Rinto memanggilku dengan nada cempreng.
"Kenapa?"
"Aku merestui kau dengan Lenka." Rinto menunjukkan Jempolnya kehadapanku.
"Terima kasih. Aku akan berjuang untuk mendapatkannya." Ku angkat badan Rinto.
"Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu."
"Terima kasih lagi."
Dan kami berduapun berjalan kembali.
--
Halo semua, bertemu lagi dengan saya. Sekarang ceritanya tak berfokus ke LenKu, namun Ke Gumiya x Lenka. Untuk Rinto saya masih bingung siapa, jadi tunggu aja kelanjutannya.
Jujur saya tak memberikan judul disini karena ceritanya masih dalam waktu yang sama, jadi masih nyambung antara Ch 1 sampai yang sekarang.
Sekian dari saya, Mind To Review.
