SAVIOR OF SONG

Naruto - Masashi Kishimoto

Story - Nano & Hiro

Naruto Uzumaki X Hinata Hyuuga

Rate: M

Warning: AU, OOC, Violence, Typo, Crime, Supranatural.

Don't Like Don't Read

..

..

Hinata mengerjapkan matanya, badanya terasa menggigil kedinginan, tapi tubuhnya berat, seperti merasakan ada sebuah beban yang menimpahnya. Menatap apa yang melingkari perutnya. Sebuah tangan kekar melingkar apik di sana.

Lalu gadis itu membalikan badannya, melihat sosok pria yang tengah tertidur pulas. Wajah polosnya, rahang tegasnya, Hinata bisa melihat semuanya. Pria ini begitu mempesona di matanya— tapi tentu itu dulu.

Ketika Hinata masih menjadi seorang gadis kecil yang polos, dan menganggap pria di depannya ini adalah seorang pria baik dan ceria. Tapi sebuah realita tentu tak bisa di samakan atau di sandingkan dengan sebuah imajinasi liar.

Pria ini kejam, pria inilah yang telah mencelakai sahabatnya, Kiba Inuzuka. Membuat Kiba terjun dan seolah bunuh diri dengan memerintahkan otak Kiba, untuk terjun dari atas lantai apartemen. Hinata tak akan bisa memaafkan Naruto Uzumaki, karena pria itu terlalu banyak bermain drama selama ini. Pergi meninggalkan Hinata begitu saja.

Sedangkan Hinata dengan jelas, mendengar janji Naruto untuk selalu menjaga Hinata pada Neji. Tapi kenapa Naruto meninggalkan Hinata dan tak pernah menjemputnya kembali. Dia bilang jika Hinata adalah pengantinya, tapi kenapa Naruto membiarkan Hinata menderita. Kenapa Naruto membiarkan Hinata sendiri.

"Jangan menatapku seperti itu, Hinata."

Membuka kedua matanya, menampakan sebuah warna mata sebiru langit yang begitu mengagumkan. Tapi Hinata bahkan tetap menatap mata itu dingin, seandainya jika badan Hinata tak merasakan sakit yang benar-benar menyiksa. Mungkin waktu ini juga Naruto akan menerima tendangan Hinata dengan keras.

Naruto berdiri meninggal Hinata yang masih menatapnya dingin, sekarang yang perlu di lakukan Naruto adalah mengambil baju ganti untuk Hinata. Karena gadis itu masih tak memakai sehelai benang pun. Hinata yang bahkan tak mempedulikan rasa malunya, ketika dengan terang-terangan menyingkap selimut dan memperlihatkan tubuh polosnya dengan pinggul dan perut yang ramping.

Membuat Naruto sedikit terdiam menatap kepergian Hinata yang mulai masuk ke kamar mandi.

"Gadis itu.." Dengus Naruto kesal. Ketika Hinata benar-benar tak merespon apa yang terjadi. Bahkan Naruto menerka-nerka, apa jangan-jangan dengan Kiba atau bahkan pria lain, Hinata juga seperti ini? Baru kali ini Naruto menyesali tindakannya, ya— menyesali tentang ia mengambil emosi Hinata.

Di dalam kamar mandi, Hinata menatap tubuh polosnya yang tak memakai apapun, memiringkan kepalanya sedikit, dan menyisihkan helain surai indigonya ke belakang.

Sekarang gadis itu bahkan bisa melihat adalah sebuah gigitan atau tanda merah pada lehernya.

..

..

Ruangan ini penuh dengan susasan pembunuh, terlihat berjejer para pria yang menggunakan sebuah hakama berwarna Hitam.

Saat Hinata dan Naruto masuk ke ruangan super besar itu. Para pria bahkan ada beberapa wanita yang membungkuk hormat pada mereka berdua. Sekarang Hinata bahkan di buat bingung, apa yang akan di lakukannya di sini.

Naruto tadi hanya menjelaskan jika mulai sekarang Hinata akan tinggal bersamanya di kastil ini. Tak akan membiarkan lagi dia tinggal bersama Sakura dan Sasuke. Hinata hanya menuruti apa yang sekarang ada di depannya. Dia sudah tau tujuannya, ketika Naruto mengatakan, Hinata harus ikut bersama Naruto untuk membalaskan dendam 13 tahun, saat keluarga Hyuuga di bantai habis-habisan.

Akatsuki salah satu klan dari pemerintahan sebelum era kerajaan di mulai. Mereka masih ada dan mereka akan merencanakan sebuah pemberontakan. Tujuan mereka adalah menghapus darah bangsawan di Jepang, dan menjadikan Jepang sebagai negara pemerintahan lagi.

Hinata bahkan tak mempedulikan jika Jepang masuk era kerajaan atau tidak.

Yang membuat gadis itu bersemangat adalah, membunuh semua orang yang berkaitan dengan pembantaian 13 tahun yang lalu. Dia bahkan tak segan-segan menebas semuanya dengan katananya.

"Aku akan memperkenalkan Hinata Hyuuga, sebagai Istriku."

Bisik-bisik bahkan terdengar dari beberapa orang yang hadir di ruangan ini, Hinata bahkan tetap diam datar mendengar atau bahkan menatap wajah mereka dengan raut wajah tak percaya, saat Naruto memperkenalkan dirinya.

"Aku belum menjadi Istrimu, Menma.." Bisik Hinata yang tentu di dengar oleh Naruto, bahkan pemuda itu hanya terkekeh.

"Untuk saat ini memang tidak, tapi setelah ini, kau akan resmi menjadi Istriku."

Setelah Hinata mendengarkan itu, ia hanya melirik Naruto dari ekor matanya, tak mempedulikan apa lagi maunya. Yang Hinata inginkan adalah, dengan cepat keluar dari ruangan yang menurutunya banyak orang-orang yang membuatnya sedikit emosi.

Tapi— mata tajam Hinata tiba-tiba merasakan suatu pergerakan, dari beberapa orang yang hadir di sini.

ZRAAARTT—

CENTRAANG—

Sebuah pisau tipis hampir mengenai wajah Naruto, jika Hinata tak menepisnya dengan katananya. Hinata bahkan menyipitkan matanya, setelah mendapati target yang dengan jelas melempar sebuah pisau.

Hinata dengan cekatan dan berlari dengan cepat, melompat dan menebas tubuh pria itu tanpa ampun. Bahkan orang-orang di ruangan itu pun menjerit, ketika dengan lihainya, Hinata menggunakan satu tangannya untuk menebas tubuh seseorang. Tubuh mungilnyaa bahkan bermandikan darah sekarang.

Di arah Naruto, pria itu bahkan tersenyum kecil ketika dia melihat bagaimana Hinata dengan cepatnya bisa mengetahui pelakunya, dan tanpa berpikiran panjang untuk mengeksekusi di tempat kejadian langsung.

Mungkin Naruto memang harus perlu berterima kasih dengan Sasuke Uchiha yang telah melatih Hinata dengan baik.

..

..

"Aku ingin menemui Kiba."

Hinata meminta izin pada Naruto, dan begitu saja masuk ke ruangan Naruto tanpa permisi. Tapi dengan Naruto, bahkan pria berkulit tan itu, tak merespon apa yang di katakan Hinata. Sudah cukup beberapa hari ia tinggal di sini dan di buat bosan, karena tak bisa datang ke sekolah atau bahkan melihat keadaan Kiba, kali ini— gadis itu benar-benar harus memaksa Naruto untuk mengizinkannya.

Tentu Naruto benar-benar kesal, jika Hinata menemui pria lain selain di dirinya, terbilang lagi Naruto tau siapa Kiba Inuzuka itu.

Seorang pria yang menaruh hati pada calon pengantinya, Naruto tak akan membiarkan itu, tak akan membiarkan Hinata-nya pergi menemui pria lain, tak akan pernah sampai kapanpun.

"Naruto…"

Suara Hinata mulai meninggi ketika Naruto benar-benar tak merespon Hinata, pria itu bahkan masih sibuk membaca beberapa kertas yang pria itu pegang, tanpa menoleh ke arah Hinata. Terpaksa membuat Hinata berjalan maju dan menghampiri Naruto.

"Naruto…"

Panggil Hinata untuk kesekian kalinya, barulah Naruto mendongak dengan melepaskan kacamata bacanya yang sendari tadi bertengger pada wajah tampannya. Datar bertemu datar, bahakan mereka tak ada yang mau mengalah untuk mengeluarkan suara lebih dulu. Naruto menghembuskan nafasnya, ketika dia memang harus mengalah dan menjelaskan semuanya, menjelaskan jika hatinya sungguh tak rela jika Hinata pergi bertemu dengan pria lain.

"Aku tak akan mengizinkanmu."

"Apa perlu aku membunuh semua penjaga di sini agar aku bisa keluar dari tempat ini?" Ucap Hinata yang memberi jeda sesaat. "Aku tak akan mampir kemanapun, aku hanya ingin melihat kondisi Kiba, yang itu semua karena ulah mu."

"Jika aku menjawab tidak?"

"Ya, mungkin aku harus sedikit menggunakan kekerasan."

Naruto menyipitkan matanya, dan lagi-lagi menujuk Hinata dengan jari telunjuknya. Hinata yang tau akan apa yang Naruto lakukan, memilih untuk mundur kebelakan beberapa langkah. Ia tentu tak mungkin jika Naruto tiba-tiba menghilangkan kesadarannya, atau bahkan mengalami tubuh lunglai tak berdaya.

"Kau yakin menggunakan kekerasan? Kenapa kau mundur ketika aku akan mulai menyentuhmu." Naruto tersenyum meremeh. "Aku hanya ingin meminta persyaratan darimu."

"Persyaratan?"

"Ya—"

"Apa?"

"Jika aku meminta ciuman panas, apa kau akan memberikannya untuk ku?"

Hinata mendelik, ketika apa yang Naruto ucapkan benar-benar membuatnya sedikit merinding. 'Ini menjijikan.' Batin Hinata.

GREP—

Entah dari mana datangnya Naruto, tapi pria itu sekarang bahkan sudah menangkap dahi Hinata dan membuat gadis itu tak bisa menggerakan badannya. Naruto duduk kembali pada kursi kerjanya, dengan di ikuti Hinata yang duduk pada pangkuannya. Hinata bisa merasakan ini semua, tentu bukan dia yang melakukan hal seberani ini.

Tapi tubuhnya bahkan berjalan sendiri, bergerak sendiri. Gadis itu sekarang merekasan pipinya telah di sentuh oleh jari-jari kekar Naruto. Membuat suaranya bahkan melejit keluar, suara desahan yang di timbulkan Naruto ketika pria itu sudah mencium leher Hinata.

"Aku pria normal, tentu saja aku sudah menunggu-nunggu saat seperti ini, aku selalu menghormatimu di kalah kau masih terlalu dini untuk melakukan hal ini."

"He-hentikan!"

Tolak Hinata yang langsung Naruto dengan cepat menghentikan perbuatannya. Naruto tentu tak ingin melakukannya lebih dari ciuman, karena ingin menghormati Hinata sebagai calon Istrinya.

Mengembalikan kesedaran Hinata, dan setelah itu mempersilahkan Hinata untuk keluar dari ruangan menemui Kiba. Kini malah Naruto yang di buat bingung dengan apa yang barusan pria itu lakukan, Naruto yang hanya menikmati, dan tersenyum miris ketika Hinata benar-benar menolak sentuhannya.

..

..

Berjalan menyusuri lorong serba putih dan bau obat-obatan. Hidung Hinata sangat peka, bahkan pengelihatannya juga melebihi manusia normal. Mencari-cari ruangan bertuliskan Kiba Inuzuka. Setelah menemukan dengan apa yang dia cari.

Sekarang dia mencoba membuka pintu itu pelan. Terlihatlah sekarang, sahabatnya sedang terbaring lemah dengan badan di penuhi perban, tak lupa dengan sebuah selang infus, darah, atau alat-alat lainnya.

Banyak lecet pada tubuhnya, apa lagi daerah wajahnya, Hinata tersenyum kecut ketika tak bisa menolong Kiba dari ini semua, menyesali atau bahkan sekarang Hinata benar-benar membenci Naruto. Kenapa pria itu dengan tega melukai pemuda yang tak bersalah ini, terbilang ini adalah sahabat Hinata, keluarga Hinata. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Sekarang Hinata bahkan benar-benar ingin membunuh calon Suaminya itu. Benar-benar menjijikan, pikirnya.

"Hei— apa kau keluarganya?"

Hinata menoleh ke belakang, ketika mendapati seorang perawat dengan surai berwarna ungu, Hinata menyipitkan matanya, ketika melihat keganjalan pada perawat yang tiba-tiba masuk ke ruangan Kiba.

"Ya, aku keluarganya, apa anda perawat yang merawat Kiba?" Perawat itu tersenyum dengan lembut, membuat Hinata sedikit melunak, karena mungkin Hinata terlalu mencurigainya.

"Dia mengalami gagar otak ringan, tapi beberapa tulang pada tubuhnya retak dan patah. Dia bahkan masih belum ada kemajuan dalam kondisinya."

Jelas perawat itu, yang di dengar oleh Hinata dengan baik, Hinata menatap Kiba dan tersenyum lembut, mendekatkan tubuhnya lebih dekat pada sosok yang terbaring lemah di depannya. Mengambil tangan Kiba, dan menggenggamnya erat.

"Pemuda itu sepertinya tak akan bisa kembali lagi.."

Ucap perawat wanita itu yang membuat Hinata menyeringai, dan..

TRAANNNGGG—

Hinata menangkis sebuah katana dengan pisau buah yang berada pada nakas sebelah Kiba. 'Cih— meleset, gadis ini…' batin perawat itu kesal, ketika Hinata dengan cepatnya dan menangkis serangannya hanya dengan sebuah pisau buah.

ZRAATTT—

Melempar pisau pada wajah sang perawat dengan gerakan cepat, membuat perawat itu mati-matian untuk menangkis, tapi goresan dari pisau itu mengenai pipi mulus sang perawat, bahkan sekarang darah segar sudah mengucur.

"Kau tau—" berhenti sejenak dari perkataannya. Dan setelah itu melanjutkannya lagi. "Akhir-akhir ini aku sangat senang mengoleksi pisau kecil, dari pada harus membawa sebuah katana."

Berbalik dan menyeringai dengan mengambil sebuah pisau kecil dari beberapa balik bajunya.

"Kau mau bermain denganku?"

Tawar Hinata, yang membuat perawat itu belari menerjangnya.

SRAAPP— GRAAPP—

Perawat itu bahkan terjungkal ke belakang dan tubuhnya membentur dinding, ketika ada seorang pria dengan surai jabrik berwarna orange datang dan mecegah untuk menyerang Hinata.

"Hentikan, Konan.."

"Pein—" Panggil perawat itu dengan mendesah kesakitan ketika punggungnya merasakan nyeri karena efek benturan yang barusan ia dapatkan. "Aa-apa yang kau lakukan?"

"Kita kembali.."

Tanpa ada penolakan lain, akhirnya mereka berdua pun keluar dari ruangan serba putih itu. menyisahkan Hinata yang sedikit menggigil kedinginan. Tidak— Hinata bukan merasakan kedinginan, tapi tubuhnya merasakan sebuah ketakutan yang amat mengerikan. Kakinya bahkan gemetar, dan sekarang dia melirik Kiba yang masih tenang tertidur, membuat Hinata sedikit lega, jika Kiba tak kenapa-kenapa.

"Ini pertama kalinya aku merasakan ketakutan mendalam, pria itu benar-benar menakutkan."

..

..


Hallo semuaa!~ Chapter 4 akhirnya di publish juga! :D Terimakasih ya untuk yang sudah mau mengikuti fic ini sampai chapter ke 4, tapi sih rencananya fic ini gak bakal sampai chapter 10 #syedihh

Nah! Terimakasih yaa sudah mau baca chapter 4

Chapter 5

Lanjut/Tidak?

Love,

Hiro \^O^/