ROUND OF LOVE

Disclaimer : Naruto dan segala karakter punya Masashi Kishimoto

Rate : T

Warning(s) : TYPO(s), OOC, Bad Storyline

.

.

.

.

.

Enjoy Reading!

.

.

.

.

.

CHAPTER IV

.

.

Hinata hanya terdiam mendengar ajakan Naruto. Bukannya ia tak suka pulang dengan atasannya, tapi ia tidak enak pada Naruto. Sudah pulang malam, letak rumah Hinata yang cukup jauh, rumah mereka yang berlawanan pula. Mana mungkin Hinata membiarkan Naruto mengantarnya setiap hari, catat, setiap hari? Ia tak suka merepotkan orang lain, apalagi orang yang sudah baik padanya

"um-apakah punya Naruto-sama sudah selesai? Laporan saya sebentar lagi akan selesai" Hinata berusaha mengalihkan pembicaraan. Ingin menolak tidak enak, karena Hinata tahu niat Naruto baik, ia hanya ingin membantunya. Tetapi, bila diterima juga tidak enak, ia takut akan merepotkan nantinya. Hah, serba salah. Lebih baik naik bus saja seperti biasa

"sedikit lagi"

Naruto memfokuskan pandangannya pada layar laptop. Sebenarnya Hinata sudah sangat mengantuk. Apalagi berada di hotel dengan pendingin yang sejuk. Terkena anginnya saja Hinata sudah terbuai untuk menutup mata, tapi bila ia lakukan itu, dalam waktu kurang dari lima detik ia pasti sudah menuju alam mimpi. Ia tidak boleh tidur hingga selesai. Tapi syukurlah laporannya sebentar lagi akan selesai. Gunung pekerjaan itu akan segera rata seperti tanah. Keinginan terbesarnya untuk segera beristirahat akan segera terpenuhi

Kring Kring

Tiba-tiba terdengar panggilan masuk dari ponsel Naruto. Ia segera mengangkat smartphone dengan warna sky blue itu dan berjalan keluar kearah balkon agar suaranya tak mengganggu Hinata, lalu menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan

"Halo Naruto" sapa orang disebrang sana sesaat setelah panggilannya terjawab

'suara ini' batin Naruto

"Menma?"

"thank goodness! Kau masih mengenali sahabatmu ini!" orang yang dipanggil Menma itu tertawa

Naruto mendengus pelan sambil tersenyum tipis. "tentu saja bodoh". Kenapa Menma baru menelepon Naruto tengah malam begini? Karena tempat tinggal Menma sekarang yang berada di Inggris yang menyebabkan perbedaan waktu yang cukup jauh. Bila ditempat Naruto sudah lewat tengah malam, maka ditempat Menma sedang siang hari

"aku tahu kau ingin mengatakan sesuatu, bukan?" tanya Naruto. Tentu ia sudah tahu karakter sahabatnya ini. Ini hari biasa, baik dia maupun Naruto masih bekerja, masih sama-sama sibuk, yang tentu tidak memiliki cukup banyak waktu untuk sekedar bercengkrama, bertukar lelucon yang sering mereka lakukan dulu saat masih sekolah

"ya begitulah. Dan aku minta maaf karena mengganggu waktumu sebentar, walau disana sudah lewat tengah malam, kan? Hehe"

Naruto menggelengkan kepalanya, walau tak bisa dilihat oleh sahabatnya. "tentu tidak"

"baiklah, aku langsung saja. Kemarin aku mengunjungi kolega perusahaan kita yang sedang dinas di Inggris. Dan disana juga ada perusahaan lawan kita, Hyuuga Corp. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi aku sedikit mendengar mereka seperti menyebut-nyebut nama perusahaan kita dan nama pemegang perusahaan terdahulu kita, Jiraiya-sama. Entahlah aku salah dengar atau mereka benar-benar mengatakannya, tapi ingatlah Naruto, aku ingin kau tetap waspada. Keadaan perusahaan memang cukup stabil untuk sekarang, tetapi kita tidak tahu apa yang sedang lawan rencanakan diluar sana" Naruto mendengar penjelasan Menma dengan seksama. Hyuuga? Perusahaan mereka? Dan yang lebih jauh lagi, pendahulu mereka, Jiraiya?

'apa yang sedang kau rencanakan Hyuuga Corp?' batin Naruto. Mereka berdua berbicara sampai kira-kira tiga puluh menit lamanya. Menma mengatakan ia juga akan turut mencari tahu apa yang sedang disusun oleh perusahaan lawan mereka itu. Hyuuga Corp dan Uzumaki Company sudah lama menjadi rahasia umum selalu bersaing dalam usaha mereka. Sejak dulu hingga sekarang, tampaknya kedua perusahaan itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan bekerja sama, kalaupun ia, itu akan membutuhkan waktu yang lama

Setelah mereka mengakhiri percakapan mereka, Naruto melangkahkan kakinya kembali dari balkon menuju ruangannya. Saat ia sampai, ia mendapati Hinata yang sudah terlelap dengan kedua tangan dilipat diatas meja dan kepala yang ia letakkan diatas lipatan tangannya menghadap kearah posisi Naruto duduk sebelumnya. Naruto ingin membangunkannya tapi ia tak tega, tidurnya terlihat sangat nyenyak sekali. Naruto memastikan bahwa segala laporan yang ada di laptop Hinata sudah tersimpan, lalu mematikan alat elektronik itu

Ia berjalan kearah tempat tidurnya lalu mengambil sebuah selimut dari situ. Lalu ia menyelimuti punggung Hinata dengan selimut yang dibawanya. Naruto memandang Hinata sekilas lalu kembali memfokuskan pandangannya pada laptop dihadapannya

"tidak.. aku tidak ingin kembali.. kesana" terdengar suara Hinata melenguh dengan sangat pelan. Naruto mendongakkan kepalanya kesamping, terlihat wajah Hinata yang tidak tenang

'apa yang dia mimpikan?' batin Naruto

"Ibu.. Sakura.. siapapun tolong-" lenguhan itu berhenti seiring dengan tubuh Hinata yang tiba-tiba tersentak terbangun. Iris cantiknya perlahan mulai terlihat karena kelopak matanya yang perlahan terbuka. Pemandangan didepan yang ia lihat hanya laptop dan dinding berwarna putih. Hinata mulai mengerjapkan matanya, mencoba mengembalikkan kembali kesadarannya. Mimpi itu, terus saja menghampirinya belakangan karena kemunculan pria misterius itu. Hinata sangat takut

"kau terbangun?" sebuah suara berat disebelahnya kembali membuatnya tersentak. Seingatnya tadi ia sudah menyelesaikan laporannya dan karena merasa sangat mengantuk ia langsung saja meletakkan kepalanya diatas meja. Ia pikir ia tak akan tertidur, toh, hanya menyender sebentar, tapi benar, tak butuh lima detik ia sudah terbawa ke alam mimpi. Jadi, ia masih di kamar Naruto dan, tertidur?

Hinata yang menyadarinya langsung menegakkan badannya dengan cepat yang menyebabkan kepalanya terasa oleng. Sekarang kepanikan dan ketakutan akibat mimpi tadi beradu jadi satu didalam diri Hinata. Saat badannya sudah tegap kembali ia merasakan ada yang terjatuh dari selimutnya. Saat ia menoleh sedikit kebelakang, ia mendapati sebuah selimut

"oh, tidak. Maafkan saya Naruto-sama. Saya benar-benar tidak berniat untuk tidur disini, tadi saya tiba-tiba tertidur dan-"

"tidurlah kembali" potong Naruto. Hinata akan terus mengoceh panjang lebar dan terus mengatakan 'aku minta maaf' bila ia tak menghentikannya

"e-eh?" Hinata bingung seketika, tetapi ia mulai tersadar kembali. "ah, iya. Saya akan membereskan barang saya dan kembali ke kam-"

"tidurlah disini, malam ini" lagi-lagi Naruto memotong perkataan Hinata. Ia menoleh kearah Hinata dan mendapati wajah terkejut dari sekretarisnya itu. Hey, apa yang salah dengan ajakannya? Ia hanya tidak enak dengan Hinata yang ketakutan dan ia menawarkan dirinya untuk menemani Hinata. Toh, mereka tidak akan berbuat apa-apa, kan?

"ti-tidak perlu Naruto-sama"

"dari mimpimu tadi, tampaknya kau sedang ketakutan?"

Ngomong-ngomong mimpi, Hinata jadi teringat kembali dengan mimpinya tadi. Ia kembali merasakan ketakutan sebenarnya. Rasanya lebih baik tidak tidur dan menahan kantuknya menghadapi matanya yang tinggal tiga watt daripada berhadapan kembali dengan mimpi-mimpi itu. Hinata menundukkan kepalanya sedikit. Ia memang butuh orang yang menemaninya saat ini. Selama ini ia memang selalu sendiri menghadapi mimpi seperti itu bila malam, tapi entah kenapa sekarang ia ingin ada seseorang yang setidaknya ada disebelahnya. Setidaknya, ia merasa aman karena ada orang lain disisinya

"kau bisa memakai ranjangnya" kata Naruto lagi sambil memfokuskan dirinya pada laptop lagi

"ap-apa?"

"tenang saja aku akan tidur di kasur tambahan yang ada dibawah kasur"

Hinata menatap ragu sejenak pada Naruto. Apa tidak apa-apa seperti ini?

"aku tidak akan macam-macam" tambah Naruto cepat karena tidak ada jawaban dari Hinata. Jelas saja gadis itu akan curiga padanya. Mereka dua orang yang sedang berada dalam satu ruangan hotel yang sama. Dan Naruto adalah pria dewasa, wajar kedua orang itu berpikir sampai kesitu. Tapi Naruto bukan orang yang mengambil kesempatan seperti itu. Bila ia ingin ia akan mengejarnya, tidak perlu dengan cara curang seperti itu

"bukan seperti itu Naruto-sama" tidak, bukan itu yang Hinata pikirkan. Entah kenapa Hinata mempercayai Naruto bahwa ia tidak akan macam-macam padanya. Ia malah merasa lebih aman bila disebelah Naruto

"kalau begitu tidurlah. Sudah pukul dua pagi"

Hinata melirik jam sekilas dan benar, waktu sudah pukul dua pagi

"baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu" Hinata mengambil selimutnya. Tapi ia menoleh pada Naruto lagi

"Naruto-sama juga! Apakah belum selesai? Cepatlah tidur!" Hinata cemberut melihat atasannya yang menyuruhnya beristirahat tapi dirinya sendiri saja masih berkutat dengan dunianya

Naruto hanya tersenyum tipis, "sebentar lagi selesai"

Setelah kira-kira 30 menit kemudian Naruto merebahkan dirinya pada kasur dibawah tempat tidurnya yang ia keluarkan dan tidak butuh lima detik ia sudah menembus alam mimpi

.

.

.

.

-ROL-

.

.

.

.

Sebuah lenguhan kecil terdengar di ruangan sepi dan dingin karena AC itu. Hinata merasakan kesadarannya mulai muncul dan ia merasakan sedikit pegal pada otot-ototnya. Tidur dengan jangka waktu sebentar membuat badannya sakit. Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya dan menoleh kearah nakas disebelah tempat tidurnya. Jam menunjukkan waktu 05.25 am. Belum ada tanda-tanda matahari akan muncul dan langit masih gelap

Dan setelah melirik kearah jam, ia tak sengaja melihat kebawah tempat Naruto tidur. Atasannya itu tidur dengan posisi tidur agak miring dan dengan seluruh tubuhnya tertutupi selimut. Hinata lagi-lagi merasa tidak enak dengan atasannya. Dengan hati-hati Hinata membuka sedikit selimut atasnya sampai leher, agar pria itu bisa mendapat pasokan udara lebih banyak

Setelah dirinya sudah cukup siap, ia pun bergerak kearah sisi kanan tempat tidur dan beranjak untuk merapihkan selimutnya terlebih dahulu. Setelah kasur itu rapih, Hinata kembali ke meja kerja semalam untuk mengambil kartu pintu kamarnya. Setelah menemukannya, Hinata juga mengambil kartu kamar Naruto, rencananya ia akan membersihkan diri sebentar lalu memasak sarapan pagi untuk mereka. Hotel ini baru menyediakan sarapan pukul tujuh pagi, sedangkan mereka pukul setengah tujuhpun sudah harus bergegas

Hinata kembali ke kamarnya lalu membersihkan dirinya. Setelah selesai, Hinata mengenakan long-sleeve semi-formal berwarna putih dengan sedikit renda kecil di leher dan bagian depan, celana berwarna hitam. Ia menyisir rambutnya dan mengikatnya ponytail seperti biasa. Ia menyisir rapi anak rambutnya yang suka sekali bermunculan dan merapikan poninya. Setelah dirasa siap, ia mengamit tasnya dan menenteng blazer berwarna cream di lengan kirinya. Mematikan semua lampu di kamarnya dan menguncinya, lalu berjalan menuju kamar Naruto. Hinata memasukan kartu kamar itu pada slot kartu yang ada di gagang pintu dan masuk kedalam

Sesampainya di dapur Hinata teringat bahwa mereka sedang di hotel dan tak mungkin ada bahan makanan untuk dimasak. Hinata akhirnya memutuskan untuk pergi ke minimarket 24 jam yang dekat dari hotel ini

Langit sudah mulai menampakkan cakrawala birunya yang diiringi dengan kehadiran matahari yang menerangi menggantikan gelap. Pukul enam Hinata sudah kembali ke kamar Naruto dengan kantung kertas coklat berisi bahan makanan. Hinata mengeluarkan bahan-bahan makanan dan menyibukkan dirinya untuk memasak. Kegiatan terhenti seketika saat mendengar suara berat yang serak memanggilnya

"Hinata?" Naruto berdiri tak jauh dari dapur dengan penampilan yang masih acak-acakan khas bangun tidur sambil mengerjapkan matanya yang belum sadar sepenuhnya

"oh, anda sudah bangun? Bersiaplah Naruto-sama, saya akan menyiapkan sarapan untuk kita. Hotel disini baru menyediakan makan pagi pada pukul tujuh. Hah, tidak bisakah mereka lebih awal membuat makan pagi?" Hinata bertanya pada diri sendiri sambil terkekeh

Naruto hanya menuruti dan langsung bergegas menuju kamar mandi. Sungguh, badannya seperti remuk saja. Ia baru terlelap kurang lebih tiga jam-an, tetapi kelelahannya seolah menghilang sedikit mendengar suara riang dari sekretarisnya itu dipagi hari. Setidaknya rencananya untuk melewatkan makan pagi hari ini harus ia batalkan

Tak lama kemudian, Naruto sudah datang dengan penampilan rapih dengan kemeja putih dan celana hitam. Ia mengambil satu bangku untuk diduduki. Hinata menaruh dua piring nasi goreng dengan omelette sayur dan daging di sisi nasi goreng. Aroma makanan yang tertangkap indra penciuman Naruto membuat perutnya langsung berbunyi melihat santapan lezat dihadapannya

Hinata terkekeh pelan, "sepertinya perut anda tidak bisa berkompromi lagi ya" Hinata menempati kursi didepan Naruto. Setelah menyelesaikan makan pagi, mereka segera bergegas menuju Kyoto Hall

Pukul sembilan rapat dimulai bersama dengan perusahaan Uchiha dan Senju. Itachi Uchiha dari Uchiha Corp menjelaskan pendahuluan tentang kerjasamanya dengan Uzumaki Company dan Senju. Lalu dilanjutkan Naruto yang menjelaskan mekanisme pembangunan yang tentu dijelaskan dengan bahasa Inggris. Naruto harap kolega dari Jerman itu bisa memahaminya karena mereka mendengar sambil mendengar terjemahan sedikit-sedikit dari Hinata yang duduk disebelahnya. Hinata juga cukup kesulitan mengimbangi bicara Naruto dan menerjemahkannya kepada mereka

Dan pada bagian anggaran bagian Hinata yang menjelaskannya. Pertama ia menjelaskan dengan bahasa Inggris agar semua dapat mengerti, kecuali orang-orang dari Jerman itu yang kebanyakan menukikkan alisnya mendengar bicara Hinata yang cepat. Setelah itu, Hinata harus kembali menjelaskan lagi dengan bahasa Jerman. Mulutnya sudah kering sepertinya sedari tadi karena berbicara terus. Kolega itu mulai menganggukkan kepalanya

"kau memiliki sekretaris yang pintar" bisik Itachi yang berada di sebelah Naruto, "dan..cantik" tambah Itachi lagi. Naruto sedikit mengerutkan alisnya mendengar perkataan Itachi. Apa kakak dari sahabatnya ini tertarik dengan sekretarisnya? Naruto merasa ada yang aneh pada dirinya, tapi ia hanya berpikir mungkin dirinya cukup senang dengan kenyataan bahwa ia tak salah memiliki sekretaris yang pintar seperti Hinata

Rapat berakhir sore hari dan mereka langsung melanjutkan aktivitas mereka lagi menuju gedung Sabaku untuk menghadiri pesta yang diadakan perusahaan itu. Perusahaan itu sedang merayakan ulang tahun perusahaan mereka yang menginjak angka 18 tahun. Seluruh cabang kantor Sabaku di penjuru Jepang mengadakan pesta bersama secara serentak

Hinata dan Naruto menuju hotel kembali untuk mengganti pakaian mereka dengan gaun dan jas untuk acara. Malam ini Hinata mengenakan atasan putih dengan bahan lace lengan panjang dengan area lengan dari pundak hingga ujung tangan berbahan lumayan tipis, dan dipadu dengan rok hitam selutut bermotif dengan aksen mengembang. Untuk sepatu, ia mengenakan pump heel hitam yang cukup tinggi

Sesampainya disana Hinata bertemu Tayuya lagi disana. Tayuya juga mengenalkan temannya yang lain yaitu, Juugo, Suigetsu dan Matsuri. Mereka beridiri bersama-sama sambil mengobrol di stand minuman dan makanan ringan

"wah, Hinata-san kau sangat cantik ya rupanya" Suigetsu dan Juugo memuji Hinata sambil menampilkan senyum jahil mereka yang terlihat bodoh dimata Matsuri

"hah, kalian ini! Hanya wanita cantik saja yang ada dipikiran kalian!" Matsuri mengomeli mereka berdua. Hinata hanya tertawa mendengarnya

"daripada mencari wanita yang galak" ceplosan Suigetsu membuat ia dan Juugo dihadiahi senyum mematikan dari Matsuri

"apa kau bilang barusan?" Matsuri bertanya dengan nada setenang mungkin sambil terus tersenyum. Juugo dan Suigetsu yang ketakutan hanya menelan ludah mereka dengan susah payah dan lari menghindari Matsuri yang akan berlari untuk membunuh mereka

"hah, mereka ada-ada saja" ujar Tayuya, Hinata cekikikkan melihat tingkah teman-teman barunya. Hatinya terasa hangat lagi bisa berkumpul bersama teman. ia merindukan momen seperti ini

"Sasaki-san?" Hinata dan Tayuya sontak menolehkan kepala mereka kebelakang, dan iris Hinata langsung menangkap sosok orang dengan posisi tertinggi di Uchiha Corp itu, Itachi. Pria dengan wajah berkarisma khas Uchiha itu tersenyum sambil memegang gelas ditangan krinya

"oh, Uchiha-sama" Hinata dan Tayuya langsung membungkuk dan dibalas anggukkan sedikit dari Itachi. "tidak perlu seformal itu" senyuman tak hilang dari wajah tampan pria itu

"sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku akan mencari Juugo dan Suigetsu sebelum Matsuri meregang nyawa mereka" Tayuya tertawa kecil lalu membungkuk sedikit lagi pada Itachi "saya permisi dulu. Aku duluan ya Hinata!" sesaat setelah menepuk pundak Hinata sekali Tayuya melenggang pergi mencari teman-temannya. Hinata hanya kebingungan dengan sikap Matsuri, kenapa ia langsung pergi seperti itu?

"ehm, Sasaki-san" Itachi berdehem sedikit yang membuat Hinata langsung menolehkan kepalanya kembali, "Hinata saja Uchiha-san" ujar Hinata sambil tersenyum

"kau juga, panggil Itachi saja"

"baiklah, Itachi-sama?"

"terdengar lebih baik". Mereka berdua tersenyum, karena Hinata melihat Itachi adalah orang yang sangat ramah, walau menempati posisi tertinggi di perusahaan besar itu

"mau menemaniku mengobrol?" tawar Itachi

"ng?" Hinata bingung, CEO Uchiha Corp ingin berbincang dengannya? Bahkan ia tidak tahu menahu detail tentang rencana saham atau investor dengan segala kawan-kawannya itu, semua itu atasannya dan asistennya yang menangani

"aku tertarik dengan kemampuanmu saat rapat tadi"

"eh? Benarkah?" Hinata menyelipkan anak rambut ke belakang telinga kirinya. Ia jadi sedikit salah tingkah juga dipuji oleh orang sehebat ini

"aku lihat tadi taman belakang cukup bagus dan nyaman" ajak Itachi dan dibalas anggukkan oleh Hinata. Mereka berdua berjalan bersama menuju taman belakang yang Itachi maksud, tanpa mereka sadari sepasang mata memandang mereka dari kejauhan dengan pandangan yang sulit diartikan

.

.

.

.

-ROL-

.

.

.

.

Hinata dan Itachi mengobrol cukup lama. Mereka berbicara banyak hal, tak hanya seputar pekerjaan saja. Hinata menilai bahwa Itachi adalah berkepribadian terbuka dan cukup banyak berbicara. Dan Itachi menilai bahwa Hinata adalah teman mengobrol yang menyenangkan, seolah segala topik yang ia bicarakan nyambung bagi Hinata. Terlebih saat membicarakan musik dan film, ternyata Hinata tahu menahu banyak tentang itu

"permisi Uchiha-sama. Anda sedang dicari oleh Temari Sabaku-sama" tiba-tiba salah satu pegawai Itachi datang

"hm. Saya akan kesana segera" setelah mengatakan itu pegawai itupun pergi

"Hinata ayo kita masuk" ajak Itachi

"um-anda duluan saja Itachi-sama, saya masih mau duduk-duduk disini". Hinata memang masih mau disini menikmati taman yang indah ini. Walau penerangannya tidak banyak tapi cukup bagus saat malam hari

"baiklah, tapi segera masuk kedalam, ok?" Hinata membalas dengan anggukan dan Itachi pun berjalan meninggalkan taman itu

Hinata melirik jam dipergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia ingin masuk untuk sekedar minum tapi ia urungkan, karena jam-jam segini biasanya yang tersisa minuman beralkohol yang disediakan, seperti wine, bir, atau liquor. Ia tak akan kuat minum minuman keras seperti itu

Hinata memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar taman yang sepi ini. Sepertinya hanya ia sendiri disini. Bagaimana tidak? Taman ini memang agak terpencil dan cukup berjarak dari gedung utama tempat pesta, tapi luas dan indah

.

.

Bruk

.

.

Hinata terjatuh karena heels nya yang tinggi dan ia jadi tak seimbang. Kaki kanannya benar-benar sakit, sepeti patah saja rasanya, atau- memang patah?

"aw" Hinata terduduk dijalanan dan memijat-mijat kakinya. Tiba-tiba ia mendengar suara orang yang sepertinya tak cukup jauh, menggumam-gumam tak jelas. Hinata menolehkan kepalanya ke depan dan kebelakang, mencari sumber suara?

'suara apa itu? Masa hantu, sih?' Hinata menggelengkan kepalanya

Saat ia menolehkan kepalanya kedepan lagi, tak jauh dari situ terlihat seorang pria yang berjalan terseok-seok sambil memegang botol alkohol ditangan kirinya. Bicaranya rancu dan tak jelas, sudah pasti ia sudah berada dibawah pengaruh alkohol. Pria itu mabuk

"wow! Ada bidadari cantik disini rupanya" pria itu menatap kaki jenjang Hinata sambil menyeringai. Ia mulai berjalan kearah Hinata

Hinata langsung panik melihat pria itu mendekat, ia berusaha membetulkan posisi kakinya dan berusaha berdiri. 'sial, kakiku sakit sekali' gerutu Hinata dalam hati. Hinata berhasil berdiri, ia langsung berusaha berlari menghindar. Pria itu yang melihat Hinata berusaha berlari langsung mempercepat laju jalannya

Grep

"hei, mau kemana nona manis" pria itu menarik lengan Hinata dan langsung menghimpitnya ke tembok. Hinata berontak dengan segala kekuatannya. Ia tidak bisa melawan, karena kakinya benar-benar sakit saat ini dan pria yang mencoba macam-macam dengannya ini semakin membuat Hinata takut

"tolong, lepas" Hinata mendorong-dorong bahu pria itu yang semakin berusaha mendekatkan tubuhnya

"setelah kita selesai bermain"

Srek

Pria itu merobek dengan kasar kedua kain yang menutupi lengan kanan dan kirinya. Hinata terbelalak karena lengannya yang sudah sobek. "tidak! Tidak, kumohon, lepaskan!" Hinata terus berontak dan mendorong bahu pria itu, tapi percuma saja, saat ini kekuatan pria itu lebih besar dari Hinata

"tenanglah nona cantik, kau akan menyukainya" tercium bau alkohol yang sangat menyengat. Pria itu benar-benar sudah mabuk. Pria itu mulai memaksa membuka kancing baju Hinata sambil berusaha menciumnya. Hinata terus menolak, memejamkan matanya dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Pria itu terus meraba-raba lengan mulus Hinata dan pinggang Hinata. Tangan kirinya menyebabkan tiga kancing teratas Hinata lepas yang menunjukkan tanktop putih Hinata

"dadamu pasti bagus nona, dan aku akan segera menyantapnya"

Hinata semakin merapatkan bibirnya saat pria itu menyentuh dagunya dan berusaha menciumnya. Tangan kirinya terus meraba pinggang Hinata hampir menuju dadanya. Hinata merasakan wajah pria itu terus mendekat, tapi tak pernah sampai-

BUAGH

Pria itu terlempar kesamping karena tekanan yang amat kuat mengenai pipi kirinya

...

"kemana gadis itu sebenarnya?" Naruto mencari-cari didalam dan dihalaman gedung, tetapi sosok yang dicarinya tak kunjung terlihat. Naruto melihat Tayuya dan teman-temannya lalu memutuskan untuk bertanya pada mereka

"permisi, Tayuya-san?"

"iya saya sendiri, ada apa Uzumaki-sama?" tanya Tayuya setelah membungkuk sedikit pada Naruto

"apa kau melihat Hinata?"

"ah, tadi dia bersama Itachi-sama, Uzumaki-sama" jawab Tayuya

"kemana?" tanya Naruto menyelidik

"kalau tidak salah ke taman belakang yang ada digedung ini Naruto-sama"

Taman? Belakang?

"tempatnya dibelakang gedung ini Naruto-sama, memang agak terpencil dari sini" sambung Suigetsu

"begitu. Baiklah, terimakasih" Naruto melangkahkan kakinya ke taman belakang. Apa kata mereka? Masih bersama Itachi? Sialan! Jangan bercanda! Baru saja ia melihat Itachi sedang berbincang-bincang dengan petinggi Sabaku didalam gedung. Naruto berlari menuju taman yang dimaksud itu, entah kenapa perasaannya tidak enak untuk saat ini

Setelah cukup jauh berlari, Naruto sampai ditempat yang terdapat banyak pepohonan dan bunga, juga terdapat lampu taman tapi tak banyak. Naruto memasuki taman itu, berbelok-belok sambil berusaha menemukan sosok yang dicarinya. Tiba-tiba ia mendengar suara samar-samar, seperti suara pria dan lelaki. Naruto berlari mencari sumber suara itu dan yang dihadapannya adalah pria yang sedang berusaha mencium gadis yang dicarinya

Jantung Naruto berdegup kencang, mengepalkan kedua tangannya. Amarah, dirinya sudah dikuasai amarah yang memuncak. Ia balikan pria itu dan-

BUAGH

Pria itu terhempas kesamping setelah tengan kanannya mengahantam keras pipi kiri pria itu. Naruto terus menghadiahi pria itu pukulan yang bertubi-tubi. Yang dipukuli tak melawan dan sudah tergeletak ditanah dengan banyak memar dan darah diwajahnya tapi Naruto terus memukulnya. Hinata yang sudah terduduk menutup mulutnya dengan kedua tangannya, air mata sudah menetas di mata indahnya

Hinata bisa melihat rahang mengeras Naruto dan kilatan amarah dimatanya. Tidak, ia takut Naruto menjadi gelap mata dan membunuh pria itu. Ia tak ingin Naruto membunuh orang

"tolong.. hentikan" Hinata berusaha menghentikan, tapi karena tubuhnya sangat lemas hanya suara pelan yang bisa ia keluarkan

"tolong, hentikan" Hinata berusaha memperbesar suaranya tapi Naruto tidak mendengar dan terus memukul pria yang sudah hampir pingsan itu

"hentikan, Naruto-sama!" Hinata berteriak dengan suaranya yang mulai serak sambil diikuti suara tangisnya yang pecah

"hentikan" suara Hinata kembali lemah, "bawa saya pergi dari sini". Naruto menghentikan pukulannya dan berdiri menghampiri Hinata. Ia melihat sebentar pakaian Hinata yang sudah sangat berantakan, kedua helai kain yang menutupi lengannya sudah sobek, bajunya terkoyak dengan tiga kancing atas terbuka dan kaki kanannya terdapat memar. Naruto lagi-lagi dikuasai amarah melihat keadaan Hinata, tapi ia harus menahannya, ia tak ingin membuat Hinata semakin ketakutan. Hinata masih menutup mulutnya sambil terisak

Naruto melepas jasnya, berlutut didepan Hinata dan menyampirkannya pada tubuh Hinata dengan lembut. "tidak apa-apa, aku disini" bisik Naruto lembut dekat telinga Hinata, berharap itu dapat menenangkan gadis yang sedang ketakutan itu. Dengan pelan ia melepas kedua sepatu Hinata dan membungkuk membelakangi Hinata. "naiklah". Hinata menurut dan mengalungkan tangannya pada leher Naruto, lalu Naruto berdiri sambil menggendong Hinata di punggungnya

Naruto berjalan menuju mobilnya dan membantu Hinata untuk duduk dikursi penumpang

"tunggu sebentar disini" Naruto hendak melangkah pergi tapi tangan Hinata menahan lengannya

"mau kemana?" Naruto masih menangkap raut ketakutan pada wajah Hinata dan ia bisa merasakan tangannya yang masih bergetar dilengannya

"tunggulah, aku berjanji kau aman disini" Naruto menggenggam tangan Hinata sebentar lalu mengunci mobilnya dari luar dan berlari masuk kedalam

Naruto menghampiri Temari yang sedang minum wine di stand minuman, "salah satu pegawaimu ada di taman belakang"

Temari mengerutkan keningnya, "apa maksudmu?"

"pecat dia, dan jangan lagi mencoba menyentuh sekretarisku" suara Naruto terdengar sangat dingin dan cukup membuat Temari terdiam. Setelah kepergian Naruto, Temari memanggil pegawainya untuk menuju taman belakang. Naruto menuju taman belakang untuk mengambil sepatu dan tas Hinata yang tertinggal, dibelakangnya ada pegawai suruhan Temari yang menghampiri pria yang sudah babak belur di tanah itu

"m-ma-maafkan kami Uzumaki-sama. Pegawai kami membahayakan sekretaris anda" dua orang itu membungkuk meminta maaf. Naruto hanya memandangnya sekilas lalu berjalan kembali kearah mobilnya, tak ingin meninggalkan Hinata berlama-lama disana

Setelah meletakkan tas dan sepatu Hinata di jok belakang, Naruto mengendarai mobilnya menuju hotel. Selama perjalanan tak ada satupun dari mereka yang ingin membuka pembicaraan. Hinata masih berusaha menormalkan ketakutannya dan Naruto tak ingin mengganggu Hinata. Sesampai di hotel, Naruto menggendong Hinata seperti sebelumnya, Naruto membawa Hinata menuju kamarnya

"mandilah, aku akan menunggu diluar. Kau bisa memakai pakaianku dilemari" Hinata hanya membalasnya dengan anggukan, lalu Naruto melangkah keluar meninggalkan kamar itu

Hinata segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Mungkin air hangat bisa sedikit menenangkan pikirannya. Setelah selesai ia memakai baju lengan panjang Naruto yang kebesaran dan celana panjang

Naruto sudah menunggu kira-kira dua puluh menit, 'mungkin dia sudah selesai?' batin Naruto. Naruto mengetuk pintunya dan memanggil Hinata, tapi tak ada jawaban, setelah menunggu sebentar akhirnya ia memutuskan untuk memasukkan kartu kamarnya untuk masuk kedalam. Saat ia masuk dan menuju ruang tengah ternyata Hinata sudah tertidur di sofa. Wajahnya sangat terlihat kelelahan dan sembap karena habis menangis

Setelah membersihkan dirinya, Naruto mengangkat Hinata dengan bridal dan membawanya keatas kasurnya, lalu menyelimutinya sampai leher. Ia menarik kasur bawah tempat ia tidur kemarin malam dan tak sampai lima detik, dirinya sudah masuk ke alam mimpi

.

.

.

.

.

TBC

.

.

Hallo semuanya! bertemu lagi di chap 4! Author tidak berbicara banyak kali ini, hehe. Terimakasih kepada semua pembaca!

See you on next chap!