BAB 4 RUMIT
.
T/N: Menjawab review mitsalia, ya, seperti yang saya sebutkan di summary, ini memang terjemahan fanfic milik teenage . tragedy (remove space) berjudul Flower and Prongs. Awalnya saya nerjemahin ini hanya karena saya sendiri agak malas baca bahasa Inggris: paham sih secara umum, tapi untuk mendapatkan detailnya tetap harus berpikir dua kali, tidak cocok untuk dibaca sambil santai. Jadi saya terjemahkan ini dengan bahasa yang kadang-kadang sengaja dibuat tidak terlalu plek dengan bahasa Inggrisnya (malah kadang saya potong kata-kata yang berulang), sejauh bisa dipahami tanpa mengubah makna, dan sebisa mungkin menggunakan istilah yang dipakai Listiana Srisanti di buku-buku terjemahan HP, kecuali mungkin untuk Marauder (kalau diterjemahkan Perampok kok agak gimana ya). Mohon maaf kalau ada beberapa kalimat yang tidak tepat, dan masih terbuka untuk menerima saran terjemahan yang pas, demi kenyamanan pembaca juga.
Oya, meski niat nerjemahin untuk pribadi, saya post di FF biar memaksa diri untuk konsisten nerjemahin sampai akhir, karena tiap chapternya ternyata semakin nambah word-nya. Hehe... jadi mohon maaf kalau tidak bisa update secepat yang readers harapkan. Terima kasih sudah menikmati dan memberi masukan. :)
.
Asrama khusus Ketua Murid memang luar biasa. Hampir seperti menara Gryffindor, tetapi lebih kecil dan hanya dihuni dua orang. Di depan perapian ada sofa dan kursi berlengan nyaman seperti di ruang rekreasi Gryffindor. Dua meja besar diletakkan di sisi ruangan yang saling berhadapan, dan di sebelah jendela terdapat rak buku. Di antara dua tangga spiral yang menuju ke kamar ada sebuah pintu.
Lily menuju pintu tersebut dan membukanya, mendapati sebuah kamar mandi yang mewah.
"Kita memakai kamar mandi yang sama?" tanyanya, berpaling pada James, yang masih memandang berkeliling ruang rekreasi seolah disuruh mengingatnya, terpesona. "Potter?"
James perlahan menoleh padanya.
"Hm?" sahutnya, bepaling kembali dari Lily untuk memandang tangga spiral.
Lily memandangnya dan tersenyum. James mirip anak-anak.
"Tidak ada," katanya, mendekati perapian, menjatuhkan diri di kursi berlengan seperti yang sering ditempatinya di ruang rekreasi Gryffindor. Ternyata lebih nyaman dibanding di menara Gryffindor. Dia menghela napas.
James memandangnya dan duduk di sofadi sebelahnya, menyandarkan tubuh ke belakang.
"Aku suka jadi Ketua Murid." Dia tersenyum pada langit-langit.
Lily tertawa dan berdiri. James terduduk tegak, memandangnya ingin tahu.
"Hari yang panjang, aku mau tidur," kata Lily canggung. "Er, selamat tidur."
James memperhatikan Lily berlari menuju tangga spiral sebelah kiri dan berlari balik. Alis James terangkat.
"Yang itu kamarmu," kata Lily, berlari menuju tangga sebelah kanan.
James terkekeh dan berdiri, meregangkan badan. Dia melangkah menuju tangga sebelah kanan, yang menuju kamar Lily, dan memandangnya. Lily muncul dari puncak tangga, mengenakan tank top dan celana tidur, memandangnya bertanya-tanya.
"Apakah menurutmu tangga ini juga dimantrai?" tanya James."Di menara Gryffindor, kalau anak laki-laki mencoba naik ke kamar anak perempuan, tangganya berubah jadi luncuran, apa menurutmu itu juga berlaku di sini?"
Lily memandang ke bawah dan mengangkat bahu. "Entahlah," jawabnya jujur.
James mengambil napas dalam-dalam dan meletakkan satu kaki di anak tangga pertama. Tak ada yang terjadi. Berjalan selangkah lagi, dan lagi-lagi tak ada yang terjadi. Dia mendongak memandang Lily, senyum penuh kemenangan menghiasi wajahnya. Lily memutar bola matanya.
"Selamat malam, Potter."
Berkata begitu, Lily berbalik menuju kamarnya. James turun dan menaiki tangga yang menuju kamarnya sendiri.
Lily duduk di tempat tidurnya, mengembuskan napas. Tempat tidur ini lebih nyaman daripada yang ada di asrama Gryffindor. Dia memandang sekeliling kamar, mendadak merasa kesepian. Di asrama biasanya, ada tiga tempat tidur lainnya, dengan tiga orang lagi yang saling bercakap sampai dia tidur. Sekali lagi dia mengembuskan napas dan berikutnya sudah tertidur.
James masuk ke kamarnya dan mendapati tempat tidur king-sized. Dia berganti pakaian dengan baju tidurnya dan melompat ke tempat tidur. Dia sudah nyaris tertidur saat terdengar suara berdengung. Dia bangkit dan mengambil cermin dua-arahnya, yang sedang bergetar karena panggilan dari Sirius.
"Bicaralah, Pads," katanya pada cermin, dan wajah Sirius muncul.
"Di mana kau?" dengking Sirius. James baru ingat dia belum memberi tahu para Marauder soal asrama barunya.
"Aku di kamarku," kata James perlahan, mengamati wajah Sirius. Sirius menilai pakaian tidurnya dan melihat ekspresi sedih di wajah sahabatnya.
"Jadi, kau tidak tinggal bersama kami lagi?" tanya Sirius sedih.
"Aku mungkin akan tidur di sana sesekali," kata James, membuat Sirius gembira sekali.
"Dan kau juga akan mengizinkanku tidur di sana, kan?"
"Maaf, tapi tidak. Aku tak mengizinkan anjing masuk ke kamarku."
Sirius terbahak. "Baiklah, sobat. Aku ingin melihat kamarmu!"
"Kamar-nya?" tanya Remus, dan mendadak wajahnya muncul di cermin kecil itu. "James, kau dapat kamar sendiri? Cool banget, deh! Kami boleh ke sana?"
James mengerling jam dinding. Masih pukul setengah sembilan. "Tentu saja. Jam malam kalian tidak sampai jam 10."
"Jam sepuluh? Jam malam kita sampai jam sembilan, James," Remus mengingatkan.
"Tidak lagi," James mengedip. "Ketua Murid, ingat? Kubilang jam malam kalian sampai jam sepuluh."
Sirius mengeluarkan tawa yang seperti gonggongan sementara Remus tersenyum.
"Kau benar-benar pemimpin yang keren. Di mana kita bisa ketemu? Aku tak tahu di mana asrama Ketua Murid."
Sepuluh menit kemudian, James sudah menunggu di tangga menuju menara Gryffindor. Dia melihat Remus dan Sirius memanjat keluar dari lubang lukisan dan turun.
"Prongsie!" teriak Sirius, menyambut James dengan pelukan jantan.
James tertawa dan balik memeluk Sirius sebelum memandang berkeliling.
"Mana Wormtail?"
"Dia sudah tidur," Remus yang menjawab. "Waktu kita sampai di kamar, ternyata dia sudah tidur."
James tertawa. "Dia bisa melihat asramaku lain kali. Lewat sini," katanya, memimpin kedua sahabatnya menuju koridor yang mengarah ke asrama Ketua Murid.
"Aneh sekali ya, kita tidak seasrama lagi," kata Remus.
"Memang, tapi aku juga menikmati pengaturan baru ini," James menyeringai. Dia melihat teman-temannya memasang ekspresi terluka. "Bukannya aku tidak merindukan kalian. Di sini sepi, tahu, hanya ada aku dan Evans."
"Kau dan Evans tinggal bersama?" Sirius mengangkat alisnya pada James, yang mendorongnya main-main.
Mereka tiba di pintu mahogani. James menyebutkan kata kuncinya dan mendorong pintu terbuka. Ekspresi Remus dan Sirius sama persis dengan James dan Lily waktu mereka pertama kali membuka pintu.
"Wow," hanya itu yang bisa dikatakan Remus, memandang bergantian dari perapian ke tangga. Sirius seperti kehilangan kata-kata untuk pertama kalinya. Dia berjalan menuju perapian dan duduk di kursi berlengan yang tadi diduduki Lily.
"Ini betul-betul nyaman," dia mendesah.
James tertawa dan berpaling pada Remus, yang sekarang sedang mengamati buku-buku.
"Kamarmu sebelah mana?" tanya Sirius, memberi isyarat ke arah tangga.
"Kamarku yang sebelah kiri," kata James."Kamar Lily sebelah kanan."
Sirius bangkit dari kursi dan mendekati James. "Kau bisa menaiki tangganya?" tanyanya.
Remus berbalik, tertarik mendengar jawabannya.
"Sebetulnya... ya," jawab James, "Aku sudah mencoba."
Remus mengangkat alis terkesan, dan mendekati keduanya, matanya terpaku pada Sirius.
"Sirius, apa yang kau pikirkan?" tanya Remus hati-hati, karena wajah Sirius sekarang dihiasi ekspresi nakal yang biasa. James menatap Sirius, yang mengabaikan keduanya, dan berjalan menuju tangga ke kamar Lily. James bertukar pandang dengan Remus, yang mengangkat bahu.
"EVANS!" teriak Sirius, menyebabkan James dan Remus terlonjak.
Di kamarnya, Lily mendadak terduduk. Dia mendengar seruan, 'Evans!' beberapa kali dan mengerang terganggu.
"APA?"
Siapa yang berani-beraninya membangunkannya? Disambarnya tongkat sihirnya, memandang ke bawah memastikan dirinya berpakaian. Dia berjalan ke pintu dan membukanya.
"EVANS!"
Lily menggeram begitu mengenali pemilik suara itu. "Black, apa yang kaulakukan di sini?" katanya, menuruni tangga. Dia menyimpan tongkat di saku celananya.
James melongo memandang Lily turun hanya dengan mengenakan tanktop dan celana pendek, rambutnya berantakan. Dia tak pernah melihat siapa pun secantik ini. Sirius dan Remus sama-sama melongo. Jubah seragam Hogwarts menghalangi imajinasi mereka, seperti yang sering didiskusikan anak laki-laki.
Lily sampai ke anak tangga paling bawah sehingga nyaris berhadapan sepenuhnya dengan Sirius.
"Apa yang kaulakukan di sini?" ulangnya.
Sirius lagi-lagi kehilangan kata-kata.
Lily memandang berkeliling, melihat James dan Remus.
"Hai, Remus," sapanya tersenyum, sebelum kembali memandang James. "Lain kali, beri aku peringatan, oke?" katanya sebelum beralih ke kursi yang tadi ditempati Sirius.
"Sori," James tersedak. Lily mengerlingnya sekilas dengan senyuman. "Kenapa kau tidak kembali ke tempat tidur?"
"Tidak bisa, tidak setelah dibangunkan dengan kasar," kata Lily, memandang tajam Sirius, yang masih membeku di ujung tangga.
"Kau ingin aku yang membawamu ke tempat tidur, Evans?" Sirius menawarkan.
James merasakan sensasi panas di perutnya dan menatap Sirius, yang mengedip pada James untuk menunjukkan bahwa dia hanya menggoda. Lily berdiri dan mendekati Sirius.
"Kenapa tidak," katanya, berdiri sangat dekat dengan Sirius, yang melompat ke belakang, terkejut. Lily menyeringai, mengedip pada Remus yang terbahak, lalu menaiki tangga. Ketiga anak laki-laki itu memandangnya pergi, dan mendengar suara pintu dibanting.
"Kau tahu, Prongsie," Sirius menoleh pada James, yang berseri-seri, "dia tidak separah itu."
Mendekati pukul sepuluh, James mengantar Remus dan Sirius kembali ke asrama mereka supaya tidak mendapatkan masalah karena berkeliaran terlalu malam. Kembali ke asrama khususnya, dia mendapati Lily duduk di kursi depan perapian, memandang api. James mengerjapkan mata, berpikir dia hanya mengkhayalkannya, tetapi itu betul-betul Lily. Dia duduk di sampingnya.
"Lily, kukira kau sudah kembali tidur," katanya lembut.
"Tidak," kata Lily tanpa mengalihkan pandangan dari api. "Terlalu banyak hal yang kupikirkan."
James mengusap rambutnya, sesuatu yang sering dilakukannya saat kehilangan kata-kata, membuat rambutnya makin berantakan.
"Apa yang kaupikirkan?"
Dia sempat takut kalau-kalau terlalu banyak bertanya, tapi dia terkejut ketika Lily menjawabnya.
"Semuanya! NEWT, Voldemort, Severus," katanya, memandang James.
James mengatupkan rahang mendengar nama Snivellus.
"Apa yang terjadi dengan semua itu?" tanyanya, berusaha mengendalikan kemarahan dalam suaranya.
"NEWT, karena aku takut, dan aku betul-betul tidak tahu apa yang kuinginkan dalam hidupku. Voldemort, dengan usaha rekrutmennya dan segala hal tentang Darah-Murni itu. Dan Severus... yah," dia terdiam sejenak, "kami dulunya bersahabat, kami sudah saling mengenal sejak sembilan tahun. Kau tahu itu?"
James tercengang, tak pernah menyadari bahwa Lily dan Snivellus saling mengenal selama itu.
"Tidak, aku tak pernah tahu."
"Aku bisa membayangkannya," Lily memandang tangannya. "Dialah yang pertama kali memberitahuku kalau aku penyihir setelah mengamatiku di ayunan. Dialah satu-satunya yang bisa kuajak bicara sepanjang musim panas, meskipun kami terpisah di Gryffindor dan Slytherin. Hestia tidak suka menulis karena membuat kukunya rusak." Lily tersenyum sendiri. "Sedangkan Alice, Gwenog, dan aku mulai dekat sejak Sev memanggilku... yah, kau-tahu-apa. Jadi, biasanya aku hanya berhubungan dengan Sev selama musim panas."
James menatapnya selama Lily bicara, memperhatikan bahwa Lily seringkali mengangkat tangan untuk mendorong rambut dari matanya.
"Tapi musim panas ini," Lily melanjutkan, kembali memandang api, matanya berkilau oleh air mata, "musim panas ini aku tak punya siapa pun selain Petunia yang bisa diajak bicara. Tuney, kakakku, yang membenciku hanya karena aku penyihir dan dia bukan."
Air mata mengalir dari sudut matanya. James mengangkat tangan untuk mengusapnya, tapi Lily sudah melompat.
"Kurasa aku mau tidur."
Dan dia berlari menuju tangga. James memandangnya sampai terdengar pintu ditutup.
James terbangun keesokan paginya oleh sebuah guncangan di lengannya. Dia membuka mata dan samar-samar melihat Lily berdiri di atasnya, sudah memakai seragam. James duduk dan mengenakan kacamatanya, membuat penglihatannya lebih jelas.
"Jam berapa sekarang?" tanyanya sambil menggosok mata.
"Waktunya untuk sarapan. Ayo, segeralah bersiap-siap," kata Lily, mendorongnya hingga terjatuh dari tempat tidur. James hanya mengenakan celana pendek, dan Lily mendapati dirinya memandang dada telanjang James Potter. Kau tak akan mengira Quidditch akan membuat badanmu seperti ini, pikirnya, memandang perut James.
James, memperhatikan Lily, menyeringai.
"Ada yang kausukai, Evans?" tanyanya.
Wajah Lily merona. Dia memutar bola mata dan meninggalkan ruangan.
"Bergegas sajalah," katanya, membanting pintu di belakangnya.
Lily menuruni tangga dan mendekati rak buku. Dia mendengar pintu terbuka, dan bergegas berbalik, melihat para Marauder dan teman-teman Lily masuk. Peter, Hestia, Alice, dan Gwenog, yang baru pertama kali ke sana, memandang berkeliling dengan tertarik. Hestia, yang memperhatikan Lily terlebih dahulu, menjerit dan berlari mendekati Lily, memeluknya.
"Kami rindu padamu!"
Lily tertawa dan memeluknya balik. "Aku juga merindukan kalian." Dilihatnya Alice dan Gwenog juga tersenyum padanya.
"Tempat yang bagus," komentar Alice, meneliti sekelilingnya.
"Di mana James?" tanya Peter.
"Dia di kamarnya, masih tidur," jawab Lily, mengedikkan kepala ke arah tangga spiral, tempat James baru saja tiba di puncaknya.
Peter berlari, diikuti Remus dan Sirius, meninggalkan keempat gadis itu di bawah.
"Kami sangat merindukanmu, Lils," kata Gwenog dari kursi berlengan di depan perapian. "Dan aku betul-betul iri. Sofa ini jauh lebih nyaman dibandingkan yang ada di ruang rekreasi!" Dia menatap Lily. "Apa kau akan mengizinkan kami nongkrong di sini alih-alih di ruang rekreasi? Di sana berisik sekali. Anak-anak kelas satu itu betul-betul menyebalkan, tak pernah berhenti bicara dan menjerit."
Lily tertawa. "Ya, kalian boleh ke sini kapan saja. Mau sarapan sekarang?" Dia mengulurkan tangan pada Gwenog.
"Sarapan!" Sirius berteriak gembira, berlari menuruni tangga spiral. "Apa aku mendengar seseorang mengatakan sarapan?"
Lily memutar matanya.
"Ya, aku yang mengatakannya. Cowokmu sudah siap?" Dia mengangguk ke arah kamar James.
"Bunga-Lily, bagaimana kau tahu?" tanya Sirius, menirukan gaya perempuan.
"Oh, bersikaplah serius."
"Aku memang Sirius," Sirius mengedip pada Lily—menyebabkan ketiga gadis lainnya tertawa—dan berpaling ke tangga spiral. "PRONGSIE!" serunya.
"Ya, Pads," kata James, menuruni tangga sambil menguap, rambutnya sangat berantakan. Remus dan Peter di belakangnya
"Prongsie-poo!" jerit Sirius, memeluk James, yang menepuk punggung Sirius.
"Kenapa kau jadi sok manis begini?" tanya Remus.
"Kau tak tahu?" kata Sirius, merangkul bahu James. "Prongs sekarang jadi cowokku."
Dia mengedip-ngedipkan bulu matanya pada James, yang memandang Lily meminta penjelasan. Keempat gadis itu tertawa, jelas tak bisa memberikan jawaban.
"Itu tidak penting," kata Lily pada James. "Ayo saparan, aku lapar."
Dia memimpin keluar, diikuti Gwenog, Hestia, dan Alice. Hestia memberikan ciuman jauh pada Sirius, yang melepaskan tangannya dari bahu James, melongo memandangnya.
"Ayo, Pads," kata James, menepuk bahu Sirius. "Makan!"
Wajah Sirius menjadi cerah mendengar kata itu. "Makan!" serunya, menarik James ke pintu. Remus tertawa, mengikuti keduanya bersama Peter.
Seperti biasanya, McGonagall membagikan jadwal pelajaran mereka saat sarapan. Lily mengambil jadwalnya dari McGonagall dan menelitinya.
"Dua jam Mantra, Ramuan, dan Transfigurasi. Tidak terlalu parah, bagaimana dengan kalian?" tanyanya, memandang teman-temannya, tapi McGonagall yang menjawab.
"Semua murid NEWT dari Gryffindor mengikuti kelas yang sama karena kalian akan membutuhkan semua pelajaran itu untuk karir yang kalian harapkan," katanya, menyerahkan jadwal Alice. "Jadi kalian berempat akan sekelas," dia tersenyum pada mereka dan pergi.
"Bagus sekali!" kata Gwenog dengan suara dalam, sebelum kembali ke roti panggangnya. Mereka berempat makan sambil mendiskusikan pelajaran yang akan mereka ikuti bersama-sama, lalu bangkit menuju kelas Mantra.
"Jadi, Lily, bagaimana rasanya tinggal bersama Potter?" tanya Alice yang berjalan di samping Lily.
"Aneh, kukira, tapi aku belum bisa memastikan, kami kan baru tinggal di sana semalam," Lily mengangkat bahu. "Tapi aku masuk ke kamarnya pagi ini dan baunya seperti kaus kaki!"
Alice, Hestia, dan Gwenog terbahak.
"Menjijikkan. Aku tak mengerti bagaimana cowok-cowok bisa tahan di kamar dengan bau seperti itu sepanjang malam," kata Gwenog saat mereka duduk di kelas Mantra. "Kami mendatangi kamar pada Marauder semalam untuk bertanya kalau-kalau mereka tahu di mana kau, mengingat James teman mereka, dan baunya sudah lebih parah dari kandang babi."
"Tidak baik bicara begitu, Jones."
Keempatnya berbalik, mendapati para Marauder duduk sambil menyeringai di belakang mereka.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Alice keceplosan, merasa terganggu. Belakangan ini dia merasa para Marauder ada di mana-mana, dan terlalu banyak terlibat pada kehidupan mereka. Dia memang menyukai para Marauder, tapi tak diragukan lagi, sekelas dengan keempatnya tak akan membantunya lulus.
"Waktu McGonagall bilang semua murid NEWT dari Gryffindor akan sekelas, kukira dia juga memaksudkan itu termasuk anak laki-laki," gumam Hestia pada Alice.
Lily mengerang. Apa belum cukup dia seasrama dengan Potter, dan masih harus ditambah sekelas dengannya di semua pelajaran?
"Tepat sekali, Hestia sayang," kata Sirius, mengedip pada Hestia yang, mengejutkan Lily, sedikit merona.
Lily memandang Hestia, yang membalasnya dengan tatapan memohon. Lily mengangguk dan mengucapkan tanpa suara, "Kita bicarakan ini nanti."
Hestia tersenyum penuh terima kasih.
Tepat saat itu, Profesor Flitwick berdiri dan mulai menguliahi mereka tentang NEWT. Hanya Lily dan Remus yang sepenuhnya memperhatikan: murid-murid perempuan mulai menggambar atau mencorat-coret buku catatan mereka, James dan Sirius memantrai pena bulu mereka agar menari, sementara Peter menonton dengan terpesona. Topik NEWT menghabiskan hampir separo pelajaran, tetapi karena Mantra dijadwalkan selama dua jam, Flitwick menginstruksikan agar mereka mengulang kembali mantra-mantra yang sudah mereka pelajari sejak OWL.
Mantra adalah saat paling sempurna untuk mengobrol, dan karena mereka dijadwalkan untuk belajar bersama Hufflepuff, yang asyik dengan kelompoknya sendiri, anak-anak Gryffindor bebas mengobrol dengan sesama mereka. Frank Longbottom, yang juga dari Gryffindor, bergabung bersama para gadis. Lily memperhatikan wajah Alice yang merona merah ketika Frank tersenyum padanya. Ini akan menjadi tambahan topik pembicaraan mereka nanti.
Beberapa menit setelah Frank bergabung, Lily merasa lengannya dicengkeram seseorang. Berbalik, dia melihat Sirius duduk di sampingnya. Lily mengibaskan lengannya hingga terlepas dan menjauh dari Sirius, dan James menggantikannya duduk di samping Lily.
"Jadi, Potter, kau sudah mengajaknya kencan?" tanya Frank ke seberang lingkaran mereka.
Wajah James berubah merah, begitu pula Lily. Tiga Marauder yang lain dan kawan-kawan Lily meledak tertawa.
"Belum," Lily yang menjawab Frank dengan agak defensif. James memberinya senyum menghargai, lalu mendelik pada teman-temannya sampai mereka berhenti tertawa.
"Bercanda, Potter," Frank tersenyum, mencondongkan tubuh ke depan untuk menepuk bahu James.
James memutar mata dan menghabiskan sisa jam pelajaran tersebut dengan berusaha keras untuk menghindari memandang Lily. Ketika pelajaran berakhir, mereka semua berebut meninggalkan kelas. Lily mendapati dirinya berjalan di samping Remus.
"Halo, Lily," Remus tersenyum padanya selagi mereka berjalan ke Aula Besar untuk makan siang.
"Hai, Remus," Lily balas tersenyum.
"Boleh aku tanya sesuatu?" kata Remus pelan.
Lily yang mengangguk. Dia selalu menyukai Remus. Mereka pernah berkencan singkat, hanya sekitar dua hari, tanpa sepengetahuan James, di kelas lima saat mereka sama-sama menjadi Prefek, tapi Remus mengakhirinya karena kesetiaannya pada James. Meski tidak menyukai Remus dalam arti khusus, mereka berteman baik, jadi Lily tak ingin melukai perasannya.
"James belum mengajakmu kencan, ya?"
"Bukannya kau pasti tahu kalau dia sudah mengajakku?" tanya Lily, alisnya terangkat.
Remus mengangguk.
"Lalu kenapa kau harus bertanya?"
"Aku penasaran. Kupikir mungkin kau berbohong pada Longbottom soal James yang belum mengajakmu karena pertanyaan jahilnya," Remus mengangkat bahu.
Lily tertawa. "Aku? Berbohong untuk Potter? Wow, kayak kau tidak mengenalku saja, Remus."
Remus tersenyum ragu, memandang sedih Lily. "Kau sama sekali tak menyukainya, Lily? Maksudku, dia bahkan sudah menyukaimu sejak kelas satu."
Lily tersentak memandang Remus.
"Benarkah? Sebegitu lama?" tanyanya pelan, menoleh memandang James dan Sirius yang sedang mengobrol bersemangat beberapa meter dari mereka. Dia memperhatikan tangan James yang melompat ke rambutnya, membuatnya semakin berantakan, menertawakan sesuatu yang dikatakan Sirius.
Remus tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk. Lily masih terpaku memandang James. Enam tahun waktu yang cukup lama. Remus diam-diam meninggalkan Lily yang sibuk dengan pikirannya, dan mendatangi Sirius dan James, menepuk bahu James. Lily memperhatikan James menanyai Remus, yang dijawab dengan gelengan kepala, dan James menjatuhkan bahunya santai.
"Lily!"
Lily terlonjak. Severus sedang berjalan ke arahnya. Lily mengerling Marauder; keempatnya membeku dan berbalik. Remus berada di antara James dan Sirius, tangannya menahan pada bahu keduanya, sementara Peter terpaku melihat ekspresi Sirius dan James. Sirius tampak marah, matanya terpaku pada Severus. James, meski juga tampak marah, memandang Lily agak khawatir. James mendengar Hestia mendekat dan berdiri di sisi lain Sirius tapi mengabaikannya. Bagaimanapun juga, setelah apa yang Lily ceritakan semalam, yang James yakin sudah dilupakan Lily, dia khawatir Severus akan melukai Lily, bukan secara fisik melainkan emosional. James mencabut tongkat sihirnya, melihat Sirius melakukan hal yang sama.
"Lily," ujar Severus ketika akhirnya tiba di sampingnya. Lily berdiri dengan tangan terlipat di dadanya, ekspresinya tidak bersahabat. "Hai."
Lily hanya memandangnya tanpa mengatakan apa-apa. Severus menatap mata hijau cemerlang yang sangat dikenalnya, terluka ketika tidak mendapati persahabatan yang telah mereka jalin ketika dia berbicara. Ketika Lily masih belum mengatakan apa-apa, Severus berdeham.
"Bagaimana kabarmu hari ini?" tanyanya, berusaha meneruskan pembicaraan.
"Baik."
Nada bicaranya biasa saja, tapi Severus mendengar kemarahan tersirat di dalamnya.
"Bagaimana musim panasmu?" tanya Severus, senang bahwa setidaknya Lily menjawab, tetapi langsung menyadari dia menanyakan hal yang salah ketika mata Lily menyipit. Severus juga memperhatikan bahwa di belakang Lily, James juga menyipitkan mata.
"Musim panasku?" kata Lily dengan suara rendah. "Musim panasku? Yah, coba kuingat. Aku terjebak di rumah bersama Tuney, yang tidak ingin melakukan apapun denganku dan selalu keluar bersama pacarnya. Orangtuaku harus mengerjakan banyak hal setiap harinya. Aku hanya duduk di rumah berusaha menghibur diri sendiri," suaranya bergetar.
Severus tersentak mendengar kemarahan dan tuduhan dalam suaranya.
"Aku sebetulnya ingin mengajakmu, tapi kau sedang tidak bicara denganku," bisiknya.
"Oh, kenapa begitu, Severus?"
Severus memperhatikan suara Lily mengeras. Dia sakit hati menyadari Lily memanggilnya dengan nama depannya alih-alih nama panggilan Lily untuknya, 'Sev'.
"Karena aku memanggilmu kau-tahu-apa," katanya pelan, memandang lantai.
"Sori, aku tak tahu maksudmu," kata Lily marah, tak peduli itu menyakiti Severus. "Apa maksudmu dengan kau-tahu-apa?"
"Darah-Lumpur," bisik Severus, mendongak memandangnya. "Aku seharusnya tidak mengatakan itu. Maafkan aku." Dia memberinya senyum sedih yang tak dibalas Lily.
"Kenapa kau seharusnya tidak mengatakan itu? Kau memanggil semua kelahiran-Muggle yang lain dengan Darah-Lumpur. Kenapa aku berbeda?"
Severus tidak tahu harus bicara apa. Setelah beberapa saat, Lily memutar mata dan berbalik akan pergi, tapi Severus mencengkeram lengannya. Para Marauder, bahkan termasuk Lupin, yang biasanya paling tenang, mendesis.
"Lily, aku sudah minta maaf, apa lagi yang harus kulakukan?" tanya Severus.
"Aku ingin kau meninggalkanku sendiri," kata Lily, berbalik menatapnya. "Kita dulu memang teman, Severus! Aku mempercayaimu! Aku berdiri membelamu di depan semua orang, dan waktu aku berusaha membantumu, kau memanggilku Darah-Lumpur, dan sekarang kau mengharapkan aku memaafkanmu?" Suaranya pelan, tapi Severus merasa Lily sedang berteriak padanya. "Itu tak akan terjadi," katanya dengan nada final dan menarik lengannya dari cengkeraman Severus.
"Tapi, Lily..."
"Tidak. Kalaupun toh aku memaafkanmu, apa bedanya?" kata Lily, mundur beberapa langkah darinya. "Kau begitu tertarik ingin bergabung dengan Voldemort dan menjadi Pelahap Maut-nya... kaulihat, kau bahkan tidak menyangkalnya! Hal terbesar yang dia inginkan adalah menyingkirkan Darah-Lumpur sepertiku." Air mata mulai terbentuk di matanya. "Jadi, kaulihat kan, aku sedang membantumu. Kau tak harus memilih."
Usai kalimat panjang itu, Severus memperhatikan Lily Evans memunggunginya dan berjalan ke arah Hestia, yang mendelik pada Severus sebelum menggandeng Lily dan mengajaknya masuk ke Aula Besar.
"Kau mendengarnya," sergah Peter dengan nada menghina. "Tinggalkan dia."
Severus mengabaikannya dan menoleh pada Potter, yang masih melotot padanya. Dia memandang Potter beberapa detik, kebencian meluap dalam dirinya, sebelum memasuki Aula Besar, masih bisa merasakan tatapan mereka sampai dia duduk di meja Slytherin bersama Avery, Mulciber, dan Dolohov, yang menepuk punggungnya.
Severus melihat para Marauder masuk ke Aula, dan Potter mengambil tempat di samping Lily. Dia mengawasi Potter mengatakan sesuatu pada Lily, yang tersenyum dan mengangguk, sebelum kembali berkonsentrasi pada makanannya. Severus merasa tertusuk hatinya dan mengasihani diri sendiri, lalu meninggalkan Aula tanpa memperhatikan Lily, kembali ke asramanya.
Di meja Gryffindor, James sedang bercerita kepada para Marauder dengan suara pelan tentang apa yang terjadi setelah Remus dan Sirius meninggalkan asrama Ketua Murid semalam.
"Dasar Snivellus!" Sirius berbisik marah sehingga Lily tidak mendengarnya. "Dia benar-benar brengsek! Mereka dulunya berteman dan dia memanggilnya Darah-Lumpur?"
Remus hanya menggelengkan kepala, setuju dengan Sirius, sementara Peter hanya melongo memandang James seolah menunggunya melompat dan mengatakan, 'Hanya bercanda!' Merasa tidak nyaman, Sirius bangkit, mendorong James, dan duduk di samping Lily.
"Ya, Sirius?" kata Lily, alisnya terangkat.
"Kau baik-baik saja?" Sirius memandang Lily, yang tersenyum lembut dan mengangguk.
"Trims," katanya pelan, lalu berdiri dan meninggalkan Aula Besar bersama teman-temannya.
"Wow, Sirius," Remus tampak terkesan. "Aku tak tahu kau punya sisi sensitif."
James tertawa. Sirius menggulung serbet dan melemparnya pada Remus, yang dengan mudah menghindar.
"Ayo, waktunya Ramuan," kata Sirius, memungut bukunya dan memimpin yang lain ke kelas Ramuan.
Pelajaran Ramuan dan Transfigurasi berlalu dengan cepat. Sebelum dia menyadarinya, Lily sudah naik ke asrama Ketua Murid, duduk di mejanya, mengerjakan esai yang diberikan McGonagall mengenai transfigurasi api. Dia sudah mengerjakan setenganya dengan dahi berkerut ketika James masuk, mengenakan jubah Quidditch-nya dan memanggul sapu. Lily mendongak dan melihat rambutnya yang berantakan kena angin dan basah kuyup.
Dia memandang keluar jendela. Di luar ternyata hujan. Aneh, dia bahkan tidak mendengar gemuruh petir. Dia kembali memandang James, tersenyum, dan kembali pada esainya. Meskipun demikian, James menarik tongkat sihirnya dan mengacungkannya pada esai Lily, membuatnya menggulung dan meletakkan diri di rak buku.
"Kau ini ngapain?" tanya Lily, menatap perkamennya.
"Aku mau bicara denganmu."
"Bagaimana kalau kau mandi dulu?" Lily mengerling jubah Quidditch James yang basah dan penuh lumpur.
James melihat ke bawah dan menangguk.
"Tak masalah," katanya, nyengir. Dia mengacungkan tongkatnya pada perkamen Lily, yang terbang menuju meja di depan Lily dan menggelar diri, sebelum melangkah ke kamar mandi dengan meninggalkan sapu di tangga. Lily memutar mata dan kembali pada esainya.
Dia baru saja selesai ketika pintu kamar mandi terbuka dan James keluar, hanya mengenakan handuk di bagian bawah. Lily harus menahan diri untuk tidak terus mengerlingnya sementara James menyambar sapunya dan membawanya ke kamar. Sebelum Lily selesai menggulung perkamennya dengan puas, James sudah menuruni tangga (rambutnya masih basah) dengan mengenakan celana pendek dan kaos biru tua. Dia berjalan ke kursi berlengan di depan perapian, memberi isyarat pada Lily untuk mengikutinya. Lily menurutinya dan duduk di kursi yang lain, menekuk lututnya sedemikian rupa sehingga dia bersandar pada lengan kursi.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Aku bisa menyimpulkan itu sendiri," Lily tersenyum.
James memutar matanya, tapi terlihat sedikit rileks.
"Tentang apa yang dikatakan Frank di kelas Mantra," dia memulai, dan senyum Lily lenyap, "Aku hanya ingin memberitahumu, itu tak akan pernah terulang lagi."
Lily memandangnya bingung. Dia agak kaget, terlebih setelah apa yang Remus katakan padanya. James memandangnya, dan Lily mendapati dirinya sedang menatap mata cokelat itu, yang, untuk pertama kalinya sejak Lily mengenalnya, tidak ada sinar di dalamnya. Kedua mata itu tampak mati. Lily sudah akan mengatakan sesuatu, tapi James menggeleng.
"Tak perlu mengatakan sesuatu, Lils," dia tersenyum kecil. "Aku ingin bertanya. Kau ingat tentang semalam?"
"Tentang apa?"
"Kau ingat semalam kau duduk di sini bicara denganku?"
"Oh, itu. Ya, aku ingat. Kenapa?" tanya Lily hati-hati. Dia memperhatikan ekspresi James yang menjadi lebih cerah.
"Jadi, apakah kau memberitahuku semua itu dengan terpaksa?" tanya James sambil tersenyum.
Lily tertawa dan mengangguk. "Ya," jawabnya, membalas senyum James.
James berdiri dan menggeliat. "Kurasa aku mau naik sekarang."
"Kenapa? Ini baru jam delapan, dan kau punya banyak PR," dia menambahkan dengan tegas.
James mengerang.
"Aku tahu, hidup bersamamu akan mengubahku jadi seseorang bermuka dua."
Dia menuju mejanya, menarik buku Transfigurasi-nya dengan helaan napas.
Lily tertawa. "Kau seperti orang disiksa saja." Dia berjalan ke mejanya sendiri, mendengar James menggumamkan hal-hal seperti, "Kurang lebih begitu," membuatnya tersenyum. Dia sekarang mengambil buku Ramuan-nya dan segulung perkamen, dan mulai menjawab pertanyaan yang diberikan Slughorn sebelumnya.
Beberapa menit berlalu hanya dengan bunyi pena bulu menggores perkamen. Kemudian pintu terbuka dan para Marauder masuk. James, yang tenggelam dalam esai Transfigurasi-nya, dengan kerut kecil menghiasi dahinya dan menggigiti lidahnya, tidak memperhatikan teman-temannya masuk. Meski begitu, Lily mendengar kedatangan mereka. Kepalanya tersentak, dan dia melihat ketiga Marauder memandang James dengan ekspresi terkejut dan geli.
Dia mengawasi Sirius mencabut tongkatnya, mengedip padanya, dan mengacungkan tongkatnya pada James. Terdengar teriakan keras, dan James tergantung di udara pada pergelangan kakinya. Sirius, Remus, dan Peter tertawa, dan Lily mendengar dirinya tertawa bersama mereka. James, masih tergantung terbalik, menarik tongkatnya dan mengacungkannya pada Sirius, yang rambutnya mendadak jabrik dan kusut, membuatnya menjerit. Tangan Sirius melompat ke kepalanya, dan James terjatuh di lantai.
"Apa-apaan itu tadi!" teriak Sirius, memandang James yang nyangir, wajahnya masih merah akibat darah yang tadi mengalir deras ke kepalanya.
"Ah, apa aku yang membuat rambutmu berantakan, Padfoot?" kata James tak bersalah.
Sirius melotot padanya sebelum berlari ke kamar mandi, tampak jelas ingin segera merapikan rambutnya. Remus dan Peter masih tergelak; James, tertawa sendiri, menggulung esai Transfigurasi-nya yang baru setengah jadi, dan menyimpannya dalam tas. Lily menggulung PR Ramuan-nya yang sudah selesai, memasukkannya dalam tas, dan naik untuk menyimpan tasnya di dalam kamar.
Sewaktu dia turun, dia mendapati Sirius, yang rambutnya masih jabrik berantakan, berteriak pada James, yang tertawa bersama Remus dan Peter, keduanya menolak mengembalikan rambutnya.
"Rapikan rambutku segera!" Sirius meneriaki James, yang menggeleng, menyeringai pada Sirius.
Sirius meraung frustrasi. Lily tertawa. Sirius memandang berkeliling dan berseru, "Bunga-Lily!"
Lily memutar matanya, tertawa, dan mulai mengelilinginya.
"Please, please, please, kau bisa merapikan kembali rambutku!" dia memohon, berlutut di depan Lily yang masih tertawa.
"Kupikir rambutmu tak ada masalah, Black," dia menyeringai.
"Memang, rambutku kan selembut bayi," kata Sirius polos. "Tapi aku akan sangat berterima kasih kalau kau mengembalikannya semenarik sebelumnya," dia mengedip.
Lily memutar mata, mengelilinginya. "Rambutmu sama sekali tak menarik, Black," dia bergerak ke arah pintu. Hal berikutnya yang dia tahu, dia tergantung terbalik pada pergelangan kakinya. "Turunkan aku!" jeritnya, memandang Sirius yang menyeringai.
"Tentu, asalkan kau berjanji merapikan rambutku."
Lily menghela napas dan mengangguk, dan terduduk di lantai. Dia mengacungkan tongkatnya ke rambut Sirius, membuatnya berdiri. Sirius menghela napas, menunggu rambutnya jatuh ke wajahnya, tapi tak pernah terjadi. Dia menatap Lily yang menyeringai.
"Kau memintaku untuk merapikannya. Kau tidak bilang bentuknya harus bagaimana."
Berkata begitu, Lily keluar dari asrama, masih bisa mendengar James, Remus, dan Peter tertawa, meninggalkan Sirius yang rambutnya masih berdiri.
Dia berjalan menuju ruang rekreasi Gryffindor, menyebutkan kata kuncinya, dan memanjat masuk, disambut jeritan dari seisi ruangan. Dia memandang berkeliling, melihat anak-anak kelas satu menjerit dan berlari mengelilingi ruang rekreasi, membuat anak-anak lain tidak suka. Dia meneliti seisi ruangan rekreasi, mendadak merasakan nuansa nostalgia. Dia menemukan teman-temannya sedang mengerjakan esai Transfigurasi.
"Aku sungguh berharap Lily ke sini, dia yang biasanya paham soal ini," gerutu Gwenog, mencoret sesuatu dengan sebal.
"Wow, ini seperti keajaiban," kata Lily, tersenyum pada Gwenog yang mendongak.
"Lily!" jerit Hestia.
"Hai," kata Lily, tersenyum. Ekspresinya mendadak berubah waktu bertatapan dengan Hestia. "Aku ingin bicara padamu. Dan kau juga," tambahnya pada Alice.
"Bagaimana denganku?" tanya Gwenog.
"Yah, aku belum melihatmu tersipu di depan teman-temanmu," kata Lily, membuat alis Gwenog terangkat, memandang bergantian Hestia dan Alice yang merona. "Jadi, kita mulai dari Alice, kalau begitu. Frank?" dia tersenyum, membuat wajah Alice semakin merah.
"Alice, kau suka Frank?" pekik Gwenog.
"Ooh, Frank dan Alice Longbottom," kata Hestia dengan suara manis, tersenyum genit pada Alice.
"Ooh, Sirius dan Hestia Black," Lily menyeringai, memandang Hestia yang berubah pucat.
"Diam, Lily," kata Hestia pelan.
"Kau suka Sirius?" jerit Gwenog.
"Siapa yang suka Sirius?" terdengar suara Sirius. Pemilik suara itu sedang mendekati mereka.
